Drowning In Your Love – BAB 6 – BAB 10

BAB 6

Angelo berdiri di bawah teriknya matahari, sementara kepala proyek menjelaskan progres pembangunan apartemen yang sedang mereka tangani saat ini. Pria itu terus berbicara, tapi ia sama sekali tidak menyimak sepatah kata pun. Pikiran Angelo terus tertuju pada Jen—lebih tepatnya, bibir lembut nan hangat yang entah mengapa terus mengisi benaknya.

Semalam, Angelo tidak bisa tidur nyenyak karena ciuman itu. Benaknya dipenuhi oleh pikiran-pikiran liar yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Gelenyar panas sarat gairah yang merambati sekujur tubuhnya pun membuat Angelo gelisah bukan kepalang. Alhasil, ia terbangun dari tidurnya yang singkat dengan kejantanan tegak menantang dan kepala pening.

Jujur saja, ia tidak mengerti mengapa kemarin ia memilih membungkam Jen dengan ciuman, sementara masih banyak cara yang dapat ia lakukan—misalnya, membentak lebih keras, mengucapkan kata-kata yang lebih menyakitkan, atau memberikan ancaman yang mungkin bisa menggoyahkan pendirian Jen. Masalahnya, penolakan Jen berhasil membuat Angelo lepas kendali dan bertindak bodoh. Sialnya, ia tidak mengira bahwa spontanitas yang awalnya terjadi karena rasa geram, malah memberikan efek yang luar biasa pada dirinya sendiri hingga ia tak mampu berpikir jernih sampai saat ini.

Semalam, ia berniat meminta maaf. Angelo sadar, sikapnya kali ini benar-benar kelewat batas. Namun, ketika berada di depan pintu kamar Jen, Angelo malah berbalik dan kembali ke kamarnya. Demi menghapus kegelisahan yang merongrong dadanya, Angelo berdalih seraya meyakinkan dirinya sendiri bahwa setidaknya ciuman itu bisa menjadi ancaman pertama bagi Jen karena sudah berani menolak rencananya.

Masalahnya, rasa bersalah itu kembali muncul tadi pagi. Sekali lagi, Angelo berniat minta maaf. Namun, ketika Jen berada di dalam mobil, tatapan Angelo langsung tertuju pada bibir wanita itu. Sekejap, lidah Angelo kelu, napasnya tercekat, dan jantungnya berdebar lebih cepat dari yang seharusnya.

Tak ada yang tahu sekuat apa Angelo menahan keinginannya untuk kembali mengecap manis dan lembutnya bibir Jen saat itu. Demi mengalihkan perhatian, ia langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana, menyibukkan pikiran dengan membalas beberapa pesan masuk sembari mencoba menenangkan debar jantungnya yang menggila.

Angelo akui, kehadiran Jen mulai mengobrak-abrik pikiran dan tubuhnya. Ia tak mampu lagi berpikir jernih. Jantungnya selalu berdebar tak keruan dan perasaan gemas yang muncul setiap kali menghadapi perlawanan Jen, membuat Angelo ingin segera menarik wanita itu dan memeluknya erat-erat.

Jujur saja, Angelo tidak menyukai kegelisahan aneh yang melanda dirinya saat ini. Jen harus segera pergi dari kehidupannya, atau Angelo akan gila dalam arti yang sebenarnya.

“Semua berjalan sesuai jadwal, Pak,” ucap kepala proyek dengan nada formal. “Hanya sempat ada beberapa masalah kecil dengan para pekerja, tapi sudah saya bereskan semua kemarin, Pak.”

“Bagus. Usahakan semua selesai sesuai timeline. Jangan meleset, atau saya tidak akan pakai kalian lagi!” ancam Angelo tegas, melampiaskan kekesalan tidak pada tempatnya. “Kejadian beberapa bulan lalu menjadi tolok ukur penilaian saya atas kinerja kalian.”

“Baik, Pak,” sahut kepala proyek seraya mengangguk patuh sekaligus ketakutan.

Angelo segera berbalik menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Sopir membukakan pintu, kemudian menutupnya kembali saat Angelo sudah berada di dalam mobil. Selama beberapa saat, Angelo duduk dalam diam sambil menatap lokasi pembangunan dari balik jendela. Namun, pikirannya melayang entah ke mana. Sementara itu, sopir pribadinya masih menunggu perintah Angelo di belakang kemudi.

Dasar, Alien gila!

Kata-kata itu bak kaset rusak yang terus mengalun di telinganya. Sambil menggeleng heran, Angelo bergumam kecil, “Kenapa dia panggil aku Alien? Dasar wanita aneh!”

“Kita mau ke mana, Pak?” tanya sopir, menyahut gumamannya.

“Ke kantor.”

Akhirnya, sopir membawa mobil menjauh dari area proyek. Menyadari bahwa tak lama lagi ia akan bertemu Jen lagi, pikiran Angelo kembali memutar kilasan akan ciuman paksa yang ia lakukan semalam. Sambil menggigit pipi bagian dalam, ia mulai memikirkan cara yang tepat untuk meminta maaf pada Jen.

Ia harus minta maaf, tentu saja. Itulah yang harus dilakukan seorang pria setelah memberikan ciuman kasar pada seorang wanita. Masalahnya, Angelo tidak sanggup mengucapkan kata maaf secara langsung. Bukan karena takut, tapi karena setiap kali menatap bibir Jen, entah mengapa ia tiba-tiba berubah menjadi pria bodoh dan kaku. Bahkan, ia hampir saja mencium Jen lagi saat di kantor tadi.

Angelo kembali mengingat kejadian itu. Ketika ia berada begitu dekat dengan Jen, ia bisa merasakan betapa cepat jantungnya berdebar, memompa gelombang gairah baru ke sekujur tubuh. Beruntung, saat itu ia masih mampu menahan diri dan segera berbalik menjauh dari Jen. Kalau tidak, Angelo yakin ia tak akan berpikir dua kali untuk menarik bibir itu dan mengulumnya dengan penuh gairah.

Notifikasi pesan masuk berhasil mengalihkan pikiran Angelo dari kilasan kejadian tadi pagi. Ia mengusap layar ponsel dan mendapati nomor asing di sana, tapi ia tahu siapa sang pengirim pesan.

 

Data sudah aku kirim via e-mail, Pak Neandro.
Jangan lupa, ada makan siang bersama Mama dan Papa.

Oke. Trims.

 

Setelah membalas pesan itu, Angelo tergelitik melihat foto profil si pengirim pesan. Di foto itu, Jen terlihat sangat cantik, menggoda, dan menggemaskan. Tak sadar, gigi Angelo bergemeretak menahan gemas dan tarikan napasnya mulai terasa pendek.

Sial! Itik buruk rupa ini mulai menggoda pikiranku. Tidak boleh, tidak boleh! Sekali itik, tetap itik! batin Angelo tegas, berusaha menegur dirinya yang mulai tenggelam dalam pesona Jen.

Tak ingin larut dalam sensasi aneh yang menggelitik perutnya, Angelo segera menutup pesan itu. Ia memang meminta Jen untuk mengerjakan sesuatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan demi menunjukkan pada wanita itu bahwa dirinyalah yang berkuasa—dirinyalah yang mengendalikan hidup Jen, bukan sebaliknya.

Namun entah mengapa, Angelo tidak merasakan apa yang seharusnya ia rasakan. Bukannya senang karena sudah berhasil mempersulit Jen dengan pekerjaan yang tidak penting, Angelo malah kembali diselimuti rasa bersalah. Akhirnya, ia hanya bisa menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.

Baru saja ia merasa sedikit lebih tenang, dering ponsel yang cukup keras berhasil mengejutkannya. Bahkan, ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya. Nama Mama muncul di layar. Ingin rasanya ia menolak panggilan itu, tapi bayangan raut kecewa Mama malah membuatnya merasa seperti anak durhaka.

“Ya, Ma,” sahut Angelo datar.

Where are you, Dear?” tanya Mama lembut.

“Di jalan, Ma. Aku habis dari lokasi proyek.”

Tumben. Kamu jarang ke lokasi proyek. Apa ada masalah di lapangan?” Mama terdengar khawatir.

“Tidak, Ma. Aku hanya ingin melihat progresnya saja.”

Kamu tidak lupa acara makan siang hari ini, kan?” tanya Mama yang mulai terdengar curiga dengan jawaban Angelo.

“Tidak, Ma,” jawab Angelo pasrah.

Baiklah. Mama tunggu kedatanganmu, Sayang,” ucap Mama ringan sebelum mengakhiri pembicaraan. Angelo meletakkan ponsel begitu saja di kursi, kemudian mengembuskan napas frustrasi.

*****

Jen melirik arlojinya untuk yang kesekian kali, gelisah menunggu kedatangan Angelo. Sementara, Mama dan Papa—yang saat ini duduk tepat di seberang Jen—terlihat begitu mesra meski sudah tidak muda lagi.

Diam-diam, Jen memerhatikan betapa lembut perlakuan Papa kepada Mama. Jauh di lubuk hatinya, Jen berharap Angelo bisa mewarisi sikap penyayang seperti Papa. Namun, tampaknya itu sangatlah mustahil.

Sudah lebih dari setengah jam mereka menunggu, tapi Angelo belum juga muncul. Jen mulai kesal dengan keegoisan Angelo yang begitu tega membuat mereka menunggu selama ini.

“Sabar, Sayang. Dia pasti datang,” ucap Mama menenangkan.

“I-iya, Ma.” Jen tersenyum kaku.

Mama salah jika mengira kegelisahan Jen saat ini adalah bentuk dari ketidaksabarannya untuk bertemu Angelo. Jen sama sekali tidak mengharapkan kehadiran pria itu seperti apa yang Mama pikirkan. Ia hanya ingin Angelo segera muncul supaya makan siang ini bisa segera dimulai.

Kembali terdiam di tengah penantiannya, Jen teringat akan rencananya mencari keberadaan sang ayah. Ia tahu, hari ini ia tidak mungkin langsung mencari Ayah karena tumpukan pekerjaan. Ia juga tidak tahu apakah ia bisa menemui Ayah dalam waktu dekat ini, tapi setidaknya ia akan berusaha mencuri waktu agar bisa menyelesaikan masalah pribadinya dengan segera.

Sebuah pesan masuk dari Ken berhasil mengalihkan pikiran Jen dari Ayah. Jantung Jen langsung berdebar cepat.

 

Aku berhasil, Jen! 😆
Perusahaanku berhasil bekerja sama dengan perusahaan yang
pernah kuceritakan padamu waktu itu.
Bisa aku meneleponmu sekarang?

 

Membaca pesan itu, membuat Jen ingin segera pergi dari tempat ini. Ia ingin berbicara dengan Ken dan mendengarkan suara pria itu—suara yang mampu menenangkan perasaan kesalnya saat ini—tapi, ia tidak bisa. Pasrah, Jen menghela napas panjang sebelum membaca pesan Ken yang kembali mengisi layar ponselnya.

 

Kabari aku, Jen.
Aku merindukanmu. Sangat.
Aku harap kamu ada di sini.
Aku ingin merayakan keberhasilanku ini bersamamu.
Aku ingin mengajakmu makan malam.
Oh, Jen … rasanya aku ingin menyusulmu sekarang😭

Congratulation, Ken!😆
Aku harap aku bisa ada di sana
supaya bisa merayakannya bersamamu.
Tapi, kamu tahu … aku tidak bisa🥲
Aku akan menghubungimu nanti, Ken.
Pekerjaan baru ini benar-benar menyita waktuku.
Miss you, too🤗🤗

 

Jen membalas pesan tersebut dengan sedikit perasaan bersalah karena tidak bisa berada di samping Ken saat pria itu mencapai keberhasilannya. Namun, ini adalah keputusannya, dan ia tidak boleh menyesalinya.

Ia memasukkan ponsel ke tas kecilnya, lalu mulai berbincang dengan Mama saat Papa menjawab panggilan di ponsel. Seakan bisa merasakan kehadiran Angelo, Jen langsung menoleh ke area pintu masuk dan menemukan sosok pria yang sangat ia kenal. Pria itu berjalan dengan langkah mantap menghampiri mereka.

Sialnya, Angelo terlihat tampan di balik setelah jas mahal yang melekat sempurna di tubuh pria itu. Jen tidak tahu sudah sebesar apa pesona Angelo berhasil menghipnotisnya saat ini. Namun bisa dipastikan, debar jantungnya jauh lebih cepat ketika melihat Angelo daripada saat menerima pesan Ken.

Ini salah! Seharusnya, Jen tidak boleh bereaksi seperti ini.

Masalahnya, ia tidak bisa memungkiri bahwa ketampanan dan karisma Angelo sangatlah kuat sehingga mampu membuat setiap mata tertuju pada pria itu. Angelo begitu memesona hingga mampu menenggelamkan Jen sesaat ke dalam pusaran imajinasi fiktif yang memabukkan. Imajinasi yang membuatnya seakan memuja Angelo bak pangeran berkuda putih yang selalu muncul di cerita-cerita dongeng.

Namun, imajinasi itu sirna seketika saat mata Jen tertuju pada boneka beruang berukuran cukup besar nan menggemaskan di tangan kiri Angelo dan kembang gula berbentuk hati di tangan kanan. What the hell is that? batin Jen panik.

Mama, yang mengikuti arah pandang Jen, langsung tersenyum hangat penuh kasih sayang. Papa dan Jen serentak berdiri ketika Mama menyambut kedatangan Angelo.

“Akhirnya, kamu datang juga, Sayang,” sambut Mama riang, lalu tersipu bahagia saat Angelo mendaratkan kecupan singkat di pipi Mama.

“Ini.” Angelo menyodorkan boneka dan kembang gula pada Jen.

“Untuk apa?” tanya Jen bingung tanpa basa-basi.

“Untukmu,” jawab Angelo tenang, tak peduli dengan ekspresi kaget sekaligus bingung yang Jen tunjukkan. Ingin rasanya ia menolak pemberian itu. Namun, ketika melihat betapa bangga dan bahagianya Mama akan sikap romantis Angelo, Jen hanya bisa memutar bola mata sembari menerima boneka dan kembang gula dengan terpaksa.

“Terima kasih, Angelo,” ucap Jen dengan senyum palsu, lalu meletakkan kedua benda tersebut di kursi kosong yang ada di sisi kanannya demi menegaskan agar Angelo tidak duduk di sampingnya. Seolah mengerti penolakan tak tersirat tersebut, Angelo menarik kursi kosong dari meja sebelah, kemudian meletakkannya di sisi kiri Jen.

“Kamu mau pesan apa, Elo?” tanya Papa datar.

“Seperti biasa saja, Pa,” jawab Angelo tak kalah datar sembari duduk. Jen berniat menggeser sedikit kursinya agar tidak terlalu dekat dengan Angelo, tapi pria itu malah meletakkan tangan kanan di sandaran kursi Jen, menahan pergerakannya.

Ketika tak sengaja tangan pria itu menyentuh punggungnya, Jen reflek menegakkan tubuh dan menegang seketika. Kesal, ia langsung melempar tatapan protes pada Angelo, tapi pria itu terlihat begitu santai dan tenang. Angelo bersikap seolah ingin menunjukkan bahwa hubungan mereka berdua berjalan sesuai dengan yang Mama dan Papa harapkan.

Sungguh, Jen tidak mengerti dengan perubahan sikap Angelo. Kemarin, pria itu bersikeras memintanya untuk membatalkan perjodohan ini. Sekarang, Angelo malah bersikap bak seorang kekasih yang menerima perjodohan ini dengan tangan terbuka.

Jen mencoba memendam rasa penasaran dan bingungnya akan sikap Angelo. Ia pun mulai mendengarkan setiap percakapan yang terjadi di meja itu.

Di tengah-tengah percakapan, Jen menoleh ke boneka beruang. Pandangannya tertuju pada sebuah pesan yang tergantung di kalung boneka. Ia mulai membuka pesan tersebut, dan seketika terkejut melihat tulisan di dalamnya.

I’m sorry about that kiss.

Seketika, dada Jen terasa seperti diremas. Tangannya segera menjauh dari pesan tersebut, kemudian menatap Angelo yang kini tersenyum lebar saat Mama menceritakan sebuah kejadian lucu yang dialami hari ini.

Selama beberapa detik lamanya, Jen bisa menangkap sorot yang Angelo tujukan pada Mama. Angelo sangat memuja Mama, Jen bisa melihat itu dengan sangat jelas. Namun, ia masih tidak mengerti mengapa Angelo bersikeras membatalkan perjodohan mereka, sementara hal itu sudah pasti akan melukai perasaan Mama.

Apa sebenarnya yang Angelo mau? Kalau dia benar-benar ingin membatalkan perjodohan ini, kenapa dia membawa boneka ini di hadapan Mama dan Papa? Bukankah ini malah membuat Mama dan Papa berpikir kalau Angelo setuju dengan perjodohan ini? Bukankah hal ini malah akan membuat Mama lebih kecewa jika mereka benar-benar batal menikah nanti?

*****

BAB 7

Lelah. Itulah yang Jen rasakan saat ini. Sambil berbaring di tempat tidur, Jen menghela napas panjang. Setelah selesai makan siang, ia dan Angelo kembali ke kantor. Tentu saja, sifat pria itu kembali seperti semula—dingin dan kaku.

Sepanjang perjalanan, Jen tidak berniat membangun percakapan dengan pria itu. Ia tidak ingin membuang waktu dan tenaganya untuk pria dingin dan tidak berperasaan seperti Angelo. Sambil menatap keluar jendela, Jen menikmati kembang gula pemberian Angelo.

Setibanya mereka di lobi masuk gedung, Jen meninggalkan boneka beruang di mobil, kemudian mengikuti Angelo dari belakang bak ekor. Saat itu, Jen kembali ke mode asisten pribadi yang patuh, dan Angelo adalah atasannya yang menyeramkan. Ketika tiba di ruang kerja, Jen pun hanya bisa pasrah saat Angelo menambah kembali tumpukan berkas di mejanya. Jelas sekali kalau Angelo tidak berniat memberinya waktu untuk bersantai.

Saat Jen tengah sibuk dengan pekerjaannya, Angelo bergegas meninggalkan kantor setelah rapat pukul 15.00 demi menghadiri pertemuan dengan salah satu kolega. Melihat tumpukan pekerjaannya, Ibu Ria sempat menawarkan bantuan, tapi Jen menolak dengan lembut. Ketika jam dinding di ruangan menunjukkan pukul 17.30, Jen baru bisa menyelesaikan seperempat pekerjaannya.

Akhirnya, setelah waktu menunjukkan pukul 18.30, Jen pun menyerah dan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya esok hari. Jen benar-benar kesal pada Angelo. Leher dan punggungnya terasa kaku karena kebanyakan menunduk.

Setelah merapikan meja kerja, Jen keluar dari ruangan dengan perasaan kesal dan dongkol. Bahkan, ia terus menggerutu dalam hati hingga tiba di lantai dasar. Namun, ketika berada beberapa langkah dari pintu keluar gedung, perasaan kesalnya langsung menguap saat melihat sopir pribadi Angelo beranjak keluar dari mobil demi membukakan pintu untuknya.

“Pak Neandro masih di tempat pertemuan. Jadi, Bapak meminta saya untuk mengantar Mbak Jen pulang dulu. Setelah itu, saya harus kembali ke sana untuk menjemput Pak Neandro,” jelas pria itu saat Jen bertanya tentang keberadaan Angelo.

Sekarang, di sinilah Jen, berbaring lelah sembari memikirkan sikap Angelo yang sangat aneh. Selama beberapa saat, ia larut dalam lamunan sampai akhirnya ia mengembuskan napas lelah, lalu menoleh menatap boneka beruang yang berada tepat di sampingnya. Jujur saja, ia masih tidak mengerti apa sebenarnya isi pikiran Angelo sampai pria itu memberikan boneka padanya.

Masih dalam posisi berbaring, Jen menarik boneka itu, lalu meletakkannya di atas perut. Ia membaca permintaan maaf untuk yang kesekian kali, tapi pandangannya tak sengaja tertuju pada tulisan ‘push me’ yang ada di tangan boneka. Ia menekan tulisan itu dan terkejut bukan main saat mendengar suara Angelo keluar dari dalam boneka.

Maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi.

Seketika itu pula ia kembali teringat kejadian saat Angelo menciumnya. Jen menggigit bibir, berusaha menghapus bayangan itu. Ia pun segera bangun dari posisi tidur, meletakkan boneka di pangkuan dan menatap benda tersebut sembari terus mendengar permintaan maaf Angelo setelah menekan tulisan ‘push me’ untuk yang kedua kali.

“Minta maaf? Enak saja!” ucap Jen kesal pada boneka seolah ia sedang berbicara dengan Angelo. “Kamu itu manusia paling aneh di dunia. Suka semena-mena. Tidak punya perasaan! Dasar, Alien menyebalkan!”

Sambil mengarahkan telunjuk ke boneka, Jen lanjut meluapkan kekesalannya. “Untung saja mukamu itu ganteng. Andaikan saja mukamu itu jelek dan berwarna hijau seperti alien-alien di TV. Oh, aku pasti akan mudah membencimu!”

Jen menatap kesal boneka itu, membayangkan kalau ia sedang memarahi Angelo. Tak kuasa menahan luapan kekesalan, Jen meremas gemas boneka dalam pelukannya, kemudian berteriak, “I hate you, Angelo. Kamu tahu itu? I. Hate. You!”

Kemudian, Jen memejam dan menghirup aroma Angelo yang melekat pada boneka itu. Seketika, Jantung Jen berdebar cepat, dan entah mengapa pikirannya langsung membayangkan seolah ia sedang memeluk Angelo. Takut dengan pikirannya sendiri, Jen segera menjauhkan wajah dari boneka dan menatapnya selama beberapa saat.

“Kenapa kamu sangat menyebalkan, Angelo? Kenapa?” tanya Jen lemah sebelum mengembuskan napas frustrasi. Masih belum bisa menghapus kekesalannya pada Angelo, Jen meletakkan boneka di tempat tidur begitu saja, kemudian beranjak dan memutuskan untuk berendam sejenak di bathtub. Ia butuh menenangkan luapan emosinya yang terombang-ambing karena sikap Angelo yang suka berubah-ubah. Selain itu, ia masih harus mengumpulkan tenaga agar bisa melanjutkan sisa tumpukan pekerjaannya esok hari.

*****

Waktu menunjukkan pukul 22.30 ketika Angelo tiba di rumah. Suasana rumah begitu sepi dan sunyi, sama seperti sebelum Jen kembali dalam kehidupannya. Namun, entah mengapa ia malah tidak nyaman dengan kesunyian yang selama ini menjadi bagian hidupnya.

Ketika langkahnya terhenti di ruang TV, ia tidak melihat Jen di sana. Memang, Angelo sengaja tidak ingin bertemu dengan wanita itu malam ini. Karena, boneka dan kembang gula yang ia berikan pada Jen membuatnya gelisah sepanjang hari.

Jujur saja, Angelo bingung pada dirinya sendiri. Ini adalah kedua kalinya ia memberikan sesuatu yang romantis dan manis pada Jen. Jika kemarin ia terpaksa memberikan cokelat dan bunga demi membujuk Jen agar mau membatalkan perjodohan. Lalu, mengapa hari ini ia tergerak membeli boneka dan kembang gula demi minta maaf, padahal sebelumnya ia bersikukuh kalau ciuman singkat yang ia berikan merupakan ancaman pertama bagi Jen?

Mencoba menelaah kembali kelakuannya yang cukup aneh hari ini, Angelo menghampiri lemari kaca tempatnya menyimpan beberapa jenis minuman beralkohol. Ia mengambil satu botol wiski, kemudian menuangkannya ke dalam gelas kaca. Sambil bersandar di badan lemari, Angelo menyesap minumannya sembari memikirkan kembali langkah yang akan ia lakukan selanjutnya.

Ia masih berniat membatalkan perjodohan itu, tentu saja. Karena, Angelo hanya mau menikahi wanita yang sederajat, yang berasal dari keluarga berada—atau setidaknya dari keluarga yang memiliki status jelas. Seandainya Jen berasal dari keluarga baik-baik, ia tidak akan menolak perjodohan ini. Ia pasti menikahi Jen, meskipun terpaksa.

Angelo meneguk minumannya, kali ini hingga tandas. Sambil menghela frustrasi, ia mengisi kembali gelasnya. Dentingan lembut mengisi keheningan rumah saat botol wiski menyentuh permukaan meja. Sejenak, pandangan Angelo tertuju pada cairan di dalam gelas, sementara ia mencoba menelisik perasaannya.

Hingga saat ini, Angelo tidak mengerti mengapa sebagian kecil di dalam dirinya seakan menerima keberadaan Jen dengan penuh kehangatan. Ini benar-benar gila!

Tak dimungkiri, Angelo kesulitan menahan gelombang gairah liar yang muncul begitu saja setiap kali mengingat Jen. Entah sudah berapa kali Angelo berusaha menahan khayalan liar akan sebuah percintaan yang penuh gairah dengan Jen. Masalahnya, semakin ia mencoba menghapus khayalan itu, semakin ia menginginkannya terjadi.

Ia juga tak tahu seberapa sering ia mengepalkan tangan demi menahan diri agar tidak menarik dan memeluk wanita itu erat-erat. Sungguh, Angelo tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dengannya saat ini. Ia benar-benar bingung, dan … kesal.

Angelo kembali menandaskan minumannya, lalu mengisinya lagi. Pening yang ia rasakan sejak tadi pagi sempat hilang sejenak, tapi muncul lagi setiap kali mengingat Jen. Sialnya, hal itu sering terjadi.

Ini semua gara-gara Jen! Andaikan bibir itu tidak terasa lembut dan manis, aku pasti tidak perlu sekeras ini menahan gairahku, batin Angelo geram. Ia menggenggam erat gelas minumannya, kemudian melangkah menuju barisan anak tangga.

Setibanya di depan tangga, Angelo terdiam sejenak, pikirannya melayang entah ke mana. Namun beberapa detik kemudian, ia mulai menapaki tiap-tiap anak tangga dan terus berjalan hingga langkahnya berhenti tepat di depan pintu kamar Jen, entah mengapa.

Tanpa ragu sedikit pun, Angelo menandaskan minumannya, lalu mengetuk pintu kamar itu. Angelo menunggu sejenak, meski sejujurnya ia tidak tahu apa yang akan ia katakan jika Jen membuka pintu. Tak mendapat jawaban dari balik pintu, ia mengetuk lagi, tapi hasilnya sama saja.

Mungkin dia kelelahan dan sudah tidur, pikir Angelo yang kembali merasa bersalah karena sudah memberikan tumpukan pekerjaan kepada Jen. Ia tidak mengerti mengapa akhir-akhir ini perasaan bersalah semakin sering menghampirinya.

Setelah menunggu selama beberapa saat, akhirnya ia berbalik dan melangkah menuju pintu kamarnya yang berseberangan dengan pintu kamar Jen. Baru saja ia menekan tuas pintu, suara pintu kamar Jen yang terbuka membuat Angelo menoleh cepat.

“Kamu baru sampai?” tanya Jen tenang, lembut, dan hangat.

Raut kesal yang wanita itu tunjukkan padanya sebelum Angelo meninggalkan kantor, kini sudah tidak tampak lagi. Sekarang, Jen terlihat begitu tenang dengan sorot mata penuh kehangatan.

Menjawab pertanyaan, Angelo mengangguk lemah sementara matanya meneliti tubuh Jen yang mengenakan kimono hitam sepaha dengan bunga-bunga sakura yang indah. Alkohol dalam tubuh Angelo tampaknya mulai bereaksi, sehingga imajinasi liar mulai mengisi benaknya. Ia bahkan ingin tahu seindah apa tubuh Jen di balik kimono itu. Tak ingin terjerat dalam pikiran liarnya, Angelo susah payah menelan liur, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Kamu sudah makan?” tanya Jen lembut, memancingnya untuk bicara. Angelo hanya mengangguk sekilas sebelum berbalik dan melangkah masuk ke kamar. Sungguh, ia tidak tahu apakah ia mampu menahan kegilaan dalam dirinya jika kandungan alkohol benar-benar berhasil mengendalikannya.

“Angelo,” panggil Jen tepat saat Angelo mau menutup pintu. Tatapan Angelo seketika mengunci Jen yang kini melangkah maju beberapa langkah. Seolah terhipnotis, ia hanya bisa diam sembari membiarkan pintu tetap terbuka.

“Terima kasih untuk boneka dan kembang gulanya. Aku suka,” lanjut Jen diiringi senyum hangat yang seketika membuat jantung Angelo terasa melesat turun hingga ke perut.

Y-youre welcome,” sahut Angelo parau, berusaha terdengar datar dan dingin.

“Dan, untuk ciuman itu ….” Jen terdiam sesaat. Semburat merah yang mewarnai pipi Jen menandakan betapa keras wanita itu menahan rasa malunya. Jen pun menggigit bibir, tanda gugup.

Angelo berusaha keras menepis keinginannya untuk mendekat dan merasakan bibir itu lagi. Ia tidak ingin membuat Jen berpikiran lain. Ia juga tidak mau memberi harapan palsu, sementara Jen tahu betapa besar keinginannya untuk membatalkan perjodohan mereka. Angelo tidak ingin keadaan semakin rumit hanya karena ia pasrah dan tak mampu menolak gejolak aneh yang membuatnya seperti kesetanan.

“Maaf,” ucap Angelo singkat dan pelan.

Tatapan gugup Jen berubah menjadi lembut dan penuh kehangatan. Senyum kecil pun menghiasi wajah cantik itu, yang seketika membuat darah Angelo meletup-letup panas.

“Aku sudah memaafkanmu, Angelo,” balas Jen tenang. “Good night. Have a nice dream.

Angelo hanya bisa terpaku memerhatikan Jen yang berbalik dan menghilang di balik pintu. Sementara, ia bisa merasakan bukti gairahnya mulai bereaksi di bawah sana. Berusaha keras menekan gairah itu, ia pun menarik napas panjang beberapa kali. Ia bahkan memaksa tangannya untuk menutup pintu meski sebagian besar dari dirinya menginginkan sesuatu yang liar dan panas. Sesuatu yang mungkin saja akan ia sesali di kemudian hari.

Sial! Aku tidak akan bisa tidur nyenyak lagi malam ini.

*****

Alarm ponsel yang memekakkan telinga berhasil mengusik tidur nyenyak Jen. Masih enggan bangkit dan membuka mata, ia meraba meja nakas di samping tempat tidur, mencari keberadaan ponselnya. Dengan tangan yang bergerak malas, Jen terus mencari ponselnya, tapi tidak ketemu.

Akhirnya, ia terpaksa membuka matanya yang masih berat dan menemukan ponsel yang ternyata sudah berada di ujung meja, hampir terjatuh. Jen meraih ponsel itu dan bergegas mematikan alarm.

Bukannya langsung bangun, Jen membawa ponsel dalam genggaman, kembali menelungkupkan tubuh ke tempat tidur seraya mengembuskan napas lelah. Rasanya ia enggan sekali beranjak dari tempat tidur, tapi hari ini hari Jumat, dan masih banyak tumpukan pekerjaan yang harus ia kerjakan.

Jen menatap sekilas layar ponsel yang menunjukkan pukul 05.01, yang artinya ia harus segera menyiapkan sarapan. Walaupun ia membenci Angelo, ia akan tetap mengikuti nasihat Mama—bersikap layaknya calon istri yang baik meskipun pria itu sangat menyebalkan.

Yeah, setidaknya membuatkan sarapan bukanlah hal berat. Lagi pula, aku juga harus sarapan dan mengisi tenaga untuk menghadapi pekerjaanku hari ini, batin Jen pasrah.

Dengan malas, Jen akhirnya beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu kamar mandi layaknya zombie. Ia bahkan menyikat gigi dan mencuci muka dengan gerakan lambat, benar-benar tidak bersemangat menjalani hari.

Jen tahu, keputusannya datang ke Jakarta bukan hanya untuk menikah dengan Angelo, tapi juga mencari keberadaan sang ayah. Namun, entah mengapa Jen yakin kalau hari ini ia tidak mungkin bisa mencari Ayah karena Angelo pasti tak akan membiarkannya duduk tenang di kantor.

Setelah mencuci muka dan sikat gigi, Jen bergegas keluar kamar, lalu menapaki setiap anak tangga ke lantai dasar. Baru saja ia ingin melangkah melewati area TV, suara percikan air yang berasal dari kolam renang membuat Jen menoleh cepat. Astaga! Jam segini dia sudah berenang? batin Jen kaget.

Penasaran, Jen melangkah menuju pintu kaca yang sudah terbuka dan berdiri di sana, mengamati Angelo berenang dari satu sisi ke sisi lain kolam. Jen terus memerhatikan hingga pria itu berhenti di sisi kolam yang berhadapan langsung dengannya. Dengan gerakan maskulin, Angelo mengusap wajah dan menyisir rambut dengan jemari sebelum melirik Jen sekilas.

“Apa yang kamu lihat?” tanya Angelo datar, tak terkejut sedikit pun dengan kehadiran Jen.

“Tidak ada,” jawab Jen cepat dan tenang sembari melipat kedua tangan di depan dada. Tak menggubris jawaban Jen, Angelo bergerak keluar dari kolam. Seketika itu pula, mata Jen terpaku pada tubuh Angelo yang luar biasa menarik perhatiannya.

Napas Jen tercekat, kagum. Ia tak pernah menyangka bahwa pria menyebalkan seperti Angelo bisa memiliki tubuh sempurna bak model internasional yang biasa muncul di televisi ataupun media online. Terhipnotis, Jen menatap setiap pergerakan Angelo bak slow motion yang begitu memukau.

Diam-diam, matanya menjelajahi tubuh Angelo yang sempurna. Kulit kecokelatan dengan otot-otot yang tidak terlalu besar, tapi tetap proporsional dan mengisi di tempat yang tepat, membuat Jen sulit menelan liur yang kini memenuhi rongga mulut. Perut ramping dengan lekukan otot yang terbentuk sempurna, menggoda tangan Jen untuk segera menjamah dan merasakan kokohnya otot tersebut. Sungguh, Jen berusaha keras menahan getaran yang menggelitik di tangannya.

Seolah belum puas mengamati tubuh Angelo, iris Jen terus bergerak ke bawah hingga ke lipatan celana renang yang pria itu kenakan, atau lebih tepatnya tertuju pada tato yang berada di area perut bawah Angelo yang begitu menarik perhatian. Jen tidak menyangka seorang Angelo, yang selalu menyingkir dari keramaian dan suka menyendiri, ternyata memiliki tato—bukan hanya di perut bagian bawah, tapi juga di area punggung dan pundak.

Jen menggigit bibir, menahan gelenyar panas yang terasa asing dan mulai merambati sekujur tubuhnya. Bulu kuduknya bahkan meremang, merespons setiap pergerakan Angelo yang begitu memesona. Jantung Jen pun berdebar lebih cepat seolah bersorak kegirangan karena mendapat pemandangan indah di pagi hari.

Dengan gerakan yang begitu tenang dan terkendali, Angelo mengambil handuk kecil, menggosok rambut, lalu melingkarkan handuk besar di pinggang.

“Sudah puas lihatnya?” celetuk Angelo tanpa menoleh sedikit pun, mengeluarkan Jen dari bayang-bayang liar yang mulai mengisi kepalanya.

“P-puas?” tanya Jen balik.

Angelo menyunggingkan senyum tipis seraya melirik ke arahnya. Gelengan kecil pria itu seakan menertawakan Jen yang tertangkap basah menikmati keindahan tubuh Angelo tanpa izin. Dengan tatapan yang tiba-tiba berubah tajam sarat intimidasi, Angelo menghampiri Jen yang berdiri kaku, gugup sekaligus malu.

“Aku lapar,” ucap Angelo datar saat berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga membuat perhatian Jen kembali terpaku pada dada bidang yang begitu menggoda.

“Aku lapar,” ulang Angelo sembari mengerutkan kening, kesal.

“Hah? Kenapa?” tanya Jen bingung setelah berhasil keluar dari lamunan liarnya.

“Aku. Lapar. Siapkan sarapan, setelah itu kita berangkat kerja. Jangan lama-lama!” perintah Angelo sinis sarat teguran sebelum beranjak dari hadapannya. Spontan, Jen ternganga melihat sikap sombong yang pria itu tunjukkan.

“Memangnya dia pikir aku ini pembantu?” gerutu Jen kesal seraya berbalik melangkah menuju dapur.

*****

BAB 8

Angelo membiarkan air hangat mengguyur kepala. Sudah dua hari berturut-turut ia tidak bisa tidur nyenyak. Alhasil, emosinya mudah naik-turun. Demi meredam gelora panas yang mendiami dada, ia memutuskan untuk berenang. Masalahnya, kehadiran Jen yang masih mengenakan kimono tidur malah kembali membangkitkan gelora gairah yang sempat redup selama berenang.

Angelo tidak mengerti mengapa tubuhnya bisa bereaksi seperti itu. Ia membenci Jen, jadi seharusnya ia tidak boleh merasakan hal yang seakan menunjukkan ketertarikan fisik antara mereka berdua.

Sambil terus menikmati kehangatan air yang membasahi tubuh, Angelo berusaha kembali memupuk perasaan bencinya terhadap Jen. Ia berharap perasaan itu bisa membuatnya kembali fokus pada tujuan awal, yaitu membatalkan perjodohan.

Namun, semakin ia menanam kebencian itu, penolakan dalam dirinya pun semakin kuat. Ciuman yang tidak disengaja itu sudah membuatnya kehilangan akal sehat, atau lebih tepatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Berengsek! Kenapa harus sesulit ini? maki Angelo geram sambil mengusap kasar wajahnya. Ia segera menyudahi mandinya, lalu mengeringkan tubuh dengan handuk besar. Setelah kering, ia melilitkan handuk di pinggang dan beranjak keluar dari kamar mandi.

Hari ini, ia memilih mengenakan kemeja biru muda dan setelan jas hitam. Selama berpakaian, pikirannya kembali tertuju pada Jen serta rencana-rencana yang sudah ia susun untuk membuat Jen kesal dan semakin membencinya.

Kemarin, ia memberikan setumpuk pekerjaan demi memancing amarah wanita itu, tapi Jen berhasil mengerjakan semuanya dengan baik. Hari ini, Angelo berniat menjalankan salah satu rencananya lagi. Masalahnya, Angelo tidak tahu apakah rencana ini akan membuat Jen kesal atau malah dirinyalah yang terperangkap. Hah, sudahlah! Pokoknya, jalankan saja. Berhasil atau tidak, ya lihat saja nanti.

Setelah memeriksa penampilan, Angelo langsung keluar kamar. Ia menutup pintu di belakangnya dan menatap sejenak pintu kamar Jen. Ada sedikit rasa menggelitik di dada yang seolah mendorongnya untuk mengetuk pintu itu. Namun, secepat kilat ia menepis rasa itu dan mencoba untuk tetap bersikap dingin.

Ia melangkah menuruni barisan anak tangga. Aroma masakan yang langsung memenuhi penciumannya berhasil membuat perutnya yang lapar semakin bergemuruh. Sambil melangkah ke area meja makan, ia melihat sarapan sudah tersaji di sana. Meskipun hanya nasi goreng dengan potongan sosis dan teh manis hangat, tapi hidangan itu mengingatkan Angelo akan masa kecilnya yang menyenangkan.

Setelah duduk di salah satu kursi, Angelo menyendokkan nasi goreng dari wadah ke piring, berdoa sejenak, kemudian memasukkan sesuap ke mulut. Tidak dimungkiri, masakan Jen memang enak, meskipun tidak selezat masakannya sendiri.

“Enak?”

Angelo segera mengangkat pandangan ke arah datangnya suara. Jen baru saja turun dari anak tangga terakhir, lalu berjalan ke arahnya. Spontan, matanya meneliti kecantikan Jen yang mengenakan rok hitam sepaha dan kemeja biru muda lengan pendek. Rambut yang tergerai dan wajah yang dipoles sempurna, tapi tidak menor, membuat Jen tampil segar dan menarik.

Angelo terus mengamati penampilan Jen hingga wanita itu menarik kursi dan duduk tepat di seberangnya. Jen tampak begitu tenang dan santai. Tidak ada lagi raut gugup dan rona merah merona.

“Kamu suka?” tanya Jen lembut sembari menyendokkan nasi goreng ke piring.

“Biasa saja,” jawab Angelo sinis sebelum kembali menikmati sarapannya. Sesekali Angelo melirik Jen yang menyantap sarapan dengan begitu tenang dan santai, bahkan tidak merasa terganggu ataupun terintimidasi dengan keberadaannya. Meski enggan, Angelo akui bahwa ia mulai terbiasa dengan kehadiran Jen, bahkan wanita itu semakin lama terlihat semakin menarik. Perhatian dan kehangatan yang Jen berikan padanya pun membuat Angelo makin penasaran.

Apakah dia berniat membuatku mengurungkan niat untuk membatalkan perjodohan ini dengan semua kelemahlembutannya? Tidak! Aku tidak boleh tenggelam dalam pesona Jen. Aku harus segera mengusir Jen dari kehidupanku, kalau tidak … ah, entahlah! Aku tidak tahu apakah aku masih bisa menjaga kewarasanku lagi atau tidak! batin Angelo frustrasi.

“Malam ini kita akan pergi ke suatu tempat,” ujar Angelo datar.

“Ke mana?” tanya Jen tenang sebelum memasukkan makanan ke mulut.

“Dandan yang cantik dan kenakan pakaian yang bagus,” perintah Angelo tanpa memedulikan pertanyaan Jen.

“Memangnya kita mau ke mana?” tanya Jen lagi, penasaran. Angelo meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya yang kosong, lalu meneguk habis minumannya.

“Cepat habiskan makanmu. Kita mau berangkat,” ucap Angelo datar dan tipis sebelum beranjak dari kursi.

“Apa-apaan itu? Mengajak orang pergi, tapi ditanya ke mana malah tidak dijawab. Aneh!” protes Jen kesal, menghentikan Angelo yang baru saja ingin meninggalkan meja makan.

“Jangan banyak tanya!” tegur Angelo cepat. “Kita berangkat jam delapan malam, dan kamu harus sudah siap.”

“Tidak bisa! Aku sibuk,” sahut Jen tak kalah cepat.

“Aku tidak terima alasan!” tolak Angelo, kesal.

“Pergi saja sendiri. Aku lagi banyak kerjaan,” ungkap Jen ketus yang membuat Angelo spontan memutar bola mata, geram.

“Sopir akan menjemputmu dari kantor jam lima nanti. Pekerjaanmu selesai atau tidak, aku tidak peduli,” ujar Angelo tegas dan menuntut.

Jen seketika melemparkan tatapan kesal padanya. Inilah yang Angelo inginkan, menanamkan kebencian di hati Jen. Semakin wanita itu membencinya, semakin mudah ia menyuruh Jen membatalkan perjodohan mereka. Ya, aku akan membuatnya makin membenciku malam ini. Lihat saja!

*****

‘Aku kesal!!!
Angelo nyebelin banget, Ken!
Astaga! Bingung aku sama dia.’

‘Kenapa, Jen?
Aku telepon, ya.’

‘Jangan, Ken.
Aku lagi di kantor.
Nanti kalau Angelo dengar,
bisa hancur satu kantor.’

‘Astaga! Kamu ini lucu.’

‘Beneran, Ken.
Semua orang bilang kalau dia itu galak.
Tapi … perempuan-perempuan di sini pada aneh.
Mereka tergila-gila sama Angelo.
Padahal, dia itu kayak monster.
Menyeramkan.
Tukang perintah.
Damn! I hate him so much!!’

‘Aku ke sana, ya’

‘Tidak perlu, Ken.
Aku masih bisa mengurus ini sendiri.’

‘Bagaimana dengan Ayah?
Sudah ketemu?’

‘Belum, Ken.
Kerjaanku banyak.’

‘Ya, sudah.
Sabar-sabar ya, Jen.
Kabari aku kalau ada masalah.’

‘Terima kasih, Ken.’

‘I miss you, Jen.’

‘Miss you, too.’

 

Jen mengungkapkan kekesalannya pada Ken. Beruntung, ia masih punya teman yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Sambil tersenyum, ia menatap layar ponsel dan membaca ulang percakapan mereka.

“Pantas saja pekerjaanmu tidak cepat selesai. Kerjaanmu hanya main ponsel!” tegur Angelo yang entah sejak kapan berdiri di depan meja kerjanya. Panik, Jen langsung meletakkan ponsel di atas meja dan menatap Angelo dengan wajah merona malu.

“M-maaf, Pak Neandro,” ucap Jen kaku.

“Berikan aku laporan tentang progres pembangunan di daerah Bogor. Aku tunggu lima belas menit dari sekarang!” perintah Angelo sebelum berbalik menuju ruang kerjanya.

“B-baik, Pak,” sahut Jen menyanggupi, meskipun ia tidak tahu laporan apa saja yang harus ia siapkan. Ia melemparkan tatapan memelas pada Ibu Ria yang kemudian memainkan salah satu alisnya yang terukir rapi, seakan mengisyaratkan kalau wanita itu siap untuk membantunya.

“Oh, satu lagi,” ucap Angelo setelah membuka pintu ruangan. “Jam lima. Jangan telat, jangan banyak alasan. Jangan pegang ponsel selama bekerja. Dan, kerjakan semuanya dengan cepat!”

Sedetik kemudian, Angelo langsung masuk ke ruang kerjanya dengan suara pintu yang berdebum keras. Sementara, Jen hanya bisa terperangah mendengar semua larangan yang Angelo ucapkan.

“Sabar. Sabar, Jen,” nasihat Ibu Ria dari balik meja kerja. Jen mengangguk lemah dan mulai mempersiapkan apa yang Angelo minta dengan bantuan dari Ibu Ria.

*****

Tak terasa, waktu berlalu dengan cepat. Sepanjang hari, Jen berkutat dengan pekerjaannya, sedangkan Angelo ada pertemuan di luar kantor setelah jam makan siang berakhir.

Jam di dinding ruangan menunjukkan pukul 17.10. Jen sudah bersiap-siap untuk keluar dari ruang kerja bersama dengan Ibu Ria. Sementara, Angelo belum juga kembali sejak tadi siang. Pria itu pun belum memberi tahu pada Jen ke mana sebenarnya Angelo akan membawanya.

Sembari berbincang ringan dengan Ibu Ria, Jen keluar dari ruang kerja mereka. Notifikasi pesan masuk segera mengalihkan perhatian Jen ke ponsel dalam genggaman. Ia langsung mengusap layarnya, kemudian mendengus kesal melihat nama si pengirim pesan.

 

‘Di mana?’

‘Lagi mau ke lift.’

‘Cepat!
Ini sudah lewat dari jam 5.’

‘Ini masih nunggu lift, Angelo!’

‘Kamu masih di kantor.
Ingat posisimu, Iper!’

‘Iya, Pak Neandro.’

‘Cepat turun!’

‘Kalau gitu, aku lompat saja dari sini.
Bagaimana?’

‘Jangan gila, Iper!
Aku tidak mengasuransikan karyawan yang gila.
Cepat turun!’

‘Iya, Pak.
Ini baru masuk lift.’

 

Jen menggeram kesal membaca pesan dari Angelo sembari terus bertanya-tanya ke mana sebenarnya pria itu akan membawanya sampai harus memburunya seakan mereka akan pergi ke sebuah acara penting. Lift bergerak cepat menuju lantai dasar. Saat pintu terbuka, ia pun bergegas keluar. Sambil berjalan cepat, ia berpamitan pada Ibu Ria, lalu berlari kecil menuju mobil Angelo yang terparkir di depan pintu lobi gedung.

Kening Jen mengernyit sekilas saat tidak melihat keberadaan sopir yang selalu membukakan pintu untuknya. Tidak menghiraukan kejanggalan tersebut, Jen langsung membuka pintu penumpang bagian belakang. Namun, betapa terkejutnya ia melihat Angelo yang duduk di belakang kemudi.

“Duduk di depan!” perintah Angelo tegas.

Tanpa banyak bertanya, Jen segera menutup pintu belakang, lalu membuka pintu depan, dan duduk dengan hati bersungut-sungut. Sambil menutup pintu di sampingnya, Jen menatap Angelo dengan sorot bingung seraya bertanya, “Bukannya kamu bilang kalau sopir yang akan menjemputku?”

Angelo tidak menjawab pertanyaannya. Sedetik kemudian, pria itu segera mengendarai mobil menjauh dari gedung perkantoran. Tak ada sepatah kata pun terucap sepanjang perjalanan, yang tentu saja membuat Jen semakin kesal pada Angelo.

Dasar, Alien buruk rupa!!!

*****

Angelo berdiri beberapa langkah dari TV, sementara jemarinya terus menekan tiap tombol remote, menggonta-ganti siaran televisi yang sama sekali tidak menarik perhatian. Entah sudah berapa kali ia melihat arlojinya semenjak Jen bergegas ke kamar untuk bersiap-siap. Namun, sudah hampir satu setengah jam Angelo menunggu, dan kesabarannya pun mulai menipis.

Ia mematikan TV, kemudian meletakkan remote di meja sofa. Lalu, ia beranjak menuju lemari minuman, mengeluarkan wiski, kemudian menuangkannya ke gelas kaca.

Matanya terus tertuju ke arah tangga selagi berdiri di belakang meja makan sambil berharap agar wanita itu segera muncul. Sembari memikirkan rencana yang sudah ia susun, Angelo menyesap minumannya sesekali. Sungguh, ia sudah tak sabar melihat reaksi wanita itu saat tiba di tempat yang akan mereka tuju malam ini.

Senyum liar tersungging di ujung bibir ketika membayangkan wajah Jen yang kesal dan marah saat ia mulai memperlakukan wanita itu bak pembantu. Ia akan membuat Jen merasa direndahkan demi memancing amarah wanita itu. Ketika Jen diselimuti amarah dan kebencian terhadap dirinya, ia akan memaksa wanita itu untuk segera mengambil keputusan, dan merekam ucapan Jen saat mengakhiri perjodohan mereka.

Setelah itu, ia akan meninggalkan Jen begitu saja di sana agar wanita itu semakin membencinya. Ya, malam ini adalah kesempatan emas, dan ia tidak akan menyia-nyiakannya.

“Aku sudah siap,” ucap Jen riang. Senyum liar Angelo sekejap berubah menjadi raut kaku dengan bibir sedikit terbuka. Matanya tertuju langsung pada penampilan Jen yang terlihat sangat berbeda. Atau lebih tepatnya, tampil memukau.

Gaun malam merah maroon tanpa lengan dengan tali tipis yang menggantung di kedua bahu, membuat Jen layaknya upik abu yang berubah menjadi Cinderella. Gaun yang melekat sempurna mengikuti lekuk tubuh Jen dengan rok yang berpotongan pas di tengah paha mulus wanita itu, membuat Jen terlihat begitu menggoda. Rambut yang di blow sedemikian rupa, menciptakan gelombang-gelombang indah di bagian ujungnya. Sepatu high-heels putih tertutup dan tas tangan kecil berwarna senada, mempercantik penampilan Jen yang terlihat begitu seksi dan menantang.

Angelo sama sekali tidak senang dengan penampilan Jen malam ini. Ia memang meminta Jen tampil cantik agar tidak membuatnya malu saat berada di depan banyak orang. Masalahnya, wanita itu malah tampil outstanding dan membuat jantung Angelo berdebar cepat bak genderang perang.

“Kenapa pakai itu?” tanya Angelo tipis seraya mencengkeram kuat gelas wiski dalam genggaman—entah karena menyadari bahwa rencananya tidak akan berjalan lancar atau karena gelombang panas yang mulai menyelimuti seluruh tubuhnya. Satu hal yang pasti, penampilan Jen kali ini merupakan tantangan terbesar baginya. Baik bagi pikiran, jantung, gairah, maupun keteguhannya.

“Ini kurang bagus?” tanya Jen balik dengan wajah bingung nan menggemaskan, yang malah membuat gigi Angelo menggemeretak.

“Soalnya kamu tidak bilang kita mau ke mana. Kamu hanya menyuruhku berpenampilan yang bagus, dan kupikir mungkin kita akan ke acara penting. Tapi, kalau pakaianku ini tidak sesuai, terus aku harus pakai baju apa? Aku harus ganti baju lagi?” tanya Jen, menyalahkan Angelo.

“Ganti baju? Hah, jangan harap!” balas Angelo kesal. “Satu setengah jam cuma buat tampil biasa seperti itu, benar-benar buang waktu! Jangan harap aku mau menunggumu lagi hanya untuk mendapatkan hasil yang tidak memuaskan.”

Bibir Jen mengerucut kesal mendengar ucapannya. Sementara, Angelo meneguk minuman hingga tandas, lalu meletakkan gelas begitu saja di meja. Ia pun beranjak dari belakang meja makan.

“Ayo, kita sudah terlambat!” ajak Angelo kesal sembari berjalan meninggalkan Jen begitu saja di belakangnya. Ia berusaha untuk tidak tergoda pada penampilan Jen yang seksi, tapi sisi liar dalam dirinya seakan ingin menarik wanita itu, membawanya ke kamar, dan merealisasikan imajinasi liar yang saat ini mulai mengisi kepalanya.

Angelo menunggu Jen di depan pintu hingga wanita itu melangkah keluar rumah dan melewatinya. Ia berusaha keras tidak menatap Jen, dan segera mengunci pintu rumah.

“Kita tidak pakai sopir?” tanya Jen santai saat Angelo membuka gerbang.

“Tidak. Anaknya sakit,” jawab Angelo singkat, kemudian berbalik dan melangkah menuju mobil yang terparkir di halaman parkir. Jen segera masuk dan duduk di depan, sementara Angelo duduk di belakang kemudi.

Tak sengaja mata Angelo tertuju pada paha Jen yang putih mulus saat ia memasukkan gigi persneling. Dengan sekuat tenaga ia menolak rasa menggelitik di tangannya untuk menyentuh paha itu. Ah, sial! Ada apa denganku sekarang? gerutu Angelo kesal pada dirinya sendiri.

Ia mulai mengeluarkan mobil dari halaman parkir, lalu keluar untuk menggembok gerbang, kemudian kembali masuk ke mobil. Dengan perasaan tidak keruan, Angelo segera membawa mobil menjauh dari rumah sembari terus mempertegas tujuan utamanya di dalam hati dan pikirannya—membuat Jen kesal, marah, dan semakin membencinya.

*****

BAB 9

Waktu menunjukkan pukul 20.50 saat mereka tiba di sebuah rumah yang berlokasi di daerah Sentul. Dari dalam mobil, Jen memerhatikan rumah yang membentang panjang, berdinding kokoh, bercat putih dengan sebuah pintu berukuran cukup besar dan tinggi, serta barisan jendela di kanan-kiri.

Rumah bergaya klasik itu memiliki pekarangan yang luas dengan air pancur di tengah jalan masuk yang berbentuk melingkar. Cahaya kuning hangat yang berasal dari barisan lampu halaman, berpadu sempurna dengan kerlap-kerlip lampu hias yang menghiasi sebuah pohon besar di tengah pekarangan.

Barisan mobil terparkir rapi di sisi kanan bangunan. Sementara, masih terlihat beberapa mobil berbaris menuju area pintu masuk rumah, mengantre untuk menurunkan penumpang.

“Rumah siapa ini, Angelo?” tanya Jen bingung, tapi pria itu tidak menjawab. Ia tidak mengerti mengapa Angelo terlihat begitu tegang sepanjang perjalanan, bahkan hanya bicara seperlunya.

Tidak mau ambil pusing dengan sikap diam Angelo, Jen kembali memerhatikan sekeliling, terlebih ke setiap orang yang baru saja keluar dari mobil masing-masing. Mereka semua tampil rapi, mewah, dan elegan. Beruntung, Jen memilih gaun malam unggulannya. Setidaknya, ia tidak terlihat buruk atau salah kostum.

Akhirnya, mobil mereka berhenti di area pintu masuk. Seorang petugas bergegas membukakan pintunya, dan ia pun segera keluar dari mobil. Angelo memberikan kunci mobil pada petugas valet, lalu berjalan ke arah Jen yang masih berdiri diam menunggu kedatangan pria itu. Bukannya mengajak Jen masuk, pria itu malah melewatinya begitu saja seakan-akan ia tak ada di tempat itu.

“Jangan diam saja. Ayo!” ajak Angelo sembari melemparkan tatapan kesal pada Jen yang masih berdiri di samping mobil. Dengan bersungut-sungut, Jen menapaki tiga anak tangga, menghampiri Angelo yang terus menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.

“Lama!” bentak Angelo tegas saat Jen berdiri di sampingnya.

“Ih, kalau kamu bentak-bentak aku terus, aku pulang saja!” protes Jen kesal, lalu berbalik. Ia sudah tidak kuat dengan sikap dingin dan sinis Angelo, apalagi dengan bentakan pria itu. Namun, baru saja Jen ingin menuruni anak tangga terakhir, tarikan kuat di pergelangan tangan kanannya membuat langkah Jen terhenti.

“Ayo, masuk,” bujuk Angelo sedikit lebih lembut meski terdengar datar dan dingin. Jen menatap Angelo yang segera mengalihkan pandangan darinya. Melihat perubahan sikap itu, Jen pun mengernyit bingung.

“Angelo,” panggil Jen pelan. Pria itu menoleh dan menatapnya dengan raut kaku dan tegang. Iris cokelat almon itu pun tampak makin menggelap bersamaan dengan semakin eratnya cengkeraman Angelo di pergelangan Jen.

“Ayo, masuk. Kita sudah terlambat,” ucap Angelo datar, dalam, dan sedikit serak. Akhirnya, Jen menyerah dan mengikuti langkah Angelo memasuki rumah megah itu.

Tangan Angelo terus menggenggam pergelangan tangan Jen, memperlakukannya bak anak kecil yang akan tersesat jika dilepaskan. Hingga akhirnya, mereka tiba di ruang tengah yang sudah dipenuhi oleh sekumpulan orang berpakaian rapi dan mahal. Mereka semua tampak saling mengenal.

Suara tawa, musik, dan gelas yang berdenting, mengisi atmosfer tempat itu. Di ruangan tengah terdapat meja bundar dari marmer yang dihiasi sebuah pot berisi bunga lili segar dengan lampu kristal besar tergantung di langit-langit.

Angelo membawanya melewati kerumunan sambil membalas sapaan dari orang-orang yang mengenal pria itu. Seolah sudah pernah datang ke rumah megah itu, Angelo langsung membuka pintu kaca, yang membawa mereka langsung ke halaman belakang. Mata Jen tertuju pada lapangan golf yang terhampar luas, tampak seperti bagian dari rumah tersebut. Terdapat kolam renang pribadi yang cukup besar di sana. Taburan kelopak bunga dan lampu-lampu hias yang tergantung menghiasi kolam, memperkuat suasana romantis malam itu.

Angelo membawanya menuruni beberapa anak tangga hingga mereka tiba di halaman belakang yang sudah ramai dengan para tamu—ada yang sedang berdansa mengikuti alunan musik, ada pula yang bercengkerama di kursi santai.

“Ini acara apa, Angelo?” tanya Jen pelan, menuntut penjelasan.

“Itu dia,” ucap Angelo cepat, tidak menjawab pertanyaan Jen untuk yang kesekian kalinya. Mata Angelo tertuju pada seorang pria tampan yang sedang berbicara dengan sekumpulan wanita cantik.

“Calisto,” panggil Angelo ringan.

Calisto segera menoleh, lalu menyambut kedatangan mereka dengan raut wajah ramah seperti yang Jen ingat.

Welcome back!” seru Angelo gembira seraya menjabat tangan Calisto yang tersenyum hangat.

Thank you, Elo. Apa kabar?” tanya Calisto bersahabat.

Pretty good,” jawab Angelo singkat dengan senyum tipis.

And, who is she?” Calisto menatap Jen dengan sorot penasaran.

“Iper,” jawab Angelo cepat dan datar, tanpa menatap Jen sedikit pun. Jen menoleh dan melemparkan tatapan kesal pada Angelo yang tampaknya tak peduli apakah Jen tersinggung atau tidak dengan panggilan itu.

What? Jennifer? Wow, you look amazing! Ke mana ponytail dan kacamata bulatmu?” goda Calisto dengan senyum menawan yang selalu mampu membuat Jen tersipu malu. Mereka memang sering bertemu saat masih kecil, terutama saat Mama Maira sedang berkumpul bersama Aunty Sasha dan Aunty Desi.

Namun, sebelum Jen memutuskan untuk mengambil beasiswa di Jepang, Calisto pindah ke Amerika. Setelah mendengar sambutan Angelo tadi, akhirnya Jen menyadari kalau ternyata acara ini adalah pesta untuk menyambut kedatangan Calisto.

“Berapa lama kita tidak bertemu? Wait, wait, wait … sepuluh tahun, kan? Astaga! Lama juga, ya,” seru Calisto dengan tawa kecil yang ringan dan terdengar menyenangkan. Jen senang bisa bertemu dengan Calisto. Pria itu berbeda sekali dengan Angelo yang dingin dan menyebalkan.

“Jadi, kapan kalian menikah?” tanya Calisto blakblakan diiringi lirikan genit. Angelo segera melepaskan genggaman di pergelangan tangan Jen, kemudian mengerling sinis padanya.

“Bagaimana di Amerika? Sudah berhasil menemukan wanita pujaanmu?” tanya Angelo berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Sudah. Itu dia,” jawab Calisto antusias sembari menunjuk ke seorang wanita cantik yang sedang berbicara dengan beberapa tamu. Jen memerhatikan wanita itu dari kejauhan—begitu cantik, elegan, dan menawan.

“Kapan kalian menikah?” tanya Angelo datar.

“Mungkin beberapa bulan ke depan,” jawab Calisto langsung, terdengar ragu.

“Ada apa?” tanya Angelo cepat saat menangkap keraguan di nada bicara Calisto.

“Aku belum melamarnya. Aku berencana mengenalkannya dulu sama Ayah dan Bunda. I hope theyll like her,” jelas Calisto sembari tersenyum gugup.

“Jadi, sampai sekarang kau belum memberi tahu Aunty?” Angelo terdengar cukup terkejut dengan informasi tersebut, sementara Jen hanya diam mendengarkan percakapan kedua pria itu.

Nope,” jawab Calisto tenang.

Angelo tidak bertanya lebih lanjut. Namun, keheningan yang terjalin selama beberapa detik itu berhasil membuat suasana jadi sedikit canggung.

Well, enjoy the party, Elo!” ucap Calisto sambil menepuk lembut pundak Angelo, lalu beranjak pergi dari hadapan mereka.

“Dasar, tidak sensitif!” celetuk Jen, membuat Angelo menoleh dan menatapnya kesal.

“Maksudmu?” Angelo mengernyit, bingung.

“Apa kamu tidak bisa lihat kalau dia sebenarnya masih ragu? Tapi, kamu malah terus bertanya.” Jen menegur Angelo, berharap pria itu sadar akan kesalahan yang diperbuat. Namun, tampaknya Angelo tidak mau menerima teguran.

“Cerewet! Cepat, ambilkan minuman untukku!” perintah Angelo tegas yang kemudian menggeram kesal.

“Kamu tidak bisa ambil sendiri?” Dengan gaya menantang, Jen menolak perintah itu. “Punya kaki, kan?”

“Kamu asisten pribadiku. Lakukan tugasmu, sekarang!” perintah Angelo dengan nada lebih tegas dan dalam.

“Ini kan bukan kantor!” protes Jen cepat.

“Ambil. Minumanku. Sekarang!” ulang Angelo seraya menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Mata Jen bergerak ke kanan-kiri, memerhatikan orang-orang yang mulai menaruh perhatian pada percakapan mereka yang penuh amarah dan ketegangan. Tidak ingin menimbulkan keributan, akhirnya Jen segera berbalik dan melangkah menjauh dari Angelo. Cih! Dasar, Alien otoriter menyebalkan! geram Jen sambil mengentak kaki kesal.

*****

Angelo sedang berbincang ringan dengan Calisto dan Salsa, kekasih pria itu. Calisto bercerita banyak tentang pengalamannya di Amerika dan perkembangan perusahaan Uncle Mike di sana. Selain itu, Calisto juga menceritakan bagaimana pria itu bertemu dengan wanita impiannya.

Angelo mencoba menyimak setiap cerita Calisto sembari sesekali melemparkan pandangan ke sekeliling, mencari keberadaan Jen. Sudah lebih dari lima belas menit ia menunggu, tapi Jen belum juga datang membawakan minuman untuknya.

“Ada apa, Elo?” tanya Calisto penasaran, menyadari kerisauan yang tergambar jelas di wajah Angelo.

“Tidak apa-apa. Aku permisi sebentar, ya,” jawab Angelo cepat sebelum beranjak dari hadapan Calisto. Berusaha terlihat tenang, Angelo bergerak menuju meja bar, tapi ia tidak menemukan Jen di sana. Ia pun memutuskan untuk menaiki anak tangga, berharap bisa menemukan wanita itu di ruang tengah. Namun, tetap saja tidak ada.

Ke mana dia? pikir Angelo kesal.

Ia terus mencari Jen di tengah kerumunan para tamu. Hingga akhirnya, ia menemukan Jen yang terlihat sedang berbicara dengan seorang pria. Dengan langkah tegas, Angelo segera menghampiri wanita itu.

Tawa Jen yang ringan dan raut wajah yang ceria saat mendengar cerita si pria asing, seketika membuat darah Angelo berdesir cepat. Gelombang panas yang merambat di sekujur tubuhnya pun membuat amarah Angelo meletup-letup bak gunung berapi yang siap untuk meledak.

“Iper!” Suara Angelo terdengar begitu tegas dan cukup keras hingga wanita itu terperanjat kaget dan secepat kilat menoleh ke arahnya.

“Astaga, aku lupa!” Jen menyadari kesalahannya.

What are you doing here?” tanya Angelo sinis seraya menatap Jen kesal, tidak menghiraukan raut bingung si pria yang sebelumnya berbincang dengan wanita itu.

“A-aku tidak sengaja bertemu temanku waktu SMA,” jawab Jen memberi alasan. “Kenalkan Angelo, ini Brandon. Brandon, ini Angelo.”

Pria bernama Brandon itu langsung menjulurkan tangan diiringi senyum bersahabat, tapi Angelo sama sekali tidak menggubrisnya. Jangankan menyambut tangan itu, Angelo bahkan tidak menoleh atau melirik sedikit pun. Matanya hanya tertuju pada Jen. Memahami sorot amarahnya, wanita itu melemparkan senyum kecut pada Brandon, bermaksud meminta maaf atas sikap Angelo.

“Oh, iya. Ini minumanmu,” ucap Jen ringan seraya menyodorkan gelas wiski padanya, berusaha terlihat santai demi menjaga suasana agar tetap terkendali dan tidak canggung.

Namun, tidak dengan Angelo. Ia tidak bisa mengendalikan gejolak emosinya, apalagi ketika ia melihat tatapan genit Brandon yang mencuri pandang meneliti tubuh Jen. Dengan kasar, ia menepis gelas itu dari tangan Jen hingga terjatuh dan pecah. Beberapa pasang mata yang berada di dekat mereka mulai menaruh perhatian.

“Hei, jangan kasar!” tegur Brandon seraya menarik Jen menjauh dari Angelo. Tidak suka dengan sikap protektif Brandon, Angelo pun mengernyit kesal. Jen, yang berdiri di sisi kanan Brandon, terlihat begitu ketakutan sembari bersembunyi di balik pundak pria itu.

Who the hell are you?” tantang Angelo geram. “Let her go!”

And, who the hell are you, too?” tantang Brandon. Orang-orang mulai merasakan aura perkelahian akan terjadi sebentar lagi, tapi tak satu pun berniat melerai.

Let. Her. Go!” geram Angelo seraya menjulurkan tangan ke arah Jen. Keraguan yang tergambar jelas di mata Jen malah membuat Angelo semakin kesal.

No way! Dia tidak aman bersamamu. Lagi pula, siapa kau? Kau tidak berhak memaksanya seperti itu,” tegur Brandon tegas, beraksi layaknya Disneys Prince yang berusaha menyelamatkan si Putri yang tertindas. Angelo menggeram muak, kemudian menarik Jen dengan sekuat tenaga hingga wanita itu berada dalam pelukannya.

“Aku tunangannya!” jawab Angelo tegas sebelum berbalik dan menarik pergelangan Jen kuat-kuat, menjauh dari Brandon.

Ini salah! Berengsek! Semua jadi berantakan. Ini tidak sesuai dengan rencanaku. Ini salah. Salah! geram Angelo penuh amarah seraya melangkah keluar dari rumah itu.

*****

BAB 10

“Angelo, lepasin! Sakit!” keluh Jen saat Angelo terus menariknya keluar, menjauh dari pintu rumah. Ia tidak mengerti mengapa pria itu begitu marah, geram, dan bersikap kasar di hadapan orang-orang. Bahkan, saat petugas valet memberikan kunci, Angelo menerimanya dengan sambaran kasar.

Kalau berniat mempermalukanku, Alien menyebalkan ini benar-benar berhasil! gerutu Jen kesal sembari terus mencoba melepaskan cengkeraman kuat Angelo dari pergelangan tangannya. Berusaha memberi perlawanan, Jen sesekali menahan langkahnya, tapi tenaga Angelo yang kuat malah menyeretnya semakin menjauh dari rumah menuju halaman parkir.

“Angelo, sakit!” keluh Jen lagi sambil memukul tangan pria itu beberapa kali. Akhirnya, Angelo melepaskan cengkeraman dengan entakkan kuat saat mereka tiba di belakang mobil pria itu.

“Kamu kenapa, sih?” protes Jen seraya memeluk tangannya yang nyeri karena cengkeraman Angelo.

“Kenapa? Kamu masih tanya kenapa?” cecar Angelo berang. Jen bisa melihat luapan amarah di mata Angelo, tapi ia masih belum memahami apa sebenarnya yang membuat pria itu kesetanan seperti ini.

“Iya, kenapa?” tanya Jen ulang, jengkel dengan luapan amarah Angelo yang tak beralasan.

“Coba ingat, apa yang aku minta sebelumnya?” tanya Angelo geram, mencoba mengingatkan kembali awal mula kejadian aneh ini.

“Mengambil minuman untukmu. Kamu lupa?” lawan Jen berani, tak mau tunduk pada aura dominasi Angelo yang begitu kuat.

Right! Tapi, kamu malah bicara dengan pria lain!” tegur Angelo seakan berbicara dengan pria lain adalah kesalahan besar baginya.

“Lalu, apa masalahnya?” Jen semakin bingung dengan alasan dan sikap tegas Angelo yang tidak pada tempatnya. “Aku cuma bicara sebentar sama temanku, bukan bercinta dengannya. Jangan membesar-besarkan masalah kecil, Angelo!”

Jen menatap rahang Angelo yang mengetat, sementara mata pria itu memancarkan gelora amarah yang luar biasa menakutkan. Dada bidang yang naik-turun dengan cepat, menunjukkan betapa Angelo sudah tak sanggup lagi menahan amarahnya, dan hal itu membuat Jen semakin bingung.

“Kecil? Menurutmu ini masalah kecil?” ulang Angelo geram.

“Aku benar-benar tidak mengerti sama jalan pikiranmu,” ungkap Jen mulai meluapkan kekesalannya. “Semua orang bebas berbicara dengan siapa pun. Lalu, kenapa ini jadi masalah besar buatmu?”

“Semua orang bebas berbicara dengan siapa pun, kecuali tunanganku!” tegas Angelo lantang seraya mengunci mata Jen lekat-lekat. Jen tersentak kaget mendengar pernyataan itu.

“Tunanganmu?” ulang Jen dengan nada mengejek demi memastikan apakah Angelo sadar akan ucapannya sendiri. Pria itu tidak menyahut, bibirnya mengatup rapat, rahang mengetat, sementara sorot mata Angelo menunjukkan ketidaksukaan yang nyata saat mendengar kata itu dilempar balik padanya.

“Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan kita tunangan? Kita belum tunangan!” serang Jen berani sambil meninggikan suaranya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia tidak mudah dipermainkan.

“Mama memang menjodohkan kita, tapi aku masih ingat dengan jelas bagaimana kamu memintaku untuk membatalkannya. Lalu, kenapa kamu posesif seperti ini? Aku bukan milikmu, Angelo. Ingat itu!” lanjut Jen, mempertegas keadaan yang seharusnya Angelo sadari.

“Kamu tidak boleh bicara dengan pria lain selama perjodohan kita belum batal,” larang Angelo, mencoba mengatur Jen.

“Kamu tidak berhak mengatur dengan siapa aku bicara!” lawan Jen geram. Ia sudah tidak tahan dengan sikap otoriter Angelo yang semakin lama semakin membuatnya sesak.

“Oh, jadi sekarang kamu mau bersikap seperti ibumu? Menjadi wanita murahan yang dengan mudahnya tidur dengan pria asing? Yeah, tentu saja. Kurasa memang sifat itu sudah mengalir dalam darahmu—hidup dalam pergaulan bebas dan tidak memedulikan pandangan orang lain!” sindir Angelo sinis dan penuh hinaan.

Tanpa pikir panjang, Jen melayangkan tamparan keras ke pipi Angelo. Memang, pria itu sangat lihai melukai perasaannya hanya dengan kata-kata, tapi kali ini … ucapan Angelo sudah keterlaluan. Air mata mulai menggenangi kelopak mata Jen. Sungguh, ia tidak menyangka serendah itu dirinya dan ibu kandungnya di mata Angelo.

“Jadi … apa itu alasanmu? Apa karena aku anak dari wanita murahan, makanya kamu tidak mau dijodohkan denganku. Itukah maksudmu, Angelo? Karena, aku anak haram?” tanya Jen lirih dengan suara bergetar menahan tangis.

Ia memerhatikan raut wajah Angelo yang sebelumnya geram dan penuh amarah seketika berubah menjadi terkejut dan bingung. Namun, hanya beberapa detik saja keterkejutan menghiasi wajah Angelo sebelum akhirnya pria itu berdecak kesal seraya mendengus sinis.

“Jangan memancingku!” gertak Angelo tipis seraya menyipitkan mata ke arah Jen.

“Kamu tidak berhak, Angelo. Kamu sama sekali tidak berhak merendahkanku seperti itu. Kamu tidak berhak!” tegur Jen, terluka dan kecewa.

“Oh, oke. Baiklah! Kamu tidak terima dengan semua ucapanku, kan. Kamu juga tidak mau menuruti aturanku. Kalau begitu, telepon Mama sekarang, dan batalkan perjodohan kita,” tantang Angelo dengan nada menyindir, tak ada sedikit pun rasa menyesal.

Jen menggeleng kecewa. Tidak. Ia tidak akan memakan umpan Angelo. Jika ini cara yang pria itu gunakan untuk memaksa Jen membatalkan perjodohan di antara mereka, maka Angelo salah. Sejahat apa pun niat Angelo pada dirinya, Jen tidak akan pernah mengambil keputusan dalam keadaan tertekan.

Ia tahu, saat ini mereka berdua sedang diselimuti amarah. Jen juga tahu, bahwa penilaian Angelo akan dirinya tadi adalah alasan utama mengapa pria itu bersikeras ingin memutuskan perjodohan mereka.

Jen kecewa, sangat, tapi ia lebih baik mengetahui hal itu dari mulut Angelo daripada dari orang lain. Jen berusaha keras menahan air matanya agar tidak menetes, meskipun ia tidak menepis bahwa ungkapan hati Angelo benar-benar melukainya.

“Aku mau pulang,” lirih Jen lemah sebelum melangkah menuju pintu mobil dan melewati Angelo begitu saja.

“Batalkan perjodohan itu!” ucap Angelo geram seraya menarik pergelangan tangan kirinya.

Jen menoleh dan menatap Angelo dengan tatapan prihatin sekaligus kasihan. Jen tidak menyangka, sebegitu tingginya harga diri Angelo sampai pria itu benar-benar membenci status Jen yang lahir sebagai anak haram. Jen berusaha keras agar tidak menangis, tapi rasa perih di dadanya membuat air mata jatuh tanpa permisi.

Tak mampu lagi menahan perih, Jen pun memohon sembari menangis lirih. “Aku mau pulang, Angelo.”

*****

Angelo membanting pintu kamar sekeras mungkin. Amarah sudah memenuhi kepala, tapi ia tak punya tempat untuk meluapkannya. Jen menangis sepanjang perjalanan pulang, dan hal itu membuat Angelo semakin kesal.

Merasa bersalah? Tentu saja ia merasa bersalah karena sudah mengucapkan apa yang seharusnya tidak ia katakan. Semua karena Jen! Andai saja dia tidak berbicara dengan Brandon, semua ini pasti tidak akan terjadi. Berengsek! Kenapa jadi begini? geram Angelo seraya melempar jas ke lantai.

Ia tidak pernah menyangka bahwa melihat Jen bersama pria lain mampu mendidihkan setiap sel darah dalam tubuhnya. Ia pun tidak bisa menerima kenyataan kalau ada pria lain berani menatap liar tubuh Jen bak santapan terlezat yang sayang untuk dilewatkan. Namun, yang membuat Angelo murka adalah saat melihat Jen menggunakan pria itu sebagai tameng pelindung.

Angelo akhirnya menyadari bahwa memancing Jen mengambil keputusan dalam keadaan marah tidak akan pernah berhasil. Ia bisa melihat bagaimana Jen sangat mampu berpikir jernih meskipun terluka oleh ucapannya. Hal itu membuatnya semakin bingung, bersalah, dan kesal.

“Aargghh!” teriak Angelo penuh amarah seraya melayangkan tinju ke dinding kamar. Ia tidak merasakan sakit di tangannya. Karena, rasa bersalah yang menyelimuti kali ini membuat seluruh tubuhnya seakan mati rasa. Ia menuju tempat tidur, lalu berbaring dan memejam. Seketika, kilasan Jen yang menatapnya dengan sorot terluka dan kecewa membuat Angelo semakin membenci dirinya sendiri.

Kau bodoh! maki Angelo pada dirinya sendiri. Semuanya sudah berantakan. Sekarang, ia tidak tahu harus merencanakan apa lagi untuk membatalkan perjodohan ini.

Akhirnya, setelah beberapa saat merenungkan kebodohannya, Angelo beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Ia pun berendam dengan perasaan yang tidak keruan.

*****

Jen membuka matanya yang terasa lengket karena menangis semalaman. Ia masih bisa mengingat ucapan Angelo yang begitu merendahkan dirinya. Hingga saat ini, perih di dadanya tak berkurang sedikit pun.

Dalam keheningan kamar, ia menatap dinding dengan tatapan kosong, sementara pikirannya melayang entah ke mana. Ingin rasanya ia beranjak dari tempat tidur dan mencari keberadaan Ayah, tapi sesuatu yang berat seakan menahan semua hal yang ingin ia lakukan.

Semalam, saat mereka pulang, tak satu pun kata maaf terucap dari bibir Angelo. Pria itu diam seribu bahasa selama perjalanan, sementara Jen tak henti-hentinya menangis. Jen berencana pergi ke rumah Mama pagi ini dan mengadukan kejadian semalam. Namun, secepat kilat ia mengubah rencananya.

Ia tahu betapa terlukanya Mama jika mendengar hinaan yang Angelo tujukan padanya. Akhirnya, ia pun memilih untuk menyimpan kejadian semalam agar tidak membuat Mama risau.

Tiba-tiba, ponselnya berdering cukup keras. Dengan malas, ia menoleh ke meja nakas. Masih dalam keadaan berbaring, ia meraih ponsel, lalu melihat nama Ken tertera di layar. Tanpa berlama-lama, ia mengusap layar, kemudian menempelkan ponsel di telinga.

Good morning, Jen,” sapa Ken ceria di seberang sana.

Morning, Ken,” sahut Jen lemah.

Kamu kenapa? Sakit, ya?” tanya Ken khawatir saat mendengar suara Jen yang sedikit serak karena kebanyakan menangis.

“Tidak. Aku hanya ada masalah di sini,” jawab Jen jujur.

Ya, ia selalu terbuka pada Ken. Pria itu layaknya tempat untuk menumpahkan segala keluh kesahnya.

Sama Angelo?” tebak Ken tepat sasaran.

“Iya,” jawab Jen sedih, kemudian bangkit dari posisi tidur. Sembari menghela napas berat, Jen menekuk kedua kaki dan bersandar di dinding.

Kenapa, Jen? Apa dia melukaimu?” tanya Ken khawatir.

Jen tidak tahu harus menjawab apa. Kalau ia menceritakan semua perbuatan dan ucapan Angelo pada Ken, ia yakin Ken pasti akan langsung terbang ke Jakarta demi melindunginya. Ia tidak ingin kedatangan Ken malah membuat suasana makin runyam. Akhirnya, ia memilih untuk tidak bercerita.

“Sudahlah, Ken. Aku tidak ingin membicarakannya,” sahut Jen lemah.

Cerita padaku, Jen. Apa yang dia lakukan? Apakah dia kasar padamu?

“Tidak, Ken. Kumohon, aku tidak mau membicarakan dia untuk saat ini,” pinta Jen lirih. “Hibur aku, Ken. Kamu mau, kan?”

Terdengar embusan pasrah dari seberang. Jen tahu seberapa besar rasa penasaran Ken saat ini, tapi ia memang tidak ingin mengingat kejadian semalam. Karena, hal itu akan membuat hatinya lebih sakit dan semakin terluka.

Ken mulai bercerita tentang kejadian lucu yang pria itu alami hari ini. Jen mendengarkan dan mulai tertawa ringan. Ken memang selalu bisa membuat perasaannya kembali membaik.

Setelah berbincang dengan Ken selama beberapa menit ke depan, Jen sudah tidak merasakan perih di dadanya lagi. Kini, ia sudah mulai jauh lebih tenang dan … ikhlas.

Ya, ia mengikhlaskan semua hinaan yang Angelo lontarkan. Ia tahu seberapa rendah dirinya di mata Angelo. Namun satu hal yang pasti, Jen lebih baik dari yang Angelo nilai—jauh lebih baik dari semua penilaian negatif yang pria itu tujukan padanya.

Setelah saling mengucapkan salam perpisahan dan memutuskan panggilan, Jen meletakkan ponsel di tempat tidur, lalu beranjak dan melangkah menuju kamar mandi. Ia memutuskan untuk berendam sejenak sebelum turun ke bawah dan menyiapkan sarapan.

*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja
error: Content is protected !!