BAB 1
Para pejalan kaki melangkah cepat di bawah terik matahari, melewati pedagang kaki lima yang nekat berjualan di trotoar. Sementara itu, berbagai jenis kendaraan tak henti-hentinya lalu lalang di jalan utama Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.
Suara klakson mulai bersahut-sahutan mengisi atmosfer kota di tengah pekatnya polusi udara. Sebagian pejalan kaki mengernyit kesal mendengar klakson yang cukup memekakkan telinga, sebagian lagi tak menggubris keramaian tersebut karena telinganya ditutupi headset. Macet, polusi, panas, dan bising. Semua itu bak santapan sehari-hari warga Jakarta.
Itulah alasan mengapa siang ini Angelo memilih untuk berdiam diri di ruang kerjanya yang berada di lantai dua puluh, yang berlokasi di area SCBD Sudirman, Jakarta Selatan. Setelah memandangi sekitar area perkantoran demi mengistirahatkan mata sejenak dari layar laptop, Angelo bergerak menjauh dari dinding kaca, kembali ke meja kerja, dan mulai tenggelam dalam laporan pembangunan rumah sakit yang sedang ditangani perusahaannya sejak tiga bulan lalu.
Oh, Angelo sangat menyukai suasana seperti ini. Tenang, damai, sejuk, dan sunyi. Sayangnya, semua ketenangan dan kedamaian yang menyelimuti Angelo langsung sirna ketika Mama memasuki ruang kerjanya.
Kalian jangan salah sangka. Angelo sama sekali tidak membenci Mama. Ia bahkan sangat memuja Mama. Masalahnya, Angelo tidak suka dengan berita yang Mama bawa.
“Menjemputnya?” keluh Angelo seraya mengalihkan pandangan dari laporan pembangunan demi menatap Mama yang tengah duduk tenang di sofa panjang. Angelo yakin, Mama pasti bisa menangkap nada kesal sarat penolakan itu. Namun, Mama tetap bersikap tenang dan terkendali.
“Iya, Elo,” sahut Mama lembut diiringi sorot hangat yang selalu mampu meluluhkan sikap keras Angelo. Masalahnya, kali ini Angelo tidak ingin luluh. Ia sangat tidak menyukai permintaan itu, dan siap melontarkan penolakan keras.
“Kenapa aku yang harus menjemputnya? Dia kan bisa naik taksi,” protes Angelo seraya menutup map laporan yang sedari tadi dibaca.
“Dia memang bisa naik taksi, tapi Mama mau kamu yang jemput dia, Sayang,” sahut Mama tenang, terbiasa menghadapi sikap reaktif Angelo.
“Aku tidak mau, Ma!” tolak Angelo sedikit tegas, lalu beranjak dari kursi, kemudian berjalan menghampiri dinding kaca yang berada tepat di belakang meja kerja. Beberapa kali Angelo menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan demi meredam rasa kesal yang bercokol di dada semenjak mendengar kabar tersebut.
Selama beberapa saat lamanya, ruangan itu hening. Tak ada satu patah kata pun terucap seolah masing-masing dari mereka sedang menyusun kalimat pertahanan demi menentukan siapa yang berhasil memperjuangkan keinginannya.
“Angelo,” panggil Mama lembut, memecah keheningan kaku di antara mereka. “Mama cuma minta kamu untuk menjemputnya, dan Mama rasa tidak ada yang salah dengan itu.”
Angelo tidak langsung menyahut. Pandangannya kini tertuju pada barisan kendaraan yang terlihat seperti mainan, sementara pikirannya terus mencari alasan tepat untuk menolak permintaan itu.
“Angelo—”
“Besok aku ada rapat, Ma,” ucap Angelo cepat seraya berbalik, menatap Mama yang tidak terusik dengan nada dingin anak semata wayangnya. “Kenapa bukan sopir Mama saja yang menjemput dia?”
“Karena, Mama maunya kamu.”
Jawaban tegas Mama berhasil membuat Angelo mengernyit curiga. Jujur saja, Angelo sama sekali tidak menyangka kalau kedatangan Mama siang ini hanyalah untuk memintanya menjemput seseorang yang sangat ia benci. Seseorang yang sangat tidak ia inginkan. Seseorang yang ia harapkan tidak akan pernah muncul lagi dalam kehidupannya. Jennifer Karenina.
Tak ingin membangkitkan amarah sang ibu, Angelo hanya bisa menggeleng kesal, kemudian menghela napas panjang sebelum akhirnya beranjak dari area meja kerja, menghampiri Mama. Sambil mendengus frustrasi, Angelo duduk di samping Mama. Ia pun diam selama beberapa saat demi mengulur waktu sambil berharap agar otak cerdasnya mampu menciptakan alasan-alasan yang jauh lebih kuat untuk menolak permintaan itu.
Seolah tak ingin membiarkan Angelo berpikir terlalu lama, Mama kembali membujuknya, “Ayolah, Sayang. Apa susahnya kalau kamu menjemput dia sebentar saja? Lagi pula, kalian kan sudah lama tidak bertemu.”
“Tapi, besok aku ada rapat, Ma. Aku tidak bisa membatalkannya begitu saja.” Lagi dan lagi, Angelo hanya bisa mengutarakan alasan yang sama.
“Kenapa tidak bisa? Tentu saja kamu bisa membatalkan rapatnya dari sekarang,” ujar Mama ringan diiringi senyum lebar. Angelo menggeleng pasrah menghadapi kegigihan Mama. Entah apa yang Mama pikirkan—atau rencanakan—sampai rela meminta Angelo membatalkan rapat yang sudah dijadwalkan dari jauh hari.
Seolah bisa membaca protes dalam kepala Angelo, Mama lanjut berkata, “Ayolah, Sayang. Mama tahu kamu bisa membatalkan rapat itu. You own this company, right.”
“Yeah, you’re right, Ma,” timpal Angelo sinis sarat ejekan. “Perusahaan ini memang milikku. Tapi, bukan berarti aku bisa semena-mena dan mengacaukan semuanya.”
“Jangan berlebihan, Sayang. Membatalkan rapat sesekali bukan berarti kamu semena-mena.”
Kembali, Angelo menggeleng kesal. Ia ingin sekali membantah setiap ucapan Mama, tapi tidak bisa. Akhirnya, ia hanya mampu berdecak pasrah sembari menelan tiap bantahan yang sudah ada di ujung lidahnya.
Sambil menopang tubuh dengan kedua siku tangan di atas lutut dan kesepuluh jari jemari saling bertautan, mata Angelo tertuju pada meja sofa yang ada di hadapannya. Sementara itu, pikirannya terus mencari tahu alasan di balik kegigihan Mama yang tentu saja berkaitan dengan kembalinya Jennifer ke Jakarta.
“Kenapa dia tiba-tiba kembali ke Jakarta? Bukannya dia sendiri yang memutuskan untuk kuliah dan hidup mandiri di Jepang?” Angelo mulai melontarkan rasa penasarannya, kemudian mengerling sekilas dan mendapati Mama yang tersenyum kecil mendengar nada sinisnya.
“Oh, jangan-jangan dia menyesal sama keputusannya. Kenapa? Apakah dia rindu dengan kehidupan serba mewah yang selama ini dia terima?” lanjut Angelo geram sambil mengerutkan kedua alis hingga hampir menyatu saking kesalnya. Kesepuluh jemari yang sebelumnya saling bertautan, kini berubah menjadi kepalan tangan sarat kebencian. Angelo sama sekali tidak berusaha menutupi betapa ia sangat tidak menyukai kehadiran Jennifer.
“Berhenti menilai buruk dirinya, Angelo,” tegur Mama lembut.
“Aku tidak menilai buruk dirinya, Ma. Tapi, alasan dia kembali ke Jakarta benar-benar mencuriga—”
“Mama yang memintanya kembali,” potong Mama tenang.
Angelo menoleh secepat kilat ke arah Mama. “Untuk apa?”
“Kamu tahu kan kalau dia sudah lulus kuliah?” Mama tidak menghiraukan raut terkejut dan kernyit bingung Angelo, dan malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Sikap tenang itu seolah menunjukkan bahwa semua jawaban sudah dipersiapkan sebelumnya.
“Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu,” jawab Angelo penuh luapan kekesalan. Geram, ia segera memalingkan wajah dari Mama, lalu menggemeretakkan gigi demi menekan amarah yang mulai bergejolak dalam dada.
Terbiasa menghadapi sikap sinis dan defensif sang anak, Mama tersenyum kecil penuh kesabaran sebelum akhirnya kembali berbicara, “Meskipun kamu tidak peduli, Mama ingin kamu tahu kalau Jennifer sudah lulus kuliah. Setelah lulus, dia langsung diterima kerja di salah satu perusahaan elektronik ternama di Jepang. Jadi, Mama pikir … daripada dia kerja sama orang lain, lebih baik dia kerja di sini jadi asisten pribadimu. Benar, kan?”
Itu jelas bukan pertanyaan! batin Angelo kesal mendengar betapa mudahnya Mama memutuskan semua itu tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu. Tak mampu berkata-kata, ia hanya bisa menghela napas pasrah, menggeleng kesal, kemudian bersandar lemah di sofa.
Meski terkadang suka bertindak di luar kehendak Angelo, Mama merupakan sosok wanita yang lembut, hangat, penuh cinta, dan penyayang. Setiap ucapannya mampu melunakkan hati sekeras batu sekali pun. Bahkan, Papa—yang terkenal memiliki sifat dingin, tegas, sinis, dan keras—bisa patuh dan luluh pada setiap ucapan Mama.
Memang, Angelo tidak pernah bisa menolak permintaan Mama. Mama selalu mampu membuatnya patuh. Setiap ucapan Mama bak kata-kata penuh sihir yang mampu menghipnotisnya. Masalahnya … kali ini, ia benar-benar tidak menyukai permintaan Mama.
“Aku tidak butuh asisten pribadi, Ma,” tolak Angelo sembari memberi penekanan pada setiap ucapannya demi menunjukkan betapa ia tidak menyukai ide gila itu. “Lagi pula, aku sudah punya sekretaris. Jadi, keberadaannya di sini sama sekali tidak berguna.”
“Berguna, Elo,” tegur Mama lembut.
“Tapi, aku tidak butuh.” Angelo menatap Mama dengan sorot memohon sambil berharap Mama mau memahami perasaannya.
“Percayalah, Sayang. Kamu butuh,” bujuk Mama penuh kasih sayang sembari menangkup pipi Angelo dengan satu tangan. Dengan lembut, ibu jari Mama membelai pipi Angelo, membujuknya dengan kelemah-lembutan yang menjadi senjata andalan Mama. Belaian yang mampu menghipnotis siapa pun.
“Please, Ma. Aku tidak butuh dia,” keluh Angelo memelas seraya menjauhkan belaian itu dari wajahnya.
“Kamu tidak boleh begitu, Elo,” tegur Mama lembut, tapi tetap terdengar tegas. “Meskipun kamu tidak butuh dan menganggap keberadaannya tidak diperlukan di sini, kamu harus ingat apa status kalian berdua.”
Tentu saja, Angelo ingat, dan ia tidak akan pernah lupa. Status itulah yang membuat Angelo tidak ingin Jennifer kembali ke Jakarta.
Angelo dan Jennifer sudah dijodohkan sejak ia berusia tujuh belas tahun. Apakah ia menerima perjodohan begitu saja? Tentu saja, tidak. Angelo menolak keras, tapi Mama selalu mampu membuatnya diam seribu bahasa dan terpaksa menerima perjodohan itu.
Bukan! Angelo bukan anak mama seperti yang kalian pikirkan. Ia begitu mencintai Mama dan tidak ingin mengecewakan satu-satunya wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati. Bagi Angelo, Mama adalah wanita tercantik, terhebat, dan teranggun di dunia ini.
Mother complex? Yeah, kalian pasti berpikir seperti itu. Namun, Angelo tidak peduli akan penilaian orang. Ia sangat memuja Mama, dan tak ada seorang wanita pun yang mampu menggantikan Mama di hatinya. Tidak ada!
Frustrasi, Angelo kembali menghela napas panjang. Kemudian, ia mencondongkan tubuh ke depan, menumpu kedua siku tangan di atas lutut. Kepalanya tertunduk lemas, sementara matanya menatap nanar lantai di bawah kakinya.
Jujur saja, Angelo sangat membenci Jennifer. Kehadiran wanita itu seolah mengingatkan Angelo bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki kebebasan untuk memilih pasangan hidupnya sendiri. Atau lebih tepatnya, tidak memiliki kesempatan untuk jatuh cinta kepada wanita yang tepat. Sementara, bagi Angelo … Jennifer bukanlah wanita yang tepat baginya.
“Angelo,” panggil Mama lembut seraya meraih dagu Angelo, menengadahkan wajahnya, kemudian membawa pandangan Angelo hingga bertemu dengan iris indah Mama. Sorot hangat penuh kasih sayang itu pun langsung mengunci Angelo lekat-lekat. “Kamu tahu kan kalau Mama selalu memberikan yang terbaik untukmu?”
“Tapi, aku sama sekali tidak mencintainya, Ma. Aku juga tidak pernah menyukainya,” ungkap Angelo jujur sarat keluhan. Sambil menatap Mama dengan sorot memohon, ia kembali melontarkan protesnya, “Dari dulu sampai sekarang, aku sama sekali tidak tahu kenapa harus dia? Kenapa bukan wanita lain? Kenapa, Ma?”
“Karena, Mama sangat mengenalmu, Sayang. Jadi, Mama tahu wanita mana yang cocok untukmu,” jawab Mama tenang sembari menangkup pipi Angelo dan memberikan usapan lembut di sana.
“Usiamu sudah 28 tahun, Sayang. Tapi, Mama sama sekali tidak pernah melihatmu menjalin hubungan dengan wanita. Bahkan, kamu selalu bersikap dingin pada setiap wanita yang berusaha berkenalan denganmu. Mama tidak mau kamu jadi—”
“Aku. Masih. Normal, Mama,” potong Angelo cepat, menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya sembari menegakkan tubuh dan menjauhkan wajah dari belaian lembut Mama untuk yang kedua kali. Ia tahu apa yang akan Mama ucapkan. Ini bukan yang pertama kalinya Mama menasihati Angelo.
“Mama tahu, Sayang.” Senyum lembut menghiasi wajah Mama yang sudah tidak muda lagi, bahkan pesona dan kecantikannya tak pudar sedikit pun.
Sambil menggenggam erat tangan Angelo, Mama lanjut berbicara, “Mama melahirkan dan membesarkan seorang pria tampan yang memiliki pesona kuat. Mama juga tahu kalau kamu pasti bisa menaklukkan wanita dengan mudah. Like father like son, right? Tapi, mau sampai kapan kamu sendiri seperti ini, Sayang? Apa lagi yang kamu cari?”
Angelo tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan itu bukan hanya menampar kekerasan hati Angelo, tapi juga menyadarkannya betapa ia sama sekali tidak mengetahui apa sebenarnya yang ia cari dalam kehidupannya.
“Kamu sudah punya semuanya, Elo. Tapi kamu harus ingat, seorang pria hebat sekali pun, hidupnya tidak akan pernah sempurna tanpa kehadiran seorang wanita di sisinya,” nasihat Mama lagi.
Tak berniat membalas ataupun menyanggah nasihat Mama, Angelo melepaskan genggaman hangat itu, lalu beranjak menjauh dari sofa, kemudian berjalan menuju dinding kaca. Sambil menatap barisan gedung perkantoran yang berada di seberangnya, Angelo berdiri diam sambil berkutat dengan pikirannya sendiri. Embusan napas panjang kembali melesat di tengah usahanya menenangkan gejolak emosi yang semakin sulit dikendalikan semenjak mengetahui rencana kedatangan Jennifer.
Tiba-tiba, sebuah pelukan hangat melingkari pinggang Angelo dari belakang. Gejolak emosi yang sebelumnya membuat ia gundah, perlahan-lahan mulai surut setelah menerima kehangatan dan kasih sayang yang terasa begitu kuat dari pelukan Mama.
“Baiklah, Ma. Aku akan menjemputnya besok.” Akhirnya, Angelo menyanggupi permintaan Mama meski dengan sangat terpaksa.
“Tapi, Mama harus tahu … aku melakukan ini bukan karena aku menginginkan kehadirannya. Aku melakukan ini karena Mama.”
“Terima kasih, Sayang,” sahut Mama lembut. “Setidaknya, ini adalah langkah pertama yang sangat baik. Selanjutnya, Mama harap kamu mau perlahan-lahan belajar menerima kehadirannya.”
Mendengar kalimat terakhir itu, Angelo hanya bisa menghela napas pasrah dan tertunduk kalah. Ia tahu seperti apa sifat Mama. Di saat ia memutuskan untuk menuruti satu permintaan, pasti akan ada permintaan-permintaan terselubung lainnya yang membuat dirinya semakin sulit bergerak. Angelo tahu itu, tapi entah mengapa ia tak pernah bisa menolak.
*****
Sembari memandang keluar jendela mobil, Angelo berusaha keras menepis perasaan kesal yang merongrong dada setelah mengetahui bahwa kebebasannya akan hilang ketika Jen kembali ke Jakarta. Suasana dalam mobil pun terasa begitu sunyi dan tegang. Tak ada percakapan basa-basi antara Angelo dan sopir pribadinya, yang kini tengah mengendarai mobil dengan penuh kesabaran menghadapi kemacetan kota Jakarta.
Di tengah usaha menenangkan kemelut dalam pikiran, getaran ponsel dalam genggaman berhasil mengalihkan perhatian Angelo ke screen saver bergambar pemandangan pegunungan yang asri nan menenangkan. Sejenak, kegelisahan dalam dirinya sedikit berkurang setelah melihat keindahan yang terpampang di layar ponsel.
Angelo sangat menyukai pegunungan. Ia bahkan memiliki vila mewah yang ia beli beberapa tahun lalu demi melarikan diri dari para wanita yang berusaha mendekatinya. Sebuah vila tersembunyi yang memiliki pemandangan indah, udara dingin dan sejuk, serta suasana tenang nan damai yang mampu menenangkan pikiran serta jiwanya. Ketenangan yang mengisolasi dirinya dari hiruk pikuk keramaian kota Jakarta.
Sejenak, ia menatap datar beberapa notifikasi pesan masuk yang terus bertambah setiap detik. Bukannya membaca dan membalas pesan-pesan tersebut, ia hanya mengembuskan napas panjang, kemudian mengalihkan pandangan kembali keluar jendela.
Pikirannya kini tertuju pada perjodohan yang Mama dan Papa buat secara sepihak antara dirinya dengan Jennifer. Jujur saja, Angelo tidak tahu apa sebenarnya yang Mama lihat dari Jennifer sampai rela menjodohkan dirinya dengan wanita itu.
Bagi Angelo, Jennifer bukanlah wanita yang tepat untuknya. Sepanjang Angelo mengenal Jennifer, di matanya … wanita itu sama sekali tidak cantik. Penampilan Jennifer sangat buruk, bahkan selera mode pakaiannya bisa dibilang tidak up-to-date.
Kacamata bulat dan berukuran cukup besar, membuat wanita itu tampak bak kutu buku yang sangat membosankan. Rambut panjang yang selalu dikepang dua pun membuat Jennifer tidak menarik di mata Angelo.
Pintar? Tentu saja. Jennifer selalu menjadi juara kelas dan berhasil mendapat beasiswa ke Jepang—yang akhirnya membuat wanita itu pergi selama enam tahun dari kehidupan Angelo. Enam tahun yang menyenangkan dan penuh ketenangan. Sialnya, masa-masa penuh ketenangan itu akan hilang kurang dari 24 jam.
Selain dari segi penampilan, fakta bahwa Jennifer adalah anak dari babysitter yang pernah merawat Angelo, menjadi alasan utama mengapa ia bersikeras menolak wanita itu. Jennifer adalah anak dari hasil perselingkuhan sang babysitter dengan seorang pria beristri yang sama sekali tidak pernah muncul di kehidupan mereka. Itulah mengapa Angelo sangat yakin kalau Jennifer bukanlah wanita yang pantas untuknya, bahkan ia tidak tahu apakah ia mampu menerima wanita itu di sisinya.
Lagi, Angelo mengembuskan napas panjang sarat keputusasaan. Ia tahu, Mama pasti akan memintanya untuk segera menikahi Jennifer. Menempatkan wanita itu sebagai asisten pribadi hanyalah salah satu cara Mama untuk menyatukan mereka. Ia tidak tahu apa lagi rencana Mama, atau sudah sejauh mana Mama merencanakan berbagai cara untuk mendekatkan dirinya dengan Jennifer.
Angelo tidak boleh lengah dan harus tetap waspada, mengingat betapa Mama begitu penuh perencanaan. Ia tidak tahu kapan Mama akan mengeluarkan rencana selanjutnya, tapi ia harus segera mencari cara agar bisa lepas dari ikatan perjodohan ini.
“Besok pagi kita jemput Jennifer di bandara Soekarno-Hatta. Setelah itu, antar saya ke kantor dan bawa wanita itu ke rumah Mama,” perintah Angelo datar pada sopir.
“Baik, Pak,” sahut sopir patuh.
Terpaksa. Ia tekankan sekali lagi kalau ia benar-benar terpaksa melakukan ini. Seharusnya, besok pagi ia ada pertemuan penting dengan para manajer untuk menentukan kontraktor mana yang akan mengerjakan proyek pembangunan mereka selanjutnya. Namun, demi menyenangkan hati Mama, Angelo terpaksa meminta sekretaris menjadwal ulang rapat tersebut agar dapat dilaksanakan setelah jam makan siang.
Tiba-tiba, ponsel Angelo kembali bergetar. Kali ini, getaran itu disusul kemunculan nama Papa di layar ponsel.
“Ya, Pa,” sapa Angelo datar.
“Mama sudah ke kantor?” tanya Papa tak kalah datar.
“Hmm,” gumam Angelo, malas. Ia tahu apa yang akan menjadi topik percakapan mereka kali ini.
“Angelo, Papa tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Papa sudah pernah berada di posisimu,” nasihat Papa tenang, tapi dengan sedikit penekanan sarat kebijaksanaan dan ketegasan yang selalu ampuh digunakan setiap kali Papa ingin menegur Angelo.
Masalahnya, Angelo tidak ingin ditegur ataupun dinasihati. Ia ingin Papa memahami perasaannya—sebagai sesama pria, tentu saja.
“I know, Pa. Tapi, kondisi kami kan berbeda,” keluh Angelo cepat, berharap Papa menyadari bahwa perjodohan ini adalah hal yang konyol dan sangat merugikan Angelo.
“Apanya yang berbeda?” tanya Papa cepat.
“Kami tumbuh besar bersama. Aku juga sudah menganggapnya seperti seorang adik, tidak lebih! Lagi pula, dia itu anak—”
“Berhenti mempermasalahkan latar belakangnya, Elo!” potong Papa cepat dan tegas demi menghentikan penilaian negatif yang selalu Angelo ucapkan setiap kali membicarakan Jennifer.
“Tapi, Pa—”
“Hentikan! Papa paling tidak suka mendengarmu menilai orang dari latar belakang keluarga atau masa lalu mereka. Papa tidak pernah mendidikmu seperti itu, Angelo.”
“Maafkan aku, Pa.”
Angelo tertunduk malu. Ia tahu kesalahannya, tapi hanya alasan itu yang dapat ia gunakan untuk menolak perjodohan ini. Sekarang, ia tidak tahu harus menggunakan alasan apa lagi untuk menunjukkan betapa tidak layaknya Jennifer sebagai pasangannya.
“Kita semua sama, Angelo. Ingat itu! Tidak ada yang berbeda. Lagi pula, dia tidak bisa memilih mau dilahirkan di keluarga yang seperti apa. Jadi, kamu tidak berhak menilai buruk dirinya hanya karena latar belakang keluarganya. Kamu paham?” lanjut Papa tegas dan penuh penekanan.
“Iya, Pa,” sahut Angelo lemah, kemudian menghela pasrah sarat frustrasi. Angelo sadar, saat ini tak seorang pun akan mendukung keputusannya untuk membatalkan perjodohan itu.
“Oh, iya. Mama titip pesan,” lanjut Papa cepat tanpa memberi sedikit celah bagi Angelo untuk berpikir tenang. “Setelah menjemput Jennifer, bawa dia langsung ke rumahmu. Dia akan tinggal di sana.”
Angelo terbelalak kaget. “What!!”
“Jangan membantah, Elo! Kamu tahu bagaimana Mama kalau sudah meminta sesuatu, kan?” tegur Papa seraya mengingatkan. “Jangan sampai Mama mengeluarkan jurus andalannya.”
Tak mampu berkata-kata, Angelo menggemeretakkan gigi, kesal. Ia tahu jurus andalan Mama, dan sudah menerimanya tadi di kantor. Jadi, Angelo tak perlu diingatkan kembali seberapa tak berdayanya ia saat itu.
“Pa, haruskah dia tinggal di rumahku?” keluh Angelo. Hanya itu yang dapat ia lakukan sekarang. Mengeluh. Sungguh, ia benar-benar tak menyangka kalau Mama akan menjalankan rencananya secepat ini.
“Haruskah Papa menjawabnya?” tanya Papa balik. Spontan, Angelo menggeleng lemah, pasrah, dan tak berdaya.
Menyadari kekalahannya, Angelo mengusap frustrasi wajahnya dengan telapak tangan sebelum akhirnya menjawab permintaan itu. “Baiklah, Pa.”
“Oke. Good night, Son. Hope you have a nice dream,” ucap Papa sebelum memutuskan pembicaraan.
Nice dream? Hell, yeah! Bagaimana aku bisa mimpi indah kalau begini? keluh Angelo dalam hati. Angelo melempar ponsel begitu saja di bagian kursi yang kosong, berusaha melampiaskan kekesalannya.
Dalam keheningan yang kembali melingkupi, Angelo memejam sejenak sembari mencari cara lain agar perjodohan itu dibatalkan. Ia terus berpikir, berpikir, dan berpikir … hingga akhirnya sebuah ide muncul di kepalanya.
Angelo membuka mata beberapa saat kemudian. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia akan membuat Jennifer membencinya, agar wanita itu sendiri yang membatalkan perjodohan mereka.
Ya, itulah yang akan aku lakukan. Lagi pula, mana ada wanita yang rela menikah dengan pria yang dibenci? Tidak ada! batin Angelo licik seraya menyunggingkan senyum liar.
*****
BAB 2
Sambil menatap datar hamparan kota Jakarta dari balik jendela pesawat, Jennifer kembali meratapi masa depannya yang sudah ditetapkan semenjak ia masih remaja. Jujur saja, Jen masih belum bisa membayangkan akan sedingin dan sekacau apa pertemuannya nanti dengan calon suaminya—Angelo Benedictus Neandro—setelah mereka terpisah enam tahun lamanya.
Mungkin, Mama Maira dan Papa Nico, bahkan siapa pun tidak tahu kalau sebenarnya Angelo adalah alasan utama Jen mencari beasiswa ke Jepang. Ia ingin hidup tenang dan jauh dari si Alien menyebalkan.
Ya, itulah julukan Jen untuk Angelo. Alien.
Memang, Angelo memiliki paras tampan bak artis papan atas dengan iris sewarna cokelat kacang almon yang mampu meluluhlantakkan hati wanita dalam sekejap. Masalahnya, sifat Angelo yang begitu tertutup, dingin, dan kaku, membuat pria itu terlihat bak Alien di mata Jen. Angelo juga tidak pernah bersikap hangat ataupun bersahabat pada Jen sedikit saja.
Di mata Jen, Angelo adalah seorang anti-sosial akut yang pernah ia kenal. Di kala mayoritas remaja memiliki teman bermain, Angelo lebih memilih menyendiri di kamar, sibuk dengan dunianya sendiri—entah melakukan apa. Bahkan, Jen tidak pernah melihat satu orang teman pun datang mengunjungi pria itu. Angelo benar-benar seperti Alien yang berusaha keras mengasingkan diri dari dunia luar demi menyembunyikan identitas aslinya.
Apa hanya itu alasan Jen membenci Angelo? Oh, tentu saja tidak. Tatapan Angelo yang tajam, sinis, dan penuh kebencian setiap kali menatap Jen benar-benar menunjukkan betapa pria itu sangat tidak menyukainya. Angelo selalu memandang rendah Jen, dan tak pernah menghargainya sedikit pun.
Mulut Angelo juga setajam pisau. Memang, Jen jarang sekali bertegur sapa dengan Angelo meski mereka tinggal satu rumah dulu. Namun, sekalinya Angelo bicara, ucapan pria itu selalu berhasil melukai perasaan Jen.
‘Aku tidak akan pernah menganggapmu! Jadi, jangan pernah berpikir sedikit pun untuk jatuh cinta padaku. Dan, kamu harus ingat … kamu. Bukan. Levelku!’
Hinaan itu terlontar tepat setelah Mama dan Papa menjodohkan mereka, dan Jen tidak akan pernah melupakannya sampai kapan pun. Jen masih ingat bagaimana raut wajah dan tatapan Angelo saat itu. Bahkan, sakit hati dan kekecewaan yang ia alami dulu, masih bisa ia rasakan hingga saat ini.
Tak berhenti sampai di situ, Angelo selalu memiliki cara untuk menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Jen. Bahkan, pria itu selalu menatap dengan sorot sinis dan raut jijik.
Jen tak mampu melawan Angelo. Bukan karena ia tak memiliki kekuatan untuk melawan, tapi karena ia tahu posisinya. Ia tahu diri! Akhirnya, Jen hanya bisa menangis di kamar sembari mencoba me-mendam kebencian yang teramat besar pada Angelo demi menjaga perasaan Mama dan Papa.
Jatuh cinta sama Alien? Tidak akan pernah! Aku membencinya—sangat membencinya! batin Jen geram seraya mendengus kesal.
Beberapa menit ke depan, pesawat yang membawa Jennifer dari Jepang ke Jakarta akan mendarat. Menyadari dirinya tidak bisa lari dari kenyataan, Jen berusaha menikmati detik-detik kebebasannya yang akan lenyap dalam hitungan menit.
Jen menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak setiap kali mengingat bahwa ia harus menikah dengan Angelo. Kalau bukan karena permintaan Mama Maira, Jen enggan kembali ke Jakarta, melepaskan pekerjaannya di Jepang, dan meninggalkan pria yang ia cintai.
Menolak perjodohan? Jen tidak bisa—lebih tepatnya, tidak mau. Karena, ia tahu diri. Meski bukan anak kandung, keluarga Neandro sudah merawat, membesarkan, dan menyayangi Jen layaknya anak mereka sendiri. Jen juga sudah menganggap Mama Maira dan Papa Nico sebagai orangtuanya.
Selama Jen tinggal di Jepang, Mama Maira tak pernah absen menghubunginya seminggu sekali meski hanya sekadar menanyakan kabar dan kesehatannya. Itu salah satu bukti besarnya kasih sayang keluarga Neandro pada Jen. Mama Maira juga sesekali mengunjunginya demi melepas rindu. Itulah yang membuat Jen semakin tidak sanggup menolak perjodohan itu.
Balas budi. Hanya itulah tujuan hidup Jen.
Bodoh? Bukan, Jen bukan bodoh. Jen tahu kalau ia berhak menentukan jalan hidupnya. Masalahnya, ia tak mau—lebih tepatnya, ia tidak bisa egois dan mengecewakan orang-orang yang sudah membesarkannya dengan penuh cinta. Jen juga tidak sanggup melihat Mama bersedih hanya karena keegoisannya.
Hampir tiga bulan lamanya Jen tidak bertemu dengan Mama. Ia sangat merindukan pelukan hangat yang mampu mengusir rasa sepi dan sedihnya. Ia juga merindukan Papa yang selalu melindunginya dari sikap dingin Angelo.
Suara pramugari yang memberikan informasi melalui pengeras suara langsung mengalihkan pikiran Jen dari wajah menyebalkan yang selalu menghantuinya. Perlahan-lahan, pesawat pun mulai bergerak turun hingga akhirnya mendarat dengan sempurna.
Tak seperti para penumpang yang mulai bersiap-siap dan bergegas untuk turun, Jen malah memilih duduk berlama-lama di dalam pesawat. Sempat tebersit di pikirannya untuk kembali ke Jepang dan menikmati kebebasannya. Namun, rindunya pada Mama langsung menghapus niat buruk itu.
Jen memerhatikan barisan penumpang yang bergerak teratur menuju pintu keluar. Dalam hitungan detik, pesawat mulai kosong. Sebelum beranjak dari kursi, Jen menghela napas pasrah, kemudian mempersiapkan dirinya agar tetap kuat menghadapi takdir dan peran yang harus ia jalani.
Semoga Mama yang menjemputku. Kumohon, Tuhan, jangan biarkan si Alien yang menjemputku. Please, jangan si Alien! doa Jen dalam hati sembari melangkah keluar dari pesawat.
Sama seperti kebanyakan penumpang yang baru turun dari pesawat, ia bergegas menuju tempat pengambilan koper, kemudian meletakkan barang bawaannya di troli. Jen hanya membawa dua koper besar dan dua koper berukuran sedang yang berisi pakaian, sepatu, serta barang-barang pentingnya. Sementara, perabotan dan barang berat lainnya yang ia miliki di Jepang, ia berikan kepada teman sekamarnya.
Dengan harapan bisa segera bertemu Mama, Jen melangkah menuju pintu keluar sambil mendorong troli. Ketika ia baru saja melewati pintu keluar, matanya langsung tertuju pada sebuah papan nama bertuliskan namanya, yang diangkat cukup tinggi oleh seorang pria berusia pertengahan empat puluhan dan berseragam safari.
“Dengan mbak Jennifer?” tanya pria itu dengan logat Jawa yang kental ketika Jen menyapa ramah.
“Iya, Pak,” sahut Jen diiringi senyum manis.
“Biar saya bawa trolinya, Mbak,” pinta pria itu sopan sebelum mengambil troli dari Jen. Setelah meletakkan papan nama di atas tumpukan koper, pria itu mulai berjalan menjauh dari area pintu keluar, dan Jen mengikuti dari belakang.
“Pak Neandro sudah menunggu di mobil, Mbak,” info pria itu pada Jen ketika mereka menghampiri salah satu mobil SUV hitam yang terparkir di bawah pohon rindang. Mendengar informasi tersebut, luapan kegembiraan langsung mendominasi perasaannya. Ia benar-benar sudah tidak sabar ingin segera bertemu Papa.
Meski tadi sempat sedih karena harus kehilangan kebebasannya, kini langkah Jen mulai terasa ringan. Senyum lebar di wajahnya tak mampu menutupi besarnya kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. Ia sangat merindukan Papa dan Mama.
Ketika sudah berada di dekat mobil, sang sopir segera membuka bagasi mobil, lalu memasukkan koper-koper Jen. Sementara itu, Jen bergegas membuka pintu penumpang bagian tengah tanpa sedikit pun menghapus senyum lebar di wajah cerianya.
“Papa—”
Sapaan cerianya terhenti begitu saja. Senyum lebar yang sedari tadi menghiasi wajah Jen pun seketika sirna saat melihat pria menyebalkan yang saat ini duduk tenang dengan pandangan tertuju pada layar ponsel dan kedua ibu jari yang bergerak lincah membalas pesan.
“Rupanya kamu sudah tidak sabar ingin bertemu denganku, ya.”
Suara berat dan datar itu terasa bak angin topan yang berhasil mengempas kebahagiaan Jen sejauh mungkin. Angelo tak menoleh sedikit pun ke arahnya. Bahkan, tampak jelas betapa pria itu benar-benar tidak peduli dengan kehadirannya.
Berbeda dengan Angelo yang cuek, Jen malah sempat tertegun melihat pria yang selama ini ia benci. Bagaimana tidak? Penampilan Angelo sangat jauh berbeda dari yang Jen ingat enam tahun yang lalu. Kini, pria itu bukan hanya terlihat lebih tampan dan memesona, tapi juga memiliki aura mengancam yang mampu membuat Jen bergidik ketakutan.
Setelan jas yang Angelo kenakan terlihat mahal, seperti dijahit khusus mengikuti postur tubuh pria itu. Terakhir kali Jen melihat Angelo, rambut hitam pria itu cukup panjang dan sedikit tidak teratur. Kini, rambut itu dipangkas rapi dan disisir ke belakang. Rahang Angelo yang dulu mulus dan bersih, sekarang terlihat sangat maskulin dengan janggut halus yang terpangkas sempurna mengikuti garis rahang pria itu.
Tak dimungkiri, Jen memuji ketampanan Angelo. Bahkan, ia akui kalau saat ini Angelo terlihat luar biasa memukau sekaligus berbahaya bagi hati dan mata Jen. Sial! Ia tidak menyangka kalau si Alien menyebalkan ini bisa berubah drastis.
“Hmm, kurasa kamu terlalu terpesona melihatku sampai ….”
Kalimat Angelo terhenti tepat ketika pria itu menoleh ke arah Jen yang masih berdiri di luar mobil. Sejenak, Jen memerhatikan iris cokelat almon itu bergerak saksama, menelitinya dari ujung rambut hingga kaki seakan-akan ia adalah barang yang hendak dibeli.
“Ternyata … sekali itik buruk rupa, tetaplah buruk rupa. Itik tidak akan pernah berubah menjadi angsa meskipun dilapisi pakaian mahal dan riasan sempurna. Kurasa kamu harus menerima kenyataan itu,” sindir Angelo sinis dan sedikit tegas sebelum berpaling kembali ke layar ponsel.
Mendengar hinaan itu, Jen seketika ternganga. Tak seorang pun mampu menyakiti perasaannya hanya dengan ucapan, kecuali Angelo. Siapa pun yang mengenal Angelo, pasti tidak akan percaya kalau pria itu lahir dari seorang wanita berhati lembut dan penuh kasih sayang seperti Mama Maira. Angelo benar-benar bak Alien yang muncul di tengah pasangan suami-istri yang sempurna.
“Pantas saja tak ada wanita yang mau denganmu sampai Mama harus menjodohkan kita berdua. Mulutmu melebihi mulut harimau!” tegas Jen, kesal.
Angelo menoleh cepat setelah mendengar ucapan Jen, lalu mengernyitkan kening seraya menatapnya geram. “Oh, sekarang kamu sudah berani menjawabku, ya? Jangan besar kepala, Iper! Aku bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darimu.”
Jen mendegus kesal. Ia paling tidak suka kalau Angelo memanggilnya Iper. Ibu kandungnya memberi nama yang sangat indah padanya. Jennifer. Namun, Angelo selalu saja memanggilnya dengan sembarangan dan membuatnya lebih terdengar seperti ‘iler’.
Tanpa menunggu disuruh masuk, Jen langsung menutup pintu di samping Angelo dengan penuh amarah hingga menciptakan debuman yang cukup keras. Tak peduli dengan protes yang mungkin saja sudah Angelo ucapkan, Jen bergegas mengitari mobil hingga tiba di sisi lain pintu penumpang.
Dengan sikap berani dan siap melawan, Jen membuka pintu, lalu duduk di samping Angelo tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Anggap dia tidak ada, Jen! Anggap dia tidak ada! batin Jen mengingatkan dirinya sendiri.
Sembari melipat kedua tangan di depan dada, Jen membuang wajah ke samping, memaksa dirinya menatap keluar jendela. Sang sopir yang sudah selesai memasukkan koper dan menutup pintu bagasi, segera duduk di belakang kemudi.
Keheningan sarat amarah terasa kental mengisi atmosfer mobil. Jen bisa merasakan tatapan tajam Angelo yang terus menguncinya, bahkan ketika sang sopir membawa mobil bergerak meninggalkan area parkir. Jen tidak peduli.
“Langsung ke rumah.” Suara berat Angelo kembali mengisi pendengaran Jen ketika pria itu memberi arahan pada sang sopir.
“Ke rumah Mama, ya, Pak.” Jen menimpali secepat mungkin.
“Tidak,” sahut Angelo tak kalah cepat. “Rumahku.”
Jen menoleh sambil mengernyit kesal sekaligus tak percaya. Mama tidak pernah mengatakan kalau Jen harus tinggal bersama Angelo. Mama hanya memintanya kembali ke Jakarta untuk bekerja sebagai asisten pribadi si Alien ini.
Gawat! Ini malapetaka. Aku bisa mati berdiri kalau harus serumah dengannya, batin Jen panik. Masih tidak percaya dengan ucapan Angelo, Jen segera mengeluarkan ponsel dari tas selempang yang sedari tadi ia bawa. Dengan debar jantung cepat karena panik, Jen berusaha menghubungi Mama.
Masalahnya, sudah lebih dari tiga kali Jen mencoba tak satu pun panggilannya dijawab Mama. Masih berusaha mencoba, ia mulai menghubungi Papa, tapi hasilnya tetap sama.
“Tidak akan berhasil,” ucap Angelo acuh tak acuh seraya memasukkan ponsel ke saku jas.
“Maksudmu?” Jen menatap Angelo dengan sorot kesal.
“Mereka sudah merencanakan ini.”
Jen menggeleng tak percaya. Embusan napas panjang yang disusul geraman kesal menandakan betapa Jen benar-benar tak menyangka kalau Mama Maira dan Papa Nico memiliki sejuta cara untuk menyatukan mereka berdua. Sialnya, tak ada yang dapat mereka lakukan selain mengikuti setiap siasat Mama dan Papa.
Bukannya menenangkan keadaan, Angelo malah memperburuk suasana hati Jen dengan mengatakan, “Seharusnya, aku yang frustrasi karena harus menikah denganmu, bukan sebaliknya.”
Jen mengangkat salah satu alisnya. Bukan hanya karena kaget mendengar ucapan Angelo, tapi juga marah dan geram. Sungguh, ia tak menyangka bahwa tingkat ketajaman lidah pria itu ternyata semakin bertambah tajam seiring bertambahnya usia.
“Jangan sok kegantengan! Kamu kira, aku mau nikah sama kamu karena aku suka sama kamu?” tantang Jen, berani. “Aku mau menikah sama kamu hanya karena Mama. Karena utang budi. Itu saja!”
“Oh, really?” sahut Angelo sinis sembari mengangkat salah satu alis, meremehkan setiap ucapan Jen.
“Ya, tentu saja! Kamu kira aku mau punya suami jahat, ketus, sinis, dingin, tidak punya perasaan, dan menyebalkan seperti kamu? Lebih baik aku perawan seumur hidup daripada harus nikah sama kamu!” ungkap Jen lantang, tidak ingin tunduk lagi pada sikap kejam Angelo.
Sejenak, pria itu menatapnya tajam dan penuh amarah. Namun, perlahan-lahan raut amarah itu berubah menjadi senyum simpul licik yang malah membuat bulu kuduk Jen meremang.
“Glad to hear that!” Angelo menegakkan posisi duduknya, lalu memutar tubuh sedikit ke samping agar dapat menatap Jen dengan mudah. “Kalau begitu, aku mau menawarkan sesuatu padamu. Kujamin, kamu akan bahagia kalau menerima tawaranku.”
Jen tidak langsung menjawab. Ia mencoba menggunakan sedikit waktunya untuk berpikir sembari menatap curiga pria yang saat ini menguncinya bak singa yang siap menerkam mangsa.
Ia tidak tahu apa yang akan Angelo tawarkan. Namun, entah mengapa ia bisa merasakan niat terselubung di balik senyum miring yang kini menghiasi wajah tampan Angelo.
“Tawaran apa?” tanya Jen, ragu.
“Bantu aku membatalkan perjodohan ini.”
Jen tersentak mendengar penawaran itu, dan tergoda. Membatalkan perjodohan? Bisakah? Bagaimana caranya? Apakah boleh kami membatalkan perjodohan ini? Lalu … bagaimana dengan Mama? Oh, Tuhan! Tawaran ini benar-benar menggoda. Aku bisa bebas menikah dengan pria pilihanku dan hidup bahagia. Tapi, apa Mama akan bahagia?
Pertanyaan demi pertanyaan penuh keraguan terus mengisi benak Jen. Tentu saja, ia ingin sekali membatalkan perjodohan ini. Namun, itu sama saja dengan menghancurkan harapan yang selama ini Mama gantungkan padanya.
Aku tidak ingin mengecewakan Mama. Tapi … aku juga tidak mau menikah sama Angelo. Bagaimana ini?
*****
BAB 3
Setelah melewati perjalanan panjang dan macet yang cukup menyita waktu, akhirnya mereka tiba di rumah Angelo yang berlokasi di daerah Jakarta Selatan. Bangunan tingkat dua bergaya Scandinavia dengan kolam renang pribadi, merupakan alasan utama mengapa Angelo membeli rumah ini. Rumahnya memang tidak semegah dan sebesar milik Papa, tapi ini adalah hasil dari jeri payah Angelo saat memenangkan salah satu tender pembangunan skala internasional.
Tanpa berlama-lama, Angelo segera keluar dari mobil setelah kendaraan tersebut berhenti di halaman parkir. Dengan langkah tegap dan cepat, ia bergegas menuju pintu rumah tanpa menunggu Jen keluar dari mobil. Bukan tanpa alasan ia terburu-buru seperti itu. Angelo ingin agar basa-basi perkenalan akan seluk beluk rumah bisa berlangsung singkat, sehingga ia bisa berangkat ke kantor dan menjauh dari Jen.
Namun, ketika ia membuka pintu rumah, keinginannya untuk pergi ke kantor pun seolah teralihkan sejenak. Kolam renang yang berada di balik dinding kaca—yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat ia berdiri saat ini—seolah menggoda Angelo agar segera menanggalkan seluruh pakaiannya.
Berenang. Ya, mungkin Angelo butuh merasakan dinginnya air kolam renang demi meredam gelora panas yang sedari tadi menyelimuti tubuhnya. Masalahnya, Angelo masih memiliki tanggung jawab pekerjaan yang memaksanya untuk segera mengendalikan diri.
Akhirnya, ia mengalihkan pandangan dari kolam renang, kemudian melangkah masuk, dan berhenti tepat di tengah ruang tamu. Dengan kesabaran setipis tisu, Angelo melipat kedua tangan di depan dada sembari menunggu kedatangan Jen. Berselang beberapa detik kemudian, akhirnya wanita itu dan sopir pribadinya muncul juga.
“Letakkan saja di kamar atas, Pak,” perintah Angelo pada sang sopir, yang langsung bergegas meninggalkan mereka berdua sambil membawa koper-koper Jen ke kamar yang sudah disiapkan sebelumnya. Sementara, Jen hanya berdiri diam beberapa langkah dari Angelo.
Selama beberapa saat penuh keheningan, iris Jen bergerak perlahan mengamati ruang tamu, hingga akhirnya perhatian wanita itu tertuju pada kolam renang. Sementara, mata Angelo meneliti Jen dengan saksama untuk yang kedua kali.
Meski benci untuk mengakui, Angelo menyadari bahwa dirinya kembali terkejut melihat perubahan drastis Jen. Kacamata bulat yang dulu selalu membingkai mata wanita itu, kini sudah lenyap. Sehingga, iris hitam pekat wanita itu tampak begitu jelas dan indah. Wajah yang dulu selalu terlihat polos dan tidak menarik, kini dihiasi riasan sempurna yang membuat Jen tampak cantik dan memesona.
Rambut hitam yang dulu selalu dikucir, kini berwarna merah kecokelatan dan dibiarkan tergerai indah, membuat kulit putih Jen terlihat makin menonjol. Tubuh yang dulu selalu mengenakan pakaian sederhana dengan penampilan yang sangat membosankan, sekarang terlihat sangat modis, cantik, dan menarik. Bahkan, Angelo kesulitan mengalihkan pandangan dari belahan payudara Jen yang tampak jelas di balik tank top hitam yang wanita itu kenakan.
Celana panjang skinny jeans melekat sempurna mengikuti tiap lekukan kaki jenjang Jen. Sementara, jaket denim yang wanita itu kenakan, membuat penampilan Jen tampak seperti wanita nakal yang siap menerima hukuman liar yang kini mengisi pikiran Angelo.
Sekali itik, tetaplah itik. Sampai kapan pun, dia tidak akan pernah pantas menjadi pasanganku! batin Angelo angkuh sembari terus mengingatkan dirinya sendiri akan status dan latar belakang Jen.
“Ikuti aku,” ajak Angelo datar saat bicara pada Jen. Tak ada yang tahu betapa sulit ia mengatur nada bicaranya agar tetap datar di tengah gelombang aneh yang kini melanda dirinya.
Tanpa banyak bicara, wanita itu mengikuti langkah Angelo yang berbelok ke sisi lain rumah dan tiba di area menonton. Tak jauh dari sofa panjang yang menghadap televisi, terdapat pintu kaca yang langsung mengarah ke area kolam renang. Angelo menggeser pintu tersebut, kemudian melangkah menuju area kolam renang berbentuk persegi panjang.
Tanaman rambat yang menghiasi dinding dan beberapa pohon hias di tiap sudut area, membuat tempat itu terasa begitu asri dan menenangkan. Sejenak, ia menghirup napas dalam-dalam, menyerap kesejukan dan ketenangan yang selalu ia rasakan setiap kali berada di dekat kolam renang.
Jen bergerak maju, lalu berhenti tepat di samping Angelo. Wanita itu menatap kolam renang yang terlihat begitu menggoda di bawah teriknya matahari. Angelo menoleh dan menatap Jen sejenak. Seketika, gejolak aneh itu kembali mengusik dan berhasil membuat debar jantungnya tidak keruan.
Angelo berdeham kecil seraya mencoba mengusir gejolak aneh dalam dirinya, kemudian mengingatkan Jen akan peraturan rumah, “Kamu bebas melakukan apa pun di sini. Tapi, jangan pernah masuk ke kamarku!”
Jen menoleh, menatap malas Angelo sembari menaikkan salah satu alis mata yang terukir sempurna. Dengusan geli yang kemudian disusul senyum miring di wajah Jen seolah menunjukkan betapa wanita itu terang-terangan meremehkan ucapan Angelo.
“Aku tidak akan ke kamarmu, kecuali kamu pingsan, dan aku terpaksa harus menyeretmu dari atas ke bawah,” balas Jen cepat dan ketus, sama sekali tidak peduli dengan sikap tegas, angkuh, dingin, dan sinis yang berusaha Angelo pertahankan.
Jen langsung memalingkan wajah darinya, kemudian melangkah menjauh sembari memerhatikan sekeliling area. Bukannya kesal dengan respons ketus Jen, Angelo malah tersenyum kecil—merasa tertantang. Ia pun menyadari bahwa Jen yang dulu ia kenal—wanita kikuk, pendiam, penurut, dan lugu—kini telah berubah menjadi wanita yang tegas dan tidak takut sedikit pun padanya.
Jujur saja, perubahan Jen terasa sedikit menyulitkan dan mulai mengusik ketenangan Angelo. Tidak, Angelo tidak takut. Ia hanya sudah terbiasa melihat sosok Jen yang penurut dan pendiam, yang selalu berusaha menjaga jarak darinya. Sedangkan sosok Jen yang ia lihat saat ini—yang tegas dan menantang—benar-benar di luar ekspektasinya.
Namun, Angelo melihat peluang besar di sini. Perasaan benci yang wanita itu miliki terhadap dirinya merupakan amunisi terbaik yang dapat ia manfaatkan untuk membatalkan perjodohan ini. Lagi pula, tidak ada yang dirugikan jika perjodohan ini dibatalkan. Jen bisa kembali ke Jepang, dan Angelo bisa hidup dengan tenang di sini.
“Sebelum aku pergi, aku ingin bicara tentang penawaranku tadi.” Angelo merasa ini adalah waktu yang tepat untuk membahas inti permasalahan mereka.
Langkah Jen terhenti seketika, lalu berbalik dan menatapnya datar. “Aku tidak mau.”
Angelo tersentak kaget, tidak menduga penolakan Jen. Sesaat, ia mengira wanita itu sedang bercanda atau berniat mempermainkan keseriusannya. Namun, Jen terlihat begitu serius dan sangat yakin dengan keputusannya. Sikap tegas dengan sorot penuh keyakinan itu pun seolah menunjukkan bahwa Jen ingin mengendalikan keadaan.
Angelo yang dominan dan keras kepala, tidak akan membiarkan siapa pun mengendalikan dirinya—kecuali Mama dan Papa, tentu saja. Namun, ia tidak ingin luapan emosi menggagalkan semuanya. Berusaha mengendalikan diri, Angelo memasukkan kedua tangan ke saku celana, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan.
Belum menyerah, Angelo mencoba lagi peruntungannya. “Ada banyak keuntungan yang bisa kamu terima kalau kamu setuju dengan tawaranku. Jangan sampai kamu menyesali keputusanmu.”
“Aku akan lebih menyesal melihat Mama yang kecewa karena kita membatalkan perjodohan,” sahut Jen mantap tanpa keraguan sedikit pun.
Dengan sikap tenang terkendali, Jen mulai melangkah mendekat. Tak terlihat sedikit pun rasa takut atau gugup di wajah wanita itu. Bahkan, Jen terang-terangan menantang Angelo seolah mereka berada di tengah medan perang.
“Kamu yakin tidak mau mendengar apa yang akan kamu terima jika perjodohan ini batal?” Angelo masih berusaha menggoyahkan keputusan Jen. Namun, tak sedikit pun raut wanita itu menunjukkan adanya ketertarikan.
Sambil memaksa senyuman kecil di wajah demi menunjukkan sikap bersahabat, Angelo kembali bicara, “Hidup ini hanya sekali, Iper. Apa kamu yakin tidak ingin menikmatinya sesuai dengan apa yang kamu inginkan? Apa kamu tidak ingin mengunjungi tempat-tempat indah yang hanya bisa kamu lihat di TV dan merasakan setiap petualangannya? Apa kamu tidak ingin merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya?”
Bukannya tergoda untuk membatalkan perjodohan, Jen malah menggeleng pelan sambil menatapnya kecewa. “Tak bisakah kamu—sekali saja, berhenti bersikap egois?”
Seketika, senyum palsu Angelo pun sirna ketika Jen menegur seraya menasihatinya. Masalahnya, Angelo tidak butuh nasihat. Ia hanya ingin membatalkan perjodohan ini. That’s it!
“Tidak bisa!”
“Apa kamu tidak tahu bagaimana Mama selalu menaruh harapan besar kepada kita sejak dulu? Perjodohan ini adalah impian Mama, Angelo, dan aku tidak akan pernah mengecewakan Mama, apalagi menghancurkan perasaannya.”
“Aku tahu seperti apa mamaku,” sahut Angelo geram seraya memberi penekanan. “Dan, aku juga tahu bagaimana Mama saat menginginkan sesuatu. Kamu tidak perlu memikirkan apa yang Mama rasakan karena dia bukan mamamu!”
Jen tersentak kaget sekaligus kecewa mendengar ucapannya. Gelengan kecewa yang menyertai perubahan raut Jen yang kini tampak sedih, menandakan betapa ucapan Angelo bukan hanya menyadarkan Jen akan posisinya, tapi juga melukai perasaan wanita itu.
Angelo tidak peduli dengan perasaan Jen. Sama sekali tidak peduli! Ia benar-benar muak mendengar penolakan dan nasihat Jen.
“Aku tahu, dia memang bukan mamaku,” ucap Jen lirih sembari mengunci iris Angelo. “Tapi, dia sangat mencintai dan menyayangiku. Itulah kenapa aku tidak mau mengecewakannya. Aku tahu, aku tidak berhak menasihatimu, tapi aku berhak memilih perasaan siapa yang akan kujaga di sini.”
Persetan dengan pengendalian diri! batin Angelo geram sembari menegur sikap sok bersahabat yang berusaha ia tunjukkan tadi, yang malah membuat Jen merasa berhak membantah dan melawannya.
“Kamu tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa dengan adanya perjodohan ini. Kamu akan menderita hidup bersamaku!” ancam Angelo tegas sambil menatap Jen dalam-dalam, berharap dapat menakuti wanita itu.
“Aku tidak peduli,” lawan Jen tanpa melepaskan tautan mata mereka. “Asal kamu tahu, melihat Mama dan Papa bahagia … itu sudah melebihi semua keuntungan yang mungkin bisa kamu tawarkan padaku, dan aku tidak menginginkan yang lain selain itu.”
“Astaga! Jangan naif, Iper. Apa kamu sanggup menikah dengan orang yang tidak kamu cintai?” tanya Angelo kesal sekaligus bingung mendengar keputusan Jen. Ini benar-benar tidak masuk akal!
“Aku tidak naif, dan namaku Jennifer. Bukan iper!”
Angelo memutar bola mata, muak. “Kalau bukan naif, lalu apa namanya? Bodoh?”
Bukannya kembali melawan, Jen malah menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan, berusaha mengendalikan emosi. Angelo tidak suka melihat sikap Jen yang seperti ini. Sikap yang memosisikan Angelo bak anak kecil yang sedang merajuk karena menginginkan hal sepele.
Bukan! Ini bukan hal sepele. Ini masa depannya. Tidak ada yang sepele jika menyangkut masa depannya.
“Ini adalah hidupku. Keputusanku. Aku sudah menerima semua kebahagiaan yang luar biasa besar sejak keluargamu merawat dan membesarkanku dengan penuh cinta. Tak ada yang bisa mengganti semua itu, bahkan kebahagiaan duniawi yang kamu tawarkan sekali pun. Kuharap kamu mengerti, Angelo.”
Luapan kekesalan yang sebelumnya sempat terlontar dari bibir Jen, lenyap begitu saja. Kini, Jen terlihat begitu tenang terkendali. Bahkan, setiap kalimat yang terucap terdengar begitu jujur dan tulus. Masalahnya, hal itu malah semakin membakar amarah dalam diri Angelo.
“Kehidupanmu? Ini juga menyangkut kehidupanku. Hanya yang terbaik yang boleh menjadi bagian dari kehidupanku. Dan, kamu … kamu tidak akan pernah pantas ada dalam kehidupanku, apalagi menjadi pasanganku!” papar Angelo tegas dan penuh luapan emosi seraya melempar tatapan tajam penuh kebencian pada Jen.
Bibir Jen menganga lebar, terkejut mendengar ucapan Angelo. Ia tahu betapa kasar ucapannya. Ia juga tahu betapa dalam luka yang sudah ia torehkan saat ini, tapi Angelo tidak peduli. Ia hanya ingin Jen pergi dari kehidupannya.
Tanpa memberikan kalimat perlawanan, Jen langsung beranjak dari hadapan Angelo dan bergegas masuk ke rumah. Angelo tidak tinggal diam. Dengan cepat, ia menarik pergelangan tangan Jen dan menghentikan langkah wanita itu. Namun, secepat kilat pula Jen mengentak cengkeraman Angelo hingga terlepas.
“Aku tidak pantas, katamu?” Jen mengulang ucapan Angelo sebelumnya dengan penuh amarah dan kekecewaan. Air mata mulai menggenangi kelopak mata wanita itu.
“Apa harus kuulang supaya kamu sadar?” lawan Angelo sinis.
“Sayangnya … bagi Mama, akulah yang terbaik untukmu!” tegas Jen geram dari balik barisan gigi yang mengatup rapat penuh amarah, dan air mata wanita itu pun merebak.
Tak mampu berkata-kata, Angelo hanya bisa menatap kepergian Jen yang bergegas menaiki barisan anak tangga menuju lantai atas. Sepanjang mereka saling mengenal, Angelo tidak pernah melihat Jen menangis. Anehnya, sesuatu yang asing dalam dirinya tiba-tiba bergejolak saat melihat air mata itu.
Selama beberapa saat, Angelo berdiri diam sambil menyelami perasaan aneh yang mendominasi dirinya. Ada apa denganku? Dulu, aku sama sekali tidak peduli apakah Jen terluka dengan ucapan kasarku. Tapi, kenapa sekarang aku merasa bersalah seperti ini?
Angelo bingung dengan perasaannya sendiri. Sebagian dari dirinya seolah memaksa Angelo untuk segera menghampiri Jen dan meminta maaf. Namun, harga diri dan ego masih berusaha mendominasi. Akhirnya, Angelo memilih menepis rasa bersalah itu.
*****
Jen menangis, melampiaskan kekesalan dan sakit hatinya. Sambil meringkuk seperti bayi dalam kandungan, ia terus mengingat kata-kata Angelo yang begitu menyakitkan.
Memang, Jen tidak berharap banyak dari Angelo karena ia tahu kalau dari dulu pria itu tak pernah memperlakukannya dengan baik. Sejak kecil, Angelo juga tidak pernah menghargai keberadaan Jen dan selalu memandangnya rendah. Namun, ucapan Angelo tadi sangat melukai perasaannya.
Mungkin Angelo benar, Jen terlalu naif dan bodoh. Ketika Mama memintanya kembali ke Jakarta, Jen mengira akan ada sedikit saja perubahan dari Angelo—setidaknya, ia berharap pria itu mau belajar menerima kehadirannya. Karena, setuju atau tidak dengan perjodohan ini, ia adalah calon istri Angelo. Sayangnya, Jen salah!
Dering ponsel yang cukup keras berhasil menarik perhatian Jen sejenak dari kata-kata menyakitkan yang Angelo ucapkan tadi. Masih dengan perih yang begitu menyiksa dada karena kekecewaan, Jen bangkit dari posisinya, lalu meraih ponsel yang ia letakkan di meja nakas yang ada tepat di samping tempat tidur.
Nama Mama muncul di layar. Bukannya langsung menjawab, Jen terdiam sedih menatap layar ponsel. Rasa bersalah yang begitu besar pun seketika melanda Jen tatkala membayangkan kekecewaan yang akan Mama rasakan jika ia dan Angelo membatalkan perjodohan.
Saat ini, Jen belum berani menjawab panggilan Mama. Ia butuh waktu untuk menyendiri dan meluapkan semua rasa sakit hatinya dengan menangis sepuas-puasnya.
Akhirnya, dering ponsel pun berhenti. Namun, hanya berselang satu detik dering itu kembali memenuhi kamar Jen.
Memahami sifat Mama yang pantang menyerah dan tidak akan berhenti menelepon sampai ia mau menjawab, akhirnya Jen pun pasrah. Demi menangkan diri, Jen menarik napas dalam-dalam beberapa kali sambil berusaha keras menghentikan isak tangis sebelum menjawab panggilan tersebut.
“Halo, Ma,” sapa Jen lembut, kembali berusaha keras menekan isak tangis yang entah mengapa kembali mencuat.
“Halo, Sayang,” balas Mama hangat. “Maaf, tadi Mama dan Papa tidak menjawab panggilanmu. Mama tahu, kamu pasti kaget karena harus tinggal dengan Angelo.”
“Kenapa Mama tidak memberi tahuku sebelumnya, Ma?” tanya Jen pelan sambil berusaha keras menutupi kesedihan di suaranya.
“Karena, kami pikir … hanya ini caranya agar kalian bisa saling mengenal dan mendekatkan diri satu sama lain, Jennifer,” jelas Mama tenang dan penuh kehangatan. “Mama tahu bagaimana kalian dulu. Kalian selalu menjaga jarak. Bagaimana kalian bisa menjadi sepasang suami-istri kalau kalian tidak bisa mengenal satu sama lain dengan baik, Sayang?”
Jen terdiam sejenak, mencerna sebaik mungkin jawaban Mama. Memang benar, ia dan Angelo selalu menjaga jarak meski berada dalam satu rumah. Bahkan, mereka berdua selalu berusaha agar tidak berada dalam satu ruangan.
Semua kecanggungan dan keputusan untuk menjaga jarak itu seolah terbentuk secara alamiah di alam bawah sadar mereka. Bukan karena mereka tidak mampu menjalin percakapan dengan baik, tapi karena sejak awal Angelo menunjukkan kebencian yang cukup dalam terhadap Jen—baik dari tatapan Angelo tajam, dengus mencemooh yang terdengar tiap kali pria itu berpapasan dengan Jen, hingga raut penuh kebencian yang Angelo tunjukan setiap kali terpaksa harus seruangan dengan Jen. Jadi, alasan Mama memang tidak salah. Jen dan Angelo memang harus mendapatkan kesempatan untuk saling mengenal dan lebih dekat lagi.
“Maafkan Mama karena tidak memberi tahumu sebelumnya, Sayang. Tapi, Mama melakukan ini demi kebaikan kalian.”
“Aku mengerti, Ma,” sahut Jen lemah, tak sanggup melawan.
“Bagaimana Angelo, Sayang? Apakah dia memperlakukanmu dengan baik?” tanya Mama penasaran sekaligus khawatir.
“Baik, Ma.” Jen berbohong.
“Sungguh? Jangan bohong sama Mama, ya, Jen. Kalau dia kasar, tidak sopan, atau menyakitimu, kasih tahu Mama. Biar Mama tegur dia,” pesan Mama penuh perhatian.
Inilah yang membuat Jen tidak tega melukai perasaan Mama. Perhatian, cinta kasih, dan kelemah-lembutan Mama membuat dunia Jen terasa lengkap. Ia tidak butuh yang lain. Ia hanya butuh Mama.
Tanpa permisi, air mata Jen kembali merebak. Perasaan sedih kembali melanda Jen setelah menerima perhatian dan kasih sayang dari Mama. Ia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa menahan isak tangisnya agar tidak meledak.
“Jennifer,” panggil Mama lembut, menyadari sikap diamnya. Jen menarik napas dalam-dalam, berusaha keras mengendalikan luapan emosi dalam dirinya.
“I-iya, Ma,” sahut Jen pelan.
“Mama tahu … kamu bohong sama Mama. Mama juga tahu, Angelo pasti tidak memperlakukanmu dengan baik.”
“Mama,” lirih Jen, tak mampu menahan derai air mata yang kembali membasahi pipi setelah mendengar ucapan Mama.
“Mama akan menegurnya nanti.”
“Jangan, Ma,” mohon Jen cepat sambil berusaha keras menahan isak tangis. Ia tidak ingin memperkeruh suasana dengan membiarkan Mama menegur Angelo.
“Tapi, Sayang, dia tidak boleh—”
“Aku masih bisa, Ma,” potong Jen cepat di tengah isak tangis yang tertahan, berusaha memperbaiki keadaan. “Aku … aku masih bisa mengatasinya, Ma. Mungkin, karena sudah berpisah lama … aku, aku hanya butuh waktu untuk beradaptasi.”
Selama beberapa detik lamanya, Mama terdiam. Jen tidak tahu apa yang Mama pikirkan saat ini. Jen hanya berharap agar Mama tidak menegur Angelo. Ia tidak mau pria itu mengira dirinya adalah seorang pengadu, yang tentu saja akan membuat Angelo semakin membencinya.
“Jennifer,” panggil Mama, lembut.
“Iya, Ma.”
“Mama tahu bagaimana sifat Angelo, dan Mama minta maaf atas apa pun yang sudah Angelo lakukan atau ucapkan sama kamu, ya, Sayang,” ucap Mama, memohon dengan penuh kerendahan hati.
“Mama.” Jen semakin sedih mendengar kerelaan Mama yang memohon maaf atas apa yang sudah Angelo perbuat.
“Tapi, maukah kamu bertahan dan menerima dia dengan segala sifat buruknya, Sayang?” mohon Mama lagi.
Ingin rasanya Jen menjawab ‘tidak’, tapi ia tahu kalau jawaban itu bisa melukai perasaan Mama. Sejenak, Jen memejam sembari mencoba memaafkan ucapan kasar Angelo yang sudah terpatri di ingatannya.
Tak ingin membuat Mama terlalu lama menunggu, Jen akhirnya menjawab selembut dan setenang yang dapat ia lakukan. “Mama selalu memberikan yang terbaik untukku, dan … aku yakin kalau Angelo adalah yang terbaik.”
“Terima kasih, Sayang. Mama senang sekali mendengarnya,” sahut Mama yang kini terdengar sedikit lebih ceria. Senyum lemah menghiasi wajah Jen. Setidaknya, kebahagiaan Mama adalah segala-galanya bagi Jen.
“Oh, Mama hampir saja lupa memberi tahumu,” ucap Mama ketika suasana mulai terasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya.
“Kenapa, Ma?”
“Besok kita makan siang bersama, ya, Sayang. Papa sudah memesan tempat di salah satu restoran dekat kantor Angelo.”
“Baik, Ma.”
“Jaga kesehatanmu, Jen. Kabari Mama kalau ada masalah, ya. Sampai ketemu besok, Sayang,” nasihat Mama penuh perhatian.
“Sampai ketemu besok, Ma,” sahut Jen lembut. “I love you, Ma.”
“I love you more, Sayang,” balas Mama tulus.
Dengan pundak terkulai lemah, Jen meletakkan ponsel kembali ke meja nakas. Sejenak, ia termenung sembari mengulang kembali setiap kejadian yang ia lalui sejak tiba di Jakarta hingga detik ini.
Jen tahu, ini adalah jalan terbaik meski ia tidak tahu apakah Angelo akan berubah suatu hari nanti. Namun, setidaknya … Jen akan tetap berusaha membahagiakan Mama dan Papa.
*****
BAB 4
Deru mobil terdengar jelas saat keluar dari halaman parkir. Jen tak tahu dan tak mau ambil pusing memikirkan mengapa Angelo tidak langsung pergi setelah pertengkaran mereka tadi. Namun tak dimungkiri, setelah mengetahui Angelo akhirnya berangkat ke kantor dan menjauh darinya—meski hanya beberapa jam saja—Jen merasakan sedikit kelegaan karena ia memiliki cukup waktu untuk memperbaiki suasana hati sembari merapikan barang-barang bawaannya.
Jen menghela napas panjang demi menekan perih kekecewaan yang mendiami ulu hatinya, sebelum akhirnya beranjak dari tempat tidur, lalu menarik koper besar berwarna merah yang diletakkan tak jauh dari pintu kamar. Setelah merebahkannya di lantai dekat tempat tidur, Jen membuka koper tersebut, lalu mengeluarkan sebuah kotak hitam berukuran kecil.
Sambil duduk bersila di lantai, Jen mengeluarkan selembar foto seorang pria berusia tiga puluhan dari kotak tersebut. Senyum ramah dan wajah penuh karisma itu tampak seperti sedang menatapnya saat ini.
Setelah memandangi foto itu sejenak, Jen mengeluarkan sebuah surat dari mendiang ibu kandungnya yang Mama Maira berikan pada Jen ketika berusia dua belas tahun—saat di mana ia diberi tahu tentang asal-usulnya. Dengan hati-hati, ia membuka amplop yang sudah mulai usang itu, kemudian membaca surat yang sudah rapuh dan lusuh karena terlalu sering dibaca.
‘Jangan cari ayahmu, Jennifer. Dia tidak berhak mengenalmu. Dia bukan Ayah yang baik. Dia meninggalkan Ibu saat tahu kalau Ibu mengandungmu. Ibu mohon, jangan cari dia!’
Pesan itu sudah terpatri dalam ingatannya. Setelah membaca, Jen kembali menatap foto pria yang sedari tadi masih ia pegang. Sejujurnya, ini adalah alasan lain dari kepulangan Jen ke Jakarta. Jen tahu, ia tidak boleh mencari ayah kandungnya. Namun, ia ingin sekali bertemu dan mengenal pria itu.
Beberapa tahun lalu, Jen sempat memberanikan diri mencari keberadaan Ayah di mesin pencari menggunakan nama yang tertera di balik foto, tapi secepat kilat ia menghentikan pencariannya. Ia tidak berani, atau lebih tepatnya ia belum siap mengetahui kebenarannya.
Namun, itu dulu. Sekarang, di usianya yang mau memasuki 25 tahun, Jen sudah siap dan bertekad ingin mengenal Ayah sebelum menikah dengan Angelo. Jen tahu, Mama dan mendiang Ibu pasti tidak menyukai keputusannya, tapi ia harus bertemu Ayah.
Semua hal nekat ini Jen lakukan bukan tanpa alasan. Selama ini, ia hanya tahu cerita tentang Ayah dari Mama Maira dan surat yang Ibu tulis. Ia tahu semua tentang keburukan dan perlakuan Ayah terhadap Ibu. Namun, entah mengapa ada yang mengganjal hati Jen setiap kali mengingat cerita-cerita itu.
Semakin bertambahnya usia dan kedewasaannya dalam berpikir, Jen menyadari bahwa setiap cerita pasti memiliki dua sisi, dua sudut pandang. Jadi, ia ingin tahu seperti apa cerita versi Ayah.
Dulu, ia selalu menyalahkan Ayah karena pergi meninggalkan Ibu. Kini, Jen tidak lagi menyalahkan Ibu dan Ayah atas nasib yang ia alami. Ia juga yakin bahwa kehamilan Ibu pasti terjadi atas dasar cinta. Jadi, tak adil rasanya kalau semua kesalahan ditujukan pada Ayah seorang.
“Maafkan aku, Ibu, tapi aku harus mencarinya. Aku harus tahu seperti apa cerita yang sebenarnya. Aku juga ingin mengenalnya,” ucap Jen sedih sambil memejam dan memeluk surat serta foto itu di dada.
Tak lama kemudian, Jen mengembalikan surat dan foto ke kotak, lalu menyimpannya di laci meja rias yang berada di sisi lain ruangan. Sambil menatap pantulan wajah di cermin, Jen berusaha meneguhkan kembali tekadnya—mencari keberadaan Ayah secara diam-diam.
Jen tidak ingin Mama dan Papa berpikir akan ada maksud lain dari keinginannya ini. Jen hanya ingin mengenal sang ayah, itu saja. Kalau pun ia berhasil bertemu dengan ayah kandungnya, hal itu tidak akan menyurutkan sedikit pun rasa cinta dan sayang Jen pada Mama Maira dan Papa Nico.
Sesaat kemudian, Jen berbalik menjauh dari meja rias, berniat mandi. Ia ingin menghapus rasa lelah di tubuhnya. Setelah itu, ia berencana membuat makan siangnya sendiri.
‘Kamu bebas melakukan apa pun di sini.’
Itulah yang Angelo ucapkan tadi, dan Jen berniat melakukan apa pun yang ia inginkan mulai saat ini. Ia juga akan mempertahankan pendiriannya untuk tetap melanjutkan perjodohan itu.
“Aku tidak peduli apakah dia akan membeciku atau bahkan marah besar padaku. Masih banyak hal penting lainnya yang bisa aku lakukan daripada harus meladeni si Alien egosi itu. Awas saja kalau dia berani bersikap kasar padaku lagi! Aku akan kasih tahu Mama,” gerutu Jen sembari mengeluarkan pakaian ganti dari koper.
Baru saja ia menutup koper, notifikasi pesan masuk membuat Jen bergegas meraih ponsel. Penasaran, ia segera mengusap layar ponsel, kemudian tersenyum gembira saat melihat nama si pengirim pesan.
‘Bagaimana penerbangannya?
Jangan lupa jaga kesehatan, ya.
Already miss you.’
Hati Jen berbunga-bunga membaca pesan dari Kenichi, pria yang memiliki hubungan dekat dengannya di Jepang. Sudah lama mereka menjalin hubungan baik, bahkan bisa dikatakan lebih dari sekadar teman meskipun kata cinta belum pernah terucap di antara mereka.
Jen menyukai Ken, tentu saja, tapi statusnya sebagai calon istri Angelo memaksa Jen untuk memendam perasaannya. Setidaknya, aku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta dan dicintai oleh seseorang, batin Jen gembira.
*****
Sambil berdiri menghadap jendela kantor yang menampilkan jalanan kota Tokyo yang ramai dan cukup padat di sore hari, perhatian Ken tertuju pada foto seorang wanita yang tersenyum hangat di layar ponsel. Seorang wanita berparas cantik yang selalu membuatnya terpesona. Seorang wanita yang memiliki senyum terindah, yang mampu mewarnai hari-harinya. Seorang wanita yang tak mampu ia miliki saat ini karena adanya sebuah perjodohan.
Sekali lagi, ia membuka percakapannya dengan Jen. Untuk yang kesekian kalinya, Ken membaca pesan itu seolah dirinya adalah anak kecil yang sedang belajar menghafal. Masalahnya, ia tidak perlu menghafal kalimat itu. Karena, setiap kata dalam pesan itu tersimpan erat dalam ingatannya.
‘I miss you, too.’
Tak mampu lagi menahan rindu, Ken terpaksa menghubungi Jen meski wanita itu memintanya untuk tidak menelepon. Hanya cukup menunggu sebanyak tiga nada sambung, suara riang yang begitu ia rindukan akhirnya langsung mengisi pendengarannya.
“Halo, Ken.”
Ken bisa membayangkan bagaimana raut gembira dan senyum lebar wanita itu setiap kali bertemu dengannya. Sambil menekan rasa rindu yang begitu menyesakkan dada, Ken langsung mengungkapkan perasaannya, “Kurasa aku akan menyusulmu sekarang, Jen.”
Memang, itulah yang ia rencakan semenjak Jen memutuskan kembali ke Jakarta. Bahkan, bukan hanya menyusul Jen, Ken juga berencana untuk membatalkan perjodohan tersebut, lalu membawa wanita itu kembali ke Tokyo agar bisa menikah dengannya.
“Untuk apa, Ken?” tanya Jen lembut seakan ucapan Ken hanya sekadar rengekan manja seorang anak kecil.
“Untuk menemuimu, Jen. Aku benar-benar merindukanmu,” ungkap Ken jujur sekaligus frustrasi. “Kupikir, aku bisa bertahan selama beberapa hari ke depan, tapi aku salah. Jangankan beberapa hari … aku rasa aku tidak akan sanggup melewati hari ini tanpa kehadiranmu, Jen.”
“Astaga, Ken. Kumohon, jangan begitu.” Jen terharu mendengar kejujuran Ken.
“Kenapa?” tanya Ken cepat sekaligus kecewa dengan larangan itu. Ken yakin, Jen tahu seperti apa perasaannya. Bahkan, mereka berdua sudah membicarakan masalah ini jauh sebelum Jen memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Terpaksa, Ken membiarkan Jen pergi dari sisinya dan membiarkan wanita yang ia cintai menikah dengan pria lain.
“Ini sudah keputusanku, Ken. Kita sudah sering membahasnya,” ujar Jen lembut namun tegas, seakan berusaha menyadarkan Ken bahwa sudah tak ada lagi peluang baginya untuk memiliki wanita itu.
Namun, Ken tidak akan menyerah. Ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan. “Aku tahu, Jen. Tapi … apa kamu sama sekali tidak menganggap perasaanku sedikit saja?”
“Perasaan apa, Ken?” tanya Jen, sedih.
“Aku mencin—”
“Stop, Ken,” potong Jen cepat, menegur Ken.
Ken mendengus kesal, lalu diam sejenak. Jen tidak tahu betapa Ken sangat merindukan wanita itu saat ini. Bahkan, ia hampir gila setiap kali membayangkan Jen berada dalam pelukan pria lain.
Berusaha mengusir pikiran menjijikkan itu dari kepala, Ken menggeleng kecil, kemudian mengembuskan napas kasar. Ken tahu, Jen memang sudah mengambil keputusan untuk tetap menjalani perjodohan itu. Namun, tetap saja ia tidak rela.
“Aku tidak ingin kehilanganmu, Jen,” ungkap Ken jujur.
Wanita itu tidak langsung merespons. Dengan penuh kesabaran, Ken menunggu dan menunggu hingga ingin rasanya ia memutuskan panggilan itu, memesan tiket, dan langsung terbang ke Jakarta untuk merebut Jen dari calon suami wanita itu—Angelo Neandro.
“Bisakah kita tidak membicarakan masalah ini, Ken?” mohon Jen lembut. Mendengar permintaan itu, Ken hanya bisa menghela napas sembari berusaha keras menenangkan gelora cemburu yang tengah membakar hatinya. Ingin rasanya Ken bersikap egois dan terus mengungkapkan perasaan serta kerinduannya, tapi mendengar Jen memohon seperti itu malah membuatnya merasa bersalah.
Ya, sebesar itulah rasa cinta Ken pada Jen. Budak cinta? Mungkin kalian benar, dan Ken tidak akan mengelak. Sejujurnya, ia bahkan rela melakukan apa saja demi membahagiakan wanita itu.
“Bagaimana kalau kamu menceritakan padaku apa yang terjadi di kantor hari ini? Apa semuanya lancar?” tanya Jen lembut, mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih ringan.
“Seperti biasa, Jen. Kamu tahu bagaimana Mama. Dia selalu saja mengawasiku,” jawab Ken sesabar mungkin demi mengikuti kemauan wanita itu. Akhirnya, Ken mulai menceritakan apa yang ia alami seharian ini. Mulai dari hal rutin yang ia kerjakan setiap hari, hingga ocehan Mama yang terus menuntutnya untuk melebarkan sayap perusahaan.
Namun, ada satu tuntutan keluarga yang selalu menghantui Ken. Tuntutan yang tak pernah ia ceritakan kepada Jen. Bukan karena Ken tidak percaya pada Jen, tapi karena ia tahu … tuntutan keluarganya akan menjauhkan wanita itu darinya.
Saat ini, Ken lebih memilih untuk mengesampingkan tuntutan keluarga demi mendapatkan Jen. Hanya Jen pusat pikiran dan hatinya saat ini. Dan, satu hal yang pasti, aku akan tetap ke Jakarta meskipun Jen melarangku!
*****
Tak terasa, hari sudah gelap.
Rapat tadi siang akhirnya berjalan lancar. Angelo sudah mempelajari penawaran harga dari beberapa calon kontraktor dan telah menentukan siapa yang akan menjalin kerja sama dengannya.
Kini, Angelo bersandar sejenak di kursi kerja yang sengaja diputar menghadap dinding kaca, mencoba menikmati keheningan yang biasanya mampu memberikan ketenangan pada jiwanya. Namun, entah mengapa pikirannya malah tertuju pada Jen dan percakapan mereka yang berakhir menyebalkan.
Tadi siang, Angelo memutuskan pergi begitu saja dari rumah dan bergegas langsung ke kantor. Sebisa mungkin, Angelo mengabaikan rasa bersalah yang merongrongnya, dan berharap agar Jen segera pergi setelah pertengkaran itu. Masalahnya, sekeras apa pun Angelo mengatakan kepada dirinya kalau ia tidak peduli pada Jen, entah mengapa perasaan aneh itu selalu saja mengusik ketenangannya setiap kali teringat akan air mata wanita itu.
Oke. Fine! Aku akui ucapanku mungkin sedikit kasar. Sedikit. Tapi, aku mengatakan yang sebenarnya. Mungkin … ya, mungkin pemilihan kata-kataku saja yang salah, batin Angelo, membela diri.
Sungguh, ia tidak menyukai perasaan ini—perasaan di mana ia merasa seperti manusia paling kejam di dunia. Menyadari bahwa berdiam diri di kantor dan mengutuki dirinya sendiri adalah hal yang sia-sia, akhirnya Angelo beranjak dari kursi kerja dan memutuskan untuk pulang.
Malam ini, Angelo bertekad untuk meminta maaf sekaligus ingin mengutarakan kembali penawaran pembatalan perjodohan itu. Hanya saja, kali ini ia akan berusaha untuk tidak menyinggung ataupun menyakiti perasaan Jen.
Ya, mungkin itu yang harus kulakukan. Bersikap sedikit lebih lembut dan mencoba membujuk Jen dengan benar. Siapa tahu Jen mau berubah pikiran, pikir Angelo seraya melangkah keluar dari ruang kerja.
*****
Jakarta dan macet. Tampaknya, kedua kata itu seperti sudah diciptakan untuk saling melengkapi, yang akhirnya berhasil membuat Angelo tiba di rumah pukul 20.15. Sambil membawa sebuket kecil bunga mawar dan sekotak cokelat mahal yang sengaja dibelinya demi meminta maaf, Angelo bergegas keluar dari mobil.
Ketika Angelo membuka pintu rumah, aroma lezat langsung menyapa indra penciumannya. Seketika, perutnya pun bergemuruh. Namun, ia berusaha untuk tetap fokus pada rencana yang sudah ia susun sepanjang perjalan pulang. Begitu fokusnya, Angelo tidak mendengar ucapan pamit sopir pribadinya setelah meletakkan tas kerja di meja ruang tamu.
Sambil merangkai setiap kalimat bujukan yang akan diucapkan, Angelo terus melangkah melewati ruang tamu, kemudian berbelok ke kiri dan kembali berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya belok ke kanan, ke ruangan yang cukup panjang dan tanpa sekat di mana terdapat area televisi, meja makan, serta dapur.
Sejenak, Angelo menatap Jen yang duduk di sofa panjang, terlihat begitu asyik menonton film di televisi sambil menikmati potongan buah mangga dalam mangkuk putih. Menyadari kehadiran Angelo, wanita itu pun menoleh. Pandangan Jen langsung tertuju pada buket bunga dan sekotak cokelat di tangan Angelo.
Seolah tak peduli dengan sikap bersahabat yang berusaha ia tunjukkan, Jen segera mengalihkan pandangan kembali ke TV. Angelo langsung mengernyit kesal. Jelas sekali kalau wanita itu tidak peduli dengan usaha Angelo untuk memperbaiki keadaan. Ia benar-benar tidak suka diperlakukan seperti ini.
Namun, secepat mungkin ia menekan perasaan kesalnya dan berusaha keras untuk tetap tenang. Akhirnya, Angelo melangkah menghampiri wanita itu, dan berhenti tepat di samping sofa.
“Aku sudah siapin makan malam. Kalau mau makan, kamu bisa ambil sendiri,” ucap Jen sedikit ketus tanpa menoleh sedikit pun.
Mencoba mengabaikan nada ketus itu, Angelo menyodorkan buket bunga dan cokelat ke arah Jen. “Ini untukmu.”
“Untuk apa?” tanya Jen singkat sebelum memasukkan sepotong mangga ke mulut. Pandangannya tetap lurus ke TV.
“Permintaan maafku.”
Jen seketika menoleh saat mendengar nada sinis Angelo. Mata yang menyipit penuh curiga itu seolah mengintimidasi Angelo.
“Minta maaf?” sindir Jen ketus seraya mengangkat sinis salah satu alisnya, kemudian mengalihkan pandangan kembali ke televisi. “Caramu minta maaf benar-benar unik. Lagi pula, aku tidak terlalu suka cokelat dan bunga. Aku lebih suka kembang gula dan boneka.”
Rahang Angelo mengetat, geram. Jawaban dan sikap Jen berhasil memercik amarah yang sedari tadi berusaha ia tahan. Kalau bukan demi membatalkan perjodohan itu, pasti sudah kubuang buket ini ke tempat sampah! batin Angelo seraya menggemeretakkan gigi. Masih mencoba tenang di ambang batas kesabarannya yang mulai menipis, Angelo menarik napas panjang beberapa kali.
“Noted. Lain kali, aku beli boneka dan kembang gula,” balas Angelo, berusaha keras terdengar lembut dan bersahabat meski kalimat itu keluar dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. “Tapi, kamu mau terima permintaan maafku, kan?”
“Aku sudah maafin kamu sebelum kamu minta maaf,” jawab Jen yang kini mulai terdengar sedikit lebih santai.
Sial! Lalu, untuk apa barang menjijikkan ini? batin Angelo kesal.
“Kamu sudah makan?” Angelo masih mencoba menunjukkan sikap bersahabat.
“Sudah.”
Cengkeraman Angelo pada buket bunga seketika mengetat saat menerima jawaban singkat yang diiringi sikap acuh tak acuh Jen. Kali ini, gelora amarah sudah mulai menjalari tubuhnya. Ia bahkan harus menahan sumpah serapah yang sudah siap dilontarkan.
Angelo tidak tahu berapa lama lagi ia mampu menahan emosi yang bergejolak dalam dirinya. Namun, ia masih ingin mencoba bersikap baik satu kali lagi. Setelah menarik napas panjang sebanyak tiga kali, ia mulai duduk di samping wanita itu.
Curiga, Jen mengerling sinis, kemudian menggeser posisi duduk agar menjauh darinya. Sebisa mungkin ia mengabaikan sikap bermusuhan yang Jen tunjukkan. Tujuannya kali ini bukanlah meladeni sikap Jen yang menyebalkan, tapi mengusahakan agar wanita itu mau membatalkan perjodohan mereka.
“Kamu mau menemaniku makan malam?” tanya Angelo seraya meletakkan buket bunga dan kotak cokelat di meja sofa.
“Aku tahu, kamu masih mau membahas tentang perjodohan itu, kan?” tebak Jen tanpa menatapnya sedikit pun.
Setelah potongan mangga terakhir lenyap dalam mulut, Jen meletakkan mangkuk di meja sofa, kemudian lanjut bicara, “Percuma, Angelo. Tidak ada yang dapat mengubah keputusanku, dan aku tidak akan pernah mengecewakan Mama.”
Mendengar penolakan Jen untuk yang kedua kali benar-benar berhasil membumihanguskan kesabaran Angelo. Refleks, ia menarik kuat lengan Jen hingga tubuh wanita itu menempel di dadanya. Tanpa pikir panjang, Angelo melingkarkan salah satu tangan di tubuh Jen, memenjara wanita itu dalam dekapan erat penuh amarah.
“Tatap aku saat bicara denganku!” tegur Angelo tegas. Kini, ia tak mampu lagi menahan luapan emosinya.
“Lepaskan aku!” bentak Jen kesal sembari mencoba melepaskan cengkeraman dan pelukan Angelo.
“Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu!” Angelo mempererat pelukan sembari menatap Jen dengan sorot penuh amarah. “Kamu harus janji dulu kalau kamu akan membatalkan perjodohan itu, baru aku akan melepaskanmu.”
Masih berusaha mendorong dada Angelo dengan satu tangan, Jen memuntahkan protes sarat amarah, “Kenapa bukan kamu saja yang bilang ke Mama? Kenapa harus aku?”
“Mama tidak akan mendengarkanku,” jawab Angelo, kesal.
“Mama juga tidak akan mendengarkanku.”
“Mama pasti mendengarkanmu!” paksa Angelo lagi.
Seketika, Jen berhenti mendorong dada Angelo. Kening wanita itu pun mengernyit bingung. “Kenapa?”
“Karena, Mama lebih sayang padamu!” ungkap Angelo murka seraya melepas pelukannya, kemudian mengentak kasar lengan Jen hingga terlepas dari cengkeramannya. Jen langsung memeluk dirinya sendiri sambil meringis kesakitan.
Selama beberapa saat, mereka terdiam, berkutat dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Jujur saja, Angelo tidak mengerti mengapa kalimat itu bisa terucap dari bibirnya, tapi memang itulah yang ia pikir dan rasakan selama ini.
Mama sangat menyayangi Jen, melebihi rasa sayang Mama padanya. Bahkan, ia berpikir kalau perjodohan ini dibuat supaya Jen bisa tetap berada dalam lingkaran keluarga Neandro karena Mama takut kehilangan Jen.
Namun, melihat raut bingung Jen, tampaknya wanita itu tidak menyadari perbedaan rasa sayang Mama pada mereka berdua. Kening Jen yang mengernyit bingung menegaskan penilaian Angelo.
Tiba-tiba, Jen beranjak dari sofa dan bergegas menjauh darinya. Tak ingin wanita itu pergi begitu saja di tengah percakapan mereka yang belum selesai, Angelo langsung bertanya, “Mau ke mana?”
“Aku tidak mau ada di dekatmu kalau kamu sedang marah,” jawab Jen kesal sambil melangkah menuju barisan anak tangga, suaranya sedikit gemetar. Apa dia akan menangis lagi?
Angelo segera beranjak dan bergegas menghampiri Jen yang terlihat seperti sedang lari darinya. Tanpa mengukur besarnya tenaga yang ia miliki, Angelo menarik pergelangan tangan Jen hingga tubuh wanita itu berbalik menghadapnya.
“Kenapa kamu selalu menarik tanganku, sih?” protes Jen sambil mengentak kasar cengkeraman Angelo hingga terlepas.
“Kenapa kamu selalu pergi setiap kali bicara denganku?” protes Angelo balik.
“Apa lagi yang mau dibicarakan? Kamu sudah tahu jawabanku, kan,” jawab Jen tegas diiringi tatapan penuh amarah.
“Tapi, aku belum selesai bicara,” balas Angelo kesal dengan nada sedikit lebih tinggi.
“Apa lagi, Angelo? Apa lagi yang mau kamu bicarakan?” tuntut Jen sembari memasang raut bingung. “Kamu tahu kalau aku tidak akan pernah membatalkan perjodohan ini. Aku juga tidak akan mau menyakiti, apalagi mengecewakan Mama. Jadi, apa lagi yang—”
Angelo langsung membungkam bibir Jen dengan ciuman yang dalam dan keras. Bahkan, ia menarik dan menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya.
Geram. Ya, ia sangat geram dengan kekerasan hati Jen, dan ia tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk membuat wanita itu tunduk padanya.
Ciuman. Hanya itu satu-satunya cara yang Angelo pikir dapat digunakan untuk membungkam setiap penolakan dan protes yang akan wanita itu ucapkan. Masalahnya, Angelo tak memperhitungkan getaran hebat dan sengatan kuat yang menyengat tubuhnya bak aliran listrik ketika bibirnya menyentuh bibir Jen.
Jantung Angelo berdebar cepat—sangat, hingga membuatnya ingin meledak. Bibir Jen yang terasa begitu hangat, lembut, dan manis disertai aroma mangga yang harum malah membuat Angelo enggan melepas ciumannya. Namun, Jen segera mendorong tubuh Angelo sekuat tenaga hingga tautan bibir mereka terlepas.
Sejenak, mereka terdiam dengan napas terengah-engah. Sementara itu, mata Angelo terus tertuju pada bibir Jen yang merekah menggoda. Sialnya—meski benci mengakui—ia ingin merasakan bibir itu lagi.
Gelombang gairah yang bercampur dengan amarah, membuat tubuh Angelo terasa begitu panas. Jantungnya yang masih berdebar sangat cepat, berhasil mengantar gelenyar baru nan asing yang membuat tubuhnya sedikit gemetar.
“Dasar, Alien gila!” maki Jen penuh kebencian seraya menonjok kuat pundak kiri Angelo. Kemudian, wanita itu bergegas berlari menaiki barisan anak tangga, meninggalkan Angelo yang terperangah menatap Jen yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya.
Alien? Dia memanggilku Alien?
*****
BAB 5
Sialan! maki Jen dalam hati setiap kali teringat akan ciuman semalam. Semenjak kejadian menyebalkan itu, entah sudah berapa kali ia mencuci mulut dengan sabun demi menghapus jejak bibir Angelo, tapi tetap saja tidak bisa. Begitu kesal dan marahnya akan ciuman tersebut, Jen sampai bermimpi buruk hingga terbangun dengan pening yang begitu menyiksa, yang membuatnya harus menelan dua butir paracetamol pagi ini.
It was the worst kiss ever! Jen membatin kesal. Masalahnya, itu adalah ciuman pertamanya. Seharusnya, ciuman pertama menjadi kenangan terindah bagi setiap wanita. Namun, dengan mudahnya Angelo merebut dan menghancurkan impian Jen akan indahnya ciuman pertama.
Memang, Jen tidak mengharapkan perlakuan lembut dan romantis layaknya sepasang kekasih yang hendak menikah karena cinta. Tapi, tidak ada salahnya kan kalau dia bersikap baik sedikit saja padaku? Toh, aku ini kan calon istrinya!
Menyandang status sebagai calon istri Angelo, membuat Jen selalu menjaga diri dengan baik. Jangankan berciuman, bermesraan dengan pria lain saja Jen tidak pernah. Bukan karena ia tidak bisa melakukan hal gila di luar sana dengan pria lain, tapi karena ia tahu kalau tubuhnya adalah milik Angelo.
Ya, Jen memang membenci Angelo—sangat! Namun, bukan berarti ia bisa semena-mena menjalani kehidupannya, yang tentu saja bisa mengecewakan Mama dan Papa. Jen adalah calon istri Angelo, dan tak ada yang dapat mengubah kenyataan itu.
Selama perjalanan menuju kantor, mereka tidak berbicara sama sekali, bahkan kata maaf tak terucap sedikit pun dari bibir Angelo, dan hal itu membuat Jen semakin kesal. Jen terus mengerutkan kening. Rasa kesal yang membumbung tinggi, membuat peningnya tak kunjung menghilang. Keberadaan Angelo di dekatnya malah membuat jantung Jen berdebar lebih cepat dari yang seharusnya. Parahnya lagi, indra penciumannya pagi ini tiba-tiba berubah menjadi setajam seekor anjing pengintai. Begitu tajamnya hingga ia bisa mencium aroma segar dan maskulin Angelo dengan sangat jelas.
Masih menunjukkan sikap bermusuhan, Jen duduk kaku bak patung sambil menoleh keluar jendela. Sementara, Angelo sibuk membalas pesan di ponsel. Ingin rasanya ia segera menjauh, atau setidaknya berada di tempat yang berbeda dengan pria itu. Ia benar-benar sedang tidak ingin melihat wajah pria itu ataupun menghirup aroma maskulin yang entah mengapa malah membuatnya memikirkan hal-hal seksi nan menggoda.
Tidak! Angelo tidak seksi. Dia bahkan tidak menggoda sama sekali. Dia Alien menyebalkan … manusia paling jelek dan paling buruk sedunia! gerutu Jen sambil terus memandang barisan mobil yang kini berhenti saat lampu merah menyala.
Tiba-tiba, ponsel Jen bergetar. Ia langsung mengeluarkan ponsel dari tas kecil, lalu melihat pesan Ken yang menyapanya pagi ini.
‘Good morning, Jen.
Bagaimana pagimu?’
Senyum kecil langsung menghiasi wajah Jen. Setidaknya aku punya seseorang yang perhatian dan baik padaku, batinnya semringah, merasakan secercah kebahagiaan yang perlahan-lahan mulai menghangatkan tubuh.
‘Good morning, Ken.
Aku lagi di mobil.
Otw ke kantor Angelo.
Macet.
Kamu lagi apa?’
‘Lagi kangen kamu’
Wajah Jen merona seketika saat membaca pesan Ken.
‘Jangan gombal, Ken.
Serius, ah.’
‘Aku serius, Jen.
Aku kangen sama kamu.
Aku telepon ya …’
‘Jangan, Ken!’
‘Kenapa?’
‘Ada Angelo’
‘Hah, baiklah.
Kamu sudah sarapan?’
‘Sudah.
Kamu?’
‘Sudah.
Nanti aku telepon kamu, ya ’
‘Nanti ya, Ken.
Nanti aku kabari.
Ini hari pertamaku, jadi mungkin akan banyak pekerjaan.’
‘Baiklah.’
‘Maafkan aku, Ken.’
‘Tidak apa-apa, Jen.
Aku hanya merindukanmu’
‘Aku tahu, Ken.
Maafkan aku.’
‘It’s Oke.
Kabari aku secepatnya, ya.’
‘Oke.’
‘I miss you, Jen’
‘Miss you, too’
Setelah mengakhiri percakapan, Jen memasukkan ponsel ke tas. Pikirannya pun tertuju pada Ken dan hubungan yang mereka jalani saat ini.
Jen tidak berpacaran dengan Ken. Namun, perhatian, kasih sayang, dan kehangatan yang Ken berikan layaknya seorang kekasih yang sangat mencintai pasangannya.
Ken sudah mengetahui status Jen, tapi hal itu sama sekali tidak membuat Ken menjauh. Jen menyayangi Ken, tentu saja. Bahkan, jauh di lubuh hatinya, ia mencintai Ken.
Bagaimana tidak? Ken selalu ada layaknya seorang kesatria yang siap membahagiakan Jen kapan pun. Ken juga tidak pernah memaksa Jen untuk membatalkan perjodohan, karena pria itu tahu kalau Jen sudah bertekad menikah dengan Angelo.
Meski sesekali Ken sulit menahan luapan perasaannya, pada akhirnya pria itu selalu meminta maaf dan berusaha menghargai keputusannya. Hubungan mereka hanya sebatas teman. Ya, hanya teman. Teman, tapi mesra.
Setelah berhasil melewati kemacetan kota Jakarta, akhirnya mobil berhenti di area pintu masuk sebuah gedung bertingkat yang menjulang tinggi. Jen beranjak keluar dari mobil, begitu juga dengan Angelo dari pintu yang lain.
Sopir pribadi Angelo segera membawa mobil ke basement, sementara Jen langsung mengikuti langkah Angelo ke meja penerima tamu. Masih dengan sikap kaku dan dingin, Angelo memberi perintah singkat kepada wanita di balik meja resepsionis. Kemudian, pria itu pergi begitu saja, meninggalkan Jen yang masih menunggu proses penukaran KTP dengan kartu tamu.
Jen mengerling kesal melihat sikap dingin Angelo. Seharusnya, ia yang marah dan bersikap acuh tak acuh karena pria itu sudah mencuri ciuman pertamanya. Namun, Angelo bersikap seolah Jen-lah yang salah.
Setelah menerima kartu tamu, ia bergegas menghampiri Angelo yang berjalan menuju barisan pintu lift. Ketika berdiri tepat di samping Angelo, Jen menjepit kartu di kantung kemeja biru muda yang ia kenakan.
Sambil menunggu pintu lift terbuka, Jen melirik kesal pada Angelo. Tak menggubris keberadaan Jen, pria itu tetap memasang raut datar dan sikap dingin. Sebisa mungkin Jen mencoba bersabar, meskipun ia ingin sekali menjambak rambut Angelo dan mencakar wajahnya.
Tak lama kemudian, pintu lift bergerak terbuka. Semua bergegas masuk lift, tapi sikap Angelo yang langsung menjaga jarak darinya setelah menekan tombol berhasil membuat Jen mengernyit kesal. Apa maksudnya menjauh seperti itu? Memangnya aku ini virus mematikan sampai dia harus menjaga jarak? gerutu Jen sambil menggeleng kecil.
Lift bergerak cepat membawa mereka ke lantai dua puluh. Ketika pintu terbuka di lantai yang dituju, Angelo melesat cepat keluar dari lift. Berusaha menyamai kecepatan, Jen mengikuti langkah Angelo menuju pintu kaca yang terbuka otomatis. Dua wanita cantik berseragam biru langit yang duduk di belakang meja resepsionis, segera berdiri menyambut kedatangan Angelo.
Tanpa membalas senyum hangat yang mengukir wajah kedua wanita itu, Angelo langsung berbelok menuju sebuah pintu kayu nan kokoh yang membawa mereka ke area kerja para karyawan. Ruangan yang cukup luas itu berisi beberapa barisan kubikel meja kerja yang ditata sedemikian rupa. Pot-pot tanaman hias di letakkan di sudut ruangan demi memberikan kesan segar di tengah suhu ruang yang dingin akibat pendingin udara.
Melihat kedatangan Angelo, sebagian besar karyawan—yang sebelumnya tampak sedang bersantai—langsung berpura-pura sibuk bekerja. Jen mengedikkan alis, mencoba memahami sikap kaku para karyawan.
Hmm … Angelo pasti bos yang galak. Lihat saja, mereka semua tidak berani menatapnya, tebak Jen sambil terus mengikuti langkah Angelo menuju pintu kaca yang menjadi pemisah antara ruang karyawan dengan lorong yang tidak terlalu panjang. Terdapat dua pasang pintu di sisi kanan dan kiri, serta sebuah pintu di ujung lorong yang kini mereka tuju.
Angelo membuka pintu tersebut, lalu bergegas memasuki ruangan berbentuk persegi dan tidak terlalu besar. Seorang wanita berusia pertengahan empat puluhan dengan rambut digulung rapi seperti para pramugari, segera beranjak dari kursi kerja, menyambut kedatangan mereka dengan senyum hangat nan tulus.
“Ibu Ria, ini Jennifer.” Angelo memperkenalkan mereka. Senyum hangat keibuan langsung menghiasi wajah manis Ibu Ria. Dengan sikap hangat bersahabat, Jen langsung berjabatan tangan dengan wanita itu, dan ia bisa merasakan kalau Ibu Ria menerima kehadirannya dengan tangan terbuka
“Mulai sekarang, dia asisten pribadi saya, ya, Bu,” lanjut Angelo datar dan tanpa ekspresi sedikit pun. “Minta tolong supaya office boy menyiapkan meja dan kursi. Lalu, minta ke bagian General Affair untuk menyiapkan komputer dan peralatan kantor lainnya supaya bisa digunakan sekarang.”
“Baik, Pak Neandro,” sahut Ibu Ria yang kemudian pamit dan meninggalkan mereka berdua.
Ketika Ibu Ria menghilang di balik pintu, Jen berdiri diam di tempat sambil menunggu arahan selanjutnya dari Angelo terkait pekerjaannya saat ini. Namun, pria itu malah berbalik dan berjalan menuju pintu lain yang berada tak jauh dari meja Ibu Ria.
“Angelo,” panggil Jen cepat, menghentikan Angelo yang baru saja menekan tuas pintu. Pria itu berbalik, lalu melemparkan tatapan tajam padanya.
“Pak Neandro,” tegur Angelo tegas dan penuh penekanan sembari melangkah mendekat. Melihat sikap tegas sarat ancaman itu, Jen refleks bergerak mundur hingga kakinya menyentuh dinding dan menghentikan langkahnya.
Kini, Angelo berada tepat di hadapan Jen. Sorot tajam Angelo mengunci Jen dengan kilat penuh ancaman. Aura intimidasi yang begitu kuat pun berhasil membuat jantung Jen berdebar cepat, ketakutan. Bukan hanya itu yang membuat Jen merasa terancam, postur tubuh Angelo yang tinggi dan tegap membuatnya spontan menengadah.
“Ingat posisimu, Iper!” ucap Angelo tipis sarat ancaman. “Selama di kantor, aku adalah atasanmu.”
Jen menatap iris cokelat almon yang mulai terlihat menggelap. Jantung Jen berdebar cepat, dan semakin menggila terlebih ketika wajah Angelo mulai bergerak mendekat. Jen tidak mampu melawan. Tubuhnya pun perlahan-lahan melemah akibat aura dominasi Angelo yang begitu kuat.
Tanpa diperintah, perhatian Jen tertuju pada bibir Angelo, dan seketika itu pula ia kembali teringat akan kejadian semalam. Napas Jen langsung sesak dan pikirannya mulai membayangkan hal-hal liar.
Oh, Tuhan! Apakah dia akan menciumku lagi? seru Jen panik sembari menggigit bibir. Seolah mampu membaca pikirannya, Angelo menyunggingkan senyum tipis, dingin namun menggoda.
“Berhenti berpikiran kotor, Iper! Ini kantor, bukan di rumah,” bisik Angelo tipis sebelum menjauh, lalu berbalik meninggalkan Jen begitu saja. Masih kesulitan mengendalikan gelombang aneh yang melanda dirinya, Jen hanya bisa terdiam menatap kepergian Angelo yang akhirnya menghilang di balik pintu.
*****
“Kamu baik-baik saja, Jen?” tanya Ibu Ria saat menangkap raut murung Jen.
“Aku baik-baik saja, Bu.” Jen tersenyum ringan demi menghapus raut khawatir di wajah wanita itu. “Kurasa aku butuh kopi.”
“Ke pantri saja. Di sana ada kopi,” usul Ibu Ria hangat. “Pintunya ada di sebelah kanan koridor.”
Jen menanggapi usul tersebut dengan senyum lemah. Ia ingin sekali beranjak dari kursi kerjanya saat ini dan menghirup aroma kopi yang begitu menenangkan. Namun, entah mengapa Jen enggan meninggalkan ruang kerjanya.
“Tenang saja, Jen. Dia nggak bakalan tahu. Lagi pula, dia kan lagi kunjungan ke lokasi proyek.”
“Baik, Bu,” sahut Jen setelah mengembuskan napas panjang.
Akhirnya, ia pun beranjak dari kursi kerja, lalu melangkah ke luar ruangan. Jen berjalan menuju ruang pantri dan membuka pintunya. Tak ada seorang pun di sana, yang mana merupakan waktu yang tepat baginya untuk menenangkan diri.
Tanpa berlama-lama, Jen segera mencari keberadaan kopi serta cangkir. Setelah selesai menyeduh kopi, Jen membawa cangkir dan duduk di salah satu kursi yang melingkari meja makan. Sambil memutar-mutar sendok kecil dalam cangkir, Jen mengingat setiap ucapan dan perlakuan Angelo padanya.
Pasrah, Jen menghela napasnya yang terasa berat. Ia tidak tahu berapa lama ia bisa bertahan dengan sikap Angelo sebelum akhirnya ia mengadu pada Mama. Memang, Jen bisa saja menelepon Mama sekarang dan menceritakan semua perlakuan buruk Angelo, tapi ia tidak ingin membuat Mama sedih.
Ia memang sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia mau bertahan dan bersedia menerima segala keburukan Angelo. Namun, janji itu bak bumerang panas yang membuat Jen semakin sulit untuk mengeluh.
Semenjak Jen tiba di Jakarta, sikap Angelo sama sekali tidak menunjukkan adanya perubahan yang positif. Tidak hanya di rumah, di kantor pun Angelo selalu menunjukkan bahwa pria itu tidak pernah menganggap keberadaannya, dan hal itu membuat Jen semakin serba salah.
Seperti yang terjadi tadi sebelum pria itu pergi untuk kunjungan proyek. Bersikap layaknya tunangan sekaligus asisten yang baik, Jen mengingatkan Angelo tentang rencana makan siang dengan Mama dan Papa. Namun, pria itu malah melesat pergi begitu saja tanpa memedulikan ucapannya.
Jen menghirup dalam-dalam aroma kopi sebelum menyeruput perlahan. Sambil mengembuskan napas panjang sarat keputusasaan, ia meletakkan cangkir di meja, lalu menatap warna hitam pekat cairan kopi.
Dalam keheningan ruangan, Jen kembali memikirkan apa yang terbaik bagi dirinya, Angelo, terlebih lagi untuk Mama dan Papa. Tawaran Angelo untuk membatalkan perjodohan memang sangat menggoda, tapi bukan itu yang ia inginkan.
Bagi Jen, ia tidak peduli apakah Angelo akan mencintainya suatu saat nanti atau tidak. Mungkin, cinta adalah hal yang mustahil bisa tumbuh di antara mereka. Mungkin, ia juga tidak bisa mendapatkan kehidupan rumah tangga yang penuh cinta seperti Mama dan Papa. Namun, ia berharap bisa memperbaiki hubungannya dengan Angelo.
Tidak, Jen tidak mengharapkan cinta. Ia hanya ingin Angelo menerimanya sebagai teman hidup dan sahabat, sehingga mereka dapat menjalani pernikahan dengan baik, walaupun tanpa cinta.
Jen kembali menarik napas dalam-dalam, lalu menyeruput kopi sebelum memutuskan untuk membawa cangkirnya ke ruang kerja. Ketika membuka pintu ruang kerja, Jen melihat ada dua wanita muda sedang bercengkerama dengan Ibu Ria. Baru saja ia ingin menyapa, kedua wanita itu bergegas keluar ruangan seraya melemparkan lirikan sinis padanya.
Tak ingin menambah pikiran dengan hal yang tidak penting, Jen mengabaikan lirikan sinis tersebut, dan duduk di kursi kerjanya. Ibu Ria beranjak dari kursi, mengambil dua map tebal dari lemari berkas yang ada di belakang meja kerja wanita itu.
“Pak Neandro tadi telepon, Jen. Dia minta supaya kamu menginput semua data-data ini ke dalam format excel. Setelah itu, kamu kirim ke e-mail-nya, ya,” jelas Ibu Ria tenang sembari meletakkan dua map tebal itu di meja Jen.
“Baik, Bu.” Jen mengangguk, kemudian mengambil salah satu map, meletakkannya di atas pangkuan, dan membukanya. Seketika, ia terbelalak melihat barisan kata-kata yang belum pernah ia lihat sama sekali.
“Oh, Ibu hampir saja lupa.” Baru dua langkah menjauh dari meja Jen, Ibu Ria berbalik menatapnya. “Pak Neandro minta supaya kamu menyiapkan ruangan untuk rapat jam tiga nanti. Setelah itu, siapkan juga berkas-berkas perjanjian dengan kontraktor yang akan berakhir beberapa bulan ke depan, lalu letakkan di mejanya.”
“Kapan dia minta ini dikirim, Bu?” tanya Jen setenang mungkin meski keningnya mengernyit setelah membalik beberapa lembar kertas demi memahami apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
“Dua jam dari sekarang. Kamu bisa, kan?” Ibu Ria menatap penuh harap. Senyum hangat menghiasi wajah wanita itu, tapi Jen bisa melihat secercah keraguan di sana.
“Bisa, Bu,” jawab Jen menyanggupi, meski sempat terkejut mendengar betapa sedikit waktu yang diberikan Angelo padanya untuk mengerjakan tumpukan data ini.
Ibu Ria mengembuskan napas lega. “Syukurlah. Soalnya, Pak Neandro tidak suka kalau kita tidak bisa mengerjakan perintahnya tepat waktu. Dia bisa ngamuk kesetanan.”
Dia bukan kesetanan. Dia itu alien aneh! geram Jen kesal.
*****
