Crazy Of You – BAB 7 – BAB 9

BAB 7

Wade duduk di salah satu sudut meja bar yang cukup ramai di siang hari. Setidaknya, hiruk pikuk pengunjung mampu mengalihkan pikiran Wade dari kejadian memuakkan di ruang tidur Becca. 

Sudah dua gelas wiski dan tiga botol bir ia habiskan sejak pertama kali tiba di bar. Semua itu ia lakukan demi mengusir rasa kesal dan menjernihkan pikiran agar dapat menciptakan baris demi baris lirik lagu yang ditugaskan Nico dua minggu lalu. Sayangnya, sudah berjam-jam Wade duduk berkutat dengan kata demi kata, tapi ia masih belum bisa menciptakan satu lirik pun.

Kepala Wade tertunduk tegang menatap notes bersampul biru tua, sementara pulpen dalam genggaman mencoba menuangkan kata demi kata dalam benaknya. Untuk yang ke sekian kali, Wade mencoret kesal kata-kata yang baru saja ia tulis, kemudian membalik halaman notes dan kembali menulis beberapa kata baru yang tersirat di benak. 

Namun, kata-kata itu hanya bertahan beberapa detik saja di sana karena Wade kembali mencoret dan menggantinya dengan yang lain. Entah sudah berapa kali ia melakukan tindakan konyol tersebut hingga beberapa halaman terbuang sia-sia. Akhirnya, ia pun menyerah, lalu mengentak kesal pulpen ke atas notes yang telah dipenuhi coretan.

Damn it! Dia pasti marah besar kalau tahu aku belum menciptakan satu lirik pun. Sial! Sial! Sial!” gumam Wade putus asa seraya mengacak-acak frustrasi rambutnya. “Oh, God! What should I do?”

Wade menghela pasrah, lalu mengusap kasar wajah dengan telapak tangan, benar-benar menyerah. Tak mampu lagi berpikir, ia menutup notes disertai perasaan putus asa, lalu memasukkannya ke saku jaket kulit. Setelah meneguk habis sisa bir dalam botol, Wade beranjak meninggalkan bar dan bergegas kembali ke kantornya yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Sekarang adalah hari Sabtu, tapi terasa seperti hari Senin yang sibuk dan penuh kepenatan. Biasanya, ia menghabiskan waktu bersama Simon demi melepas penat. Namun kali ini, Wade memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan hingga hari berubah menjadi malam.

Bulan bersinar cukup terang ketika Wade keluar dari kantor. Ia segera kembali ke kondominium yang berlokasi di Clovelly, New South Wales. Sebuah bangunan bertingkat di pinggir pantai yang menghadap langsung ke Gordons Bay.

Sesampainya di kondominium, Wade menghabiskan waktu dengan berendam sambil mendengarkan alunan lagu Lovesong milik The Cure yang terasa begitu menenangkan. Lagu ini begitu bersejarah baginya dan Tania. 

Sejenak, ia mengenang kembali momen indah bersama Tania. Saat itu, mereka sedang makan malam romantis di pinggir pantai. Ia menyewa grup musik akustik, sementara hidangan mewah tersaji di meja. Tepat ketika matahari terbenam, Wade mulai menyanyikan lagu tersebut diiringi para pemusik. Di akhir nyanyian, Wade berlutut di hadapan Tania dan melamar wanita itu.

Masih segar di ingatan Wade akan raut bahagia dan air mata yang menggenangi mata indah Tania ketika menerima lamarannya. Semenjak itulah, Tania sangat menyukai lagu Lovesong dan sering melantunkannya setiap kali merindukan Wade.

Selama beberapa saat, Wade memejam, berusaha rileks dan membiarkan air hangat menenangkan setiap saraf di tubuhnya. Lambat laun, pikiran Wade mulai tenang dan lama kelamaan ia pun terlelap.

Tiba-tiba, Tania datang ke dalam mimpi singkat Wade. Wanita itu tersenyum hangat seperti biasa dan menatapnya dengan sorot penuh cinta yang selalu membuat Wade tak berdaya. Begitu merindukan Tania, ia terus memandangi wajah cantik itu. 

Perlahan-lahan, Tania bergerak mendekat, lalu membelai lembut pipi Wade. Ia begitu merindukan belaian hangat itu, dan tak terasa air mata mulai menggenang. Tak ada yang tahu betapa besar harapan Wade agar Tania kembali dalam pelukannya. Sayangnya, itu hanyalah harapan yang tak akan pernah terwujud. Ia pun hanya bisa berduka dan terbiasa merasakan perih yang menyiksa batin setiap kali merindukan Tania. 

I miss you, My love,” ungkap Wade sedikit tercekat sambil menangkup tangan Tania, lalu mengecup telapak tangan wanita itu dan merasakan kehangatan yang begitu ia rindukan.

I love you so much, My love,” ucap Wade tulus seraya mengunci mata Tania yang menatapnya penuh cinta. Namun, wanita itu sama sekali tidak membalas ucapannya. Tak mampu membendung kerinduan, Wade langsung melingkarkan pelukan di pinggang Tania dan mendekapnya erat.

“Kenapa kamu meninggalkanku begitu cepat, My love? Aku belum siap. Aku masih ingin bersamamu dan menghabiskan sisa hidupku denganmu. Aku ingin memiliki anak darimu dan membentuk keluarga yang selalu kita impikan. Kenapa, My love? Kenapa?” protes Wade sedih sambil mempererat pelukan, tapi Tania hanya tersenyum lemah, sebelum mengecup lembut pipi Wade, yang malah membuat dadanya terasa semakin sesak dan perih.

I need you, My love. I really need you now. I can’t live without you, Tania. Don’t you know that? So, please, My love … please, come back to me,” pinta Wade sambil meneteskan air mata kerinduan yang selalu mengalir setiap kali bertemu Tania di dalam mimpi.

“Katakan padaku, Tania. Apakah kamu mencintaiku sama seperti aku mencintaimu, My love?” tanya Wade sedih. Itulah pertanyaan yang selalu Wade berikan setiap kali memimpikan wanita itu, dan perih di ulu hati pun terasa semakin menyiksa.

I love you, My love. More than you do,” aku Tania yang selalu menjawab pertanyaan itu. Setidaknya, mendengar suara Tania mampu meredam sedikit kerinduannya. Air mata Wade terus mengalir, berusaha menghapus rasa perih yang merajai dada saat ini. Namun, kehangatan yang melekat di tubuhnya perlahan-lahan mulai menghilang dan diganti dengan kehampaan yang begitu menyiksa. 

“Jagalah dia untukku, My love. Jaga dia untukku,” pesan Tania sebelum menghilang bak kabut putih yang tertiup angin. 

Seketika, Wade terbangun. Air matanya masih mengalir, dan tak ada yang dapat ia lakukan selain menangis terisak-isak seraya meremas rambut frustrasi. Ia begitu merindukan Tania hingga rasanya ia ingin menyusul kepergian wanita itu.

Janji itu. Janji yang pernah Wade ucapkan di hadapan Tania-lah yang membuatnya mampu bertahan hingga saat ini. Wade tidak ingin mengecewakan Tania. Meskipun satu tahun terakhir ini entah mengapa terasa makin berat, tapi ia terus berusaha keras menepati janjinya pada Tania. Sialnya, pesan itu selalu menghampiri Wade setiap kali ia mulai putus asa menghadapi tingkah laku Becca. Sebuah pesan terakhir yang terus menyadarkan Wade bahwa ia masih memiliki tanggung jawab yang harus dijalani.

Masih dalam keadaan bersedih, Wade keluar dari bathtub, lalu membuka penutup air dan membilas tubuhnya. Setelah mandi dan berpakaian santai, Wade menyiapkan makan malam berupa seporsi beef steak dan mashed potato. Sebisa mungkin ia menikmati makan malamnya yang sunyi tanpa kehadiran seorang wanita. 

Wade akui, ia memang kesepian. Namun, lambat laun ia mulai terbiasa, bahkan tak berusaha mengusir kehampaan yang semakin lama makin melekat di kehidupannya. Setelah selesai dan membersihkan peralatan makan, Wade menggeser pintu balkon ke samping, lalu berdiri sejenak di belakang pagar balkon sambil menatap langit gelap penuh bintang dengan sebotol bir di tangan. 

Angin yang bertiup lembut dan pemandangan Gordons Bay yang indah selalu menemani malam-malamnya yang sepi. Disesapnya minuman itu, sementara pikiran Wade masih tertuju pada Tania. Dua bulan lagi adalah peringatan ulang tahun pernikahan mereka. Kenyataan itu seolah menegaskan sudah cukup lama ia membiarkan hatinya tak diisi oleh kehangatan seorang wanita sejak kepergian Tania. 

Wade tahu. Wade sadar. Memang, sudah terlalu lama ia menutup pintu hatinya. Tujuh tahun telah berlalu, tapi ia belum bisa menerima kepergian Tania. Ia bahkan selalu membandingkan setiap wanita yang berusaha masuk ke dalam hatinya.

Tentu saja, Wade pernah mencoba membuka hati dan sebisa mungkin menerima kehadiran wanita lain demi menggantikan posisi Tania. Namun, tidak semudah itu. Tak ada yang dapat menandingi, apalagi menggantikan posisi Tania di hatinya. Tania begitu sempurna, jujur, dan tulus. Bukan hanya kecantikan dan kemolekan tubuh Tania yang membuat Wade jatuh cinta, tapi juga kebesaran hatinya.

Tania tahu latar belakang Wade yang berasal dari kalangan bawah. Pria yang tak memiliki kekayaan berlimpah, yang hanya mengandalkan ketampanan demi segepok uang. Namun, Tania mampu menunjukkan betapa berharganya Wade dalam kehidupan wanita itu. Tania mau menerima Wade apa adanya, bahkan tak memedulikan latar belakang serta masa lalunya. Tidak ada wanita yang seperti Tania. Tidak akan pernah ada!

Di mata Wade, semua wanita yang mencoba mendekati hanyalah sekumpulan orang berhati busuk yang cuma menginginkan kejantanannya. Mereka selalu menatap dengan sorot penuh berahi, bukan tatapan penuh cinta yang selalu Tania tunjukan padanya. Sudah jelas bagi Wade, ini adalah keputusan yang tepat. Menutup hati selamanya untuk wanita lain dan menikmati tubuh mereka demi kepuasan nafsu semata.

Tiba-tiba, dering ponsel mengusik ketenangan Wade yang tengah mengenang momen indah bersama Tania. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. Nama Simon tertera di layar ponsel. 

“Ya,” jawab Wade singkat dan datar.

Hei! Where the hell are you? Apa kau tidak membaca pesanku?” tanya Simon dengan teriakan yang memekakkan telinga. Terdengar hiruk pikuk percakapan orang diiringi dentuman musik di belakang pria itu, yang membuat Wade menjauhkan ponsel sesaat dari telinga dan mengernyit.

“Pesan?” tanya Wade balik ketika menempelkan kembali ponsel ke telinga, “ada apa memangnya? Di mana kau sekarang?”

Datang saja ke sini. Kami menunggumu.”

Panggilan terputus begitu saja tanpa memberikan kesempatan baginya untuk menolak. Sedikit penasaran, ia membuka pesan masuk dari Simon. Foto Simon dengan beberapa wanita cantik dalam rangkulan, terpampang jelas di layar ponsel. Sebaris alamat pun tertera di sana disertai kalimat yang membuat Wade menggeleng dan tersenyum lemah. 

Banyak wanita cantik di sini!

Tubuh dan pikiran Wade memang lelah, tapi ajakan itu cukup menggoda. Ia mengembuskan napas panjang seraya memasukkan ponsel ke saku celana. Akhirnya, ia meneguk bir hingga tandas, lalu berbalik dan melangkah masuk ke kamar tidur untuk berganti pakaian.

*****

Wade keluar dari mobil dan menguncinya, sementara tangan yang lain menekan nomor ponsel Simon. Sudah tiga kali ia mencoba menghubungi pria itu, tapi tampaknya Simon terlalu sibuk sampai tidak mampu menjawab panggilannya. Ingin rasanya Wade kembali masuk ke mobil dan pulang, tapi ia tidak mau mengecewakan sahabatnya. 

Menyerah akan usahanya menghubungi Simon, Wade tak punya pilihan lain selain menghadiri undangan tersebut. Lagi pula, ia butuh sedikit hiburan malam ini demi menghalau rasa hampa di hati yang selalu muncul setiap kali ia sendirian di kondominium.

Merlion Bar. Salah satu bar yang terkenal akan struktur bangunan bergaya Victoria. Pilar-pilar kokoh yang berbaris membentuk lorong indah dan megah, serta pencahayaan kuning hangat yang berasal dari tiap lampu yang menyinari tempat itu, memberikan kesan nyaman dan seksi, yang membuat siapa pun betah berlama-lama di sana.

Wade melangkah masuk, lalu menghampiri salah satu meja bar megah dan panjang di sisi kanannya. Dentuman musik mengiringi langkah Wade, sementara ia mengamati sekeliling seraya mencari keberadaan Simon. 

Malam ini, suasana bar sangat ramai. Tampak para pengunjung asyik bercengkerama satu sama lain sambil ditemani segelas minuman di tangan masing-masing. Lantai dansa terlihat mulai dipenuhi pengunjung yang ingin menikmati alunan musik sambil menari. Sofa-sofa yang tertata rapi di tengah-tengah ruangan dan kursi-kursi yang mengelilingi puluhan meja bundar pun tampak sudah terisi penuh.

Ia tidak tahu alasan di balik kedatangan Simon ke tempat ini, tapi setidaknya Wade tahu kalau sahabatnya itu sedang bersenang-senang dengan beberapa wanita, dan sepertinya ia membutuhkan hal itu juga. Sesampainya di depan meja bar, Wade memesan minuman yang langsung disiapkan oleh bartender dengan cekatan dan lihai.

Thank you,” ucap Wade saat bartender meletakkan minuman di hadapannya. Ia mengangkat gelas, lalu berbalik membelakangi meja bar. Sembari menyesap minuman, mata Wade terus mencari keberadaan Simon. Cukup lama matanya beradu dengan puluhan wajah orang yang hadir di tempat itu, hingga akhirnya ia menemukan Simon di salah satu sofa hitam panjang yang jaraknya cukup jauh dari meja bar. 

Wade segera menghampiri Simon. Terlihat beberapa wanita cantik berpakaian seksi duduk di kanan dan kiri pria itu. Senyum miring tersungging di wajah Wade ketika melihat seorang wanita bergerak liar penuh gairah di pangkuan Simon, dan tampak jelas betapa pria itu sangat menikmati pujaan yang si wanita berikan.

“Simon.”

Perhatian pria itu seketika teralihkan saat mendengar panggilan Wade. Dalam sekejap, raut gembira dan senyum lebar menghiasi wajah Simon saat menyadari kehadirannya.

“Hei!! Akhirnya, kau datang juga,” seru Simon yang langsung berdiri menyambut Wade hingga wanita yang duduk di pangkuan pun refleks menyingkir dan sedikit terhuyung karena mabuk.

“Ada apa sampai kau memintaku datang ke sini?” 

Wade menjabat uluran tangan Simon, lalu menyesap minumannya. Tak langsung menjawab, Simon malah memberi isyarat kepada para wanita agar memberikan ruang baginya untuk duduk. Sementara itu, Simon menarik wanita yang terlihat cukup mabuk itu agar kembali duduk di pangkuan.

“Alexa sedang merayakan keberhasilan Dave. Anak itu mengundangku kemari untuk ikut merayakan kesuksesannya,” jelas Simon sedikit berteriak di telinga Wade. Entakkan keras menghantam dada Wade saat mendengar nama Alexa. Tubuhnya pun menegang karena kaget sekaligus antusias.

“Alexa? Dave? Apa maksudmu?” Wade berusaha menanggapi sesantai mungkin meski sesungguhnya ia ingin sekali bangkit dari sofa dan bergegas mencari keberadaan wanita itu.

“Dave adalah sepupuku. Ternyata, dia adalah salah satu penyanyi orbitan Alexa yang sedang naik daun sekarang. Anak itu yang mengundangku, dan tentu saja aku tidak mau kau melewatkan acara ini. Banyak wanita cantik yang hadir malam ini. Dan asal kau tahu, mereka begitu tergila-gila padamu!” 

Simon menyeringai antusias, tapi Wade tak memedulikan dua kalimat terakhir yang sahabatnya itu ucapkan. Ia sudah cukup mengetahui alasan di balik undangan pria itu. Berusaha sopan, Wade tersenyum ringan demi menanggapi antusias Simon, sementara matanya mulai bergerak bak radar, mencari keberadaan Alexa.

“Aku tidak tahu kalau kau punya sepupu,” ujar Wade sambil lalu, berusaha menanggapi penjelasan itu sesantai mungkin meski pikirannya tertuju pada hal lain.

“Sudah, sudah. Aku mengajakmu ke sini bukan untuk mencari tahu tentang silsilah keluargaku. Bersenang-senanglah, Kawan. Wanita di sebelahmu tampaknya sudah siap,” bisik Simon di akhir kalimat, sebelum kembali sibuk dengan wanita di pangkuannya.

“Apa Alexa masih ada di sini?” tanya Wade ringan, mencoba memastikan bahwa kedatangannya tidaklah sia-sia. 

“Tentu saja.” Simon langsung mengalihkan perhatian dari si wanita ketika mendengar pertanyaan Wade. “Kenapa?”

“Di mana dia?” Wade berusaha tak menggubris raut curiga serta tatapan menyelidik yang Simon tujukan padanya.

“Mungkin sedang bersama Dave. Kenapa kau tiba-tiba men—“

Pertanyaan menyelidik yang hendak Simon lontarkan langsung terhenti saat wanita, yang sedari tadi berada di pangkuan, tiba-tiba menarik wajah pria itu dan melumat rakus bibirnya. Tidak mau memberikan kesempatan bagi Simon untuk bertanya lebih banyak, Wade segera menandaskan minumannya, lalu beranjak seraya meletakkan gelas di meja. Ia harus menemui Alexa. Ini adalah saat yang tepat untuk melaksanakan ide cemerlang itu dan ia tidak ingin membuang-buang kesempatan.

“Kau mau ke mana?” tanya Simon cepat ketika melepaskan tautan bibir dari serbuan liar wanita itu. Raut curiga kembali tampak di wajah Simon meski pria itu cukup sulit mengalihkan perhatian dari si wanita yang jelas sekali sudah tak mampu menahan gairah lebih lama lagi. Wade pun berpikir bahwa kecurigaan itu akan menghilang dalam hitungan detik.

“Ada yang ingin kubicarakan dengannya. Terima kasih sudah mengundangku, Simon,” jawab Wade santai, lalu bergegas menjauh dari beberapa wanita yang terlihat kecewa dengan kepergiannya. 

Jantung Wade berdebar cepat, antusias. Sementara, matanya bergerak liar dan tak sabaran mencari keberadaan Alexa. Wade mengetahui tujuan utamanya mencari Alexa, tapi ia tidak munafik. Jika pertemuan ini dapat memberikan kesempatan baginya untuk merasakan kembali kehangatan yang membuatnya tidak bisa tidur tenang selama seminggu ini, maka Wade akan menyambut dengan tangan terbuka dan kejantanan yang selalu siap sedia. 

Sambil melangkah melewati beberapa pengunjung bar yang lalu lalang, Wade mencoba menyusun kata-kata yang tepat sebagai kalimat pembuka. Namun, setelah berada jauh dari Simon, ia malah menggeram kesal karena belum berhasil menemukan Alexa. Akhirnya, Wade berhenti sejenak di dekat meja bar, lalu menghela frustrasi tanpa berhenti melayangkan pandangan. Tentu saja, mencari seseorang di tempat seramai ini bukanlah hal mudah.

Tiba-tiba, matanya tak sengaja tertuju pada salah satu sudut ruangan. Ia melihat rambut merah kecokelatan yang bergerak indah ketika wanita itu berbicara dengan beberapa pria. Napas Wade tercekat seolah jantungnya melompat tinggi hingga hampir keluar dari tubuhnya. Secepat mungkin Wade mengendalikan diri, begitu juga tangannya yang gatal ingin menarik Alexa dari kerumunan pria yang menatap wanita itu dengan sorot liar penuh nafsu. 

Wade kembali berjalan tanpa melepaskan pandangan dari Alexa yang sedang tertawa ringan menanggapi gurauan salah satu pria. Ia melangkah semakin dekat. Mata Wade mengunci Alexa yang tampil cantik dan memesona dalam balutan gaun malam seksi berwarna hitam yang melekat sempurna membentuk tiap lekuk tubuh indahnya. Tanpa perlu bersusah payah, ia dapat mengingat setiap lekuk tubuh Alexa.

Hanya tinggal beberapa langkah lagi Wade dapat menggapai Alexa. Namun, kening Wade seketika mengerut kesal mendapati wanita itu menggandeng mesra lengan seorang pria muda nan tampan. Seorang pria yang Wade yakini mampu membuat setiap wanita jatuh cinta. Tanpa perlu bertanya, Wade yakin kalau pria itu adalah Dave. 

Dadanya panas, darahnya meletup-letup mendidih melihat kedekatan itu. Dengan pengendalian diri yang cukup baik, Wade melangkah mantap dan mengangkat wajah, menandakan superioritasnya. Ia memang bukan kekasih Alexa, tapi sesuatu dalam dirinya sudah bertekad akan membawa wanita itu berada jauh dari jangkauan para pria.

Holla, Alexa,” sapa Wade ringan sambil berusaha menekan gelora panas yang hampir memenuhi sekujur tubuh. Kedua tangan yang terkepal erat di samping tubuh, menandakan betapa keras usaha Wade agar tidak menarik dan memeluk wanita itu. 

Demi menutupi gelora cemburu yang makin menjadi-jadi, Wade memasukkan salah satu tangan ke saku celana, sementara yang lain dibiarkan tetap di samping tubuh. Alexa menoleh cukup cepat, bahkan Wade menangkap keterkejutan di mata indah yang terbelalak melihat kehadirannya. 

“Wade?” Suara Alexa terdengar sedikit tercekat karena kaget. Namun, hanya dalam hitungan detik, wanita itu berhasil mengendalikan diri. Raut terkejut Alexa pun seketika berubah tenang, bahkan terkesan datar. Mata yang sebelumnya terbelalak, kali ini menatap Wade dengan sorot tersinis yang pernah ia terima dari seorang wanita.

Beberapa pria yang mengitari Alexa segera menoleh ke arah Wade. Berusaha menunjukkan dominasinya, Wade melemparkan tatapan sekilas kepada mereka. Senyum yang menghiasi wajah Wade pun menyiratkan ketidaksukaannya akan keberadaan para pria itu.

Ia tak tahu mengapa dirinya bereaksi seperti itu, tapi setidaknya mereka mengerti arti tatapan dan senyumannya. Akhirnya, para pria itu pergi satu per satu. Namun, pria yang berada di sisi Alexa masih berdiri tegap, bahkan menatap Wade sambil tersenyum ramah. Tangan Alexa juga masih menggandeng mesra lengan pria itu. Ah, sial! Kenapa aku harus merasa sekesal ini?

“Hai! Selamat atas keberhasilanmu, ya,” ucap Wade setulus yang dapat ia curahkan di tengah gelora panas yang membakar dada. Tanpa malu sedikit pun, ia menyunggingkan senyum hangat penuh makna. Sementara, matanya memuja Alexa yang tampil cantik, meskipun saat ini wanita itu berada di tangan pria lain.

“Dave, ini Wade. Wade, ini Dave.” Alexa memperkenalkan mereka, tapi tidak menanggapi ucapan selamat Wade. Suara wanita itu terdengar sedikit bergetar, entah karena gugup dengan kehadirannya atau mungkin teringat akan percintaan kilat mereka yang liar dan panas. 

Dengan sikap hangat dan bersahabat, pria muda berusia dua puluhan itu langsung menjulurkan tangan ke arah Wade. Tanpa ragu, ia menyambut dengan jabatan kuat dan mantap.

“Dave McKenzie.” Pria itu memperkenalkan diri.

“Wade Maverick.” Ia bangga menyebut namanya sendiri, kemudian melepaskan jabatan tangan itu.

“Aku tahu siapa kau, Wade. Kau adalah idolaku, bahkan aku yang meminta Simon untuk mengundangmu ke sini. Kau tahu? Tadinya, dia sempat menolak karena sepertinya dia ingin menikmati pujaan dari para wanita itu untuk dirinya sendiri. Tapi, aku benar-benar senang kau bisa hadir malam ini, Wade,” ungkap Dave begitu bersemangat dan hangat.

Wade menangkap sorot penuh kekaguman Dave padanya. Menanggapi keterangan tersebut, Wade menoleh ke belakang dan menemukan Simon yang dengan senang hati menerima perhatian dari para wanita yang tergila-gila padanya. Dasar, Bajingan sialan!

“Kalau begitu, selamat juga atas kesuksesanmu,” puji Wade disertai senyum lebar palsu yang berusaha keras ia tunjukkan. Matanya bahkan menatap Dave sekilas demi kesopanan.

“Terima kasih,” balas Dave masih dengan senyum hangat.

Wade mengembalikan perhatian pada Alexa, dan tak sengaja memergoki wanita itu diam-diam menggigit bibir. Rasa menggelitik di dada seakan memaksa Wade untuk segera mengusir Dave dari sisi Alexa agar ia bisa melumat bibir merah merekah nan menggoda itu.

By the way, boleh aku berbicara sebentar dengan Alexa? Ada proyek penting yang ingin kubicarakan dengannya.” Nada bicara Wade berubah jadi sedikit lebih serius demi mengakhiri basa-basi.

“Oh, tentu saja,” jawab Dave ringan, lalu pergi meninggalkan mereka berdua setelah mengecup mesra pipi Alexa. Alis Wade mengedik spontan, tidak menyukai kemesraan yang ditunjukkan di depan matanya. Gelora panas pun semakin membakar tubuh Wade ketika mengetahui betapa intens Alexa mengunci pergerakan pria itu. Beruntung, Dave langsung dikerumuni para penggemar yang terlihat begitu tergila-gila pada pria itu, sehingga Wade berinisiatif untuk segera mengalihkan perhatian Alexa.

“Bisa kita bicara sebentar, Alexa?” tanya Wade tenang yang langsung mengalihkan perhatian wanita itu dari Dave. Alexa melirik tajam dan melipat kedua tangan di depan dada, tanda siap menghadapi segala tipu muslihat yang akan Wade berikan.

“Proyek penting? Really, Wade?” Sorot tajam serta raut datar Alexa bukanlah respons yang Wade harapkan. Salah satu alis yang terukir sempurna itu pun terangkat naik, menegaskan ketidakpercayaan Alexa padanya. Namun, sikap dingin sarat penolakan itu sama sekali tidak mengusik Wade.

I really need you, Alexa, dan kurasa kamu pasti senang dengan apa yang akan kutawarkan nanti,” jawab Wade lancar, berusaha terlihat serius.

Need me? Are you serious, Wade?” tanya Alexa ulang, kali ini sambil mengerutkan kening, curiga.

Oh yeah, I really mean it, Alexa.” Senyum miring sarat makna terselubung pun menghiasi wajah Wade.

*****

BAB 8

“Apa sebenarnya yang ingin kamu tawarkan padaku?”

Alexa berusaha tak menggubris ucapan bermakna ganda yang Wade lontarkan sebelumnya. Keberadaan Wade yang cukup dekat membuat Alexa sedikit gelisah. Bukannya karena tidak menyukai pria itu, tapi karena sensasi aneh mulai menjalari tubuhnya, yang entah mengapa malah membangkitkan kembali kilasan-kilasan liar akan seks panas mereka.

Tak memedulikan sikap dingin yang ia tunjukkan, Wade malah mengangkat salah satu tangan dan membelai lengan Alexa yang terbuka bebas. Dengan sorot menantang, ia menatap Wade lekat-lekat dan menangkap perubahan nyata di iris hijau terang yang mulai menggelap karena gairah. Jantung Alexa melonjak kegirangan merespons luapan gairah yang terang-terangan Wade tunjukkan. Namun, sebisa mungkin Alexa menyembunyikan perasaannya.

Masih mempertahankan sikap dingin andalannya, Alexa mengalihkan pandangan sejenak dari mata Wade, lalu mengunci belaian lembut sarat godaan di lengannya. Hanya berselang beberapa detik saja, ia kembali menatap Wade dengan sorot menantang dan senyum miring sinis. Kemudian, ia mencengkeram pergelangan pria itu, menghentikan belaian yang membuat darahnya berdesir cepat, lalu menjauhkan tangan Wade darinya, kemudian mundur selangkah demi menjaga jarak tanpa melepaskan tautan mata mereka. Tak menyukai jarak yang tercipta di antara mereka, secepat kilat Wade melingkarkan salah satu tangan di pinggang Alexa, lalu menarik cukup kuat hingga tubuhnya tersentak. 

“Jangan berpura-pura seolah kamu tidak menyukai sentuhanku, Babe,” ujar Wade tipis sarat godaan, tampak jelas tak peduli akan penolakan yang Alexa tunjukkan.

“Aku tidak berpura-pura.” 

Alexa berkelit setenang dan sedingin mungkin. Tak percaya, senyum nakal Wade semakin lebar dan kilatan gairah di mata pria itu berubah menjadi gelora yang cukup besar untuk menggoda serta menghipnotis Alexa. 

Sebisa mungkin Alexa menahan tubuhnya agar tidak terlalu menempel pada Wade, tapi gagal. Karena, pria itu sengaja mempererat pelukan dan memenjara Alexa dengan lingkaran posesif yang membuat napasnya tercekat. Wajah mereka pun begitu dekat sehingga embusan hangat Wade terasa begitu menggoda ketika menyapu bibirnya. Setidaknya, ia menjaga agar payudaranya tidak menyentuh dada Wade.

“Aku bisa mengingatkan kembali bagaimana kamu begitu menyukai setiap sentuhanku, kalau itu yang kamu inginkan, Alexa,” goda Wade parau. Rahang pria itu mengeras ketika menatap bibir Alexa, dan ia bisa menebak isi pikiran Wade saat ini.

Refleks, Alexa pun menatap bibir Wade yang begitu menggoda pertahanan dirinya. Dengan susah payah, ia menolak godaan untuk memagut dan mengulum bibir itu. Alexa tidak ingin mengulangi kesalahan. Ia tidak boleh berhubungan seks lagi dengan Wade karena pria itu adalah sahabat Nico. 

Cukup sekali. Ya, cukup satu kali. Satu kali hubungan seks yang menakjubkan, batin Alexa seraya mengalihkan pandangan dari bibir pria itu dan kembali menatap mata Wade yang sedari tadi memerhatikannya.

“Wade, lepaskan aku,” pinta Alexa tipis sembari mendorong dada pria itu, berusaha memutus jalinan panas yang tercipta di antara mereka berdua. Sekali lagi, usahanya gagal. Sepertinya, Wade tak akan melepaskan pelukan sampai Alexa menyerah.

Really, Alexa? Seingatku, malam itu kamu memelukku begitu erat dan memintaku untuk terus memuaskanmu, Babe. Don’t you remember?” goda Wade, tak menyerah menyerang pertahanan diri Alexa. Dengan berani, pria itu mulai mendekatkan wajah, berniat menciumnya.

Back to business, Wade,” putus Alexa seraya menekan jari telunjuk di bibir pria itu, menahan pergerakan dan mencegah hal liar kembali menimpa mereka berdua. Kali ini, Wade menegakkan kepala hingga wajah pria itu cukup jauh dari bibirnya. Namun, tak sedikit pun api gairah di mata Wade mereda.

“Bagaimana kalau kita keluar dari sini dan mencari tempat yang lebih tenang?” usul Wade parau sambil terus mengunci mata Alexa lekat-lekat. Curiga, Alexa menyipitkan mata dan menelengkan kepala.

“Apa kita benar-benar akan membicarakan tentang pekerjaan, atau itu hanyalah alasan untuk membawaku ke tempat tidur?” tanya Alexa sinis, masih berusaha menahan payudaranya agar tidak menyentuh dada Wade. Namun, ketika matanya kembali menatap bibir Wade, pikiran Alexa langsung berimajinasi liar membayangkan kenikmatan yang bibir itu ciptakan ketika menyentuh kulit dan menjelajahi setiap lekuk tubuhnya.

Refleks, Alexa menggigit bibir, berusaha menahan gelombang gairah yang mulai mengendalikan pikiran. Damn it, Alexa! Dia itu sahabat Nico. Wake up, Alexa! Apa yang kau pikirkan?? Wake up!! tegur suara kecil dalam kepala.

“Niat utamaku memang ingin menawarkan kerja sama padamu. Tapi ….” Wade berhenti sejenak ketika menatap bibir Alexa. “Aku tidak menolak kalau kamu menginginkan sesuatu yang lebih dari itu, dan … kurasa tempat tidur adalah ide bagus.”

Tak berniat menyambut godaan yang begitu mengundang, Alexa akhirnya mengerahkan seluruh kekuatan yang ia miliki, lalu mendorong dada Wade sekuat mungkin. Akhirnya, ia pun terlepas dari pelukan itu.

“Kurasa aku lebih tertarik untuk membicarakan proyek itu daripada harus berakhir di tempat tidur bersamamu,” tukas Alexa cepat, lalu bergegas menjauh dari Wade. 

“Kamu lebih memilih pekerjaan daripada aku? Kenapa?” protes Wade bernada geli sambil mengikuti Alexa yang terus melangkah melewati beberapa kerumunan orang yang sedang bercengkerama.

“Pekerjaan lebih menantang daripada pria. Satu hal lagi, karena kamu adalah sahabat Nico,” jawab Alexa cepat, lalu membalas ramah senyuman beberapa tamu yang ditujukan padanya.

“Hanya karena itu?” Wade tak percaya.

“Yup.” 

“Jangan bercanda. Seingatku, kamu begitu menikmati waktu yang kita lalui bersama. Apakah malam itu kamu tidak ingat kalau aku adalah sahabat Nico, Alexa?” papar Wade terkandung keluhan seraya bergegas menyamakan langkah dan berjalan di samping Alexa.

Maybe.” Alexa menjawab cepat, berusaha acuh tak acuh dengan pertanyaan itu. Wade tidak melanjutkan percakapan, tapi pria itu meletakkan tangan di pinggul Alexa tanpa permisi, menuntunnya terus melangkah menuju pintu keluar bar. 

Sentuhan itu terasa intim. Kacaunya, jantung Alexa kembali melonjak kegirangan merespons kehangatan yang menembus lapisan gaun tipis yang ia kenakan. Dalam diam, mereka terus berjalan berdampingan sampai akhirnya berada di luar bar. 

Setelah berada cukup jauh, mereka berhenti di antara dua pilar raksasa yang menjulang tinggi menopang bangunan kokoh itu. Wade menjauhkan tangan dari pinggul Alexa, yang seketika menimbulkan sensasi dingin nan menyebalkan di sana. Pria itu mulai bergerak menuju salah satu pilar yang berada tak jauh dari Alexa, lalu bersandar seraya memasukkan salah satu tangan ke saku celana, sementara mata itu menatapnya serius. Alexa hanya bisa diam, menantikan setiap manuver cerdas sarat godaan yang akan Wade tunjukkan.

Jujur, baru kali ini Alexa menerima sorot setajam itu dari Wade, drummer D’Aphrodite yang terkenal tidak pernah serius dan selalu santai. Sejenak, Alexa mengamati penampilan Wade yang nyatanya mampu menyita sebagian besar konsentrasinya. 

Wajah bersih tanpa janggut dan kumis, memamerkan rahang tegas Wade yang membuat pria itu terlihat maskulin dan liar. Rambut yang tersisir rapi ke belakang layaknya bos gangster, mempermudah Alexa menikmati paras tampan Wade yang memancarkan aura seksi nan menggoda. Mata hijau terang yang memancarkan gelora gairah, dengan mudah menyulut sisi liar Alexa hingga ia butuh mengerahkan seluruh pertahanan yang ia miliki agar tidak berlari masuk ke pelukan pria itu. Sementara, bibir yang saat ini terkatup rapat malah terlihat sangat menggoda untuk dicium.

Alexa segera mengalihkan pandangan dari bibir Wade ke kemeja biru lengan panjang yang digulung hingga ke siku, memperlihatkan barisan tato indah yang menghiasi kedua lengan pria itu. Dua kancing kemeja yang sengaja dibiarkan terbuka, menampilkan sebagian tato yang menghiasi dada bidang Wade. Rasanya, Alexa ingin menarik lepas setiap kancing kemeja itu agar dapat merasakan kembali kehangatan yang terpancar saat tubuh mereka saling menempel.

Secepat mungkin Alexa mengalihkan perhatian ke celana jeans biru dongker yang pria itu kenakan. Seketika, matanya terpaku pada lekukan selangkangan Wade yang membuat napas Alexa terhenti se per sekian detik. Sekali lagi, ia susah payah mengalihkan matanya dari sesuatu yang begitu menggoda keteguhan hati. 

Hebatnya, Wade sama sekali tidak menunjukkan reaksi berlebih. Pria itu hanya berdiri tenang dan terkendali. Berbeda jauh dengan Alexa yang susah payah mengusir gelenyar panas di sekujur tubuhnya.

Tak ingin menunjukkan betapa terguncang seluruh pertahanan dirinya akibat ketampanan Wade, Alexa menghela napas panjang, lalu mengedip sebanyak dua kali, berusaha mengendalikan matanya yang menikmati Wade bak hidangan terlezat yang pernah ia jumpai. Ia pun melipat kedua tangan di depan dada, memasang raut serius, dan menatap tajam Wade.

“Baiklah. Kerja sama apa yang ingin kamu tawarkan padaku?” tanya Alexa langsung ke pokok pembicaraan. Nada bicara yang datar dan tenang terkendali, menunjukkan profesionalitas tinggi Alexa setiap kali berhadapan dengan dunia pekerjaan. Sungguh, Alexa bangga pada dirinya sendiri karena berhasil menekan gairahnya dalam sekejap.

Alexa berharap percakapan ini hanya berlangsung singkat agar ia bisa segera menjauh dari Wade. Meski saat ini ia berhasil mengendalikan gelora gairah itu, tapi Alexa tidak mau mencobai dirinya sendiri. Ia tahu betapa kuat percikan gairah di antara mereka berdua. Percikan gairah yang membuat Alexa sulit untuk berpikir jernih, bahkan butuh lebih dari dua kali kedipan dan tiga kali tarikan napas panjang untuk membuatnya tetap waras. Itulah mengapa ia lebih baik menjaga jarak.

Ia sama sekali tidak menyangka kalau Wade akan datang ke tempat ini, bahkan tidak mengharapkannya sama sekali. Seks kilat seminggu yang lalu menyadarkan Alexa kalau mereka berdua sama-sama memiliki gairah yang kuat, liar, dan besar. Alexa bisa membayangkan betapa kecewanya Nico jika tahu ia menjalin hubungan dengan Wade. Ia tak mau hal itu sampai terjadi. Jadi, ia berusaha sebisa mungkin menolak segala modus terselubung Wade.

Aku ingin merasakannya lagi, tentu saja. Aku tidak munafik, bahkan aku bisa mengingat dengan jelas bagaimana rasanya ketika Wade memenuhiku. Tapi, aku tidak bisa menginginkan sesuatu yang terlarang seperti Wade. Tidak boleh! tegas Alexa dalam hati.

Mata Wade menguncinya, seakan mencoba mempermainkan pertahanan Alexa. Namun, ia bersikeras memegang teguh pendiriannya. Alexa sadar, ia tak mungkin hanya bersenang-senang dengan Wade seperti yang ia lakukan dengan pria lain. Karena, Wade mampu membuatnya menggila, dan Alexa yakin, kegilaan itu akan menenggelamkan mereka berdua lebih dalam lagi.

Pappy memang menuntut Alexa agar mau kembali menerima dan merasakan cinta, tapi bukan berarti ia harus mencobanya dengan Wade. Ia sama sekali tidak memiliki perasaan khusus pada pria itu, apalagi cinta. Gairah? Iya. Cinta? Tentu saja, tidak. 

Status Wade yang merupakan sahabat Nico menjadi alasan utama mengapa Alexa tidak berani menjalin hubungan spesial dengan pria itu. Gairah mereka memang sama-sama besar dan luar biasa liar. Bahkan, hanya dengan bertatapan saja Alexa tahu kalau Wade menginginkannya. Tapi, tidak! Tidak boleh, Alexa!

“Aku ingin Dave menjadi pemeran utama di salah satu film yang akan mulai syuting tiga minggu dari sekarang,” jawab Wade serius meski tatapan itu masih terus mengamati Alexa dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Alexa mendengus geli, kemudian berkata, “Tiga minggu? Hah! Kurasa kamu sedang mabuk. Candaanmu benar-benar tidak lucu, Wade.”

“Tidak, aku tidak mabuk, Babe,” ujar Wade seraya beranjak dari sisi pilar, melangkah mendekat, dan berhenti dua langkah di depannya. 

Alexa tidak berusaha beranjak atau menjaga jarak. Dengan tenang, ia menyikapi keberadaan Wade yang memancarkan aura dominasi kuat. Ia juga tidak terintimidasi sama sekali dengan tubuh Wade yang tinggi dan lebih besar darinya, bahkan ia menatap iris hijau terang itu tanpa rasa gugup atau takut sedikit pun meski Wade mengunci tatapannya lekat-lekat. 

“Asal kamu tahu, aku tidak pernah bercanda jika membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan perusahaanku,” lanjut Wade datar seraya tersenyum miring.

“Aku juga,” sahut Alexa dingin sambil terus mengunci mata Wade, tak gentar menghadapi sikap serius bercampur gairah liar yang berusaha pria itu tunjukkan padanya. “Aku tidak pernah main-main jika membahas perusahaan ataupun penyanyiku.”

“Jadi, kamu setuju bekerja sama denganku?” Wade begitu percaya diri.

Sudah lebih dari lima produser film berusaha mengajakku kerja sama. Apa yang membuatmu spesial sampai aku harus bekerja sama denganmu?” tantang Alexa seraya menyunggingkan senyum licik dan mengangkat salah satu alis matanya yang terukir sempurna. Jantungnya berdebar antusias menanggapi tantangan pekerjaan baru yang mungkin akan ia hadapi di kemudian hari, yang juga berpotensi besar membuat perusahaannya semakin maju dan terkenal.

“Spesial? Kalau kukatakan aku adalah sahabat Nico, apakah itu dapat mempermudah jalanku?” ujar Wade santai dan cukup percaya diri. 

Refleks, Alexa mendengus remeh seraya menyunggingkan senyum miring, menertawakan kepercayaan diri pria itu. Wade benar-benar salah jika mengira Alexa akan segan menolak tawaran kerja sama itu hanya karena kekerabatan dekat yang sudah terjalin lama dengan kakaknya, Nico. Salah besar!

“Kamu tahu? Koneksi, apalagi kekerabatan dekat bukanlah salah satu faktor yang membuatku berhasil seperti sekarang, Wade,” jelas Alexa tenang, tapi tetap memancarkan sikap siap bertarung. 

Wade mengedikkan alis mata, terkejut mendengar jawaban Alexa. Melihat reaksi itu, Alexa kembali tersenyum tipis, bangga pada dirinya sendiri karena berhasil menunjukkan kalau ia tidak semudah itu dibujuk.

“Film ini bisa kupastikan akan laku di pasaran, Alexa. Filmnya tentang perjalanan cinta penuh perjuangan yang mampu menginspirasi dan menguras emosi para penonton,” jelas Wade penuh tekad setelah terdiam sejenak untuk berpikir. Tampak jelas betapa pria itu berusaha keras menarik minat Alexa.

“Hmm, drama percintaan. Kurasa sudah banyak film roman picisan di luar sana. Selain yang kamu sebutkan sebelumnya, apa lagi yang membedakan film ini dari yang lain?”

“Lawan main Dave adalah salah satu aktris ternama yang sedang naik daun. Film ini juga sudah dinantikan oleh para penggemar karena diangkat dari salah satu novel best seller yang juga merupakan kisah nyata si penulis. Jalan ceritanya tidak mudah ditebak, juga sangat menyentuh. Bisa kupastikan Dave dapat menggali kemampuannya lebih dalam lagi di film ini. 

“Satu lagi keuntungan yang bisa kuberikan padamu. Timku akan memberi pelatihan penuh pada Dave dan mempersiapkan semuanya dalam waktu kurang-lebih seminggu ini. Tentu saja, si lawan main juga akan bergabung di beberapa sesi untuk membangun chemistry di antara mereka.

“Bayangkan, Alexa! Bayangkan jika Dave berhasil memerankan perannya di film ini. Popularitasnya akan semakin meningkat, bahkan memberikan nilai lebih baginya. Dave juga dapat membuktikan kepada semua orang, terutama penggemarnya kalau dia bukan hanya ahli dalam menyanyi, tapi juga mampu berakting dengan baik.” 

Wade bersemangat memaparkan nilai lebih dari proyek tersebut. Alexa serius mendengarkan penjelasan sambil terus menimbang setiap keuntungan yang akan ia peroleh.

“Hanya itu?” Alexa memasang raut kurang tertarik, meskipun sebenarnya ia cukup tergoda menerima tawaran itu. Namun, sesuatu yang liar dalam dirinya ingin melihat seberapa keras Wade berusaha meyakinkannya agar mau menjalin kerja sama. 

“Aku bisa membayar tiga kali lipat dari harga tertinggi yang pernah ditawarkan padamu,” tukas Wade, tegas dan cepat. Alexa malah tertawa sinis menanggapi tawaran itu.

“Kamu kira kamu bisa menyogokku, Wade?” 

Alexa tersenyum angkuh, masih berusaha mempermainkan pria itu. Wade melangkah mendekat. Refleks, kaki Alexa melangkah mundur hingga punggungnya menyentuh tembok pilar. Sorot tajam sarat gairah yang saat ini menguncinya membuat napas Alexa tercekat. Raut angkuh dan tawa sinisnya pun hilang dalam sekejap ketika menangkap aura dominasi sarat ancaman yang menguar kuat dari tubuh Wade.

Tak ingin terlihat lemah, Alexa spontan mengangkat tangan dan meletakkannya di dada Wade, menahan agar pria itu tidak terlalu dekat. Seakan ingin menunjukkan siapa yang mendominasi, Wade meletakkan kedua tangan di samping tubuh Alexa, memenjaranya agar tidak kabur.

“Apa yang kamu mau, Alexa?” tanya Wade dalam dan rendah. Mata mereka saling mengunci, memancarkan luapan gairah yang sama besarnya. 

“Apa semua yang kutawarkan tidak sedikit pun membuatmu tertarik atau … puas?” lanjut Wade sambil sesekali menatap bibir Alexa, sebelum kembali mengunci matanya. Alexa tidak menjawab pertanyaan itu. Kedekatan mereka yang begitu intens serta aroma tubuh Wade yang memenuhi penciumannya, sungguh merupakan godaan terbesar yang mampu menggoyahkan Alexa.

“Apakah aku harus mengikutsertakan diriku dan tubuhku agar kamu mau menerima proyek ini? Apa itu yang kamu inginkan, Alexa?” tanya Wade sarat godaan liar yang membuat jantung Alexa berdebar sangat cepat. Terlebih ketika wajah pria itu mulai bergerak mendekat perlahan-lahan, hingga ia bisa merasakan embusan panas di bibirnya yang mendambakan ciuman Wade. 

“Aku akan membuatmu puas hingga terkapar lemah, Babe. Asal kamu tahu, tanpa proyek itu pun aku siap memuaskanmu hingga berkali-kali kapan saja … dan di mana saja,” bisik Wade di telinga Alexa. Bulu kuduknya meremang seketika. 

Wade menjauhkan wajah hanya untuk menatap kembali mata Alexa. Gelenyar gairah yang sebelumnya berusaha keras ia redam, kali ini mulai menggelora liar dan berusaha mengendalikan tubuhnya. Alexa yakin, Wade pasti bisa menangkap besarnya gairah yang menjilat-jilat liar di matanya. Ia pun tak menepis bahwa dirinya mulai tenggelam dalam tatapan Wade yang begitu dalam. 

Berusaha untuk tetap waras dan memegang kendali penuh atas dirinya, Alexa menggigit bibir bawah sekuat mungkin hingga rasa sakit itu menyentaknya keluar dari gulungan gelombang gairah dan tersadar. Tak ingin sisasisa kewarasannya kembali tenggelam, ia segera menepis tangan kiri Wade. 

“Aku menolaknya!”

Alexa segera mengalihkan pandangan dari Wade, lalu pergi menjauh secepat mungkin. Namun, baru beberapa langkah berjalan, cengkeraman serta tarikan kuat di pergelangan Alexa berhasil menghentikan langkahnya. Ia merasakan sengatan listrik di pergelangan tangannya akibat cengkeraman kuat Wade, tapi Alexa berusaha menunjukkan bahwa ia kuat dan tidak mudah tergoda, bahkan oleh Wade—pria yang berhasil memuaskannya di tempat tidur berkali-kali.

“Kamu tidak tertarik dengan tawaranku, dan sekarang … kamu juga menolakku. What’s wrong with you, Alexa?” tanya Wade sedikit menuntut dan penuh penekanan, tapi tak dapat menutupi kekecewaan yang tergambar jelas di wajah. Rahang Wade pun mengeras.

Alexa memahami kerasnya usaha Wade dalam menahan amarah dan geram, serta frustrasi menahan gejolak gairah yang begitu kuat di dalam diri. Karena, itu pulalah yang Alexa rasakan saat ini. 

Ia marah karena tidak dapat memuaskan hasrat yang mulai menggelora. Ia geram karena tak ada lagi yang dapat dilakukan untuk menolak godaan liar Wade kecuali berpaling dan pergi menjauh. Frustrasi karena daya tarik penuh percikan gairah yang begitu nyata dan kuat di antara mereka, membuat Alexa tergoda untuk mencicipi kembali pria yang jelas-jelas harus ia jauhi. 

Alexa tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Selama beberapa detik, ia mencari jawaban tercepat agar bisa menjauh dari Wade. Alexa tak mampu bertahan lebih lama lagi. Ia menyadari betapa rapuh pendiriannya saat ini karena gairah yang menggebu-gebu, menuntut segera dipuaskan. Akhirnya, Alexa melepaskan cengkeraman Wade, lalu tersenyum tipis.

“Aku akan memikirkan tawaranmu kembali. I’ll call you tomorrow,” ucap Alexa sedatar dan setenang yang dapat ia lakukan, kemudian berbalik meninggalkan Wade yang terlihat masih sulit menerima kenyataan bahwa Alexa mampu menolak pesona pria itu.

“Jam berapa? Aku belum memberikan nomorku, bagaimana—“

“Besok, Wade. Just wait and see. I’ll call you. I promise,” potong Alexa cepat ketika menoleh dan melemparkan senyum menggoda. Ia pun bergegas melangkah menuju bar, menghilang dari pandangan Wade.

*****

Waktu mulai mendekati tengah malam. Alexa masih berdiri di balkon apartemen Dave, menikmati segelas anggur putih kesukaannya sambil menunggu pria itu selesai berganti pakaian. Disesapnya anggur itu tanpa melepaskan tatapan dari langit malam yang gelap, sementara pikirannya tertuju pada tawaran Wade. 

Tawaran itu bukan hanya menarik, tapi bisa menguntungkan perusahaannya dari segala macam aspek. Namun, Alexa memiliki keraguan besar terhadap dirinya sendiri setiap kali mengingat seks liarnya dengan Wade. Ia sangat mengenal Wade dan mengerti makna tatapan hangat penuh gairah yang ditunjukkan tadi padanya. Bahkan, Alexa bisa membayangkan betapa liar kerja sama yang terjalin jika ia menerima tawaran itu. 

Alexa menghela napas panjang, berusaha menghalau segala keraguan agar dapat terus menimbang dan menentukan keputusan yang terbaik untuk semua, terutama untuk Dave karena pria itulah pusat dari tawaran ini.

“Alexa,” panggil Dave dari belakang. Ia segera menoleh, berbalik, dan menatap pria tampan berusia dua puluh lima tahun, bertubuh tinggi dan atletis dengan rambut lembap berantakan serta mata hitam pekat yang mampu menenggelamkan setiap wanita dengan satu tatapan intens.

Dave melangkah mendekat dan berhenti tepat di hadapan Alexa. Ia menyandarkan pinggang di tiang balkon, sementara matanya menatap sekilas celana boxer yang menutupi bagian bawah tubuh Dave dan kaos putih body fit yang membentuk lekuk tubuh serta perut pria itu dengan sempurna. 

Dave terlihat menarik, tapi tak sedikit pun Alexa tergoda untuk melakukan seks kilat dengan Dave atau pria mana pun malam ini. Alhasil, ia hanya menyesap minuman dengan tenang, lalu melemparkan senyum kecil khas seorang atasan yang menghargai bawahan.

“Ada tawaran bagus untukmu, dan kupikir mungkin aku akan menerimanya.” Alexa mencoba membuka percakapan. Tangannya yang menggenggam kaki gelas panjang ditumpukan ke pagar balkon. Sementara, tangan yang lain dibiarkan menggantung santai di samping tubuh, dan pinggangnya menempel ringan di pagar balkon.

“Tawaran apa?” Senyum kecil menghiasi wajah tampan Dave, sementara cahaya matanya memancarkan antusias. Dave melangkah mendekat dan berdiri di samping Alexa, lalu meremas tiang balkon. 

Mata pria itu tertuju pada pemandangan kota Sydney yang selalu terlihat mengagumkan di malam hari. Lampu-lampu yang bersinar pun tampak bak bintang-bintang yang turun dari langit, sementara puluhan kendaraan masih tampak mengisi jalanan di sekitar apartemen. Alexa kembali berbalik, ikut menatap keindahan kota kelahirannya.

“Tawaran menjadi aktor utama di salah satu film terbaru yang diangkat dari novel best seller. Film ini digarap oleh production house ternama milik kerabatku,” jelas Alexa sebelum menandaskan minumannya, kemudian menatap Dave. 

Pria itu menoleh, membalas tatapan Alexa dengan sorot hangat yang sudah sangat ia kenal. Alexa tahu arti tatapan itu. Namun, ia tak berniat menyambut, dan tetap fokus pada pokok pembicaraan.

“Film apa?” tanya Dave singkat, masih terus menatap Alexa.

“Romansa percintaan. Syutingnya akan dimulai tiga minggu lagi, dan kurasa ini adalah peluang bagus untukmu,” jelas Alexa cepat, sementara Dave terbelalak mendengar ucapannya.

“Tiga minggu? Are you serious?”

“Tentu saja aku serius, Dave,” jawab Alexa santai sebelum mengalihkan pandangan kembali ke hamparan lampu yang tampak berkerlap-kerlip nun jauh di sana.

“Aku yakin kamu bisa melakukannya.” Alexa berusaha membangkitkan kepercayaan diri Dave. “Selama seminggu penuh mereka akan memberi pelatihan khusus untukmu. Mereka juga berjanji akan melakukan yang terbaik supaya kamu bisa berakting dengan sempurna.”

Sejenak, keheningan melingkupi mereka. Dave terdiam sembari berpikir, sementara Alexa menunggu sambil berharap agar pria itu menyetujui keputusannya.

“Apa kamu yakin kalau ini adalah proyek yang bagus, Alexa?” tanya Dave bimbang sambil tetap menatapnya hangat. Alexa tahu, ini memang hal yang baru bagi Dave. Ia juga bisa merasakan betapa besar keraguan yang pria itu rasakan pada dirinya sendiri. Berbanding terbalik dengan Alexa yang begitu bersemangat dalam hati. 

Film ini bisa menjadi jalan pembuka bagi kesuksesan-kesuksesan lain yang mungkin sedang menanti di depan sana, dan Alexa tak akan melepaskan peluang ini. Memang, sudah lebih dari lima produser menawarkan Dave untuk bergabung dalam film yang akan mereka garap, tapi tak satu pun berhasil menarik perhatian Alexa. 

Mereka hanya menawarkan peran-peran kecil hingga peran pembantu utama saja, sedangkan Wade menawarkan posisi aktor utama pada Dave tanpa ragu sedikit pun. Bahkan, berjanji memberikan pelatihan cuma-cuma. Ini bukan hanya peluang yang bagus, tapi keuntungan besar yang tidak akan mungkin datang dua kali!

“Tentu saja, Dave. Ini adalah tawaran terbaik yang pernah kita terima. Jangan pikirkan seberapa besar bayaran yang akan kamu terima nanti, tapi pikirkan ilmu yang bisa kamu peroleh dari film ini. Reputasimu juga bisa meningkat tajam karena lawan mainmu merupakan salah satu aktris yang sedang naik daun,” papar Alexa bersemangat seraya menatap raut ragu Dave.

“Aku tidak terlalu yakin, Alexa.” 

“Ayolah, Dave. Aku pastikan kamu tidak akan menyesal. Bahkan, kamu bisa menunjukkan kepada semua orang kalau kamu bukan hanya mahir dalam menyanyi, tapi juga jago berakting,” bujuk Alexa berapi-api, berharap Dave memercayainya.

“Apakah kamu akan menemaniku?” tanya Dave masih ragu sekaligus takut. Alexa mengangguk cepat.

“Tentu saja! Aku tidak akan melewatkannya, Dave. Ini adalah film pertamamu, jadi aku harus memastikan semuanya berjalan dengan benar,” jawab Alexa berapi-api, berharap kali ini dapat meyakinkan pria itu. 

Dave kembali terdiam. Sejenak, pandangan mereka saling mengunci, dan Alexa masih bisa melihat keraguan itu di mata Dave. Cukup lama pria itu berpikir, hingga akhirnya Alexa menangkap sedikit perubahan di raut wajah tampan itu.

“Baiklah, aku mau,” ujar Dave pelan disusul senyum lebar. 

“Sungguh?” 

“Iya, Alexa. Selama kamu ada di sisiku, aku percaya semua pasti akan berjalan lancar,” jawab Dave lembut disertai senyum hangat yang selalu ditujukan padanya. Akhirnya, Alexa bisa mengembuskan napas lega. Ia tidak tahu apakah senyum hangat itu setulus kelihatannya, tapi Alexa tahu betapa Dave sangat memercayainya. 

Perlahan namun pasti, Dave mulai bergerak mendekat, lalu mendaratkan ciuman singkat di bibir Alexa. Sesaat, ia menerima ciuman itu, tapi ketika Dave mencoba memperdalamnya, Alexa segera menjauhkan diri. Dave mengerut kecewa, menyadari penolakan nyata yang Alexa berikan.

“Kamu selalu menolakku, Alexa. Apa kamu sudah tidak menginginkanku lagi?” tanya Dave dengan raut memelas dan terluka.

“Kamu masih ingat ucapanku, kan? Aku ini mudah bosan, Dave. Bahkan, aku tidak berharap ada pria yang sukarela menetap di sisiku. Bukannya aku tidak menginginkanmu, hanya saja … aku tidak mau perasaan itu mempengaruhi kinerjamu—kinerja kita.” jelas Alexa setenang dan sesabar mungkin saat memberikan pengertian pada Dave untuk yang ke sekian kalinya.

“Perasaanku tidak akan mempengaruhi kinerjaku,” tukas Dave, membela diri.

“Mungkin kamu bisa berbicara seyakin itu sekarang, Dave, tapi aku tahu kekacauan yang akan terjadi di kemudian hari jika aku membiarkan perasaanmu berkembang semakin besar. Aku tidak menginginkan sesuatu yang lebih. Dari awal, kita juga sudah sepakat menjalani semua ini tanpa ikatan sama sekali. Tapi, saat pertama kali aku melihat perubahan dari caramu menatapku, saat itulah aku memutuskan bahwa semua keintiman di antara kita harus segera dihentikan. Aku sama sekali tidak menginginkan apa yang ada di pikiranmu saat ini, Dave,” papar Alexa sejujur-jujurnya.

“Tapi, aku mencintaimu, Alexa,” ungkap Dave sedih.

“Kamu tidak mencintaiku, Dave. Kamu hanya menginginkan tubuhku dan takut akan kehilanganku. Itu saja.”

“Bukankah sama saja?” tanya Dave dengan polosnya.

“Cinta bukan hanya tentang seks. Cinta juga bukan hanya tentang takut kehilangan. Bagiku, arti cinta lebih dari itu, Dave,” jelas Alexa tak memedulikan raut kecewa yang kembali menghiasi wajah tampan itu. 

Dave menarik dan menggenggam tangan Alexa, membuatnya merasakan kehangatan yang tak ia inginkan. “Lalu, apa? Cinta seperti apa yang kamu inginkan, Alexa? Apakah kamu tidak bisa memberikan kesempatan padaku untuk mewujudkannya? Tunjukkan padaku bagaimana caranya agar kamu bisa merasakan cinta yang kurasakan, Alexa? Bagaimana? Tunjukkan padaku.” 

Dave terdengar begitu menuntut. Genggaman tangan pria itu terasa semakin erat hingga Alexa mengernyit kesakitan. Sesaat, Alexa pun tertegun mendengar pertanyaan itu. Cinta seperti apa yang aku inginkan? 

Sejujurnya, Alexa juga belum tahu pasti. Ia hanya melihat bentuk cinta Pappy pada Mommy dan cinta Nico pada Maira. Setiap kali melihat mereka, Alexa bisa merasakan aura cinta yang begitu besar dan kuat. Setiap tatapan, sentuhan, bahkan ciuman yang Pappy berikan pada Mommy atau Nico pada Maira membuat orang yang melihat dapat merasakan dalamnya cinta yang si pria miliki terhadap si wanita.

Bukannya ia tidak pernah merasakan cinta dalam hidupnya. Tentu saja pernah. Hanya saja, Alexa telah dikecewakan, dilukai, dan dihancurkan oleh perasaan cinta yang ia curahkan pada seorang pria. Seorang pria yang ternyata tidak mencintainya. 

Maka dari itu, Alexa tidak ingin merasakan cinta lagi dalam hatinya. Ia takut. Takut terluka lagi. Takut menjadi sosok yang lemah. Takut kembali menjadi sosok bodoh yang mudah dipermainkan. Takut. Ya, ia benar-benar takut!

Cinta yang dulu pernah ia rasakan, sudah hilang tak bersisa. Perlahan-lahan, kebencian pun menguasai hati hingga berhasil mengubah Alexa menjadi sosok wanita dingin yang tidak akan pernah memercayai cinta. Alexa juga percaya bahwa tak akan ada pria yang dapat membuatnya merasakan cinta lagi. Tidak ada.

Tatapan Dave yang semakin lama semakin dalam, membuat Alexa gerah dan lelah. Ia lelah menghadapi Dave yang selalu bersikeras menyatakan kalau perasaan yang pria itu miliki adalah cinta. Ia lelah karena harus berkali-kali menjelaskan pada Dave kalau ia sama sekali tidak berniat menjalin hubungan serius. Ia benar-benar lelah dan butuh istirahat.

Namun, Alexa tak berniat menyakiti perasaan Dave. Sebisa mungkin, ia menyunggingkan senyum bersahabat, lalu melepaskan genggaman Dave. Alexa tidak berniat membahas hal ini lagi, yang ia inginkan hanyalah tidur. 

I’m done with this conversation, Dave. Tak akan ada kata ‘cinta’ dalam kamusku, dan kuharap kamu bisa menghargai keputusanku. Kita masih akan tetap seperti ini. Dekat, tapi tidak lebih. 

“Aku akan selalu bertanggung jawab atas semua hal yang berhubungan denganmu, dan kamu tetap bekerja sesuai bagianmu. Besok aku akan mencari seseorang yang bisa membantuku mengurus segala keperluanmu,” ucap Alexa tenang, berusaha bersikap bijaksana. Sambil menatap mata pria itu dalam-dalam, Alexa mengangkat tangan untuk menangkup dan meng-usap pipi Dave sebelum mendaratkan kecupan di sana.

“Supirku akan menjemputmu jam delapan pagi. Jangan lupa, besok ada rekaman pertama untuk album keduamu. Setelah itu, kita akan makan siang. Selanjutnya, kamu ada jadwal syuting video klip,” lanjut Alexa lembut. Dave mengembuskan napas pasrah, tapi tetap menatap Alexa dengan sorot hangat namun penuh kekecewaan.

“Bagaimana kalau kali ini aku yang menentukan restoran untuk makan siang kita?” Suara Dave masih terkandung kesedihan yang tak mampu pria itu ungkapkan. 

Tak ingin berdebat, Alexa menyetujui permintaan Dave dengan senyum lemah, kemudian memeluk pria itu erat-erat selama beberapa saat, lalu melepaskannya. Ia menatap mata Dave sekali lagi. Alexa sangat yakin, tatapan yang pria itu tunjukkan saat ini bukanlah cinta, tapi nafsu.

“Baiklah. Sampai ketemu besok, Dave.” 

Alexa segera berbalik dan beranjak dari hadapan Dave. Ia bisa merasakan tatapan Dave mengunci setiap langkahnya ketika menuju pintu apartemen. Setelah mengambil tas tangan yang ia letakkan di meja kecil di samping pintu, Alexa segera membuka pintu, lalu menoleh sekilas ke arah Dave yang masih berdiri di balkon sambil menatapnya.

Alexa melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan, lalu menutup pintu. Dengan sedikit kelegaan di dada, ia berjalan menuju lift, lalu menunggu sesaat setelah menekan tombol. Keheningan yang melingkupi membuat pikiran Alexa tertuju pada Wade. 

Sambil menunggu pintu lift terbuka, Alexa mengeluarkan ponsel dari tas tangan, lalu mencari nomor ponsel Wade yang ia peroleh dari Simon. Ia berniat menghubungi Wade, tapi entah mengapa tiba-tiba jemarinya enggan menekan tanda panggil. Ingatan akan tatapan liar Wade ketika di bar memperkuat alasan Alexa untuk tidak mengabari pria itu malam ini.

Akhirnya, pintu lift terbuka. Sesaat, Alexa menatap ruangan kecil dan kosong yang seolah merepresentasikan kehampaan dirinya. Mencoba tetap tegar seraya berusaha keras mengabaikan ruang kosong dalam hati yang semakin lama semakin merongrong kedamaiannya, Alexa segera memasuk-kan ponsel ke tas tangan, kemudian melangkah masuk disertai perasaan teraneh yang menggelayuti dadanya.

Mungkin karena lelah, ya, mungkin karena lelah.

*****

BAB 9

“Kita mau makan di mana Dave?” tanya Alexa ringan, sementara tangan dan mata tertuju pada layar ponsel, membalas pesan-pesan serta panggilan masuk yang tak sempat ia jawab. 

Sejak pagi, seluruh perhatian Alexa terpusat pada prosesi rekaman lagu pertama yang juga merupakan lagu andalannya untuk album kedua Dave. Beruntung, semua berjalan lancar dan selesai sesuai jadwal. Alexa pun menyerahkan pada Gerald, orang kepercayaannya, untuk memoles rekaman tersebut agar menjadi lagu yang sempurna dan enak didengar, sementara ia pergi makan siang dengan Dave.

“Kita akan makan di tempat baru, Alexa. Aku juga baru tahu kalau ternyata ada restoran terkenal di area ini. Semalam, aku tidak sengaja melihat restoran ini masuk rekomendasi terbaik di TV,” jawab Dave sembari memerhatikan barisan bangunan di pinggir jalan sebelum menoleh dan menatap Alexa dengan sorot hangat.

“Baiklah. Kuharap makanannya seenak yang diberitakan,” sahut Alexa sambil lalu tanpa menoleh sedikit pun. Tiba-tiba, pesan masuk dari Nico mengalihkan perhatian Alexa dari pesan yang sedang ia baca. Penasaran, Alexa segera membuka pesan Nico dan membacanya.

 

Apa kau sudah mempersiapkan acara peringatan untuk Mommy dan
Pappy seperti yang kita bicarakan waktu itu?
Kami akan tiba di Sydney hari Jumat ini.
Jangan beritahu Pappy.
Kami ingin memberi kejutan padanya.

 

What!! Sial, bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting ini! Alexa memaki dirinya dalam hati. Seperti tersambar petir, jemari Alexa gemetar panik saat membuka daftar kontak. Ia langsung mencari nama Sasha dan menghubunginya. Ia memang sudah pernah membicarakan rencana perhelatan ini pada Sasha sebulan yang lalu, tapi ia belum memberi tahu kapan pastinya acara tersebut akan dilaksanakan.

Semenjak acara pernikahan Nico dan Maira, Alexa memang semakin dekat dengan Sasha. Wanita itu sangat mandiri dan pekerja keras, sama seperti Alexa. Sasha merupakan sosok yang ceria, riang, santai, supel, hangat, dan sangat profesional dalam melaksanakan setiap pekerjaan. Meski terkadang wanita itu terkesan misterius dan suka menguarkan aura kejam serta menyeramkan, tapi Alexa tidak memusingkan hal tersebut karena … setiap wanita punya rahasia. Benar, kan?

Di tengah kepanikan yang melanda, tingkat kesabaran Alexa mulai diuji ketika nada sambung nan memuakkan terdengar cukup lama di telinga. Harapan pun seolah menguap ketika Sasha tidak menjawab panggilannya. Tak menyerah, Alexa mencoba sekali lagi, dan langsung mengembuskan napas lega saat mendengar suara di balik ponsel. 

Hai, Alexa. Apa kabar?” sapa Sasha riang penuh semangat.

“Kabar baik, Sha,” sahut Alexa disertai senyum lebar, “apa aku mengganggu waktumu?”

Santai. Aku baru saja selesai menyusun rencana kegiatan salah satu gathering perusahaan. Ada apa, Alexa?” 

Sasha terdengar seperti sedang melakukan aktivitas di seberang sana. Sementara di samping Alexa, Dave sesekali melirik dengan sorot penasaran. Menyadari sorot itu, Alexa mengedikkan salah satu alis, tanda bahwa ia tidak ingin diganggu. Mengerti isyarat tersebut, Dave mengeluarkan ponsel dari saku dan mulai berkutat dengan benda tersebut.

“Emm, begini, Sha. Kau masih ingat percakapan kita waktu itu tentang acara perayaan kecil untuk peringatan ulang tahun pernikahan Mommy dan Pappy?” tanya Alexa mencoba menyegarkan kembali ingatan wanita itu.

Oh, tentu saja aku masih ingat,” sahut Sasha cepat, “kenapa?

“Perayaannya akan dilaksanakan hari Minggu, Sha. Ehmm, bisakah aku menyerahkan seluruh perencanaan acaranya padamu?” tanya Alexa hati-hati sambil berharap agar Sasha langsung menerima tugas ini.

Hari Minggu … minggu depan maksudmu? Apa kau tidak salah?” Suara Sasha terdengar sedikit lebih tinggi, kaget dengan permintaan dadakan itu.

“Maafkan aku, Sha. Kumohon. Hanya kau yang bisa kumintai bantuan,” pinta Alexa memelas, “aku tidak mungkin mengatakan masalah ini pada Maira karena—“

Jangan bilang kalau kau lupa,” tebak Sasha tepat sasaran, “kau pasti takut kalau si pria dingin itu marah padamu, kan?

“Aku tidak lupa, Sha. Sungguh. Aku hanya ….”

Sibuk,” tukas Sasha. Alexa terdiam sejenak, menyadari kesalahannya. Tak ingin larut terlalu lama dalam rasa bersalah, ia pun segera mengisi keheningan di antara mereka.

“Jadi … bagaimana, Sha? Kau bisa membantuku?” tanya Alexa pelan, penuh harap. Sikap diam Sasha membuat rasa khawatirnya semakin besar. 

Ingin rasanya Alexa mengulang pertanyaan itu, tapi ia tidak mau terkesan memaksa atau malah membuat Sasha berpikir bahwa ia lepas tangan akan tanggung jawabnya dan menekan wanita itu untuk membereskan masalah yang ia timbulkan. Akhirnya, Alexa bersabar menunggu. Tak lama kemudian, terdengar embusan napas panjang dan deheman kecil yang langsung membuat jantung Alexa melonjak gugup. 

OK. Aku akan mencari penerbangan tercepat agar tiba di sana sesegera mungkin,” ucap Sasha tenang. Alexa langsung tersenyum lega.

“Sungguh? Thank you, thank you, thank you, Sha! Kau benar-benar penyelamatku,” seru Alexa terlalu gembira, tak menghiraukan sorot penasaran yang kembali Dave tujukan padanya.

Ya, ya, ya. Tenanglah, serahkan semua padaku.”

“Kabari aku secepatnya supaya aku bisa menjemputmu.” Senyum riang mengukir wajah Alexa, tak bisa menutupi rasa syukurnya yang meluap-luap.

OK.”

“Oh, satu lagi, Sha. Jangan bilang-bilang Nico kalau aku baru menghubungimu, ya. Please,” pinta Alexa, memelas.

Iya. Aku tahu, Alexa.” Sasha tertawa kecil, menanggapi kepanikannya.

“Terima kasih, Sasha,” ucap Alexa sungguh-sungguh, “Kau memang yang terhebat.”

You’re welcome,” sahut Sasha cepat dan percakapan pun berakhir. Dengan perasaan ringan dan lega, Alexa akhirnya berani membalas pesan Nico.

 

Aku sudah mempersiapkan semuanya. 
Salam buat Maira dan Angelo. 
Miss him so much.

 

Setelah mengirim pesan kepada Nico, ia kembali membalas beberapa pesan masuk. Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan area restoran. Alexa segera memasukkan ponsel ke tas tangan saat sopir membukakan pintu, lalu keluar dari mobil sembari tersenyum ramah pada pria yang sudah bekerja padanya selama dua tahun ini. Seolah terbiasa, Dave spontan melingkarkan tangan kiri di pinggang Alexa, lalu mengajaknya melangkah menuju pintu masuk.

Ramainya suasana di luar restoran, sempat membuat Alexa tercengang sesaat. Beberapa orang yang menyadari kehadiran Dave, langsung mengeluarkan ponsel, kemudian mengambil foto pria itu secara diam-diam. Terlihat barisan panjang antrean pengunjung yang mengular dengan tertib demi menunggu giliran masuk. Sementara, Alexa dan Dave melenggang memasuki restoran tanpa harus ikut mengantre. 

Kondisi di dalam restoran pun tak kalah ramai. Semua meja terisi penuh dan para pelayan bergerak cekatan melakukan tugasnya. Alexa berdiri di samping Dave ketika mereka tiba di depan meja penerima tamu. Saat pria itu berbicara dengan petugas, ia merasakan beberapa pasang mata mengamati dengan sorot penasaran. 

Alexa sudah terbiasa dengan perhatian berlebih yang orang-orang berikan, terlebih lagi karena saat ini ia bersama seorang penyanyi yang sedang naik daun. Alexa tidak menggubris tatapan menyelidik ataupun bisikan-bisikan kecil yang menggelitik telinga. Bahkan, ketika berjalan mengikuti seorang pelayan yang mengarahkan mereka ke sebuah meja yang berada di salah satu area restoran, Alexa membiarkan beberapa kamera ponsel menangkap keberadaannya bersama Dave dan tak menggubris sorot penasaran yang mengikuti langkah mereka.

Dave menarik kursi, mempersilakan Alexa duduk, kemudian pria itu pun duduk tepat di seberangnya. Hanya berselang beberapa detik setelah ia duduk, ponselnya berdering kencang. Alexa bergegas mengeluarkan ponsel dari tas tangan. Ternyata, panggilan itu berasal dari salah seorang promotor yang akan ia temui sore ini.

“Kamu mau pesan apa?” tanya Dave lembut saat membuka buku menu.

“Sama seperti yang kamu pesan,” jawab Alexa cepat sebelum menerima panggilan tersebut. Sudah terbiasa dengan sikap dingin Alexa, Dave langsung memesan makanan yang menjadi hidangan unggulan restoran itu. Sementara, Alexa memusatkan perhatian dan pendengarannya pada pria yang sedang berbicara di balik ponsel. Beberapa detik setelah si pelayan beranjak dari sisi meja mereka, Alexa menyudahi panggilan tersebut dan mengembuskan napas lega.

You need a break, Alexa,” saran Dave ketika Alexa memasukkan ponsel ke tas tangan. Ia menatap Dave sekilas saat menutup tas dan menangkap sorot penuh perhatian yang pria itu tujukan padanya.

“Banyak yang harus kulakukan, Dave. Ini hanya sebagian kecil dari perjalanan karirmu, dan bisa kupastikan kita akan semakin sibuk ke depannya,” jelas Alexa sesantai yang bisa ia lakukan sambil menyunggingkan senyum kecil.

“Aku tahu, aku sangat beruntung memilikimu, Alexa. Sungguh, aku tidak tahu bagaimana nasibku kalau kamu tidak ada di sisiku. Tapi, aku tidak mau tenagamu terkuras karena semua kesibukan itu. Aku tidak mau kamu sakit, Alexa,” ungkap Dave, terselip pujian bercampur perhatian berlebih disertai senyum penuh kasih sayang dan sorot hangat yang tertuju padanya. Pujian itu malah terdengar seperti rayuan manis di telinga Alexa. Sayangnya, ia tak menyukai hal itu.

“Tenang saja, Dave. You’re in the right hands. Saat ini, memang aku yang menangani semuanya. Tapi, seperti yang kukatakan semalam, aku sedang mencari asisten yang tepat untuk mengurus semua kegiatan dan kebutuhanmu. Sedangkan kamu … kamu harus benar-benar mempersiapkan stamina untuk menghadapi semua kesibukan yang akan semakin menggila di depan nanti,” jelas Alexa lancar dan dengan sedikit penekanan di beberapa tempat.

Sekilas, ia melihat kening Dave mengerut, tampak tak menyukai gagasan mengenai asisten yang akan menggantikan keberadaan dirinya. Bukannya melontarkan penolakan, Dave lebih memilih diam dan hanya tersenyum masam, lalu bersandar seraya mengalihkan perhatian ke sekeliling. Pria itu tahu, tak ada seorang pun dapat mengubah keputusan Alexa. Tidak seorang pun!

Beberapa menit kemudian, makanan mulai disajikan. Alexa begitu menikmati sajian per sajian, sementara Dave mengisi makan siang itu dengan beberapa cerita lucu. Seusai menikmati hidangan utama, seorang wanita cantik berusia dua puluhan mendadak menghampiri meja mereka dan meminta ijin agar bisa berfoto dengan Dave. 

Setelah berfoto, wanita itu memeluk Dave dan mengucapkan terima kasih, kemudian bergegas meninggalkan meja mereka dengan senyum lebar dan wajah merona bahagia. Akhirnya, hidangan penutup mulai disajikan, dan mereka berdua kembali menikmati makanan tersebut.

Holla, Alexa.”

Alexa tidak tahu secepat apa ia menoleh ke arah datangnya suara, tapi ia tahu kalau hanya satu orang yang memiliki suara serak, dalam, dan menggoda seperti itu. Pria itu tampil rapi dan cukup formal di hari Minggu yang cerah ini.

Kemeja slim fit lengan panjang berwarna abu-abu tua, melekat tepat di tubuh atletis pria itu. Lengan kemeja yang digulung hingga ke siku seolah menandakan bahwa pria itu baru saja selesai menghadiri sebuah pertemuan penting. Celana panjang bahan yang disetrika licin dan mengikuti garis yang telah ditentukan, membentuk pahanya yang keras. Dua kancing kemeja yang sengaja dibuka, helai rambut yang sedikit menjuntai liar menyentuh kening, dan kedua tangan dimasukkan ke saku celana, membuat pria itu terlihat lebih menggoda dari penampilan yang selama ini Alexa lihat.

“W-wade?” Alexa tercekat, tak menyadari mulutnya sedikit menganga saking terkejut. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu Wade di tempat ini. Apakah dia menguntitku? pikir Alexa negatif. 

“Hai, Wade! We meet again,” sapa Dave terlalu ramah dengan senyum mengembang. “Kau sendirian?”

“Tidak. Aku sedang makan siang bersama beberapa kolegaku,” jawab Wade santai seraya menunjuk ke salah satu meja yang dipenuhi oleh lima pria berpakaian sama formalnya seperti Wade. Hanya saja, Alexa bisa menilai bahwa kedatangan mereka ke tempat ini bukanlah untuk membahas pekerjaan. Hal itu terlihat dari dasi yang menggantung longgar di kerah akibat ditarik sembarang dan lengan kemeja yang digulung santai hingga ke siku.

Alexa kembali menatap Wade, tapi belum bisa menghapus raut terkejutnya. Sementara, pria itu tersenyum ramah, tak menghiraukan kebisuan Alexa. Namun, ketika Wade terang-terangan memancarkan sorot nakal sarat godaan padanya, secepat mungkin Alexa mengalihkan pandangan. Ia kembali menyendokkan makanan ke mulut sambil berusaha bersikap tidak peduli.

“Aku menunggu teleponmu dari tadi pagi, Alexa,” ungkap Wade tiba-tiba yang langsung membuat Alexa tersedak. Ia terbatuk-batuk, lalu meneguk air putih beberapa tegukan sebelum menoleh dan menatap sinis Wade. Bukannya merasa bersalah karena sudah membuatnya tersedak, pria itu malah memancarkan pesona liar sarat godaan sambil terus mengunci mata Alexa dengan sorot penuh arti—tak memedulikan tatapan sinisnya.

“Aku sibuk,” jawab Alexa singkat dan ketus, lalu membuang muka dan kembali berkutat dengan makanan.

Yeah, that’s right, Wade. Dia adalah wanita yang sangat-sangat sibuk, bahkan memesan makanan pun terasa seperti membuang-buang waktu,” timpal Dave masih bersikap ramah. Terlalu ramah menurut Alexa.

“Apa kamu sudah menentukan jawabanmu?” tanya Wade santai setelah tersenyum palsu pada Dave. Alexa kembali menoleh, kali ini ia benar-benar menunjukkan ketidaksukaannya akan kehadiran Wade yang bukan hanya mengganggu makan siangnya, tapi juga mengacaukan selera makan serta membuat jantungnya berdebar tak keruan. Dan, ia tidak menyukai debaran aneh itu.

“Bisakah kita membicarakan itu nanti? Aku sedang makan siang,” jawab Alexa ketus, penuh penekanan. Seakan kebal dengan sikap dinginnya, Wade malah menyunggingkan senyum manis. Mata Alexa langsung menyipit kesal merespons senyuman itu—sangat-sangat kesal.

“Baiklah kalau begitu. Aku tunggu kabar darimu, Alexa. Jangan lupakan itu,” jawab Wade santai, “nice to meet you, Dave.”

Dave membalas keramahan Wade dengan sangat bersahabat, sementara Alexa bersikap luar biasa acuh tak acuh. Akhirnya, Wade kembali ke meja di mana para kolega sedang menunggu kehadiran pria itu. Diam-diam, Alexa melirik dari sudut mata, mencuri pandang ke arah Wade yang benar-benar terlihat berbeda hari ini. 

Parahnya, debar jantung yang mulai menggila menunjukkan betapa besar pengaruh kehadiran pria itu bagi Alexa. Meski sulit, Alexa mencoba menekan perasaan aneh yang sejak kemarin mengisi rongga dadanya. Seolah menentang keinginannya, perasaan itu malah semakin menguat hingga membuat napas Alexa sesak dan berat. 

Are you OK, Alexa?” tanya Dave khawatir saat menangkap kegelisahan di wajahnya. 

I’m OK.”

*****

Wade melirik arloji untuk yang ke sekian kali. Jemarinya memutar-mutar bagian bawah gelas, sementara mata Wade terus mengunci wanita yang begitu menarik dan menyihir kewarasannya. Ia sudah tidak tahan ingin segera menghampiri Alexa dan menyita seluruh perhatian wanita itu untuk dirinya seorang. Kerabat sekaligus koleganya sudah pamit dan meninggalkan restoran beberapa menit yang lalu. Tinggallah dirinya dengan segelas anggur ringan dalam genggaman 

Hari ini Alexa terlihat menawan meski hanya mengenakan kemeja santai lengan pendek berwarna hijau toska dan rok pendek hitam. Rambut panjang yang dibiarkan tergerai bebas dan tertata sempurna itu membangkitkan sensasi liar nan menyenangkan di telapak tangannya. 

Sekejap, Wade teringat betapa seksi rambut Alexa yang tergulung sempurna dalam genggaman ketika ia menghujam wanita itu dari belakang. Pandangannya pun mulai menyapu paha Alexa yang putih mulus ketika wanita itu menyilangkan kaki. Gigi Wade menggemeretak, menahan gemas yang sedari tadi ia tahan sejak pertama kali melihat kehadiran Alexa di tempat ini. 

Tak ingin batas kewarasannya semakin menipis, ia mengalihkan pandangan ke wajah Alexa yang tampak begitu menikmati makan siang bersama Dave. Gelenyar panas perlahan-lahan menjalar naik hingga ke dada saat wanita itu tersenyum hangat kepada Dave. Wade bahkan bisa merasakan sesuatu dalam tubuhnya terbakar hebat hanya karena kehangatan dan kemesraan yang dipamerkan di depan matanya. 

Ingin rasanya ia menghampiri Alexa dan membawa wanita itu pergi dari hadapan Dave. Namun, secepat kilat ia meredam keinginan tersebut. Ia tidak mau mempermalukan diri di hadapan Alexa. Lagi pula, ia sudah menyusun rencana agar bisa mendapatkan Alexa dengan cara yang benar. 

Wade akan melakukan pendekatan secara perlahan. Ia tidak mau Alexa malah menjauh hanya karena risi dengan keberadaannya. Tidak! Wade tidak menginginkan hal buruk itu terjadi. Ia sudah bertekad untuk memiliki Alexa, bagaimana pun caranya. Ia tidak lagi peduli apakah wanita itu adalah adiknya Nico atau bukan. Alexa harus menjadi miliknya.

Dengan tingkat kesabaran yang mulai menipis, Wade berusaha menunggu, memerhatikan, dan menyesap minuman sesekali demi menekan gelenyar panas di dada. Ia mengingat kembali sikap Alexa kemarin malam. Tak ada satu pun wanita berani memperlakukan dirinya seperti yang Alexa lakukan. Begitu dingin, cuek, dan ketus. 

Alexa membuatnya penasaran setengah mati. Oleh karena itu, Wade sungguh-sungguh ingin mengenal Alexa lebih dalam. Ia ingin mengetahui setiap masa lalu dan rahasia kelam yang telah membentuk wanita secantik Alexa menjadi sosok yang dingin dan ketus layaknya Putri Elsa. 

Wade juga ingin tahu alasan di balik sikap Alexa yang terlihat seperti tidak menyukai keberadaannya, padahal mereka begitu sempurna di atas ranjang. Seks mereka bahkan luar biasa menggebu-gebu, penuh gairah, liar, dan panas.

Setelah percakapan semalam, Wade memutuskan untuk pulang. Ia tidak ingin berlama-lama di klub karena menyadari betapa dirinya bisa menjadi pria gila-agresif-posesif jika melihat Alexa terus berada di dekat Dave. Sama seperti sekarang. Ia benar-benar tidak tahu berapa lama lagi bisa menahan diri agar bisa tetap waras dan tenang.

Hari ini, ia bertekad mendapatkan persetujuan kerja sama dari wanita itu. Bukanya ia tidak mampu mencari orang lain yang lebih baik sebagai pengganti Ethan, tapi ia ingin menggunakan proyek ini agar bisa sesering mungkin berada di dekat Alexa dan mengenalnya lebih dalam lagi. Ia akan menggunakan segala cara agar wanita itu terbuka padanya. Atau setidaknya, mau mengakui besarnya reaksi kimia sarat gairah yang tercipta setiap kali mereka saling bertatapan.

Alexa tidak boleh berkilah, apalagi menampik ketertarikan di antara mereka. Wade bisa menangkap jelas ketika mata indah Alexa membesar dan menggelap penuh gairah setiap kali menatapnya. Ia juga bisa menangkap usaha keras Alexa saat berusaha meredam letupan gairah yang terpancar jelas di mata indah itu. 

Ketika wanita itu menggigit bibir demi menekan kegugupan, saat itu juga Wade bisa menyimpulkan bahwa kemungkinan besar Alexa merasakan hal yang sama dengan dirinya. Namun, usaha yang Alexa lakukan untuk menolak perasaan itulah yang membuat Wade semakin bertanya-tanya.

Seolah mengetahui tingkat kesabaran Wade sudah makin menipis, Dave dan Alexa mulai beranjak dari kursi, berniat meninggalkan tempat itu. Wade segera meneguk minuman hingga tandas, lalu berdiri. Tak ingin membuang-buang waktu, ia pun bergegas menghampiri Alexa.

“Bisa kita bicara sekarang?” tanya Wade cepat, menghentikan langkah Alexa yang baru saja keluar dari restoran. Wade bisa melihat raut kaku wanita itu. Namun, layaknya pemenang piala Oscar, raut Alexa mampu berubah total dalam se per sekian detik menjadi hangat dan menenangkan ketika menatap Dave. Senyum kecil pun menghiasi wajah wanita itu.

“Dave, kurasa aku tidak bisa menemanimu ke lokasi syuting hari ini. Ada yang harus kudiskusikan dengan Wade. Sopirku akan mengantarmu ke sana. Setelah selesai, minta dia untuk mengantarmu pulang. Setelah urusanku dengan Wade sudah selesai, aku akan langsung menghubungimu. OK,” jelas Alexa lembut, membujuk Dave seperti sedang menenangkan seorang anak kecil yang ketakutan ditinggal oleh ibunya.

Ia bisa melihat sikap protektif Dave saat melingkarkan tangan di pinggul Alexa. Tampaknya, pria itu tidak menyukai perintah Alexa, tapi tak mampu menolak dan terpaksa mengangguk. Dave melepaskan lingkaran tangan dari pinggul Alexa, lalu mengecup lembut pipi wanita itu. Salah satu alis Wade terangkat, sedikit risi melihat kemesraan yang baru saja terjadi, sementara darah dalam tubuhnya berdesir cepat, kesal.

“Kabari aku, OK,” pinta Dave dengan suara kecil seperti bisikan, tapi Alexa tidak membalas sama sekali. Akhirnya, pria itu melangkah menjauh dan masuk ke mobil. Selama sesaat, mereka memerhatikan mobil itu hingga menghilang dari pandangan. 

“Kurasa dia menyukaimu,” celetuk Wade.

None of your business. Bagaimana kalau kita langsung ke pokok pembicaraan?” ujar Alexa datar seraya melipat kedua tangan di depan dada, kembali menunjukkan sikap dingin dan siap bertarung.

“Bagaimana kalau kita membicarakannya di tempatku saja?” usul Wade diiringi senyum hangat yang selalu ampuh memesona setiap wanita, tapi tampaknya tidak berpengaruh pada Alexa.

“Di sini saja.” Alexa menegaskan ketidaktertarikannya.

“Bisa saja. Tapi aku lupa membawa berkas yang harus kuberikan padamu, dan berkas itu ada di tempatku,” jelas Wade tenang meskipun pikirannya mulai membayangkan dirinya bersama Alexa di tempat tidur.

Selama beberapa detik, Alexa terdiam, berpikir sambil menatap wajah Wade seperti sedang membaca isi kepalanya. Akhirnya, wanita itu mengangguk. Ingin rasanya Wade berteriak kegirangan, tapi ia mengendalikan diri secepat mungkin. Mereka berdua mulai berjalan menuju mobil Wade yang terparkir tidak jauh dari restoran. Ia membukakan pintu untuk Alexa dan mempersilakannya masuk.

“Kukira kamu tidak menggunakan sopir hanya pada saat-saat tertentu, tapi sepertinya kamu memang tidak mempekerjakan sopir sama sekali, ya?”

“Tidak. Aku lebih suka mengendarai mobilku sendiri.”

“Kenapa?” tanya Alexa singkat.

“Privasi. Aku tidak ingin seorang pun tahu ke mana aku pergi.”

*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja
error: Content is protected !!