BAB 6
“You did it again!”
Kalimat itu meluncur cepat dari bibir Kevin saat Molly membuka pintu. Terdengar jelas betapa kesalnya pria itu pada Molly saat ini. Kevin berdiri sembari melipat kedua tangan di depan dada. Rautnya menegang geram penuh amarah saat melihat mata Molly yang sembab.
Molly menyadari sebengkak apa matanya saat ini karena semalam ia menangis sejadi-jadinya setelah sampai di apartemen. Ia bahkan tidak berusaha menutupinya dari Kevin. Namun, Molly sama sekali tidak mengharapkan omelan Kevin pagi ini, yang bisa membuat dirinya kembali menangis.
“A-ada apa, Kev?” tanya Molly berusaha bersabar dengan luapan amarah Kevin.
“Brad meneleponku semalam,” ungkap Kevin lantang yang membuat Molly tertunduk malu.
“A-aku hanya—“
“Kamu tidak perlu menjelaskan padaku! Dia sudah menceritakan semuanya,” potong Kevin cepat. Molly mengangkat wajahnya, terluka dengan reaksi Kevin yang tampak enggan mendengar penjelasan darinya. Molly berharap Kevin mau memberikan waktu sedikit saja agar ia bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, raut kesal Kevin seakan menegaskan bahwa dirinya sudah melakukan sebuah kesalahan yang teramat besar, dan sikap itu membuat Molly semakin sedih.
“Apa maksudmu dengan bersedia tidur dengan Brad? Apa sebegitu putus asanya kamu sampai berpikir untuk melakukan hal kotor seperti itu? Kenapa kamu bersikeras menolak saranku, Ly? Sebegitu besarnyakah rasa takutmu untuk berbicara dengan Cliff sampai membuatmu menjadi sebodoh ini?” cecar Kevin tegas yang membuat Molly terbelalak kaget.
Hingga saat ini, Molly memang belum menceritakan pada Kevin kalau Brad memintanya untuk tidur dengan pria tua itu demi melanjutkan penyelidikan. Ia tidak ingin Kevin marah dan menghampiri Brad, atau lebih parahnya lagi, menghajar Brad hingga babak belur. Molly tahu seberapa besar kekuatan Kevin ketika sedang diselimuti amarah karena hal itu pernah terjadi tepat di depan matanya beberapa tahun yang lalu saat Kevin berusaha melindungi mama dari orang yang berniat jahat. Molly tidak ingin Kevin berurusan dengan polisi hanya untuk membela dirinya. Namun saat ini, Brad malah memutarbalikkan fakta dan membuat Molly terlihat buruk di mata Kevin.
“Astaga! Dia berbohong!” tolak Molly cepat.
“Bohong?” ulang Kevin seraya mengerut kesal. Tampak jelas bahwa Kevin tak akan percaya begitu saja dengan penolakan Molly.
“D-dia bohong, Kev! S-sebenarnya dia … Brad yang memintaku untuk tidur dengannya sejak dua bulan yang lalu. D-dia bahkan menawarkan dirinya dengan sukarela untuk mencari pembunuh Mama tanpa bayaran asalkan aku mau menjadi simpanannya. Dia bohong, Kev!” jelas Molly dengan suara bergetar, berusaha menahan tangis.
Ia belum pernah merasa seperti ini. Terhina, direndahkan, dan terpojokkan terhadap sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sama sekali. Kevin menatapnya dengan sorot mata curiga, tampak belum bisa menerima penjelasan Molly. Akhirnya, air mata Molly pun menetes. Ia benar-benar putus asa. Rasa sakit di dadanya terasa begitu menyiksa, karena Kevin—satu-satunya orang terdekat yang ia miliki—tak percaya padanya.
“Dia bohong, Kev,” isak Molly kecewa, menunjukkan betapa terluka perasaannya saat ini dengan tuduhan yang Kevin lontarkan padanya.
“Kamu yakin?” tanya Kevin sinis, masih belum bisa memercayainya. Molly tersentak kaget mendengar keraguan itu.
“Really? Kamu benar-benar menanyakan apa aku berbohong atau tidak?” tanya Molly balik, “ini aku yang sedang berbicara denganmu, Kev. Aku! Dan, kamu tidak percaya padaku?”
Tangis Molly pun meledak sejadi-jadinya. Untuk yang kedua kalinya dalam rentang waktu kurang dari 24 jam, Molly menangisi apa yang seharusnya tidak ia lakukan. Menangisi kebodohannya karena melanggar nasihat Kevin semalam.
Akhirnya, Kevin menarik Molly, lalu memeluknya erat-erat. Tangisan Molly teredam oleh pelukan hangat yang melingkari tubuhnya. Usapan lembut Kevin di punggungnya, perlahan-lahan menenangkan rasa kecewa yang menyelimuti Molly saat ini.
“Maafkan aku, Kev,” sesal Molly disela tangisannya. Kevin terus mengusap punggungnya, tak sanggup berkata-kata. Pelukan itu terasa begitu hangat dan erat, membuat Molly merasa aman dan terlindungi.
“Maafkan aku karena sudah bertindak ceroboh,” ungkap Molly lagi penuh penyesalan, “seharusnya … aku tidak bersikeras datang ke sana.”
“Aku akan menghajarnya!” geram Kevin, masih terus memeluk Molly. Mendengar ancaman itu, Molly segera melepaskan diri dari pelukan Kevin.
“Jangan, Kev!” larang Molly cepat sembari menahan isak tangisnya, “aku tidak mau kamu berurusan dengan polisi hanya karena gara-gara aku.”
“Tapi dia sudah melecehkanmu!” tegas Kevin kesal. Air mata Molly terus mengalir. Tidak! Ia tidak ingin Kevin melakukan sesuatu yang malah membuat dirinya menyesal seumur hidup.
“Kurasa dia melakukannya hanya untuk membuatku kecewa dan menyerah dengan penyelidikan itu,” ucap Molly lemah, yang malah terdengar seperti membela Brad. Namun, Kevin jelas tidak bisa menerima alasan itu.
“Dia itu sahabat mamamu. Di mana otaknya?” maki Kevin murka.
“Di sakunya, mungkin,” balas Molly lemah, berusaha mengisi percakapan itu dengan candaan ringan agar amarah Kevin mereda. Ia terus mengusap air matanya yang entah mengapa tak mau berhenti mengalir.
“Yeah, benar. Dan mungkin sakunya tertinggal di rumah, jadi kepalanya benar-benar kosong, makanya dia tidak bisa berpikir layaknya manusia normal,” hina Kevin dengan nada mengejek. Akhirnya, Molly tersenyum kecil. Isak tangisnya sudah berhenti, meskipun air mata masih menggenang. Setidaknya, perasaan Molly lega karena sudah terbuka pada Kevin tentang kebusukan Brad.
“Babe, masih lama?”
Terdengar suara Cindy yang muncul dari balik pintu rumah Kevin. Wanita itu berdiri sembari melipat kedua tangan di depan dada dan memasang raut kesal karena Molly sudah menyita perhatian Kevin.
“Hai, Cindy,” sapa Molly ramah seraya menekan sesegukan yang berusaha meluncur dari mulutnya.
“Hai,” balas Cindy datar dan ketus, “masih lama?”
“Wait, Babe. Masih ada yang harus aku bicarakan dengan Molly,” ujar Kevin lembut, yang malah membuat Cindy mendengus kesal, lalu berbalik dan masuk ke rumah dengan entakkan kaki kesal.
“Pergilah, Kev. Aku tidak mau dia marah padaku,” ucap Molly pelan.
“Hah, baiklah. Tapi kamu harus janji dulu!” pinta Kevin dengan raut serius, yang membuat Molly terdiam dan menunggu sejenak.
“Jangan temui Brad lagi!” nasihat Kevin dengan nada tegas. Molly mengangguk patuh. Ia tidak ingin menerima perlakuan yang tidak menyenangkan lagi dari pria tua itu.
“Dan, satu lagi!” lanjut Kevin cepat, “kamu harus menemui Cliff dan meminta pertolongan padanya.”
“Tapi, Kev—“
“Tidak ada ‘tapi’!” sela Kevin memotong penolakan Molly.
“Aku akan mencari cara agar kamu bisa berbicara dengannya secara private,” lanjut Kevin yang mengerti betapa pemalunya Molly. Akhirnya, dengan terpaksa Molly mengangguk patuh meskipun sejujurnya ia enggan untuk kembali menatap wajah dingin bak vampir yang siap mengisap darahnya di saat ia lengah.
*****
Molly berdiri di samping meja bar, sedang menunggu pesanan pelanggan yang duduk di dekat pintu masuk. Dua orang tersebut berbincang dengan raut kaku sembari sesekali melirik ke arahnya. Entah mengapa Molly merasakan ada yang aneh dengan mereka, tetapi ia berusaha untuk tetap melayani dua pria itu seperti pelanggan yang lain.
Hari ini, Molly mendapatkan shift ketiga, dan sudah dipastikan ia akan pulang larut malam. Setelah teguran Kevin tadi pagi, sikap pria itu terlihat sedikit berubah saat Molly tiba di kafe. Molly tahu, semua ini pasti berhubungan dengan Cindy. Wanita itu keluar dari tempat Kevin setelah pertengkaran kecil yang terjadi sebelum pria itu berangkat ke kafe pukul 10.30. Molly tak sengaja mendengar Cindy membanting pintu keras-keras saat ia baru saja keluar dari apartemen, berniat untuk bertukar pikiran dengan Kevin. Tak ingin menjadi sasaran empuk pelampiasan amarah Cindy, Molly pun bergegas kembali masuk ke apartemen, dan melanjutkan bacaannya yang terhenti sejenak.
Saat Molly tiba di kafe pukul 14.15, Kevin tidak menyapanya seperti biasa. Pria itu tampak murung, dan sesekali terpaku menatap layar ponsel. Molly merasa bersalah atas pertengkaran yang terjadi antara Kevin dan Cindy. Ia tahu, wanita itu pasti cemburu—untuk yang ke sekian kali—kepada dirinya.
Dan saat ini, Kevin terlihat sibuk mencatat sesuatu di buku kerja, sebelum akhirnya pria itu memutuskan menghilang ke balik pintu dapur. Barista, yang meletakkan minuman pesanan pelanggannya, membuat Molly mengalihkan pandangan dari pintu. Ia pun bergegas menyajikan minuman tersebut, berniat menghampiri Kevin dan menanyakan keadaannya.
Setelah meletakkan dua cangkir kopi panas di meja pelanggan misterius, Molly pun bergegas berbalik menuju pintu dapur. Dengan raut bingung, barista melemparkan tatapan penasaran padanya. Molly mengangguk meminta ijin seraya mengucapkan ‘aku ke belakang sebentar’ hanya dengan gerakan bibir. Pria itu pun mengangguk mengerti, lalu kembali meracik minuman.
Saat tiba di ruang dapur, mata Molly langsung tertuju pada Kevin yang melangkah menuju pintu ruang karyawan. Ia segera mengejar pria itu melewati beberapa koki andalan kafe yang sedang sibuk memasak. Molly membuka pintu dan menemukan Kevin yang sedang duduk di kursi panjang berbahan kayu. Pria itu tampak sedang mengetik sesuatu di layar ponsel dengan raut murung. Molly segera menghampiri, lalu duduk tepat di samping Kevin dengan harapan agar pria itu mau berbicara dengannya.
“Kalian bertengkar karena aku, ya?” ungkap Molly langsung tanpa basa-basi. Kevin mengangkat pandangan dari layar ponsel, lalu menatap datar Molly.
“Maafkan aku, Kev,” ucap Molly cepat saat Kevin memilih untuk tetap diam, “aku tahu …, dia pasti cemburu lagi, ya? Aku akan bicara dan menjelaskan padanya kalau itu bisa membantu hubungan kalian.”
“Tidak perlu, Ly. Dia memang selalu begitu,” sahut Kevin lemah, lalu kembali berkutat dengan ponsel.
“Aku bisa menjaga jarak denganmu kalau itu bisa memperbaiki hubungan kalian. Aku tahu bagaimana perasaanmu padanya. Aku akan berusaha menjauh dari kalian kalau itu yang terbaik, Kev,” usul Molly sedih karena sesungguhnya ia enggan menjaga jarak dengan satu-satunya orang yang sangat perhatian padanya. Satu-satunya orang yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.
“Aku sangat mencintainya, Ly,” ungkap Kevin pilu. Raut sedih Kevin membuat Molly semakin merasa bersalah. Molly tahu seberapa besar rasa cemburu Cindy terhadap dirinya, tetapi ia juga tak bisa melarang Kevin untuk tidak mendekati dirinya karena hanya Kevin yang ia miliki saat ini. Namun, jika menjaga jarak dan menjauh dari Kevin bisa memperbaiki hubungan pria itu dengan Cindy, maka Molly akan melakukannya. Ia akan melakukan apa pun untuk membuat Kevin kembali ceria seperti biasa. Apa pun!
“Aku tidak mengerti kenapa dia tidak mau percaya kalau kita tidak memiliki hubungan lebih selain teman. Aku sudah menjelaskan padanya kalau aku hanya menganggapmu sebagai adik, tidak lebih. Tapi dia selalu cemburu!” keluh Kevin tampak frustrasi.
“Aku mengerti perasaan Cindy, Kev. Dia bersikap seperti itu karena dia takut kehilangan kamu,” ujar Molly lembut, berusaha menenangkan perasaan Kevin.
“I know!” sahut Kevin dengan raut sedikit kesal, “tapi kecemburuannya padamu benar-benar tidak masuk akal!”
“Kita tidak tahu seperti apa penilaian dia terhadap diriku. Jadi, kita tidak bisa memaksa dia untuk menyukaiku, Kev,” jelas Molly berusaha membela Cindy agar Kevin mau mengerti.
“Hanya orang aneh yang tidak menyukaimu, Ly! Kamu itu orang yang paling baik dan tulus yang pernah kukenal. Kenapa dia bisa tidak menyukaimu?” ungkap Kevin bingung. Mendengar pujian itu, Molly merasa sangat tersanjung.
“Mungkin karena dia pikir kamu terlalu perhatian padaku,” jawab Molly, berusaha mengerti perasaan Cindy. Sejujurnya, Molly sedih karena harus merelakan perhatian Kevin berkurang padanya. Namun setidaknya, hanya itu alasan yang tepat untuk menyadarkan Kevin bahwa pria itu harus lebih memperhatikan perasaan Cindy ketimbang dirinya.
“Kamu sebatang kara, sama seperti aku. Lalu, kenapa aku tidak boleh memperhatikan kamu yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri?” sanggah Kevin, yang tampaknya masih belum bisa mengerti jalan pikiran seorang wanita.
“Karena tidak ada seorang wanita pun di dunia ini yang mau kekasihnya memperhatikan wanita lain, Kev,” jelas Molly tenang. Kevin terdiam sejenak, mencerna ucapannya.
“Hah! Dia memang aneh. Aku selalu tidak mengerti jalan pikirannya!” keluh Kevin frustrasi, belum bisa menerima penjelasan Molly.
“Tapi kamu mencintainya, ‘kan?” goda Molly diiringi senyum simpul.
“Ya, aku sangat mencintainya. Dan, semua ini terasa menyebalkan! Bertengkar dengannya benar-benar merusak hariku, kalau kamu mau tahu, Ly,” ungkap Kevin jujur disusul dengan geraman kesal.
“I know,” timpal Molly lembut.
Mereka pun terdiam sesaat, bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Molly menunggu sembari terus memperhatikan raut wajah Kevin yang masih terlihat murung. Tiba-tiba, ponsel Kevin berdering. Nama Cindy tertera di layar.
Secepat kilat Kevin beranjak dari tempatnya, lalu melangkah menjauh dan berbicara dengan Cindy, terlihat seperti berusaha agar pembicaraan itu tidak terdengar olehnya. Molly menunggu sembari menatap punggung bidang Kevin yang sedang membelakanginya saat ini. Pria itu berbicara selama beberapa saat sebelum akhirnya berbalik dengan sedikit perubahan di raut wajahnya. Molly beranjak dari kursi kayu, lalu menghampiri Kevin.
“Kalian sudah berbaikan?” tanya Molly cepat, penasaran.
“Belum,” jawab Kevin cepat, “tapi setidaknya … dia sudah mau berbicara denganku. Dan, nanti malam dia minta aku untuk tidak ….”
“Apa?” tanya Molly cepat.
“Maafkan aku, Ly. Mungkin selama seminggu atau dua minggu ini aku akan jarang berkunjung ke tempatmu. Dia sepertinya benar-benar … marah,” ungkap Kevin dengan raut menyesal.
Dada Molly terasa seperti diperas mendengar ucapan itu. Membayangkan Kevin harus menjauh darinya, membuat Molly merasa sendirian dan kesepian. Namun mau tidak mau, ia harus menerima permintaan itu agar Kevin bisa berbaikan dengan Cindy. Lagi pula, inilah yang ia usulkan sebelumnya. Menjaga jarak dari Kevin. Meskipun sesungguhnya, Molly masih belum siap menghadapi kasus mama yang penuh teka-teki ini sendirian.
“Aku mengerti, Kev,” ujar Molly pelan, berusaha menunjukkan bahwa ia mampu memahami kondisi pria itu. Moly mengusap lengan Kevin dengan usapan kasih sayang, lalu menyunggingkan senyum hangat.
“Kurasa mood-mu sudah sedikit membaik. Jadi, sebaiknya aku kembali ke dalam dan melanjutkan tugasku,” ucap Molly sebelum berbalik menuju pintu keluar.
“Wait! Aku punya sesuatu untukmu,” ucap Kevin tiba-tiba, mencegah kepergian Molly.
“Apa?” tanya Molly singkat, sementara Kevin berjalan mendekat.
“Ini,” ucap Kevin seraya menyerahkan selembar kertas yang terlipat rapi. Molly menerima kertas tersebut lalu membukanya.
“Alamat siapa ini?” tanya Molly cepat.
“Alamat tempat tinggal Cliff,” jawab Kevin tenang, “aku tahu kalau kamu malu untuk berbicara dengannya di tempat umum, jadi kupikir kamu bisa datang ke rumahnya untuk membicarakan masalah penyelidikan itu secara pribadi. Hanya ini salah satu cara terbaik menurutku. Atau … kalau kamu punya keberanian sedikit saja, kamu bisa menemuinya hari Senin di lantai 10.”
“Ke rumahnya?” ulang Molly tak percaya akan saran gila itu.
“Iya, ke rumahnya. Di sana kamu bisa mengutarakan permasalahanmu tanpa harus merasa malu atau sungkan,” jelas Kevin santai, seakan mengunjungi rumah orang asing merupakan hal yang sering Molly lakukan. Molly tidak menyangka kalau Kevin memiliki ide gila seperti ini. Jangankan mengunjungi rumah Cliff, melayani pria itu di kafe saja sudah membuat Molly ketakutan. Bahkan ia yakin kalau dirinya tak akan sanggup mengutarakan permasalahannya pada Cliff. Menerima tatapan sinis dan tajam oleh pria itu saja sudah membuat Molly membeku bak es.
Molly menatap alamat yang tertera di kertas dengan perasaan ragu dan bimbang. Ia menyadari bahwa kembali ke kantor polisi dan meminta Brad untuk melanjutkan penyelidikan tanpa didampingi pengacara, sama saja seperti memancing di kolam yang kosong. Bahkan, kemungkinan besar pria tua itu akan semakin melecehkannya.
Ia pun tahu, mungkin dengan pesona dan nama besar Cliff, pihak kepolisian akan segan dan memilih untuk melanjutkan penyelidikan. Bahkan kemungkinan besar, ia bisa segera mengetahui dan menangkap orang yang sudah membunuh mama, tetapi … Molly takut. Sangat takut.
“Hanya ini jalannya, Ly,” nasihat Kevin seraya menepuk pundak Molly bak seorang kakak yang sedang menasihati adiknya. Molly hanya bisa mengangguk lemah, tetapi bukan berarti ia setuju untuk menemui Cliff.
Tanpa banyak bicara, Molly memasukkan alamat itu ke saku seragam kerjanya, lalu menghela napas panjang. Ia menatap wajah Kevin yang terlihat sedikit lebih tenang setelah menerima telepon dari Cindy. Dan seketika itu pula, Molly sadar. Mulai saat ini, ia harus menghadapi semuanya sendirian. Ia tidak bisa mengandalkan Kevin lagi.
“Maafkan aku, Ly. Meskipun dua minggu ke depan kita tidak bisa berbicara santai di apartemen. Tapi setidaknya, kita masih bisa bersikap seperti biasanya di sini,” ungkap Kevin dengan raut bersalah.
“Tidak apa-apa, Kev. Aku mengerti,” balas Molly diiringi senyum hangat. Ia tahu, inilah yang terbaik untuk hubungan Kevin dan Cindy. Mulai saat ini, ia harus bisa mengambil keputusan sendiri. Dan semoga saja, keputusannya itu tidak salah.
*****
BAB 7
Suasana hati Kevin tampaknya sudah kembali seperti sedia kala. Senyum dan canda yang menghiasi wajah tampan itu membuat Molly lebih bersemangat. Ia pun berusaha mengesampingkan sejenak masalah penyelidikan dan rencananya untuk berbicara dengan Cliff.
Senyum hangat terus menghiasi wajah Molly yang merona ceria saat melayani para pelanggan. Tempat itu pun semakin dipenuhi oleh pengunjung seiring berjalannya waktu. Dua pria misterius yang duduk sedari tadi di salah satu meja di dekat pintu, tampaknya belum berniat untuk meninggalkan kafe. Namun, ramainya pengunjung kafe membuat Molly tak menyadari bahwa akan ada hal buruk yang menimpanya di kemudian hari.
Tepat pukul 17.00, pintu kafe pun terbuka. Molly, yang baru saja meletakkan kopi di salah satu meja yang berada tak jauh dari pintu masuk, segera berbalik dan berniat kembali ke meja bar. Namun, kemunculan seorang pria bertubuh tinggi dan tegap yang begitu tiba-tiba, membuat Molly terkejut bukan main.
Ia hampir saja menabrak pria itu. Namun, saat berusaha menghindar, kaki Molly yang tidak memijak dengan benar, membuatnya hampir terjatuh menimpa meja pelanggan. Dengan cekatan, tangan kekar dan kuat itu melingkar di pinggang Molly dan menangkapnya dalam satu tarikan.
Sedetik kemudian, Molly sudah berada dalam dekapan hangat si pria berwajah kaku dan dingin bak vampir. Pria yang membuatnya takut setengah mati. Dan sialnya, pria itu sedang menatapnya tajam sambil mengerut kesal diiringi gemeretak gigi yang kuat hingga terdengar jelas di telinga Molly. Cliff.
“M-maafkan … sa—“
Permintaan maaf Molly terhenti begitu saja karena Cliff segera melepaskan pelukan, seakan-akan dirinya merupakan wabah penyakit yang harus dijauhi. Tanpa bicara sedikit pun, Cliff melangkah menjauh darinya. Cliff tidak menoleh ataupun melirik pada Molly. Bahkan, pria itu tampak tak peduli dengan beberapa pasang mata yang menyaksikan kejadian tadi.
Rona merah mewarnai wajah Molly. Rasa malu pun menyergapnya hingga ia berharap tenggelam di telan Bumi dan tak berniat untuk muncul kembali. Molly langsung tertunduk malu. Ia bisa merasakan tatapan penasaran yang tertuju padanya. Akhirnya, ia memutuskan untuk beranjak dari sana, lalu melangkah menuju pintu dapur, berniat menenangkan dirinya di ruang karyawan. Kevin, yang memperhatikan kejadian tersebut, segera menghampiri Molly.
“What are you doing here?” tanya Kevin dengan raut bingung saat muncul dari balik pintu.
“Sembunyi,” jawab Molly jujur dan cepat.
“Karena?” tanya Kevin menuntut penjelasan.
“Takut,” jawab Molly singkat, “can you see?”
Molly mengangkat kedua tangannya yang gemetar hebat akibat perpaduan sempurna dari rasa takut dan malu. Kevin menghela napas lelah menanggapi jawaban Molly. Pria itu menghampirinya, lalu berdiri tepat di hadapan Molly yang duduk di kursi panjang seraya bersandar di dinding.
“Kamu harus segera masuk, Ly. Aku sudah memberitahu para pramusaji yang lain bahwa Cliff hanya boleh dilayani olehmu. Jadi, jangan buat dia menunggu. Hal itu bisa berakibat buruk terhadap nama baik kafe, Ly,” tegur Kevin seraya melipat tangan di depan dada.
“Oh, ayolah, Kev! Yang benar saja! Kamu tahu aku bisa mati berdiri kalau masih harus melayaninya sekarang. Apa kamu tidak lihat bagaimana reaksinya tadi?” keluh Molly sambil memasang raut memelas, berharap sahabatnya itu mau mengerti kondisinya.
“Kamu harus berani, Ly!” bujuk Kevin seraya melunakkan nada bicaranya, “setidaknya kamu bisa menggunakan kesempatan ini untuk melatih keberanianmu.”
Molly tahu, Kevin bermaksud baik dengan menyuruhnya seperti itu. Namun di sisi lain, Molly sadar sebesar apa keberanian dalam dirinya. Berbicara dengan Cliff setelah kejadian tadi, sama saja menawarkan diri secara sukarela untuk masuk ke dalam mulut buaya. Molly tertunduk, berusaha menenangkan diri seraya menghapus rona merah di wajahnya.
“Maafkan aku, Ly,” ucap Kevin sembari berjongkok di hadapan Molly sambil memasang raut bersalah, “aku tahu kalau kamu tidak berani untuk berbicara dengannya, tapi aku hanya bisa membantumu di sini. Kamu tahu kalau dua minggu ke depan aku akan jarang berkunjung ke tempatmu dan membicarakan masalah penyelidikan ini. Aku tidak mau kamu semakin tertekan dan sakit. I care about you, Ly.”
Molly menghela napas sedih mendengar betapa Kevin sangat memperhatikan dirinya. Kevin berharap ia bisa lebih berani, lebih kuat, dan lebih tangguh. Ia mengerti mengerti itu, tetapi … berbicara dengan Cliff? Sampai kapan pun Molly yakin kalau ia tidak akan pernah berani.
“Aku melakukan ini untuk kebaikanmu, Ly. Kuharap kamu bisa mengerti,” ungkap Kevin penuh perhatian. Molly memeluk tubuhnya sendiri sembari menarik napas dalam-dalam, berharap debaran jantungnya yang sangat cepat bisa mereda.
“5 menit,” sahut Molly akhirnya, “beri aku 5 menit untuk menenangkan diri, Kev. Setelah itu, aku akan kembali ke kafe.”
“1 menit. Kita tidak bisa membuat pelanggan menunggu terlalu lama, Ly. Aku juga tidak mau kamu mendapatkan surat peringatan dari pihak manajer. Kamu tahu, ada banyak mata yang memperhatikanmu. Kita tidak tahu mana yang benar-benar baik sama kita. Mungkin saja ada yang berniat buruk padamu, lalu diam-diam melaporkan kinerjamu pada pihak manajer. Kuharap kamu mengerti mengapa aku harus bersikap tegas kali ini, Ly,” ungkap Kevin seraya menasihatinya, lalu berdiri dari posisi jongkok. Molly mengerti posisi Kevin, dan ia tidak ingin pria itu mendapat teguran hanya karena melindunginya.
“3 menit, please!” mohon Molly lagi, kali ini sembari mengatupkan kedua tangan ke depan wajahnya, tanda memohon.
“2 menit. Aku tidak bisa memberikan kelonggaran lebih dari itu. Maafkan aku, Ly,” balas Kevin dengan raut tidak tega, “oh, dan jangan lupa rapikan riasanmu.”
Molly mengangguk pasrah menyetujui perintah Kevin sebelum akhirnya pria itu beranjak dari hadapannya dan menghilang di balik pintu. Molly menghela napas frustrasi. Ia tahu, ia membutuhkan Cliff untuk menyelesaikan masalahnya. Namun, kejadian tadi membuktikan bahwa dirinya tak akan pernah sanggup meminta pria itu untuk menjadi pengacaranya. Bahkan saat menyadari bahwa Cliff-lah yang menyelamatkan dirinya, rasa takut langsung menyelimuti tubuhnya dalam sekejap.
Oh, Tuhan! Apa yang harus aku lakukan? Mana yang lebih baik? Datang ke rumah Cliff dan membicarakan masalah ini empat mata, atau mengutarakannya di sini? Berduaan saja dengan Cliff sudah pasti bukan pilihan terbaik, karena belum tentu aku berani. Tapi kalau di kafe … banyak orang di sini. Lagi pula, ada Kevin yang bisa menjagaku jika terjadi sesuatu yang buruk. Mungkin ada beberapa pasang mata yang penasaran dengan percakapan kami, tapi setidaknya aku tidak sendirian. Aku tidak akan berani berbicara berduaan saja dengan seorang pria. Tidak, jika pria itu adalah Cliff. Aku tidak akan pernah berani.
*****
Cliff duduk di tempat favoritnya, sebuah meja yang berada di bagian pojok ruangan berbentuk persegi panjang dengan interior yang didominasi warna hitam dan cokelat tua. Ia tahu, tak ada seorang pun yang memilih untuk duduk di sudut ruangan seperti dirinya. Kebanyakan orang akan memilih duduk di dekat dinding kaca yang mengarah langsung ke trotoar, di mana orang-orang yang lalu lalang bisa melihat keberadaan mereka. Tipe manusia yang haus akan perhatian dan pujian.
Sebagian orang juga akan memilih untuk duduk di tengah-tengah ruangan, atau di dekat sekumpulan orang yang terlihat menarik bagi mereka. Tempat di mana orang berharap agar ada yang menyadari keberadaan mereka demi mendapatkan peluang menjalin hubungan percintaan sesaat yang panas, atau setidaknya mencari selingan ringan di tengah jenuhnya pekerjaan.
Berbeda dengan dirinya yang lebih memilih untuk menjauhi hal-hal membosankan seperti itu. Cliff merasa nyaman duduk di sini. Jauh dari keramaian dan tatapan menyelidik yang membuatnya gerah. Cliff lebih senang jika tak seorang pun menyadari keberadaannya, membuatnya aman dan tenang.
Tak seorang pun tertarik duduk di samping mejanya kecuali kafe sedang dipenuhi oleh pelanggan. Namun, kebanyakan dari para pengunjung akan memilih tempat-tempat terbuka demi terlihat keren dan sibuk. Sementara dirinya …, ia tidak butuh semua itu.
Cliff tidak butuh perhatian, percintaan yang panas, bahkan curahan kasih sayang, karena baginya semua itu hanyalah kenyamanan sesaat. Cliff meyakini bahwa keberadaan cinta hanya bisa merusak dunianya. Cinta yang begitu diagung-agungkan setiap manusia hanyalah tipu muslihat yang digunakan demi menjajah kebebasan dan kemandirian seseorang. Cinta layaknya benalu yang membuat si empunya tubuh merasa tak akan pernah puas dan terus menerus mencari cara untuk memenuhi kebutuhannya akan kasih sayang dan perhatian.
Ia tidak menginginkan semua itu. Ia bahkan tidak mengizinkan siapa pun masuk dan menghancurkan kedamaian hidupnya. Ia adalah nakhoda bagi bahtera kehidupannya sendiri. Tak akan ia biarkan siapa pun mengambil kendali atas dirinya.
Cliff berusaha untuk tetap hidup dalam kotak kehidupan yang sudah ia bangun sejak kejadian naas itu. Kotak perlindungan yang menjauhkan orang-orang dari dunianya yang kelam, atau lebih tepatnya dari kegilaan yang terkandung di setiap butir sel darahnya.
Namun, kejadian tadi seakan berusaha meruntuhkan kotak perlindungannya. Cliff benar-benar tidak menyangka bahwa tubuhnya akan bereaksi segila ini setelah merasakan tubuh wanita itu dalam dekapannya. Perasaan hangat yang menyelimutinya semenjak menyelamatkan Molly, membuatnya sulit mengusir sensasi dan aroma tubuh wanita itu dari setiap sel saraf di tubuhnya.
Indra penciumannya menangkap dan menyimpan aroma Molly bak morfin yang menguasai setiap sel jaringan otaknya. Sensasi saat ia melingkarkan pelukan di tubuh Molly bak sengatan listrik yang membuat jantungnya berdebar cepat seratus kali lipat. Bahkan, darahnya yang berdesir cepat, membuatnya mampu melakukan seratus pembunuhan dalam semalam.
Mata Cliff menatap lurus kursi kosong yang ada di seberangnya, sementara pikirannya tertuju pada kejadian tadi. Cliff merasakan ketegangan yang begitu intens dalam dirinya. Ia tidak pernah mengharapkan gairah liar itu menguasainya sekarang. Karena, ini bukanlah tempat dan waktu yang tepat. Tak ada yang boleh mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya, tetapi gairah ini semakin lama terasa semakin menggila.
Gairah liar yang menggebu-gebu, membuat Cliff sulit mengendalikan kewarasannya. Gairah ini melebihi perasaan gembira yang menyelimuti dirinya setiap kali menyaksikan korbannya meregang nyawa di hadapannya. Gairah ini … membuat Cliff ingin menarik pisau andalannya, lalu membelai ujung tajamnya di kulit mulus itu hingga menimbulkan jejak merah yang indah.
Pikirannya bahkan mampu menggambarkan dengan jelas bagaimana tubuh wanita itu tergeletak pasrah di bawah belaian pisaunya. Namun, bukan untuk dibunuh ataupun disiksa, tetapi untuk melihat sekontras apa pisau itu bersanding dengan kulit Molly. Dan Cliff yakin seratus persen bahwa pisau andalannya tampak sempurna melekat di tubuh wanita itu.
Ini gila! Benar-benar gila! Dan Cliff tidak mampu mengusir khayalan tingkat tinggi yang saat ini mengisi kepalanya. Baru kali ini Cliff merasa hilang kendali bukan hanya pada isi kepalanya, tetapi juga pada debaran jantungnya. Baru kali ini juga Cliff merasakan darahnya meletup-letup seperti darah korban yang mendidih ketika ia masukkan ke dalam resomator.
Sudut mata Cliff menangkap pergerakan seorang wanita yang berjalan menghampiri mejanya. Cliff mengangkat tatapannya, lalu mengunci pergerakan Molly yang terlihat begitu kaku dan gugup. Indra penciumannya menyerap aroma wanita itu layaknya stimulan yang membuat sisi liarnya semakin menggila.
Cliff mengepal erat kedua tangannya, berusaha keras menahan keinginan untuk menarik wanita itu dan merealisasikan isi pikirannya saat ini. Bibir merah merekah itu membuat Cliff membayangkan merah darah kesukaannya. Ia pun bertanya-tanya, apakah aroma darah Molly semenyenangkan aroma tubuhnya?
Wanita itu akhirnya berhenti tepat di samping mejanya. Cliff hanya melirik tanpa menoleh sedikit pun, sementara ia bersusah payah menelan air liur saat menghirup aroma tubuh Molly yang begitu menggoda. Tak ada yang tahu sekeras apa ia berusaha menahan dorongan gila dalam dirinya.
“Mau pesan apa, Sir?” tanya Molly serak dan kaku. Pertanyaan yang selalu diucapkan oleh para pramusaji, sementara mereka semua tahu bahwa ia hanya meminta pesanan yang sama setiap harinya.
“Satu kopi hitam, tanpa gula, tanpa krim, dan satu porsi beef lasagna,” jawab Cliff datar dan sedikit serak akibat gelenyar liar yang mulai menjalar menutupi sekujur tubuhnya.
Sama seperti kemarin, Molly tidak langsung beranjak setelah mencatat pesanannya. Ia tidak mengerti mengapa Molly bersikap seperti itu, sementara Cliff tahu kalau wanita itu merasa gugup, malu, bahkan ketakutan setiap kali berada di dekatnya. Akhirnya, Cliff menoleh dan menatap Molly sembari memicingkan mata, berusaha menunjukkan bahwa ia tidak menyukai keberadaan wanita itu di dekatnya. Namun, ia malah menangkap gelagat yang menunjukkan bahwa wanita itu ingin mengatakan sesuatu.
“Kenapa?” tanya Cliff dingin dan sinis disertai kerutan kesal di keningnya.
“Emm, begini … maksud saya, ada yang ingin saya bicarakan … emmm, Anda seorang pengacara, ‘kan? Dan saya … bisakah saya … maaf, maksud saya—“
“Saya tidak membahas pekerjaan di sini!” tegas Cliff berharap bisa segera mengusir Molly dari hadapannya.
“B-baik, Sir,” jawab Molly kaku, lalu berbalik dan melangkah menjauh darinya. Tatapan tajam Cliff mengikuti kepergian Molly sambil terus menahan dinding-dinding perlindungannya agar tidak rubuh hanya karena aroma tubuh wanita itu.
Ya, aroma tubuh Molly. Ia yakin sekali kalau aroma menyenangkan itu bukanlah aroma parfum atau wewangian yang Molly gunakan. Cliff bisa mencium aroma tubuh Molly dengan sangat jelas. Aroma tubuh yang mampu membuat sisi liar dalam dirinya semakin tak terkendali.
*****
BAB 8
Molly pikir, banyaknya orang di tempat ini setidaknya mampu mengurangi rasa takutnya terhadap Cliff, tetapi ia salah. Tatapan Cliff seakan menyedot seluruh keberanian dalam tubuhnya. Oh, Tuhan! Di sini saja aku takut, apalagi kalau bicara empat mata. Haruskah aku meminta bantuan padanya? batin Molly frustrasi seraya menjauh dari pria itu.
Ia meletakkan kertas pesanan di meja bar yang langsung diambil oleh barista kafe. Molly memejamkan mata sembari menarik napas panjang beberapa kali, berusaha menenangkan diri. Ia bahkan bisa merasakan tubuhnya kembali gemetaran karena takut, bahkan tangan dan kakinya terasa sedingin es.
“Bagaimana? Kamu berhasil bicara dengannya?” tanya Kevin cepat dengan raut penasaran. Baru saja ia berhasil menekan rasa takutnya, walaupun sedikit, rasa itu malah kembali merajai tubuhnya. Pertanyaan Kevin berhasil membuat jantungnya kembali berdebar cepat, memompa rasa takut itu semakin besar hingga membuat napasnya sesak. Molly hanya mampu menjawab dengan gelengan lemah seraya memasang raut memelas.
“Apa kamu mau aku temani, atau … bagaimana kalau aku saja yang bicara dengannya?” tawar Kevin yang terlihat khawatir dengan kondisinya.
“T-tidak, Kev. Tidak perlu … d-dia bilang kalau dia t-tidak pernah membicarakan pekerjaan di sini,” jelas Molly sedikit gelagapan. Ia terus mencoba menenangkan diri. Namun, setiap kali menoleh ke arah Cliff, seketika itu pula rasa takut semakin merajai tubuhnya.
“Jadi … kamu pilih yang mana?” tanya Kevin pelan sembari berpura-pura menulis sesuatu di atas buku kerjanya agar tampak seperti sedang mencatat sesuatu.
“I don’t know, Kev,” jawab Molly jujur bercampur rasa putus asa.
“Pilihanmu hanya dua, Ly. Berkunjung ke kantornya hari Senin atau ke rumahnya,” ucap Kevin menjabarkan pilihan yang sudah ia ketahui dengan sangat jelas. Molly tertunduk lemah. Ia benar-benar tidak berani mengambil keputusan saat ini. Jangankan harus memilih yang mana, memikirkan harus berjalan kembali ke tempat Cliff dan menyajikan pesanannya saja sudah membuat Molly mual bukan kepalang.
“Kalau kamu mau ke kantornya hari Senin, kamu bisa ambil off dari sekarang. Tapi, kalau kamu pilih untuk ke rumahnya, kurasa hari Sabtu adalah waktu yang tepat. Jadi, aku bisa segera mencari penggantimu buat besok,” saran Kevin tak menyadari seberapa menakutkannya pilihan tersebut. Mendengar saran gila itu, Molly langsung menoleh dengan mata terbelalak.
“B-besok? Kamu tidak salah?” balas Molly ketakutan.
“Lebih cepat lebih baik, Ly,” saran Kevin serius seraya menatapnya, “semakin lama kamu meminta bantuannya, maka semakin lama juga kamu menemukan si pembunuh itu.”
Kevin memang benar. Tak ada satu pun dari kata-kata Kevin yang salah. Masalahnya, Molly tidak berani. Menemukan si pembunuh adalah tujuan utama Molly saat ini. Namun … jika meminta bantuan pada Cliff saja ia tidak berani, bagaimana jadinya kalau nanti ia harus berhadapan langsung dengan si pembunuh? Apakah ia sanggup menatap dan menuntut si pembunuh? Atau, ia malah kabur sejauh mungkin demi mencari tempat perlindungan teraman untuk bersembunyi?
“Molly!” tegur Kevin lembut.
“I know, Kev. I know,” sahut Molly frustrasi seraya menghela napasnya yang terasa berat, “beri aku waktu untuk menimbangnya. A-aku akan memberitahumu sebelum kamu pulang.”
“Baiklah. Itu artinya … 3 jam lagi dari sekarang,” saut Kevin setelah menatap arloji di pergelangan tangannya. Molly mengangguk lemah, lalu mengambil secangkir kopi hitam, kemudian menuju meja saji dan menunggu di sana hingga seporsi beef lasagna diletakkan di hadapannya.
Ia pun berbalik, lalu menatap Cliff dari kejauhan. Jantungnya berdebar cepat, bahkan Molly yakin jantungnya akan meledak dalam sekejap. Akhirnya, ia menarik napas panjang sebelum memutuskan untuk melangkah menuju meja Cliff. Aku harus berani. Harus!
*****
Aroma tubuh yang begitu harum dan menggoda indra penciumannya, kembali membuat tubuh Cliff menegang kaku. Ia menangkap pergerakan di sudut matanya dan menemukan keberadaan Molly. Matanya mengunci pergerakan wanita itu dengan tatapan tajam dan raut geram. Cliff mencoba untuk bernapas secara teratur, berharap gairah aneh dalam dirinya tidak menggulung akal sehatnya.
Kali ini, Molly membawa dua pesanannya sekaligus. Saat tiba di samping mejanya, Cliff melirik diam-diam, memperhatikan tingkah laku wanita itu. Kegugupan terasa begitu kental saat Molly berniat meletakkan cangkir kopi ke meja. Tangan Molly yang gemetar ketakutan membuat cangkir tersebut hampir tergelincir dari tatakannya.
Dengan sigap, Cliff menangkap tatakan cangkir tanpa menoleh sedikit pun ke arah Molly. Ia menggemeretakkan gigi, menahan letupan aneh dalam diri yang membuat tubuhnya memanas seketika. Cliff meletakkan cangkir dengan tenang, seakan tak ada yang mampu mengusik ketenangan jiwanya. Namun, tidak ada yang tahu bahwa saat ini jiwanya terguncang hebat bak kapal yang terombang-ambing di tengah lautan.
Molly tampak bergegas ingin meletakkan sepiring beef lasagna. Namun saat wanita itu baru saja mengangkat piring dari nampan, Cliff segera mencengkeram pergelangan tangan Molly. Ia berniat menghentikan getaran di tangan Molly, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Kehangatan tubuh Molly merayap bak aliran listrik yang menyetrum setiap sel darah di tubuhnya. Kehangatan itu membuat darahnya berdesir cepat, beraksi menggila hingga gairah liar yang sudah hampir tenang, kembali bergejolak.
Cliff segera melepaskan cengkeramannya, lalu menatap Molly yang tampak terkejut dengan kelakuannya. Akhirnya, Molly meletakkan piring tersebut di meja, lalu menyunggingkan senyum kaku, berusaha terlihat ramah.
“Wait!” cegah Cliff saat Molly berniat beranjak dari sisi mejanya. Ia bisa melihat betapa kaku tubuh Molly saat mendengar suaranya yang dalam dan tegas.
“Y-ya. A-apa Anda ingin memesan yang lain?” tanya Molly formal, tak berani menatapnya sedikit pun. Rasa penasaran bercampur gejolak liar dalam tubuhnya, menyelimuti Cliff semenjak Molly melontarkan pertanyaan tergagap yang pernah ia dengar.
Ia bisa mengetahui bahwa wanita itu sedang diselimuti masalah berat dan membutuhkan bantuan seorang pengacara. Namun, sisi lain dari dirinya memaksa Cliff untuk mengabaikan hal tersebut dan berusaha mencari cara agar wanita itu tidak kembali berkeliaran di hadapannya. Meskipun kecil kemungkinannya, tetapi Cliff yakin kalau ini adalah cara yang tepat untuk menjauhkan Molly agar ia bisa menikmati waktu tenangnya.
Cliff segera mengeluarkan dompet dari saku celana. Ia menarik beberapa lembar uang, lalu meletakkannya di nampan Molly. Wanita itu terlihat bingung, yang membuat Cliff semakin menggemeretakkan gigi.
“Saya bayar sekarang, sisanya untukmu,” jelas Cliff tipis, menjawab kerutan penuh tanya di kening Molly. Wanita itu menghitung lembaran uangnya, lalu kembali menatap Cliff dengan mata terbelalak lebar. Cliff yakin, mata cokelat terang itu mampu menghipnotis siapa pun yang menatapnya.
“S-sungguh? I-ini … apakah ini tidak berlebihan?” tanya Molly kaget dengan suara terhalus yang pernah menyapa telinga Cliff. Suara itu merasuk ke dalam sebuah ruang tersembunyi di hatinya yang selama ini tak berpenghuni hingga membuat jantung Cliff terasa seperti terhenti sesaat.
Dengan susah payah, Cliff menganggukkan kepala, lalu mengalihkan pandangannya ke cangkir kopi. Ia mengangkat cangkir tersebut dan menghirup aromanya dalam-dalam, berharap aroma kopi mampu menghalau aroma tubuh Molly dari indra penciumannya. Namun, saat aroma tersebut tetap kalah dengan aroma tubuh Molly, Cliff pun segera menoleh. Ternyata, wanita itu masih belum beranjak dari mejanya.
“Masih kurang?” tanya Cliff dingin dan sinis, terusik dengan keberadaan Molly yang begitu mendominasi indra penciumannya. Molly pun menangguk kaku tanda permisi, sebelum beranjak dari hadapannya.
Sial! Kenapa kehadiran wanita itu membuatku semakin tidak tenang? batin Cliff saat menatap kepergian Molly. Ia pun memutuskan untuk menghirup aroma kopi sekali lagi. Perasaan lega akhirnya menyelimuti Cliff karena aroma kopi mulai memenuhi penciumannya. Bukan lagi aroma tubuh Molly yang begitu menggoda dan terasa lezat.
*****
Waktu menunjukkan pukul 00.15 saat Molly melangkah keluar dari kafe bersamaan dengan beberapa karyawan. Molly berjalan di trotoar bersama Laura, salah seorang pramusaji kafe. Tujuan mereka berdua sama, Town Hall.
Biasanya, Laura dijemput oleh tunangannya, tetapi malam ini pria itu sedang berada di luar kota. Keuntungan memiliki teman seperjalanan adalah Molly tidak merasa sendirian. Mereka berdua berjalan di sisi trotoar sepanjang beberapa puluh meter sebelum akhirnya menyeberang dan berbelok ke kiri.
Laura bercerita tentang sepasang kekasih yang sedang bertengkar tadi siang, sebelum akhirnya si wanita meletakkan cincin pertunangan dan meninggalkan si pria dengan wajah frustrasi. Molly hanya bisa mendengarkan, dan tersenyum geli saat wanita itu menceritakan bagaimana lucunya wajah si pria malang yang ditinggal oleh sang kekasih. Sepanjang perjalanan, Molly pun teringat akan kejadian yang menimpa dirinya dan uang tip yang Cliff berikan.
Selama bekerja di kafe, baru kali ini ia mendapatkan uang tip sebesar itu. Molly tidak mengerti dasar dari tindakan Cliff tersebut. Namun setidaknya, Molly tidak perlu mondar-mandir ke meja Cliff hanya untuk memberikan tagihan.
Jujur, hingga saat ini ia masih bisa merasakan kekuatan tangan Cliff saat memeluk tubuhnya. Sensasi saat berada dalam pelukan Cliff membuat jantung Molly kembali berdebar cepat, membangkitkan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia takut pada Cliff, tentu saja. Namun Molly tak menampik kalau Cliff memiliki pesona tersendiri yang membuat dirinya terus memikirkan pria itu.
Molly dan Laura berjalan melewati barisan gedung tinggi, sementara beberapa mobil masih lalu lalang di jalanan. Keceriaan Laura setidaknya mampu mengurangi penyesalan yang menggerogoti dada Molly karena telah mengambil keputusan dan mengatakan kepada Kevin bahwa dirinya akan mengunjungi rumah Cliff besok. Ia tidak tahu apakah itu keputusan terbaik atau malah yang terburuk.
Molly sudah tidak tahu harus memilih yang mana. Desakan Kevin dan rasa lelah yang menyelimuti tubuh, membuat Molly terpaksa mengambil keputusan cepat. Molly berusaha untuk tidak memikirkan keputusannya itu, dan kembali mendengar celotehan riang Laura yang membuat perjalanan terasa menyenangkan.
Setibanya di Town Hall, mereka langsung menuju mesin tap, kemudian melangkah menuju tempat menunggu. Laura masih berbicara selama menunggu kedatangan kereta, yang tak lama kemudian berhenti di depan mereka.
“Eh, itu si Kevin kenapa murung tadi?” tanya Laura saat mereka duduk di kursi yang kosong. Suasana kereta saat ini tidak terlalu ramai, bahkan lorong yang mereka tempati hanya terdapat beberapa orang saja.
“Biasalah,” jawab Molly singkat. Molly tidak berniat membicarakan Kevin. Namun, tampaknya bukan hanya dirinya yang mengetahui seperti apa Kevin dan hal apa saja yang mampu membuat pria itu murung.
“Pasti gara-gara Cindy, ‘kan?” tebak Laura tepat. Molly hanya bisa tersenyum masam mengingat alasan bahwa dirinyalah penyebab Kevin kembali berselisih dengan Cindy.
“Dan jangan bilang Cindy cemburu lagi sama kamu,” tebak Laura lagi.
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Molly penasaran.
“Aku yang menjodohkan mereka berdua,” jawab Laura santai, “dia selalu cerita padaku tentang kedekatan kalian. Bodohnya, Cindy tidak mengenal Kevin dengan baik. Cindy seharusnya bersyukur mendapatkan hati dan perhatian Kevin. Bahkan aku tahu kalau Kevin benar-benar mencintai wanita manja itu.”
“Namanya juga cemburu, La. Kita tidak bisa menyalahkan perasaan itu,” ucap Molly, berusaha bersikap netral.
“Parahnya lagi, dia tidak bisa melihat seperti apa kamu yang sebenarnya,” lanjut Laura kesal, tidak menghiraukan ucapan Molly.
“Kamu dan Kevin sudah seperti saudara. Seharusnya dia berusaha mengenalmu, bukannya malah cemburu seperti itu,” ungkap Laura heran. Gerutuan Laura malah membuat Molly tersenyum lemah. Ia memang belum pernah menjalin hubungan serius dengan pria mana pun, tetapi ia tahu kalau rasa cemburu merupakan bentuk cinta yang begitu berlebihan.
Sampai saat ini, Molly memang belum berminat untuk menjalin hubungan percintaan dengan siapa pun. Satu atau dua pria pernah berusaha mendekatinya, tetapi Molly memilih untuk menjauh dan tenggelam dalam buku bacaannya. Bukan karena Molly tidak menginginkan cinta layaknya dongeng, atau mungkin perhatian dan kasih sayang seorang pria seperti yang ia baca di novel-novel romantis. Hanya saja, ia memilih untuk mengurus dirinya sendiri hingga sukses sebelum memutuskan menjalin hubungan yang lebih serius.
Ia ingin seperti mama, menjadi wanita tangguh yang bisa hidup mandiri. Pikirannya pun tertuju pada mama dan kekecewaannya pada Brad. Selama ini ia berpikir kalau Brad memiliki perasaan lebih terhadap mama. Bahkan, ia sempat meminta mama untuk membuka hati dan mencoba membangun hubungan spesial dengan pria itu.
Namun, mama selalu menolak dan mengatakan bahwa tanpa suami ataupun pria pendamping, mama masih sanggup memenuhi kebutuhan mereka berdua. Beruntung sekali mama menolak sarannya waktu itu, karena ternyata Brad adalah seorang bajingan pecinta selangkangan.
Molly dan mama memang memiliki sifat yang berbeda. Mama merupakan wanita tangguh yang tak pernah mengeluh menjalani setiap rintangan dalam kehidupan. Mama juga bukan tipe wanita melankolis dan romantis, bahkan mama tidak terlalu menyukai film percintaan dan lebih memilih menonton cerita sejarah serta thriller.
Sementara Molly, yang terbiasa dipenuhi perhatian dan kasih sayang mama, lebih mengandalkan hati dan perasaan. Ia juga merupakan tipe wanita pemuja romantisme dan melankolis. Bahkan bisa dikatakan, dirinya termasuk orang yang penakut. Itulah mengapa ia lebih memilih membaca novel percintaan dibandingkan novel thriller atau sejenisnya.
Namun saat ini, Molly sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Ia hidup sebatang kara, dan hanya Kevin yang benar-benar ia kenal layaknya saudara. Jadi, ia pun bertekad untuk lebih berani meskipun sulit.
Laura yang kembali bercerita tentang kejadian lucu yang wanita itu alami saat melayani pelanggan, membuat perjalanan yang cukup lama jadi terasa singkat. Akhirnya, mereka pun tiba di stasiun Hornsby. Bersamaan dengan beberapa penumpang, mereka berdua menunggu sejenak hingga pintu terbuka, lalu keluar dari kereta.
Ketika berada di luar stasiun, Laura dan Molly pun berpisah. Laura melangkah ke sisi kanan trotoar, sementara Molly ke kiri. Sebelum melangkah, Molly mengenakan headset dan mendengarkan alunan musik yang menenangkan untuk menemani setiap langkahnya di tengah kesunyian malam. Tubuhnya terasa lelah, perpaduan antara ketegangan akibat kejadian yang tidak sengaja dengan Cliff dan banyaknya pelanggan yang datang hari ini. Namun, tip yang ia terima hari ini terbilang cukup melimpah, setidaknya hal itu mampu menghapus rasa lelahnya.
Molly terus berjalan melewati tiga blok perumahan di bawah rindangnya pepohonan. Ia berusaha tak menghiraukan keberadaan mobil yang melintas sesekali ataupun keberadaan orang yang melintas di trotoar seberang. Saat melewati blok ketiga, Molly mulai mempercepat langkahnya. Ia memperbesar volume lagu demi mengusir rasa takutnya.
Rasa takut itu selalu menghampiri Molly setiap kali ia pulang malam sendirian dan terpaksa harus melewati lokasi di mana mama dibunuh. Setibanya di blok keempat, Molly berbelok ke kiri, lalu menarik napas dalam-dalam. Ia berhenti se per sekian detik hanya untuk menenangkan diri, sementara matanya tertuju pada pohon besar tempat di mana si pembunuh bersembunyi.
Molly masih ingat dengan jelas bagaimana si pembunuh muncul tiba-tiba dan menghabisi nyawa mama dalam sekejap. Jantungnya pun berdebar cepat merespons ingatan itu. Dengan rasa takut yang menyelimuti, Molly mulai melangkahkan kaki, mencoba untuk tetap berani meskipun pijakannya terasa seperti melayang. Rasa takut pun terasa semakin kuat saat ia mulai mendekati pohon besar itu.
Dengan perasaan awas bercampur takut, Molly memutuskan untuk berhenti sejenak, lalu memeriksa keadaan sekitar sebelum akhirnya kembali melangkah dan melewati pohon tersebut sembari berlari cepat. Akhirnya, dengan napas terengah-engah dan jantung yang berdebar tak keruan karena ketakutan, Molly berhasil tiba di gedung apartemen dengan selamat.
Sesungguhnya, Molly memang pantas merasa takut. Karena tanpa Molly sadari, seorang pria sudah mengikuti dirinya semenjak ia keluar dari stasiun. Dan saat ini, pria itu sedang bersembunyi di balik pohon seraya menatap Molly yang berjalan masuk ke dalam gedung apartemen dalam keadaan ketakutan.
Pria itu terus memperhatikan Molly hingga akhirnya hilang dari penglihatannya. Namun, pria itu tidak langsung pergi. Ia menunggu sejenak menatap ke arah jendela sebuah unit yang masih gelap.
Beberapa saat kemudian, cahaya lampu mulai menyinari jendela tersebut. Ponsel yang bergetar, tak membuat pria itu mengalihkan pandangannya dari jendela. Matanya mengunci jendela itu layaknya target yang tak akan pernah ia lepas. Dengan gerakan halus dan tenang, pria itu mengeluarkan ponsel, lalu mengusap layar, kemudian menempelkannya di telinga.
“Sudah,” jawabnya datar saat seseorang di balik ponsel menanyakan tentang keberadaan Molly. Pria itu terus mendengar instruksi yang diberikan sembari menyimpannya dengan sempurna di dalam ingatan.
“Baiklah,” sahutnya singkat ketika seseorang di balik ponsel memerintahkan untuk terus memberikan laporan pengintaian selama beberapa hari ke depan. Panggilan itu pun terputus secara sepihak, tetapi ia sudah terbiasa dengan sikap kliennya yang satu ini.
Masih dengan pandangan tertuju pada jendela kamar Molly, pria itu segera memasukkan ponsel ke saku, dan diam sejenak sembari merancang rencana dalam benaknya. Beberapa saat kemudian, pria itu pun berbalik membelakangi gedung apartemen. Senyum tipis nan menyeramkan tersungging di wajahnya saat berjalan menyusuri trotoar yang sepi sembari mengulang kembali semua perintah yang ia terima.
Membunuh si ibu, lalu membunuh anaknya. That’s to easy!
*****
BAB 9
Matahari pagi mulai bersinar. Suara alarm, yang sudah ia pasang sebelum memutuskan untuk tidur, berbunyi nyaring hingga membuat Molly tersentak kaget. Napas Molly terengah-engah seolah dirinya baru saja dikejar sesuatu yang mengerikan.
Ya, ia memang bermimpi buruk. Sialnya, mimpi itu tentang Cliff. Molly tidak menyangka akan memimpikan Cliff, terlebih di saat dirinya berniat menemui pria itu pagi ini. Bulu kuduknya meremang seketika saat mengingat bagaimana ia berusaha sekuat tenaga melarikan diri dari Cliff, sementara pria itu selalu muncul di mana saja. Bahkan, suara Cliff yang berat dan penuh ancaman selalu menggema memanggil namanya setiap kali ia menemukan tempat persembunyian.
Ini gila! Ini benar-benar gila! Rasa takutnya terhadap Cliff sungguh tidak beralasan. Pria itu memang memiliki aura mencekam dan tatapan tajam bak pembunuh berdarah dingin. Namun, tak seharusnya ia setakut ini pada pria itu karena ia belum mengenal Cliff dengan baik. Bukan berarti Molly berniat untuk mengenal pria itu lebih dekat. Tentu saja tidak! Ia bahkan tidak ingin mengenal Cliff selain sebagai pengacara terkenal.
Molly benar-benar tidak berniat memiliki ketertarikan lebih selain yang berhubungan dengan masalah yang akan ia lontarkan pada pria itu nanti. Maka dari itu, sebisa mungkin ia menenangkan diri agar bisa bersikap normal dan tenang. Ia tidak boleh menilai Cliff seburuk dan semenyeramkan itu. Apalagi, hanya Cliff satu-satunya jalan keluar Molly saat ini.
Bunyi alarm membuat Molly mengerut kesal, lalu mengambil ponsel dan mematikannya. Kepala Molly terasa berat karena tidur kurang dari 3 jam. Dengan embusan napas lelah, Molly meletakkan ponsel begitu saja di meja nakas, lalu kembali berbaring meringkuk di bawah selimut.
Semenjak semalam, pikiran dan perasaannya tidak bisa tenang sama sekali. Setiap kali ia menutup mata, tatapan tajam Cliff selalu muncul dan membuatnya gelisah. Rasa takut yang begitu kuat membuatnya memutuskan untuk tetap menyalakan lampu dan memaksa memejamkan mata dalam keadaan terang benderang.
Molly mencoba untuk kembali tidur, tetapi barisan kata-kata yang berusaha ia susun sejak semalam, terus mengisi kepalanya. Molly kesal pada dirinya sendiri karena hingga saat ini ia belum menemukan kalimat yang tepat sebagai pembuka pembicaraan. Cahaya matahari yang bersinar terang, menembus gorden putih jendela kamarnya. Cahaya itu menyentuh kelopak mata Molly dan membuatnya semakin sulit untuk tidur.
Sembari mengerang kesal dan frustrasi, Molly menarik selimut hingga menutupi kepala, lalu berbalik ke sisi lain. Ia berusaha kuat mengusir mimpi buruk itu namun entah mengapa ingatan saat pria itu menyelamatkan dan memeluknya dengan erat kemarin malah mengisi kepalanya. Jantung Molly mulai berdebar sedikit lebih cepat dan napasnya pun terasa berat.
Dengan geraman kesal, Molly mengentakkan selimut, lalu bangkit dari posisi tidur. Ia duduk di tempat tidur dan menatap ruang tidurnya yang tidak terlalu besar. Matanya masih terasa berat namun keinginannya untuk kembali berbaring sudah hilang karena Cliff.
Akhirnya, Molly memutuskan untuk turun dari tempat tidur, lalu keluar dari kamar, dan bergegas menuju kamar mandi. Dengan perasaan lelah, Molly menanggalkan pakaian tidurnya, kemudian melangkah ke bawah pancuran. Ia memutar keran dan membiarkan air dingin membasahi kepala hingga ujung kaki, berharap dinginnya air mampu membawa pergi rasa lelah di tubuhnya.
Dalam keadaan diam sembari berusaha menenangkan diri, Molly mencoba menyusun kembali kata-kata terbaik yang bisa ia temukan. Namun, semakin ia berusaha, semakin besar pula rasa takutnya. Helaan napas panjang dan berat menunjukkan bahwa keputusannya untuk berbicara empat mata dengan Cliff merupakan kesalahan terbesar yang pernah ia ambil. Namun ia sudah tak memiliki pilihan. Hanya ini yang harus ia lakukan agar masalahnya cepat selesai.
Molly pun memutuskan untuk mandi secepat mungkin, kemudian mengeringkan tubuh. Dering ponsel yang menggelegar di tengah keheningan yang melingkupi apartemen, membuat Molly bergegas melingkarkan handuk di dada, lalu keluar dari kamar mandi. Akhirnya, ia berhasil menangkap ponsel sebelum terjatuh dari meja.
Nama Kevin tertera di layar. Molly tahu, Kevin pasti meragukan keberaniannya. Ya, Kevin tidak salah sama sekali. Karena sesungguhnya, sebagian dari dirinya berharap untuk mundur bak pecundang.
“Halo,” sapa Molly singkat dengan napas sedikit terengah-engah.
“Kamu belum berangkat?” tanya Kevin dengan nada curiga.
“Sebentar lagi. Aku baru saja selesai mandi,” jawab Molly jujur.
“Ini sudah jam 8, Ly. Lebih cepat lebih baik,” ingat Kevin dengan nada menuntut.
Lebih cepat, lebih baik. Lebih cepat, lebih baik. Kata-kata itu seakan sudah terpatri di ingatannya. Kevin mengatakan kalimat itu bak mantra yang mampu menyadarkan Molly akan tujuan utamanya. Menemukan si pembunuh.
“Iya, aku tahu,” sahut Molly datar, lalu berbalik dan membuka lemari pakaian. Ia mengeluarkan kaos lengan pendek berwarna merah menyala yang akan dipadupadankan dengan sweater hitam kesayangannya. Ia sangat menyukai sweater tersebut, dan akan selalu mengenakannya setiap kali keluar dari apartemen.
Mama selalu mengeluhkan sweater rajutnya. Bahkan mama sempat mengatakan bahwa tak akan ada pria yang mau mendekatinya jika sweater itu terus melekat di tubuhnya, tetapi Molly tidak peduli. Apa pun kaos atau seragam kerja yang ia kenakan, sweater itu akan selalu menemaninya.
“Untuk apa kamu meneleponku?” tanya Molly sedikit sinis. Kurangnya jam tidur membuat suasana hati Molly semakin buruk.
“Hanya memastikan,” jawab Kevin cepat.
“Memastikan apa?” tanya Molly tak kalah cepat.
“Memastikan apakah kamu benar-benar menemuinya atau tidak.”
Ucapan Kevin begitu menohok Molly. Ia tahu, sejak awal ia yang bersikeras untuk menemukan si pembunuh. Bahkan setiap kali Kevin memintanya untuk merelakan semua, Molly tetap bersikeras. Namun saat Kevin sudah membuka jalan, dirinya malah ragu.
“Aku akan menemuinya. Aku sudah mengatakan padamu kemarin, ‘kan,” sahut Molly kesal, “dan aku akan semakin lama bertemu dengannya kalau kamu masih meneleponku.”
“OK. OK. Aku akan kembali mengawasi dua pramusaji yang baru saja melamar,” sahut Kevin cepat, “kabari aku segera.”
“OK. Good bye,” ucap Molly sebelum memutuskan percakapan. Ia meletakkan ponsel ke meja kecil, lalu mulai berpakaian. Molly membiarkan rambutnya tergerai, memoles riasan secukupnya, menyemprot parfum di titik-titik tertentu, lalu beranjak dari kamar menuju dapur.
Setibanya di dapur, Molly membuka lemari pendingin, kemudian mengeluarkan sekotak sereal dan sebotol susu. Dengan malas, ia menutup pintu lemari pendingin, lalu berbalik menuju meja makan yang hanya berjarak dua langkah jauhnya. Ia meletakkan sereal dan susu di meja, kemudian berbalik menuju rak piring.
Setelah mengambil peralatan makan, Molly kembali ke meja makan dan menuangkan sereal serta susu di mangkuk. Sembari menikmati sarapannya, Molly menyalakan TV, berusaha menikmati sisa-sisa waktu tenangnya. Ia berniat berlama-lama menikmati sereal kesukaannya namun entah mengapa mangkuknya kosong dalam sekejap, seakan menandakan bahwa ia harus segera menemui Cliff.
Molly mematikan TV, kemudian beranjak dari kursi, lalu mencuci peralatan makannya. Setelah itu, Molly mengambil gelas, mengisinya dengan air putih dan meneguknya hingga tandas. Ia meletakkan gelas di meja makan, lalu berbalik menuju kamar.
Setelah memasukkan ponsel ke tas kecil, Molly langsung menyelempangkan tas di bahu. Ia berusaha menguatkan dirinya sekali lagi, berharap agar bibirnya bisa mengucapkan kalimat yang tepat saat bertemu dengan Cliff nanti. Sebelum keluar dari kamar, Molly mengeluarkan kertas pemberian Kevin dari dalam tas, lalu membaca alamat Cliff untuk yang kesekian kalinya.
Ia sudah menghafal alamat itu, tentu saja. Namun rasa ragu bercampur takut seolah menahan dirinya untuk pergi. Dengan setengah hati, Molly kembali memasukkan kertas tersebut ke tas, lalu mengenakan sweater kesayangannya. Setelah memeriksa penampilan sekali lagi, ia pun keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu apartemen.
Dengan sejuta harapan dalam setiap langkahnya, Molly mengunci pintu apartemen, lalu berbalik. Ia pun melangkah menuju tangga yang berada tak jauh dari pintu apartemennya. Molly berniat memperlambat langkahnya demi mengulur waktu, tetapi tak terasa ia sudah tiba di lantai dasar. Dan hal itu membuat Molly menggeleng kesal, karena niat buruknya selalu gagal.
Akhirnya, Molly melangkah menuju pintu keluar gedung dengan keberanian yang ia miliki. Matahari yang bersinar dengan cahayanya yang hangat, membuat perasaan Molly sedikit lebih baik. Setidaknya ia menemui Cliff di pagi hari, bukannya di malam hari. Karena sudah pasti aura mencekam yang pria itu milik sangat cocok dengan kelamnya malam. Dan sudah pasti, ia tidak akan sanggup berbicara sepatah kata pun.
Dengan langkah pasti, Molly berjalan kaki menuju stasiun Hornsby, berharap—dan terus berharap—agar Cliff bisa bersikap lebih bersahabat dibandingkan saat di kafe.
*****
Cliff baru selesai olahraga di ruang gym pribadinya saat bunyi bel rumah terdengar nyaring mengisi suasana rumah yang tenang dan sunyi. Saking sunyinya, ia bahkan bisa mendengar suara denting jam yang tergantung di ruang gym. Cliff menarik kaosnya yang basah karena keringat melewati kepala dalam satu tarikan sembari berjalan keluar dari ruang gym.
Baru saja ia melangkah melewati teralis tangga, telinganya menangkap suara yang membuat tubuhnya menegang seketika. Ia terdiam di sisi teralis tangga selama se per sekian detik sembari memastikan pendengarannya. Martha sedang berbicara dengan seseorang di luar sana. Suara Martha terdengar datar dan kaku saat melemparkan pertanyaan. Tanpa berlama-lama, Cliff segera beranjak dari sisi teralis, dan bergegas masuk ke kamar.
“Kurasa kau salah,” ejek Mors sinis.
“Salah apa?” tantang Cliff seraya bergegas menuju jendela kamar yang langsung mengarah ke halaman depan rumah. Ia menggeser jendela ke samping, lalu mengeluarkan kepala, berharap bisa memastikan bahwa tebakannya salah. Namun, ia tidak bisa melihat sama sekali karena terhalang atap kecil yang menutupi halaman pintu masuk.
“Kau pikir bisa membuatnya menjauh dengan sikap dinginmu. Ternyata, dia lebih berani daripada penampilannya yang polos dan pemalu itu,” papar Mors disusul kekehan sinis yang membuat tubuh Cliff jadi panas.
“She needs something,” dalih Cliff tipis, lalu menjauh dari jendela.
“Aku tahu,” sahut Mors dingin, “lalu?”
“Lalu apa?” tanya Cliff balik.
“Ini duniamu, Cliff. Dunia kita. Apa kau akan membiarkannya masuk?” tantang Mors seraya menatapnya dengan sorot mata penuh makna.
“Ini duniaku, dan aku tahu apa yang akan kulakukan,” jawab Cliff berusaha mengelak dari tatapan itu. Ia tahu, Mors bisa membaca mimik wajahnya dan mengerti jalan pikirannya. Sejujurnya, Cliff tidak mengharapkan Molly datang ke sini. Lagi pula, apa yang Molly inginkan sampai berani-beraninya datang ke sini? Dan … dari mana dia tahu kalau ini rumahku? batin Cliff bingung.
“I knew you’ll let her in,” ledek Mors sinis disertai seringai jahat.
“I won’t,” geram Cliff, mengelak.
“Yes, you will,” balas Mors sebelum mendengus jijik, “dan kurasa lebih baik begitu. Kurasa kita butuh sesuatu untuk memuaskan hasrat kita.”
Mors menyeringai liar, sementara Cliff menangkap arti liar dari ucapan itu. Cliff terdiam sesaat, memikirkannya sejenak. Mungkin Mors benar, tetapi … sesuatu dalam dirinya seakan menolak ide gila itu.
“Oh, ayolah, Cliff,” bujuk Mors cepat, kali ini terdengar lebih bersemangat dari sebelumnya.
“Kau tahu sudah berapa lama kita tidak melakukannya. Kurasa dia sasaran empuk dan … bayangkan saat aroma tubuhnya memenuhi indra penciumanmu. You can’t handle it, right,” lanjut Mors lagi, benar-benar tahu seperti apa Cliff yang sebenarnya.
Ya, Mors benar. Cliff memang tak sanggup menahan gelora yang membakar tubuhnya saat menghirup aroma tubuh wanita itu. Bahkan, ia sudah membayangkan semalaman bagaimana ia menyiksa tubuh itu hingga dirinya terpuaskan.
Ya, Mors benar. Ia memang sudah terlalu lama menahan diri. Sudah terlalu lama ia hanya memuaskan kesenangannya akan darah tanpa menikmati si empunya darah. Ya, sudah sangat-sangat lama.
Gejolak aneh dalam tubuh Cliff kembali menggulung akal sehatnya. Jantungnya berdebar cepat, memacu seluruh adrenalin dalam tubuh Cliff, sementara pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan akan tubuh Molly yang tersiksa di bawah kuasanya. Cliff mengepal tangan erat-erat. Entah mengapa sebagian dari dirinya berusaha menolak letupan liar yang hampir membuatnya hilang kendali.
Cliff memejamkan mata, berusaha mengingat kembali kapan terakhir kali ia memuaskan hasratnya yang satu itu. Ia pun mengetahui apa yang akan terjadi pada si pemilik darah. Seketika itu pula, Cliff membuka mata dan menatap Mors yang tampak menunggu keputusannya.
“Aku bisa menangani ini,” ucap Cliff cepat dan datar sebelum memutuskan untuk masuk ke kamar mandi. Ia menutup pintu sampai menimbulkan dentuman yang sangat keras. Ya, sekuat itulah gairah yang sedang menyelimutinya saat ini. Gairah yang aneh. Gairah yang membuatnya ingin membunuh. Gairah … yang selalu muncul setiap kali menyadari kehadiran Molly.
*****
BAB 10
Molly akhirnya tiba di rumah Cliff yang berada di daerah Hillcrest Avenue, Epping. Matanya memperhatikan pintu yang terbuat dari kayu berwarna cokelat tua dengan kaca tebal dan buram di bagian tengah. Wanita yang baru saja menemuinya, sama sekali tidak mempersilakannya masuk dan meminta Molly menunggu di luar sementara wanita itu memanggil Cliff.
Debaran jantung Molly terasa begitu kuat hingga berdentum di gendang telinganya. Molly mencoba menenangkan diri sembari mengatur kalimat dalam pikirannya. Kali ini, ia sudah tidak bisa mundur lagi atau bahkan menyesali keputusannya. Lagi pula, kakinya sudah tak sanggup melangkah ke mana-mana. Rasa lelah bercampur gugup yang menyelimuti sepanjang perjalanan, membuat fisik dan psikis Molly benar-benar terkuras.
Ia tidak tahu apakah Cliff akan menyambut kedatangannya dengan tangan terbuka, atau malah mengusirnya, tetapi setidaknya Molly sudah bertekad untuk mengutarakan permasalahannya pada pria itu. Cliff mau terima atau tidak, Molly tak peduli. Setidaknya ia bisa mengatakan pada Kevin kalau dirinya benar-benar sudah menemui Cliff.
Rasa bosan menghampirinya karena menunggu cukup lama di depan pintu. Ia pun memutuskan untuk mengeluarkan ponsel dari tas, lalu membuka sosial medianya. Perhatiannya mulai terpusat pada beberapa foto-foto yang menarik, dan tak terasa waktu berlalu begitu saja.
“What are you doing here?”
Suara tegas, dalam, dan serak yang sangat Molly kenal membuatnya terkejut bukan main hingga ponsel terjatuh dari genggaman. Dengan gerakan cepat, Molly menunduk, lalu memungut ponsel, kemudian memasukkannya kembali ke tas.
“M-maaf,” ucap Molly gugup. Hanya kata itu yang terbersit di kepalanya. Kata-kata yang sebelumnya sudah ia susun dengan sempurna, sirna begitu saja karena kaget.
Cliff, yang muncul tiba-tiba, terlihat segar seperti baru selesai mandi. Molly memperhatikan raut wajah Cliff yang terlihat lebih jelas saat terkena sinar matahari. Kantung mata yang tampak jelas menandakan bahwa pria itu kurang tidur. Siku-siku rahang yang tegas menunjukkan betapa maskulinnya wajah Cliff.
Pria itu mengenakan celana jogger hitam. Salah satu tangan dimasukkan ke dalam saku, sementara tangan yang lain menahan pintu, seakan melarang siapa pun untuk masuk ke rumah itu. Kaos hitam lengan panjang yang Cliff kenakan, membuat tubuh itu tampak lebih tinggi dari yang Molly ingat sebelumnya.
Rambut yang disisir ke belakang dan alis tebal yang membingkai mata tajam Cliff, membuat pria itu tampak bak kepala gangster yang menyeramkan seperti di TV. Namun setidaknya, Cliff memiliki bibir seksi dan menggoda. Bibir indah yang Molly yakini mampu menghanyutkan wanita dalam sekali kecupan.
Dengan susah payah Molly mengalihkan perhatiannya dari bibir itu, dan kembali memusatkan pikiran pada tujuan awal kedatangannya ke rumah Cliff. Namun, sebelum Molly mengucapkan sepatah kata pun, pria itu malah menggeram kesal.
“Kalau tidak ada urusan penting, silakan pergi!” tegas Cliff yang terlihat gerah dengan kedatangannya. Melihat bahwa Cliff berniat menutup pintu di hadapannya, Molly langsung menahannya sekuat tenaga. Ia tidak tahu dari mana keberaniannya itu datang, tapi ia harus mencegah Cliff agar tidak mengusirnya.
“What?” tanya Cliff tegas seraya mengerut kesal. Tatapan tajam disertai ucapan tegas membuat Molly tersentak kaget hingga mundur satu langkah.
“B-begini … s-saya butuh bantuan,” ucap Molly gugup.
Ia menatap mata Cliff sejenak. Molly kira mata pria itu berwarna hijau gelap namun saat terkena cahaya matahari ia bisa menangkap warna abu-abu lebih mendominasi mata indah itu. Mata yang mampu memerangkap jiwanya dalam sekejap, hingga ia kembali melupakan sejenak tujuan utamanya ke sini.
“Saya rasa saya sudah memberi tip lebih kemarin. Kurang?” tanya Cliff sinis, mengeluarkan Molly dari daya khayalnya yang tinggi.
“B-bukan itu … s-saya mau menyewa … maksud saya … s-saya butuh pengacara,” jelas Molly masih berusaha keras mengatur ucapannya agar terdengar layaknya manusia normal.
“Really?” sahut Cliff sinis seraya mengangkat salah satu alis tebalnya. Akhirnya, Cliff mendorong pintu hingga terbuka lebar, tetapi tidak langsung mempersilakannya masuk. Tubuh tinggi dan tegap itu benar-benar menutupi ruang pintu.
“Saya butuh pengacara,” ulang Molly.
“You already said that,” sahut Cliff cepat seraya memasukkan tangan ke saku celana. Molly mengalihkan pandangannya dari Cliff. Ia berusaha untuk tidak melihat wajah pria itu dan mencoba mengatur kembali kalimat yang sudah ia susun dalam kepalanya.
“I-iya … emm, begini … mama saya dibunuh, jadi ….”
Molly langsung berhenti berbicara saat tak sengaja mengangkat pandangannya dan menangkap perubahan di raut wajah Cliff. Molly mencoba mengingat apa yang ia ucapkan sebelumnya dan mengoreksi apakah ada yang salah dengan kata-katanya hingga membuat aura kejam Cliff tampak berapi-api.
“Emm, maaf. Kedatangan saya ke sini … jadi, saya mau minta tolong … kata polisi bukan seperti itu … tapi … aduh, maksud saya polisi tidak bisa menemukannya … tapi menurut saya mereka seperti … berbohong …,” ucap Molly sembari mengatur napasnya. Wajah Cliff mulai mengerut bingung.
“S-saya sudah berulang kali ke sana, tapi … sampai saat ini saya tidak bisa berbuat apa-apa. Bisakah …? Maksud saya … kemarin Anda bilang kalau … di kafe Anda tidak mau …,” lanjut Molly lagi sembari memperhatikan raut Cliff yang semakin mengerut hingga alis tebal itu hampir menyatu karena ucapannya. Molly ingin menghentikan bibirnya yang terus bergerak, tetapi sulit. Semua kata-kata yang memenuhi kepalanya, meluncur begitu saja sehingga terdengar berantakan dan aneh.
“W-waktu itu saya coba bicara sama polisi … Brad … dia malah meminta sesuatu yang … ah, maksud saya … lupakan saja ucapan saya tadi. Jadi … kedatangan saya … begini, saya mau—“
“Masuk!” potong Cliff geram, lalu berbalik, menjauh darinya.
“M-maaf?” ucap Molly tercengang mendengar perintah tersebut.
“Masuk, dan bicarakan semua di dalam,” ucap Cliff dari balik pundaknya, kemudian melangkah semakin menjauh, lalu menghilang dari arah pandangnya.
Molly mengembuskan napas lega. Molly tidak tahu apa yang sebenarnya ia ucapkan sebelumnya. Bahkan ia yakin, hanya orang-orang dengan tingkat IQ tinggi yang bisa mengerti ucapannya tadi. Molly bersyukur saat Cliff menghentikannya. Karena kalau tidak, Molly berpotensi mempermalukan dirinya sendiri di depan pria itu.
Ia masih berdiri di luar sembari menatap isi rumah itu sepanjang jangkauan matanya. Tiba-tiba, keraguan pun muncul dan menyergap tubuhnya. Keraguan itu seakan menahan kaki Molly untuk melangkah masuk. Tak lama kemudian, Cliff tiba-tiba muncul dari balik tembok sembari membawa segelas jus jeruk. Pria itu mengerut bingung saat melihat dirinya yang masih berada di luar rumah.
“Masuk, atau lebih baik pergi saja!” tegas Cliff dingin sembari melangkah mendekat kemudian berbelok ke ruangan lain. Akhirnya, Molly melangkah masuk dan menutup pintu. Jantungnya berdebar cepat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Setidaknya, ia sudah berusaha meskipun takut.
*****
Mata Cliff menatap Molly yang berdiri kikuk di samping sofa ruang tamu. Tangan kecil itu menggenggam tali tas di depan dada, seakan tali tersebut adalah penyelamat hidupnya. Cliff bisa menangkap ketegangan yang terpancar jelas di wajah Molly sejak pertama kali ia memutuskan untuk menemui wanita itu.
Cliff kembali meneliti Molly dari ujung rambut sampai kaki. Baru kali ini Cliff merasa butuh meneliti seseorang lebih dari sekali. Biasanya, ia mampu menilai seseorang hanya dengan sekali tatap. Ia pun mampu mengingat setiap mimik kaku, sedih, takut, bahkan gugupnya seseorang dengan mudah. Bahkan, hingga saat ini ia masih bisa mengingat setiap mimik korbannya dan seperti apa penampilan mereka sebelum ia mencabut nyawa mereka. Benar-benar ingat hingga detail terkecil sekali pun.
Namun kali ini, entah mengapa ia merasa berbeda. Cliff meneliti Molly seakan ia telah melewatkan sesuatu yang penting. Matanya pun merasa kurang jika meneliti wanita itu hanya satu kali. Ia butuh dua kali—salah, tiga atau empat kali—wait, no! The truth is, I need more and more.
Kenapa? Karena ada sesuatu dalam dirinya yang tidak terpuaskan hanya dengan melihat wanita itu. Ada sesuatu yang liar, yang membuatnya ingin mendekat dan meneliti wanita itu dengan lebih terperinci lagi. Lebih detail. Lebih intim.
Dengan cepat, Cliff menepis ketidakpuasannya tersebut dan berusaha meneliti keberadaan wanita itu sebisa yang mampu ia lakukan. Penampilan Molly berbeda dari yang biasa ia lihat di kafe. Cliff tidak menyangka bahwa Molly memiliki rambut panjang berwarna cokelat karamel yang indah dan terlihat lembut meskipun ia belum menyentuhnya.
Cliff bisa membayangkan dengan jelas bagaimana rambut itu menyusup di sela-sela jemarinya, sementara kepala Molly tertarik ke belakang, memberikan ruang bagi pisau kesayangannya agar dapat membelai leher jenjang nan mulus itu. Bibir merah yang terkatup rapat dengan sedikit lekukan manis di masing-masing sudut, membuatnya ingin mewarnai bibir itu dengan darah. Ia yakin merahnya darah lebih tepat mewarnai bibir itu dibandingkan lipstick termahal sekali pun.
Cliff menggigit ujung bibir saat membayangkan sensasi nikmat ketika ia berhasil mengisap bibir Molly dan menggigitnya sekuat mungkin. Dengan susah payah, Cliff berusaha mengalihkan pandangannya ke mata Molly. Sebelumnya, ia mengira bahwa mata Molly berwarna cokelat tua. Namun ketika wanita itu berdiri di luar dan terkena sinar matahari, Cliff menyadari bahwa mata Molly sewarna dengan rambut panjangnya. Cokelat karamel.
Namun satu hal yang membuat Cliff tak sanggup menahan gejolak dalam dirinya adalah kaos semerah darah yang wanita itu kenakan. Dalam sekejap, Cliff mampu membayangkan tubuh Molly yang telanjang bersimbah darah dan tak berdaya di bawah kuasanya. Sesaat kemudian, Cliff berusaha keras mengembalikan akal sehatnya. Ia mencoba memusatkan perhatiannya pada masalah yang Molly alami.
“Silakan duduk,” ucap Cliff datar, lalu meneguk jus jeruk dari gelasnya, berusaha mengusir rasa kering di tenggorokannya akibat kehadiran Molly. Matanya mengunci pergerakan Molly, sementara ia bersandar di sisi grand pianonya yang berada beberapa langkah dari sofa tamu.
Wanita itu duduk di sofa panjang, meletakkan tas di atas pangkuan, lalu mengembuskan napas lega karena sudah bisa duduk di sana. Cliff mengangkat salah satu alis saat Molly menyunggingkan senyum kecil ke arahnya, seakan menyuruh wanita itu duduk adalah sesuatu hal yang patut disyukuri. Senyum itu pun membuat jantungnya melonjak kaget.
Ya, kaget. Kata itu sangat tepat untuk menggambarkan apa yang ia rasakan setelah menerima senyuman Molly. Ia tak menyangka bahwa senyuman kecil itu memiliki pengaruh besar terhadap jaringan sel dalam tubuhnya.
Saat itu pula Cliff menyadari bahwa menyuruh Molly masuk adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan. Cliff berdeham ringan, berusaha mengusir rasa kering di tenggorokannya yang ternyata tak dapat hilang meskipun ia sudah meneguk jus.
“Ceritakan dari awal,” pinta Cliff serak, singkat, dan dingin.
“Hah? Oh, dari awal?” ulang Molly yang kembali terlihat gugup, “emm, bukannya tadi saya sudah … menjelaskannya?”
“Manusia normal selalu bicara dengan jelas. Dan seingat saya, tadi itu bukanlah sebuah penjelasan,” ucap Cliff berusaha setenang mungkin. Tatapannya terus tertuju pada Molly, sementara ia berusaha keras menahan cengkeramannya di gelas agar benda itu tidak pecah.
“Saya butuh bantuan,” ucap Molly singkat, lalu berhenti sejenak.
Cliff tidak menyahut. Dia berusaha memberikan waktu bagi Molly agar wanita itu bisa mengutarakan semuanya dengan jelas dan tepat. Meskipun sesungguhnya Cliff sudah tahu apa penyebab wanita itu datang ke sini, tetapi ia tetap ingin mendengar semuanya dari bibir itu. Ia ingin mendengar suara halus dan lembut itu mengalun selama mungkin di telinganya.
“Emm, begini … bisakah kita bicara dengan … maksudku … bolehkah aku bicara seperti biasa? Aku … maksudnya boleh tanpa ‘saya-Anda’. Soalnya—“
“Lanjutkan! Aku paham,” perintah Cliff tipis, memotong ucapan gugup Molly. Wanita itu menghela napas lega, lalu tersenyum kecil lagi ke arahnya. Cliff tidak mengerti mengapa semudah itu Molly melemparkan senyum ke arahnya, seakan ia telah melakukan sesuatu yang hebat terhadap wanita itu. Semudah itukah membuat Molly lega dan senang? batin Cliff heran bercampur geram.
“Sebelumnya … aku mau minta maaf karena sudah datang ke sini tanpa diundang. Tapi … hanya ini satu-satunya yang bisa kulakukan,” ucap Molly sebelum terdiam sejenak, kembali mengatur kalimat dalam pikirannya. Cliff tahu itu, karena Molly mengalihkan pandangan sejenak ke arah lain sebelum kembali menatapnya dan lanjut berbicara.
“Kejadiannya 3 bulan lalu. Mamaku dibunuh,” ungkap Molly lemah. Cliff bisa melihat raut terluka Molly. Bahkan, air mata mulai berlinang sesaat, sebelum akhirnya wanita itu berusaha keras menghapus rasa sedih dalam pikirannya. Cliff tahu itu. Sangat tahu. Karena ia pernah berada di posisi Molly. Terluka dan sedih, bahkan tersiksa batin karena kehilangan seorang ibu.
“Aku sudah melihat kejadian itu berulang kali dari CCTV yang polisi tunjukkan padaku. Mereka … sejujurnya aku tidak tahu mengapa mereka bersikeras kalau Mama meninggal karena kasus pencurian yang berakhir dengan pembunuhan. A-aku melihatnya. Pria itu tidak berniat mencuri apa pun. Dia tiba-tiba muncul dan menyekap Mama, lalu ….”
Molly berhenti berbicara dan memejamkan mata sejenak. Cliff mengerti yang Molly rasakan. Mengingat dan menceritakan kembali kejadian yang begitu traumatis, sangatlah sulit. Bahkan Cliff tidak mampu berkata sepatah kata pun saat polisi datang dan menginterogasinya tentang kejadian yang menimpa keluarganya malam itu.
Kehadiran Molly dan masalah yang wanita itu bawa ke hadapannya seakan membawa Cliff kembali ke 23 tahun yang lalu. Saat di mana ia sangat sulit untuk menerima semuanya. Saat di mana ia merasa seorang diri di usia yang masih muda. Dan, saat di mana semua perasaan dalam dirinya hilang hingga hanya tersisa rasa marah dan dendam.
“Memang, sebelum pergi pria itu mengambil ponsel dan dompet Mama. Tapi seminggu kemudian, kedua barang tersebut ditemukan di daerah Eppin. Aku tidak tahu di mana tepatnya, mungkin kamu pernah melihat sekumpulan polisi sekitar tiga bulan lalu di daerah sini?” ujar Molly dengan raut penasaran. Cliff menggeleng cepat dan wanita itu pun menghela napas pasrah.
“Setelah itu, mereka mengatakan kasus dihentikan karena kurangnya alat bukti. Aku tidak terima, karena sudah jelas bukti di CCTV kalau itu bukanlah pencurian biasa. Tapi mereka memintaku untuk merelakannya. Tidak mungkin aku bisa merelakan kematian Mamaku begitu saja. Apalagi aku tahu kalau mama dibunuh!” ungkap Molly kesal, terkandung amarah di setiap ucapannya.
Cliff menyunggingkan senyum kecil saat mendengar amarah tersebut. Ternyata Mors benar, wanita ini lebih berani daripada yang terlihat. Amarah Molly membangkitkan gejolak gairah yang sebelumnya ia redam dengan susah payah. Cliff menggemeretakkan gigi, berusaha keras menahan gejolak liar itu.
“Siapa Brad?” tanya Cliff tipis saat Molly terdiam cukup lama.
“Dia adalah kerabat Mamaku, yang juga merupakan kepala penyidik atas kasus ini. Aku … aku mencoba memintanya untuk terus melanjutkan kasus ini. Tapi, dia tidak mau. Dia malah memintaku … mencari pengacara atau … ah, lupakan saja.
“Intinya, aku harus memiliki pengacara agar bisa melanjutkan penyelidikan ini dan menemukan siapa pembunuh Mama. Kamu adalah pengacara terkenal, dan kuharap kamu bisa membantuku,” jawab Molly cepat meskipun sempat terhenti saat membicarakan tentang pria bernama Brad. Cliff yakin ada sesuatu yang berusaha Molly sembunyikan tentang pria itu.
“Dari mana kamu tahu tentang diriku?” tanya Cliff datar.
“Dari Kevin, sahabatku. Dia juga yang memberitahuku alamat tempat tinggalmu,” jawab Molly cepat. Cliff bisa menangkap rasa sayang dalam ucapan Molly saat menyebut nama pria itu.
“Bagaimana kalau misalnya aku menolak membantumu?” tanya Cliff datar, yang langsung membuat raut Molly berubah seketika.
“Ya, setidaknya aku sudah mencoba,” jawab Molly lemah dan pasrah, lalu mengalihkan pandangan dari Cliff. Wajah itu tampak murung, seakan seluruh harapan runtuh tepat di hadapannya.
“Seandainya pun aku mau, bagaimana kamu membayarku?” tanya Cliff datar, tanpa ekspresi sama sekali. Namun tampaknya pertanyaan itu mengembalikan sedikit kepercayaan diri Molly. Hal yang tidak Cliff perhitungkan, karena saat melihat binar mata penuh harapan yang wanita itu tujukan padanya, membuat dada Cliff terasa seperti diperas. Ia tidak menginginkan perasaan ini menghampiri dirinya. Perasaan yang berusaha ia jauhkan dari kehidupannya.
“B-boleh aku tanya berapa biaya yang harus kukeluarkan agar kamu mau menangani kasusku?” tanya Molly gugup dengan rona merah muda yang membuat wajah itu terlihat sepuluh kali lebih menggoda. Cliff meneguk minumannya hingga tandas, lalu meletakkan gelas begitu saja di atas grand pianonya.
“Minimal 10.000 Dollar per kasus,” jawab Cliff tegas.
*****
