BAB 46
Alter ego?
Seumur hidupnya, Molly tidak pernah menyangka akan bertemu dengan orang yang memiliki alter ego, bahkan jatuh cinta dengan salah satunya. Selama ini Molly pikir kisah alter ego hanya ada di TV. Namun saat mengetahui bahwa pria yang ia cintai memiliki alter ego, saat itu pula Molly menyadari bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini.
Tercengang. Itulah reaksi pertama Molly, malah ia terkesan bingung, tidak percaya, dan …, takut.
Sejujurnya, Molly sangat menghargai keterbukaan Cliff. Bahkan, ia sangat terluka mendengar cerita masa lalu Cliff yang begitu penuh siksaan dan penderitaan.
Molly tidak sanggup membayangkan bagaimana menderitanya Cliff kecil dalam menanggung setiap trauma batin serta siksaan fisik itu seorang diri. Saking tak kuasa menahan rasa kasihan dan sedihnya, air mata pun menetes saat Cliff menceritakan kejadian di mana pria itu hampir tewas karena tenggelam.
Hingga detik ini, Molly masih tak menyangka kalau sekumpulan anak remaja sanggup melakukan perundungan yang sangat kejam. Semua siksaan itu, semua rasa sakit dan hinaan yang Cliff terima, ditambah lagi dengan kejadian di mana pria itu melihat secara langsung mamanya dibunuh, tentu saja membuat mental dan jiwa Cliff terguncang. Tak ada seorang pun yang mampu menjalani kehidupan dengan normal setelah semua kejadian pahit itu. Terutama seorang anak kecil seperti Cliff.
Mengetahui bahwa Mors adalah alter ego Cliff, membuat Molly bukan hanya takut, tapi juga khawatir dengan kondisi kejiwaan Cliff. Tentu saja, dirinya adalah manusia normal. Tak ada seorang pun di dunia ini yang mampu bersikap santai setelah mengetahui orang yang dicintai memiliki alter ego.
Molly menyerap semua informasi mengenai masa lalu Cliff, bahkan ia berniat mencari tahu lebih lagi tentang pria itu. Mengingat bagaimana Mors bisa hadir dalam kehidupan Cliff dan pengaruhnya bagi kejiwaan pria itu, Molly pun mencoba menerima keberadaan sosok itu dengan sebaik mungkin.
Bagi Cliff, Mors adalah kekuatannya. Bagi Cliff, Mors adalah pelindungnya. Namun di balik semua hal baik yang Cliff ucapkan tentang Mors, tetap saja Molly merasakan takut yang luar biasa besar terhadap sosok Mors.
Dan saat ini, senyum tipis nan kejam itu kembali menghiasi wajah Cliff. Senyum yang muncul ketika pria itu menggorok leher si penjahat tepat di depan wajahnya. Senyum penuh ancaman disertai tatapan mata tajam yang membuat bulu kuduk Molly meremang seketika.
“Cliff,” panggil Molly pelan.
Molly tidak ingin menebak-nebak. Namun saat ini ia bisa merasakan perubahan jelas pada sikap Cliff. Aura yang menguar dari tubuh Cliff terasa begitu berbeda. Bahkan ketika Cliff mengangkat tangan untuk menyalakan lampu yang berada di langit-langi mobil, pria itu tak melepaskan sedikit pun pandangannya dari Molly. Cliff menatapnya bak mangsa yang siap diterkam, dan hal itu benar-benar mengerikan.
Rasa takut yang menyelimuti Molly terasa semakin besar. Kegelisahan serta kepanikan pun mulai melanda dirinya. Jujur, Molly belum pernah menghadapi orang yang memiliki alter ego. Bahkan, ia tak tahu apakah setiap ucapan ataupun tindakannya dapat menyinggung perasaan si alter ego atau tidak.
Ini benar-benar membingungkan sekaligus menakutkan bagi Molly. Sangat menakutkan!
“Kamu tahu? Mengingat kembali masa-masa kelam itu, membuatnya lemah dan tak berdaya,” ungkap Cliff sinis disertai senyum miring mengancam dan tatapan kejam yang terus menguncinya.
“Dia terlalu rapuh. Aku ada untuk menutupi kerapuhan itu. Aku ada untuk membuatnya kuat. Aku ada untuk membuatnya tak tersentuh. Dan …, meskipun dia sempat menolak …, hanya ini caranya agar kamu tahu …, siapa. Kami. Sebenarnya,” lanjut Cliff sembari memberi penekanan di kata-kata terakhirnya.
Cara bicara Cliff yang berubah 180 derajat, membuat Molly tercekat. Refleks, dengan tergesa-gesa dan tangan gemetar ketakutan, Molly langsung melepaskan sabuk pengamannya. Seolah mengetahui niat Molly yang ingin keluar dari mobil, Cliff pun segera menangkap pergelangan tangannya.
Genggaman itu terasa begitu kuat dan dingin. Refleks, Molly berniat menepis genggaman itu, namun tatapan tajam penuh amarah yang tertuju padanya membuat tubuh Molly membeku karena takut.
“Jangan. Pernah. Berpikir. Untuk. Menjauh. Dari. Kami!” ucap pria itu tegas. Rahang tegang dengan tatapan tajam mengancam, berbanding lurus dengan eratnya cengkeraman pria itu di pergelangan tangan Molly.
Jantung Molly berdebar cepat, memompa rasa takutnya semakin besar. Perutnya pun menegang kaku, perpaduan antara rasa takut dan kaget. Molly menatap mata itu selama beberapa detik lamanya sebelum akhirnya ia sadar bahwa pria yang ada di hadapannya saat ini bukanlah pria yang ia cintai.
“M-mors,” panggil Molly gugup.
Saking takutnya, ia bisa menangkap rasa takut yang terkandung dalam suaranya. Seringai tipis bak pembunuh berdarah dingin kembali menghiasi wajah pria itu. Menyadari bahwa Molly mampu membedakan Cliff dan Mors, pria itu pun memasang raut puas.
Tentu saja ia bisa mengenali perubahan tersebut. Aura menyeramkan itu mampu membuat siapa pun lari terbirit-birit. Tatapan tajam itu pun seolah mencekik saluran pernapasannya hingga napas Molly terasa begitu sesak.
“L-lepaskan t-tanganku,” pinta Molly ketakutan dengan suara tercekat.
“Berjanjilah kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan kami,” pinta Mors tipis, yang malah terdengar seperti memaksa dan mengancam daripada memohon. Molly pun mengangguk kaku seperti robot.
“Berjanjilah!” pinta Mors tegas.
“A-aku berj-janji,” balas Molly cepat.
Akhirnya, Mors melepaskan cengkeraman di pergelangan tangan Molly. Pria itu mengubah posisi duduk sedikit ke samping agar bisa berhadapan langsung dengannya. Masih dengan rasa takut yang begitu besar, Molly menggeser posisi duduknya hingga punggungnya menyentuh pintu mobil.
Ia berniat menjaga jarak dari pria itu. Namun menyadari bahwa saat ini mereka berada di dalam mobil, Molly pun hanya bisa pasrah dan berdoa agar Mors tidak melakukan sesuatu yang dapat membuatnya pingsan karena ketakutan.
Selama beberapa saat, Mors meneliti Molly bak predator buas yang sedang mengamati mangsanya sebelum disantap. Molly tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya bisa diam dan menunggu sambil menatap setiap perubahan sikap yang terjadi pada tubuh Cliff. Mors mulai menyisirkan jemari di rambut dengan dengusan kecil, membuat penampilan pria itu sedikit berantakan.
“Dia sangat pandai menutupi kelemahannya dengan penampilannya yang mahal dan sempurna,” ucap Mors di tengah keheningan yang mencekam. Mors terkekeh kecil sembari melepaskan kancing lengan kemeja, lalu menarik dan melipatnya sembarangan hingga terhenti di lipatan siku.
Kekehan itu seolah menertawakan sikap Cliff yang selalu memasang topeng sempurna di hadapan semua orang. Topeng yang menjauhkan pria itu dari semua orang yang berniat mendekat, kecuali dirinya. Ya, kecuali Molly.
Sejak mengenal Cliff, entah mengapa ia merasakan sesuatu yang berbeda dari pria itu. Sesuatu yang membuat Molly jatuh cinta. Sesuatu yang akhirnya menjebak Molly ke dalam sebuah situasi janggal dan menarik dirinya masuk ke dunia lain. Dunia yang belum pernah dijamah oleh siapa pun kecuali dirinya. Dunia yang menunjukkan karakter Cliff dan Mors yang sebenarnya.
Setelah selesai menarik kedua lengan kemeja hingga ke lipatan siku, Mors meletakkan salah satu tangan ke atas kemudi, sementara tangan yang lain berada di atas lutut. Molly menangkap bekas sayatan pisau di kedua lengan pria itu. Menyadari tatapan sedihnya, Mors akhirnya bersedekap, lalu bersandar di pintu.
“Aku mengerti mengapa dia bersikap seperti itu,” lanjut Mors tenang namun tak menghilangkan aura kejam yang terpancar jelas dari cara pria itu menatap dirinya. Molly tidak tahu harus berbicara apa. Lidahnya kelu karena ketakutan.
“Masalahnya …, kami berbeda,” ujar Mors dengan senyum miring di wajah tampannya.
“B-berbeda?” ulang Molly pelan dan serak karena takut.
“Dia lemah. Aku ada untuk membuatnya kuat. Dia penakut. Aku ada untuk menghadapi setiap ketakutannya. Dan …, dia sangatlah rapuh. Itulah kenapa aku ada untuk menyokongnya agar tidak semakin hancur,” jelas Mors penuh penekanan.
Molly hanya bisa diam mendengarkan setiap penjelasan itu sambil terus memperhatikan perbedaan saat Cliff beralih menjadi Mors. Perlahan namun pasti, Molly bisa menangkap ciri-ciri ketika Mors muncul dan mengambil alih. Tatapan. Ya, tatapan Cliff dan Mors sangat berbeda. Cliff menatapnya dengan penuh cinta dan kehangatan. Sementara Mors, sosok itu menatapnya dengan sorot kejam, sinis, dan …, dingin.
“Tapi …, kami memiliki kesamaan,” lanjut Mors, misterius.
“Kami suka membunuh. Kami suka darah. Dan …, kami menyukaimu,” ujar Mors tanpa rasa malu sedikit pun.
Molly terbelalak mendengar kejujuran itu. Meskipun Cliff mengatakan bahwa Molly adalah milik pria itu, tapi Cliff belum pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung seperti yang Mors lakukan. Ia tidak tahu harus merasa apa saat ini. Senang, sedih, gembira, bingung, bahagia, atau …, takut?
“C-cliff? Tidak! I-itu bohong …, maksudku, dia tidak mungkin …, Cliff tidak membunuh. Dia …, dia adalah pengacara terkenal. Dia …, dia selalu melindungiku. J-jadi …, tidak mungkin …, dia …, dia tidak mungkin membunuh,” ujar Molly gelagapan.
Senyum miring nan sinis kembali terukir di wajah itu disusul dengusan geli, menertawakan setiap kalimat yang keluar dari bibir Molly. Mors terdiam sejenak, berkutat dengan pikirannya sendiri. Sementara senyum serta tatapan yang tampak menggelap, terus mengunci Molly hingga tubuhnya terasa membeku.
Mors menelengkan kepala tanpa melepaskan pandangan dari Molly. Mata itu seolah berusaha membaca isi kepala Molly, yang membuat dirinya makin gugup. Tak ada yang tahu seberapa cepat debaran jantungnya saat ini. Rasa takutnya yang begitu besar membuat Molly ingin sekali pergi dari hadapan pria itu.
“You know what?” ucap Mors tiba-tiba di tengah keheningan yang begitu menakutkan. Molly tersentak kaget, lalu mengepal kedua tangan erat-erat demi menekan rasa takutnya.
“Kami tidak akan pernah melepaskanmu,” lanjut Mors dalam, tegas, dan penuh ancaman. Molly menggigit bibirnya yang bergetar karena takut.
“A-aku …, b-bisakah aku bicara dengan Cliff?” mohon Molly serak, ketakutan.
“Dia terlalu lemah untuk menghadapimu saat ini. Kamu tidak tahu seberapa sulitnya dia untuk mengungkapkan semua itu padamu. Masa lalu itu …, membuatnya lemah. Dia …, dia selalu seperti itu setiap kali mengingat masa lalunya. Dia tidak sekuat yang kamu pikirkan,” jawab Mors dingin disertai tatapan sinis.
“A-aku ingin …, kumohon. A-aku ingin bicara dengan Cliff,” pinta Molly sembari memasang raut memelas.
Mors kembali terdiam, berkutat dengan pikirannya sendiri. Molly memperhatikan kedua alis Mors yang mengerut, hampir menyatu. Raut Mors tampak seperti kesakitan dan napasnya terdengar cukup berat. Sejenak, pria itu memejamkan mata sebelum akhirnya kembali menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
“Kita pulang sekarang!” tegas Mors yang langsung mematikan lampu di langit-langit mobil, lalu mengendarai mobil menjauh dari rumah itu dengan raut penuh amarah.
Molly, yang bergegas mengenakan sabuk pengaman, hanya bisa diam sembari menahan tubuhnya yang gemetar ketakutan. Molly berusaha keras menghapus rasa takut itu, karena ia tahu kalau rasa takut malah membuatnya tak bisa berpikir jernih.
Perjalanan yang memakan waktu satu jam, terasa sangat singkat karena Molly sibuk dengan pikirannya sendiri. Mors, yang memutuskan untuk tetap diam selama perjalanan, masih memasang raut geram bahkan sampai mereka tiba di rumah.
Setelah memarkirkan mobil di garasi, Mors langsung keluar dari mobil, begitu juga dengan Molly. Dengan langkah cepat, Molly bergegas keluar dari garasi, menuju pintu rumah. Meskipun sambil meringis kesakitan di setiap pijakannya, Molly terus memaksa kakinya agar tetap berjalan.
Namun, ketika ia berada beberapa langkah lagi mencapai pintu rumah, dengan cepat Mors menangkap pergelangan tangannya. Mors tahu kalau Molly berniat melarikan diri dan menjauh dari pria itu. Tampak jelas betapa tak pedulinya Mors akan rasa nyeri serta takut yang terpampang di wajah dan mata Molly. Malahan, Mors menggeram kesal menanggapi respons Molly.
“Kamu sudah berjanji! Kamu tidak boleh pergi meninggalkan kami!” tegas Mors sembari mempererat genggamannya.
“L-lepaskan aku, Mors. Aku …, a-aku tidak akan pergi,” balas Molly gelagapan sembari menahan linangan air mata yang mulai menggenang.
“Jangan menangis!” tegur Mors tegas. Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
“A-aku tidak menangis,” kilah Molly cepat.
“Jangan menangis!” tegas Mors lagi. Namun ketegasan itu malah membuat air mata Molly jatuh dan mengalir begitu saja.
“Aku tidak menangis,” kilah Molly lagi sambil menyeka air matanya. Mors menggeram kesal, lalu menarik Molly ke dalam pelukan.
Rasa perih yang berasal dari luka di lengannya, membuat Molly kembali meringis kesakitan. Pelukan yang terasa sangat erat itu pun membuat napas Molly sesak. Molly tahu, mungkin saat ini Mors yang memeluknya, tapi tubuh ini tetap tubuh Cliff, dan hal itu membuat Molly merasa sedih sekaligus kasihan.
“Jangan menangis!” ucap Mors tipis, berniat membujuknya. Namun, tak ada kelembutan sedikit pun di setiap ucapan pria itu. Akhirnya, Molly menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.
“Aku …, aku sudah tidak menangis,” ucap Molly pelan saat berhasil menghentikan genangan air matanya. Mors melonggarkan pelukan, lalu mundur satu langkah. Seakan tidak ingin Molly lepas dari jangkauan, Mors kembali menggenggam pergelangan tangan kanannya.
“Kamu wanita yang kuat. Aku tahu itu. Jadi, jangan lemah!” ungkap Mors tipis dan sinis. Tidak mengharapkan ucapan balasan darinya, Mors mulai melangkah menuju pintu rumah tanpa melepaskan genggaman di pergelangan tangan Molly.
Terpaksa, Molly mengikuti langkah pria itu tanpa bicara sedikit pun sambil terseok-seok. Martha, yang muncul dari balik dinding dapur, tampak terkejut melihat kedekatan mereka. Hal yang aneh bagi Molly karena Martha sudah biasa melihat Cliff menggenggam tangannya seperti ini. Namun tatapan itu seakan menunjukkan bahwa Martha tahu siapa yang sedang bersama dengannya saat ini.
“Mors,” cegah Martha panik saat pria itu berbelok menuju anak tangga.
“Jangan ikut campur!” tegur Mors tanpa menoleh sedikit pun.
“Please …, jangan sakiti dia,” mohon Martha lemah. Mendengar permintaan itu, Molly menatap punggung Mors yang menegang penuh amarah.
“I won’t!” balas Mors yang langsung berbalik, lalu menggendong tubuh Molly dengan mudah.
“Turunkan aku!” perintah Molly cepat sambil berusaha meronta.
“Kakimu sakit. Diamlah!” balas Mors singkat dan tegas.
Mendengar perhatian yang Mors tunjukkan membuat Molly terkejut sekaligus bingung. Ia tidak menyangka kalau sosok Mors yang terlihat kejam dan menyeramkan di matanya, mampu menunjukkan kepedulian terhadap dirinya.
Pria itu melangkah dengan mudah sambil menggendongnya seperti bayi. Saat mereka tiba di lantai atas, Molly berpikir Mors akan berbelok ke kamarnya, seperti yang biasa Cliff lakukan. Namun, ternyata tidak. Mors malah melangkah menuju kamar Cliff, lalu membuka pintu dengan mudah.
“Mulai sekarang, kamu tidur di sini,” perintah Mors setelah mendudukkannya di pinggir tempat tidur.
“A-aku punya kamar sendiri!” tolak Molly cepat.
“Aku tidak terima penolakan. Kami. Tidak. Terima. Penolakan!” tegas Mors, menekan setiap kata yang keluar dari bibirnya.
“Aku mau Cliff!” ujar Molly singkat. Tiba-tiba, Mors menyunggingkan senyum tipis merespons ucapannya.
“Aku tahu dari awal kalau kamu adalah wanita yang kuat. Kamu …, pemberani,” ucap Mors, tidak memedulikan permintaan Molly.
“Aku mau Cliff!” ulang Molly, kali ini hampir seperti berteriak. Geram, Mors langsung menangkup dagu Molly dengan tangan kiri, lalu menengadahkan wajah Molly dan mengunci tatapannya.
“Aku yang akan bersamamu malam ini, Baby,” ucap Mors pelan dan penuh ancaman.
“Aku. Mau. Cliff!” geram Molly tipis, berusaha menunjukkan bahwa setakut apa pun dirinya saat ini, ia tahu bahwa Cliff akan selalu ada untuk melindunginya.
Tidak terima dengan penolakannya, Mors mendorong kuat tubuh Molly hingga tergeletak di tempat tidur, dan dengan cepat pria itu menindih serta memerangkap tubuhnya ketika ia berniat melarikan diri.
“Aku dan Cliff adalah satu …, kami adalah satu …, kamu adalah milik kami …, tubuhmu adalah milik kami,” ucap Mors geram sebelum mendaratkan ciuman kasar di bibir Molly.
*****
Lukas membuka pintu apartemen, lalu melangkah masuk dengan penuh amarah. Hari ini Molly tidak masuk kerja, dan hal itu membuatnya murka. Ingin rasanya ia datang ke rumah Cliff dan menemui wanita itu. Tapi dengan cepat ia mengurungkan niatnya karena ia tidak ingin berakhir sama seperti Henry.
Sial! Apa yang harus kulakukan? batin Lukas geram seraya mengempaskan bokongnya di sofa ruang TV. Ia meremas rambutnya, lalu berteriak kencang, melampiaskan seluruh amarah yang mengendap dalam dada. Napasnya terengah-engah setelah berteriak, namun amarah itu tidak berkurang sedikit pun.
Ia segera mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu membuka galeri foto yang semuanya berisi foto Molly. Lukas melihat beberapa foto Molly yang ia ambil secara diam-diam. Namun saat ia tiba di foto yang pernah Henry kirimkan padanya melalui ponsel yang sudah ia hancurkan, saat itu pula gairahnya mulai bangkit.
Foto CCTV yang pernah Henry kirimkan padanya membuat tubuh Lukas terasa panas. Ia menginginkan tubuh itu menjadi miliknya seorang. Tubuh indah yang selalu mengisi setiap mimpi terliarnya.
Tanpa rasa malu sedikit pun, Lukas mulai mengamati setiap detail tubuh Molly yang telanjang saat mandi. Jantungnya berdebar cepat, napasnya pun terasa berat.
Tubuh ini harus menjadi milikku. Segera! Ya, tubuh ini segera menjadi milikku. Aku tidak akan berlama-lama lagi. Saat aku mendapatkan waktu yang tepat, saat itu pula aku akan memiliki dia. Tubuh Molly hanya untukku. Untukku!
*****
BAB 47
Bibir itu menciumnya dengan rakus. Gairah dan amarah yang bercampur menjadi satu, terasa begitu nyata dari setiap kuluman dan tarikan bibir yang Mors lakukan pada bibir Molly. Dengan sekuat tenaga Molly meronta di bawah kuasa Mors, namun tubuh kekar itu menahan pergerakannya.
Mors tidak memedulikan penolakan yang berusaha keras Molly tunjukkan. Molly tahu, bibir dan tubuh itu adalah milik Cliff, tapi ia tidak bisa berpura-pura tidak tahu kalau saat ini yang berhadapan dengannya adalah Mors.
Tidak! Molly sama sekali tidak berbohong dengan perasaannya sendiri. Ia mencoba menerima sisi kelam Cliff sekali pun, bahkan berusaha menerima Mors dalam diri Cliff. Tapi keterbukaannya akan kondisi Cliff bukan semerta-merta menyatakan kalau Molly juga bersedia bercinta dengan sosok lain dari pria itu. Mereka berada dalam satu tubuh, Molly tahu. Tapi …, tetap saja mereka adalah pribadi yang berbeda.
“Lepaskan!” teriak Molly sambil terus meronta, lalu melayangkan tamparan sebisa mungkin ke wajah Mors.
Geram, akhirnya Mors menahan wajah Molly dengan tangan kiri, lalu kembali mendaratkan ciuman kasar di bibirnya. Di bawah sana, kaki Mors memaksa masuk di antara kedua kaki Molly. Berharap bisa menghentikan keliaran Mors, akhirnya Molly menggigit bibir pria itu sekuat mungkin.
“Damn it!” umpat Mors geram sembari mengangkat kepala, lalu melayangkan tamparan keras ke pipi Molly.
Tamparan itu membuat Molly meringis kesakitan. Kepalanya pun pening bukan kepalang. Tak ingin memberikan keleluasaan padanya, tangan kanan Mors mulai meremas kuat bahu Molly, berusaha menahan pergerakannya. Sementara, tangan kiri Mors mengusap bekas gigitannya.
Tak ada sedikit pun kernyitan di wajah Mors, yang menandai bahwa pria itu merasa kesakitan. Bahkan saat ini, salah satu sudut bibir Mors menyunggingkan senyum kejam, sementara raut amarah serta tatapan tajam bak pembunuh berdarah dingin tertuju langsung pada Molly.
Ia menatap bekas gigitannya. Bibir bawah Mors tampak memerah, tapi tidak berdarah. Namun setidaknya, hal itu berhasil menghentikan cumbuan liar Mors terhadap dirinya.
“Lepaskan aku! Aku mau Cliff!” geram Molly penuh amarah.
Mors mendengus geli. Seringai kejam itu pun semakin lebar, seolah menertawakan keberanian yang berusaha Molly tunjukkan. Tidak ingin membuang-buang waktu ataupun memberikan kesempatan bagi pria itu untuk berbuat semena-mena terhadap dirinya, Molly mulai memukul-mukuli tubuh serta wajah Mors dengan membabi buta.
Namun sial, tenaga Mors begitu kuat, dan tak ada yang mampu menandingi kecepatan tangan pria itu. Dengan mudah, Mors menangkap kedua tangan Molly, mencengkeram kedua pergelangan tangannya dengan satu tangan, lalu menahannya di atas kepala, kemudian makin menindih tubuhnya.
Molly benar-benar terjebak. Tubuh Mors yang lebih tinggi, kuat, dan kekar, membuat Molly tidak bisa bergerak leluasa. Napas Molly terengah-engah akibat perlawanan sia-sia yang telah ia lakukan. Sementara itu, cengkeraman erat di kedua pergelangannya membuat tangan Molly makin lama terasa makin mati rasa.
Tanpa permisi, Mors mulai mencumbui leher Molly dengan isapan liar sembari memberikan gigitan kuat di tengkuk dan pundaknya. Tidak terima dengan perlakuan Mors, Molly masih berusaha meronta, sementara tangan kanan pria itu mulai menggerayangi tubuh Molly dengan leluasa.
“Hentikan!” teriak Molly sembari meringis kesakitan saat Mors menggigit daun telinganya. Tidak mau diam dan pasrah begitu saja, Molly masih berusaha mengentak-entakkan tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari kuasa Mors.
Tidak terusik dengan rontaan Molly, tangan Mors—yang berada di balik kaos Molly—mulai menjalar ke bagian atas tubuhnya. Dan ketika tangan itu menyentuh payudara, rontaan Molly pun semakin kuat. Namun tampaknya, Mors tidak berniat untuk berhenti menjamah tubuh Molly.
“Aku mau Cliff!” teriak Molly kuat, tepat di telinga Mors.
Refleks, Mors mengangkat kepala dan menatap Molly dengan penuh amarah. Bukannya menjauh dan menghentikan semua keliaran ini, tangan Mors—yang sebelumnya menjamah tubuh Molly—malah bergerak menuju ikat pinggang yang pria itu kenakan, dan mulai melepaskannya dengan mudah. Tahu bahwa ia akan kembali meronta, tangan kiri Mors semakin mempererat cengkeraman di kedua pergelangan Molly.
“Aku mau Cliff!” teriak Molly lagi seraya meronta sekuat mungkin. Namun semua rotaannya percuma, karena dengan mudahnya Mors menarik ikat pinggang keluar dari lingkaran celana, lalu mengikat kedua tangan Molly dengan benda tersebut. Tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir Mors, seolah-olah pria itu sudah terbiasa berhadapan dengan wanita yang meronta ketakutan.
Semua seakan sudah terprogram di dalam kepala pria itu. Bahkan saat menjulurkan tangan ke arah laci meja yang ada di samping tempat tidur pun, Mors menduduki kedua kaki Molly agar ia tidak kabur. Mors mengeluarkan tali dari laci meja, lalu mengikat kakinya yang berniat meronta. Kali ini Molly benar-benar sudah terperangkap.
“Aku. Mau. Cliff!” ucap Molly tipis.
Air matanya mulai menggenang. Mors, yang tidak terima dengan penolakannya, langsung bergerak ke bawah. Menyadari bahwa Mors berniat melepaskan celana yang Molly kenakan, ia pun segera berguling ke samping agar bisa menjauh dari jangkauan pria itu. Namun, secepat kilat Mors mencegah pergerakan Molly, lalu menahan tubuh Molly dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya mulai bergerak menuju kancing celana.
Dengan mudah, Mors melepaskan kancing serta ritsleting celana Molly. Sedetik kemudian, pria itu menarik turun celana serta pakaian dalamnya, dan membiarkannya melingkar begitu saja di pergelangan kaki Molly. Tak ingin menunggu lama-lama, Mors mulai melepaskan pengait bra yang Molly kenakan, lalu menarik bra serta kaos yang ia kenakan hingga melewati kepala, dan membiarkannya begitu saja terhenti di pergelangan tangan Molly yang terikat di atas kepala.
Tak kuasa menahan rasa perih dan sakit di dadanya akibat perlakuan buruk Mors, akhirnya Molly pun menangis. Meronta bukanlah lagi harapannya. Kali ini, Molly hanya bisa berharap agar Cliff kembali mengambil alih tubuh itu dan melepaskannya.
“Cliff! Kumohon, Cliff! Tolong aku, kumohon!” ucap Molly di sela-sela isak tangisnya. Ia berharap Cliff bisa mendengar teriakan lemahnya. Mors tidak bergerak ataupun berbicara. Pria itu hanya bertumpu di kedua lututnya, mengangkangi kedua kaki Molly yang terikat, sementara mata tajam itu meneliti tubuh Molly dengan tatapan liar.
“Cliff! Kumohon, Cliff!” teriak Molly dengan air mata yang berderai. Tak menyukai teriakannya, Mors mulai mencekik leher Molly dengan tangan kiri, sementara tangan kanan itu meremas gemas payudara Molly. Cekikan yang begitu kuat menghambat tarikan napas Molly. Tak mampu bergerak banyak karena asupan oksigennya semakin menipis, Molly pun hanya bisa memejamkan mata sementara air matanya terus mengalir deras.
“Jangan menangis!” geram Mors disertai gemeretak gigi.
“Aku. Mau. Cliff!” ucap Molly tipis dan parau. Remasan di payudara Molly mulai mengeras selama beberapa detik sebelum akhirnya perlahan-lahan melemah. Cekikan di leher Molly pun mulai melonggar, hingga akhirnya ia bisa bernapas dengan lega.
“Tidak bisa! Kau …, ini tidak boleh!” ucap Mors geram. Molly mengerutkan kening sembari mencoba bernapas dengan benar saat Mors berbicara sendiri.
“Dia juga milikku! Kau tidak boleh memperlakukanku seperti ini …, tapi ini salah!” ucap Mors lagi, lalu menegakkan tubuh dan memejamkan mata sejenak.
Refleks, Molly membawa turun kedua tangannya yang terikat, berniat menutupi tubuhnya yang terbuka bebas. Namun beberapa detik kemudian, Mors membuka mata dan menatapnya dengan penuh amarah. Pria itu kembali menahan kedua tangan Molly di atas kepala, lalu menindih dan memenjara tubuhnya.
“Kau seharusnya diam saja. Aku …, kau yang seharusnya diam! Hentikan! Kau tidak bisa …, aku bisa! Kita bisa! Jangan …, hentikan! Ini bukan tubuhmu. Ini tubuh kita …, hentikan, Mors …. Hentikan! …. Tidak! Aku harus …, tidak! Kau tidak bisa menghentikanku …, aku bisa …, tidak! Dia milikku—Milik kita!” ucap Mors murka, lalu bangkit dan turun dari tempat tidur.
Bingung dan ketakutan, Molly hanya bisa berbaring sembari menatap Mors yang berdiri di samping tempat tidur. Mors menatap tubuh Molly dengan sorot mata kosong, seolah jiwa pria itu telah meninggalkan tubuh tinggi kekar yang berdiri tegak di hadapannya. Molly segera bangkit dari posisi tidur, lalu menutupi payudaranya dengan kedua tangan yang terikat.
“Diam! Hentikan!” ucap Mors geram sembari meremas rambutnya sendiri. Molly takut melihat apa yang Mors lakukan. Bahkan air matanya terus mengalir, kali ini karena campuran rasa takut dan kasihan.
“Kau yang diam! Hentikan!” teriak Mors yang langsung berbalik dan melangkah menuju sebuah pintu yang berada tak jauh dari lemari pakaian. Pria itu pun menghilang begitu saja meninggalkan Molly sendirian.
Molly terdiam sejenak, masih terguncang dengan apa yang menimpa dirinya. Namun beberapa detik kemudian, Molly berhasil mengendalikan diri. Ia mulai melepaskan ikatan di kaki, lalu mencoba melepaskan ikat pinggang yang melingkar di pergelangan tangan menggunakan giginya.
Setelah berhasil membebaskan diri, Molly segera memperbaiki pakaiannya, lalu bergegas menuju pintu kamar. Diiringi debar jantung ketakutan, Molly menekan tuas pintu. Tanpa berniat menoleh ke belakang, ia pun berlari secepat mungkin menuju kamar tidurnya.
Setibanya di kamar, Molly langsung mengunci pintu, kemudian masuk ke kamar mandi. Sejenak, Molly berdiri sembari bersandar di pintu. Napasnya terengah-engah, kepalanya pening, dan dadanya sesak.
Seumur hidup, Molly tidak menyangka semua kejadian ini bisa menimpa dirinya. Bahkan, ia tidak tahu apakah dirinya masih sanggup menatap Cliff seperti saat pertama kali dirinya jatuh cinta pada pria itu.
Ini sulit. Sangat sulit!
*****
Philip duduk di belakang meja kerja sembari menatap kertas pemberian Mark kemarin. Hingga saat ini, ia belum bisa menekan debaran jantung antusias setelah menerima info dari Mark.
Setelah menerima kertas tersebut, Philip memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Setibanya di apartemen, Philip segera menghubungi Brad dengan ponsel dan nomor baru. Brad sempat mempertanyakan perihal pergantian nomor tersebut. Ia pun menjelaskan bahwa hal ini dilakukan demi menjaga keamanan mereka.
Ia tidak mengatakan kalau kemungkinan besar Henry sudah mati, karena ia tidak ingin membuat Brad semakin takut dan panik. Ia tahu bagaimana mudahnya Brad mengambil keputusan dengan sembarangan karena panik. Ia tidak ingin kepanikan Brad membuat rencananya kembali gagal.
Philip pun tak lupa memastikan ulang pada Brad bahwa Cliff Franklin merupakan orang yang menjadi pengacara Molly. Setelah mendapat kepastian dari Brad, ia pun menanyakan tentang CCTV jalanan yang dilalui oleh Henry.
“Aku sudah mengambilnya, dan sekarang aku sedang menuju ke tempat persembunyianku,” jawab Brad langsung.
“Teruslah bersembunyi. Matikan ponselmu, lalu beli ponsel serta nomor baru, kemudian hubungi aku di nomor ini,” perintah Philip tegas, “setelah itu, tunggu sampai aku memintamu untuk keluar dari persembunyian.”
“Baiklah, dan cepat! Aku tidak mungkin bersembunyi terlalu lama. Atasanku pasti curiga. Dan, bagaimana dengan Molly? Apa kau sudah membereskannya?” sahut Brad sedikit kesal dan menuntut karena harus menjauh dari kehidupan sehari-harinya.
“Kau tidak berhak memerintahku! Ingat itu, Brad!” ujar Philip sinis, menegaskan kedudukannya.
“Oh, satu lagi,” ucap Brad cepat, tak memedulikan ketegasan Philip.
“Apa?” sahut Philip cepat.
“Sebelum aku mengambil CCTV ini, ternyata ada pihak eksternal yang sudah mengambil salinannya terlebih dulu tadi subuh,” lapor Brad yang terdengar tergesa-gesa menuju suatu tempat.
“Siapa?” tanya Philip singkat.
“Mereka mengatakan ada beberapa orang dari pihak kejaksaan agung yang meminta salinan itu,” jawab Brad lancar, “kurasa …, mereka adalah suruhan Cliff, mengingat pria itu memiliki kekerabatan erat dengan Mr. Brooks.”
“Tenang saja,” sahut Philip tak peduli, “aku tahu apa yang aku lakukan.”
Tanpa menunggu jawaban balasan dari Brad, Philip langsung memutuskan panggilan tersebut. Ya, tentu saja Philip tidak peduli dengan pihak-pihak yang membantu Cliff dalam menangani kasus Nora. Bahkan sesungguhnya, ia sudah tak peduli lagi dengan CCTV itu karena Henry sudah mati. Ia pun berniat menghubungi Mark keesokan hari demi menggali lebih dalam mengenai Cliff Franklin.
Dan di sinilah dirinya, duduk sambil menggenggam ponsel, mencoba membulatkan tekad dan mengatur kalimat yang tepat untuk menghubungi Mark. Dengan debaran jantung yang begitu kuat, ia menekan nomor ponsel Mark dan menunggu sejenak sampai akhirnya ia mendengar suara pria itu di ujung sana.
“Mark, maaf mengganggumu pagi ini. Aku ingin menanyakan tentang nama yang kemarin kau berikan padaku,” ujar Philip langsung.
“Oh, silakan. Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” sahut Mark santai.
“Ehm, sebenarnya …, bagaimana cara dia bisa membantu menyelesaikan masalahku …, emmm, maksudku …, siapa sebenarnya dia?” tanya Philip pura-pura gugup.
“Wait,” balas Mark cepat. Philip menunggu sejenak sembari mendengarkan apa yang terjadi di balik ponsel. Tampaknya pria itu baru saja menutup pintu.
“Dia perantara,” ucap Mark beberapa saat kemudian.
“Perantara?” ulang Philip seraya mengerutkan kening, “perantara apa?”
“Dia kenal seorang pembunuh bayaran yang sangat terpercaya. Namanya Mors,” jelas Mark sambil mengecilkan suara saat menyebut nama itu.
“Mors? Maksudmu Cliff ini akan menghubungkanku pada seorang pembunuh bayaran?” tanya Philip cepat, memastikan agar tidak ada kesalahpahaman di sini.
“Ya. Hanya dia yang bisa menghubungkanmu dengan Mors,” balas Mark tenang, “Mors melakukan semuanya dengan sempurna dan bersih. Bahkan, tak ada seorang pun menyadari hilangnya keberadaan target yang kita inginkan.”
“Kau yakin?” tanya Philip ragu. Mark terdiam sejenak sebelum berdeham ringan.
“Ini rahasia di antara kita. Kuharap kau bisa menyimpannya baik-baik,” ucap Mark pelan, seakan takut ada seseorang yang mendengar percakapan mereka.
“Aku akan menyimpan rahasiamu, Mark,” sahut Philip cepat.
Akhirnya, Mark bercerita tentang seseorang yang mencoba mengancam ketenangan keluarga mereka. Seorang pria bajingan yang mengancam akan menyebarkan foto dan video keponakannya yang telah dimanfaatkan dengan tidak senonoh. Mark mengetahui tentang Mors dan Cliff dari salah seorang kerabat yang juga pernah menggunakan jasa pria itu.
Namun Mark mengatakan bahwa Mors tidak seperti para pembunuh bayaran pada umumnya. Mors selalu memilih apakah target tersebut pantas untuk dibunuh. Jika Mors menyetujui pekerjaan itu, maka Cliff akan menghubungi kembali si penyewa jasa, lalu memberikan waktu satu sampai dua minggu untuk melenyapkan target dengan bersih.
“Jadi, kalau kau merasa bahwa musuhmu ini benar-benar pantas untuk mati, maka kusarankan agar kau segera menghubunginya. Bisa kupastikan, tidak akan ada yang tahu bahwa dirimu adalah dalang di balik kematian musuhmu itu,” ucap Mark sebelum berhenti bercerita.
Philip mendengarkan dengan saksama. Menurut kabar dari Brad, Cliff begitu protektif terhadap Molly. Bahkan Brad mengatakan kalau Cliff tampak begitu gencar mencari siapa pembunuh Nora.
Menurut info yang pernah ia terima dari Henry, Molly tinggal di rumah Cliff. Wanita itu terus berada dalam perlindungan Cliff. Saat ini, Henry sudah mati. Setelah mendengar cerita mengenai Mors, maka Philip bisa mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar Mors-lah yang membunuh Henry.
Meskipun Henry sudah mati, tapi Philip belum bisa bernapas lega karena ia tahu kalau Cliff tidak akan berhenti sebelum menemukan dalang di balik pembunuhan Nora. Maka dari itu, ia akan mencari sesuatu yang dapat memalingkan perhatian Cliff dari Molly. Sesuatu yang mungkin dapat memperlancar rencananya dalam menemukan seseorang yang selama ini ia cari dan melampiaskan dendamnya.
“Terima kasih untuk informasinya, Mark. Kau benar-benar membantuku,” ucap Philip lancar, berniat mengakhiri pembicaraan.
“Sama-sama, Philip. Jasamu dalam menyelamatkan nyawa anakku tak sebanding dengan yang kuberikan saat ini,” balas Mark hangat dan bersahabat.
“Baiklah. Sampai ketemu nanti, Mark,” ucap Philip ramah.
“OK,” sahut Mark sebelum memutuskan panggilan tersebut.
Philip terdiam sejenak, memikirkan alasan tepat untuk membuat Cliff tertarik menerima pekerjaan darinya. Beberapa saat kemudian, sebuah ide cemerlang muncul dalam kepalanya. Ia pun segera membuka laptop dan menyalakannya. Jantung Philip berdebar cepat, adrenalin membuat rasa percaya dirinya kembali meningkat.
Ia segera membuka halaman pencari dan mengetik nama Cliff di sana. Sedetik kemudian, berita keberhasilan pria itu saat memenangkan beberapa perkara mulai muncul di halaman terdepan. Tapi, bukan itu yang ia cari. Ia butuh sesuatu yang lebih personal. Lebih dalam. Lebih …, sensitif.
*****
Molly baru saja selesai mandi. Ia memutuskan untuk masuk kerja hari ini. Bukan karena ia merasa tubuhnya sudah sehat setelah kejadian kemarin, tapi karena ia butuh keluar dari rumah ini meskipun sejenak.
Semua yang terjadi dalam satu hari kemarin, membuat kepala Molly ingin meledak. Tubuhnya lelah, namun tak ada yang bisa menandingi betapa lelah jiwa dan mentalnya saat ini. Molly tidak peduli apakah Cliff atau Mors melarangnya untuk masuk kerja hari ini. Ia sudah bersikeras untuk menjauh selama beberapa saat.
Ia butuh jarak. Ia butuh bernapas. Bahkan, ia butuh ketenangan sejenak dan menjauh dari Cliff atau Mors.
Pagi ini, Molly tidak turun ke bawah untuk sarapan. Perutnya tidak lapar sama sekali. Perasaannya yang lelah dan tubuhnya yang sakit, membuat selera makannya hilang.
Saat bangun tidur tadi, Molly berharap agar tak ada seorang pun mengetuk pintunya. Bahkan, Molly berdoa agar Cliff atau Mors tidak mengusik paginya, karena ia tidak tahu apakah ia masih sanggup untuk bertemu mereka setelah kejadian semalam. Ini terlalu berat baginya.
Bukan! Molly melakukan hal ini bukan karena ia tidak bisa menerima kondisi Cliff. Hanya saja, ia masih belum sanggup menghadapi seseorang yang memiliki alter ego. Ia masih harus mencari tahu cara menghadapi perbedaan sifat yang sejujurnya membuat Molly sedikit trauma. Ia benar-benar butuh waktu dan …, jarak.
Setelah kejadian semalam, Molly mencoba untuk menenangkan diri. Bahkan sebelum tertidur karena kelelahan, ia sempat mencari tahu cara menangani orang yang memiliki alter ego. Setelah membaca informasi dari internet, Molly setidaknya tahu kalau hanya dukungan keluarga dan orang-orang terdekat yang bisa mengobati si pemilik alter ego. Molly juga akhirnya mengetahui bahwa sesungguhnya Cliff bisa mengendalikan Mors.
Seketika itu pula, ia mengulang kembali kejadian pahit yang menimpa dirinya di mana Mors memperlakukannya dengan sangat-sangat buruk. Molly merasakan kekecewaan yang begitu luar biasa dalam karena Cliff tidak bisa mengendalikan Mors. Molly kecewa. Molly sakit. Molly terluka. Dan bisa dikatakan, saat ini Molly sangat marah pada Cliff.
Memang, Mors mengatakan kalau Cliff selalu lemah setiap kali mengingat masa lalunya. Namun, setiap kali mengingat betapa lemahnya Cliff yang tak sanggup menekan Mors, amarah itu kembali melanda dirinya. Seandainya Cliff mampu mengendalikan Mors, kejadian semalam pasti tak akan menimpa Molly. Meskipun pada akhirnya Mors menjauh dan menghilang di balik pintu kamar mandi, tapi tetap saja dirinya sudah terlanjut terluka.
Molly menatap wajahnya yang lelah di cermin sembari menguncir kuda rambutnya. Setelah selesai mengikat rambut, Molly menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan. Ia tidak tahu mengapa hidupnya bisa sekacau dan seaneh ini, tapi setidaknya ia harus kuat.
Molly tidak boleh menyerah. Meskipun pembunuh mama sudah mati di tangan Mors, ia masih belum bisa bernapas lega sebelum mengetahui siapa dalang di balik semua kekacauan dalam hidupnya.
Setelah mengenakan sweater kesayangannya, Molly segera berbalik, mengambil tas yang ia letakkan di atas tempat tidur, lalu menyampirkannya di bahu. Setelah memeriksa penampilannya sekali lagi, Molly segera melangkah menuju pintu kamar. Baru saja ia membuka pintu, napas Molly langsung tercekat melihat Cliff yang berdiri tepat di hadapannya.
“Astaga! Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Molly cepat seraya meletakkan tangan kanan di dada. Ia merasakan betapa cepat debar jantungnya saat ini.
“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang mau kamu lakukan sekarang?” tanya pria itu tegas.
“Dengan siapa aku berbicara sekarang?” tanya Molly langsung. Ia harus memastikan dengan siapa dirinya berhadapan saat ini agar ia bisa menentukan reaksi terbaik demi menjaga keselamatannya.
“Ini aku, Cliff,” jawab Cliff tipis, lalu menggemeretakkan gigi, tampak tidak menyukai pertanyaannya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Cliff cepat dengan raut curiga, sementara matanya meneliti penampilan Molly mulai dari ujung rambut sampai kaki.
“Kerja,” jawab Molly singkat.
“Kamu belum sarapan, dan sekarang kamu bilang kamu mau kerja? Apa kamu mau cari penyakit?” tanya Cliff khawatir.
“Aku kenyang,” jawab Molly singkat.
“Kenyang makan apa?” tanya Cliff sinis.
“Tidak ada,” sahut Molly jujur, “aku bisa makan di kafe nanti. Kamu tenang saja. Tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu.”
Tiba-tiba, Cliff mengangkat tangan, berniat ingin menyentuh pipi Molly. Refleks karena takut, Molly pun bergerak mundur selangkah. Cliff mengerutkan kening, tampak tersinggung dengan sikap Molly.
“Apa aku tidak boleh menyentuhmu lagi?” tanya Cliff pelan. Molly bisa mendengar besarnya penyesalan yang terkandung dalam setiap kata yang pria itu ucapkan. Perih yang bersarang di dada Molly menunjukkan bahwa kejadian semalam membuat tingkat kepercayaannya pada Cliff berkurang drastis. Molly sedih karena sesungguhnya hanya Cliff yang bisa ia percaya saat ini, selain Kevin tentunya.
“A-aku rasa …, lebih baik kita …, menjaga jarak dulu,” jawab Molly gugup, lalu mengalihkan pandangan dari Cliff.
“Jarak?” ulang Cliff cepat, terdengar tidak menyukai usul Molly.
“Aku harap kamu bisa mengerti kondisiku saat ini, Cliff. A-aku …, setelah kejadian semalam …, aku …, kurasa aku butuh waktu untuk menenangkan diriku sejenak,” jawab Molly jujur tanpa berani menatap Cliff sedikit pun. Kedua tangannya menggenggam tali tas erat-erat, seakan benda tersebut adalah sumber kekuatannya.
“Apa kamu membenciku?” tanya Cliff lemah. Molly bisa mendengar besarnya rasa sakit dan kekecewaan yang Cliff rasakan saat melontarkan pertanyaan itu padanya. Molly memejamkan mata sejenak, berusaha menguatkan diri agar tidak mudah larut dalam perasaannya sendiri. Setelah menghela napas, ia membuka mata, lalu menatap lantai seolah hanya itu yang bisa ia lihat.
“A-aku tidak membencimu, Cliff …, hanya saja, aku butuh waktu untuk bisa memahami semua keadaan ini,” jelas Molly sambil bergerak mundur dua langkah lagi saat menangkap pergerakan Cliff yang mencoba mendekati dirinya.
“Aku berusaha jujur padamu, Molly,” ungkap Cliff lemah. Kali ini terdengar frustrasi dan penuh penyesalan.
“A-aku tahu,” sahut Molly cepat.
“Lalu, kenapa kamu malah menjaga jarak dariku?” tanya Cliff, tidak terima dengan keputusannya.
“Karena …, i-ini ternyata …, tidak semudah yang kupikirkan,” jawab Molly mencoba mencari alasan.
“Tatap aku saat berbicara, Molly!” tegur Cliff geram. Patuh, Molly langsung mengangkat pandangannya dan menatap Cliff yang tampak terluka dengan jawabannya.
“Kamu tahu? Ini …, semua ini juga tidak mudah bagiku, Molly,” ungkap Cliff lembut, “terbuka padamu adalah sebuah pengorbanan besar yang harus kulakukan. Aku melakukannya supaya kamu mengenal siapa diriku yang sebenarnya. Kamu harus mengenalku, Molly. Kamu …, kamu sangat penting bagiku. Kamu menuntutku untuk menjelaskan siapa Mors sebenarnya, dan aku melakukannya. Tapi setelah kamu mengenalnya, kamu malah bersikap seperti ini.”
“A-aku …, aku memang ingin tahu siapa Mors. Tapi …, apa yang dia lakukan benar-benar sudah melukai perasaanku, Cliff!” ungkap Molly nelangsa. Ia berharap Cliff bisa mengerti betapa terluka dan kecewanya ia pada pria itu saat ini.
“Aku tahu dia sudah menyakitimu. Tapi, itu dia, bukan aku!” balas Cliff berusaha membela diri.
“Dia memang bukan dirimu, tapi kalian itu satu. Kenapa kamu tidak menghentikannya? Kenapa kamu membiarkannya melakukan hal itu padaku? Kamu bisa mengendalikannya, Cliff. Kamu bisa!” protes Molly kesal. Air mata yang mulai menggenang, menunjukkan betapa beratnya percakapan ini bagi batin dan emosinya saat ini.
“Ada saatnya di mana aku terlalu lemah untuk mengendalikan dia. Aku tidak bisa …, maksudku, aku bisa menghentikannya, tentu saja. Tapi …, kamu lihat, aku berhasil menghentikannya, ‘kan? Kamu …, kamu harus mengerti kondisiku, Baby,” jelas Cliff dengan raut menyesal.
“Don’t baby me, Cliff!” tegur Molly kecewa dan sedih, “aku tahu bagaimana kondisimu. Aku bahkan berusaha menerima semua yang terjadi pada dirimu. Tapi, apa yang dia perbuat padaku benar-benar …, dia …, dia …, dia menyakitiku!”
“Aku tahu, Molly. Aku mengerti mungkin saat ini kamu belum bisa memaafkan kelemahanku. Tapi …, kumohon jangan menjauh dariku,” pinta Cliff seraya melangkah mendekat.
“Please, stop! Aku butuh ruang, Cliff. Kumohon, berikan aku ruang sedikit saja,” sahut Molly cepat seraya bergerak mundur. Menyadari sikapnya yang terus berusaha untuk menjaga jarak, akhirnya Cliff pun berhenti melangkah.
“Untuk apa? Apa kamu berniat meninggalkanku?” tanya Cliff langsung, terdengar begitu putus asa, kecewa, dan frustrasi.
Kali ini—dan, baru kali ini—Molly berhasil menangkap semua perasaan yang Cliff miliki. Semua tergambar jelas baik di raut wajah, gestur tubuh, bahkan sorot mata Cliff.
Ini sangat sulit bagi Molly. Menatap kekecewaan, kesedihan, rasa takut, panik, marah, putus asa, bahkan sorot mata memohon yang Cliff tujukan padanya, membuat Molly semakin sulit menentukan sikap demi kebaikan mereka bersama.
“Aku hanya butuh waktu untuk berpikir. Aku butuh waktu untuk bernapas sejenak, Cliff. Semua ini …, semua ini terlalu cepat dan berat,” ungkap Molly jujur.
“Apa kamu akan meninggalkanku?” ulang Cliff lemah dengan raut memelas, yang membuat dada Molly terasa sesak. Cliff tidak tahu betapa sulit dirinya untuk berbicara saat ini setelah apa yang terjadi semalam.
Yang Mors lakukan telah menghancurkan kepercayaan yang ia miliki terhadap Cliff. Yang Mors lakukan padanya semalam, seakan menunjukkan bahwa dirinya bukanlah wanita yang tepat untuk Cliff. Bahkan saat ini, Molly meragukan kesiapan dirinya untuk menerima kenyataan bahwa Cliff memiliki alter ego. Ia ragu, sangat ragu apakah dirinya mampu menghadapi bahwa Cliff memiliki Mors dalam tubuh itu.
“Tidak,” jawab Molly cepat.
Cliff terdiam sejenak sembari terus menatap wajah Molly. Ia bisa menangkap rasa takut yang terpancar jelas di mata pria itu, bahkan rasa bersalah pun terukir jelas di wajahnya. Ia tahu kalau semua ini berat bagi mereka berdua, namun hanya ini jalan terbaik agar ia bisa memikirkan semua ini dengan kepala dingin.
“Kumohon, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, Baby,” mohon Cliff serak.
Air mata Molly menetes mendengar permohonan itu meluncur dari bibir Cliff. Raut memelas yang tak pernah pria itu tunjukkan selama ini pun membuat Molly merasa bersalah karena sudah membuat satu-satunya pria yang ia cintai memohon seperti itu.
“Aku terlalu mencintaimu, Cliff. Rasa cintaku yang begitu besar padamu membuatku sulit untuk meninggalkanmu. Apa kamu tidak bisa melihatnya?” ungkap Molly sedih sembari menahan isak tangisnya.
Cliff tertegun mendengar ucapannya. Molly pun memutuskan untuk melangkah melewati Cliff begitu saja. Ia tidak tahu berapa lama lagi dirinya bisa bertahan sekuat ini. Karena sejujurnya, sebagian dari dirinya ingin sekali masuk ke dalam pelukan Cliff dan menangis sekuat mungkin. Tapi, Molly memilih untuk terus melangkah menjauh dari pria itu.
Setelah tiba di belokan menuju anak tangga, Molly menoleh sejenak ke arah Cliff. Pria itu masih diam membeku, terlihat seperti sedang berkutat dengan pikirannya sendiri. Masih dengan rasa perih di dada, Molly terpaksa mengalihkan pandangannya dari Cliff, dan kembali melangkah menuju anak tangga.
Ini adalah keputusan terbaik saat ini. Ia butuh waktu. Ia butuh jarak. Ia butuh ketenangan. Ia butuh …, mama.
*****
BAB 48
Molly membuka pintu ruang karyawan dan langsung melangkah menuju loker pribadi. Setelah meletakkan tas dan sweater di sana, Molly membanting pintu loker demi melampiaskan rasa frustrasinya, lalu menundukkan kepala, dan membiarkan air matanya menetes begitu saja.
Selama di perjalanan, tak tahu sudah berapa kali ia menahan genangan air matanya agar tidak menetes. Cliff, yang berusaha menghubunginya lebih dari sepuluh kali, membuat rasa sedih semakin menyelimutinya. Molly menolak setiap panggilan tersebut dan memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya. Ia benar-benar butuh waktu untuk menenangkan diri.
Tapi sekarang, Molly tidak bisa menahan lagi tetesan air matanya. Ia pun menangis tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Rasa perih dan sesak di dadanya terasa begitu menyiksa, membuat setiap tarikan napasnya terasa berat. Rasa frustrasi yang bercampur dengan penyesalan yang begitu dalam pun membuat air matanya semakin berderai.
Ya, ia menyesal dengan apa yang terjadi di antara mereka saat ini. Ia juga merasa bersalah karena sudah pergi begitu saja dalam keadaan marah. Molly tahu, seharusnya ia bisa menanggapi situasi ini dengan baik. Namun saat melihat wajah Cliff tadi, ia kembali mengingat bagaimana Mors memperlakukannya dengan kasar.
Ini sulit. Sangat sulit. Bahkan, seseorang yang memiliki tingkat kesabaran paling tinggi di dunia pun pasti tidak akan mudah menerima semua kejadian seperti yang menimpa dirinya dalam satu hari kemarin.
Setelah beberapa saat menangis, Molly mulai mencoba menenangkan diri meskipun sulit. Ia mengusap air matanya beberapa kali sembari menarik napas dalam-dalam. Suara pintu yang terbuka, membuat Molly melirik sekilas sebelum kembali menyembunyikan raut sedihnya dari Kevin. Ia tidak ingin Kevin panik dan khawatir.
“Waw, tumben kamu datang jam segini,” celetuk Kevin santai, lalu menghampiri Molly dan berhenti tepat di sampingnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Kevin cepat saat menangkap raut sedih Molly. Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Bukannya tidak ingin terbuka, tapi Molly tahu sedikit saja ia berbicara air matanya pasti kembali menetes.
“Apa Cliff menyakitimu?” tanya Kevin cepat, terdengar begitu protektif.
“B-bukan,” jawab Molly berbohong tanpa berani menatap Kevin.
“Lalu?” tanya Kevin seraya melipat tangan di depan dada dan memasang raut curiga.
“A-aku …, aku hanya merindukan Mama,” jawab Molly dengan kepala tertunduk dan air matanya pun kembali menetes. Ia tidak ingin Kevin menangkap kebohongan yang mungkin terpancar jelas di wajahnya saat ini.
Tiba-tiba, Kevin menarik tubuh Molly, lalu memeluknya erat-erat. Sedetik kemudian, tangisan Molly pun pecah. Ia menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan semua rasa sakit, kekecewaan, serta amarah dalam dirinya. Kevin, yang memutuskan untuk tetap diam selama beberapa saat, hanya memeluknya erat sembari mengusap punggung Molly dengan lembut. Saat tangisan Molly mulai mereda, Kevin melonggarkan pelukan, lalu menatapnya dalam-dalam.
“Kamu mau aku antar ke kuburan Mama?” tawar Kevin lembut. Ibu jari pria itu mengusap air mata Molly dengan penuh kasih sayang.
“Tidak perlu, Kev,” jawab Molly di sela-sela isak tangisnya.
“Kenapa?” tanya Kevin seraya memasang raut bingung.
“A-aku sudah merasa sedikit lebih tenang sekarang,” jawab Molly pelan.
“Kamu yakin?” tanya Kevin memastikan, lalu melihat jam tangannya, “kamu masih ada waktu sekitar …, satu jam lagi.”
“It’s OK, Kev. A-aku benar-benar sudah lebih tenang sekarang,” tolak Molly lagi.
“Baiklah. Aku akan kembali bekerja. Tenangkan dirimu sejenak dan perbaiki riasanmu. Jangan sampai orang lain melihat raut sedihmu, Ly,” pesan Kevin hangat, lalu mengusap puncak kepala Molly seperti seorang kakak yang begitu menyayangi adiknya.
“OK,” jawab Molly singkat.
Kevin pun melangkah menuju loker pribadinya, mengeluarkan sabun cuci muka dan selembar handuk berukuran kecil. Seperti biasa, saat waktu menunjukkan pukul 11.00, pria itu selalu melakukan rutinitas kecilnya untuk menghilangkan rasa kantuk. Kevin pun keluar dari ruangan, meninggalkan Molly sendirian.
Setelah merapikan riasannya, ia pun memilih untuk mengisi perut di restoran sebelah dan menenangkan diri sebelum memulai tugasnya sebagai pramusaji. Dengan perasaan yang lebih ringan karena sudah menangis, akhirnya Molly melangkah keluar dari ruang karyawan.
*****
Entah sudah berapa kali ia melirik ke jam dinding di dekat sofa panjang yang ada di ruang kerja. Bahkan, ia tak tahu berapa lama lagi ia bisa bersabar mendengar keluh kesah kliennya.
Sekarang sudah pukul 19.00, dan seharusnya ia sudah berada di kafe saat ini. Cliff berharap agar pria itu berhenti berbicara dan mengakhiri rasa jenuh yang membuat kepalanya benar-benar berat. Cliff bersandar sembari bersedekap. Ia memasang raut datar andalannya, sementara pikirannya tertuju pada Molly.
Setelah wanita itu memutuskan untuk berangkat kerja, Cliff sama sekali tidak bisa tenang. Bukan hanya karena memikirkan keselamatan Molly yang sedang terancam, tapi juga karena ucapan yang wanita itu katakan sebelum meninggalkannya bak seorang pecundang.
‘Aku terlalu mencintaimu, Cliff. Rasa cintaku yang begitu besar padamu membuatku sulit untuk meninggalkanmu. Apa kamu tidak bisa melihatnya?’
Barisan kalimat itu kembali mengisi telinganya setiap kali ia mengingat raut kecewa Molly. Cliff tahu kalau wanita itu mencintai dirinya.
Masalahnya adalah, apakah perasaan yang kumiliki sanggup menandingi rasa cinta yang Molly tunjukkan padaku? Bagaimana kalau yang aku rasakan ini tak sekuat yang kupikirkan? Atau …, apakah aku siap menerima cinta Molly dan menjaganya dengan baik, sementara dunia yang kugeluti sama sekali tak mengenal cinta?
Setelah Molly pergi, Cliff kembali berbicara dan menegur Mors. Ia berusaha menekankan pada Mors bahwa ia tidak ingin Molly terluka. Ia menyayangi Molly lebih dari apa pun yang ada di dunia ini.
Namun, berbeda dengan Mors yang menganggap cinta hanyalah permainan perasaan yang menjemukan. Arti cinta bagi Mors hanyalah kata-kata kiasan yang menunjukkan bahwa pria itu menginginkan tubuh Molly. Bagi Mors, kasih sayang hanyalah tindakan yang menguras emosi serta membuat setiap pria lengah.
Dengan tegas Mors mengatakan bahwa keinginannya untuk memiliki Molly hanya sebatas kebutuhan demi memuaskan gairahnya yang liar. Tak ada perasaan lebih. Tak ada cinta, apalagi kasih sayang, kehangatan, serta kebutuhan batin yang menunjukkan keterikatan jiwa antara seorang pria dengan seorang wanita.
Itulah yang Mors ucapkan secara lantang demi membela perbuatan kejinya semalam. Tapi, tidak dengan Cliff. Ia bukan hanya ingin bercinta dengan Molly. Ia ingin menjaga, melindungi, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi Molly.
Ya, sekuat dan sebesar itulah perasaan yang ia miliki pada Molly saat ini. Tapi, Mors tidak mau memahami perasaannya. Cliff tahu, selama ini Mors yang selalu menemani, menguatkan, dan membentuk dirinya. Namun …, Mors tak menyadari bahwa tanpa Molly, Cliff lemah. Tanpa Molly, Cliff seolah kembali menjadi manusia yang tak memiliki hati, jiwa, dan perasaan. Tanpa Molly, Cliff merasa hampa dan sendirian. Molly adalah pusat perputaran dunianya saat ini, tapi …, Mors tidak peduli!
Selain itu, masih ada satu hal yang membuat Cliff kesal pada Mors. Pria itu memang sudah mengatakan pada Molly kalau mereka berdua suka membunuh, tapi Mors tidak mengatakan dengan jelas apa sebenarnya kegiatan mereka di balik setelan jas dan pakaian mahal yang ia kenakan.
Itulah mengapa Cliff bingung bukan kepalang jika seandainya Molly menanyakan hal tersebut dan meminta penjelasan darinya. Cliff tidak ingin Molly mengetahui bahwa mereka adalah pembunuh bayaran. Mengetahui bahwa Mors bisa bersikap keji dan tidak berperasaan saja sudah membuat Molly ketakutan. Apalagi jika mengetahui bahwa mereka adalah pembunuh bayaran? Molly pasti pergi menjauh dan menghilang dari kehidupannya.
Tidak! Cliff tidak sanggup jika Molly pergi dan menjauh. Melihat Molly pergi tadi pagi saja sudah membuat Cliff hancur dan nelangsa. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Molly benar-benar pergi dan tak ingin berhubungan dengannya.
Panggilan masuk dari Kevin satu jam yang lalu membuat dirinya merasa semakin bersalah. Mengetahui bahwa Molly menangis diam-diam semakin menunjukkan bahwa perbuatan Mors begitu melukai perasaan wanita itu. Ingin rasanya ia menyudahi pertemuan ini, namun pria berusia lima puluh tahunan ini memiliki kasus yang cukup rumit.
Satu hal yang tidak Cliff sangka adalah pria ini senang sekali bercerita, bahkan mengulang-ulang kalimat yang membuatnya hafal dengan alur kasus yang diceritakan. Akhirnya, setelah mengubah posisi duduk untuk yang kelima kalinya, pria itu pun mengakhiri ceritanya. Cliff menghela napas lega, lalu beranjak dari sofa.
“Tentu saja kejadian ini bisa mengancam nama baik Anda. Tapi jika semua bukti yang Anda punya dapat mendukung setiap tuntutan yang Anda inginkan, saya yakin tim saya bisa memenangkan kasus ini,” ujar Cliff dengan kata-kata yang sudah biasa ia lontarkan demi menjaga tingkat keyakinan serta kepercayaan diri kliennya.
“Saya benar-benar bersyukur bisa mengenal Anda, Mr. Franklin,” ucap pria itu dengan raut lega. Cliff tidak membalas ucapan syukur itu dengan kata-kata, hanya menyunggingkan senyum kecil di wajahnya. Tak lama kemudian, mereka saling berjabat tangan disusul dengan kepergian pria itu dari ruang kerjanya.
Baru saja ia ingin kembali ke meja kerja, terdengar ketukan di pintu ruangannya. Martin, salah satu karyawan kepercayaannya, muncul sembari membawa sebuah map berwarna hitam. Setibanya di belakang meja kerja, Cliff menarik kursi, dan duduk di sana.
“Ini laporan mengenai nomor ponsel yang kemarin, Sir,” ucap Martin saat meletakkan map di meja.
“Bagaimana dengan CCTV jalanan? Apa sudah ada hasil dari pengamatan kalian?” tanya Cliff sembari menarik kursi kerja, lalu duduk dengan tenang.
“Saat ini, tim yang diperintahkan oleh Mr. Brook sedang mengamati setiap salinan CCTV, Sir. Kemungkinan, besok pagi saya sudah menerima hasilnya,” jelas Martin formal.
Cliff terpaksa mengambil jalan pintas demi mempercepat proses penyelidikan tentang kasus pembunuhan Nora dan teror yang Molly terima dengan menggunakan kekuasaan yang Erick Brooks miliki. Meski si pembunuh bayaran sudah meregang nyawa di tangannya, tapi tetap saja kasus ini tidak bisa diberhentikan begitu saja. Ia harus menemukan dalang di balik kasus ini, yang mana akan terus meneror keselamatan dan keamanan Molly.
Setelah memiliki firasat bahwa Brad memiliki andil dalam semua kejadian yang menimpa Molly, Cliff pun yakin bahwa Brad akan mengusahakan segala cara demi menghambat penyidikan yang sedang berjalan. Firasat Cliff tidak pernah salah. Penilaiannya akan kebusukan Brad pun didukung oleh ketidakmunculan pria tua itu di kantor sejak kemarin.
Sebelum menuju kantor, Cliff menyempatkan diri untuk datang ke kantor kepolisian Hornsby demi menemui Brad. Namun setelah mengetahui bahwa pria itu mengajukan cuti selama beberapa hari, Cliff pun beranggapan bahwa Brad pasti melarikan diri.
Beruntung, Cliff berpikir cepat dan meminta Martin untuk meminta salinan CCTV yang dibantu oleh orang kepercayaan Erick Brooks, sebelum Brad mengambil seluruh rekaman CCTV jalanan. Cliff juga sudah meminta Martin untuk menyewa detektif swasta terkenal demi mencari keberadaan Brad.
Tidak! Ia tidak akan meminta bantuan dari kepolisian demi mencari bajingan itu. Ia tidak tahu siapa saja yang mungkin turut campur dalam kasus pembunuhan Nora. Kematian Nora dan teror yang Molly terima sudah menunjukkan bahwa kasus ini lebih rumit dari yang ia bayangkan sebelumnya.
“Apa kalian sudah menemukan keberadaan Brad?” tanya Cliff sembari membuka map tersebut.
“Detektif kita masih mencari keberadaan pria itu, Sir,” jawab Martin datar.
“Kapan kau bisa mendapatkan kabar darinya?” tanya Cliff sembari meneliti laporan atas ponsel Henry.
“Besok sore, Sir,” jawab Martin cepat.
“OK. Kau bisa kembali ke mejamu,” sahut Cliff tanpa menatap Martin. Pria itu pun akhirnya keluar dari ruangan, meninggalkan Cliff yang sedang serius mengamati isi laporan itu.
Seperti yang ia duga, ponsel itu hanya digunakan untuk menghubungi dua nomor yang tersimpan di sana. Maka dari itu, Cliff juga meminta agar karyawannya melacak posisi sinyal terakhir dari ponsel Mr. X dan Mr. A. Setidaknya dengan begitu ia bisa mempersempit lokasi orang-orang yang menginginkan kematian Molly.
Keberadaan sinyal dari ponsel Mr. A terakhir kali ada di daerah Epping. Hal tersebut membuat Cliff sedikit terkejut, menyadari bahwa penjahat itu berada tak jauh dari kediamannya. Tak ada yang bisa ia peroleh dari ponsel Mr. A karena ternyata pria itu suka berpindah-pindah tempat dan hanya menggunakan ponsel di tempat-tempat umum.
Sementara untuk ponsel Mr. X, titik sinyal terakhir berada di salah satu apartemen yang berada di daerah Newtown. Ingin rasanya ia meminta Martin untuk menyusuri apartemen itu, namun semua akan berakhir sia-sia, karena ketatnya pengamanan sebuah apartemen. Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan hanyalah bertanya pada Kevin.
Ya, hanya Kevin yang bisa ia andalkan saat ini. Setidaknya, di antara Mr. A dan Mr. X kemungkinan besar adalah orang yang bekerja di kafe. Ia pun mengeluarkan ponsel dari saku, lalu menekan nomor Kevin.
“Kau sudah di kafe?” tanya Kevin cepat.
“Belum. Aku masih di kantor,” jawab Cliff datar seraya bersandar di sandaran kursi.
“Are you kidding me? Kau bilang kau akan tiba di kafe satu setengah jam yang lalu. Kalau tahu begini, aku tidak akan pulang. Tidak ada yang mengawasinya, kau tahu?” tegur Kevin kesal, yang membuat Cliff menggeleng geram seraya mendengus pelan.
“Ada kasus besar yang harus kutangani,” jawab Cliff sejujur mungkin meskipun ia merasa bersalah sekaligus khawair karena sudah membiarkan Molly tanpa pengawasan sedikit pun.
“Bagaimana kondisi Molly sebelum kau pergi?” lanjut Cliff datar.
“Dia baik-baik saja. Wajahnya murung, tapi …, dia baik-baik saja,” jawab Kevin sedikit kesal.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Cliff langsung.
“Ada apa?” sahut Kevin singkat.
“Apa kau tahu siapa karyawan kafe yang tinggal di daerah Newtown?” tanya Cliff tenang.
“Oh, itu mudah sekali,” jawab Kevin langsung tanpa bertanya apa alasan dari pertanyaannya, “seingatku ada 5 orang yang tinggal di daerah Newtown.”
“Fitzgerald Street?” ucap Cliff memperkecil ruang pencarian mereka.
“Ada 3 orang, dan setahuku mereka berada di satu gedung apartemen yang sama, hanya berbeda lantai saja,” jawab Kevin lancar.
“Siapa saja?” tanya Cliff singkat sembari menegakkan posisi duduknya.
“Mario, si pramusaji. Julie, bagian kasir. Dan Lukas, koki kami,” jawab Kevin lancar.
“Lukas?” ulang Cliff seraya mengerutkan kening.
“Ya, Lukas. Kurasa kau sudah mengenalnya, ‘kan?” sahut Kevin cepat.
“Sial!” geram Cliff cepat, lalu beranjak dari kursi kerjanya.
“Kenapa?” tanya Kevin panik, “apa menurutmu Lukas—“
“Yes!” potong Cliff penuh amarah, lalu memutuskan panggilan itu.
Cliff bergegas keluar dari ruangan dengan debar jantung yang sangat cepat, sambil terus berharap agar ketakutannya tidak menjadi kenyataan. Ia memang tidak ingin menuduh seseorang dengan gegabah. Tapi, sejak pertama kali ia mengenal Lukas dan mengetahui bahwa pria itu pernah melamar Molly, saat itu pula ia menaruh curiga pada Lukas.
Sejak awal, firasatnya yang mengatakan bahwa Lukas memiliki sifat, niat, dan aura negatif. Namun, secepat kilat ia menepis hal itu karena sebagian dari firasatnya bercampur dengan rasa cemburu yang cukup besar saat itu. Meskipun begitu, ia tetap memantau tingkah laku Lukas yang selalu memberikan tatapan posesif kepada Molly.
Mungkin Cliff salah jika ia menuduh Lukas bekerja sama dan menjadi tangan kanan Henry. Namun, ia tidak ingin gegabah. Firasatnya benar-benar kuat kali ini, terlebih setelah mengetahui bahwa Lukas juga tinggal di apartemen itu.
Sembari berlari menuju pintu lift, Cliff mengeluarkan ponsel, berniat menghubungi Molly. Namun sialnya, sejak tadi siang, Molly menonaktifkan ponselnya. Dan seketika itu pula, Cliff mengutuki dirinya sendiri yang tak mampu menjaga Molly, wanita yang ia cintai.
*****
Molly menatap sekilas jam tangannya. Sekarang sudah pukul 19.10, tapi sampai saat ini Cliff belum juga muncul. Suasana kafe yang perlahan-lahan mulai sepi, membuat Molly kembali merindukan Cliff.
Ia menarik napasnya yang terasa berat, sementara kakinya mulai terasa lelah. Mereka memang sedang bertengkar saat ini, bahkan ia meminta Cliff untuk menjaga jarak dengannya. Namun seiring berjalannya waktu, Molly menyesali ucapan serta keputusannya.
Hingga saat ini, kekecewaan itu masih bersarang di dalam dadanya. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa menepis bahwa ia sangat merindukan Cliff.
Setelah menyibukkan pikirannya dengan pekerjaan, akhirnya perasaan sedihnya perlahan-lahan mereda. Meskipun belum sepenuhnya hilang, tapi setidaknya Molly bisa memastikan bahwa ia sudah bisa berpikir jernih saat ini.
Berselang beberapa saat kemudian, Molly memutuskan untuk ke ruang karyawan sejenak, berniat menyalakan ponsel yang ia matikan sejak tadi siang. Molly meletakkan nampan di tempatnya, lalu melangkah melewati pintu dapur setelah berbicara pada salah satu kerabat kerjanya.
Dengan wajah sedikit murung, Molly terus melangkah melewati ruang dapur, membuka pintu belakang, lalu berjalan beberapa langkah di koridor sebelum berbelok menuju ruang karyawan. Pikirannya tertuju pada Cliff dan kata-kata yang akan ia ucapkan pada pria itu. Saking seriusnya, Molly tidak menyadari bahwa ada seseorang sedang mengamati dan mengikuti langkahnya dalam diam.
Molly menekan tuas pintu karyawan, lalu melangkah masuk dan bergegas menuju loker pribadinya. Setelah membuka pintu loker, Molly mengeluarkan ponsel dari tas, kemudian menyalakannya. Suara pintu yang tertutup mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
“Hai, Molly,” sapa Lukas ringan sembari berdiri di dekat pintu.
“Hai,” balas Molly sekilas, lalu kembali menatap ponselnya. Beberapa detik kemudian, banyaknya pesan masuk dari Cliff yang muncul di layar ponsel, membuat Molly merasa bersalah.
Sebagian besar dari pesan itu berisi ungkapan permintaan maaf dan penyesalan Cliff akan kejadian yang menimpa dirinya semalam. Dada Molly kembali terasa perih. Ia pun menyadari bahwa sikapnya yang berusaha menjaga jarak benar-benar membuat pria itu terluka. Molly menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan.
Baru saja ia ingin membalas pesan itu, suara pintu yang dikunci membuat Molly mengalihkan pandangannya lagi dari layar ponsel. Molly menatap raut wajah Lukas yang berubah dari raut bersahabat menjadi geram dan penuh amarah. Tatapan hangat yang biasanya pria itu tunjukan pun berubah menjadi tatapan liar dan tajam.
“Lukas, kenapa kamu mengunci pintunya?” tanya Molly langsung.
“Aku mencintaimu, Molly,” sahut Lukas tanpa menjawab pertanyaannya. Pria itu melangkah mendekat, membuat Molly mengerut bingung.
“Kamu tahu? Kamu sudah menghancurkan hati dan impianku saat kamu menolak lamaranku,” lanjut Lukas datar, disusul dengusan sinis.
“L-lukas, apa yang …, kamu bicarakan?” tanya Molly seraya bergerak menjauh dari lokernya. Tanpa berlama-lama, Molly langsung menekan tanda panggil di nomor Cliff.
“Molly!” panggil Cliff panik.
Mengetahui bahwa dirinya menghubungi Cliff diam-diam, Lukas mempercepat langkahnya dan mencoba menepis ponsel dari genggaman Molly. Dengan cepat, Molly mengelak dan berbalik, mencoba melangkah menjauh dari Lukas.
“Cliff, tolong! Aku di ruang karyaw—“
Teriakannya terputus begitu saja saat Lukas menarik rambutnya yang dikuncir kuda. Dengan cekatan, Lukas menarik ponsel dari genggaman Molly, lalu melemparkannya begitu saja. Molly meringis kesakitan saat Lukas menarik rambut dari belakang hingga wajahnya menengadah, sementara tangan yang lain mencekik leher Molly dengan sangat kuat hingga membuat napasnya tercekat. Hanya satu harapannya saat ini, Cliff segera datang dan menyelamatkannya.
*****
BAB 49
Ini adalah saat-saat yang Lukas tunggu sejak lama. Ia tidak sabar ingin melampiaskan seluruh amarah serta gairah dalam dirinya yang sudah ia simpan cukup lama. Tanpa melepaskan cengkeraman kuatnya di rambut Molly, Lukas mendorong tubuh wanita itu hingga punggungnya membentur barisan pintu loker. Perawakan Lukas yang lebih tinggi dari Molly, memudahkan Lukas untuk menahan tubuh wanita itu dengan tubuhnya hingga menempel di pintu loker.
Wajah Molly yang mengernyit kesakitan disertai air mata yang berderai, terlihat begitu menggairahkan bagi Lukas. Tanpa memedulikan rasa sakit yang saat ini Molly rasakan, Lukas menarik kuat rambut wanita itu hingga wajahnya menengadah. Tak puas melihat raut kesakitan Molly, ia pun membenturkan kepala wanita itu sekuat mungkin ke pintu loker yang ada di belakang tubuh Molly.
“Hen-ti-kan, Lukas,” mohon Molly lemah, tampak mulai kehilangan kesadaran akibat benturan kuat di kepala. Mata wanita itu terpejam karena menahan sakit, sementara napasnya yang terengah-engah malah membangkitkan sensasi liar dalam tubuh Lukas.
Geram, ia kembali menarik rambut Molly semakin kuat hingga wajah wanita itu menengadah. Mata Lukas mulai menjelajahi leher mulus Molly yang terbuka bebas untuknya. Beruntung saat ini Molly tampak lemah akibat rasa pening yang menyiksa, sehingga Lukas memiliki keleluasaan untuk menjalankan niat busuknya.
Ia pun mulai meraba lekukan tubuh Molly dengan tangan kiri, sebelum akhirnya menyelinap masuk ke balik kemeja kerja wanita itu. Lukas kira, Molly akan pasrah setelah benturan kuat yang ia berikan. Namun nyatanya, Molly masih berusaha meronta sembari mendorong tubuh Lukas dengan kedua tangan.
Tak terima dengan perlawanan yang Molly berikan, Lukas segera menangkap tangan kiri wanita itu, menarik sedikit tubuh Molly menjauh dari loker, lalu meletakkan tangan itu ke belakang punggung Molly, kemudian mendorong kembali tubuh serta kepala wanita itu sekuat mungkin hingga membentur pintu loker.
Akibat benturan yang cukup kuat itu, tubuh Molly mulai melemah di bawah tekanannya. Ia menekan sisi kanan wajah Molly dengan telapak tangannya sehingga wajah itu menempel ke pintu loker. Sementara, tubuh Molly yang lemah, tak berdaya dalam kuasanya.
“Kamu milikku, Molly. Milikku!” bisik Lukas tegas di telinga Molly.
Dengan liar, Lukas menjilat daun telinga Molly, menggigitnya sekilas sebelum bergerak turun dan mencumbu leher Molly. Ia mengisap leher Molly beberapa kali dengan isapan keras sampai menimbulkan ruam merah yang membuat gairah dalam dirinya semakin bergelora. Tak terima dengan setiap cumbuan Lukas, Molly kembali meronta dan mencoba mendorong tubuhnya yang lemah dari loker. Lukas, yang batas kesabarannya sudah menipis, kesal dengan penolakan Molly.
“Dasar wanita jalang!” geram Lukas sembari menjauhkan Molly dari loker, lalu mengempaskan tubuh wanita itu seperti barang yang tidak berharga, hingga Molly terjerembab di lantai.
Tak ingin memberikan kesempatan bagi Molly untuk bangkit, Lukas segera menduduki tubuh Molly, lalu menarik rambut wanita itu hingga kepala dan pundak Molly terangkat. Molly meringis kesakitan, isak tangis pun semakin terdengar saat Lukas menunduk mendekat demi menggigit daun telinga Molly.
“Kamu milikku!” tegas Lukas sebelum membenturkan kepala Molly ke lantai dengan sekuat tenaga. Kali ini, Molly benar-benar tak berdaya. Lukas mengangkat kepala Molly demi memastikan kalau wanita itu sudah tak sadarkan diri. Mata Molly terpejam, tubuhnya terkulai, dan napasnya pun melemah.
Dengan seringai liar di wajah, Lukas meletakkan kembali kepala Molly di lantai, lalu mulai bergerak ke samping, dan membalikkan tubuh Molly hingga terlentang.
“Seandainya kamu menerima lamaranku, kamu pasti tidak akan menderita seperti ini, Sayang,” ucap Lukas sinis sembari mengatur tarikan napasnya. Ia harus bergegas, karena tak lama lagi akan ada pergantian shift. Lukas segera mengeluarkan sebilah pisau panjang, yang akan ia gunakan untuk menghabisi nyawa Molly.
“Kamu milikku, Sayang. Tak ada orang lain yang boleh memilikimu selain aku,” ucap Lukas penuh bangga.
“Tapi sebelum itu, aku akan menikmatimu sampai puas,” lanjut Lukas disertai seringai liar, lalu meletakkan pisau tersebut di samping tubuh Molly. Dengan cepat, Lukas mulai berkutat dengan kemeja Molly. Setelah melepaskan kemeja serta bra Molly, Lukas terdiam sejenak mengagumi tubuh indah itu. Tangannya mulai membelai dan meremas kedua payudara Molly secara bergantian, sementara kejantanannya sudah menegang di balik celana.
Beberapa detik kemudian, Lukas mulai bergerak ke bawah, lalu melepaskan ikat pinggang celana Molly. Jantungnya yang berdebar cepat penuh antusias, membuat tangannya gemetar kegirangan. Ia sudah tidak sabar ingin merasakan tubuh Molly.
Setelah menurunkan ritsleting celana, Lukas segera menarik lepas celana panjang yang Molly kenakan. Lukas membiarkan celana itu tergeletak di samping kaki Molly, sementara matanya terus mengunci tubuh indah yang sudah lama ia inginkan.
Sekarang, tak ada lagi yang bisa menghentikan dirinya. Lukas menarik lepas pakaian dalam Molly, lalu menempatkan dirinya tepat di antara kedua kaki Molly yang terbuka bebas dan lemah. Kedua tangannya membelai kaki Molly selama beberapa saat, menikmati kelembutan kulit wanita itu di bawah sentuhannya.
Tak berniat membuang waktu, Lukas mulai membuka ikat pinggang dan menarik turun celana panjang yang ia kenakan. Tak ada yang tahu betapa bahagianya Lukas saat ini karena sebentar lagi ia berhasil memiliki tubuh Molly.
Lukas mulai membungkukkan tubuhnya, lalu mendaratkan wajah di antara kedua payudara Molly. Kehangatan dan kelembutan yang selama ini ia idam-idamkan, bukan lagi sekedar impian belaka. Molly adalah miliknya. Selamanya miliknya.
Dengan liar dan penuh damba, Lukas mulai mengisap sembari meremas payudara Molly yang terasa kenyal, lembut, dan hangat. Ia bahkan mulai menekan dan menggesek-gesekkan kejantannya yang menegang di balik pakaian dalam ke kewanitaan Molly yang terasa hangat. Jantung Lukas berdebar liar, memompa gairah hingga memenuhi kepala. Lukas tidak pernah menyangka bahwa hanya mengulum dan bermain-main dengan payudara Molly saja bisa membuatnya mabuk bukan kepalang.
Terlalu larut dalam kesenangannya, Lukas tak menyadari waktu yang terbuang begitu saja selama dirinya berkutat liar dengan payudara Molly. Tiba-tiba, terdengar ketukan keras di pintu disertai teriakan beberapa orang. Kaget, Lukas pun segera mengangkat kepala dan menoleh ke arah pintu.
Salah satu suara yang ia kenal, memanggil-manggil Molly dengan histeris. Lukas menggeram kesal. Ia tidak pernah mengharapkan siapa pun mengganggu kesenangannya saat ini. Berusaha tak menggubris kegaduhan di balik pintu, Lukas kembali menatap Molly. Sialnya, wanita itu tiba-tiba mengernyit kesakitan, tampak mulai sadarkan diri.
Berniat membuat Molly kembali pingsan, Lukas langsung melayangkan tamparan sekeras mungkin di pipi Molly hingga wajahnya terlempar ke samping. Namun nyatanya, wanita itu malah makin tersadar dan meringis kesakitan.
Panik, Lukas segera membekap mulut Molly. Menyadari kondisi tubuhnya yang telanjang, Molly meronta sekuat mungkin, bahkan berusaha menjambak serta melayangkan pukulan ke wajah, rambut, serta tubuh Lukas. Tak terima dengan penolakan Molly yang makin membuatnya muak, Lukas menindih tubuh Molly sekuat mungkin agar wanita itu tidak bisa bergerak.
Debuman di pintu terdengar semakin kuat, dan Lukas pun menyadari bahwa tak lama lagi pintu itu akan roboh. Tidak ingin kehilangan kesempatannya, Lukas mulai menurunkan pakaian dalamnya dengan salah satu tangannya yang bebas, sementara tangan yang lain terus membekap mulut Molly. Tubuh Molly yang meronta dengan kedua tangan yang terus melayangkan pukulan sembarang ke wajahnya, membuat Lukas kesulitan untuk mengarahkan kejantanannya ke kewanitaan Molly.
Tak disangka-sangka, pintu ruangan akhirnya terbuka akibat dobrakan kuat dari beberapa orang. Sontak, Lukas menoleh dan melemparkan tatapan kaget ke arah pintu. Ia tidak menyangka semudah itu mereka menghancurkan pintu yang terbuat dari kayu.
Dua pramusaji wanita bergegas masuk, berniat melepaskan Molly dari tindihan Lukas. Tampak jelas bagaimana kedua wanita itu tidak memedulikan posisi tak senonoh yang saat ini terpampang di hadapan mereka. Tujuan kedua pramusaji itu hanyalah ingin menyelamatkan Molly dari sergapannya. Sementara di sudut matanya, Lukas menangkap pergerakan seseorang yang melesat secepat hantu dan berhenti tepat di belakang tubuhnya.
Masih belum menyerah, Lukas kembali berusaha mengarahkan kejantanannya. Ia tidak peduli seperti apa penilaian orang padanya, karena semua orang tak pernah menganggap kehadirannya. Semua orang tak pernah memedulikan perasaannya. Bahkan, semua orang tak ada yang mau mengerti apa yang ia inginkan. Hanya Molly. Ya, ia hanya menginginkan Molly, tapi tidak ada yang mau memahami keinginannya.
Tiba-tiba, sebuah tarikan di kerah pakaiannya, membuat napas Lukas tercekat. Tarikan itu begitu kuat hingga mampu menarik tubuh Lukas menjauh dari tubuh Molly dengan mudahnya. Laura dan seorang pramusaji wanita, bergerak secepat dan seefisien mungkin demi menutupi tubuh Molly dengan sweater salah seorang pekerja yang tergantung di gagang pintu loker.
Pria yang menarik tubuh Lukas, langsung mendorong dan membenturkan dadanya ke barisan pintu loker, lalu menekan tubuh Lukas dari belakang. Pria itu mencengkeram rambut Lukas hingga kepalanya tertarik ke belakang. Dan tiba-tiba, sebuah bilah tajam pisau menyentuh leher Lukas. Napasnya tercekat, tapi ia tak takut sedikit pun. Ia bahkan terkekeh kecil, seolah menertawakan sosok pria yang berdiri di belakangnya saat ini.
Malu? Tidak. Lukas tak malu sedikit pun atas semua yang terjadi saat ini. Amarah, kebencian, serta keputusasaan yang sudah lama berdiam di dalam hati Lukas, membuat rasa malunya hilang tak bersisa. Ia tak lagi memikirkan tubuhnya yang setengah telanjang.
“Kau akan mati!” geram Cliff penuh ancaman sembari menekan bilah tajam pisau di leher Lukas.
“Seperti kau membunuh Henry?” tantang Lukas sinis, lalu mendengus geli. Tubuh Cliff yang berada tepat di belakang Lukas, menegang kaku ketika ia menyebutkan nama Henry. Bilah pisau pun mulai bergerak perlahan, mengiris leher Lukas tanpa rasa bersalah.
Perih yang begitu menyiksa, terasa begitu nyata saat keringat mengalir di bilah tajam pisau yang menyentuh kulit lehernya. Lukas tidak bergerak sedikit pun. Sengaja, ia memang ingin memancing amarah Cliff agar pria itu menunjukkan keberingasannya.
“Cliff!”
Lukas melirik, lalu memaksakan pandangannya agar bisa menatap Molly. Ia tidak peduli jika lehernya terluka karena tekanan pisau itu. Ia hanya ingin menatap Molly.
Saat ini, Molly sudah berpakaian lengkap, namun Lukas bisa menangkap ruam merah di pipi wanita itu akibat tamparannya. Molly, yang masih terduduk di lantai dan berada dalam pelukan Laura, terlihat masih terguncang. Wajah Molly sangat pucat, sementara sorot matanya menunjukkan ketakutan yang teramat sangat besar. Sialnya, Lukas malah makin bergairah melihat raut Molly saat ini.
“Cliff, hentikan!” pinta Molly lemah. Tapi Cliff tidak peduli dan terus menekan bilah pisau di leher Lukas.
“Tubuhnya benar-benar …, indah dan …, menggairahkan,” ledek Lukas demi memancing amarah Cliff.
“Diam!” ancam Cliff geram sambil terus menekankan bilah pisau di leher Lukas. Aroma darah mulai memenuhi indra penciuman Lukas. Bahkan, ia bisa merasakan darah mengalir cukup deras di lehernya.
Berniat menghentikan semua kegilaan ini, akhirnya Molly mencoba untuk berdiri. Dengan raut khawatir dan tatapan penuh kasih sayang, Laura langsung menahan langkah Molly yang berniat menghampiri Lukas dan Cliff.
“Tidak apa-apa, La,” ucap Molly sembari mengangguk lemah. Dengan terpaksa, Laura membiarkan Molly menghampiri mereka, atau lebih tepatnya menghampiri Cliff.
“Cliff, lepaskan dia,” pinta Molly lembut sembari meletakkan tangan di pundak pria itu. Cliff tak bergeming, masih terus menekan pisau di leher Lukas.
Sesungguhnya, Lukas tak menyangka kalau Molly akan meminta Cliff untuk melepaskan dirinya. Bukannya bersyukur, Lukas malah tersinggung bahkan muak dengan sikap murah hati yang Molly tunjukkan.
“Bunuh aku! Silakan, bunuh aku!” tantang Lukas, tak takut sedikit pun.
“Cliff …, lepaskan dia,” pinta Molly lagi, namun kali ini dengan linangan air mata. Cliff masih belum merespons permintaan Molly. Namun sedetik kemudian, Molly berjinjit, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Cliff, dan membisikkan sesuatu.
“Bunuh aku, Bajingan! Dasar kau pengecut!” maki Lukas penuh amarah dengan suara serak karena tekanan pisau. Lukas tidak bisa mendengar apa yang wanita itu ucapkan, namun perlahan-lahan, tekanan pisau di lehernya pun mulai terasa longgar, begitu juga dengan cengkeraman di rambutnya.
Dalam sekali entakan kasar, Cliff membalikkan tubuh Lukas, lalu mencekik lehernya. Molly, yang memilih menjaga jarak dari Lukas, langsung melangkah mundur. Laura segera menghampiri Molly, lalu melingkarkan pelukan hangat di pundak wanita itu.
“Ayo! Tunggu apa lagi? Bunuh aku, cepat!” tantang Lukas seraya menyunggingkan senyum menantang pada Cliff yang saat ini memasang raut kejam dan menguncinya dengan tatapan penuh amarah.
“Tidak semudah itu,” jawab Cliff tipis disertai seringai kejam, “kematianmu …, tidak akan semudah itu.”
Seketika itu pula, Lukas merasakan aura mengancam bak pembunuh berdarah dingin yang membuat bulu kuduknya meremang. Sebelum melepaskan cekikan di leher Lukas, Cliff memberi tekanan kuat di sana hingga wajah Lukas memucat. Senyum miring nan mengancam, mengukir wajah pria itu selama beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan cekikan dari leher Lukas.
Dengan sikap tenang seolah semua ini hanyalah kejadian biasa, Cliff mengusap bilah pisau yang terkena darah Lukas di celana bahannya yang mahal, lalu memasukkan pisau ke balik jas, kemudian menghampiri Molly. Laura bergerak ke samping, memberikan ruang bagi Cliff agar dapat memeluk Molly. Tidak menyukai sikap protektif yang Cliff berikan pada Molly, Lukas pun berniat menerjang pria itu.
Namun sial, kedua petugas keamanan langsung menyergap Lukas dan memintanya untuk segera berpakaian. Setelah mengancing celana dengan benar, petugas segera memborgol tangan Lukas dan membawanya keluar dari ruangan itu. Ketika berjalan melewati Cliff dan Molly, Lukas menatap kedua orang itu dengan amarah dan kebencian yang tidak akan pernah padam.
Saat ini, ia mungkin tidak bisa berbuat apa-apa. Kemungkinan besar, ia pun akan berhadapan dengan tuntutan hukum. Namun setidaknya, ia berhasil merasakan kehangatan dan keindahan tubuh Molly. Cintanya tidak akan pernah padam, begitu juga dengan dendamnya. Lukas mencintai Molly, dan tak ada yang boleh mencintai wanita itu selain dirinya. Tidak ada!
*****
Kepala Molly masih pening, namun tak sebanding dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, serta malu yang ia tanggung akibat kekejian Lukas. Molly kaget dan tak percaya kalau Lukas berniat memerkosanya. Benar kata Cliff, seorang penjahat tidak akan pernah memilih kapan dan di mana waktu yang tepat untuk melakukan aksinya. Selama ada kesempatan, maka saat itulah mereka akan beraksi.
Setelah kejadian di ruang karyawan, Cliff langsung membawanya pulang. Tatapan prihatin, raut khawatir, hingga ucapan penyemangat, mengiringi langkah Molly saat keluar dari kafe. Cliff terus melingkarkan pelukan posesif di pundak Molly sampai akhirnya mereka tiba di basement.
Selama perjalanan pulang tak satu pun dari mereka mencoba memecah keheningan kaku yang memenuhi mobil. Molly sadar, kali ini ia berada di posisi yang salah. Seandainya ia mampu menerima kondisi Cliff dan menekan keegoisannya, kejadian ini pasti tidak menimpa dirinya.
Cliff marah padanya, Molly sadar akan hal itu. Ia tidak berusaha membangun percakapan selama perjalanan pulang. Sesungguhnya, ia malu—sangat malu pada dirinya sendiri karena sudah membiarkan pria lain menjamah tubuhnya. Dan, Molly tidak tahu apa yang Cliff pikirkan tentang dirinya saat ini.
Ketika mereka tiba di rumah, Cliff tetap diam seribu bahasa, bahkan tak mau menatapnya. Sikap dingin dan menjaga jarak yang Cliff tunjukkan, membuktikan betapa besar amarah dan kekecewaan yang pria itu rasakan terhadap dirinya. Molly pun berusaha untuk tidak mengusik pria itu, dan memberikan waktu bagi Cliff untuk menengkan diri.
Setelah mandi, Molly berbaring sejenak sembari memikirkan langkah yang harus ia tempuh demi memperbaiki keadaan. Molly kembali teringat akan kejadian di ruang karyawan, dan ia tidak memungkiri bahwa tadi ia bisa merasakan sosok Mors mulai berusaha mengambil alih tubuh Cliff. Aura bengis dan seringai tipis nan kejam yang mengukir wajah Cliff menunjukkan bahwa sosok Mors mulai mendominasi.
‘Cliff, jangan biarkan Mors mengendalikanmu. Kumohon. Kamu bisa, Cliff. Kamu bisa.’
Ya, hanya itu yang bisa Molly bisikkan di telinga Cliff agar pria itu tidak membunuh Lukas. Beruntung, Cliff berhasil mengendalikan Mors. Meskipun akhirnya, Cliff jadi bersikap dingin, kaku, bahkan tak mau berbicara padanya.
Kevin, yang terus menghubungi ponselnya, terdengar sangat khawatir ketika ia akhirnya menjawab panggilan pria itu. Molly menceritakan kejadian secara singkat sesuai dengan apa yang ia ingat. Kevin menggeram marah dan mengatakan akan memberikan pelajaran pada Lukas. Namun, Molly segera melarang Kevin. Ia tidak ingin ada orang lain lagi yang menderita hanya karena dirinya.
Sekarang pukul 22.00, dan saat ini kemungkinan besar Cliff sudah tidur. Tapi, Molly belum merasakan kantuk sedikit pun. Ia butuh berbicara dengan Cliff. Ia ingin semua kekacauan yang ada di antara mereka segera berakhir.
Akhirnya, Molly beranjak dari tempat tidur, lalu keluar melangkah menuju pintu kamar. Molly berdiri sejenak di belakang pintu sembari memikirkan kembali keputusannya. Mungkin, Cliff akan menolak dirinya, atau bahkan menatapnya dengan sorot mata tajam dan dingin, tapi Molly tidak peduli. Ia harus berbicara dan menyelesaikan semua kemelut ini.
Sembari terus berdoa, Molly membuka pintu kamar, lalu melangkah pasti menuju kamar Cliff. Suasana malam yang sunyi membuat bulu kuduknya meremang. Kilasan saat di mana si penjahat mencoba membunuhnya, muncul begitu saja dalam benaknya.
Molly merasa dihantui oleh kejadian itu. Sesekali, ia menoleh ke belakang demi memastikan bahwa tak ada seorang pun yang sedang mengikutinya saat ini. Setibanya di depan kamar Cliff, Molly segera mengetuk pintu, tapi tak ada yang menyahut dari dalam kamar.
Dengan sabar, Molly menunggu sejenak, berharap agar pintu segera terbuka. Namun, beberapa detik berlalu, tetap saja tak terdengar pergerakan dari balik pintu. Akhirnya, Molly mengetuk pintu lagi dan kembali menunggu.
Suasana rumah yang sepi, terasa begitu mencekam. Bulu kuduk Molly kembali meremang. Rasa takut yang mulai menyelimuti pun membuat Molly memutuskan untuk berbalik dan menjauh dari pintu. Namun, baru saja berjalan beberapa langkah, Molly mendengar suara pintu yang dibuka di belakangnya. Molly segera menoleh dan menemukan Cliff yang tampak kusut di samping daun pintu.
“Masuklah,” pinta Cliff lembut. Tidak ada tatapan tajam. Tidak ada raut dingin dan datar. Tidak ada juga aura mengancam. Kali ini, raut wajah Cliff tampak begitu pasrah dan frustrasi. Rambutnya pun sedikit berantakan.
Akhirnya, Molly berbalik dan melangkah menuju kamar Cliff. Baru saja ia menapakkan kaki tepat di depan pintu, dengan cepat Cliff melingkarkan tangan di pinggang Molly, lalu menarik dan mendekapnya dengan pelukan hangat. Ciuman dalam dan penuh cinta langsung mendarat di bibir Molly.
Molly terkejut bukan main. Ia tidak menyangka Cliff akan langsung menciumnya. Rasa takut, lelah, dan malu pun lenyap seketika karena ciuman itu. Dengan mudah, Cliff membawa Molly masuk ke kamar dan menutup pintu dengan sekali dorongan. Pria itu bahkan langsung menggendongnya dengan lembut, lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Bibir mereka yang terus bertautan, membuat Molly ingin menangis. Ia sangat merindukan kehangatan bibir Cliff. Bahkan, ia sangat merindukan pelukan serta aroma maskulin Cliff yang khas.
“Cliff,” sela Molly setelah melepaskan tautan bibir mereka. Cliff tidak mengatakan sepatah kata pun, namun tatapan dalam dan penuh cinta menunjukkan bagaimana perasaan pria itu saat ini.
“Cliff, maafkan aku,” ucap Molly lembut di sela-sela napasnya yang terengah-engah.
“Aku mencintaimu, Molly,” ungkap Cliff parau.
Molly terbelalak kaget. Air matanya pun mulai menggenang karena luapan kebahagiaan yang begitu besar. Ia benar-benar tidak menyangka kalau akhirnya Cliff mau jujur bahkan mengungkapkan perasaan padanya. Meskipun tanpa harus mengucapkan kalimat ajaib itu, Molly sudah bisa menangkap besarnya rasa cinta Cliff pada dirinya.
“Aku mencintaimu, Molly. Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu lagi, bahkan menyentuh sehelai ujung rambutmu. Kamu adalah milikku, Molly. Milikku,” ucap Cliff tegas namun lembut. Air mata Molly pun menetes begitu saja, menunjukkan betapa lega perasaannya saat ini. Molly mengangguk lemah, sementara Cliff mengusap air matanya.
“Aku juga mencintaimu, Cliff. Sangat mencintaimu,” balas Molly serak di sela-sela isak tangisannya yang tertahan. Cliff kembali menciumnya, dan mereka pun bercinta dengan liar, panas, dan penuh cinta.
*****
BAB 50
‘Aku mencintaimu, Molly.’
Kalimat indah itu terngiang-ngiang di telinga Molly. Percintaan mereka semalam terasa begitu indah dan manis. Cliff, yang terbiasa bercinta dengan cara kasar, perlahan-lahan berhasil mengendalikan diri. Bahkan, Cliff seolah menumpahkan seluruh perasaan cinta yang pria itu miliki padanya selama bercinta semalam.
Ini sebuah kemajuan bagi Cliff—bagi hubungan mereka. Cliff berusaha menunjukkan padanya bahwa pria itu rela melakukan atau mengorbankan segalanya demi kebahagiaannya, dan Molly sangat menghargai hal itu. Oleh karena itu, Molly berniat membalas ketulusan serta kebaikan Cliff dengan menerima segala kekurangan dan kelebihan yang pria itu miliki.
Molly tahu, kehadiran Mors dalam diri Cliff merupakan tantangan terberat dalam hubungan mereka. Namun Molly sudah bertekad untuk mencari jalan keluar demi kebaikan dirinya, Cliff, dan Mors. Bahkan, Molly rela mengorbankan segalanya demi mempertahankan hubungan ini.
Dengan helaan napas lega, Molly membuka mata, lalu mengerjap sejenak. Senyum kecil menghiasi wajah Molly saat melihat lingkaran tangan Cliff yang menindih perutnya. Lingkaran yang menegaskan kepemilikan serta keposesifan pria itu terhadap dirinya.
Keintiman serta kehangatan yang terpampang jelas di matanya saat ini, seolah menunjukkan bahwa tak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memisahkan mereka. Molly benar-benar jatuh cinta pada Cliff, dan tak ada hal lain di dunia ini yang dapat membuatnya bahagia selain cinta yang Cliff berikan padanya.
Dengan penuh cinta, Molly meletakkan tangan di atas lingkaran tangan Cliff, lalu mengusapnya lembut. Gelenyar hangat nan menyenangkan pun merambat dari hati hingga ke sekujur tubuh saat menyadari betapa intimnya mereka sekarang. Pernyataan cinta Cliff, percintaan yang manis dan indah, merupakan hal terbaik dalam hidup Molly. Semua terasa seperti mimpi, bahkan jauh lebih baik.
Molly kembali menghela napas lega, lalu berbalik dan menatap wajah Cliff yang masih tertidur pulas. Ia tidak tahu sudah jam berapa sekarang, tapi cahaya terang yang menyelinap dari balik gorden putih menunjukkan kalau hari sudah siang.
Hari ini, Molly mendapat giliran kerja di shift kedua. Setidaknya, ia masih memiliki waktu bersantai sejenak bersama Cliff sebelum kembali ke rutinitas hariannya. Hingga detik ini, Molly masih tidak mengerti mengapa Lukas begitu tega pada dirinya. Ia bahkan tak menyangka penolakannya beberapa tahun yang lalu bisa mengubah Lukas, yang biasa ia kenal hangat dan bersahabat, bisa berubah menjadi kejam dan beringas seperti itu.
Berusaha mengusir kegusaran yang timbul ketika mengingat kejadian kemarin, Molly memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Sesaat kemudian, ia pun membuka mata dan memusatkan perhatian serta pikirannya pada Cliff, pria yang sangat ia cintai.
Ia mengangkat tangannya dan mulai membelai wajah Cliff dengan lembut. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Molly leluasa memperhatikan setiap jengkal wajah Cliff. Ia bisa melihat garis tipis di pelipis yang tampak seperti bekas jahitan halus. Ia juga menemukan garis tipis yang sama di bagian bawah rahang Cliff.
Garis-garis tipis tersebut tampaknya menyimpan cerita pahit yang Cliff alami saat masih kecil. Molly menyadari bahwa tubuh, batin, dan kejiwaan Cliff mungkin terluka bahkan hancur lebur akibat semua siksaan yang pria itu alami. Tapi Molly tahu bahwa jauh di dalam sana, Cliff masih memiliki hati yang lembut dan penuh cinta.
Molly mengecup bibir Cliff dengan lembut yang dibalas dengan kerutan halus di kening pria itu. Kelopak mata yang bergerak terbuka menampakkan bola mata berwarna abu-abu kehijauan yang langsung menatapnya sayu. Cliff mulai mengangkat tangan yang menindih tubuh Molly, lalu menggeliat kecil sebelum kembali menatapnya.
“Cliff,” panggil Molly lembut.
“Hmm,” gumam Cliff singkat sembari meletakkan kembali tangan di atas pinggang Molly, dan menariknya semakin mendekat. Tubuh mereka yang masih telanjang, membuat Molly bisa merasakan kejantanan Cliff yang mengeras di bawah sana.
“Em …, begini …, a-aku …, maksudku, aku mau minta maaf untuk kemarin,” ucap Molly gelagapan, karena pikirannya tertuju pada kejantanan Cliff.
“Sudahlah, lupakan saja,” sahut Cliff tenang.
“Tapi …, tapi aku mau …, maksudku …, bisakah kita bicara sebentar tentang …, Mors?” ungkap Molly hati-hati, sementara kejantanan Cliff hampir mengambil alih perhatiannya secara keseluruhan. Ia bisa melihat sedikit perubahan di raut wajah Cliff yang menunjukkan bahwa bukan percakapan ini yang pria itu harapkan saat bangun tidur. Namun bagi Molly, semakin cepat mereka membicarakan dan meluruskan masalah ini, maka langkah mereka dalam menjalani hubungan akan semakin lancar.
Cliff menjauhkan tangannya dari tubuh Molly, lalu bangkit dari posisi tidur, kemudian bersandar di sandaran tempat tidur. Molly pun bangkit, lalu melingkarkan selimut demi menutupi payudaranya, kemudian duduk menghadap Cliff. Tak ada kata-kata yang meluncur dari bibir Cliff. Pandangan pria itu terus mengunci pergerakan Molly. Bahkan ketika tangannya bergerak kaku karena malu saat ia merapikan rambutnya yang berantakan, Cliff hanya menggemeretak gemas.
“Cliff, kumohon jangan pasang raut wajah seperti itu,” pinta Molly lembut saat menangkap raut geram Cliff.
“Kenapa?” tanya Cliff singkat, “apa yang salah dengan wajahku?”
“B-bukan …, maksudku jangan menatapku seperti itu,” balas Molly cepat.
“Seperti apa?” tanya Cliff cepat, tampak kesal.
“Kumohon, Cliff. A-aku …, semalam aku sudah bertekad ingin membicarakan masalah ini. Tapi, kita …, maksudku …, a-aku hanya ingin agar kita bisa menjalani hubungan ini dengan baik,” ungkap Molly gelagapan.
“Haruskah kita membicarakannya sekarang?” tanya Cliff enggan.
“Harus,” jawab Molly cepat, sedikit terkejut dengan ketegasan yang terkandung dalam ucapannya. Molly pun terdiam sejenak sembari menyusun kata-kata yang tepat, sementara Cliff melipat tangan di depan dada sambil menunggu dengan raut datar.
“B-bisakah aku bicara dengan Mors?” tanya Molly kaku. Jantungnya berdebar keras, berharap ini adalah keputusan yang tepat.
“Tidak!” tolak Cliff singkat dan cepat.
“Baiklah …, kalau begitu bisakah Mors mendengarku?” tanya Molly bingung.
Ya, benar. Sejujurnya Molly tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan orang yang memiliki alter ego. Tapi ia harus mencoba segala cara agar baik Mors ataupun Cliff bisa mendengar apa yang akan ia utarakan.
“Bisa,” jawab Cliff datar.
“Oh, OK. Sekarang …, bisakah kamu mendengarkan dulu tanpa menyelaku? Karena …, ya, kurasa itu yang terbaik. Bisa?” pinta Molly lembut sembari menenangkan kegugupan dalam dirinya.
Cliff tidak menjawab, malah mata pria itu terus mengunci Molly seolah dirinya mangsa yang sangat lezat. Raut datar Cliff membuat rasa gugup dalam diri Molly terasa makin besar, karena ia tak bisa membaca suasana hati pria itu saat ini. Seketika itu pula, kepercayaan diri Molly menghilang.
Demi menumbuhkan kembali rasa percaya diri serta keberaniannya, Molly mengalihkan pandangan dari Cliff ke jari jemarinya yang saling bertautan di atas pangkuan. Keheningan yang memenuhi ruangan, membuat telinga Molly berdengung keras. Namun sikap diam dan kaku bukanlah sikap yang tepat untuk menyelesaikan masalah di antara mereka.
Akhirnya, Molly menarik napas panjang sebanyak dua kali sebelum mengangkat pandangannya dan menatap Cliff yang masih diam seribu bahasa.
“Aku mencintaimu, Cliff,” ungkap Molly memulai pembicaraan, “aku mengerti …, masa lalumu begitu menyakitkan. Banyak kejadian pahit serta perundungan yang kamu terima hingga membentuk dirimu menjadi Cliff yang aku kenal saat ini.”
“Cliff …, aku tahu …, kamu dan Mors adalah satu. Bagimu, Mors adalah pelindung dan kekuatanmu. Aku …, aku berusaha memahami bahwa kehadirannya dapat memberikan pengaruh positif bagimu. Dan semalam, aku …, aku memutuskan bahwa aku tidak mau kehilanganmu, Cliff,” lanjut Molly pelan, lalu berhenti sejenak demi mengatur kalimat yang tepat agar Cliff tidak salah pengertian.
“Awalnya …, jujur, aku kaget. Sangat kaget. Malam itu …, Mors benar-benar membuatku ketakutan. Saking takutnya, aku bahkan sempat memutuskan untuk pergi dan menjauh selamanya darimu. Tapi …, aku tidak mau. Bukan karena aku tidak bisa melakukannya, tapi karena aku tahu aku tidak ingin jauh dari kamu, Cliff,” ungkap Molly jujur sambil terus menatap mata Cliff lekat-lekat.
Ia ingin Cliff tahu bahwa setiap kata yang ia ucapkan bukanlah sekedar ucapan manis belaka. Ini adalah isi hatinya yang paling dalam, yang paling jujur, dan yang paling tulus.
“Alter ego ini …, benar-benar baru bagiku. Tapi, aku mau belajar, Cliff. Aku mencoba untuk mengerti kondisimu. Bahkan, aku membaca beberapa artikel yang berhubungan dengan alter ego. Itulah kenapa seharian kemarin aku menutup diri darimu. Bukan karena aku benci padamu, Cliff, tapi karena aku memang benar-benar butuh waktu untuk mencerna semua ini.
“Maafkan aku kalau aku sempat mengecewakanmu, Cliff. Aku salah, aku tahu. Aku juga sangat egois karena tidak mau mendengarkan penjelasanmu terlebih dulu, dan malah mengikuti emosiku. Tapi setelah benar-benar menenangkan diri, aku pun sadar kalau aku tidak boleh bersikap seperti itu padamu. Aku sangat mencintaimu, Cliff, dan itulah alasan utama kenapa aku mau menerima semua yang ada di dirimu,” jelas Molly sebaik mungkin.
Raut datar dan tatapan tajam yang sebelumnya mengunci Molly, perlahan-lahan berubah menjadi sedikit lebih tenang. Bahkan, Molly merasakan pancaran cinta di mata indah itu.
“Aku tahu, aku tidak berhak menyuruhmu untuk menekan keberadaan Mors. Aku juga tahu, kalau aku mau menjalani hubungan ini dengan baik, maka aku harus bisa menghadapi alter egomu. Aku …, aku menerimamu apa adanya, Cliff. Bahkan aku siap dengan kehadiran Mors, kapan pun dia memutuskan untuk mengambil alih tubuhmu.
“Aku siap bukan karena aku berani menghadapinya, tapi karena aku tidak mau kehilanganmu, Cliff. Aku mencintaimu, Cliff. Aku sadar kalau kalian itu satu. Kamu adalah Mors, begitu pula sebaliknya. Dan, aku siap menerima semua kekuranganmu,” ungkap Molly lancar tanpa penyesalan sama sekali.
Helaan napas lega pun melesat dari bibir Molly ketika ia berhasil mengungkapkan semua isi hatinya. Molly berharap agar Cliff bisa segera memberikan reaksi yang positif. Namun tiba-tiba, raut Cliff kembali datar dan kaku. Bahkan, tatapan hangat dan penuh cinta yang sebelumnya terpancar di mata Cliff, sekarang berubah menjadi tajam, dingin, bahkan terkesan kejam.
Seketika itu pula, Molly mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Entah mengapa, ia tahu kalau yang saat ini berhadapan dengannya adalah Mors. Senyum miring sinis yang mulai menghiasi wajah Cliff, membuat Molly semakin yakin kalau Mors mulai mengambil alih.
Molly terus mengunci setiap perubahan di raut wajah Cliff. Aura kejam serta seringai bengis yang menghiasi wajah Cliff, membuat bulu kuduk Molly meremang seketika.
Molly takut, tentu saja. Molly tidak menutupi kenyataan bahwa dirinya masih harus beradaptasi dengan kehadiran Mors yang terasa menyeramkan baginya. Bahkan dalam keadaan diam tanpa bicara sepatah kata pun, Mors terlihat bak malaikat pencabut nyawa.
Namun, sesuai janjinya pada Cliff, Molly akan mencoba memberanikan dirinya untuk menghadapi Mors. Jika ia benar-benar mencintai Cliff, maka ia pun harus menerima kekurangan pria itu dan menerima keberadaan Mors. Cliff dan Mors adalah satu. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua, Molly menyadari hal itu dengan sangat baik.
“Kamu yakin?” tanya Mors sinis.
“M-mors?” panggil Molly gugup.
“Kamu takut?” tantang Mors dengan seringai kejam yang khas.
“Tidak,” jawab Molly lantang.
“Oh, really?” sahut Mors tipis diiringi senyum miring sarat ancaman.
Pria itu mulai meletakkan tangan kanan di tempat tidur, lalu beranjak dari posisi bersandar dan bergerak mendekat. Mors bertumpu pada tangan kanan, sementara tangan kiri pria itu langsung menggenggam leher Molly. Refleks, Molly mengernyit kesakitan. Luka di lehernya yang belum sembuh benar, menimbulkan rasa perih yang cukup menyiksa.
Wajah pria itu mulai bergerak mendekat dengan gerakan yang sangat pelan, layaknya singa yang sedang mengendap-endap sebelum menerkam mangsanya. Molly menatap bibir Mors yang makin mendekat. Embusan napas hangat yang menyentuh bibir Molly bukannya membuat dirinya terangsang, tapi malah membuat tubuhnya bergidik ketakutan.
Jarak bibir mereka sangatlah dekat, bahkan hampir menempel. Biasanya, jika Cliff yang melakukan hal ini padanya, ia pasti akan langsung menyambut godaan sensual yang pria itu berikan. Tapi sekarang yang berhadapan dengannya adalah Mors, dan Molly tak menepis kalau sebagian besar dirinya berharap pergi dari hadapan pria itu.
Debaran jantung yang begitu cepat, menandakan bahwa kehadiran Mors mampu mengubah atmosfer sekeliling Molly menjadi suram, menyeramkan, bahkan penuh amarah. Ingin rasanya ia beranjak dari tempat tidur dan keluar dari ruangan itu. Tapi tidak ia lakukan. Meskipun napasnya terasa berat seperti sedang mengangkat beban yang begitu besar, dan gelenyar panas menjalar di sekujur tubuhnya karena takut dan panik, Molly tetap diam di tempat sembari mempersiapkan dirinya untuk Mors.
“Kamu tahu?” ucap Mors pelan saat bibir mereka hanya berjarak satu senti saja, “aku bahkan bisa merasakan denyut nadimu di bawah tanganku.”
Molly bergeming. Matanya menatap mata Mors yang memancarkan sorot amarah dan kebencian. Tubuh Molly kaku bak patung, sementara tangan dan kakinya terasa dingin seolah membeku. Takut. Ia sangat takut. Tapi ia bersikeras menghadapi Mors sebisa mungkin.
Perlahan namun pasti, Mors mengusap sekilas bibir Molly dengan bibir pria itu sebelum menunduk dan membawa bibir itu menuju leher Molly. Mors melonggarkan cengkeraman di leher Molly, kemudian mendaratkan beberapa kecupan singkat nan menggoda. Refleks, Molly menengadahkan kepala sembari mengatur tarikan napasnya yang terasa pendek, entah karena gairah atau takut.
Saat ini, Molly benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Kecupan-kecupan kecil yang Mors berikan di leher dengan mudahnya membangkitkan getaran gairah dalam diri Molly. Begitu mudahnya hingga Molly terkejut dengan reaksi tubuhnya sendiri.
Mata Molly terpejam lemah, perpaduan rasa takut dan gairah, ketika bibir Mors menjalankan kecupan-kecupan kecil itu menelusuri tulang rahang Molly menegang kaku. Gelenyar panas yang mulai menjalar ke sekujur tubuhnya, menegaskan bahwa Mors berhasil membakar gairah dalam tubuh Molly secepat Cliff membuatnya jatuh cinta. Setiap sel darah di tubuhnya pun meletup-letup mendidih bahkan hanya dengan kecupan yang Mors berikan.
Ini gila. Ini membingungkan. Ini benar-benar pengalaman baru bagi Molly. Ia takut pada Mors, tapi ia tak menyangka gairahnya bisa bangkit bersamaan dengan rasa takutnya pada pria itu. Gairah itu pun mampu menghilangkan akal sehatnya dalam sekejap.
Bibir Mors kembali menjelajah leher Molly. Jilatan yang disusul isapan keras di lehernya, membuat Molly mengerang sekaligus bergairah. Sesaat kemudian, dengusan geli meluncur dari bibir Mors, yang langsung membuat Molly terbelalak. Dengusan itu seolah menertawakan dirinya yang dengan mudahnya larut dalam permainan lidah serta bibir pria itu.
Seketika itu pula, Mors menjauhkan bibirnya dari leher Molly, lalu mengangkat kepala, dan menatap mata Molly dalam-dalam sebelum mendorong tubuh Molly dengan kasar hingga terbaring di tempat tidur. Molly terkesiap, matanya menangkap kilat liar dan kejam di mata Mors yang saat ini berada di atas tubuhnya. Mors menahan tubuhnya dengan tangan kanan, sementara tangan kiri pria itu kembali mencengkeram leher Molly.
Cengkeraman itu pun berubah menjadi cekikan yang membuat Molly sesak bahkan ketakutan. Seolah hanya ingin mempermainkan rasa takutnya, Mors kembali melepaskan cekikan dari leher Molly, lalu membawa tangan itu bergerak turun menyentuh kedua tangan Molly yang mencengkeram erat pinggiran selimut, yang sedari tadi menutupi payudaranya.
Dengan mudah, Mors melepaskan cengkeraman Molly dari selimut, lalu menarik turun selimut itu hingga payudaranya terbuka bebas. Jantung Molly berdebar cepat—sangat cepat hingga rasanya ingin menembus rongga dadanya. Napasnya pun terengah-engah, campuran gairah, takut, dan rasa penasaran.
Waktu pertama kali Cliff bercinta dengannya, pria itu sampai harus melukai tangannya sendiri demi memberi kepuasan tersendiri—yang hingga kini masih tak dimengerti oleh Molly. Dan sekarang, ketika ia akan bercinta dengan Mors, Molly pun penasaran apa yang akan pria itu lakukan demi mencapai kepuasan seksual.
Suasana hening dan mencekam, menambah atmosfer kejam dan bengis yang terpampang jelas di mata Mors yang menggelap—yang saat ini mengunci matanya lekat-lekat. Mata yang sama, yang sebelumnya menatapnya dengan penuh cinta. Mata yang sama, yang pernah memohon padanya agar tidak pergi meninggalkan pria itu. Mata yang sama. Mata Cliff.
“Kamu yakin sudah siap menerima kehadiranku, Sugar bone?” tanya Mors sekali lagi, sarat ancaman.
“Apa kamu siap dengan penolakanku?” tantang Molly dari sela-sela giginya yang terkatup rapat.
“Oh, kamu tidak tahu seberapa siap aku menyiksamu jika kamu menolakku lagi,” ancam Mors geram.
Mencoba berani dan berniat mengendalikan Mors, Molly menangkup pipi pria itu dengan kedua tangannya. Ia menatap mata itu dalam-dalam sembari terus menekankan bahwa mata ini adalah mata Cliff. Bibir ini adalah bibir Cliff. Tubuh ini adalah tubuh Cliff. Semua yang ada dihadapannya saat ini adalah Cliff, meskipun saat ini Mors yang berhadapan dengannya.
Molly terus menekankan di dalam hatinya bahwa Mors adalah pelindung Cliff. Mors hanyalah sosok yang muncul karena rasa takut Cliff. Mors adalah Cliff versi kejam, kasar, dan liar. Mors adalah Cliff. Tidak ada yang berbeda di hadapannya saat ini, hanya karakternya saja. Yang lain, tidak.
“Bercintalah denganku,” ucap Molly lembut. Ia berharap kelembutan, kehangatan, dan cinta yang berusaha ia pancaran dari sorot matanya, mampu meredam keliaran Mors.
Seketika, Mors terbelalak. Raut wajah pria itu menegang merespons ucapannya. Seringai kejam yang sebelumnya menghiasi wajah Mors pun lenyap, digantikan oleh gemeretak gigi, tanda geram dan kesal.
“Bercinta denganmu?” ulang Mors tipis, lalu mengalihkan pandangan dari mata Molly ke bibirnya. Ia berharap permintaannya itu bisa menghapus kebengisan Mors.
Akhirnya, Molly mengangkat kepalanya sedikit demi mendaratkan ciuman hangat di bibir Mors. Namun sedetik kemudian, Mors mencekik leher Molly dengan tangan kiri, lalu menekan tubuhnya ke tempat tidur hingga ciuman itu terlepas. Kobaran amarah tampak jelas di mata Mors, sebelum akhirnya pria itu beranjak dari atas tubuh Molly dan turun dari tempat tidur dengan entakan keras.
Tak berani bergerak, Molly terus berbaring di tempat tidur dengan bagian atas tubuhnya terbuka bebas. Matanya terus mengunci pergerakan tubuh Mors yang telanjang dan terbentuk sempurna ketika pria itu berjalan melintasi kamar menuju sebuah lemari berukuran sedang.
Pria itu terlihat sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari. Ketika berbalik, Molly tercekat sekaligus bergidik ketakutan saat melihat benda yang ada dalam genggaman Mors. Tali berwarna hitam, penutup mata berwarna senada, serta benda asing yang belum pernah Molly lihat sebelumnya.
Mors tidak memedulikan tatapan curiga Molly. Ketika Mors melangkah ke sisi lain tempat tidur demi mengeluarkan pisau kesayangan Cliff dari laci meja nakas, Molly malah makin mengerut curiga sekaligus takut. Ia pun teringat akan beberapa teknik bercinta yang tergolong kasar bahkan menyiksa yang pernah ia lihat di internet.
“A-apa yang …, kenapa dengan …, maksudku, apa yang akan kamu lakukan dengan benda-benda itu, Mors?” tanya Molly gelagapan. Bukannya menjawab, Mors malah menyunggingkan senyum miring, bengis, diiringi lirikan kejam sembari melangkah naik ke tempat tidur.
“Bercinta denganmu,” jawab Mors tipis.
“D-dengan itu?” tanya Molly. Suaranya bergetar. Ia tak sedikit pun berniat menutupi rasa takut sekaligus penasaran yang saat ini melanda dirinya.
“Aku tidak akan membunuhmu, kalau itu yang kamu pikirkan,” jawab Mors cepat, lalu berdiri mengangkangi Molly yang sedari tadi terbaring pasrah di tempat tidur.
Matanya bisa menangkap jelas setiap lekukan tubuh indah itu. Tubuh atletis dan maskulin yang menjulang tinggi tepat di atasnya. Namun, satu hal yang janggal bagi Molly. Kejantanan Mors tidak beraksi seperti layaknya Cliff yang langsung menegang ketika berciuman dengannya.
“Beginilah cara aku—cara kami bercinta yang sebenarnya,” ucap Mors tegas seraya meletakkan benda-benda tersebut begitu saja di tempat tidur, lalu bertumpu di lutut dan menarik kasar selimut yang menutupi sebagian tubuh Molly.
“Mors, jangan lukai dirimu,” mohon Molly saat melihat pria itu mulai mengeluarkan pisau dari sarungnya. Mengingat apa yang pernah Cliff lakukan saat di hotel, Molly tidak ingin Mors menambah luka lagi di tubuh itu.
“Diam!” tegur Mors tegas dengan tatapan tajam dan pisau dalam genggaman tangan kirinya.
“Aku akan mengajarimu cara untuk memuaskanku,” lanjut Mors tipis.
“Tapi—“
“Tenang! Nikmatilah …, dan, kupastikan kamu akan menyukainya. Rasa sakit itu …, akan membuatmu makin liar. Membuat kita makin liar,” potong Mors cepat seraya mengambil tali dan memotongnya dengan mudah menggunakan pisau.
Meskipun masih dengan perasaan takut, Molly akhirnya memutuskan untuk tetap diam dan berusaha mengikuti keinginan Mors. Pria itu mulai merapatkan kedua kaki Molly, lalu melingkarkan tali tersebut mulai dari pergelangan kakinya hingga ke lutut, dan mengikatnya sekuat mungkin.
Molly tercekat saat merasakan kuatnya ikatan Mors. Namun, senyum tipis nan kejam langsung menghiasi wajah Mors saat mendengar Molly yang tercekat kaget sekaligus takut. Pria itu terlihat gembira dengan rasa sakit yang Molly rasakan.
Setelah itu, Mors bergerak ke atas, menutup mata Molly dengan selembar kain penutup mata, kemudian mengikat kedua tangannya menjadi satu. Molly bisa merasakan betapa lihainya Mors ketika melilitkan tali mulai dari pergelangan tangan hingga ke sikunya, sebelum menarik sisa tali dan mengikatnya di tiang sandaran tempat tidur, membuat tangan Molly tepat berada di atas kepalanya.
Pria itu tampak sudah terbiasa memperlakukan seorang wanita seperti ini. Menyadari hal itu, Molly pun penasaran, siapa saja yang sudah bersetubuh dengan Mors dan Cliff.
Perih yang terasa di lengan akibat luka pisau yang belum sembuh benar, membuat Molly mengernyit sekilas, lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan demi menekan rasa sakit itu. Dalam kondisi mata tertutup, ia tidak tahu apa sebenarnya yang akan Mors lakukan pada tubuhnya. Molly berusaha berpikir positif meskipun kepalanya sudah dipenuhi gambaran-gambaran liar yang pernah ia lihat di internet.
Tiba-tiba, suasana kamar terasa hening dan mencekam. Tak ada pergerakan sama sekali dari Mors, bahkan embusan napas pun tidak terdengar. Curiga dan panik, Molly berusaha membuka mata menggunakan lengannya.
“Mors?” panggil Molly serak.
“Diam!” tegur Mors parau, yang langsung membuat Molly berhenti berusaha melepaskan penutup mata.
Ia tahu—dan entah mengapa ia yakin—Mors tidak akan membunuhnya seperti yang pria itu lakukan pada si penjahat. Namun dengan kondisi terikat seperti ini, Molly tak bisa memberikan perlawanan sama sekali jika seandainya Mors melakukan hal-hal di luar batas amannya.
Tak lama kemudian, ia bisa merasakan sesuatu mulai membasahi tubuhnya. Aroma darah segar pun langsung mengisi indra penciumannya.
“Mors, kamu melukai tubuhmu?” tanya Molly panik, sembari kembali berusaha melepaskan penutup mata dengan lengannya.
“Diam, atau kamu tidak akan melihat Cliff lagi!” tegur Mors tegas.
Terpaksa, Molly mengikuti kemauan pria itu meskipun dadanya perih saat membayangkan Mors melukai tubuh Cliff. Ya, ia tahu tubuh Cliff adalah tubuh Mors juga. Tapi, ia tidak ingin melihat tubuh itu kembali terluka.
Usapan lembut di perutnya membuat tubuh Molly menegang. Ia bisa merasakan bagaimana kedua tangan itu melumuri tubuh Molly dengan darah. Ia pun kembali merasakan tetesan darah di payudaranya sebelum Mors menjamah kedua payudaranya dengan gerakan melingkar yang begitu lembut dan menggoda. Sentuhan, belaian, bahkan remasan yang Mors berikan, perlahan-lahan menenggelamkan Molly ke dalam pusaran gairah dan kenikmatan.
“Do you like it, Sugar bone?” goda Mors serak, penuh ancaman namun sarat gairah. Molly tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menggigit bibir sembari membayangkan tangan Cliff yang bermain lihai di payudaranya.
“Aroma tubuhmu …,” ucap Mors serak seraya menempelkan hidung di perut Molly, lalu menarik napas dalam-dalam, “benar-benar mengalahkan aroma darah kesukaanku.”
Embusan napas Mors terasa panas menyentuh perutnya, sebelum akhirnya lidah pria itu bergerak menjilati perut Molly dengan jilatan lembut nan menggoda. Perlahan-lahan, jilatan itu pun mulai bergerak turun menuju kewanitaannya. Dengan kedua kaki terikat rapat, Molly terus menahan paha agar Mors tidak bisa menyentuh bagian sensitifnya. Namun dengan mudah Mors mengangkat kedua kaki Molly ke atas, menahannya dengan satu tangan, lalu membungkuk dan menjalankan kecupan-kecupan kecil di lipatan selangkangan Molly.
Salah satu tangan Mors yang bebas, mulai mengusap kewanitaan Molly. Jari telunjuk Mors pun mulai melesat masuk ke kewanitaan Molly yang basah dan lembab, sementara lidah pria itu bermain liar di puncak sensitifnya.
Pasrah dan bergairah, Molly pun tak mampu menahan erangannya. Molly tak menampik, cumbuan serta permainan lidah dan jemari Mors membuat dirinya semakin tenggelam dan menggila. Kakinya pun semakin lemas, beruntung Mors menahannya sejenak, sebelum membawa kaki Molly ke atas hingga hampir menyentuh payudaranya.
Tubuh Molly yang tertekuk sedemikian rupa, memberikan keleluasaan bagi Mors untuk memperdalam permainan lidah serta jemarinya. Erangan yang tak tertahankan pun terus mengisi ruangan, sementara Molly sudah tak tahu lagi apakah ia mampu bertahan dengan segala keliaran yang Mors berikan. Atau, apakah ia akan menggila dan meminta pria itu terus menyiksa tubuhnya. Molly benar-benar tidak tahu, karena semua ini adalah pengalaman baru baginya.
Menyadari bahwa tubuh Molly sudah bertekuk lutut dalam gelombang gairah, Mors tak berniat menghentikan permainannya. Lidah pria itu terus bermain-main dengan puncak kewanitaan Molly, bahkan mengisap sembari memberikan tarikan cukup kencang, lalu melepaskan isapan itu begitu saja—yang mana malah membuat tubuh Molly bergetar hebat.
Tak berhenti di situ, Mors kembali menggerakkan lidah dengan gerakan melingkar yang membuat kepala Molly pening karena dipenuhi gairah. Kondisi tubuhnya yang terikat, membuat Mors leluasa menjelajahi tubuh Molly. Ingin rasanya ia menolak, namun Molly tak berdaya. Bukan karena ia tidak suka, tapi karena semua ini terasa begitu nikmat.
“Aku berjanji …,” ucap Mors di sela-sela permainan lidahnya, “aku akan membuatmu menggila, Sugar bone.”
*****
‘Aku mencintaimu, Molly.’
Kalimat indah itu terngiang-ngiang di telinga Molly. Percintaan mereka semalam terasa begitu indah dan manis. Cliff, yang terbiasa bercinta dengan cara kasar, perlahan-lahan berhasil mengendalikan diri. Bahkan, Cliff seolah menumpahkan seluruh perasaan cinta yang pria itu miliki padanya selama bercinta semalam.
Ini sebuah kemajuan bagi Cliff—bagi hubungan mereka. Cliff berusaha menunjukkan padanya bahwa pria itu rela melakukan atau mengorbankan segalanya demi kebahagiaannya, dan Molly sangat menghargai hal itu. Oleh karena itu, Molly berniat membalas ketulusan serta kebaikan Cliff dengan menerima segala kekurangan dan kelebihan yang pria itu miliki.
Molly tahu, kehadiran Mors dalam diri Cliff merupakan tantangan terberat dalam hubungan mereka. Namun Molly sudah bertekad untuk mencari jalan keluar demi kebaikan dirinya, Cliff, dan Mors. Bahkan, Molly rela mengorbankan segalanya demi mempertahankan hubungan ini.
Dengan helaan napas lega, Molly membuka mata, lalu mengerjap sejenak. Senyum kecil menghiasi wajah Molly saat melihat lingkaran tangan Cliff yang menindih perutnya. Lingkaran yang menegaskan kepemilikan serta keposesifan pria itu terhadap dirinya.
Keintiman serta kehangatan yang terpampang jelas di matanya saat ini, seolah menunjukkan bahwa tak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memisahkan mereka. Molly benar-benar jatuh cinta pada Cliff, dan tak ada hal lain di dunia ini yang dapat membuatnya bahagia selain cinta yang Cliff berikan padanya.
Dengan penuh cinta, Molly meletakkan tangan di atas lingkaran tangan Cliff, lalu mengusapnya lembut. Gelenyar hangat nan menyenangkan pun merambat dari hati hingga ke sekujur tubuh saat menyadari betapa intimnya mereka sekarang. Pernyataan cinta Cliff, percintaan yang manis dan indah, merupakan hal terbaik dalam hidup Molly. Semua terasa seperti mimpi, bahkan jauh lebih baik.
Molly kembali menghela napas lega, lalu berbalik dan menatap wajah Cliff yang masih tertidur pulas. Ia tidak tahu sudah jam berapa sekarang, tapi cahaya terang yang menyelinap dari balik gorden putih menunjukkan kalau hari sudah siang.
Hari ini, Molly mendapat giliran kerja di shift kedua. Setidaknya, ia masih memiliki waktu bersantai sejenak bersama Cliff sebelum kembali ke rutinitas hariannya. Hingga detik ini, Molly masih tidak mengerti mengapa Lukas begitu tega pada dirinya. Ia bahkan tak menyangka penolakannya beberapa tahun yang lalu bisa mengubah Lukas, yang biasa ia kenal hangat dan bersahabat, bisa berubah menjadi kejam dan beringas seperti itu.
Berusaha mengusir kegusaran yang timbul ketika mengingat kejadian kemarin, Molly memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Sesaat kemudian, ia pun membuka mata dan memusatkan perhatian serta pikirannya pada Cliff, pria yang sangat ia cintai.
Ia mengangkat tangannya dan mulai membelai wajah Cliff dengan lembut. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Molly leluasa memperhatikan setiap jengkal wajah Cliff. Ia bisa melihat garis tipis di pelipis yang tampak seperti bekas jahitan halus. Ia juga menemukan garis tipis yang sama di bagian bawah rahang Cliff.
Garis-garis tipis tersebut tampaknya menyimpan cerita pahit yang Cliff alami saat masih kecil. Molly menyadari bahwa tubuh, batin, dan kejiwaan Cliff mungkin terluka bahkan hancur lebur akibat semua siksaan yang pria itu alami. Tapi Molly tahu bahwa jauh di dalam sana, Cliff masih memiliki hati yang lembut dan penuh cinta.
Molly mengecup bibir Cliff dengan lembut yang dibalas dengan kerutan halus di kening pria itu. Kelopak mata yang bergerak terbuka menampakkan bola mata berwarna abu-abu kehijauan yang langsung menatapnya sayu. Cliff mulai mengangkat tangan yang menindih tubuh Molly, lalu menggeliat kecil sebelum kembali menatapnya.
“Cliff,” panggil Molly lembut.
“Hmm,” gumam Cliff singkat sembari meletakkan kembali tangan di atas pinggang Molly, dan menariknya semakin mendekat. Tubuh mereka yang masih telanjang, membuat Molly bisa merasakan kejantanan Cliff yang mengeras di bawah sana.
“Em …, begini …, a-aku …, maksudku, aku mau minta maaf untuk kemarin,” ucap Molly gelagapan, karena pikirannya tertuju pada kejantanan Cliff.
“Sudahlah, lupakan saja,” sahut Cliff tenang.
“Tapi …, tapi aku mau …, maksudku …, bisakah kita bicara sebentar tentang …, Mors?” ungkap Molly hati-hati, sementara kejantanan Cliff hampir mengambil alih perhatiannya secara keseluruhan. Ia bisa melihat sedikit perubahan di raut wajah Cliff yang menunjukkan bahwa bukan percakapan ini yang pria itu harapkan saat bangun tidur. Namun bagi Molly, semakin cepat mereka membicarakan dan meluruskan masalah ini, maka langkah mereka dalam menjalani hubungan akan semakin lancar.
Cliff menjauhkan tangannya dari tubuh Molly, lalu bangkit dari posisi tidur, kemudian bersandar di sandaran tempat tidur. Molly pun bangkit, lalu melingkarkan selimut demi menutupi payudaranya, kemudian duduk menghadap Cliff. Tak ada kata-kata yang meluncur dari bibir Cliff. Pandangan pria itu terus mengunci pergerakan Molly. Bahkan ketika tangannya bergerak kaku karena malu saat ia merapikan rambutnya yang berantakan, Cliff hanya menggemeretak gemas.
“Cliff, kumohon jangan pasang raut wajah seperti itu,” pinta Molly lembut saat menangkap raut geram Cliff.
“Kenapa?” tanya Cliff singkat, “apa yang salah dengan wajahku?”
“B-bukan …, maksudku jangan menatapku seperti itu,” balas Molly cepat.
“Seperti apa?” tanya Cliff cepat, tampak kesal.
“Kumohon, Cliff. A-aku …, semalam aku sudah bertekad ingin membicarakan masalah ini. Tapi, kita …, maksudku …, a-aku hanya ingin agar kita bisa menjalani hubungan ini dengan baik,” ungkap Molly gelagapan.
“Haruskah kita membicarakannya sekarang?” tanya Cliff enggan.
“Harus,” jawab Molly cepat, sedikit terkejut dengan ketegasan yang terkandung dalam ucapannya. Molly pun terdiam sejenak sembari menyusun kata-kata yang tepat, sementara Cliff melipat tangan di depan dada sambil menunggu dengan raut datar.
“B-bisakah aku bicara dengan Mors?” tanya Molly kaku. Jantungnya berdebar keras, berharap ini adalah keputusan yang tepat.
“Tidak!” tolak Cliff singkat dan cepat.
“Baiklah …, kalau begitu bisakah Mors mendengarku?” tanya Molly bingung.
Ya, benar. Sejujurnya Molly tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan orang yang memiliki alter ego. Tapi ia harus mencoba segala cara agar baik Mors ataupun Cliff bisa mendengar apa yang akan ia utarakan.
“Bisa,” jawab Cliff datar.
“Oh, OK. Sekarang …, bisakah kamu mendengarkan dulu tanpa menyelaku? Karena …, ya, kurasa itu yang terbaik. Bisa?” pinta Molly lembut sembari menenangkan kegugupan dalam dirinya.
Cliff tidak menjawab, malah mata pria itu terus mengunci Molly seolah dirinya mangsa yang sangat lezat. Raut datar Cliff membuat rasa gugup dalam diri Molly terasa makin besar, karena ia tak bisa membaca suasana hati pria itu saat ini. Seketika itu pula, kepercayaan diri Molly menghilang.
Demi menumbuhkan kembali rasa percaya diri serta keberaniannya, Molly mengalihkan pandangan dari Cliff ke jari jemarinya yang saling bertautan di atas pangkuan. Keheningan yang memenuhi ruangan, membuat telinga Molly berdengung keras. Namun sikap diam dan kaku bukanlah sikap yang tepat untuk menyelesaikan masalah di antara mereka.
Akhirnya, Molly menarik napas panjang sebanyak dua kali sebelum mengangkat pandangannya dan menatap Cliff yang masih diam seribu bahasa.
“Aku mencintaimu, Cliff,” ungkap Molly memulai pembicaraan, “aku mengerti …, masa lalumu begitu menyakitkan. Banyak kejadian pahit serta perundungan yang kamu terima hingga membentuk dirimu menjadi Cliff yang aku kenal saat ini.”
“Cliff …, aku tahu …, kamu dan Mors adalah satu. Bagimu, Mors adalah pelindung dan kekuatanmu. Aku …, aku berusaha memahami bahwa kehadirannya dapat memberikan pengaruh positif bagimu. Dan semalam, aku …, aku memutuskan bahwa aku tidak mau kehilanganmu, Cliff,” lanjut Molly pelan, lalu berhenti sejenak demi mengatur kalimat yang tepat agar Cliff tidak salah pengertian.
“Awalnya …, jujur, aku kaget. Sangat kaget. Malam itu …, Mors benar-benar membuatku ketakutan. Saking takutnya, aku bahkan sempat memutuskan untuk pergi dan menjauh selamanya darimu. Tapi …, aku tidak mau. Bukan karena aku tidak bisa melakukannya, tapi karena aku tahu aku tidak ingin jauh dari kamu, Cliff,” ungkap Molly jujur sambil terus menatap mata Cliff lekat-lekat.
Ia ingin Cliff tahu bahwa setiap kata yang ia ucapkan bukanlah sekedar ucapan manis belaka. Ini adalah isi hatinya yang paling dalam, yang paling jujur, dan yang paling tulus.
“Alter ego ini …, benar-benar baru bagiku. Tapi, aku mau belajar, Cliff. Aku mencoba untuk mengerti kondisimu. Bahkan, aku membaca beberapa artikel yang berhubungan dengan alter ego. Itulah kenapa seharian kemarin aku menutup diri darimu. Bukan karena aku benci padamu, Cliff, tapi karena aku memang benar-benar butuh waktu untuk mencerna semua ini.
“Maafkan aku kalau aku sempat mengecewakanmu, Cliff. Aku salah, aku tahu. Aku juga sangat egois karena tidak mau mendengarkan penjelasanmu terlebih dulu, dan malah mengikuti emosiku. Tapi setelah benar-benar menenangkan diri, aku pun sadar kalau aku tidak boleh bersikap seperti itu padamu. Aku sangat mencintaimu, Cliff, dan itulah alasan utama kenapa aku mau menerima semua yang ada di dirimu,” jelas Molly sebaik mungkin.
Raut datar dan tatapan tajam yang sebelumnya mengunci Molly, perlahan-lahan berubah menjadi sedikit lebih tenang. Bahkan, Molly merasakan pancaran cinta di mata indah itu.
“Aku tahu, aku tidak berhak menyuruhmu untuk menekan keberadaan Mors. Aku juga tahu, kalau aku mau menjalani hubungan ini dengan baik, maka aku harus bisa menghadapi alter egomu. Aku …, aku menerimamu apa adanya, Cliff. Bahkan aku siap dengan kehadiran Mors, kapan pun dia memutuskan untuk mengambil alih tubuhmu.
“Aku siap bukan karena aku berani menghadapinya, tapi karena aku tidak mau kehilanganmu, Cliff. Aku mencintaimu, Cliff. Aku sadar kalau kalian itu satu. Kamu adalah Mors, begitu pula sebaliknya. Dan, aku siap menerima semua kekuranganmu,” ungkap Molly lancar tanpa penyesalan sama sekali.
Helaan napas lega pun melesat dari bibir Molly ketika ia berhasil mengungkapkan semua isi hatinya. Molly berharap agar Cliff bisa segera memberikan reaksi yang positif. Namun tiba-tiba, raut Cliff kembali datar dan kaku. Bahkan, tatapan hangat dan penuh cinta yang sebelumnya terpancar di mata Cliff, sekarang berubah menjadi tajam, dingin, bahkan terkesan kejam.
Seketika itu pula, Molly mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Entah mengapa, ia tahu kalau yang saat ini berhadapan dengannya adalah Mors. Senyum miring sinis yang mulai menghiasi wajah Cliff, membuat Molly semakin yakin kalau Mors mulai mengambil alih.
Molly terus mengunci setiap perubahan di raut wajah Cliff. Aura kejam serta seringai bengis yang menghiasi wajah Cliff, membuat bulu kuduk Molly meremang seketika.
Molly takut, tentu saja. Molly tidak menutupi kenyataan bahwa dirinya masih harus beradaptasi dengan kehadiran Mors yang terasa menyeramkan baginya. Bahkan dalam keadaan diam tanpa bicara sepatah kata pun, Mors terlihat bak malaikat pencabut nyawa.
Namun, sesuai janjinya pada Cliff, Molly akan mencoba memberanikan dirinya untuk menghadapi Mors. Jika ia benar-benar mencintai Cliff, maka ia pun harus menerima kekurangan pria itu dan menerima keberadaan Mors. Cliff dan Mors adalah satu. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua, Molly menyadari hal itu dengan sangat baik.
“Kamu yakin?” tanya Mors sinis.
“M-mors?” panggil Molly gugup.
“Kamu takut?” tantang Mors dengan seringai kejam yang khas.
“Tidak,” jawab Molly lantang.
“Oh, really?” sahut Mors tipis diiringi senyum miring sarat ancaman.
Pria itu mulai meletakkan tangan kanan di tempat tidur, lalu beranjak dari posisi bersandar dan bergerak mendekat. Mors bertumpu pada tangan kanan, sementara tangan kiri pria itu langsung menggenggam leher Molly. Refleks, Molly mengernyit kesakitan. Luka di lehernya yang belum sembuh benar, menimbulkan rasa perih yang cukup menyiksa.
Wajah pria itu mulai bergerak mendekat dengan gerakan yang sangat pelan, layaknya singa yang sedang mengendap-endap sebelum menerkam mangsanya. Molly menatap bibir Mors yang makin mendekat. Embusan napas hangat yang menyentuh bibir Molly bukannya membuat dirinya terangsang, tapi malah membuat tubuhnya bergidik ketakutan.
Jarak bibir mereka sangatlah dekat, bahkan hampir menempel. Biasanya, jika Cliff yang melakukan hal ini padanya, ia pasti akan langsung menyambut godaan sensual yang pria itu berikan. Tapi sekarang yang berhadapan dengannya adalah Mors, dan Molly tak menepis kalau sebagian besar dirinya berharap pergi dari hadapan pria itu.
Debaran jantung yang begitu cepat, menandakan bahwa kehadiran Mors mampu mengubah atmosfer sekeliling Molly menjadi suram, menyeramkan, bahkan penuh amarah. Ingin rasanya ia beranjak dari tempat tidur dan keluar dari ruangan itu. Tapi tidak ia lakukan. Meskipun napasnya terasa berat seperti sedang mengangkat beban yang begitu besar, dan gelenyar panas menjalar di sekujur tubuhnya karena takut dan panik, Molly tetap diam di tempat sembari mempersiapkan dirinya untuk Mors.
“Kamu tahu?” ucap Mors pelan saat bibir mereka hanya berjarak satu senti saja, “aku bahkan bisa merasakan denyut nadimu di bawah tanganku.”
Molly bergeming. Matanya menatap mata Mors yang memancarkan sorot amarah dan kebencian. Tubuh Molly kaku bak patung, sementara tangan dan kakinya terasa dingin seolah membeku. Takut. Ia sangat takut. Tapi ia bersikeras menghadapi Mors sebisa mungkin.
Perlahan namun pasti, Mors mengusap sekilas bibir Molly dengan bibir pria itu sebelum menunduk dan membawa bibir itu menuju leher Molly. Mors melonggarkan cengkeraman di leher Molly, kemudian mendaratkan beberapa kecupan singkat nan menggoda. Refleks, Molly menengadahkan kepala sembari mengatur tarikan napasnya yang terasa pendek, entah karena gairah atau takut.
Saat ini, Molly benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Kecupan-kecupan kecil yang Mors berikan di leher dengan mudahnya membangkitkan getaran gairah dalam diri Molly. Begitu mudahnya hingga Molly terkejut dengan reaksi tubuhnya sendiri.
Mata Molly terpejam lemah, perpaduan rasa takut dan gairah, ketika bibir Mors menjalankan kecupan-kecupan kecil itu menelusuri tulang rahang Molly menegang kaku. Gelenyar panas yang mulai menjalar ke sekujur tubuhnya, menegaskan bahwa Mors berhasil membakar gairah dalam tubuh Molly secepat Cliff membuatnya jatuh cinta. Setiap sel darah di tubuhnya pun meletup-letup mendidih bahkan hanya dengan kecupan yang Mors berikan.
Ini gila. Ini membingungkan. Ini benar-benar pengalaman baru bagi Molly. Ia takut pada Mors, tapi ia tak menyangka gairahnya bisa bangkit bersamaan dengan rasa takutnya pada pria itu. Gairah itu pun mampu menghilangkan akal sehatnya dalam sekejap.
Bibir Mors kembali menjelajah leher Molly. Jilatan yang disusul isapan keras di lehernya, membuat Molly mengerang sekaligus bergairah. Sesaat kemudian, dengusan geli meluncur dari bibir Mors, yang langsung membuat Molly terbelalak. Dengusan itu seolah menertawakan dirinya yang dengan mudahnya larut dalam permainan lidah serta bibir pria itu.
Seketika itu pula, Mors menjauhkan bibirnya dari leher Molly, lalu mengangkat kepala, dan menatap mata Molly dalam-dalam sebelum mendorong tubuh Molly dengan kasar hingga terbaring di tempat tidur. Molly terkesiap, matanya menangkap kilat liar dan kejam di mata Mors yang saat ini berada di atas tubuhnya. Mors menahan tubuhnya dengan tangan kanan, sementara tangan kiri pria itu kembali mencengkeram leher Molly.
Cengkeraman itu pun berubah menjadi cekikan yang membuat Molly sesak bahkan ketakutan. Seolah hanya ingin mempermainkan rasa takutnya, Mors kembali melepaskan cekikan dari leher Molly, lalu membawa tangan itu bergerak turun menyentuh kedua tangan Molly yang mencengkeram erat pinggiran selimut, yang sedari tadi menutupi payudaranya.
Dengan mudah, Mors melepaskan cengkeraman Molly dari selimut, lalu menarik turun selimut itu hingga payudaranya terbuka bebas. Jantung Molly berdebar cepat—sangat cepat hingga rasanya ingin menembus rongga dadanya. Napasnya pun terengah-engah, campuran gairah, takut, dan rasa penasaran.
Waktu pertama kali Cliff bercinta dengannya, pria itu sampai harus melukai tangannya sendiri demi memberi kepuasan tersendiri—yang hingga kini masih tak dimengerti oleh Molly. Dan sekarang, ketika ia akan bercinta dengan Mors, Molly pun penasaran apa yang akan pria itu lakukan demi mencapai kepuasan seksual.
Suasana hening dan mencekam, menambah atmosfer kejam dan bengis yang terpampang jelas di mata Mors yang menggelap—yang saat ini mengunci matanya lekat-lekat. Mata yang sama, yang sebelumnya menatapnya dengan penuh cinta. Mata yang sama, yang pernah memohon padanya agar tidak pergi meninggalkan pria itu. Mata yang sama. Mata Cliff.
“Kamu yakin sudah siap menerima kehadiranku, Sugar bone?” tanya Mors sekali lagi, sarat ancaman.
“Apa kamu siap dengan penolakanku?” tantang Molly dari sela-sela giginya yang terkatup rapat.
“Oh, kamu tidak tahu seberapa siap aku menyiksamu jika kamu menolakku lagi,” ancam Mors geram.
Mencoba berani dan berniat mengendalikan Mors, Molly menangkup pipi pria itu dengan kedua tangannya. Ia menatap mata itu dalam-dalam sembari terus menekankan bahwa mata ini adalah mata Cliff. Bibir ini adalah bibir Cliff. Tubuh ini adalah tubuh Cliff. Semua yang ada dihadapannya saat ini adalah Cliff, meskipun saat ini Mors yang berhadapan dengannya.
Molly terus menekankan di dalam hatinya bahwa Mors adalah pelindung Cliff. Mors hanyalah sosok yang muncul karena rasa takut Cliff. Mors adalah Cliff versi kejam, kasar, dan liar. Mors adalah Cliff. Tidak ada yang berbeda di hadapannya saat ini, hanya karakternya saja. Yang lain, tidak.
“Bercintalah denganku,” ucap Molly lembut. Ia berharap kelembutan, kehangatan, dan cinta yang berusaha ia pancaran dari sorot matanya, mampu meredam keliaran Mors.
Seketika, Mors terbelalak. Raut wajah pria itu menegang merespons ucapannya. Seringai kejam yang sebelumnya menghiasi wajah Mors pun lenyap, digantikan oleh gemeretak gigi, tanda geram dan kesal.
“Bercinta denganmu?” ulang Mors tipis, lalu mengalihkan pandangan dari mata Molly ke bibirnya. Ia berharap permintaannya itu bisa menghapus kebengisan Mors.
Akhirnya, Molly mengangkat kepalanya sedikit demi mendaratkan ciuman hangat di bibir Mors. Namun sedetik kemudian, Mors mencekik leher Molly dengan tangan kiri, lalu menekan tubuhnya ke tempat tidur hingga ciuman itu terlepas. Kobaran amarah tampak jelas di mata Mors, sebelum akhirnya pria itu beranjak dari atas tubuh Molly dan turun dari tempat tidur dengan entakan keras.
Tak berani bergerak, Molly terus berbaring di tempat tidur dengan bagian atas tubuhnya terbuka bebas. Matanya terus mengunci pergerakan tubuh Mors yang telanjang dan terbentuk sempurna ketika pria itu berjalan melintasi kamar menuju sebuah lemari berukuran sedang.
Pria itu terlihat sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari. Ketika berbalik, Molly tercekat sekaligus bergidik ketakutan saat melihat benda yang ada dalam genggaman Mors. Tali berwarna hitam, penutup mata berwarna senada, serta benda asing yang belum pernah Molly lihat sebelumnya.
Mors tidak memedulikan tatapan curiga Molly. Ketika Mors melangkah ke sisi lain tempat tidur demi mengeluarkan pisau kesayangan Cliff dari laci meja nakas, Molly malah makin mengerut curiga sekaligus takut. Ia pun teringat akan beberapa teknik bercinta yang tergolong kasar bahkan menyiksa yang pernah ia lihat di internet.
“A-apa yang …, kenapa dengan …, maksudku, apa yang akan kamu lakukan dengan benda-benda itu, Mors?” tanya Molly gelagapan. Bukannya menjawab, Mors malah menyunggingkan senyum miring, bengis, diiringi lirikan kejam sembari melangkah naik ke tempat tidur.
“Bercinta denganmu,” jawab Mors tipis.
“D-dengan itu?” tanya Molly. Suaranya bergetar. Ia tak sedikit pun berniat menutupi rasa takut sekaligus penasaran yang saat ini melanda dirinya.
“Aku tidak akan membunuhmu, kalau itu yang kamu pikirkan,” jawab Mors cepat, lalu berdiri mengangkangi Molly yang sedari tadi terbaring pasrah di tempat tidur.
Matanya bisa menangkap jelas setiap lekukan tubuh indah itu. Tubuh atletis dan maskulin yang menjulang tinggi tepat di atasnya. Namun, satu hal yang janggal bagi Molly. Kejantanan Mors tidak beraksi seperti layaknya Cliff yang langsung menegang ketika berciuman dengannya.
“Beginilah cara aku—cara kami bercinta yang sebenarnya,” ucap Mors tegas seraya meletakkan benda-benda tersebut begitu saja di tempat tidur, lalu bertumpu di lutut dan menarik kasar selimut yang menutupi sebagian tubuh Molly.
“Mors, jangan lukai dirimu,” mohon Molly saat melihat pria itu mulai mengeluarkan pisau dari sarungnya. Mengingat apa yang pernah Cliff lakukan saat di hotel, Molly tidak ingin Mors menambah luka lagi di tubuh itu.
“Diam!” tegur Mors tegas dengan tatapan tajam dan pisau dalam genggaman tangan kirinya.
“Aku akan mengajarimu cara untuk memuaskanku,” lanjut Mors tipis.
“Tapi—“
“Tenang! Nikmatilah …, dan, kupastikan kamu akan menyukainya. Rasa sakit itu …, akan membuatmu makin liar. Membuat kita makin liar,” potong Mors cepat seraya mengambil tali dan memotongnya dengan mudah menggunakan pisau.
Meskipun masih dengan perasaan takut, Molly akhirnya memutuskan untuk tetap diam dan berusaha mengikuti keinginan Mors. Pria itu mulai merapatkan kedua kaki Molly, lalu melingkarkan tali tersebut mulai dari pergelangan kakinya hingga ke lutut, dan mengikatnya sekuat mungkin.
Molly tercekat saat merasakan kuatnya ikatan Mors. Namun, senyum tipis nan kejam langsung menghiasi wajah Mors saat mendengar Molly yang tercekat kaget sekaligus takut. Pria itu terlihat gembira dengan rasa sakit yang Molly rasakan.
Setelah itu, Mors bergerak ke atas, menutup mata Molly dengan selembar kain penutup mata, kemudian mengikat kedua tangannya menjadi satu. Molly bisa merasakan betapa lihainya Mors ketika melilitkan tali mulai dari pergelangan tangan hingga ke sikunya, sebelum menarik sisa tali dan mengikatnya di tiang sandaran tempat tidur, membuat tangan Molly tepat berada di atas kepalanya.
Pria itu tampak sudah terbiasa memperlakukan seorang wanita seperti ini. Menyadari hal itu, Molly pun penasaran, siapa saja yang sudah bersetubuh dengan Mors dan Cliff.
Perih yang terasa di lengan akibat luka pisau yang belum sembuh benar, membuat Molly mengernyit sekilas, lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan demi menekan rasa sakit itu. Dalam kondisi mata tertutup, ia tidak tahu apa sebenarnya yang akan Mors lakukan pada tubuhnya. Molly berusaha berpikir positif meskipun kepalanya sudah dipenuhi gambaran-gambaran liar yang pernah ia lihat di internet.
Tiba-tiba, suasana kamar terasa hening dan mencekam. Tak ada pergerakan sama sekali dari Mors, bahkan embusan napas pun tidak terdengar. Curiga dan panik, Molly berusaha membuka mata menggunakan lengannya.
“Mors?” panggil Molly serak.
“Diam!” tegur Mors parau, yang langsung membuat Molly berhenti berusaha melepaskan penutup mata.
Ia tahu—dan entah mengapa ia yakin—Mors tidak akan membunuhnya seperti yang pria itu lakukan pada si penjahat. Namun dengan kondisi terikat seperti ini, Molly tak bisa memberikan perlawanan sama sekali jika seandainya Mors melakukan hal-hal di luar batas amannya.
Tak lama kemudian, ia bisa merasakan sesuatu mulai membasahi tubuhnya. Aroma darah segar pun langsung mengisi indra penciumannya.
“Mors, kamu melukai tubuhmu?” tanya Molly panik, sembari kembali berusaha melepaskan penutup mata dengan lengannya.
“Diam, atau kamu tidak akan melihat Cliff lagi!” tegur Mors tegas.
Terpaksa, Molly mengikuti kemauan pria itu meskipun dadanya perih saat membayangkan Mors melukai tubuh Cliff. Ya, ia tahu tubuh Cliff adalah tubuh Mors juga. Tapi, ia tidak ingin melihat tubuh itu kembali terluka.
Usapan lembut di perutnya membuat tubuh Molly menegang. Ia bisa merasakan bagaimana kedua tangan itu melumuri tubuh Molly dengan darah. Ia pun kembali merasakan tetesan darah di payudaranya sebelum Mors menjamah kedua payudaranya dengan gerakan melingkar yang begitu lembut dan menggoda. Sentuhan, belaian, bahkan remasan yang Mors berikan, perlahan-lahan menenggelamkan Molly ke dalam pusaran gairah dan kenikmatan.
“Do you like it, Sugar bone?” goda Mors serak, penuh ancaman namun sarat gairah. Molly tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menggigit bibir sembari membayangkan tangan Cliff yang bermain lihai di payudaranya.
“Aroma tubuhmu …,” ucap Mors serak seraya menempelkan hidung di perut Molly, lalu menarik napas dalam-dalam, “benar-benar mengalahkan aroma darah kesukaanku.”
Embusan napas Mors terasa panas menyentuh perutnya, sebelum akhirnya lidah pria itu bergerak menjilati perut Molly dengan jilatan lembut nan menggoda. Perlahan-lahan, jilatan itu pun mulai bergerak turun menuju kewanitaannya. Dengan kedua kaki terikat rapat, Molly terus menahan paha agar Mors tidak bisa menyentuh bagian sensitifnya. Namun dengan mudah Mors mengangkat kedua kaki Molly ke atas, menahannya dengan satu tangan, lalu membungkuk dan menjalankan kecupan-kecupan kecil di lipatan selangkangan Molly.
Salah satu tangan Mors yang bebas, mulai mengusap kewanitaan Molly. Jari telunjuk Mors pun mulai melesat masuk ke kewanitaan Molly yang basah dan lembab, sementara lidah pria itu bermain liar di puncak sensitifnya.
Pasrah dan bergairah, Molly pun tak mampu menahan erangannya. Molly tak menampik, cumbuan serta permainan lidah dan jemari Mors membuat dirinya semakin tenggelam dan menggila. Kakinya pun semakin lemas, beruntung Mors menahannya sejenak, sebelum membawa kaki Molly ke atas hingga hampir menyentuh payudaranya.
Tubuh Molly yang tertekuk sedemikian rupa, memberikan keleluasaan bagi Mors untuk memperdalam permainan lidah serta jemarinya. Erangan yang tak tertahankan pun terus mengisi ruangan, sementara Molly sudah tak tahu lagi apakah ia mampu bertahan dengan segala keliaran yang Mors berikan. Atau, apakah ia akan menggila dan meminta pria itu terus menyiksa tubuhnya. Molly benar-benar tidak tahu, karena semua ini adalah pengalaman baru baginya.
Menyadari bahwa tubuh Molly sudah bertekuk lutut dalam gelombang gairah, Mors tak berniat menghentikan permainannya. Lidah pria itu terus bermain-main dengan puncak kewanitaan Molly, bahkan mengisap sembari memberikan tarikan cukup kencang, lalu melepaskan isapan itu begitu saja—yang mana malah membuat tubuh Molly bergetar hebat.
Tak berhenti di situ, Mors kembali menggerakkan lidah dengan gerakan melingkar yang membuat kepala Molly pening karena dipenuhi gairah. Kondisi tubuhnya yang terikat, membuat Mors leluasa menjelajahi tubuh Molly. Ingin rasanya ia menolak, namun Molly tak berdaya. Bukan karena ia tidak suka, tapi karena semua ini terasa begitu nikmat.
“Aku berjanji …,” ucap Mors di sela-sela permainan lidahnya, “aku akan membuatmu menggila, Sugar bone.”
*****
