Can I Trust You? – BAB 26 – BAB 30

BAB 26

Hari ini Molly terpaksa tidak mengenakan sweater kesayangannya karena benda tersebut sudah kotor. Ia pun memutuskan memakai rok denim sepaha yang menampilkan kaki jenjangnya, yang dipadupadankan dengan sepatu kets putih. Kaos putih lengan pendek fit body dengan hiasan tulisan gravity di dada, melekat sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. 

Molly sengaja menggerai rambut demi menutupi ruam di lehernya. Beruntung bekas sayatan pisau bisa ia samarkan dengan riasan seadanya. Namun tetap saja, ruam merah akibat isapan liar Cliff masih terlihat dengan jelas.

Saat keluar dari kamar, Molly masih bisa merasakan perih yang bersarang di dadanya setelah penolakan Cliff. Namun, secercah perasaan senang menghampirinya ketika mendapati raut kaku dan mata Cliff yang memicing tajam saat melihat penampilannya. Mata itu mengamati Molly dari ujung rambut sampai kaki selama beberapa saat sebelum akhirnya berdecak kesal seraya mengambil koper dari tangan Molly.

Melihat reaksi pria itu, Molly pun menyadari satu hal. Cliff berbohong. Semua ucapan dan penolakan yang Cliff lontarkan sebelumnya pasti memiliki alasan tersendiri. Molly menyadari dirinya memang tidak sekuat wanita-wanita yang pernah ia kenal. Tapi, ia yakin bukan itu alasan utama mengapa Cliff menarik diri darinya.

Ia pun berniat untuk mulai mengeluarkan sisi liarnya. Setiap wanita memiliki sisi liar dalam dirinya, Molly yakin itu. Meskipun ia malu harus bersikap layaknya wanita penggoda, tapi demi menarik perhatian dan rasa cemburu Cliff, ia rela bertingkah sedikit nakal. 

Selama di dalam lift menuju lantai dasar, Molly bisa melihat bagaimana Cliff berusaha keras menjaga jarak darinya. Molly memberanikan diri untuk mendekat. Namun saat ia baru saja menapakkan kaki di samping Cliff, pintu lift tiba-tiba bergerak terbuka. Dengan cepat, pria itu melesat keluar dari lift, meninggalkan Molly begitu saja.

Molly mengerut geli dan tersenyum kecil melihat reaksi Cliff. Rasa bahagia pun semakin menyelimuti Molly ketika menyadari bahwa sesungguhnya Cliff berusaha kuat menyembunyikan perasaan dari dirinya. Mulai saat ini, ia bertekad memancing perasaan Cliff dan membuat pria itu jujur akan perasaannya sendiri. 

Ia membiarkan Cliff melangkah keluar hotel, sementara dirinya mengurus check out di meja resepsionis. Setelah menyerahkan kunci dan membayar biaya pembersihan akibat darah Cliff di selimut hotel, Molly langsung membawa kotak rahasia mama dan berjalan menuju pintu keluar. Senyum hangat petugas hotel menyapa Molly siang itu. Ia pun membalasnya dengan senyum lebar.

Molly mencari keberadaan Cliff ketika tiba di halaman depan hotel. Pria itu terlihat sedang menunggu kedatangannya sembari berkutat dengan ponsel. Dengan langkah tenang, Molly langsung menghampiri pria itu.

“Aku lapar,” ucap Molly singkat sambil melangkah begitu saja tepat di depan Cliff. Ia bisa mendengar geraman dan gemeretak gigi Cliff saat menyadari kedekatan mereka. Dengan santai, Molly langsung membuka pintu belakang, dan meletakkan kotak tersebut di samping kopernya.

Sengaja, Molly kembali lewat di depan Cliff hanya untuk pindah ke sisi lain mobil. Ia membuka pintu dan memperhatikan Cliff yang masih terdiam mengamati dirinya dari seberang.

“Aku lapar,” ulang Molly dengan sedikit penekanan, “bisa kita makan dulu sebelum ke kantor polisi?”

Cliff kembali memicingkan mata, seakan berusaha mencari tahu apa sebenarnya yang ia rencanakan. Tidak ingin pria itu berhasil menebak rencananya, Molly pun segera masuk mobil, lalu menutup pintu di sampingnya. Ia melepas tas yang menyelempang di bahu, meletakkannya di atas pangkuan, kemudian memasang sabuk pengaman. 

Berselang beberapa detik kemudian, Cliff akhirnya masuk. Molly sengaja menyilangkan kaki kirinya di atas lutut kaki kanan, membuat rok denimnya sedikit terangkat saat Cliff memasang sabuk pengaman. Cliff segera menyalakan mesin, lalu menoleh ke arahnya.

Sweater-mu mana?” tanya Cliff datar dan tegang dengan satu tangan di kemudi dan tangan yang lain di persneling mobil. Molly menoleh dengan wajah tenang. Ia menangkap raut geram Cliff saat melihat roknya yang tersingkap dan menyajikan pahanya yang mulus.

“Di koper, tempat pakaian kotor. Kenapa?” tanya Molly tenang. Berusaha mengabaikan tatapan liar Cliff, Molly pun bersedekap, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia memasang sikap defensif, menunjukkan bahwa ia tak peduli sama sekali dengan tatapan tajam yang Cliff tujukan padanya. Padahal sesungguhnya, Molly bersorak gembira akibat tatapan itu.

“Mau … ehm, mau makan di mana?” tanya Cliff serak setelah berdeham sekali, lalu mengalihkan pandangan ke depan.

“Terserah kamu,” jawab Molly santai, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Cliff.

Akhirnya, Cliff membawa mobil keluar dari area parkir. Ia tidak tahu ke mana pria itu akan mengajaknya makan siang, namun saat mobil berbelok ke lingkungan perumahan Cliff, Molly langsung mengerut bingung. Ia menoleh dan menatap raut kaku Cliff yang terus menatap lurus ke depan. Dalam hitungan menit, Cliff berbelok dan memarkirkan mobil tepat di depan pintu garasi.

“Kita makan siang di rumah saja,” ucap Cliff sembari mematikan mesin kendaraan, seakan menjawab raut bingungnya.

“Kenapa?” tanya Molly singkat.

“Katanya terserah aku,” jawab Cliff sembari melepaskan sabuk pengaman, “dan inilah pilihanku.”

Molly ternganga mendengar jawaban Cliff yang terkesan sinis dan memaksa. Sembari mendengus pelan, Molly melepaskan sabuk pengaman, menyelempangkan tas kecilnya, lalu keluar dari mobil. Cliff, yang baru saja menutup pintu belakang, langsung melangkah menuju pintu rumah sembari membawa barang-barang Molly.

Setelah melihat dirinya keluar dari mobil, Cliff langsung mengunci mobil menggunakan remote. Molly berjalan mengitari mobil dengan langkah tenang, berusaha menunjukkan pada Cliff bahwa sikap dingin itu tidak berpengaruh lagi padanya. Ia tahu bagaimana liar dan panasnya Cliff saat bercinta. Dengan kata lain, sikap dingin dan sinis itu hanyalah topeng yang berusaha Cliff pasang demi menutup diri darinya.

Sakit hati karena penolakan Cliff masih bersarang di dadanya, tentu saja, tapi tidak sesakit sebelumnya. Karena sikap, tatapan, dan raut yang Cliff tunjukkan, berbanding terbalik dengan apa yang pria itu ucapkan. Molly terus berjalan menuju pintu rumah. Cliff menunggu hingga Molly berada beberapa langkah dari pintu sebelum akhirnya pria itu memutuskan untuk masuk ke rumah. Seorang wanita yang selalu menyambutnya dengan raut datar dan sinis, kali ini terlihat ramah bahkan tersenyum hangat menyapa kedatangan Cliff.

“Martha, untuk sementara Molly akan tinggal di sini sampai saya selesai mengurus masalahnya,” jelas Cliff saat berhenti di depan ruang tamu. Martha mengembangkan senyum hangat pada Molly yang membuat dirinya tercekat kaget. Wajah Martha yang terlihat layaknya penyihir tua menyeramkan beberapa hari yang lalu, kini tampak hangat dan bersahabat.

“Molly, kurasa kamu sudah mengenal Martha. Jika kamu membutuhkan sesuatu, jangan sungkan bicara dengannya,” lanjut Cliff datar dan dingin sebelum melangkah menjauh. Molly terpaku selama beberapa detik menatap punggung bidang Cliff sebelum pria itu berbelok ke kiri.

“Ikuti aku!” perintah Cliff tegas saat menyadari bahwa dirinya yang hanya diam di tempat. Molly pun segera berjalan melewati Martha yang terus memperhatikan dirinya.

“Martha, siapkan makan siang. Saya dan Molly akan makan di sini,” perintah Cliff tenang. 

“Baik, Sir,” sahut Martha lembut sembari mengunci Molly dengan raut curiga, seakan dirinya adalah sosok yang menyeramkan dan mengancam ketenangan hidup wanita itu. 

Molly berusaha untuk tidak memedulikan penilaian Martha terhadap dirinya, dan memilih untuk terus menapaki anak tangga di belakang Cliff. Setibanya di lantai dua, Cliff berbelok ke kiri, mengitari dinding tangga. Molly mengikuti dengan patuh tanpa banyak bicara sembari memperhatikan betapa luasnya rumah itu.

Mereka pun berjalan melewati sebuah ruang yang tiga per empat bagiannya di kelilingi dinding kaca. Ruangan itu berisi peralatan olah raga, tempat di mana Cliff membentuk tubuhnya yang sempurna. Terdapat beberapa alat berat di sana. Molly membayangkan tubuh Cliff yang berkeringat saat mengangkat salah satu alat berat tersebut. Pasti sangat seksi dan menggoda! batinnya.

Mata yang terpaku pada isi ruang olah raga dan pikiran yang melanglang buana, membuat Molly lengah. Cengkeraman kuat di lengannya menarik tubuh Molly hingga masuk ke dalam pelukan Cliff. Pelukan posesif itu pun membuat napas Molly sesak. 

Mata Cliff tampak sedikit membesar dan menggelap saat mengunci tatapannya. Dengan susah payah Molly menelan air liur, namun ia tidak mampu menepis kenyamanan yang timbul dari kehangatan tubuh Cliff yang melingkari tubuhnya saat ini. Kehangatan yang membuat Molly merasa aman.

“Bisakah kamu memperhatikan langkahmu?” tegas Cliff geram seraya melepas pelukan, lalu menekan tuas pintu dan melangkah masuk ke kamar dengan cepat sembari membawa barang-barangnya. Molly bisa melihat bagaimana kakunya rahang Cliff, yang tampak berusaha keras menepis percikan sensual di antara mereka.

Molly menoleh ke arah jalannya tadi. Terdapat sebuah vas bunga berukuran besar yang terbuat dari kaca, diletakkan tepat di sisi dinding ruang olah raga. Seandainya Cliff tidak menariknya, Molly yakin ia pasti akan menyenggol vas tersebut hingga pecah. Ia pun pasti akan jatuh, dan kemungkinan terburuknya adalah melukai dirinya sendiri.

Ia kembali menoleh ke arah Cliff yang baru saja meletakkan koper di samping tempat tidur, sementara kotak milik mama di atas meja nakas. Molly melangkah masuk dan memperhatikan ruang kamar yang luas, namun terasa hampa dan tak berjiwa, sama seperti pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah ini. Terdapat jendela yang terbuka, yang langsung menghadap ke halaman depan rumah. 

Molly melangkah tenang menghampiri jendela tersebut, lalu menatap jalanan yang cukup sepi di siang hari. Tentu saja, hari ini hari Sabtu. Kemungkinan besar orang-orang memilih untuk bertamasya bersama keluarga. Atau bisa jadi, memilih untuk beristirahat di rumah. 

“Kamarku tepat di sebelah kamar ini. Kalau ada apa-apa, ketuk saja pintuku,” jelas Cliff datar, mengalihkan perhatian Molly dari jalanan. Wajah tampan itu masih terlihat kaku seperti sebelumnya, namun ia bisa menangkap percikan gairah di mata itu. Seketika itu pula Molly mengetahui bahwa kejadian tadi telah membangkitkan sesuatu yang lebih liar dan panas di dalam diri Cliff.

“Anggap seperti rumah sendiri,” lanjut Cliff serak, lalu melangkah menuju pintu kamar.

“Kamu mau ke mana?” tanya Molly cepat, mencegah kepergian Cliff.

“Ganti baju,” jawab Cliff datar, lalu menutup pintu dengan cepat. Molly menatap pintu itu selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk di pinggir tempat tidur. Ia mengeluarkan ponsel dari tas selempang, lalu menekan nomor Kevin.

Nada dering mengisi telinganya selama beberapa saat. Setelah panggilannya dialihkan ke kotak suara, Molly memilih untuk mengirim pesan pada Kevin. Ia mengabari bahwa saat ini ia menginap di rumah Cliff, setidaknya dengan begitu Kevin tidak akan kesulitan mencari keberadaannya.

Setelah mengirim pesan pada Kevin, Molly kembali memasukkan ponsel ke tas, lalu beranjak dari tempat tidur. Ia memutuskan untuk keluar dari kamar. Saat berjalan melewati ruang olah raga, aroma masakan mulai mengguncang perutnya yang kelaparan. 

Percintaan liarnya dengan Cliff benar-benar menguras tenaga. Molly butuh mengisi tenaganya kembali, bukan hanya karena dirinya harus menghadapi Brad setelah makan siang ini. Tapi juga agar bisa bersikap kuat dan liar di mata Cliff. 

Saat tiba di depan tangga, matanya tertuju pada pintu yang tertutup. Itu pasti kamar Cliff, batinnya. Molly memberanikan diri untuk melangkah ke pintu tersebut. Sesampainya di depan pintu, ia berhenti sejenak. Ingin rasanya ia menekan tuas pintu, menghampiri dan menunjukkan pada Cliff bahwa dirinya tidak selemah yang pria itu kira. Namun sedetik kemudian, Molly memutuskan untuk berbalik. 

Tidak! Untuk saat ini, ia harus bisa menahan diri sejenak. Masih ada waktu lain untuk membuktikan pada Cliff, tapi bukan sekarang. Molly langsung berbelok dan menuruni anak tangga. 

Setibanya di lantai dasar, ia langsung berbelok ke kiri menuju ruang dapur modern dengan penataan yang sempurna. Ruang makan tanpa sekat pemisah dengan dapur membuat tempat itu terlihat luas. Warna putih yang mendominasi pun membuat semuanya terlihat bersih dan mahal. Dinding kaca yang menyajikan pekarangan belakang yang tertata rapi, membuat siapa pun yang makan di ruangan itu bisa merasakan ketenangan dan kenikmatan makanan dalam satu waktu.

Martha sedang sibuk menyiapkan makanan di dapur. Ia berniat untuk membantu, namun ketika mata itu melirik sinis ke arahnya, saat itu pula Molly menyadari bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk mulai mengakrabkan diri. Molly pun memilih berjalan menghampiri dinding kaca dan berdiri sejenak di sana sambil menenangkan perasaannya yang bergejolak tidak keruan.

“Silakan makan, Ma’am,” ucap Martha datar yang langsung mengalihkan pandangan Molly. Ia pun mengangguk pelan, lalu melangkah menghampiri meja makan. Molly memilih duduk di salah satu kursi yang mengarah langsung ke pekarangan. 

“Terima kasih untuk makanannya,” ucap Molly pada Martha.

Prank!

Mereka berdua tersentak kaget dan terdiam seketika saat mendengar suara kaca pecah yang berasal dari atas. Perhatian mereka pun langsung tertuju ke arah tangga. Apa yang terjadi di sana? Apa yang Cliff lakukan? batin Molly panik.

“Tunggu di sini!” perintah Martha saat Molly berniat beranjak dari kursi.

“Tapi—“

“Saya lebih mengenal Mr. Franklin daripada Anda. Biarkan saya mengurus ini seperti biasanya,” terang Martha dengan raut misterius yang membuat Molly mengerut bingung. Ia tidak ingin berdebat saat ini. Tenaganya sudah habis karena bercinta. Akhirnya, ia pun menuruti perintah Martha, lalu kembali duduk di kursinya.

“Makanlah. Jangan buat Mr. Franklin khawatir,” pesan Martha yang membuat Molly tercengang. Khawatir? Cliff khawatir padaku? Kenapa? batin Molly bingung.

Akhirnya, wanita itu pun bergegas melangkah menjauh dari meja makan menuju barisan anak tangga. Tidak ingin mengecewakan si pembuat makanan, Molly pun mulai menikmati makan siangnya. Masakan Martha layaknya hidangan restoran terkenal, sangat lezat dan bercita rasa tinggi. Bahkan, koki terhebat di kafe pun tak mampu bersaing dengan hidangan Martha.

Ia terus menikmati makanannya hingga tak bersisa. Setelah meneguk habis minumannya dan meletakkan sendok di atas piring yang kosong, Martha tiba-tiba muncul dengan segenggam perban penuh darah dan sekantong plastik yang sepertinya berisi pecahan kaca. Dengan cepat, Molly beranjak dari kursi dan menghampiri Martha.

“Apa Cliff terluka?” tanya Molly cepat. 

Martha tidak menjawab pertanyaannya, malah membuang gumpalan perban dan plastik ke tempat sampah. Tidak ingin menunggu lebih lama, Molly segera berbalik, berniat menghampiri Cliff. Tapi baru saja berbalik, Cliff tiba-tiba muncul dari balik dinding tangga dengan raut dingin dan tatapan tajam seperti biasa. 

Napas Molly tercekat sementara matanya terpaku melihat penampilan Cliff yang seketika membuat jantungnya berhenti berdebar. Cliff mengenakan kemeja hitam lengan panjang slim fit yang melekat tepat di tubuh pria itu. Tanpa diperintah, mata Molly segera menelusuri lekuk kemeja. Dan seketika itu pula, bayangan akan perut Cliff yang terbentuk sempurna akibat rajin berolah raga, menari-nari liar di dalam kepalanya. 

Celana jeans berwarna cokelat tua dengan ikat pinggang dan sepatu yang senada, menyempurnakan penampilan Cliff yang sudah sempurna bahkan tanpa sehelai benang pun. Rambut yang sudah tersisir rapi menampakkan rahang tegas yang tercukur sempurna. Sementara, mata tajam bak elang yang mengancam dan mengunci pandangannya membuat Molly harus berkedip lebih dari dua kali demi mengembalikan dirinya ke dunia nyata. Namun perhatian Molly langsung teralihkan pada tangan kiri Cliff yang sudah mengenakan perban baru.

“A-apa yang terjadi tadi? Apa kamu terluka?” tanya Molly khawatir.

“Bukan masalah besar,” jawab Cliff datar sembari berjalan menuju meja makan. Pria itu menarik kursi dengan sikap tenang layaknya slow motion di film-film yang membuat Molly terpesona bukan main.

“Kamu sudah kenyang?” tanya Cliff sambil lalu tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.

“Sudah,” jawab Molly singkat dan memutuskan untuk menghampiri Cliff. Saat ia berhenti tepat di sisi kiri kursi Cliff, matanya menangkap luka baru di permukaan luar buku-buku jari pria itu. Dengan cepat Molly mengangkat tangan kiri Cliff, lalu menyikap perban baru yang berusaha menutupi luka tersebut.

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa ini bisa terluka?” tanya Molly sedih dan panik. Dengan tarikan kuat, Cliff melepaskan tangannya dari genggaman Molly. Pria itu bersikap seakan sudah terbiasa dengan luka-luka tersebut. Molly pun teringat akan luka-luka sayatan di kedua lengan Cliff. 

Cliff tetap memasang sikap tenang, tak memedulikan kekhawatiran Molly yang terus berdiri di samping kursi pria itu. Cliff benar-benar bak manusia tanpa perasaan. Raut wajah yang datar, sikap dingin, serta tatapan tanpa emosi seolah menunjukkan bahwa Cliff termasuk salah satu manusia di muka bumi yang mampu mengendalikan seluruh emosi dalam tubuhnya. Emosi yang menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk merasakan sesuatu.

Molly berusaha mengerti seperti apa Cliff sebenarnya. Semua luka-luka itu, kesengajaan Cliff menyayat telapak tangan saat bercinta dengannya, bahkan ucapan Cliff yang mengatakan bahwa pria itu akan selalu menyakitinya, membuat Molly semakin bingung. Ada yang salah dengan Cliff. Tapi apa? Batin Molly sembari terus memutar otak.

“Apa kamu senang menyiksa dirimu sendiri?”

*****

BAB 27

“Kau pengecut, Cliff!”

Tubuh Cliff menegang mendengar cemoohan itu melesat dari bibir Mors. Ia tahu bagaimana Mors sudah tidak sabar ingin melihat reaksi Molly. Tapi, Cliff sudah bertekad untuk tidak membawa wanita itu masuk ke dalam dunianya yang hitam.

“Kau jangan lupa! Kita masih ada satu korban yang harus diselesaikan segera,” ingat Mors tegas.

“Aku tahu. Kita akan membereskannya dalam waktu dekat,” balas Cliff cepat sembari mengancingkan kemejanya.

“Kau lemah, Cliff! Kukira kehadiran wanita itu akan membuatmu kuat. Tapi sisi lemahmu semakin merajalela. Dan sekarang, kau benar-benar terlihat seperti pengecut! Kau pecundang!” cecar Mors yang masih belum bisa menerima keputusan Cliff yang lebih memilih untuk tetap membangun tembok pertahanannya demi keselamatan Molly. Tidak peduli dengan ocehan Mors, Cliff pun memilih untuk tetap diam sembari merapikan penampilannya. Namun, tampaknya Mors tidak akan berhenti berbicara sampai ia menyetujui permintaan pria itu.

“Dia sudah masuk ke kehidupan kita. Kau tidak bisa memungkiri hal itu! Dia harus bisa menerima kita. Dia harus bisa menerima apa yang kau lakukan di balik setelan jas mahalmu,” jelas Mors yang terus menatapnya dengan tatapan menantang.

“Lebih baik kau diam, dan jangan buat keributan selama Molly tinggal di sini!” tegur Cliff tegas, masih berusaha menekan amarahnya.

“Kau tidak mungkin bisa menyembunyikanku selamanya, Cliff! Dia pasti akan mengetahui keberadaanku. Kau buta atau bodoh? Dia tidak selugu itu! Bahkan bisa kukatakan, dia itu lebih tangguh dari yang kita kira. Kau jangan bodoh, Cliff!” cecar Mors untuk yang ke sekian kalinya, membuat Cliff makin sulit berpikir jernih.

“Diam, Mors! Hanya itu yang kuminta. Diam!” mohon Cliff lagi sembari mengepalkan kedua tangannya erat-erat.

“Tidak akan! Aku tidak akan diam sampai dia menyadari keberadaanku! Aku menyukainya. Kau menyukainya. KITA menyukainya! Kau tidak bisa mengelak lagi. Tidak bisa!” tolak Mors geram.

Cliff tidak menyukai apa yang Mors ucapkan. Ia tahu, keberadaan Molly membuat mereka berdua layaknya dua anak laki-laki yang sedang berebut sebuah mainan. Tapi, Molly bukan mainan. Wanita itu telah menyerahkan tubuh dan jiwanya pada Cliff. Bahkan Molly memercayai keselamatan nyawanya pada Cliff meskipun ia sudah mencoba membuat wanita itu menjauh.

Tidak! Cliff tidak ingin berbagi Molly dengan Mors. Molly hanya boleh dimiliki oleh dirinya, meskipun hingga saat ini Cliff masih bergelut dengan batin dan pikirannya sendiri.

“Molly adalah milik kita berdua, Cliff. Milik kita bersama. Tubuh indah itu, milik kita bersama!” ucap Mors lagi hingga akhirnya Cliff tak sanggup menahan luapan amarahnya.

“Diam!” teriak Cliff seraya meninju cermin tinggi yang ada tepat di hadapannya. Seketika itu pula, Mors diam. Ya, Mors diam, tapi bukan berarti Mors menerima ketegasan yang berusaha Cliff tunjukkan. Mors diam karena tahu akan ada saatnya untuk muncul di hadapan Molly, dan Mors tak sabar menunggu saat itu tiba. 

Napas Cliff terengah-engah akibat luapan amarah. Matanya menatap mata Mors penuh amarah. Ia tidak suka bertengkar dengan Mors, tapi ia lebih tidak suka jika ada yang menginginkan Molly selain dirinya. Pecahan kaca telah melukai kepalan tinjunya. Namun Cliff tidak peduli, bahkan ia tidak merasakan apa-apa kecuali amarah. 

Mors mulai menyunggingkan senyum tipis dan tatapan kejam yang sudah sangat Cliff kenal. Raut itu. Senyum itu. Tatapan itu. Menunjukkan bahwa Mors memiliki rencana yang mampu menggagalkan segala rencana Cliff. Dan mau tak mau, Cliff harus lebih waspada sejak detik ini.

Sekarang, ketika ia sudah berhasil meredam amarahnya dan berniat untuk makan, Molly malah mengucapkan sesuatu yang bahkan tak pernah ia perkirakan sebelumnya.

“Apa kamu senang menyiksa dirimu sendiri?” tanya Molly terdengar khawatir. Cliff tidak mau menatap raut sedih Molly, karena ia tahu kalau wanita itu adalah kelemahan terbesarnya saat ini. 

Tubuh Cliff membeku. Ia bingung harus menjawab apa demi memuaskan rasa ingin tahu Molly. Martha, yang menyadari posisinya, langsung pergi meninggalkan mereka berdua di ruang makan.

“Cliff, jawab aku!” desak Molly dengan suara serak karena menahan tangis akibat luka baru yang ada di tangannya. Sial! Semua ini gara-gara Mors. Seandainya Mors tidak memancing amarahnya, ia pasti tidak akan melukai dirinya sendiri. 

Cliff kembali memegang teguh keputusannya. Ia tidak akan luluh kali ini. Ia harus mampu membangun kembali dinding pertahanan yang sudah rubuh akibat percintaannya dengan Molly. Hanya itu caranya untuk menjauhkan wanita itu dari dirinya, dari masalah yang akan menimpa wanita itu di kemudian hari.

Cliff masih terdiam, mencoba mengulur waktu agar Molly lelah dengan sikap diamnya. Tapi nyatanya tidak. Wanita itu malah menarik kursi, lalu duduk menghadap padanya. Benar kata Mors, Molly memang lebih tangguh dari yang mereka kira.

“Aku menunggu penjelasanmu, Cliff,” desak Molly lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tenang.

“Kurasa aku tidak memiliki kewajiban untuk memberi penjelasan apa pun padamu,” jawab Cliff datar dan sinis.

“Teruslah bersikap seperti itu,” ujar Molly lembut, “tapi aku tetap tidak akan menjauh darimu, Cliff.”

Mendengar pernyataan itu terlontar dari bibir Molly malah semakin membuat Cliff tertegun. Ia tidak menyangka bahwa Molly bisa juga bersikap keras kepala. Bahkan, sepertinya Molly ingin menunjukkan bahwa semua yang ia lakukan tidak akan mampu membuat wanita itu menjauh. Cliff berusaha memutar otaknya, mencari cara terbaik untuk menjauhkan Molly.

“Aku pengacaramu, jadi bersikaplah sewajarnya,” tegur Cliff, berharap kata-kata tegasnya mampu menyakiti perasaan Molly.

“Seorang pengacara tidak bercinta dengan kliennya … dua kali!” sahut Molly tegas, yang langsung membuat Cliff menoleh dan menatap raut kecewa wanita itu.

“Menyesal atau tidak, apa yang sudah kita lakukan tidak mungkin kita lupakan begitu saja. Mungkin … melupakan semua itu mudah bagimu, tapi … tidak bagiku,” lanjut Molly dengan linangan air mata yang mulai menggenangi mata indahnya.

“Jika kamu ingin kita … bersikap profesional. Aku akan menuruti kemauanmu. Jika kamu … menginginkanku memandangmu sebagai pengacaraku … OK, aku akan melakukannya. Dan jika kamu … memintaku untuk … tidak menunjukkan perasaanku padamu … aku akan mencoba sekuat yang kubisa. Tapi … jangan … jangan sekali pun memintaku untuk menjauh. Jangan! Karena … hanya berada di dekatmu aku merasa aman,” ungkap Molly jujur.

Air mata pun jatuh saat wanita itu berhenti berbicara. Dada Cliff terasa sakit dan perih. Bahkan rasa ini lebih menyiksa dari semua luka yang pernah ia rasakan.

Sedetik kemudian—seolah tak sanggup lagi bersabar dengan sikap diam Cliff—Molly beranjak dari kursi. Dengan cepat, Cliff menggenggam pergelangan tangan wanita itu, mencegah kepergiannya. Rasa hangat yang merayap dalam genggamannya, membuat sekujur tubuh Cliff terasa seperti meleleh.

“Kamu tidak seaman yang kamu kira saat berada di dekatku. Aku … tidak sebaik yang kamu pikirkan,” ungkap Cliff tipis tanpa menoleh sedikit pun ke arah Molly. Tanpa membalas kata-katanya, Molly melepaskan genggaman Cliff dengan lembut. Akhirnya, wanita itu pergi meninggalkannya begitu saja di ruang makan, sendirian dengan kemelut yang melingkupi pikiran, batin, dan jiwanya saat ini.

Cliff harus kuat. Selama ini, ia berhasil menjaga tembok perlindungannya jauh dari sentuhan cinta dan wanita. Selama ini, ia berhasil menjaga kewarasannya demi mewujudkan sosok pengacara ternama yang andal. Selama ini … ya, selama ini semuanya terasa sempurna di mata Cliff sebelum Molly hadir dan menyadarkan dirinya bahwa … dunia yang ia miliki tak sesempurna yang ia pikirkan.

*****

Suasana perjalanan menuju kantor polisi terasa begitu sunyi. Kondisi yang menguntungkan bagi Cliff karena setidaknya ia memiliki waktu untuk berkonsentrasi. 

Sesekali matanya melirik ke arah Molly yang duduk di sampingnya. Ia tidak tahu apa yang membuat Molly berpakaian seperti itu. Sepanjang ia mengenal Molly, wanita itu selalu tampil layaknya seorang yang lemah, pemalu, dan mudah gugup. Namun setelah percintaan mereka yang panas, penampilan Molly seakan menunjukkan bahwa wanita itu tidak seperti yang ia nilai sebelumnya.

Entah sudah berapa kali Cliff mencengkeram kemudi sekuat mungkin demi menahan tangannya agar tidak menyentuh paha mulus Molly yang begitu menggoda kewarasannya. Kaos body fit yang wanita itu kenakan pun membentuk lekukan tubuh Molly dengan tepat. Berulang kali Cliff menarik napas dalam-dalam demi mengendalikan gelora panas dalam dirinya. Bahkan, ia mencoba bersikap tenang, meskipun sulit.

Molly membuang wajah ke samping seraya bersandar di sandaran kursi. Mata wanita itu tertuju ke luar jendela, menatap beberapa kendaraan yang lalu lalang di jalanan. Tak ingin mengganggu ketenangan itu, Cliff pun memutuskan untuk tetap menatap lurus ke depan sambil mengingat kembali setiap ucapan Molly saat di rumah.

Dadanya kembali terasa sesak saat mengetahui bahwa Molly tidak akan mundur ataupun berusaha menjauh darinya. Sialnya lagi, Molly merasa aman saat berada di dekatnya, dan itu salah! Salah besar!

Seandainya Molly tahu siapa dirinya, Cliff yakin sekali kalau wanita itu pasti akan langsung berlari menjauh darinya. Cliff yakin, mungkin saat ini Molly memiliki rasa penasaran yang besar, yang membuat wanita itu terus mencoba memahami seperti apa dirinya. 

Tidak! Molly tidak akan pernah bisa mengerti. Cliff juga tak ingin Molly memahami dirinya. Karena sedikit saja wanita itu mengetahui kelemahannya, maka dunianya tak akan pernah kembali seperti semula.

Cliff kembali mencoba menyusun rencana kegiatan yang akan ia lakukan hari ini. Ia akan berbicara dengan Brad dan menunjukkan foto ancaman yang Molly terima—selain foto telanjang Molly, tentunya. Ia tidak ingin bajingan itu melihat seindah apa tubuh Molly, meskipun wujud aslinya lebih indah daripada yang foto itu tunjukkan. Cliff juga berencana untuk meminta agar pihak penyidik menyelidiki CCTV hotel dan menemukan siapa peneror yang mengetuk pintu kamar Molly.

Tiba-tiba, ia menangkap pergerakan di sampingnya. Cliff melirik sekilas sebelum kembali menatap jalanan. Molly tampaknya sudah tidak nyaman dengan kesunyian yang melingkupi mereka dan memilih untuk menyalakan radio.

Sembari menahan rasa geramnya akibat jarak tangan Molly yang cukup dekat dengan tangannya, Cliff pun berusaha bersabar saat wanita itu memilih frekuensi yang tepat hingga alunan lagu yang lembut mengisi mobilnya. Setelah itu, Molly kembali bersandar di sandaran kursi, lalu bersenandung kecil dan kembali menoleh ke luar jendela.

Senandung itu membuat Cliff kembali mengingat bagaimana erangan dan desahan Molly saat dirinya memenuhi tubuh indah itu. Sekejap, kejantanannya mengeras karena gairah. Sial! Ia tidak pernah menyangka keberadaan Molly bisa memberikan efek yang luar biasa terhadap tubuhnya. Bahkan, ia tak memerlukan rasa sakit demi membangkitkan gairahnya. Tidak ingin larut ke dalam pikiran liarnya, Cliff langsung mematikan saluran radio tersebut.

“Kenapa dimatikan?” tanya Molly mengerut kesal.

“Lagunya jelek,” jawab Cliff sinis, lalu memindahkan ke CD player. Alunan musik Mozart mengalun lembut mengisi telinganya. Setidaknya, alunan tersebut mampu menenangkan gejolak gairah dalam dirinya saat ini.

“Aku tidak terlalu suka musik klasik!” ujar Molly seraya melipat tangan di depan dada.

None of my business,” sahut Cliff datar tanpa menoleh sedikit pun. Akhirnya, mereka pun kembali mengunci mulut masing-masing, sementara alunan musik mengisi keheningan kaku di antara mereka.

Beberapa menit berlalu, mereka pun tiba di kantor polisi Hornsby. Cliff segera memarkirkan mobil di tempat yang disediakan, lalu mematikan mesinnya. Ia melepas sabuk pengaman, begitu juga dengan Molly yang tampak tergesa-gesa keluar dari mobil sambil menyampirkan tas kecil di bahu dan menggenggam amplop yang berisi foto ancaman. Cliff menggeleng kecil menanggapi tingkah laku Molly yang semakin membuatnya gemas.

Cliff pun keluar dari mobil, menguncinya, lalu menghampiri Molly yang masih berdiri di samping mobil sambil menggenggam tali tas sekuat mungkin, seakan benda tersebut mampu menambah kekuatan dan keberanian di tubuh mungil wanita itu. Mereka pun berjalan berdampingan menuju pintu masuk kantor polisi, lalu menapaki beberapa anak tangga.

Setibanya mereka di anak tangga terakhir, tiba-tiba pintu masuk terbuka lebar dan seorang pria berseragam polisi berusia tiga puluhan menatap Molly dengan tatapan liar. Cliff merasakan letupan panas dalam dadanya saat menangkap tatapan liar tersebut. Ia tahu apa yang pria itu tatap dan pikirkan. Namun Molly terlihat cukup tenang dan tidak memedulikan tatapan pria itu.

Dengan langkah mantap, Molly masuk ke gedung tersebut, sementara Cliff mengikuti dari belakang layaknya pengawal pribadi. Setibanya di dalam kantor polisi, Molly tidak langsung bergerak menghampiri meja resepsionis. Wanita itu mematung selama beberapa detik, dan Cliff bisa menangkap rasa takut, gugup, serta semburat merah muda menghiasi wajah Molly. 

Sepertinya tempat ini memang telah memberikan kesan dan pengalaman buruk bagi Molly, yang malah membuat Cliff semakin tidak menyukai keberadaan mereka di sini. Namun Cliff berusaha mengesampingkan kepentingan serta perasaan pribadinya saat ini karena ia memiliki tugas untuk menyelesaikan permasalahan Molly. 

Dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, Cliff menghampiri meja resepsionis. Seorang wanita berusia empat puluhan dengan rambut yang tergulung rapi langsung menatapnya dengan raut sinis.

“Siang,” sapa Cliff datar. Wanita itu tidak menyambut sapaan Cliff, malah hanya menatapnya disertai raut malas.

“Saya mau bertemu dengan Brad, kepala penyidik yang menangani pembunuhan orangtua dari Ms. Damarra,” ucap Cliff setenang mungkin.

“Brad sedang ada pertemuan di luar sejak tadi pagi,” jelas wanita itu datar.

“Kalau begitu, saya mau bertemu pihak penyidik yang lainnya. Klien saya baru saja mendapatkan teror. Saya juga mau meminta agar penyidik bisa memeriksa CCTV hotel untuk menemukan siapa yang melakukan teror tersebut,” ujar Cliff yang mulai merasa kesal dengan tanggapan tidak peduli dari petugas kepolisian itu.

“Seperti yang saya katakan sebelumnya, seluruh bagian penyidik sedang ada pertemuan di luar. Jika Anda berkenan, silakan masuk ke bilik sana untuk membuat laporan. Nanti petugas kami akan menangani laporan Anda sesuai dengan prosedur,” jelas wanita itu, yang berusaha terlihat tertarik dengan ucapan Cliff. Raut palsu yang membuat Cliff semakin muak.

Cliff mengepal tangan erat-erat, berharap emosinya tidak meledak saat itu juga. Tidak peduli dengan rasa kesal yang mulai menyelimuti Cliff, si petugas kepolisian malah langsung mengalihkan pandangan ke arah petugas yang lain dan berbicara sambil tertawa geli seolah mereka tak ada di sana. Cliff menggeram kesal. Sentuhan lembut dan hangat di lengannya membuat Cliff menoleh dan menatap Molly yang berdiri sangat dekat dengan dirinya.

“Kita kembali saja besok, Cliff,” usul Molly yang tampaknya sudah mengerti dengan penolakan itu.

“Biarkan aku bekerja dengan caraku. Lihat saja! Mereka akan menerima hukuman karena sudah tidak menghiraukan keberadaanku!” geram Cliff penuh amarah. Ia pun langsung berbalik, menggenggam pergelangan tangan Molly, lalu berjalan menjauh dari meja resepsionis itu sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya. Lihat saja! Mereka tidak tahu sedang berurusan dengan siapa! batin Cliff murka sambil menghubungi salah satu kerabatnya.

*****

Molly menatap Cliff yang sedang berbicara dengan seseorang di balik ponsel. Ia memperhatikan raut tegang Cliff. Molly tidak tahu apa yang pria itu bicarakan atau dengan siapa Cliff berbicara, namun tampaknya pria itu sedang berbicara dengan seseorang yang sangat berpengaruh.

Ia menunggu di dalam mobil dan membiarkan pintu tetap terbuka agar bisa menatap Cliff yang terlihat tampan meskipun sedang marah. Senyum kecil menghiasi wajahnya dan sebuah ide terbersit di kepalanya. Molly tahu, saat ini Cliff sedang kesal karena perlakuan tidak ramah yang petugas kepolisian berikan pada mereka. Tapi setidaknya, Molly bisa mengalihkan amarah Cliff ke tempat yang tepat.

Beberapa detik kemudian, Cliff menyudahi pembicaraannya, lalu melangkah menghampiri Molly. Ia sama sekali tak bisa melepaskan pandangannya dari Cliff. Pria itu benar-benar sudah memesona mata, hati, dan jiwanya.

“Bagaimana?” tanya Molly singkat, basa-basi.

“Aku sudah mengurusnya. Kerabatku di kejaksaan akan memberikan peringatan pada Brad serta jajarannya,” jawab Cliff datar. Raut kesal itu sudah tidak menghiasi wajah Cliff lagi, dan Molly tahu inilah saatnya untuk memulai aksinya.

“Cliff, boleh aku minta tolong?” tanya Molly tenang.

“Apa?” sahut Cliff singkat seraya meletakkan salah satu tangan di pintu mobil.

“Bisa antarkan aku ke apartemen? Ada barang yang mau aku ambil,” pinta Molly lancar.

“Ambil apa?” tanya Cliff cepat.

“Novel,” jawab Molly tak kalah singkat.

“Novel?” ulang Cliff seraya memasang raut bingung, “haruskah kamu mengambilnya sekarang?”

Well, kalau kamu tidak mau mengantarku, tidak masalah,” balas Molly tenang, lalu beranjak keluar dari mobil. Cliff menatapnya tajam dengan kerutan di kening, menandakan bahwa pria itu tidak menyukai sikapnya kali ini.

“Aku bisa jalan kaki ke apartemen. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sini,” lanjut Molly santai sambil menyampirkan tali tas di bahu.

“Jalan kaki?” ulang Cliff seraya mengangkat salah satu alisnya.

“Iya, jalan kaki. Belum pernah lihat orang jalan kaki?” goda Molly santai. Mata Cliff memperhatikan dirinya dari ujung rambut hingga kaki selama beberapa kali. Gelengan kecil disertai decakan kesal pria itu, membuat jantung Molly melonjak kegirangan.

“Masuk!” perintah Cliff tegas sembari membuka pintu lebih lebar, menyuruh Molly untuk masuk ke mobil.

“Tapi kamu—“

“Aku antar. Masuk!” tegas Cliff sekali lagi. 

Molly menyunggingkan senyum kecil—sangat kecil, hingga ia yakin kalau Cliff sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang tersenyum gembira menerima sikap protektif pria itu. Akhirnya, Molly kembali masuk ke mobil. Cliff segera menutup pintu di sampingnya, lalu berjalan memutar hingga tiba di sisi lain mobil. Pria itu masuk dengan cepat, memakai sabuk pengamannya, lalu menyalakan mobil. 

Diam-diam, Molly terus memperhatikan Cliff yang sepertinya sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Molly kembali mencoba menggoda Cliff. Ia menyilangkan kaki kanannya ke kaki kiri, membiarkan roknya tersingkap sedikit lebih tinggi. Cliff pun menoleh dan menggeram kecil, seperti yang ia harapkan. Namun kali ini gemeretak gigi Cliff terdengar sangat jelas.

“Pakai sabuk pengamanmu!” tegas Cliff sinis.

“Haruskah? Jaraknya hanya 3 menit, paling lama 5 menit saja. Kurasa tidak mengenakan sabuk—“

Ucapan Molly terhenti begitu saja saat Cliff bergerak mendekat, mengulurkan tangan melewati tubuh Molly demi menarik sabuk pengamannya. Tak sengaja, lengan pria itu menyentuh payudaranya. Molly bisa merasakan semburat merah muda mulai menghiasi wajahnya, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan memperhatikan Cliff dari jarak yang sangat dekat.

Aroma maskulin yang memenuhi indra penciumannya, membuat jantung Molly berdebar cepat sepuluh kali lipat. Molly tahu, Cliff pasti berusaha tidak menggubris sentuhan tak sengaja itu. Namun, ia bisa melihat bagaimana tegangnya wajah Cliff saat memasangkan sabuk pengaman di tubuh Molly. You wanna play a game, Cliff? Then, let’s play!

*****

BAB 28

Ponselnya bergetar hebat saat ia sedang berbicara di tengah pertemuan pentingnya. Brad berusaha tidak menghiraukan panggilan tersebut, karena tidak ada nama yang tertera di sana. Getar di ponsel akhirnya terhenti setelah beberapa detik berlalu, namun tak lama kemudian kembali bergetar.

Brad pun memutuskan untuk menggantinya ke mode diam, dan kembali melanjutkan ceramahnya kepada para anggota penyidik. Ada beberapa kasus yang harus mereka tangani saat ini, namun Brad tidak akan membiarkan seorang pun menyentuh kasus pembunuhan Nora. Ia akan terus mengupayakan agar kasus tersebut berjalan dengan lambat—sangat lambat. Bahkan, ia berniat menghilangkan bukti-bukti yang dapat membuka jalan baru bagi penyidikan kasus tersebut.

Setelah membagikan beberapa map kasus kepada bawahannya, ia pun segera menutup pertemuan tersebut. Para anggota penyidik mulai beranjak dari kursi, lalu meninggalkannya di ruang rapat sendirian. Brad mengangkat ponsel, lalu mengusap layarnya. 

Keningnya berkerut bingung melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari satu nomor yang tidak ia kenal. Sembari melangkah keluar dari ruangan, Brad mengubah kembali ponselnya ke mode bunyi. Baru saja ia mengunci pintu, ponselnya tiba-tiba berdering kencang. Brad terkejut bukan main, lalu berhenti sejenak. Nomor asing itu kembali tertera di layar ponselnya. Sembari menggeram dan mengerut kesal, ia akhirnya menjawab panggilan tersebut.

“Halo!” jawab Brad sedikit tegas, berniat menunjukkan bahwa ia sangat terganggu dengan panggilan beruntun yang meneror dirinya.

Seharusnya yang kau ucapkan bukan ‘halo’, tapi ‘maaf!’,” tegur pria di balik sana.

“Maaf? Dengan siapa ini?” tanya Brad cepat, tersinggung dengan teguran itu.

Erick Brooks, Jaksa Agung,” jawab pria itu datar dan penuh penekanan, menunjukkan posisinya yang sangat berpengaruh. Tubuh Brad menegang mendengar nama tersebut.

“M-maaf, Sir. Apa ada yang bisa saya bantu?” ucap Brad tegang bercampur bingung. Ia tidak tahu apa yang membuat seorang jaksa agung menghubunginya di siang hari yang sibuk ini.

Selesaikan kasus pembunuhan Nora! Dan, jaga sikapmu saat menghadapi Cliff Franklin!” tegas Mr. Brooks dengan suara serak akibat usia yang sudah semakin senja.

Mendengar nama Cliff dan Nora, Brad langsung menggemeretakkan gigi. Ia tidak menyangka sama sekali kalau Cliff akan menghubungi jaksa agung demi kasus kecil seperti ini. Namun, menyadari bagaimana tegasnya Mr. Brooks memberi perintah padanya, membuat Brad semakin menyadari bahwa posisinya saat ini benar-benar sudah berada di ujung tanduk.

“T-tapi saya belum bertemu dengannya hari ini, S-sir,” aku Brad berusaha membela diri.

Saya tunggu progres darimu, lima hari dari sekarang! Kalau kau tidak bisa melakukan tugasmu dengan baik, dapat saya pastikan atasanmu akan mengambil keputusan yang tepat terhadap jabatanmu,” ancam Erick, tidak memedulikan pembelaan dirinya.

“B-baik, Sir,” sahut Brad patuh.

Panggilan itu pun terputus begitu saja. Brad meremas ponsel dalam genggamannya, lalu bergegas menuju meja resepsionis. Sial! Sial! Sial! Aku tak menyangka kalau Cliff akan menghubungi Mr. Brooks. Sial! Kenapa sampai sekarang dia belum membunuh Molly? geram Brad sembari berjalan dengan entakkan kaki tegas.

Brad tahu, hari ini Cliff pasti akan datang kembali ke sini demi mengurus kasus pembobolan apartemen Molly dan pembunuhan Nora. Maka dari itu, Brad meminta kerabatnya di bagian resepsionis untuk mengatakan bahwa ia sedang berada di luar. Hanya itu cara yang bisa ia lakukan untuk mengulur waktu seperti yang diminta oleh si pemberi perintah. Namun bukannya mengulur waktu, ia malah membuat posisinya semakin terjepit.

“Brad, tadi si pembuat masalah datang ke sini,” lapor Matilda, kerabatnya yang bertugas di meja resepsionis hari ini, saat ia tiba di sana.

Yeah, I know,” balas Brad tipis seraya menyerahkan kunci ruang pertemuan pada wanita itu.

“Dari mana kau tahu?” tanya Matilda bingung sambil langsung mengembalikan kunci ke tempatnya.

“Erick Brooks menghubungiku. Sial!” geram Brad sembari memukul meja resepsionis, membuat beberapa petugas yang sedang berdiri di dekatnya langsung menoleh dan memasang raut heran.

“Kurasa kali ini kau berhadapan dengan singa,” ejek Matilda.

“Sialnya, aku sudah membangunkan singa itu dari tidur nyenyaknya,” gerutu Brad frustrasi sebelum berjalan menuju pintu keluar.

“Hei, Brad! Kau mau ke mana?” tanya Matilda cepat.

“Makan siang,” jawab Brad sambil lalu, kemudian membuka pintu dan keluar dari bangunan tersebut. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia pun langsung melangkah menuju mobilnya sembari menghubungi dalang di balik semua masalah yang menghampiri kehidupannya. Dalam tiga deringan, suara yang sudah sangat ia kenal, membuat napasnya semakin sesak.

“Kita ada masalah!” lapor Brad.

*****

Molly keluar dari mobil dan menatap gedung apartemen. Suasana siang ini cukup sepi, namun ia sangat merindukan atmosfer hangat yang melingkupi tempat itu. Merindukan saat-saat di mana ia bisa membaca buku sambil bersantai di balkon kecil dan mendengarkan keramaian ringan yang terjadi ketika beberapa penghuni apartemen berjalan di trotoar. Merindukan saat-saat bersantai sambil menonton TV di hari libur sembari menunggu mama pulang kerja. Bahkan, merindukan sapaan ramah yang biasa ia terima setiap bertemu dengan para penghuni apartemen.

Ia pun segera berjalan menuju pintu masuk. Cliff, yang mengikuti langkahnya dari belakang, tidak berbicara sama sekali. Cliff kembali diam seribu bahasa dan memilih untuk menjaga jarak, seakan ada sesuatu dalam tubuh Molly yang mampu membuat pria itu terbakar. Sikap yang sangat konyol menurut Molly karena sekeras apa pun Cliff berusaha menjauh, pria itu tidak akan bisa mengelak perasaan dan ketertarikan seksual di antara mereka.

Dengan langkah tenang, Molly membuka pintu bangunan tersebut, lalu melangkah masuk. Ia segera berbelok ke arah tangga, lalu menaikinya. Molly bertemu dengan sepasang suami istri yang menyapanya saat di tengah barisan anak tangga. Mereka saling bertegur sapa sejenak, bahkan menanyakan kabar Molly setelah mendengar apa yang terjadi pada apartemennya. Namun beberapa saat kemudian, dua orang tersebut memutuskan untuk segera pamit. Molly mengerut bingung dengan perubahan sikap sepasang suami istri itu, yang terlihat seperti baru saja melihat hantu.

Curiga, Molly langsung menoleh ke belakang dan menangkap raut datar serta tatapan tajam Cliff, yang menegaskan bahwa Cliff tidak menyukai keakraban yang Molly tunjukkan pada sepasang suami istri itu. Pantas saja mereka segera pergi dengan raut takut saat melihat Cliff. Bahkan, Molly pun bergidik ketakutan dan merasakan aura mengancam yang begitu kuat dari pria itu.

“Bisakah kamu berhenti menatapku seperti itu?” tanya Molly lembut sembari melangkah mendekat. Cliff hanya bisa diam di tempat dengan rahang yang langsung menegang kaku saat menyadari kedekatan mereka.

“Seperti apa?” tanya Cliff tipis. Mata mereka saling mengunci dengan jarak yang cukup dekat. Beruntung Molly berada satu anak tangga di depan Cliff, sehingga ia tidak perlu terlalu menengadahkan wajah demi menatap pria itu.

“Seperti pembunuh berdarah dingin yang siap membunuh mangsanya,” jawab Molly santai, tak ada rasa takut sama sekali. 

Tiba-tiba, tatapan dan raut Cliff berubah drastis. Mata itu memancarkan amarah serta gairah yang belum pernah Molly lihat sebelumnya. Dengan cepat, Cliff mencekik leher Molly erat-erat dengan tangan kanan. Sementara, tangan kiri Cliff langsung melingkar di pinggang Molly. Refleks, kedua tangan Molly menangkup dada Cliff, mencoba memberikan sedikit jarak di antara mereka.

Gemeretak gigi Cliff membuat Molly mengerut takut sekaligus sakit. Cekikan Cliff yang terasa semakin kuat, membuatnya semakin sulit untuk bernapas. Mata Cliff meneliti wajahnya seakan pria itu tidak pernah melihat Molly dengan jarak yang begitu dekat. Wajah Cliff pun semakin mendekat hingga Molly bisa merasakan embusan napas hangat saat pria itu membuka bibir, tampak seperti ingin menciumnya.

Jantung Molly berdebar cepat. Bukan karena takut, tapi karena ingin tahu apakah Cliff akan menciumnya atau tidak. Oh, tak ada yang tahu seberapa besar harapan Molly agar Cliff menyerah dan melepaskan topeng dingin itu dari hadapannya. Molly tahu seperti apa perasaan Cliff padanya saat ini karena debar jantung pria itu terasa begitu cepat hingga menyentuh telapak tangannya. Debar jantung yang menunjukkan besarnya gairah pria itu saat ini.

“Aku tahu rencanamu,” ungkap Cliff tipis, yang terdengar dingin dan sinis. Molly tidak berniat membalas, ia hanya mengikuti arah pandangan Cliff yang saat ini tertuju pada bibirnya sambil menggemeretakkan gigi.

“Aku tidak akan tergoda, Baby,” ujar Cliff dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. Mata Cliff kembali mengunci mata Molly. Ia yakin, Cliff bisa merasakan betapa cepat debaran jantungnya saat ini. Namun, Molly berusaha untuk terlihat tenang, menunggu apa yang akan Cliff lakukan selanjutnya.

“Berhenti menggodaku, Baby!” lanjut Cliff tegas seraya mempererat pelukannya.

“Tidak akan!” tantang Molly yang langsung tercekat saat Cliff mempererat cekikannya.

“Aku rasa aku tidak perlu merealisasikan apa yang ada di kepalaku saat ini untuk membuatmu sadar bahwa semua yang kamu lakukan itu tidak akan berarti banyak untukku, Baby!” ancam Cliff lagi seraya mengusap ujung hidungnya di bibir bawah Molly. Sentuhan itu membuat jantung Molly berdebar semakin cepat.

“Oh, ya? R-realisasikanlah, atau … aku akan … terus menggodamu,” tantang Molly tanpa rasa takut sedikit pun. Cekikan itu lambat laun membuat wajah Molly semakin memucat. Menyadari bahwa tarikan napas Molly semakin pendek, akhirnya Cliff melepaskan pelukan serta cekikannya.

Molly segera menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengisi paru-parunya yang kosong akibat cekikan dan pelukan yang begitu menyesakkan. Dengusan sinis Cliff menunjukkan bahwa pria itu sama sekali tidak memedulikan rasa sakit yang Molly rasakan saat ini. Tapi Molly tidak mengeluh, bahkan tidak sedih sedikit pun. Jika hanya ini caranya untuk membuat Cliff semakin terbuka, maka ia akan terus melakukannya.

“K-kamu hanya mengancamku, dan aku tidak takut sedikit pun!” ucap Molly serak sebelum berbalik memunggungi pria itu, berniat melanjutkan langkahnya. Namun sedetik kemudian, pelukan di pinggang yang disertai tarikan kuat di lehernya, membuat Molly langsung berbalik menghadap Cliff. Secepat kilat bibir Cliff mendarat di bibir Molly. Dengan kasar, Cliff melumatnya seakan ingin menunjukkan bahwa pria itu tidak menyukai setiap perlawanan yang ia berikan.

Dalam sekejap, Molly pun tenggelam dalam gelombang gairah yang dengan mudah menggulung kewarasannya. Ia tidak peduli di mana mereka saat ini, atau apakah ada orang yang memperhatikan mereka. Molly benar-benar tidak peduli. Ciuman Cliff yang terasa begitu menuntut dan rakus, membuat kepala Molly terasa seperti berputar-putar.

Cliff menggigit bibirnya yang belum sembuh benar, dan ia bisa merasakan perih yang begitu menyiksa. Gigitan itu tidak sekeras saat mereka bercinta, namun tetap saja Molly mengerang kesakitan. Menyadari bahwa ia kesakitan, Cliff melepaskan gigitannya lalu menjilat luka tersebut.

Saat ini, Molly rasanya ingin menangis. Bukan karena rasa sakit yang ia rasakan, tapi karena rasa membutuhkan yang membuat jiwanya begitu tersiksa. Tidak ingin menyiksa tubuhnya lebih lama lagi, Molly segera melepaskan tautan bibir mereka dengan kasar. Ia menangkap amarah di mata Cliff akibat keputusannya itu.

“Lepaskan aku!” pinta Molly dengan napas terengah-engah. Tanpa perlawanan, Cliff langsung melepaskan pelukannya dengan entakkan kasar. Molly segera berbalik, lalu kembali menapaki anak tangga tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. 

Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedang mengawasinya saat ini. Seseorang yang sudah diliputi amarah dan kebencian. Seseorang yang sudah tidak sabar ingin melihat Molly mati. 

“Kau akan mati di tanganku, Molly. Secepatnya. Kau. Akan. Mati!”

*****

Mereka di sini!” lapor Lukas penuh amarah. 

Henry menggeram kesal menerima panggilan pria itu di tengah waktu istirahatnya. Sudah beberapa hari ini ia kurang tidur karena mengawasi Molly. Dan di saat ia memiliki waktu untuk memejamkan mata sejenak, panggilan Lukas malah membuat dirinya kembali terjaga. Sial!

“Hah?” sahut Henry disusul kuapan kantuk, lalu berguling ke samping di atas tempat tidur yang nyaman. Ia tidak mendengar laporan Lukas dengan baik akibat rasa kantuknya yang begitu berat.

Apa yang kau lakukan sekarang? Di mana kau?” tanya Lukas cepat.

“Hotel. Tempat wanita itu menginap. Kenapa?” jawab Henry malas.

Mereka ada di apartemen sekarang. Apa sebenarnya tujuanmu menginap di sana?” geram Lukas yang membuat Henry terbelalak. Ia pun langsung bangun dari posisi tidurnya, menyibak selimut dengan kasar, lalu turun dari tempat tidur.

“Tidak mungkin! Molly ada di sini,” sanggah Henry panik.

Bodoh! Mereka ada di sini. Aku baru saja melihat mereka bercumbu tanpa memedulikan sekitar. Damn it!” geram Lukas yang saat ini diselimuti rasa cemburu. 

Henry membuka tirai jendela, lalu menatap lahan parkir dari jendela kamarnya. Beberapa jam yang lalu, ia masih melihat keberadaan mobil Cliff di sana. Ia terus memperhatikan lahan parkir sejak meletakkan amplop ancaman itu di pintu kamar Molly. Dan, Henry masih bisa memastikan bahwa mobil Cliff masih terparkir di tempat yang seharusnya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat sejenak. Sialnya, saat ini ia tidak melihat keberadaan mobil itu lagi. Dengan cepat, Henry bergegas menuju kamar mandi.

“Terus pantau mereka! Aku akan ke sana,” perintah Henry tegas. Rasa pening di kepala akibat kurang tidur membuat emosinya mudah tersulut.

Kau hanya bisa memerintahku!” gerutu Lukas yang terdengar seperti meremehkan dirinya.

“Memang itu tugasmu, menjalankan perintahku!” sahut Henry sinis. Panggilan itu pun terputus begitu saja. Henry mandi dengan cepat. Ia akan kembali ke apartemen dan menunggu laporan selanjutnya dari Lukas. Tapi, baru saja ia menanggalkan seluruh pakaiannya, sebuah panggilan masuk menghentikan langkahnya saat menuju shower. Nama si pemberi perintah pun muncul di layar. Dengan cepat, ia menjawab panggilan itu.

“Aku sudah menemukan kalung itu,” ucap Henry tanpa menunggu kata-kata di seberang sana. Ia berharap ketika mengucapkan kalimat itu, maka si pemberi perintah akan berhenti mengajukan pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang malah dapat memperlambat pergerakannya.

Di mana?” tanya pria itu.

“Ada padaku. Tapi, aku minta bayaran lebih untuk kalung itu,” ujar Henry langsung. Terdengar dengusan sinis di seberang sana.

Jangan gila, Henry! Aku sudah memberimu lebih dari yang pernah kau terima dari klienmu yang lain,” ujar pria itu geram dan penuh hinaan.

“Tidak. Aku tidak gila. Jika kau menginginkan kalung ini, segera kirim 10.000 Dollar ke rekeningku,” tuntut Henry tegas. Selama beberapa detik, suasana terasa begitu sunyi. Tak ada jawaban atau pun geraman yang menunjukkan bahwa pria itu tidak menyetujui tuntutannya.

Temui aku di Epping Street jam 8 malam. Tempat di mana kau membuang barang-barang Nora,” ucap pria itu setelah beberapa saat. Rasa puas menyelimuti Henry karena sudah berhasil memeras pria itu.

“Uangnya?” tanya Henry memastikan sembari menyunggingkan senyum tipis.

Kau akan menerimanya 5 menit setelah kau tiba di sana,” janji pria itu datar.

“Baiklah,” sahut Henry cepat. Panggilan pun terputus begitu saja. Henry meletakkan ponselnya di meja wastafel, lalu melangkah ke bawah shower.

*****

BAB 29

Setibanya di depan pintu apartemen Molly, Cliff membukakan pintu dan mempersilakan wanita itu masuk. Tak ada seorang petugas pun di sana, sementara kejadian pembobolan ini baru terjadi kemarin malam. Mereka berdua memutuskan untuk tetap masuk melewati garis pembatas yang ditempel sembarangan di rangka pintu.

Tempat itu masih berantakan seperti kemarin malam. Hanya saja, cahaya matahari yang bersinar terang membuat keadaan apartemen tidak terlihat semenyeramkan sebelumnya. Cliff masih berusaha menahan rasa sakit yang saat ini mendiami tubuhnya. Rasa sakit akibat rontaan amarah setiap sel dalam tubuhnya yang menentang keras keputusan yang ia ambil. Keputusan untuk tidak menarik dan bercinta dengan Molly.

Kondisi ini benar-benar membuat Cliff semakin frustrasi. Meskipun akhirnya ia berhasil mengetahui apa niat di balik sikap Molly hari ini, tetap saja dirinyalah yang harus berperang sendirian melawan semua godaan itu. Bahkan saat mencium bibir itu tadi di tangga, darahnya berdesir begitu cepat, memompa jantungnya hingga hampir meledak. 

Cliff tidak tahu apakah ada orang yang mati tiba-tiba hanya karena sebuah ciuman, karena ia hampir saja mengalaminya. Ia berharap Molly berhenti menggodanya karena ia tidak tahu apakah dirinya mampu bertahan lebih lama lagi. Kilasan tubuh Molly yang telanjang pun kembali mengisi pikirannya saat ini. Dan sialnya, Cliff mampu merasakan dinding pertahanannya kembali goyah. 

Cliff tahu, ia tidak boleh pasrah dan menyerah pada gairahnya. Namun, sisi lembutnya seakan bersorak kegirangan di saat ia mulai tenggelam dalam manisnya bibir Molly tadi. Masih dalam keadaan diam seribu bahasa, Cliff menutup pintu tanpa melepaskan pandangannya dari Molly yang terus berjalan menuju kamar tidur. 

Setelah wanita itu masuk ke kamar, Cliff memutuskan untuk membiarkan Molly sejenak di sana sementara dirinya mencoba mencari keberadaan kamera pengintai di ruang tamu selama beberapa saat. Cliff tak menyangka bahwa di ruangan ini saja ada tiga kamera kecil yang disembunyikan di tempat yang tidak akan terjamah oleh siapa pun. 

Tanpa perlu banyak menimbang, Cliff segera mengeluarkan ponsel, mengambil beberapa foto sebagai bukti tanpa merusak kamera-kamera tersebut. Besok, ia berencana kembali ke kantor polisi dan melaporkan hal ini. Ia juga sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Brad setelah mendapat teguran dari kerabatnya. 

Setelah mengambil foto, Cliff beralih ke kamar mandi. Ia kembali mencari kamera tersembunyi, mengambil foto, lalu meninggalkan ruangan tanpa menyentuh kamera-kamera tersebut. Setelah merasa cukup mengambil bukti foto, Cliff segera masuk ke kamar Molly dan menemukan wanita itu sedang merapikan beberapa barang yang berserakan sembari memilah buku untuk dimasukkan ke kardus berukuran kecil yang diletakkan di atas kasur. 

Tangan Cliff tergelitik untuk membantu Molly. Namun, berdekatan kembali dengan wanita itu sama saja membangkitkan kembali gairahnya yang sudah mulai tenggelam. Amarah mulai mengganti kedudukan gairah dalam dirinya setelah mengetahui banyaknya kamera pengintai yang disembunyikan baik di ruang tamu maupun kamar mandi.

Alih-alih menawarkan bantuan, Cliff malah memutuskan untuk mencari kamera tersembunyi di kamar tidur Molly. Parahnya, di ruangan ini terdapat enam kamera pengintai. Gelenyar panas pun menjalar di sekujur tubuhnya saat menyadari bahwa selama ini Molly diawasi oleh seseorang yang memiliki pikiran kotor. Jika si pembunuh itu berniat mengancam nyawa Molly, seharusnya tidak perlu sampai menaruh begitu banyak kamera tersembunyi di sini. Ini sama saja seperti maniak seks! batin Cliff kesal.

“Kamu sudah selesai?” tanya Cliff tipis, tak sabar untuk pergi dari tempat ini.

“Sudah,” jawab Molly yang langsung mengangkat kardus. Tiba-tiba, bagian bawah kardus tak sengaja terbuka hingga membuat buku-buku kembali berserakan di lantai. 

“Kamu punya tali atau lakban?” tanya Cliff datar.

“Sepertinya ada di laci dapur,” jawab Molly yang sibuk meletakkan buku di atas tempat tidur. Cliff bergegas keluar dari kamar menuju dapur. Ia berusaha mencari di tumpukan barang yang berserakan selama beberapa saat sebelum akhirnya menemukan segulung tali di sana.

Cliff kembali ke kamar, lalu membantu menyusun buku-buku ke dalam kardus. Ia pun mengikat kardus tersebut dengan lihai. Saat ingin mengajak untuk segera keluar dari tempat itu, tak sengaja matanya tertuju pada luka di bibir Molly. 

Rasa bersalah yang begitu besar mulai melingkupi Cliff. Ketidakmampuannya untuk menahan diri telah melukai bibir indah itu. Sisi lembut yang semakin mudah menguasai dirinya, membuat Cliff dengan berani mengusap bibir Molly dengan ibu jarinya.

“Maafkan aku,” ucap Cliff lembut.

“T-tidak apa-apa, Cliff. Kamu tidak perlu merasa bersalah,” balas Molly sembari menatap matanya lekat-lekat.

“Apa kamu punya peralatan P3K?” tanya Cliff seraya menjauhkan tangannya dari Molly.

“Ada. Biarkan saja aku yang—“

“Di mana?” potong Cliff cepat.

“Di kamar mandi. Laci meja wastafel. Tapi … kurasa kamu akan sulit menemukannya karena semuanya berserakan di lantai,” jawab Molly tenang.

Cliff pun segera berbalik, lalu berjalan menuju kamar mandi. Sambil memperhatikan pijakan kakinya, ia mencoba mencari perlengkapan P3K di lantai. Sebuah kotak berukuran kecil berwarna putih, tertelungkup di dekat kloset. Ia mengangkat kotak tersebut dan menemukan barang-barang di bawahnya.

Cliff mengambil kapas yang masih terbungkus plastik dan alkohol, lalu bergegas kembali ke kamar. Setibanya di sana, ia menemukan Molly sedang duduk di pinggir tempat tidur sembari menatap layar ponsel. Tanpa banyak bicara, Cliff langsung berlutut di hadapan Molly, lalu membuka bungkus plastik kapas, kemudian menuangkan sedikit alkohol di permukaannya. 

Tubuhnya yang tinggi membuat posisi kepala Cliff hampir sejajar dengan Molly. Wanita itu mengernyit saat ia membasuh luka di bibir Molly dengan perlahan-lahan. Luka itu akibat keliarannya, dan ia tak berhenti mengutuki dirinya karena sudah melukai Molly.

Seandainya saja ia bisa menahan sisi liarnya. Seandainya saja ia tidak berusaha menunjukkan pada Molly sebagian terkecil dari sisi liarnya. Seandainya saja ia bisa bercinta layaknya manusia normal. Ya … seandainya semua itu bisa terjadi, Cliff pasti tidak akan berpikir lama untuk segera menjadikan Molly sebagai pasangan hidupnya.

Namun, tak ada harapan yang nyata dari kata ‘seandainya’. Karena ia tahu, ‘seandainya’ hanyalah sebuah harapan kosong yang membuat orang tidak bisa melangkah maju. Saat ini, Cliff berhasil melangkah maju dari semua rasa sakit yang ia terima dari masa lalu karena ia tidak pernah meletakkan kata ‘seandainya’ pada setiap kejadian yang terjadi di kehidupannya.

Cliff sudah melangkah maju, dan ia tidak menyesali keputusannya sama sekali. Tapi melihat Molly yang terluka karena perbuatannya, sisi lembut dalam dirinya seolah menyalahkan setiap keputusan yang ia ambil. Menyalahkan sikapnya yang kaku dan dingin. Menyalahkan tembok pelindung yang ia bangun dengan susah payah. Hingga akhirnya, Cliff—untuk yang ke sekian kalinya—terombang-ambing dengan pikiran dan keputusannya sendiri.

Don’t feel guilty,” ucap Molly lembut sambil menahan rasa sakit.

I don’t,” sanggah Cliff cepat. Senyum kecil yang tersungging di ujung bibir Molly langsung membuat napas Cliff tercekat.

“Tidak ada salahnya mengakui perasaanmu, Cliff,” lanjut Molly lembut. Cliff terus memusatkan perhatiannya pada luka di bibir wanita itu sembari menepis setiap perasaan asing yang tumbuh dalam dirinya, yang semakin lama semakin membuat dadanya sesak.

I don’t feel anything,” tepis Cliff menipu dirinya sendiri.

Tiba-tiba, Molly menangkupkan kedua tangan di wajah Cliff. Kehangatan yang merambat dari sentuhan Molly membuat Cliff semakin bimbang dengan setiap keputusan yang ia ambil. 

Sedih. Itulah yang ia rasakan saat ini. Seumur hidup, ia tidak pernah merasakan kesedihan yang sekuat ini, bahkan kematian mama yang terjadi tepat di depan matanya sekali pun. Namun, saat mata Molly menatapnya dalam-dalam dengan penuh kehangatan dan cinta, kesedihan dan keputusasaan semakin mendominasi seluruh perasaan dalam dirinya.

“Katakan padaku, Cliff,” bujuk Molly lembut tanpa menjauhkan tangkupan tangan dari wajah Cliff. Ia pun langsung menjauhkan tangannya dari bibir Molly. Sebisa mungkin Cliff mengeraskan hati dan tembok perlindungannya agar tidak luluh pada kehangatan yang wanita itu tunjukkan padanya. 

“Apa?” sahut Cliff singkat.

“Katakan apa yang kamu rasakan,” jawab Molly tenang.

“Kenapa?” tanya Cliff berusaha terdengar sinis.

“Karena dengan begitu … perasaanmu akan lega,” jawab Molly lembut sembari mengusap pipi Cliff dengan ibu jarinya.

“Bicara bukanlah cara untuk membuatku lega,” sahut Cliff datar.

“Lalu?” tanya Molly seraya mengerutkan kening. Cliff menatap bibir Molly sekali lagi. Ingin rasanya ia mencium bibir itu, namun mengingat apa yang terjadi jika ia lepas kendali kembali membuatnya menggemeretakkan gigi.

“Sudahlah. Saatnya kita untuk pulang,” ucap Cliff yang langsung menjauhkan kedua tangan Molly dari wajahnya, lalu beranjak dari posisinya. 

“Cliff,” panggil Molly seraya menarik pergelangan tangannya. Cliff terpaksa melepaskan genggaman hangat itu, lalu berjalan menuju lemari pakaian Molly. Cliff menemukan sebuah jaket denim, lalu mengeluarkan dan menyampirkannya di pundak.

“Apa kamu punya syal?” tanya Cliff datar sambil terus mencari.

“Ada,” jawab Molly singkat, lalu beranjak dari pinggir tempat tidur. Wanita itu menarik keluar sebuah syal hitam dari laci lemari.

“Untuk apa?” tanya Molly saat menyerahkan syal tersebut padanya. Tanpa banyak bicara, Cliff langsung melingkarkan syal di leher Molly demi menutupi bekas isapan liarnya. Setelah itu, ia menarik rambut Molly agar terbebas dari lingkaran syal, lalu mengelus rambut itu dengan lembut.

Ia pun meminta Molly untuk mengenakan jaket denim, kemudian menilai penampilan wanita itu sekilas. Cantik. Apa pun yang Molly kenakan tetap saja memukau pandangannya. 

“Lebih baik seperti ini,” ucap Cliff sembari merapikan jaket yang Molly kenakan.

“Kenapa?” tanya Molly tenang.

“Tidak apa-apa,” jawab Cliff berusaha menutupi kenyataan bahwa ia tidak suka saat orang lain menatap lekuk indah tubuh wanita itu. 

“Masih ada yang mau kamu bawa?” tanya Cliff datar seraya berbalik, lalu mengangkat kardus kecil itu.

“Tidak,” jawab Molly singkat. Mereka pun keluar dari ruangan itu dan berjalan dengan hati-hati melewati beberapa barang yang terhampar di lantai.

“Cliff, kira-kira kapan aku bisa merapikan tempat ini? Setidaknya, aku tidak mau melihat tempat tinggalku seperti ini,” ungkap Molly saat mereka berjalan menuju pintu apartemen.

“Segera. Setelah Brad mengambil semua kamera tersembunyi di tempat ini, aku akan meminta orang untuk merapikan semuanya,” jawab Cliff sedatar mungkin.

“Terima kasih, Cliff,” ucap Molly hangat.

You’re welcome,” balas Cliff singkat.

“Molly!”

Terdengar suara riang yang memanggil nama wanita itu saat ia menutup pintu apartemen. Cliff segera menoleh dan menangkap sosok seorang pria bertubuh kurus dengan raut wajah mencurigakan. Pria itu menghampiri mereka dengan senyum ramah teraneh yang membuat Cliff mengerut curiga. 

“Lukas, sedang apa kamu di sini?” tanya Molly hangat.

“Aku dan Kevin berencana pergi ke salah satu pub malam ini,” jawab Lukas ringan. Cliff terus memperhatikan pria itu tanpa melepaskan sedikit pun pandangannya. 

“Kevin? Apa kalian tidak kerja hari ini?” tanya Molly bingung.

“Tidak. Hari ini kami berdua libur,” jawab Lukas yang terdengar terlalu jujur bagi Cliff.

“Lalu, mana Kevin?” tanya Molly lagi.

“Mungkin dia sedang bersantai di apartemennya. Aku baru saja sampai, tapi saat melihatmu kupikir tidak ada salahnya menyapamu duluan,” jelas Lukas santai.

“Oh, kenalkan ini … Cliff. Pengacaraku,” ucap Molly memperkenalkan dirinya. Lukas mengulurkan tangan, namun Cliff tak berniat menjabat tangan itu sedikit pun.

“Cliff, ini Lukas, teman sekerjaku. Dia koki di kafe kami,” jelas Molly yang tampaknya tak menyadari keengganan Cliff untuk berkenalan dengan pria itu.

“Cliff!” tegur Molly akhirnya karena ia sama sekali tak menjabat tangan itu.

“Salam kenal,” ucap Cliff dingin dan datar, yang membuat pria itu menurunkan tangan dan menyunggingkan senyum tipis. 

“Tak apa-apa, Ly. Kamu mau ke mana?” tanya Lukas ingin tahu.

“Ke rumah Cliff. Aku … tinggal di sana sementara waktu,” jawab Molly dengan semburat merah di wajahnya. Cliff menatap wajah Molly yang sedikit tertunduk malu seolah tinggal bersamanya merupakan sebuah aib yang tak pantas diketahui orang. Melihat hal tersebut, Cliff mengerut kesal, lalu melingkarkan tangan kanannya di pinggang Molly.

“Kita pergi sekarang,” tegas Cliff seraya mengarahkan Molly agar segera beranjak dari tempat itu.

“Hei, apa kalian mau ikut dengan kami malam ini?” tawar Lukas tiba-tiba, yang membuat Cliff semakin geram. Molly menengadahkan wajah dan menatapnya dengan raut minta ijin.

“Tidak,” jawab Cliff singkat.

“Maafkan aku, Lukas. K-kurasa mungkin … Cliff tidak suka tempat yang ramai,” ucap Molly sopan, meminta maaf atas penolakan yang Cliff lontarkan, yang malah membuat dirinya makin kesal.

“Apa kamu tidak ingin bertemu dengan Kevin?” tanya Lukas yang tampaknya tidak berniat membiarkan mereka pergi dari tempat itu. Dengan kesal, Cliff berdeham keras lalu melemparkan tatapan tajam ke arah pria itu.

“Silakan lakukan apa yang ingin kau lakukan! Kami pergi dulu,” tegas Cliff yang langsung menarik pinggang Molly agar pergi dari hadapan pria itu. Cliff tidak menyukai Lukas. Tatapan penuh damba dan riak wajah yang menunjukkan perasaan pria itu terhadap Molly, membuat Cliff muak. 

*****

Waktu berlalu dengan cepat. Ia tiba di tempat yang ditentukan sesuai dengan pembicaraan sebelumnya. Henry menunggu sembari mengirim pesan ke si pemberi perintah.

 

Tunggu di sana.

 

Henry membaca pesan masuk, lalu berdiri santai sembari melemparkan pandangan ke sekelilingnya. Langit sudah gelap dan beberapa orang terlihat berjalan kaki di trotoar. Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa dirinya adalah seorang pembunuh bayaran. Bahkan, tak seorang pun menyadari keberadaan dirinya karena mereka larut dalam kesibukan masing-masing.

Tadi siang, saat ia kembali ke apartemen, Lukas menemuinya dan mengatakan bahwa saat ini Molly tinggal dengan seorang pria bernama Cliff. Lukas memberikan alamat kepadanya. Ia tidak tahu bagaimana pria itu berhasil mendapatkannya, tapi setidaknya informasi ini mempersingkat pencariannya.

Sekarang, ia tinggal menunggu perintah selanjutnya, dengan begitu ia bisa menerima tugas baru dari klien yang lain. Kliennya yang satu ini memang paling menyusahkan dari semua klien yang pernah ia tangani. Namun setidaknya, pria itu mau membayarnya lebih mahal dari yang lain.

Sebuah pesan masuk ke ponselnya membuat Henry tersenyum kecil. Akhirnya, 10.000 Dollar sudah masuk ke rekeningnya. Meskipun dengan berat hati ia harus menyerahkan kalung Molly pada pria itu, tapi setidaknya tidak ada yang lebih berharga baginya selain uang.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sedan berwarna gelap berhenti tepat di hadapannya. Kaca jendela mobil bergerak turun perlahan. Tangan yang mengenakan sarung tangan hitam dan berbahan kulit, terjulur ke luar jendela tanpa menunjukkan siapa si pemilik tangan. Tanpa banyak bertanya, Henry menyerahkan kalung itu kepada pria itu.

“Bunuh Molly segera!” perintah pria itu sebelum menaikkan kaca jendela. Sedetik kemudian, mobil itu melesat pergi dari hadapannya. Dengan hati gembira, Henry mengeluarkan kertas pemberian Lukas dari kantong celana.

 

’35 Hillcrest Street Avenue, Epping.’

 

Alamat itu tertera jelas di sana. Lokasi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Tidak. Ia tidak akan membunuh wanita itu malam ini. Ia akan mengawasi rumah itu terlebih dahulu dan mencari cara termudah untuk mencabut nyawa Molly.

Gelora semangat menyelimutinya saat ini. Henry pun beranjak dari tempat itu, lalu melangkah ringan dengan perasaan gembira karena sebentar lagi tugasnya akan selesai.

*****

BAB 30

Hari sudah malam dan saat ini Cliff sedang berdiri menatap jalanan yang tampak sepi. Sehabis pulang dari apartemen Molly, Cliff memutuskan untuk langsung kembali ke rumah. Ia masih belum bisa melupakan bagaimana cara Lukas menatap Molly. Rasa muak dalam dirinya semakin besar saat Molly bercerita bahwa Lukas sempat melamar wanita itu tahun lalu.

Beberapa saat kemudian, Cliff pun berbalik menuju tempat tidur. Ia duduk sejenak di pinggir tempat tidur, mencoba meredam gelora panas yang semakin membara setiap kali menyadari bahwa ada pria lain yang berniat memiliki Molly. Cliff menarik napas panjang beberapa kali, berusaha menenangkan diri.

Molly sudah menolak Lukas, dan seharusnya Cliff bisa bernapas lega saat ini. Tapi …, tidak. Entah mengapa ia tidak bisa menepis rasa panas dalam tubuhnya yang semakin lama membuatnya merasa seperti terbakar hidup-hidup.

Akhirnya, ia pun memilih untuk berbaring. Matanya tertuju pada jam digital yang ada di meja kecil di samping tempat tidur. Sekarang pukul 23.15, dan Cliff yakin kalau saat ini Molly sudah tidur nyenyak. Cliff berbalik ke sisi lain tempat tidur, lalu menatap jendela kamar. Tirai jendela ia biarkan terbuka agar cahaya bulan masuk menerangi kamarnya yang gelap.

“Tidak bisa tidur?” tanya Mors sinis.

“Diamlah, Mors!” tegur Cliff malas, lalu berbalik ke arah lain, memunggungi pria itu.

“Tidak akan!” balas Mors kesal.

“Hah, baiklah! Lalu, apa maumu?” tanya Cliff seraya bangkit dari posisi tidurnya. Matanya menatap Mors dalam-dalam, tak sedikit pun berniat menyembunyikan rasa kesalnya pada pria yang selalu menemani Cliff dalam masa-masa terburuknya.

“Darah. Aku butuh merasakan darah segar demi menenangkan diriku. Dan, begitu juga dengan dirimu, Cliff,” ucap Mors lantang. 

Cliff menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah jendela kamar. Malam ini tampak begitu cerah, tenang, dan sunyi. Seharusnya, keindahan malam ini bisa membuatnya tenang. Namun, kejadian hari ini dan tuntutan Mors, membuat Cliff tidak bisa tidur dengan tenang.

“Kau tahu kita akan membunuh target selanjutnya hari Selasa nanti. Apa kau tidak bisa menunggu sampai hari itu?” protes Cliff lemah. Tubuhnya mulai terasa lelah setelah seharian menekan gairah dalam dirinya.

“Kenapa kau begitu keras kepala, Cliff?” goda Mors cepat. Tampaknya Mors tidak akan berhenti bicara sebelum Cliff mengakui kelemahannya. Cliff tidak menggubris ejekan itu, lalu kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur, kemudian menarik selimut hingga menutupi kepala.

“Jangan menolak keberadaanku, Cliff! Kau tahu apa yang terjadi saat kau berusaha menolakku,” ancam Mors tegas.

“Aku tidak menolak keberadaanmu, Mors! Aku hanya butuh istirahat!” geram Cliff sembari memejamkan mata, berusaha untuk tidur.

“Tapi kau tidak bisa istirahat,” ledek Mors lagi, “kepalamu dipenuhi akan bayangan tubuh Molly.”

“Baiklah. Karena kau tahu isi kepalaku, maka lebih baik kau diam!” sahut Cliff sinis dan penuh amarah. Ia tidak tahu sampai kapan bisa bertahan dengan ejekan Mors dan sikap menggoda yang Molly berikan. Ia juga tidak tahu seberapa lama ia sanggup menyimpan jati dirinya pada Molly. Tapi setidaknya, untuk saat ini dan sampai semua keadaan benar-benar aman, Cliff akan tetap menyembunyikan jati dirinya. 

Cliff tidak ingin Molly masuk ke hitamnya dunia yang ia jalani. Cliff tidak ingin Molly menderita akibat semua dosa yang ia perbuat. Cliff tidak ingin wanita itu terluka, meskipun di sisi lain ia menyadari bahwa semua penolakan yang ia tunjukkan akan membuat Molly perlahan-lahan pergi dari kehidupannya.

*****

Mata Molly yang terpejam mulai terbuka perlahan. Ia menatap dinding kamar yang saat ini menjadi tempat tinggal sementaranya. Kemarin, setelah mengambil beberapa buku dari apartemen, Cliff langsung membawanya kembali ke rumah. Mereka berdua pun memutuskan untuk menghabiskan waktu di kamar mereka masing-masing.

Pada jam makan malam, Molly langsung turun ke lantai dasar dan makan berduaan dengan Cliff dalam suasana sepi. Martha, yang memutuskan masuk ke kamar, membuat acara makan malam terasa begitu kaku dan aneh. Cliff terlihat begitu tertutup dan menjaga jarak. Bahkan, Molly bisa merasakan kalau pikiran Cliff sedang berada di tempat lain. Setelah selesai makan, Molly pun memutuskan kembali ke kamar dan membaca novel hingga tertidur.

Pagi ini, perasaan Molly masih belum bisa tenang. Hari ini mereka berencana untuk kembali ke kantor polisi. Molly berharap agar tidak terjadi pertengkaran besar di antara Brad dan Cliff. Meskipun Cliff mengatakan kalau pria itu sudah menghubungi kerabatnya, tetap saja Molly tidak bisa tenang. Bukan karena Molly tidak yakin kalau Cliff mampu mengatasi masalah ini dengan baik, tapi karena ia tahu bagaimana keras kepalanya Brad.

Molly mengembuskan napas panjang sebelum bangun dari posisi tidur. Ia mengambil ponsel yang diletakkan di meja nakas, lalu mengusap layarnya. Tak ada satu pun panggilan atau pesan yang masuk ke ponselnya. 

Waktu menunjukkan pukul 6.00. Molly pun bergegas turun dari tempat tidur, lalu membuka tirai jendela sebelum berbalik menuju pintu kamar mandi yang berada di samping lemari pakaian. Molly masuk ke kamar mandi yang tidak terlalu mewah namun tertata dengan baik. Warna putih yang mendominasi ruangan tersebut, membuat kamar mandi terlihat sangat bersih dan nyaman.

Molly segera menutup pintu kamar mandi, lalu menanggalkan pakaian tidurnya. Setelah menggantungkan pakaian di gantungan baju, Molly melangkah ke bawah pancuran. Air hangat yang mengucur membasahi sekujur tubuh, memberikan ketenangan sempurna di paginya yang cukup tenang dan sunyi.

Sembari membersihkan tubuh dan rambutnya, Molly mencoba memikirkan cara lain untuk menggoda Cliff. Ia tidak mungkin menarik perhatian Cliff dengan cara ekstrem seperti di film-film. Ia pun mulai mencari cara menggoda yang mudah, sederhana, namun tetap mampu mengaduk-aduk perasaan dan ketenangan Cliff.

Semenjak pulang dari apartemen, sikap Cliff benar-benar dingin. Pria itu sepertinya benar-benar ingin menjaga jarak darinya, tapi Molly tidak bisa. Kebutuhannya akan Cliff membuat Molly tak bisa menerima sikap dingin itu begitu saja. 

Pikiran Molly benar-benar buntu. Sampai selesai mandi pun ia tetap tidak mendapatkan cara yang bagus untuk menarik perhatian pria itu. Akhirnya, Molly mematikan keran pancuran, kemudian mengeringkan tubuh. 

Hari ini, Molly memilih untuk mengenakan atasan sabrina dengan celana panjang skinny jeans. Ia membiarkan potongan sabrina menggantung di pundak kanan, yang membuat pundak kirinya terbuka lebar hingga memperlihatkan bagian atas dadanya. Setelah mengikat ekor kuda rambutnya, serta merias wajah dan menutupi sedikit luka sayatan dengan riasan, ia pun segera memasukkan novel yang belum selesai dibaca ke dalam tas, lalu menyelempangkannya di pundak. 

Molly bergegas keluar kamar, lalu turun ke lantai dasar. Perutnya mulai bergemuruh kecil saat ia menapakkan kaki di sana. Dengan langkah ringan, Molly berbelok menuju dapur dan menemukan Martha yang sedang sibuk merapikan ruangan itu.

“Pagi, Martha,” sapa Molly bersahabat.

“Pagi, Ma’am,” balas Martha datar.

“Apa Cliff sudah bangun?” tanya Molly tenang seraya melangkah menuju meja makan. Beberapa lembar roti panggang dengan tiga mangkuk selai rasa cokelat, madu, dan butter, tersaji rapi di sana. Segelas susu segar dengan jus jeruk pun sepertinya memang disediakan hanya untuknya.

“Mr. Franklin sudah pergi dari tadi pagi, Ma’am,” jawab Martha saat menutup lemari kontainer. Molly langsung menoleh ke arah Martha sembari meletakkan bokongnya di kursi dan menyampirkan tas di sandaran kursi.

“Ke mana?” tanya Molly cepat, “oh, dan jangan panggil aku ‘Ma’am’, Martha. Panggil namaku saja.”

“Katanya, Mr. Franklin mendapat panggilan untuk mengurus kasus lain, dan meminta agar Anda tidak menunggunya pulang karena kemungkinan Mr. Franklin akan pulang tengah malam,” jelas Martha datar dan terdengar sedikit kaku, “Mr. Franklin juga mengatakan kalau Anda jangan ke mana-mana demi keselamatan.”

“Jangan ‘Anda’ juga, Martha. Panggil Molly saja, atau Ly,” tegur Molly lembut. Raut wajah Martha terlihat seperti ingin melontarkan sebuah penolakan, namun berselang beberapa detik kemudian raut wanita itu perlahan-lahan mulai melunak. Molly mengambil selembar roti panggang, lalu mengoleskan butter di lapisan atas.

“Permisi, Molly. Saya mau merapikan kamar dulu,” pamit Martha tegang. Molly memperhatikan kepergian Martha, lalu menggigit roti sembari menggeleng kecil dan tersenyum lebar merespons sikap kaku wanita itu. Ia tidak mengerti mengapa Martha bersikap seperti itu. Tapi setidaknya wanita itu mau menyebut namanya meskipun terlihat sangat sulit.

Menyadari bahwa rencana mereka untuk pergi ke kantor polisi hari ini batal, ia pun segera mengeluarkan ponsel dari tas, lalu mengetik nama Cliff di layar ponsel. Setidaknya, ia butuh penjelasan singkat dari pria itu, meskipun Martha sudah mengatakan bahwa Cliff sedang mengurus kasus lain.

Sembari mengunyah roti, Molly menunggu beberapa saat, namun Cliff tak menjawab panggilannya. Molly mencoba untuk yang kedua kali, tapi tetap saja pria itu tak menjawab. Akhirnya, Molly melanjutkan sarapan sambil memikirkan kasus apa yang Cliff tangani saat ini selain menangani kasusnya. 

Apakah kliennya sekarang adalah seorang wanita seperti aku? Apakah Cliff juga akan berusaha melindungi klien itu seperti dia melindungiku? Apakah Cliff akan bercinta dengan klien itu seperti dia bercinta denganku?

Pertanyaan-pertanyaan itu seketika membangkitkan rasa cemburu dalam dadanya. Molly kembali menghubungi Cliff, namun tetap saja tidak ada jawaban. Bahkan setelah panggilan ke lima, ponsel pria itu tiba-tiba tidak aktif. 

Molly menggeram gemas, lalu mendengus kesal dan meletakkan ponsel begitu saja di meja. Demi meredam rasa kesalnya, Molly menghabiskan lima lembar roti panggang, lalu meneguk habis susu segar yang disajikan di gelas panjang. Tak mampu menahan rasa cemburunya, Molly memberanikan diri untuk mengirim pesan pada Cliff.

 

‘Kamu di mana?
Aku sulit sekali menghubungimu.’

 

Molly meletakkan kembali ponsel di meja makan, lalu beranjak dari kursi sambil membawa jus jeruk. Ia melangkah menuju dinding kaca yang memisahkan ruang makan dengan halaman belakang. Kakinya pun tergelitik untuk keluar dari ruangan itu. Ia ingin menikmati cahaya matahari pagi dan menghirup udara segar yang mungkin dapat menenangkan perasaannya.

Akhirnya, Molly melangkah kembali ke meja makan, mengeluarkan novel dari tas, lalu berjalan keluar melewati pintu kayu yang berada sekitar tiga meter dari meja makan. Udara pagi yang menerpa wajahnya, memberikan kesejukan yang langsung meredam rasa kesalnya pada Cliff.

Langkah kaki membawanya menuju salah satu kursi yang diletakkan tepat di bawah kanopi kayu. Ia meletakkan gelas minumannya di meja kayu, lalu duduk sambil menikmati halaman belakang yang tertata rapi. 

Tiba-tiba, pikirannya kembali tertuju pada Cliff dan kasus lain yang pria itu tangani. Molly pun bertekad untuk menanyakannya langsung pada Cliff saat pria itu tiba di rumah. Namun sebelum itu, ia memutuskan untuk menikmati ketenangan yang sangat ia rindukan ini. Akhirnya, Molly membuka novel dan langsung menuju halaman yang sudah ia tandai, lalu membacanya.

*****

Waktu berlalu begitu cepat. Molly baru saja selesai makan malam, namun hingga saat ini Cliff belum juga membalas pesannya. Ia tidak tahu apa sebenarnya yang Cliff lakukan di luar sana, dan hal itu membuat Molly benar-benar frustrasi. Mereka memang bukan sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Mereka juga tidak melabelkan apa sebenarnya hubungan yang mereka jalani saat ini. Bahkan, Cliff pun sudah menegaskan kalau pria itu berniat menjaga jarak darinya.

Tapi, Molly tidak bisa menipu dirinya. Ia mencintai Cliff, dan sekeras apa pun pria itu menutup diri darinya, ia akan terus memikirkan Cliff. Keberadaan Cliff benar-benar sudah mendominasi pikirannya. Dan saat ini, yang Molly rasakan hanyalah gelisah.

Untuk yang ke sekian kalinya, Molly mencoba menghubungi Cliff. Namun ponsel pria itu tetap saja tidak aktif. Akhirnya, Molly memutuskan untuk kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Kegelisahan yang ia rasakan saat ini sama sekali tidak bisa hilang. Molly sudah mandi dengan air dingin dan meminum jus jeruk demi meredam rasa panas di tubuhnya, tapi tetap saja tidak bisa.

Tiba-tiba, ponselnya berdering keras. Dengan secepat kilat, Molly menyambar ponsel yang ia letakkan di meja kecil di samping tempat tidur. Jantungnya pun berdebar sepuluh kali lebih cepat saat melihat nama Cliff terpampang di layar.

“Kamu di mana?” tanya Molly cepat, terdengar sedikit histeris.

Tidurlah. Jangan tunggu aku,” ucap Cliff datar. Molly mengerut bingung.

“Kamu di mana?” tanya Molly lagi, tidak menghiraukan ucapan Cliff.

Martha mengirimiku pesan, dia mengatakan kamu terlihat gelisah dari tadi pagi,” jelas Cliff tanpa menjawab pertanyaannya.

“Martha? Bagaimana caranya dia bisa menghubungimu? Dari tadi ponselmu tidak aktif!” keluh Molly kesal.

Aku punya dua ponsel, dan dia memiliki kedua nomorku,” jawab Cliff datar. Dua ponsel? Aku tidak pernah melihat dia membawa dua ponsel, batin Molly bingung.

“Kamu di mana?” tanya Molly untuk yang ketiga kalinya. Kali ini, suaranya sedikit lebih tenang karena sudah mendengar suara Cliff.

Aku sedang mengurusi klienku yang lain. Jangan tunggu aku. Tidurlah, besok kita harus ke kantor polisi,” jawab Cliff mengandung perintah.

“Aku belum mengantuk. Lagi pula, aku masih mau menyelesaikan nov—“

Pokoknya, jangan tunggu aku!” potong Cliff tegas.

“I-iya,” balas Molly singkat. Terdapat keheningan sesaat yang membuat Molly kembali memikirkan sikap dan perhatian Cliff. Kalau Cliff benar-benar ingin menjaga hubungan profesional denganku, kenapa saat ini Cliff malah menghubungiku, bahkan memaksaku untuk beristirahat? Kalau Cliff benar-benar tidak memiliki perasaan sama sekali padaku, kenapa Cliff memperhatikan diriku seperti itu?

Good night, Baby,” ucap Cliff lembut.

Seketika itu pula, semua pertanyaan ragu dalam pikirannya menguap bak abu vulkanis. Molly tersipu malu dan perasaan gembira mulai menyelimutinya. Butuh waktu beberapa detik lamanya sebelum akhirnya Molly menyadari bahwa pria itu masih menunggu balasannya.

Good night, Cliff,” balas Molly dengan seringai bahagia. Panggilan itu pun langsung terputus. Kegelisahan yang ia rasakan sebelumnya sudah hilang begitu saja. Dan yang ia rasakan saat ini hanyalah … jatuh cinta.

*****

Cliff duduk di salah satu kursi tinggi yang berada di depan meja bar salah satu klub malam yang selalu ramai di hari Minggu. Ia masih bisa merasakan gelenyar hangat yang menyelimutinya hingga kini setelah menghubungi Molly tadi.

Cliff tahu, memanggil Molly dengan sebutan ‘Baby’ sama seperti menyulut api ke bensin. Sebutan itu bisa membuat perasaan Molly padanya semakin membara. Padahal sejujurnya, Cliff melakukan hal itu hanya untuk menenangkan perasaan Molly.

Ia tidak ingin Molly uring-uringan hanya karena mengkhawatirkan dirinya. Ia tidak ingin Molly menunggu kepulangannya yang berpotensi akan membuat wanita itu kekurangan tenaga dan sakit, sementara mereka harus menemui Brad esok hari. Maka dari itu, demi menenangkan kegelisahan Molly, Cliff berusaha membuat perasaan wanita itu sedikit melambung tinggi agar ia bisa melakukan pekerjaan sampingannya dengan tenang.

Saat ini, ada seorang pria bertubuh kurus dengan kemeja kotak-kotak dan celana bahan hitam, duduk di depan meja bar. Kandungan alkohol yang mulai memengaruhi kesadaran pria itu membuat wajahnya tampak semakin memerah. Kepala yang berayun pelan, terlihat begitu lemah hingga akhirnya si pria meletakkan dahinya di lipatan tangan yang ada di atas meja bar. Wajah itu menghadap ke lantai sementara tubuhnya tampak semakin lunglai.

Tidak. Bukan pria itu yang menjadi sasarannya kali ini, tapi seseorang yang duduk di samping si pria mabuk tersebut. Seorang pria yang sedang duduk tenang sambil melemparkan pandangan ke sekeliling klub malam, mencari mangsa.

Cliff dan Mors terus memperhatikan si pria yang sepertinya berhasil menemukan target baru untuk dinikmati hingga pagi ini. Howie, pria berusia lima puluhan, terkenal sebagai salah satu predator seks terkejam. Pria yang menjerat wanita muda demi dijual kembali ke penawar tertinggi. Pria yang tak pernah merasa bersalah meskipun yang dijerat hanyalah seorang wanita polos yang baru saja mengenal nikmatnya klub malam.

Ia sudah mempelajari Howie saat mengerjakan tugas dari Mr. Neandro. Ia bahkan sudah mengetahui sisi lemah Howie yang merupakan keuntungan baginya. Oleh karena itu, Cliff sudah merencanakan cara terbaik untuk mengumpan pria itu agar masuk ke dalam jebakannya. Seharian ini ia benar-benar menghabiskan waktunya untuk memastikan bahwa semua rencananya akan berjalan dengan sempurna.

“Kurasa banyak wanita yang akan bersyukur kalau kita mengambil nyawa bajingan itu,” gumam Mors santai di tengah kerasnya suara dentuman musik.

“Ya, kau benar, Mors,” sahut Cliff setuju tanpa melepaskan pandangannya dari Howie.

“Lalu, apakah umpan kita bisa bekerja sama kali ini?” tanya Mors memastikan.

“Uang dapat membungkam semuanya. Kau tahu itu, Mors,” balas Cliff sinis sebelum meneguk minuman beralkohol yang ada dalam genggamannya saat ini.

Yeah, kau benar sekali,” jawab Mors senang sembari menyunggingkan senyum tipis. Cliff meletakkan kembali gelasnya di atas meja bar tanpa melepaskan tatapannya sedikit pun dari Howie.

Akhirnya, Howie berhasil merayu seorang wanita. Pria bajingan itu terlihat begitu bahagia menggandeng seorang wanita muda yang akan dibawa ke sebuah kamar di salah satu penginapan murah yang sudah disewa selama sebulan penuh. Ya, tentu saja mereka tahu di mana Howie menginap. Karena, di sanalah mereka akan datang dan menawar wanita muda yang berniat dijual pada mereka hari Selasa nanti.

“Sabar, Mors. Tak lama lagi kita akan melihatnya mati,” cegah Cliff yang menyadari bahwa Mors mulai tak sanggup menahan rasa geramnya sekaligus antusias yang makin membara.

“Kenapa harus menunggu hari Selasa? Kenapa tidak sekarang?” protes Mors sembari menggosok kedua telapak tangannya yang terasa gatal karena tak sabar ingin merasakan darah pria bajingan itu.

“Karena setiap jebakan harus terlihat senyata mungkin. Jangan bertindak gegabah, karena pria bajingan seperti dia lebih licin daripada seekor ular,” nasihat Cliff yang langsung membuat Mors menghela pasrah.

“Terserah kau! Yang pasti, semakin cepat dia mati, semakin baik,” ucap Mors tipis sarat amarah.

*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja
error: Content is protected !!