BAB 16
“Molly baru saja pergi dengan seseorang,” lapornya dengan amarah yang mendarah daging semenjak melihat wanita itu masuk ke dalam mobil seorang pria bertubuh tinggi, berpakaian mahal, dan berwajah tampan.
“Ke mana? Dengan siapa?” tanya pria itu cepat dan tegang.
“Aku tidak tahu mereka pergi ke mana. Yang kutahu, pria itu adalah salah satu pelanggan tetap di kafe,” jawabnya disusul dengusan kesal.
“Baiklah. Aku akan melakukan tugasku, dan kau teruslah memata-matainya,” perintah pria itu datar dan tegas.
“Kapan aku bisa melakukan bagianku? Ini sudah terlalu lama! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi! Yang kulakukan di sini hanyalah buang-buang waktu!” protesnya meluapkan kekesalannya.
“Calm down, Lukas,” bujuk pria itu, namun terkandung ejekan di dalamnya.
“Bagaimana aku bisa tenang kalau dia bebas berkeliaran setelah menyakitiku?” tanya Lukas geram seraya melayangkan tinju kuat ke tembok lorong tempatnya bersembunyi demi memata-matai Molly.
“Tidak lama lagi. Bersabarlah! Hanya menunggu beberapa hari lagi, maka kau bebas melampiaskan amarahmu padanya,” ingat pria itu tenang, seakan kebenciannya terhadap Molly hanyalah hal sepele.
“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi! Selesaikan secepatnya apa yang harus kau lakukan di apartemen Molly,” geram Lukas yang sudah tidak mampu menunggu lebih lama lagi.
Lukas tahu kalau Molly tak sebaik yang orang kira. Tak sebaik yang ia kira. Molly sudah melukai perasaannya, bahkan meruntuhkan seluruh masa depan yang sudah ia susun demi membangun kehidupan yang bahagia dengan wanita itu. Namun dengan mudahnya Molly menolak dan mengatakan bahwa dirinya harus mencari yang lain. Molly mengatakan dirinya tak pantas untuk wanita itu. Dasar wanita jalang! geram Lukas dalam hati.
‘Carilah yang lebih pantas, lebih baik, dan lebih sesuai untuk menjadi pendamping hidupmu, Lukas. Aku yakin pasti ada wanita di luar sana yang lebih baik dariku. Kita tidak akan pernah cocok, Lukas. Lagi pula, aku masih belum ingin menjalin hubungan asmara dengan siapa pun saat ini. Masih banyak hal yang ingin aku capai, dan menikah bukanlah pencapaian yang kuinginkan untuk waktu dekat ini. Maafkan aku, Lukas. Maafkan aku. ’
Hingga saat ini, ia masih bisa mengingat setiap kata yang Molly ucapkan saat menolak lamarannya, seakan semua itu baru terjadi kemarin. Lukas pun masih ingat bagaimana wanita itu langsung pergi menghampiri Kevin setelah menolak dirinya. Molly malah memasang raut polos dan tersipu malu saat Kevin berbicara. Tidak! Wanita itu tidak sepolos yang Lukas kira, dan ia sudah tidak tahan ingin merusak wajah Molly agar tak seorang pun mau meliriknya.
“Tidak sampai seminggu. Aku jamin,” janji pria itu santai. Terdengar suara pintu yang dikunci dari balik telepon. Tampaknya pria itu baru saja keluar dari apartemen.
“Yeah, cepatlah!” sahut Lukas geram sebelum akhirnya memutuskan pembicaraan itu. Tak ingin membuang waktu, ia bergegas masuk melewati pintu belakang kafe, lalu melangkah menuju ruang dapur. Masih dengan gelora amarah dalam dada, Lukas pun kembali berkutat dengan tugasnya sebagai koki.
Beberapa saat kemudian, Kevin muncul dari balik pintu. Lukas segera menghampiri pria itu dan mengatakan pada kerabatnya bahwa ia ingin ke toilet. Lukas terus mengikuti Kevin yang berjalan menuju ruang karyawan. Ia berniat mencari tahu tentang pria yang pergi bersama Molly. Saat tiba di sana, Lukas langsung memasang raut bersahabat yang selama ini ia gunakan sebagai topeng terbaiknya.
“Kev, kulihat tadi si Molly pergi dengan seseorang. Kau kenal?” tanya Lukas santai sembari berjalan menuju lokernya.
“Oh, si Cliff. Aku tidak terlalu mengenalnya. Memang kenapa? Apa kau cemburu?” tanya Kevin dengan nada mengejek sembari membuka loker pribadinya. Ejekan itu membuat dada Lukas terasa seperti terbakar. Ia pun membuka loker, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dan meremasnya sekuat mungkin, melampiaskan kedengkiannya pada ejekan yang Kevin lontarkan.
“Tidak. Aku tidak cemburu. Kenapa aku harus merasa seperti itu?” tanya Lukas yang berusaha menjaga intonasi suaranya agar terdengar ringan dan santai meskipun sesungguhnya ia sangat murka.
“Karena kau menyukainya. Aku tahu itu. Benar, ‘kan?” tebak Kevin cepat, lalu berbalik dan menatap Lukas sambil lalu. Ya, begitulah orang-orang menanggapi keberadaannya. Semua orang menganggapnya sambil lalu seakan dirinya tidak berarti, tidak ada, dan tidak penting. Semua orang, terutama Molly.
Lukas tidak menanggapi ucapan Kevin dan memilih untuk keluar dari ruang karyawan. Sejenak ia berdiri diam di dekat pintu belakang sebelum memutuskan untuk menyalakan rokok yang sudah bengkok karena remasan geramnya. Ia harus menjauh sejenak dan menenangkan diri. Jika tidak, Lukas tidak tahu apakah ia bisa menahan luapan amarahnya lebih lama lagi.
*****
Mobil Cliff melaju di tengah ramainya kendaraan yang memenuhi Pitt Street, sebelum akhirnya berbelok ke Elizabeth Street. Hingga saat ini, Molly tidak tahu ke mana Cliff akan membawanya. Ia pun memilih untuk tidak bertanya, karena memang tak berniat membangun percakapan saat ini.
Suasana di dalam mobil sangatlah sunyi. Tampaknya Cliff bukan tipe orang yang suka mendengarkan musik di dalam mobil. Molly berharap Cliff mau menyalakan radio atau apa pun itu yang setidaknya mampu mengisi keheningan kaku di antara mereka. Namun setelah beberapa menit berlalu dan Cliff masih betah dengan kesunyian yang begitu menyesakkan, akhirnya Molly menghela napas panjang, lalu menoleh ke luar dan menatap kondisi kota Sydney yang cukup ramai malam itu.
Ia memperhatikan gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan lampu-lampu berwarna putih dan kuning hangat yang membuat malam itu dipenuhi permainan cahaya yang menarik. Para pejalan kaki pun terlihat memenuhi trotoar, ada yang baru keluar dari gedung, ada yang sibuk berbicara di ponsel, dan ada pula yang terlihat sedang bercengkerama dengan kerabat sembari berjalan kaki.
Sesekali Molly menoleh dan memperhatikan Cliff yang menyetir tanpa berbicara sedikit pun. Malam ini, pria itu terlihat sedikit lebih tegang, bahkan cengkeraman di kemudi pun tampak begitu erat. Cliff sama sekali tak menoleh ke arahnya. Pandangan pria itu lurus ke depan, seakan ada yang menarik perhatian Cliff di depan sana.
Sialnya, keheningan di antara mereka membuat indra penciuman Molly semakin tajam. Aroma parfum Cliff yang begitu maskulin dengan mudahnya merangsang jaringan sel dalam otak Molly. Ia pun kembali teringat akan keintiman liar dalam mimpinya, terutama saat tubuh pria itu menekan tubuhnya dengan penuh gairah. Sial!
Molly langsung mengusap tengkuk saat bulu kuduknya berdiri merespons ingatan liar tersebut. Itulah mengapa Molly tidak berani menatap Cliff lebih dari semenit, karena ia tahu sesuatu yang liar di dalam dirinya berusaha mengendalikan pikiran dan tubuhnya.
Setelah perjalanan singkat namun terasa lama karena tak ada percakapan yang terjalin di antara mereka, akhirnya Cliff memarkirkan mobil di tempat yang telah ditentukan. Ternyata Cliff membawa dirinya ke salah satu restoran yang berada tak jauh dari tempatnya bekerja. Ia sama sekali tidak menyangka kalau mereka akan makan malam di restoran yang terkenal dengan kelezatan hidangannya.
Tanpa menunggu Cliff untuk membukakan pintu, Molly segera keluar dari mobil. Hiruk pikuk para pengguna jalan membuat Molly menghela napas lega. Setidaknya suasana yang ramai mampu menghapus rasa canggung akibat keheningan yang terjadi selama perjalanan. Molly pun akhirnya menyadari bahwa berduaan saja dengan Cliff di dalam mobil tidaklah senyaman yang ia kira.
Setelah mengunci mobil, Cliff menghampiri Molly, lalu mengajaknya masuk. Molly berjalan di belakang Cliff yang terus berjalan di depannya, seakan mereka datang sendiri-sendiri. Seorang pelayan membukakan pintu, lalu mempersilakan mereka masuk. Suasana restoran yang cukup ramai terasa begitu hangat dan menenangkan. Tawa ringan yang bercampur dengan dentingan alat makan pun mengisi tempat itu.
Cliff terus berjalan mengikuti langkah pelayan yang membawa mereka ke sebuah meja khusus dua orang. Molly menggantungkan tas di sandaran kursi, lalu duduk sembari melayangkan pandangan ke sekelilingnya. Sementara Cliff, yang terlihat tampan dengan setelan jas mahal namun masih memasang raut datar dan tanpa bicara sedikit pun, duduk tepat di seberang Molly. Posisi ini membuat dirinya leluasa memperhatikan Cliff.
Merasakan rona merah mulai mewarnai pipinya, Molly langsung mengalihkan pandangannya dari Cliff, lalu menunduk sedikit. Ia menatap kedua tangan di atas pangkuan selama sesaat demi menekan rasa malu, gugup, serta pikiran liar yang entah mengapa dengan mudahnya muncul setiap kali menatap Cliff.
Tak lama setelah mereka duduk, seorang pelayan datang dan memberikan buku menu kepada mereka, lalu menunggu dengan pulpen serta buku catatan di tangan. Cliff membaca beberapa jenis makanan mulai dari hidangan pembuka hingga penutup. Tak berniat menyibukkan pikirannya dengan barisan jenis makanan di buku menu, Molly pun memutuskan untuk memesan makanan yang sama seperti Cliff. Bukan karena ia tidak tahu apa yang mau ia makan, tapi Molly tidak mau kata-kata yang sudah ia persiapkan selama perjalanan singkat tadi, lenyap begitu saja hanya karena memesan makanan.
Setelah selesai mencatat pesanan, si pelayan pun pergi meninggalkan meja mereka, dan memberikan waktu bagi Molly untuk berbicara. Namun sebelum ia mengucapkan sepatah kata, Cliff tiba-tiba berdeham kecil. Seketika itu pula, Molly mengangkat pandangannya dan menatap Cliff yang langsung mengunci matanya dalam-dalam.
Napas Molly tercekat. Bukannya langsung mengalihkan pandangan, Molly malah terpaku bahkan tersipu malu. Ia benar-benar tidak mengharapkan tubuh serta pikirannya beraksi bak seorang wanita yang sedang dimabuk asmara. Ia butuh keberanian untuk berbicara dengan Cliff, bukannya malah merona seolah dirinya begitu mendambakan serta merindukan kehadiran pria itu.
Dengan susah payah, Molly berusaha mengendalikan diri, gejolak gairah dalam tubuh, serta pikirannya. Ia harus konsentrasi dan fokus terhadap kasus pembunuhan ini jika ingin segera menangkap si pelaku. Akhirnya, Molly terpaksa mengalihkan pandangannya sesekali ke arah lain demi meredam gelenyar panas yang menjalar di sekujur tubuhnya.
“Bagaimana dengan kasusmu?” tanya Cliff datar dan teratur.
“Emmm, itu yang ingin kubicarakan. Aku … aku sudah bisa … maksudku, aku tetap mau kamu jadi pengacaraku,” jawab Molly gugup. Ternyata, sebaik apa pun ia menyusun kata-kata, tetap saja ia tak bisa bicara dengan lancar dan benar di hadapan Cliff. Entah mengapa.
Mendengar jawabannya, Molly melihat sedikit perubahan dari raut wajah Cliff. Salah satu alis Cliff terangkat sedikit disertai cara menatap yang seakan menunjukkan bahwa ada yang menarik dari ucapan Molly. Antara yakin atau tidak, ia juga merasa seperti melihat senyuman kecil—sangat kecil—di ujung bibir Cliff.
“Lalu untuk bayarannya?” tanya Cliff setelah beberapa detik terdiam.
“Ada,” jawab Molly cepat dan penuh percaya diri, “aku bisa membayar jasamu sesuai dengan nilai yang kamu sebutkan waktu itu.”
“Good,” balas Cliff singkat, lalu mengalihkan pandangan ke arah pelayan yang berjalan menghampiri mereka sembari membawa sebotol wine. Pelayan itu menuangkan wine di gelas mereka masing-masing, lalu pergi setelah melakukan tugasnya.
Cliff mengangkat gelas tinggi itu, lalu menghirup aroma wine sebelum menyesapnya sekali. Molly tidak menyentuh gelasnya sama sekali. Ia hanya memperhatikan gerak-gerik Cliff yang terlihat begitu tenang dan halus, seakan semua yang ada di diri pria itu sudah terorganisir dengan baik dan sempurna. Namun, bukan itu saja yang membuat Molly terus memperhatikan Cliff. Masih ada pertanyaan yang ingin ia ajukan pada pria itu mengenai cara menangani kasus mama.
“B-boleh aku bertanya … sesuatu?” tanya Molly dengan suara sedikit lebih pelan. Ia tidak tahu apakah Cliff mendengar pertanyaannya. Namun saat pria itu meletakkan gelas dengan sikap tenang dan menatapnya dengan raut serius, Molly menyadari kalau ternyata Cliff mendengarkannya.
“A-apa yang akan … maksudku, apa aku harus melakukan sesuatu? Atau … adakah yang harus …,” ucap Molly gelagapan dan memutuskan berhenti sejenak untuk menarik napas panjang sebelum melanjutkan pertanyaannya.
“Aku harus melakukan apa?” tanya Molly cepat dalam satu tarikan napas.
“Datang ke rumahku besok, jam 10 pagi,” jawab Cliff tenang tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari Molly. Ia pun mengangguk menyanggupi permintaan pria itu.
“A-aku … apa yang harus kubawa?” tanya Molly lagi.
“Tubuhmu,” jawab Cliff singkat.
“Wait, what?” sahut Molly cepat seraya mengerutkan kening dan memajukan tubuhnya. Ia takut jika telinganya salah mendengar.
“Jangan berpikiran terlalu jauh. Datang saja, tidak perlu bawa apa-apa. Selanjutnya serahkan semua padaku. Aku bisa mengurus semua ini dengan mudah,” jelas Cliff cepat, datar, dan santai sebelum kembali mengangkat gelas dan meneguk wine-nya.
Molly mengembuskan napas lega, lalu tersenyum malu karena pikiran liarnya begitu mudah terbaca oleh Cliff. Akhirnya, Molly mengangkat gelas dan meneguk wine yang terasa nikmat. Ia menghirup aromanya sesaat sebelum meletakkan kembali gelas di atas meja. Perasaannya sedikit lebih tenang sekarang, karena sudah berhasil meminta Cliff untuk menjadi pengacaranya.
“Lalu … bagaimana aku membayarmu? Maksudku … apakah aku membayarnya di depan, atau … setelah kasus ini selesai?” tanya Molly berusaha terlihat santai, namun tidak dengan kata-kata yang meluncur kaku dari bibirnya.
“Terserah kamu,” jawab Cliff tampak seperti tidak tertarik membicarakan masalah uang saat ini. Akhirnya, Molly memilih untuk mengalihkan pertanyaan tentang penanganan kasus ke hal lain.
“Boleh aku bertanya lagi?” tanya Molly disertai senyum hangat, berusaha mencairkan suasana yang kaku di antara mereka. Cliff hanya mengangguk singkat, lalu bersandar di sandaran kursi sembari melipat kedua tangan di depan dada.
“Sebenarnya … apa yang ingin kamu bicarakan waktu di kafe?” tanya Molly lancar, “sepertinya tadi kamu terlihat begitu tergesa-gesa.”
“Sudah tidak penting lagi,” jawab Cliff tenang yang membuat Molly mengerut kening bingung.
“Kalau begitu, kenapa kita harus ke sini?” tanya Molly tak percaya.
“Karena aku lapar,” jawab Cliff seadanya.
“Sungguh?” tanya Molly lagi.
“Haruskah kamu bertanya terus?” tanya Cliff balik yang membuat Molly mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia masih memasang raut curiga terhadap Cliff. Ia tidak semudah itu percaya bahwa Cliff hanya ingin makan malam bersamanya. Mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Lalu, untuk apa Cliff mengajaknya makan malam berdua? Apakah ini kencan?
Memikirkan kemungkinan yang sangat mustahil itu, wajah Molly kembali merona. Ia pun tertunduk malu dan memilih untuk memilin ujung sweater demi menekan rasa malu yang saat ini menyelimutinya.
“Kamu tahu? Kurasa semua orang bisa membaca isi pikiranmu semudah membaca buku. Kamu benar-benar terbuka layaknya buku,” ucap Cliff tiba-tiba yang membuat Molly mengangkat wajah dan menatap raut serta tatapan liar yang pria itu tujukan padanya.
Belum sempat membalas ucapan Cliff, hidangan mereka pun mulai disajikan. Mata Molly tertuju pada hidangan pembuka yang terlihat lezat. Molly tidak langsung memakan hidangan tersebut. Ia menunggu hingga pria itu yang memulai.
“Kurasa makanan itu tidak akan habis jika hanya dilihat begitu saja,” celetuk Cliff ringan sebelum memasukkan sesendok makanan ke dalam mulut. Molly berdoa sejenak, lalu menyantap makanannya sementara ia belum bisa menghapus kecurigaannya terhadap Cliff.
*****
Malam mulai larut saat mereka keluar dari restoran. Suasana jalanan pun tidak seramai saat mereka tiba tadi. Cliff membukakan pintu untuk Molly yang langsung masuk tanpa banyak bicara. Makan malam mereka pun berjalan lancar tanpa rentetan pertanyaan menyelidik yang berusaha Molly lontarkan padanya.
Memang awalnya ia berniat menerima kasus pembunuhan yang menimpa mama Molly dan meminta agar Molly membayar dengan tubuh wanita itu. Namun saat mendengar bahwa wanita itu sudah memiliki uang yang cukup untuk membayarnya, seketika itu pula Cliff menghapus keinginannya dan berniat mengganti rencana lain agar bisa merealisasikan apa yang ada di dalam benaknya sejak kemarin.
Cliff duduk di belakang kemudi, lalu menyalakan mesin kendaraan. Ia pun segera membawa mobilnya bergabung dengan beberapa kendaraan yang masih lalu lalang di jalanan. Molly duduk diam di sampingnya, tampak seperti memikirkan sesuatu.
“Di mana tempat tinggalmu?” tanya Cliff ringan.
“Hah? Tidak perlu. Kamu antar saja aku ke Town Hall, nanti aku naik kereta saja,” jawab Molly lancar, yang langsung menoleh dan menatapnya dengan raut curiga bercampur penasaran. Tampaknya kegugupan yang menyelimuti wanita itu saat pertama kali mereka tiba di restoran sudah lenyap setelah perutnya terisi penuh. Namun Cliff masih bisa merasakan bahwa hingga saat ini Molly masih penasaran dengan alasan di balik ajakan makan malamnya.
“Aku akan mengantarmu,” sahut Cliff datar dan tegas, “ini sudah malam. Lagi pula, aku yang mengajakmu makan malam. Artinya aku berkewajiban mengantarmu pulang.”
“Berarti kalau aku yang mengajakmu makan malam, aku berkewajiban mengantarmu pulang ke rumahmu?” gerutu Molly cepat dengan suara kecil seperti berbisik sembari memalingkan wajah ke luar jendela mobil, seakan berharap dirinya tidak mendengar gerutuan itu.
“Apa kamu bilang?” tanya Cliff cepat, sengaja memancing agar wanita itu bicara dengan suara yang lantang.
“Albert Street, Hornsby,” jawab Molly tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.
Tidak ingin memperpanjang pembicaraan, Cliff langsung melajukan mobil menuju Hornsby. Lokasi tempat tinggal Molly ternyata cukup jauh dari kafe, dan seketika itu pula Cliff membayangkan betapa jauhnya perjalanan yang wanita itu tempuh untuk sampai ke tempat kerja.
Secuil rasa prihatin singgah dalam dadanya, namun secepat kilat ia menggantinya dengan rasa tidak peduli. Ia tidak ingin memiliki perasaan lebih terhadap Molly. Ia hanya membutuhkan tubuh itu untuk memuaskannya. Ia hanya butuh merasakan darah Molly di tangannya. Ia hanya menginginkan sensasi nikmat saat melihat wanita itu pasrah dalam kuasanya. Hanya itu, tidak lebih.
Akhirnya, Cliff mengalihkan pikirannya dari Molly dengan kembali memilah dalam benaknya beberapa panggilan masuk dari orang-orang yang membutuhkan jasanya dan Mors. Ada sekitar empat nama korban yang masuk ke dalam ponselnya sejak ia memutuskan menangani kasus yang menimpa keluarga Neandro. Namun hingga saat ini, ia belum berniat untuk mencari tahu tentang identitas keempat korban tersebut.
Mereka berdua harus memilah mana yang harus mereka terima dan mana yang tidak. Ini bukanlah perkerjaan main-main. Ini adalah kegiatan kesenangan mereka yang membuat mereka semakin menyatu. Ini adalah aktivitas yang membuat Cliff merasa hidup kembali.
Setelah melewati beberapa kemacetan yang tidak berarti, akhirnya mereka pun tiba di Albert Street. Molly memberikan arahan kepadanya. Namun, Cliff bisa menangkap rasa takut saat wanita itu menyuruhnya berbelok sebelum tiba di depan gedung apartemen. Rasa penasaran pun mulai menyergapnya, namun dengan perlahan Cliff berusaha menahan rasa itu dan berniat menanyakannya esok hari.
“Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Molly lemah, masih belum keluar dari mobil.
“Sama-sama,” balas Cliff singkat sembari memperhatikan raut Molly yang tampak risau.
“Ada apa?” tanya Cliff penasaran.
“Kamu mau mampir … maksudku, mungkin segelas kopi hitam?” tawar Molly yang terdengar gugup. Cliff tidak mengerti apa yang membuat wanita itu tiba-tiba mengajaknya untuk mampir. Tapi kalau ajakan itu bisa memberikan kesempatan baginya untuk lebih lama menghirup aroma nikmat tubuh Molly, tentu saja ia tidak akan menolak.
“Kopi hitam. Baiklah,” ucap Cliff menyambut ajakan itu.
Molly, yang masih tak percaya bahwa ia menerima tawaran tersebut, langsung menoleh dan memasang raut kaget. Wanita itu mengangguk kaku sebelum keluar dari mobil yang ia parkirkan di tempat yang tersedia. Cliff pun segera keluar, lalu mengunci mobilnya.
Cliff mengikuti Molly dari belakang. Wanita itu berjalan dengan langkah cepat menuju pintu masuk gedung. Kehangatan yang menyambut Cliff saat memasuki gedung apartemen tiga lantai yang memiliki desain sederhana namun nyaman, membuat bulu kuduknya meremang seketika. Cliff tidak menyukai kehangatan yang ditawarkan tempat ini karena mengingatkannya akan sebuah keluarga.
Dengan susah payah Cliff menghapus kenangan masa lalu yang manis tentang keluarganya. Ia tidak ingin menjadi pria cengeng hanya karena kasih sayang dan cinta yang dulu pernah ia rasakan. Tidak! Cliff berusaha keras menjauhkan diri dari semua kehangatan cinta. Bukan hanya takut menjadi sosok yang lemah, tapi karena Cliff menyadari bahwa dirinya tidak pantas. Cliff tidak akan pernah pantas menerima cinta dan kasih sayang dari seorang wanita atau pun keluarga.
Pikiran Cliff kembali tertuju pada Molly yang masih berjalan di depannya. Mereka menaiki beberapa anak tangga hingga tiba di lantai kedua. Molly membawanya berbelok ke suatu tempat, melewati beberapa pintu di kanan-kirinya, sebelum akhirnya wanita itu berhenti di depan sebuah pintu berwarna cokelat gelap dengan angka ‘7’ menempel di permukaannya.
Cliff menunggu Molly yang berusaha mencari keberadaan kunci di dalam tas. Sesaat kemudian, wanita itu mengeluarkan kunci, lalu memasukkannya ke lubang kunci. Namun saat ingin memutar kunci, pintu tersebut malah terbuka perlahan seakan tidak pernah dikunci sebelumnya. Molly, yang refleks melepaskan kunci dari genggaman, langsung bergerak mundur satu langkah sembari memasang raut ketakutan.
“A-aku tidak pernah l-lupa untuk … mengunci pintu,” ungkap Molly gemetaran. Cliff bisa menangkap rasa takut yang begitu besar baik di wajah serta nada bicara wanita itu. Mendengar penjelasan Molly, Cliff bisa menangkap apa yang terjadi saat ini.
Tanpa pikir panjang, Cliff mengeluarkan sapu tangan dari saku belakang celana, lalu menyelimuti tangannya sebelum mendorong pintu hingga terbuka lebar. Matanya terbelalak melihat kekacauan yang ada di hadapannya. Seketika itu pula, Cliff percaya kalau kasus pembunuhan yang menimpa mama Molly bukanlah kasus pencurian biasa. Ini adalah ancaman terselubung. Dan saat ini, nyawa Molly sedang terancam. Cliff tahu itu.
*****
BAB 17
“Oh, Tuhan!” seru Molly terkejut sembari melangkah masuk. Napasnya tercekat, sementara matanya terbelalak menatap kekacauan yang terjadi di hadapannya saat ini. Bulu kuduknya yang bergidik ngeri menunjukkan betapa menakutkan kondisi apartemennya.
“Jangan sentuh apa pun!” perintah Cliff tegas yang langsung menggenggam pergelangan tangan Molly, mencegahnya agar tidak bersikap ceroboh. Langkah Molly pun terhenti tepat di samping Cliff.
Genggaman itu memberikan sensasi hangat yang mulai menjalar ke sekujur tubuh Molly. Namun saat ini ia tak menanggapi sensasi menggelenyar yang menggelitik hingga tengkuk akibat genggaman Cliff, karena pikiran serta perhatiannya tertuju pada kekacauan yang terjadi di ruang tamu.
Kulit sofa dirobek secara brutal, isinya mencuat keluar dan bantal sofa tergeletak begitu saja di lantai. Salah satu sofa bahkan dibalikkan hingga tertelungkup, sementara TV terjatuh di lantai dan layarnya pecah. Namun yang membuat bulu kuduk Molly meremang adalah beberapa sayatan pisau di wallpaper dinding ruang tamu yang membuat beberapa kertas menjuntai ke bawah.
Ini benar-benar menakutkan! Molly belum pernah melihat kekacauan semenyeramkan ini secara langsung. Ia tidak mengerti siapa yang tega melakukan semua ini pada dirinya. Bahkan, Molly berusaha mencari tahu alasan di balik rentetan kejadian yang menghampiri kehidupannya.
‘Sejahat-jahatnya orang pada kita, janganlah membalasnya dengan kejahatan. Memang tidak ada orang yang suci dan bersih dari dosa di dunia ini, Molly. Tapi setidaknya, janganlah menabur benih kebencian pada orang lain yang bisa membuat kita semakin berdosa.’
Itulah nasihat yang selalu mama tanamkan dalam benak Molly. Sejak kecil, Molly berusaha untuk tidak melukai perasaan orang lain. Bahkan hingga saat ini, ia selalu mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang mama ajarkan. Itulah yang membuat Molly memilih tumbuh menjadi gadis yang pendiam dan tertutup, bahkan terlalu menjaga jarak dengan orang lain. Ia tidak ingin menyakiti perasaan orang dengan kata-katanya, baik secara sengaja ataupun tidak.
Namun kekacauan yang terpampang saat ini menunjukkan besarnya luapan amarah dan kebencian yang terpendam, entah kepada dirinya atau mama. Akhirnya, mereka berdua melangkah masuk semakin ke dalam apartemen dan menemukan bahwa kekacauan itu bukan hanya terjadi di ruang tamu. Genggaman Cliff terasa semakin erat di pergelangan tangan Molly saat mereka berjalan menuju dapur.
Lemari peralatan makan yang berada tepat di atas kompor terlihat seperti diacak-acak secara sembarangan, bahkan salah satu pintu terjuntai di engsel yang hampir patah. Semua peralatan makan berserakan di lantai. Pecahan kaca yang berasal dari piring dan gelas pun memaksa mereka untuk melangkah hati-hati.
“Kamu mau ke mana?” tanya Cliff yang semakin mempererat genggaman di pergelangan tangannya saat Molly berniat beranjak menuju kamar sendirian.
“Aduh, sakit!” keluh Molly lemah. Meskipun terlihat enggan, Cliff terpaksa melepaskannya. Molly menyelimuti pergelangan tangan dengan genggamannya sendiri demi menggantikan kehangatan tubuh Cliff yang sempat menetap beberapa saat di sana.
“Apa yang mau kamu lakukan?” tanya Cliff lagi, mencegah gerak kakinya. Tampak jelas betapa tidak sukanya Cliff dengan sikap Molly yang sedari tadi berniat menjauh dari pria itu.
“A-aku mau ke kamar,” jawab Molly jujur dan pelan.
“Kamu serius? Ini adalah lokasi terjadinya tindak kejahatan. Kita tidak boleh menyentuh apa pun yang ada di sini!” tegur Cliff, berusaha mengingatkan Molly agar tidak bertindak gegabah.
“Tapi … aku mau memeriksa kamarku,” ucap Molly mencari alasan untuk menjauh dari Cliff. Rasa penasaran membuat Molly ingin segera berlari ke kamarnya untuk melihat sekacau apa kondisi yang terjadi di sana, dan memeriksa apakah ada barang yang hilang atau tidak.
“Tunggu! Aku akan memanggil polisi,” cegah Cliff yang langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana, “kasus ini harus segera ditangani, karena yang kamu lihat sekarang tidak seberapa jika dibandingkan dengan pesan yang terkandung di dalamnya.”
“Maksudmu?” tanya Molly sembari menatap Cliff yang sedang mengetik sesuatu di layar ponsel.
“Nyawamu sedang terancam! Apa kamu tidak menyadarinya atau memang kamu terlalu bodoh untuk melihat pesan dari semua kekacauan ini?” jelas Cliff tegas yang membuat Molly semakin ketakutan. Refleks, Molly mempererat remasan di pergelangan tangannya akibat besarnya rasa takut yang melingkupi dirinya saat ini.
Debaran jantung yang makin cepat pun memompa kepanikan dalam diri Molly. Ia tak menyangka bahwa saat ini dirinyalah yang menjadi target pembunuhan seseorang. Tapi, siapa yang tega melakukan semua ini? Mengapa dia menginginkan kematianku? Apa salahku? batin Molly bingung sekaligus takut.
“Kukira sebelumnya … maksudku … waktu itu ada yang … ehm, sebenarnya … beberapa hari ini aku merasakan sesuatu,” ucap Molly gugup yang membuat Cliff menghentikan ketikan jemari di layar ponsel, lalu melemparkan tatapan yang menandakan bahwa pria itu siap mendengar ceritanya.
“Hampir seminggu ini … pertama kali ada yang mengetuk pintuku … lalu … beberapa hari yang lalu … jendela kamarku terbuka lebar saat aku pulang kerja, tapi tidak ada barang yang hilang. Kemarin juga ada amplop… dan setangkai mawar merah di depan pintu. A-aku membukanya … ada pesan yang berisi … kata-kata,” ungkap Molly gelagapan. Kecemasan serta rasa takut semakin menyelimutinya ketika harus mengingat dan menceritakan kembali beberapa teror yang menghampiri beberapa hari belakangan.
“Kata-kata apa?” tanya Cliff datar.
“You’re next. Hanya itu isinya,” jawab Molly cepat.
“Kenapa tidak lapor polisi?” tanya Cliff tegas dan mengerut heran.
“K-karena … mereka pasti tidak akan percaya,” jawab Molly murung, “mereka pasti berpikir kalau ini hanyalah … akal-akalanku saja.”
Cliff menggeleng geram disertai dengusan kesal, lalu menekan tombol panggil, kemudian menempelkan ponsel di telinga. Molly menunggu dalam diam sembari memperhatikan betapa kaku dan geramnya raut wajah Cliff saat mata pria itu meneliti kekacauan di apartemen ini. Ia bahkan bisa menangkap kekhawatiran yang tersirat di tatapan Cliff meskipun pria itu bersikap tegas, kuat, dan berani di hadapannya.
“Malam … ya, ada pembobolan di apartemen klien saya di 81 Albert Street … lantai dua … ya, saya ada di sini … saya pengacaranya, Cliff Franklin … baik … terima kasih,” ucap Cliff tegas dan teratur. Setelah selesai menelepon, Cliff memasukkan ponsel ke saku celana lalu menatapnya.
“Sebentar lagi mereka akan tiba. Sebaiknya kita menunggu di luar,” saran Cliff tipis dan penuh penekanan.
“B-bolehkah aku mengambil … pakaianku?” tanya Molly pelan.
“Untuk apa?” tanya Cliff cepat.
“K-kurasa … aku tidak bisa tinggal di sini setelah … s-semua ini,” jawab Molly terbata-bata.
“Aku tahu. Nanti saja. Kita tunggu polisi datang. Setelah mereka selesai melakukan pemeriksaan, barulah kamu bisa mengambil pakaianmu,” cegah Cliff lagi, lalu melangkah melewati Molly begitu saja. Molly mematung, masih berusaha mencerna semua kejadian serta kekacauan yang menghampiri kehidupannya.
“Ayo, keluar!” ajak Cliff, sebelum akhirnya menarik pergelangan tangannya. Tak sanggup menerima besarnya kemelut yang memberondong dalam waktu singkat, air mata Molly pun mulai menggenang.
Kesedihan yang teramat dalam langsung menyerangnya. Ia tidak pernah menyangka kalau apartemen hasil jeri payah mama akan porak-poranda akibat pelampiasan amarah seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. Apa sebenarnya yang terjadi dengan kehidupanku?
*****
Matanya tertuju pada barisan monitor yang menampilkan kondisi keseluruhan apartemen Molly. Senyum tipis tersungging di wajahnya saat melihat respons wanita itu. Terkejut dan ketakutan. Dering ponsel di ruangannya yang sunyi dan senyap memaksanya menoleh ke meja kecil yang berada di samping kursi.
“Bagaimana?” tanya pria di seberang sana. Tegas, singkat, dan datar.
“Barang itu tidak ada di sana,” jawabnya lancar.
“Tidak mungkin! Bagaimana bisa barang itu tidak ada di sana? Apa saja yang kau lakukan sampai kau melewatkan detail yang seharusnya kau perhatikan selama di sana? Barang itu pasti ada di apartemennya!” bentak pria itu, melampiaskan amarah padanya.
“Aku sudah mencarinya ke mana-mana, bahkan tempat tersembunyi sekali pun. Barang itu tidak ada,” jawabnya tenang, menganggap kemarahan pria itu hanyalah angin lalu.
“Jangan main-main denganku, Henry!” ancam pria itu geram dan penuh amarah, “aku membayarmu untuk setiap tugas yang harus kau lakukan. Cari barang itu sampai ketemu! Jika perlu, tunjukkan dirimu dan ancam dia.”
Henry mendengus geli mendengar luapan amarah itu. Mereka semua mengira bahwa pekerjaan yang ia lakukan adalah hal yang mudah. Mereka semua berpikir bahwa uang yang mereka miliki mampu mencabut nyawa orang semudah yang mereka inginkan. Namun mereka tidak pernah berpikir, sebesar apa pun uang yang mereka berikan padanya, ia tetaplah nakhoda bagi kapalnya. Ia yang menentukan kapan dan bagaimana tepatnya menyelesaikan sebuah pekerjaan. Bukan mereka!
“Kau menginginkan dia mati. Bukankah itu yang kau inginkan pertama kali? Jadi, itulah pekerjaan utamaku. Mencari benda itu hanyalah sampingan bagiku,” sahut Henry tegas dan penuh ancaman.
Tak terima dengan perlawanannya, pria itu pun memutuskan panggilan begitu saja. Henry tertawa kecil menanggapi kekalutan yang pria itu rasakan. Saat ini, ada yang lebih penting dan menarik untuk dilakukan, yaitu memperhatikan Molly yang ketakutan setengah mati saat mendapati kekacauan akibat perbuatannya.
Setelah Molly dan kerabatnya keluar dari apartemen, Henry mengangkat kalung yang ia temukan tepat di kotak perhiasan khusus. Kotak yang diletakkan Molly tepat di laci meja rias. Ia menatap kalung indah yang memiliki ukiran nama di belakang bandul berlian. ‘M. D. M.’
Kalung ini persis seperti apa yang diminta oleh si pemberi perintah. Dan tentu saja, ia akan meminta bayaran yang lebih besar atas kalung ini. Henry tidak tahu apa arti inisial itu, tapi yang pasti kalung ini sangat berharga.
*****
Saat ini, Cliff dan Molly duduk di sebuah ruangan berbentuk persegi. Hanya terdapat empat kursi dan sebuah meja, yang mana kedua kursinya diduduki oleh mereka berdua. Warna abu-abu tua mewarnai sekeliling ruangan yang hanya disinari oleh sebuah lampu neon panjang.
Setelah polisi tiba di apartemen, Cliff dan Molly menunggu beberapa saat sembari memperhatikan para penyidik melakukan tugas. Tak lama kemudian, salah seorang polisi wanita yang tampaknya mengenal Molly, meminta mereka ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Kurang dari 10 menit, mereka pun tiba di kantor kepolisian Hornsby.
Setibanya di kantor polisi, seorang pria berseragam polisi dan ber-name tag ‘Robby’, langsung menyuruh mereka mengisi daftar pengunjung. Pria itu sama sekali tak berusaha menyembunyikan raut jengkel serta tatapan kesalnya pada Molly. Cliff mengerut bingung menanggapi sikap itu, yang ternyata bukan hanya diberikan oleh Robby, tapi hampir seluruh petugas kepolisian yang ada di tempat itu. Jelas sekali bahwa mereka semua tidak menyukai kehadiran Molly. Namun yang membuat Cliff semakin bingung adalah ketika mereka dibawa ke ruang interogasi. Seketika itu pula, Cliff menyadari bahwa ada yang tidak beres di sini.
“Mereka pasti tidak percaya padaku. Aku sudah memperingatimu, Cliff,” ujar Molly pasrah seraya tertunduk lemah sembari menatap jalinan jemari yang bergerak gugup di atas pangkuan.
“Kenapa begitu?” tanya Cliff penasaran, berusaha mencari tahu penyebab dari tatapan kesal yang polisi tujukan pada Molly, baik di apartemen maupun di kantor polisi.
“K-karena … aku sering datang ke sini,” jawab Molly lemah, tampak menyalahkan diri sendiri.
“Untuk apa?” tanya Cliff cepat.
“Untuk meminta Brad … mungkin lebih tepatnya, memaksa Brad supaya mau menyelidiki kembali kasus kematian Mama,” jawab Molly sedih sembari menyesali keteguhannya sendiri.
“Itu adalah hakmu!” ujar Cliff tegas. Embusan napas berat dan cepat, menunjukkan keputusasaan yang Molly rasakan saat ini. Cliff bisa menangkapnya dengan jelas karena ia sudah sering menangani klien yang menyerah akan nasib serta hukuman yang akan mereka terima. Namun Cliff tidak menyukai apa yang ia lihat saat ini. Molly tidak boleh menyerah, karena dulu … ia pun tidak menyerah.
Ya. Dulu, Cliff tidak menyerah menjalani kehidupannya yang begitu menyakitkan. Cliff mampu melewati semua kesakitan serta siksaan batin dan fisik yang ia terima dari teman-teman asramanya. Cliff mampu berdiri tegak, bangkit dari keterpurukan, dan membalaskan dendamnya. Cliff berhasil melalui itu semua karena ada Mors.
Ya. Tanpa Mors, Cliff mungkin akan hancur. Tanpa Mors, Cliff pasti akan mengakhiri hidupnya. Tanpa Mors, Cliff tidak mampu berdiri tegak dan menjadi sosok kuat seperti saat ini. Mors adalah kekuatannya, pelindungnya. Orang yang selalu mendukungnya serta membentuknya menjadi sosok yang kuat, tegar, dan berani, bahkan kejam.
Saat ini, Cliff tahu kalau Molly membutuhkan orang yang mampu melindungi wanita itu dari semua ketidakadilan. Molly memerlukan orang yang bisa membangkitkan kepercayaan diri agar wanita itu tidak menyerah.
Gelenyar hangat mulai menjalar di sekujur tubuh Cliff saat melihat kelemahan serta rasa takut yang menghiasi wajah Molly. Kilasan masa lalunya pun seolah bangkit dan memunculkan saat-saat di mana dirinya begitu lemah. Keberadaan Molly saat ini sama seperti dirinya di masa lalu. Terpuruk. Hancur. Takut. Kecewa. Dan, putus asa.
Seketika itu pula, Cliff menyadari bahwa Molly benar-benar membutuhkan dirinya. Hanya ia yang bisa melindungi Molly dari semua kejadian buruk yang mungkin akan menghampiri wanita itu di kemudian hari. Ya, hanya dirinya yang mampu menjaga Molly, setidaknya sampai si pembunuh itu ditemukan.
Embusan napas panjang kembali meluncur dari bibir Molly. Namun kali ini, senyum kecil dan lemah tersungging di ujung bibir wanita itu. Ia tidak mengerti mengapa Molly masih bisa tersenyum di tengah masalah, di tengah setiap ancaman yang wanita itu terima dalam hidupnya.
“Aku tahu … aku tahu itu adalah hakku. Itulah mengapa aku mau kamu yang menjadi pengacaraku. Kuharap dengan ketenaranmu … mereka berhenti merendahkanku, dan kembali menyelidiki kasus pembunuhan itu,” jelas Molly yang tersenyum lemah kemudian disusul helaan napas panjang.
Molly menoleh dan menatap Cliff dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa hanya dirinyalah harapan wanita itu. Baru saja ia ingin mengucapkan kata-kata menguatkan, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Seorang pria berbadan gempal dengan rambut tersisir rapi, masuk ke ruangan dengan langkah tegas.
Lirikan sinis dan dengusan kesal yang pria itu tujukan pada Molly, membuat Cliff mengangkat salah satu alisnya, tidak suka dengan sikap itu. Dengan secangkir kopi yang tampak baru diseduh di tangan kanan, sementara tangan yang lain memegang sebuah map berwarna putih gading, pria itu terus melangkah hingga berhenti di samping meja. Cliff menoleh dan menatap Molly, yang langsung memasang raut kesal bercampur sedih dan kecewa saat melihat pria itu mendekat.
Cliff memang baru mengenal Molly, tapi ia tahu kalau wanita ini bukanlah tipe pemberontak atau seseorang yang dengan mudahnya membenci orang lain. Namun saat melihat perubahan raut wajah dan tatapan penuh amarah yang Molly tujukan pada pria itu, Cliff pun menyadari bahwa pria yang berdecak kesal saat meletakkan kopi di meja, adalah orang jahat. Itu adalah instingnya—dan instingnya tidak pernah salah menilai sesuatu.
“Kau lagi,” desis pria itu sinis seraya menarik kursi di seberang meja dan duduk dengan entakkan keras hingga membuat kursi tersebut sedikit mundur saat diduduki. Pria itu mengangkat cangkir kopi, lalu meneguknya sekali sebelum meletakkan kembali ke meja.
“Apa lagi yang akan kau lakukan untuk menambah pekerjaan kami?” umpat pria itu dengan sikap sarkasme yang membuat Cliff menaikkan salah satu alisnya, tanda tidak suka.
“Brad, kurasa kau salah menilai!” protes Molly, berusaha membela diri. Mendengar nama itu terucap dari bibir Molly, Cliff teringat bagaimana kecewa dan marahnya Molly hari Sabtu lalu. Nama pria itu sempat terucap oleh Molly, namun segera dialihkan seakan ada kejadian yang salah antara wanita itu dengan Brad.
“Berhenti bersandiwara!” tegur Brad lantang dan tegas.
“Anda tidak seharusnya berbicara seperti itu padanya,” tegur Cliff datar dan dingin.
“Siapa kau? Apa hubunganmu dengannya?” tanya Brad sinis.
“Cliff Franklin. Saya adalah pengacara Ms. Damarra,” jawab Cliff tenang. Brad menatap sinis saat Cliff mengucapkan namanya. Oh ya, Cliff bangga akan dirinya sendiri. Setidaknya Cliff tahu kalau Brad pasti pernah mendengar tentang namanya.
“Pengacara?” ulang Brad dengan nada menghina, “kenapa dia harus memakai pengacara ternama untuk mengurus masalah sepele ini? Petugas penyidik saya sudah meneliti apa yang terjadi di sana. Kekacauan itu adalah perbuatannya sendiri. Saya tahu, dia melakukannya supaya kami mau melanjutkan penyelidikan terhadap kematian mamanya 3 bulan yang lalu.”
“Sepele?” ulang Cliff cepat, kali ini dirinyalah yang menggunakan nada menghina, lalu bersedekap sembari melemparkan tatapan tajam, berusaha mengintimidasi pria berbadan gempal yang mulai membuatnya muak.
“Bagaimana ceritanya dia bisa melakukan semua itu sendirian?” tanya Cliff balik, yang membuat Brad mengatupkan bibir, geram dengan pertanyaannya.
“Saya tahu siapa dia!” seru Brad geram.
“Kalau Anda tahu siapa Ms. Damarra, seharusnya Anda tahu kalau wanita ini tidak mungkin melakukan semua kekacauan itu sendirian,” sahut Cliff tenang sembari memasang sikap profesional yang selalu ia gunakan saat membela kliennya. Brad terdiam dengan mata sedikit terbelalak, tampak tertampar dengan kata-katanya.
Cliff mendengus geli sembari menyunggingkan senyum sinis pada Brad. Ia mampu melihat tingginya harga diri pria itu hingga sulit rasanya untuk mengakui bahwa ucapan Cliff benar adanya. Cliff terus mengunci pria itu dengan tatapan tajam yang akhirnya membuat Brad berdeham kaku sebelum membuka map.
“Bisa katakan pada saya di mana Anda berada sebelum tiba di apartemen, Ms. Damara?” tanya Brad tipis setelah meneguk kopi hingga tersisa setengah. Nada geram itu terdengar jelas di telinga Cliff. Bahkan, ia bisa melihat bagaimana sulitnya Brad untuk bersikap formal setelah mendengar ucapannya.
“S-saya sedang di luar,” jawab Molly gugup lalu menoleh dan melemparkan tatapan minta tolong pada Cliff.
“Bisa diperjelas di mana dan dengan siapa?” tanya Brad tegas dan dalam seraya melemparkan tatapan mengancam pada Molly.
“Boleh saya tahu untuk apa pertanyaan-pertanyaan itu? Karena di sini posisinya klien saya yang tertimpa musibah. Lalu kenapa pertanyaan Anda terdengar seperti ingin memojokkannya?” tanya Cliff sembari memajukan tubuhnya dan menekan setiap pertanyaan yang keluar dari bibirnya.
“Pertanyaan ini hanya untuk melengkapi data saja,” jawab Brad tipis.
“Sungguh? Kalau hanya untuk melengkapi data, mengapa klien saya harus berada di ruang interogasi? Saya sudah sering berurusan dengan polisi. Menaruh klien saya di sini sama saja seperti menganggap klien saya adalah seorang tersangka. Sementara, kita berdua tahu kalau Ms. Damarra adalah korban di sini,” ujar Cliff semakin memojokkan Brad yang mulai terbelalak penuh amarah.
“Jawab saja pertanyaan itu, dan kalian boleh pergi dari sini!” tegas Brad meluapkan rasa kesalnya.
“Ms. Damarra berada di luar bersama saya. Kami sedang membicarakan bagaimana cara agar kasus pembunuhan Mamanya bisa dilanjutkan kembali. Dan … kalau saya tidak salah ingat, Anda adalah kepala penyidik untuk kasus tersebut, ‘kan,” jawab Cliff lancar disertai seringai kecil dan menantang yang membuat Brad menutup map dengan entakkan kuat sebelum akhirnya beranjak dari kursi. Kopi yang berada dalam cangkir hampir tumpah karena gerakan tiba-tiba tersebut.
“K-kau … kau mengancamku?” tantang Brad dengan raut memerah menahan amarah.
“Tidak,” jawab Cliff cepat tanpa terlihat gentar sedikit pun, “kenapa Anda merasa terancam?”
Mendengar pertanyaan sinis yang ia ucapkan, Brad bergegas membawa map, lalu mendorong kursi hingga terjatuh. Suara berdebum yang sangat kuat membuat Molly terperanjat. Akhirnya, pria itu melangkah menuju pintu ruangan dengan entakkan kaki penuh amarah. Cliff tahu kalau ada yang salah dengan Brad, dan tak lama lagi ia akan membongkar kebusukannya.
*****
BAB 18
Molly menatap kepergian Brad yang bergegas meninggalkan ruangan. Mata Molly terbelalak dan jantungnya berdebar cepat melihat reaksi Brad yang geram berbalut amarah setelah mendapatkan pertanyaan sinis dari Cliff. Ia pun mengalihkan pandangan dan menangkap senyum tipis tanda kemenangan di wajah Cliff setelah berhasil membuat Brad kewalahan.
Molly benar-benar tidak menyangka bahwa Cliff bisa bersikap setenang itu saat menghadapi Brad. Bahkan, setiap kata yang Cliff ucapkan saat memberi pembelaan, atau lebih tepatnya memberi perlindungan terhadap dirinya, meluncur lancar tanpa keraguan sedikit pun. Dan hal tersebut menimbulkan percikan-percikan baru dalam hati Molly, yang kali ini memandang Cliff bak seorang pahlawan.
“Cliff,” panggil Molly parau karena gelombang ketakutan itu masih cukup besar menyelimuti tubuhnya. Namun aura yang Cliff miliki saat ini membuat Molly semakin ketakutan. Terlebih saat pria itu menoleh dan menatapnya dengan senyum miring nan tipis sarat kekejaman.
Bulu kuduk Molly meremang menanggapi senyum itu. Cliff sangat jarang tersenyum, bahkan Molly tidak pernah melihat pria itu benar-benar melakukannya. Tapi sekarang, sekalinya Cliff tersenyum yang ia rasakan adalah takut.
“Tenang saja. Aku sudah melemparkan umpan empuk padanya,” sahut Cliff datar sebelum beranjak dari kursi, seakan mengerti kerisauan yang terpampang jelas di wajah Molly.
“B-bagaimana kalau dia … marah?” tanya Molly khawatir sembari berdiri dan menatap mata Cliff dalam-dalam.
“Memang itu tujuanku,” jawab Cliff singkat, tak terdengar sedikit pun keraguan dalam suaranya. Molly hanya bisa mengerut bingung menanggapi jawaban itu, sementara Cliff melangkah menjauh darinya.
Pintu ruangan yang terbuka lebar setelah kepergian Brad membuat suara beberapa orang yang sedang berbicara di ruang sebelah terdengar cukup jelas bagi mereka. Cliff berhenti tepat di ujung pintu, lalu berbalik dan menatap Molly dengan tatapan tajam serta raut datar dan dingin khas Cliff yang ia kenal. Dengan sabar, Cliff menunggu Molly yang masih mematung di samping meja.
“A-apakah ada yang … maksudku, bisakah kamu jelaskan padaku? Karena aku … a-aku benar-benar tidak mengerti,” ungkap Molly jujur.
“Kamu tidak perlu mengerti. Serahkan saja semuanya padaku,” balas Cliff tipis. Masih sedikit terguncang dengan luapan amarah Brad, Molly mengalihkan pandangannya dari Cliff ke lantai yang berada di bawah pijakan kaki pria itu. Dalam benaknya, ia mengulang percakapan sengit yang terjadi antara Cliff dan Brad sebelumnya.
“Apa kamu berniat menginap di sini?” tanya Cliff sinis yang langsung membuat Molly mengangkat pandangannya, lalu beranjak dari pinggir meja dengan langkah kaku, dan menghampiri Cliff. Dengan gerakan tenang dan teratur, pria itu menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan menjauh dari ruangan tersebut.
Molly bisa merasakan betapa kuat aura dan kharisma yang Cliff miliki saat melakukan pekerjaannya. Mungkin itulah yang membuat Cliff berhasil menjadi salah satu pengacara ternama. Siapa pun yang menatap Cliff pasti akan berpikir seribu kali sebelum mencari masalah dengannya. Tatapan tajam, raut wajah dingin dan datar, serta tubuh tegap, tinggi serta atletis, mampu menciutkan nyali siapa pun yang mencoba mengusiknya. Molly mengalihkan lirikannya dari wajah Cliff yang tak terusik sedikit pun dengan caranya menganalisis pria itu. Mereka terus berjalan di lorong yang tidak terlalu panjang tanpa berbicara sama sekali.
Saat berbelok, mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan yang cukup luas. Ruangan tersebut berisi barisan meja. Beberapa polisi terlihat duduk di belakang meja sembari melemparkan tatapan menyelidik ke arah mereka. Cliff, yang tampaknya mampu merasakan kegugupan dan rasa takut yang menyerang Molly, langsung menarik tangannya. Kehangatan yang menyelimuti pergelangan tangannya membuat Molly tersipu malu dan langsung tertunduk sembari terus berjalan di samping Cliff.
Akhirnya, mereka pun tiba di ruangan depan bangunan tersebut, tempat di mana biasanya Molly harus melapor sebelum bertemu dengan Brad. Namun sebelum mereka berhasil mencapai pintu keluar, Kevin tiba-tiba muncul dari balik pintu. Cindy, yang tampil cantik dengan rambut hitam sebahu dan riasan wajah sempurna, memasang raut malas dan lelah karena harus datang ke kantor polisi. Pandangan Molly pun tertuju pada raut wajah Kevin yang panik dan khawatir.
“Hei! Apa yang terjadi?” tanya Kevin cepat, terdengar sedikit histeris saat pandangan mereka saling bertemu. Pria itu segera menghampiri Molly, meninggalkan Cindy yang berjalan tanpa berusaha menutupi ketidaksukaannya berada di tempat ini. Atau lebih tepatnya, ketidaksukaan Cindy untuk kembali masuk ke dalam permasalahan yang menghampiri Molly.
“Kevin,” sapa Molly berusaha terdengar tenang meskipun ia masih belum bisa melupakan kekacauan yang menimpa apartemennya saat ini. Tak ingin menghalangi langkah para pengunjung kantor kepolisian, mereka pun memilih berdiri di dekat barisan kursi yang diletakkan menempel di dinding tepat di seberang meja penjaga.
“Apa kamu terluka? Apa ada yang hilang? Bagaimana semua ini bisa terjadi?” cecar Kevin dengan napas terengah-engah sembari memasang raut khawatir. Perasaan senang menyelimuti Molly saat menerima perhatian yang begitu besar dari Kevin.
“Semuanya baik-baik saja,” jawab Cliff datar. Kedua alis Kevin mengerut bahkan hampir menyatu saat mendengar ucapan Cliff.
“Apanya yang baik-baik saja? Aku melihat 3 orang polisi di sana. Aku juga melihat betapa berantakannya apartemen Molly! Tidak ada yang baik-baik saja di sini,” debat Kevin yang mulai tak sanggup menahan luapan amarah akibat terlalu mengkhawatirkan dirinya.
“Masalah ini sedang ditangani kepolisian. Kita serahkan saja pada mereka,” sahut Cliff datar dan dingin, tidak terpengaruh akan nada bicara Kevin yang meledak-ledak.
“Apa kau tidak tahu bagaimana sikap mereka pada Molly? Mereka tidak akan melakukan apa-apa!” tegas Kevin keras.
Dua orang polisi yang berada di dekat mereka langsung menoleh dan melemparkan tatapan tersinggung. Kevin menoleh ke arah dua polisi tersebut, lalu menggeram kesal dan memicingkan mata, berusaha menunjukkan bahwa pria itu sangat tidak menyukai polisi.
“Mulai saat ini, mereka akan berpikir dua kali untuk mengabaikannya,” sahut Cliff tipis. Molly merasakan cengkeraman Cliff semakin erat di pergelangan tangannya. Seakan mengerti raut mengernyitnya, pandangan Kevin pun langsung tertuju ke arah genggaman itu.
“Dan kuharap kau bisa bersikap profesional,” tegur Kevin sinis, tidak menyukai kedekatan mereka. Cliff, yang mengerti maksud dari ucapan itu, langsung melepas genggamannya.
“Kevin!” tegur Molly malu. Pipinya merona seketika menanggapi sikap protektif Kevin, namun pria itu malah memutar bola mata, menganggap teguran Molly hanya angin lalu. Cindy, yang jelas sekali tidak tertarik dan tak peduli dengan kejadian yang menimpa Molly, hanya bermain ponsel sembari sesekali melirik kesal ke arah dirinya.
“Lalu, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Kevin cepat pada Molly.
“A-aku mau ke apartemen … aku harus mengambil pakaian. Dan kurasa, aku harus ijin selama 2 atau 3 hari untuk mengurus semua ini, Kev. Setelah itu, aku akan mencari tempat tinggal sementara demi keamananku sendiri,” jawab Molly yang masih berusaha menekan ketegangan dalam dirinya.
“Kamu bisa tinggal di tempatku,” tawar Kevin cepat.
“Wait, what?” sahut Cindy cepat yang langsung menatap Kevin dengan tatapan cemburu dan tidak terima.
“Oh, maaf, Babe. Bukan begitu maksudku,” balas Kevin berusaha meredam amarah Cindy.
“Terserah kamu! Aku tunggu di luar, dan jangan lama-lama! Aku lelah!” ujar Cindy dongkol sebelum berbalik dan menghilang di balik pintu. Kevin mendesah frustrasi melihat tingkat kecemburuan Cindy yang begitu besar. Pria itu pun mengusap wajah sekilas dengan salah satu tangannya yang besar, lalu kembali menatap Molly dan Cliff dengan senyum masam.
“Maafkan Cindy. Kurasa dia hanya terlalu lelah, makanya dia tidak bisa mengatur luapan emosinya,” ujar Kevin merasa bersalah. Molly mengangguk mengerti, sementara Cliff tidak menunjukkan ekspresi tertarik sedikit pun.
“Lalu, kamu akan menginap di mana malam ini?” tanya Kevin cepat, kali ini tidak sekhawatir sebelumnya. Molly tahu mengapa secepat itu Kevin kehilangan antusias atas kejadian yang menimpa dirinya. Semua ini gara-gara Cindy, dan untuk yang ke sekian kalinya dua sejoli itu bertengkar karena dirinya.
“Aku juga tidak tahu. Kurasa—“
“Di rumahku,” jawab Cliff cepat, singkat, dan tegas.
*****
“Apa?” tanya Molly disertai mata terbelalak. Cliff menatap mata cokelat terang Molly, dan seketika itu pula napasnya tercekat.
Tak ada seorang pun yang tahu betapa sulitnya Cliff menjaga kewarasannya agar tidak menarik wanita itu dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Tak ada yang tahu betapa liarnya pikiran Cliff setiap kali mata itu menatap matanya. Tidak ada yang tahu! Dan sialnya, Cliff menyadari bahwa hal ini semakin sulit setiap detiknya.
“Kenapa?” tanya Cliff singkat, berusaha keras mengatur nada bicaranya agar terdengar sedatar mungkin. Ia tahu, menawarkan wanita itu tinggal di rumahnya sama saja seperti memberikan cobaan terberat bagi dirinya sendiri.
Tidak dipungkiri, Cliff berharap besar agar Molly menerima tawarannya. Setidaknya dengan begitu ia bisa menjalankan rencana terliarnya. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Cliff berharap agar Molly menolak usul gilanya tersebut. Karena sisi terlemah, terhalus, dan tersuci dari dirinya, tidak menginginkan wanita itu terluka akibat gairah liarnya.
“K-kurasa itu bukan ide yang bagus, karena … tidak. Lebih baik aku menginap di hotel atau semacamnya,” jelas Molly terdengar gugup disertai rona merah muda di pipi.
“Seketat apa pun keamanan di hotel, kamu tetap masih lebih aman saat berada di dekat … maksudku di dalam pengawasanku,” ucap Cliff yang langsung mengoreksi kata-katanya. Cliff melirik Kevin yang terus mendengarkan percakapan mereka sembari memperhatikan dengan saksama. Terlihat jelas bahwa pria itu tidak suka dengan usulnya.
“Kurasa lebih baik di hotel,” sahut Kevin cepat seraya melemparkan tatapan sinis pada Cliff. Ia tidak menyambut tatapan sinis itu, bahkan tak terusik sedikit pun karena Kevin bukanlah tandingannya. Lagi pula, Kevin sudah memiliki seorang kekasih yang tampak jenuh dengan seluruh perhatian yang pria itu tujukan pada Molly. Cliff bisa melihat hal itu dengan sangat jelas.
“Ancaman yang terkandung dari kejadian malam ini menunjukkan bahwa si pelaku bisa melukai Molly kapan saja. Apa kau siap bertanggung jawab atas keselamatannya?” balas Cliff masih dengan sikap tenang dan raut datar.
“Lalu, apa kau bisa bertanggung jawab?” tantang Kevin dengan raut kesal.
“Tentu saja,” jawab Cliff singkat dan tenang sembari memberikan tatapan menantang pada Kevin, “aku pengacaranya.”
“Sudah. Sudah. Sudah!” sela Molly cepat, mencegah terjadinya pertikaian di antara mereka berdua. Cliff tidak pernah menyangka bahwa dirinya rela bertikai dengan siapa pun demi menunjukkan keunggulannya di hadapan Molly. Ini benar-benar mengejutkan, bahkan bagi dirinya sendiri.
“Sudah kuputuskan, aku akan menginap di hotel,” putus Molly sedikit tegas. Cliff dan Kevin menatap Molly seraya mengerut bingung, menanggapi ketegasan yang terkandung di nada bicara wanita itu. Sifat tegas yang Molly tunjukkan saat ini berbanding terbalik dengan kepribadian pemalu dan kikuk yang biasa wanita itu tunjukkan padanya.
Kevin melirik menang akan keputusan Molly. Namun, hal itu tidak membuat Cliff berhenti untuk berusaha. Kevin tidak tahu bagaimana tubuhnya seperti ingin meledak semenjak pertama kali ia tiba di kafe hanya karena kebutuhannya akan aroma tubuh Molly.
“Aku … maafkan aku,” ucap Molly yang terdengar seperti merasa bersalah setelah bersikap tegas kepada mereka berdua, “a-aku mau pulang sekarang. Bisakah … kita bicarakan masalah ini besok?”
Wajah memelas dan lelah yang Molly tunjukkan membuat Cliff langsung mengangguk cepat, begitu pula dengan Kevin. Mereka pun segera beranjak dari tempat itu dan melangkah menuju tempat parkir mobil. Cindy, yang duduk di dalam mobil pribadinya, menunjukkan kebencian yang teramat dalam pada Molly saat mereka melewati mobil tersebut.
Berusaha bersikap hangat dan bersahabat, Molly melambaikan tangan sekilas saat mereka melewati mobil Cindy. Namun wanita itu tidak membalas lambaian tangan Molly. Cliff tidak memedulikan sikap dingin Cindy, dan terus melangkah menuju mobilnya yang berada tak jauh dari mobil wanita itu. Molly, yang berjalan di sampingnya, tidak mengucapkan sepatah kata pun sampai akhirnya mereka tiba di mobil.
Tanpa menunggu dibukakan pintu oleh Cliff, Molly langsung masuk ke mobil. Benar-benar ciri wanita mandiri yang membuat Cliff memberikan satu nilai tambahan buat kepribadian Molly yang semakin lama semakin menarik perhatiannya. Ia pun segera masuk dan duduk di belakang kemudi. Tanpa berlama-lama, Cliff menyalakan mesin, lalu melajukan mobilnya keluar dari area parkir kantor polisi.
“Ada apa sebenarnya antara dirimu dengan Brad?” tanya Cliff penasaran saat mereka sudah berada beberapa meter jauhnya dari kantor polisi. Molly tidak langsung menjawab pertanyaannya, hanya memilin ujung sweater tanda gugup dan gelisah.
“Aku terlalu lelah untuk bercerita,” jawab Molly lemah, berusaha menolak terbuka padanya.
“Aku adalah pengacaramu, dan sebaiknya kamu mulai terbuka agar aku tahu apa yang sebenarnya sedang mengancammu,” ujar Cliff datar dan tenang tanpa menoleh sedikit pun ke arah Molly. Pandangannya terus tertuju ke arah jalanan yang semakin sepi.
Molly terdiam sejenak, tampak berpikir. Menyadari betapa sulitnya wanita itu bercerita tentang Brad, membuat Cliff semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan pria itu. Embusan napas panjang dan berat pun terdengar jelas di sampingnya. Sekilas, Cliff melirik dan menemukan Molly yang menoleh ke luar jendela sembari bersandar lelah di sandaran kursi.
“Dia memintaku untuk bercinta dengannya sebagai bayaran agar penyelidikan itu bisa dilanjutkan,” ucap Molly pelan dan lemah. Refleks, Cliff memperkuat cengkeramannya di kemudi saat mendengar fakta tersebut. Ia pun berusaha keras menekan gelombang panas yang menggulung luapan emosi dalam dirinya.
Hanya berselang beberapa menit kemudian, mereka pun tiba di gedung sederhana tempat Molly tinggal. Mobil Cindy, yang juga baru tiba beberapa detik sebelum Cliff memarkirkan kendaraan, terlihat terparkir di area parkir apartemen. Ia bahkan melihat Kevin dan wanita itu melangkah memasuki gedung apartemen.
Setelah memarkirkan mobil di tempat yang disediakan, mereka pun segera keluar dari mobil. Tak ada percakapan yang tercipta saat mereka berjalan menuju pintu masuk bangunan itu, bahkan hingga tiba di depan pintu apartemen Molly. Seorang polisi wanita, yang terlihat masih melakukan tugasnya di apartemen Molly, segera menoleh saat menyadari kehadiran mereka.
“Permisi,” sapa Molly lemah, “apakah aku boleh mengambil pakaianku?”
Polisi itu mengangguk kaku, lalu kembali melakukan tugasnya. Cliff mengikuti Molly sembari menjaga setiap langkah mereka karena banyaknya pecahan kaca yang berserakan di lantai. Wajah Molly terlihat makin murung saat melayangkan pandangan prihatin ke seluruh bagian apartemen. Cliff pun tak menyia-nyiakan keberadaannya di tempat itu. Ia terus memperhatikan dengan saksama, mencari sedikit petunjuk yang mungkin saja tak sengaja tertinggal oleh si pelaku.
Pintu sebuah kamar utama, yang berada tepat di sebelah dapur, terbuka lebar. Ia bisa melihat seluruh pakaian dan barang-barang bertebaran tak keruan di lantai. Bahkan, kasur, meja rias, serta rak minimalis, sudah tidak berada pada tempatnya.
Ia pun beranjak menuju kamar Molly yang berada tepat di samping kamar utama. Kondisi kamar itu hampir sama berantakannya, hanya saja tidak ada pakaian yang tersebar atau sengaja dikeluarkan dari dalam lemari. Hanya pintu lemari yang terbuka dengan sebuah kotak berukuran sedang yang tertelungkup di lantai. Cliff memutuskan untuk berjaga di dekat pintu, sementara Molly mulai memasukkan pakaian ke dalam koper berukuran sedang.
“Kamu yakin tidak ingin tinggal di tempatku?” tanya Cliff tenang, masih berusaha mengubah keputusan Molly.
“Tidak,” jawab Molly singkat, “aku butuh ketenangan saat ini, dan hotel adalah pilihan yang tepat.”
Jawaban itu seolah menegur gairah yang sedari tadi merajai pikiran Cliff. Wanita itu pun mulai menutup koper, merapikan kotak berukuran sedang, lalu menurunkan koper dari tempat tidur sebelum beranjak dari depan lemari. Cliff terus memperhatikan dari ambang pintu, sementara Molly merapikan peralatan make-up ke dalam tempatnya. Tiba-tiba, tubuh Molly menegang kaku, lalu berjongkok dan mulai mencari sesuatu.
“Kalungku hilang!” seru Molly panik yang berdiri tepat di depan meja rias. Wanita itu mulai mencari-cari keberadaan kalung di sekitar meja, namun tetap saja tidak ketemu. Cliff segera menghampiri, lalu menghentikan Molly yang kalut dan kebingungan.
“Kalung apa?” tanya Cliff datar.
“I-itu kalung pemberian Mama saat aku berulang tahun ke 17. Kalung itu … seharusnya ada di sini,” jawab Molly seraya menunjuk ke sebuah kotak pipih berbentuk persegi yang tergeletak di lantai.
“Seperti apa bentuknya?” tanya Cliff lagi.
“Kalung emas dengan bandul berlian berbentuk hati. A-aku tahu mungkin harganya tidak semahal yang kamu kira … tapi itu adalah pemberian Mama,” ungkap Molly sedih dengan air mata yang mulai berlinang.
“Masih ada polisi di sini. Lebih baik kita memberi tahu masalah ini padanya agar langsung dimasukkan ke dalam laporan,” jelas Cliff cepat, berusaha bersikap setenang mungkin. Molly mengangguk lemah, lalu mengusap air mata yang menetes begitu saja di pipi. Tanpa berpikir panjang, sisi lembut yang selama ini terasa mati di dalam dirinya mulai mengendalikan tubuh Cliff tanpa diminta.
Cliff menarik Molly dan memeluk tubuh itu seerat mungkin. Tubuh Molly yang terasa hangat dan tepat dalam pelukannya, menimbulkan perasaan baru yang membuat Cliff takut bukan kepalang. Ia bisa merasakan bagaimana tegangnya tubuh Molly saat ini. Cliff tahu, Molly pasti terkejut dengan sikapnya, dan dengan cepat ia pun segera melepaskan pelukan itu.
Air mata yang mengalir membasahi pipi Molly, membuat tangan Cliff bergerak tanpa disuruh, lalu mengusapnya dengan lembut. Cliff bisa melihat mata cokelat terang Molly berubah menjadi sedikit lebih gelap dan membesar karena keintiman yang terjadi di antara mereka saat ini. Akhirnya, Cliff memutuskan untuk melangkah mundur, lalu berbalik menjauh dari Molly.
“Sudah selesai?” tanya Cliff tegang sembari melangkah menjauh.
“A-aku sudah selesai di sini, tapi … aku masih harus m-mengambil peralatan mandi,” jawab Molly malu dan serak, masih terdengar kesedihan di setiap kata yang terucap.
Molly menarik koper serta membawa kotak berbentuk sedang dalam pelukan, lalu berjalan menuju pintu kamar. Cliff segera mengambil kedua benda tersebut dari tangan Molly saat wanita itu masuk ke kamar mandi sembari sesekali mengusap air mata. Dengan susah payah Cliff mengusir kehangatan yang menyelimutinya saat ini akibat pelukan singkat yang ia berikan. Sembari menunggu, ia pun berusaha mengatur debar jantungnya yang tak keruan.
“Aku sudah selesai,” ucap Molly lemah saat keluar dari kamar mandi. Cliff mengangguk kaku, lalu menghampiri polisi yang tampaknya sudah ingin meninggalkan tempat ini. Cliff segera mengungkapkan tentang kalung Molly yang hilang. Polisi wanita itu langsung mencatatnya, kemudian mengatakan bahwa semuanya akan diurus oleh pihak kepolisian.
Setelah itu, mereka langsung turun ke lantai dasar dan segera berjalan menuju mobil. Cliff memasukkan barang-barang Molly ke bagasi, sementara wanita itu duduk di kursi penumpang dengan raut sedih dan lelah. Setelah menutup pintu bagasi, Cliff berdiam diri sejenak selama beberapa detik, menarik napas panjang beberapa kali sembari terus menenangkan gelora gairahnya, sebelum akhirnya ia melangkah menuju pintu kemudi.
“Aku akan mengusahakan agar kalungmu ditemukan,” janji Cliff datar sembari menyalakan mesin kendaraan, berharap kata-katanya mampu menghapus raut sedih Molly.
Entah mengapa Cliff merasa berkewajiban untuk memberikan janji yang belum tentu bisa ia tepati. Dan seketika itu pula, Cliff mengutuki dirinya karena sudah terlalu larut dalam sebuah perasaan asing yang membuatnya tampak bodoh. Namun, ketika Molly mengangguk lemah dan bersandar lelah di sandaran kursi, saat itu pula Cliff menyadari bahwa setidaknya menunjukkan sedikit simpati pada Molly bukanlah kesalahan besar.
“Kamu mau menginap di hotel mana?” tanya Cliff tenang.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Molly tanpa menatap Cliff.
Akhirnya, Cliff memutuskan untuk membawa Molly ke salah satu hotel yang berada di dekat rumahnya. Setidaknya dengan begitu ia bisa tiba di sana saat wanita itu membutuhkannya. Ya, itulah jalan keluar yang terbaik untuk saat ini. Bagi dirinya. Bagi Molly. Dan, bagi kewarasannya.
*****
BAB 19
Tatapan liar penuh gairah mengunci setiap pergerakan Molly yang terpampang jelas di barisan layar. Henry duduk dengan tenang sembari mempertajam pendengarannya, menyimak percakapan antara Molly dan Cliff semenjak kedua orang tersebut tiba di apartemen yang sudah berantakan akibat perbuatannya. Senyum tipis tersungging di wajah Henry mengingat bagaimana puasnya ia melakukan semua kekacauan itu.
Ia pun sempat bersenang-senang sejenak dengan pakaian dalam Molly. Ia menghirup aroma Molly yang terasa begitu menggairahkan. Bahkan, Henry membayangkan bagaimana ia memuaskan nafsunya, sementara Molly tak berdaya di bawah kuasanya. Sebelum memutuskan pergi dari apartemen itu, Henry membawa dua pasang pakaian dalam Molly sebagai hadiah atas kenakalannya.
Setibanya Henry di apartemen sewaan, ia memuaskan nafsunya sebanyak tiga kali. Tidak! Henry tidak menyewa wanita penghibur. Ia hanya menciumi pakaian dalam Molly sembari menonton ulang video ketika wanita itu sedang mandi, sementara tangannya bermain liar memuaskan kejantanannya sendiri. Oh … bahkan tak ada seorang pun yang tahu kalau saat ini Henry sedang meremas gemas bra Molly dan menciumnya sesekali saat menatap wanita itu bergerak di layar.
Henry merasakan kepuasan tersendiri yang membuatnya makin bangga pada dirinya sendiri. Ia pun merasa bahwa peluangnya untuk memiliki tubuh indah itu makin besar. Dan, Henry sudah tak sabar ingin merasakan secara langsung betapa indah dan nikmatnya tubuh Molly.
Selama Molly dan Cliff pergi sejenak dari apartemen, Henry mendengarkan percakapan ketiga polisi yang menyelidiki tempat itu. Mereka mengatakan bahwa pembobolan terhadap apartemen Molly adalah kejadian yang tidak penting dan membuang-buang waktu. Bahkan, salah satu dari mereka mengatakan bahwa Molly sudah gila karena rela menghancurkan apartemen demi menyuruh mereka bekerja selarut ini.
Henry tidak tahu apa sebenarnya yang membuat para polisi itu sangat membenci Molly. Namun, ia tak mau repot-repot mencari alasannya karena yang ia pikirkan hanyalah Molly. Dan saat ini, perasaannya benar-benar bahagia karena tak lama lagi Molly akan menjadi miliknya sebelum ia mencabut nyawa wanita itu.
“Kamu yakin tidak ingin tinggal di tempatku?” tanya Cliff saat Molly sibuk memasukkan pakaian ke koper.
“Tidak. Aku butuh ketenangan saat ini, dan hotel adalah pilihan yang tepat,” jawab Molly lemah, dan seketika itu pula Henry beranjak dari kursinya.
Tanpa perlu berlama-lama mempertimbangkan keputusannya, Henry langsung mematikan semua monitor. Dengan cepat, ia memasukkan bra Molly ke tas, lalu beranjak keluar dari apartemen. Henry memilih turun melalui tangga keamanan agar tak ada yang mengetahui pergerakannya. Dan setibanya di halaman parkir, ia pun bergegas masuk ke mobil.
Henry menunggu selama beberapa saat sambil terus menatap ke arah pintu masuk gedung. Hanya berselang beberapa menit, matanya menangkap kemunculan Molly dan Cliff yang berjalan keluar dari gedung apartemen. Tampak jelas bagaimana lelah dan sedihnya Molly malam ini, yang malah membuat Henry tersenyum puas dan gembira. Jika kejadian hari ini saja bisa membuat Molly selelah itu, ia bisa membayangkan betapa cantiknya wanita itu saat terkapar lemah setelah memuaskan nafsunya.
Henry menunggu dengan debaran jantung yang sangat cepat. Matanya memperhatikan Cliff yang sedang berbicara dengan Molly sebelum memutuskan untuk meninggalkan area parkir. Ia menghitung hingga detik kesepuluh sebelum menyalakan mesin. Dengan tenang, Henry berkendara membuntuti mobil Cliff dari belakang sambil terus menjaga jarak.
Beberapa menit kemudian, Henry menyadari bahwa mobil tersebut mengarah ke daerah Epping, tempatnya dulu membuang tas dan ponsel Nora. Akhirnya, mobil Cliff berbelok masuk ke sebuah hotel. Henry berhenti sejenak di pinggir jalan, menghitung sampai sepuluh sebelum mengendarai mobilnya masuk ke area parkir hotel.
Matanya menangkap keberadaan mobil Cliff yang terparkir tak jauh dari pintu masuk hotel. Namun, ia lebih memilih parkir di bawah pohon rindang, tempat yang aman baginya untuk mengamati Molly dari kejauhan. Henry tidak mematikan mesin kendaraannya setelah ia memarkirkan mobil. Ia menunggu sejenak, memperhatikan Cliff yang mengeluarkan barang bawaan Molly dari bagasi.
Setelah kedua orang itu melangkah bersamaan menuju pintu masuk hotel, barulah Henry mematikan mesin kendaraannya. Namun, ia tetap memilih untuk menunggu dan menghitung hingga hitungan kesepuluh sebelum akhirnya keluar dari mobil, mengambil tasnya, lalu mengunci pintu, kemudian melangkah dengan tenang menuju pintu masuk hotel. Seorang petugas hotel menyambut kedatangan Henry dengan senyum ramah meskipun raut lelah terukir jelas di wajah pria itu.
Bersikap layaknya tamu yang sombong, Henry terus melangkah tanpa menanggapi sapaan ramah tersebut. Matanya mengunci keberadaan Molly yang ternyata masih berdiri di depan meja resepsionis. Tak berniat kehilangan kesempatan untuk berdekatan dengan Molly, Henry mempercepat langkahnya, lalu berdiri tepat di samping wanita itu. Jantungnya melonjak kegirangan. Gairahnya pun membumbung tinggi saat menghirup aroma parfum Molly yang begitu menggoda.
“Ini kuncinya, Ma’am,” ucap si resepsionis seraya menyerahkan kartu kepada Molly. Henry melirik cepat ke sampul kunci. Tak ada yang tahu betapa girang hatinya saat ini ketika segala sesuatu yang ia rencanakan dapat berjalan sesuai harapan.
“Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu, Sir?” sapa si resepsionis ramah pada Henry. Ia tidak menjawab sapaan itu. Matanya terus mengikuti kepergian Molly yang melangkah menuju pintu lift bersama Cliff. Senyum liar mulai tersungging di wajah Henry, sementara matanya mengamati tubuh Molly dengan saksama dari belakang.
“Sir, ada yang bisa saya bantu?” ulang si resepsionis, yang akhirnya berhasil mengalihkan perhatian Henry dari Molly.
“Saya mau kamar di lantai 3,” ucap Henry tenang.
*****
Molly membuka pintu kamar hotel dengan embusan napas lelah. Pendingin ruangan dan lampu kamar segera menyala saat ia meletakkan kartu kunci di tempat yang disediakan. Dengan langkah lemah, ia pun masuk ke ruangan berbentuk persegi yang cukup besar dan terawat.
Saat perjalanan menuju hotel, ia sempat tertidur di mobil. Tubuhnya yang lelah dan matanya yang berat membuat Molly tak sanggup menahan rasa kantuk. Setelah berada di dalam kamar, Molly langsung duduk di pinggir tempat tidur dan kembali menghela napas lelah. Sementara itu, Cliff menutup pintu kamar dengan sikap tenang dan tanpa bicara sedikit pun.
Saat ini, mereka berdua seolah terisolasi dari dunia luar. Bukannya merasa aman, perasaan Molly malah makin tidak tenang. Molly tertunduk lemah, pandangannya tertuju pada lantai kamar yang dilapisi karpet berwarna cokelat muda yang tampak sedikit menggelap di beberapa tempat.
Sesungguhnya, Molly tidak peduli hotel seperti apa yang ia tempati saat ini. Ia hanya butuh mandi dan tidur. Molly memejamkan sejenak matanya yang terasa panas, sementara Cliff meletakkan barang bawaannya di dekat lemari berukuran sedang yang ada di sisi kanan tempat tidur.
Keberadaan Cliff di sisinya adalah anugerah terbaik di tengah masalah yang menimpanya saat ini, Molly tahu itu. Kehadiran Cliff juga membuat segala sesuatunya menjadi mudah. Bahkan, ia tak memerlukan tenaga berlebih untuk menjawab Brad.
Baginya, saat ini Cliff lebih dari sekedar pengacara. Pria itu bahkan tampak siap melindunginya kapan pun ia butuhkan. Molly masih bisa mengingat betapa hangat pelukan Cliff saat menenangkan dirinya. Entah mengapa Molly percaya kalau ia akan selalu aman dan terlindungi jika berada di dekat pria itu.
Setelah beberapa kali bertemu dan berbicara dengan Cliff, akhirnya Molly bisa menilai bahwa pria itu memiliki sifat yang lain. Sifat yang membuat Molly tersentuh. Mungkin, Cliff terlihat dingin dan misterius jika dibandingkan dengan beberapa pria yang pernah ia kenal. Namun, perlindungan, ketegasan, bahkan kekhawatiran yang berusaha keras Cliff sembunyikan dari raut wajahnya, menunjukkan sisi lembut yang selama ini mungkin tidak pernah pria itu tunjukkan pada siapa pun.
Molly membuka mata, lalu menghela napas lelah untuk ke sekian kalinya, lalu menoleh ke arah Cliff yang sedang menutup gorden. Pandangan Molly tertuju pada punggung tegap dan pundak lebar yang menunjukkan bahwa tubuh itu tercipta untuk melindungi seseorang. Gelenyar hangat pun menjalar ke sekujur tubuh Molly saat pikirannya tiba-tiba membayangkan hal liar akibat punggung dan pundak Cliff.
Seketika itu pula, rasa lelah di tubuhnya lenyap digantikan oleh gelombang gairah yang mulai menggulung akal sehatnya. Sialnya, Molly kembali mengingat mimpi-mimpi liarnya tentang Cliff. Molly menyadari bahwa keberadaan Cliff telah membangkitkan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun saat ini, ia tidak ingin cepat-cepat menarik kesimpulan akan perasaannya tersebut. Tapi Molly juga tidak menampik bahwa ia memiliki ketertarikan lebih pada Cliff. Ketertarikan yang membuat jantungnya berdebar cepat di balik tubuhnya yang lelah.
Sekeras mungkin Molly berusaha mengesampingkan pikiran-pikiran liarnya saat ini. Namun, suasana yang sepi dan keberadaan mereka yang hanya berduaan saja di kamar hotel, membuat Molly semakin sulit untuk berpikiran waras. Ia pun memejamkan mata, berusaha meredam gejolak gairah yang membuat darahnya berdesir cepat saat ini.
Molly bukan tipe wanita yang bisa dengan mudahnya mengakui perasaannya kepada seorang pria. Bahkan, sejak awal ia memang tidak berniat menjalin hubungan sebelum mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Tapi sekarang, entah mengapa semua prinsipnya terempaskan dengan mudah oleh ketidakwarasan yang mulai merajai pikirannya.
Memang, ia sudah memiliki banyak uang dan perhiasan dari warisan mama. Ia juga bisa kuliah dalam waktu dekat tanpa harus repot-repot mengambil kerja part time. Bahkan, kehidupannya bisa dikatakan sudah mapan dalam hal keuangan. Tapi, apakah itu berarti inilah saatnya ia membuka peluang bagi sebuah hubungan?
Tidak! Molly masih belum berani menjalin hubungan apa pun selama masalah yang melingkupinya masih ada. Banyaknya pergumulan yang memberondong kehidupannya akhir-akhir ini, membuat dada Molly semakin sesak. Ia pun menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri dari semua masalah dan pertimbangan yang makin lama makin memenuhi kepalanya.
“Beristirahatlah,” ucap Cliff datar saat berdiri di samping tempat tidur, “hubungi aku jika kamu membutuhkan sesuatu.”
“Cliff,” panggil Molly lemah saat pria itu melangkah melewatinya menuju pintu kamar, tampak ingin pergi. Cliff segera menoleh dengan raut datar yang tak terlihat lelah sedikit pun. Pria itu bahkan masih terlihat tampan setelah menjalani aktivitas yang melelahkan seharian ini. Sungguh, Molly begitu mengagumi ketenangan dan kesiagaan Cliff yang terlihat jelas di wajah pria itu.
“Kenapa?” tanya Cliff singkat.
“Emm … a-aku mau mandi,” jawab Molly gugup setelah berdeham pelan, “maukah kamu menunggu di sini sebentar?”
Raut wajah Cliff tak berubah sedikit pun, namun Molly bisa melihat bagaimana mata itu tampak sedikit menggelap menanggapi permintaannya. Molly tidak tahu apa yang Cliff pikirkan atau rasakan saat ini. Setidaknya, semakin lama Cliff berada di dekatnya, semakin lama pula ia merasakan keamanan yang begitu menenangkan.
“Hanya sebentar, Cliff,” mohon Molly lembut seraya menatap pria itu dengan tatapan memelas, “a-aku … aku merasa aman saat kamu ada di sini.”
Molly segera mengalihkan pandangan dari Cliff, takut jika pria itu menangkap rona merah muda yang saat ini ia yakini sudah mewarnai wajahnya. Entah karena malu atau gairah, Molly tidak tahu. Tanpa menunggu jawaban Cliff, yang masih berdiri beberapa langkah dari pintu kamar, Molly memutuskan untuk beranjak dari sisi tempat tidur, lalu melangkah menuju kopernya.
Cliff tetap tidak berbicara atau pun menyetujui permintaannya. Namun, ketika pria itu melangkah menuju kursi yang berada di dekat jendela, lalu menyalakan TV, Molly hanya bisa menghela napas lega. Akhirnya, pria itu memilih untuk tinggal lebih lama di sini, meskipun hanya sampai ia selesai mandi.
Molly mengeluarkan pakaian tidur dari dalam koper, lalu menenteng peralatan mandi di tangan kiri. Suara TV mengisi keheningan kaku di antara mereka. Molly melirik raut datar Cliff yang tak menoleh sedikit pun ke arahnya. Mata itu terus tertuju pada layar TV seakan tak ada yang lebih menarik selain berita malam yang disiarkan saat ini.
Tanpa berlama-lama, ia pun memutuskan untuk membiarkan Cliff menonton, lalu melangkah menuju kamar mandi yang berada tak jauh dari pintu masuk. Sesampainya di dalam kamar mandi, Molly meletakkan pakaian dan peralatan mandi di meja kontainer yang berada tak jauh dari meja wastafel. Ia mengunci pintu, lalu berdiri sejenak di depan wastafel.
Molly menatap pantulan dirinya di cermin, tampak jelas betapa lelah, kusut, dan berantakannya ia saat ini. Benar-benar tidak menarik. Berbeda sekali dengan Cliff yang tetap terlihat memesona dan tampan.
Tak ingin berlama-lama menyesali penampilannya yang tidak keruan, Molly mulai menanggalkan pakaian yang sudah melekat di tubuhnya hampir seharian ini. Dibiarkannya pakaian tergeletak di lantai, lalu melangkah masuk ke bawah pancuran. Molly memutar keran dan merasakan kehangatan air yang langsung menyentuh setiap jengkal tubuhnya.
Sesaat, Molly berdiri diam, lalu memejamkan mata, dan menikmati kucuran air yang mampu membawa seluruh rasa lelah di tubuhnya. Kilasan kejadian demi kejadian pun mulai mengisi pikiran Molly layaknya potongan-potongan puzzle. Kematian mama, penolakan Brad, warisan mama, surat papa, pembobolan apartemen, hingga luapan amarah Brad. Semuanya tampak seperti memiliki benang merah yang menghubungkan satu kejadian dengan kejadian yang lainnya. Tapi, apa dan di mana benang merah itu berada? Molly pun belum bisa menemukan titik terangnya.
Ia kembali membuka mata, menarik napas dalam-dalam, lalu menyisirkan jemari di rambut panjangnya yang basah. Molly tidak tahu sampai kapan ia sanggup bertahan dengan semua kejadian ini. Namun satu hal yang pasti, ia tidak akan berhenti sebelum menemukan siapa pembunuh mama.
Kesedihan yang muncul setiap kali mengingat bagaimana pembunuh itu mengambil nyawa mama, bagaikan pemacu semangat Molly agar tidak mudah menyerah. Setelah menenangkan perasaannya dan rasa lelah pun sudah hilang dari tubuhnya, Molly langsung mandi dengan cepat, lalu mengeringkan tubuh dan rambutnya. Ia tidak ingin membuat Cliff menunggu lebih lama lagi karena saat ini sudah pukul 01.00. Ia tahu Cliff juga butuh istirahat, sama seperti dirinya.
Molly segera merapikan pakaian kotor, lalu memasukkannya ke plastik laundry yang sudah disediakan oleh pihak hotel. Ia pun bergegas mengenakan piama tidur, kemudian menyisir rambutnya yang masih lembap. Saat ini, tubuh Molly benar-benar terasa segar dan langkahnya pun ringan ketika keluar dari kamar mandi.
Menyadari dirinya sudah selesai mandi, Cliff langsung mematikan TV, lalu beranjak dari kursi. Molly menatap Cliff sekilas. Ia bisa menangkap perubahan raut di wajah pria itu. Bahkan, tatapan tajam yang tertuju padanya seakan menelanjanginya tanpa ragu sedikit pun.
Molly berusaha bersikap tenang, lalu melangkah menuju lemari. Ia mencoba mencari kesibukan, berharap hal itu bisa meredam debaran jantungnya yang begitu keras. Akhirnya, Molly berbalik membelakangi Cliff, lalu membuka pintu lemari.
Dengan gerakan kaku, ia memasukkan koper serta kotak rahasia mama ke dalam lemari. Molly bisa merasakan bagaimana tatapan tajam Cliff terus mengunci pergerakannya. Bahkan setelah menutup pintu lemari dan berbalik, napas Molly tercekat ketika melihat Cliff yang masih berdiri di tempat dengan raut tak terbaca.
“T-terima kasih sudah mau menunggu,” ucap Molly sedikit serak, lalu tersenyum kecil.
“Aku pulang dulu,” balas Cliff tegang, lalu berjalan melewati tempat tidur, dan melangkah menuju pintu kamar. Molly mengikuti langkah pria itu dari belakang dengan debaran jantung yang begitu kuat hingga dentumannya merambat ke gendang telinga.
Cliff membuka pintu, lalu berbalik. Terkejut dengan keberadaan Molly yang begitu dekat, Cliff pun tersentak dan terdiam di tempat. Napas pria itu tercekat, sementara pandangan tertuju pada bibir Molly. Tanpa peringatan sedikit pun, Cliff langsung melingkarkan tangan di pinggang Molly, menariknya lebih dekat, lalu mendaratkan ciuman yang hangat tanpa permisi.
Terkejut, Molly pun terbelalak dan napasnya tercekat. Namun, saat tangan kanan Cliff mencengkeram lehernya dan memberikan elusan lembut di sana, seketika itu pula Molly terhipnotis. Tanpa ragu, Molly membalas ciuman Cliff yang rakus, dalam, dan liar. Matanya pun terpejam menikmati setiap kuluman serta cumbuan penuh gairah saat bibir Cliff memburu bibirnya.
Molly membuka bibirnya sedikit, dan dengan cepat lidah Cliff melesat masuk, menyentuh, serta bermain liar dengan lidahnya. Ciuman Cliff benar-benar membuat Molly melayang dan pasrah. Ia pun memberanikan diri untuk melingkarkan tangan di leher Cliff saat menyadari bahwa ciuman itu berpotensi membuat kakinya lunglai.
Pelukan Cliff di tubuhnya terasa begitu erat. Ia tidak tahu apakah Cliff bisa merasakan debaran jantungnya yang begitu kuat, tapi Molly bisa merasakan bukti gairah Cliff di bawah sana. Begitu keras dan menuntut.
Erangan Molly melesat di sela-sela ciuman Cliff yang liar. Dengan mudah, Cliff mengangkat Molly, lalu mengentakkan daun pintu hingga tertutup, kemudian membawanya langsung ke tempat tidur. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka sedikit pun, Cliff membaringkan tubuh Molly dengan lembut.
Ini benar-benar gila! Molly tidak pernah menyangka bahwa ciuman Cliff akan terasa begitu nikmat dan memabukkan. Bahkan, pria itu terasa begitu tepat saat menindih tubuhnya. Cliff menarik kedua tangan Molly ke atas, lalu mencengkeramnya erat dengan satu tangan. Sementara, tangan yang lain mengangkat sedikit tubuh Molly saat pria itu memosisikan tubuh tepat di antara kedua kakinya.
Jantung Molly melonjak kegirangan. Ia tidak menyangka bahwa salah satu dari mimpi terliarnya akan terwujud saat ini. Ciuman Cliff pun mulai menjalar ke lehernya. Sesaat, pria itu menempelkan hidung di tengkuk Molly, lalu menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma tubuhnya bak oksigen yang berharga.
Bayangan-bayangan liar pun mulai mengisi kepala Molly. Ia sudah siap, sangat siap jika Cliff memintanya bercinta malam ini. Namun, ketika Cliff baru saja membenamkan wajah di antara kedua payudaranya yang masih tertutup piama, tiba-tiba pria itu mematung dan tak bergerak sama sekali.
Molly mengerut bingung, terutama saat Cliff mengangkat wajah dan menatapnya dengan raut kaku. Mata mereka saling mengunci, napas mereka pun terengah-engah karena gairah. Molly tahu apa yang Cliff inginkan, begitu juga dengan dirinya. Namun, entah mengapa ia bisa menangkap keraguan di mata itu.
Tubuh Cliff masih menindih tubuhnya, sementara mata itu terus menatapnya tanpa bergerak sedikit pun. Molly yakin kalau Cliff bisa melihat betapa pasrahnya ia jika pria itu ingin bercinta dengannya malam ini. Namun keraguan yang terpancar jelas di mata Cliff membuat Molly gugup sekaligus bingung.
Molly tidak berani melakukan apa-apa. Ia bahkan tak bisa meminta agar Cliff melanjutkan apa yang sudah pria itu mulai. Molly tidak berani. Ia terlalu malu untuk mengucapkan permintaan itu.
“Cliff,” panggil Molly akhirnya, memecah keheningan di antara mereka. Namun, yang terjadi selanjutnya benar-benar membuat Molly nelangsa. Cliff tiba-tiba beranjak dari tempat tidur, lalu melangkah menuju pintu kamar seakan berlari dari hal yang paling menakutkan di dunia.
Tanpa penjelasan sedikit pun, Cliff meninggalkan dirinya begitu saja di tempat tidur dengan perasaan hancur berkeping-keping. Sedih? Tentu saja. Kecewa? Apalagi. Tapi entah mengapa di sisi lain Molly merasa bersyukur karena Cliff memilih untuk pergi.
Molly tidak tahu apakah esok hari ia masih bisa menatap dan menganggap Cliff sebagai pengacaranya secara profesional atau tidak. Ia juga masih belum bisa memastikan seperti apa sebenarnya keberadaan pria itu dalam hatinya, yang entah mengapa dengan mudahnya masuk dan bersemayam di sana. Namun Molly yakin, ciuman yang Cliff berikan menunjukkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang membuat perasaan Molly tidak keruan.
Akhirnya, Molly pun hanya bisa menghela napas frustrasi dan meringkuk di atas tempat tidur. Oh, Tuhan! Hari ini benar-benar melelahkan. Sangat!
*****
BAB 20
Cliff membuka pintu mobil, lalu masuk dan menutupnya dengan tarikan kuat hingga menimbulkan debuman keras. Ia menggeram kesal dan marah karena tidak bisa mengendalikan diri. Hingga detik ini, Cliff benar-benar tidak mengerti mengapa seluruh syaraf dalam tubuhnya bersatu padu meruntuhkan tembok pertahanannya. Bahkan, Cliff tidak mampu mengendalikan seluruh saraf dalam tubuhnya karena ternyata sel jaringan dalam otaknya pun merespons gairah secepat kilat yang menyambar permukaan bumi.
Ia menyadari bahwa menerima permintaan Molly untuk menunggu sejenak sementara wanita itu mandi adalah keputusan ternekatnya. Mengapa tidak? Cliff seperti bertaruh dengan dirinya sendiri dan menentukan seberapa lama lagi ia sanggup mengendalikan kewarasannya. Dan kenyataannya, tentu saja ia tidak sanggup.
Hal terburuk pun terjadi pada dirinya ketika wanita itu keluar dari kamar mandi. Wajah segar dengan rona merah muda yang menghiasi pipi, membuat jantung Cliff melonjak hingga ke tenggorokan. Tubuhnya bahkan sekaku besi saat aroma tubuh wanita itu menyeruak memenuhi indra penciumannya. Ia berusaha keras menjaga kewarasannya, namun Cliff tak menyadari seberapa besar gairah mulai mengendalikan seluruh saraf dalam tubuhnya.
Akhirnya, Cliff benar-benar lepas kendali. Keberadaan Molly yang begitu dekat seakan-akan memberi peluang baginya untuk mengaplikasikan apa yang ada di dalam pikirannya selama ini. Molly benar-benar tidak tahu bagaimana sulitnya Cliff untuk meredam gairah itu. Namun ketika Molly berada dalam pelukannya dan bibir mereka saling bertautan, saat itu pula Cliff tahu bahwa tembok pengaman yang selama ini ia bangun, hancur seketika dengan mudahnya.
Cliff memukul kemudi sekuat tenaga, melampiaskan amarahnya. Biasanya, ia begitu lihai mengendalikan gairah dan emosi dalam diri. Namun kali ini, Cliff benar-benar lumpuh dan lemah. Semua kekuatan dalam dirinya pun lenyap begitu saja akibat ciuman itu. Bahkan saat ini, ia berusaha keras menahan diri agar tidak keluar dari mobil dan kembali menghampiri Molly.
Ini gila! Cliff bahkan tidak tahu apakah ia bisa bersikap normal seperti biasa setelah ciuman tadi. Memang, Cliff tidak menampik bahwa tujuan utamanya menemui Molly hari ini adalah untuk meminta agar wanita itu mau memuaskan hasratnya. Bahkan ia kembali menawarkan pada Molly untuk bermalam di rumahnya agar bisa menikmati tubuh wanita itu.
Namun sejujurnya, sejak pertama kali Mors melontarkan rencana ini, batin Cliff menolak keras. Bagian terdalam dan terlembut dari dirinya bahkan mengatakan bahwa semua ini adalah kesalahan. Mencium Molly, menginginkan wanita itu, bahkan bergairah setiap kali mengingat Molly merupakan barisan kesalahan yang seharusnya tidak boleh ia lakukan.
Cliff benar-benar tidak mengerti mengapa ia bisa merasa sekacau ini. Akhirnya, ia hanya bisa menggeram kesal seraya meremas kuat kemudi mobil. Beberapa detik kemudian, Cliff mulai menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gairah dan menenangkan jantungnya yang berdebar liar saat ini.
Setelah beberapa saat mencoba mengembalikan kewarasannya, akhirnya Cliff memutuskan untuk segera menyalakan mesin dan meninggalkan tempat itu. Jarak antara hotel dengan rumahnya sangatlah dekat, dan dapat ditempuh dalam 5 menit berkendara. Selama perjalanan pulang menuju rumah, Cliff mencoba menghapus kejadian tadi dari kepalanya. Namun hingga saat ini, ia masih bisa merasakan sensasi bibir Molly di bibirnya.
Penilaiannya benar sejak awal, bibir itu memang tercipta untuk ia kulum dan gigit. Perkiraan Cliff juga benar, aroma tubuh Molly lebih wangi dari aroma darah yang membuatnya kecanduan selama ini. Namun, ia salah ketika mengira bahwa dirinya dapat mengendalikan semuanya. Cliff juga salah ketika mengira saat ia menyentuh dan mencium Molly, maka dirinyalah yang berkuasa.
Cliff benar-benar salah. Kejadian tadi menunjukkan bahwa dengan mudahnya ia terhipnotis, lepas kendali, dan tenggelam saat bibir mereka saling bertautan. Sialnya, baru kali ini Cliff salah mengira.
Suasana lingkungan perumahannya sudah sepi. Ia pun langsung berbelok masuk ke area pekarangan rumah, lalu keluar dari mobil hanya untuk membuka pintu garasi. Setelah memarkirkan mobil di dalam sana, ia pun segera menutup pintu garasi, kemudian berjalan menuju pintu masuk rumah yang tidak dikunci.
Martha, yang setia menunggu kedatangannya hingga tertidur di sofa single di ruang tamu, langsung terbangun saat mendengar entakkan pintu. Cliff masih belum bisa menakar kekuatannya yang menggebu-gebu akibat letupan gairah yang masih menyelimutinya hingga saat ini.
“Malam, Sir,” sapa Martha serak dan lemah sembari melangkah menuju pintu, kemudian menguncinya. Cliff tidak membalas sapaan itu dan memilih untuk segera menaiki anak tangga. Ia sudah tidak tahan lagi. Cliff harus mandi, karena hanya itu jalannya agar ia bisa meredam gelora panas dalam tubuhnya.
“Kusut sekali,” celetuk Mors saat Cliff membanting keras pintu kamarnya.
“Semuanya berantakan! Kau tahu? Semuanya berantakan!” seru Cliff seraya menggeram penuh amarah sembari melangkah masuk dan membuka kemejanya dengan cepat. Mors tidak menjawab, hanya memperhatikan dirinya dengan raut datar, tak terpengaruh sedikit pun dengan luapan amarahnya.
“Molly benar-benar tidak bisa diprediksi, begitu juga dengan masalah yang mengikutinya,” lanjut Cliff geram saat melempar kemejanya begitu saja ke tempat tidur. Napasnya terengah-engah, campuran antara gairah dan letupan amarah.
“Kau pengacara andal. Apa kau tidak bisa menyelesaikan kasusnya?” ujar Mors tenang, terdengar seperti meremehkan keahliannya. Cliff melemparkan tatapan tajam pada Mors yang malah menyunggingkan senyum tipis ke arahnya.
“Kau bercanda? Kasus ini sangat mudah, bahkan aku bisa menyelesaikannya dalam sekejap,” sahut Cliff angkuh seraya berkecak pinggang dan menatap Mors dengan raut kesal.
“Lalu, apa masalahnya?” tanya Mors santai disusul decak geli, “kau kelihatan konyol, Cliff. Setelah sekian lama, baru kali ini kau tampak sekacau ini.”
Tentu saja Mors belum pernah melihatnya sekacau ini setelah sekian lama. Keadaannya paling kacau adalah saat di mana ia meringkuk di bawah kasur asrama, bersembunyi dari teman-teman yang berniat menyakitinya. Cliff bahkan masih ingat bagaimana sulitnya ia menahan isak tangis dan sakit di tubuhnya selama bersembunyi.
Sialnya, saat itu ia lemah. Mereka menemukannya dengan mudah dan menghajarnya hingga babak belur. Beruntung saat itu Mors menyelamatkannya, dan untuk sekian tahun lamanya kata-kata itu terucap kembali di bibir Mors. ‘Kau kelihatan konyol’.
Cliff mendengus kesal. Ingatan akan masa lalu yang bercampur dengan gejolak gairahnya saat ini, membuat Cliff semakin sulit untuk berpikir jernih. Dengan kasar, Cliff menyisirkan jemari di rambut.
“Masalahnya adalah Molly!” ujar Cliff kesal, “sejak awal aku sudah yakin kalau semua yang kita rencanakan ini adalah kesalahan. Tapi kau berhasil meyakinkanku bahwa menikmati tubuhnya bisa membuat duniaku kembali tenang. Kau salah, Mors! Meminta Molly membayar jasaku dengan tubuhnya adalah kesalahan. Beruntung dia memiliki banyak uang sekarang. Kalau tidak, aku pasti akan semakin sulit untuk melepaskan diri darinya. Kau tidak tahu betapa sulitnya semua ini bagiku, Mors! Kau tidak tahu!”
“Aku tidak pernah salah, Cliff,” balas Mors tenang, tak tampak sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. Senyum kecil itu seakan mengejek kelemahan dirinya yang tampak jelas setiap kali berhadapan dengan Molly. Cliff mengerut bingung, lalu menggeleng kesal karena Mors sama sekali tidak mengerti kekacauan batinnya saat ini.
Matanya tertuju pada jam dinding yang tergantung di kamar. Sekarang sudah pukul 02.00. Artinya, ia memiliki waktu kurang dari lima jam untuk istirahat. Cliff harus segera beristirahat agar bisa berpikir jernih saat bertemu dengan Molly nanti. Ia tidak ingin pikirannya kabur dan hilang arah lagi hanya karena kurang tidur.
“Tidak, Mors. Kau salah!” sangkal Cliff geram, lalu berbalik dan melangkah cepat menuju kamar mandi. Cliff sudah tidak bisa menahan luapan amarahnya lagi. Berbicara dengan Mors saat ini adalah kesalahan, dan baru kali ini Cliff berselisih paham dengan Mors hanya karena Molly. Seorang wanita yang mampu meluluhlantakkan seluruh dunianya dalam sekejap.
*****
“Sial!” geram Brad sembari memukul meja kerjanya. Sudah lebih dari satu jam Brad duduk di belakang meja sambil memikirkan apa yang Cliff katakan saat berada di ruang interogasi dengan Molly tadi.
Sesungguhnya, Brad tidak pernah berpikir kalau Molly akan mampu menyewa seorang pengacara. Namun, ketika Cliff menyebutkan nama dan mengaku sebagai pengacara Molly, saat itu pula Brad menyadari bahwa wanita itu akan menjadi masalah besar bagi dirinya. Ia tahu bagaimana Cliff Franklin sangat piawai dalam memenangkan setiap kasus yang ditangani. Itulah yang membuat Brad tak mampu mengendalikan luapan rasa takutnya saat berbicara dengan pria itu tadi.
Tak lama setelah percakapan yang tidak menyenangkan itu, Brad pun memutuskan untuk langsung pulang ke apartemennya. Sesampainya di apartemen, ia bergegas mengambil beberapa botol bir, lalu membawanya ke meja kerja yang berada tepat di dalam kamar tidurnya. Ia meneguk bir hingga tandas sebelum membuka botol yang lain dan meneguknya kembali.
Brad berharap ia bisa menenangkan diri dengan meneguk beberapa botol bir, namun nyatanya ia bahkan tidak mampu melupakan pintarnya cara Cliff memanipulasi dan membalikkan semua ucapannya dengan mudah. Molly, yang hanya bisa terdiam, tampak terlindungi dan tak tersentuh saat berada di sisi pria itu. Sial!
“What should I do? What should I do?” geram Brad berulang-ulang, sementara jemarinya yang gemuk dan besar memijat kepalanya yang terasa pening. Matanya tertuju pada kedua map di meja kerja. Map pertama berisi tentang kasus pembunuhan Nora dan map kedua adalah laporan hasil pembobolan apartemen Molly.
Ini bukan kemauannya. Brad hanya menginginkan kehidupan yang layak dan jabatan yang tinggi. Saat mengetahui tentang kematian Nora, Brad sangat terkejut dan terpukul. Ia bahkan langsung mengambil kasus tersebut demi menemukan si pelaku.
Brad tahu kalau Nora memang dibunuh tanpa harus menyaksikan rekaman CCTV berulang kali. Ia juga berniat menemukan pembunuhnya dalam waktu singkat. Namun, semuanya berubah setelah ia menerima telepon beberapa hari semenjak menangani kasus tersebut.
Hingga saat ini, ia tidak tahu siapa yang meneleponnya. Tapi permintaan orang itu benar-benar jelas. Menghentikan penyidikan. Awalnya, Brad berusaha menolak, namun saat sejumlah uang yang sangat banyak masuk ke rekeningnya, seketika itu pula ia bertekuk lutut. Orang itu pun menjanjikan bahwa ia akan memperoleh jabatan yang lebih tinggi lagi setelah berhasil menenggelamkan kasus ini begitu saja.
Tentu saja, Brad tidak bisa menolak. Ia masih memiliki tiga orang anak yang saat ini tinggal bersama mantan istrinya di sisi lain Australia. Hanya ini caranya agar dirinya bisa tetap berhubungan dengan ketiga putri kecilnya. Jika ia tidak mengirimkan uang untuk memenuhi keperluan anak-anaknya, mantan istrinya selalu mengancam akan memutus komunikasi antara dirinya dengan anak-anak. Tidak! Brad tidak bisa membiarkan wanita itu menjauhkan anak-anak darinya.
Semenjak itulah, Brad mulai menghentikan penyidikan dengan alasan kurangnya bukti. Sikapnya pun mulai berubah terhadap Molly. Ia bahkan membuat Molly membencinya dengan meminta wanita itu tidur dengannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan demi mencegah Molly yang selalu bersikeras memaksanya untuk melanjutkan penyelidikan.
Brad tahu, Molly tidak akan pernah memiliki uang untuk menyewa pengacara. Namun betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa wanita itu malah didampingi pengacara ternama yang bisa menghancurkan dunianya dengan mudah.
Brad pun mulai merasa masa-masa tenangnya akan segera berakhir. Tidak! Ia tidak bisa kehilangan semua kenyamanan ini. Akhirnya, Brad bergegas menarik ponsel keluar dari saku celana, lalu menghubungi seseorang yang menjadi kunci dari semua kejadian yang terjadi di kehidupan Molly.
“Ada masalah,” lapor Brad cepat saat pria di ujung sana menyapanya dengan suara datar dan dingin. Ia tidak tahu apa yang mendasari kebencian pria itu terhadap Nora dan Molly. Tapi ia tidak peduli, bahkan tak berusaha mencari tahu. Yang ia pedulikan hanyalah ketenangan hidupnya sendiri.
“Apa?” sahut pria itu tenang.
“Cliff Franklin menjadi pengacara Molly sekarang,” jelasnya cepat, “apa yang harus kulakukan? Dia pasti akan segera mengetahui apa yang terjadi pada Nora.”
“Teruslah mengulur-ulur waktu dengan kelicikanmu itu. Pembunuh bayaranku akan segera mengurus Molly. Jadi, tenanglah,” sahut pria itu tanpa merasa terusik sedikit pun dengan kehadiran Cliff di tengah masalah ini.
“Baiklah. Segera selesaikan urusanmu dengan Molly. Aku tidak tahu seberapa lama aku bisa mengulur waktu ini,” jelas Brad tegas bercampur panik dan takut.
“Ingat posisimu, Brad! Lakukan saja tugasmu. Kau tidak berhak memerintahku!” tegur pria itu sebelum memutuskan panggilannya begitu saja.
Dengan geraman penuh amarah, Brad mempererat genggaman di ponsel sembari menatap layarnya yang gelap. Ia harus segera mencari cara terbaik dan alasan yang masuk akal untuk mengulur waktu. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk meletakkan ponsel di meja, lalu masuk ke kamar mandi. Ia harus istirahat dan menenangkan diri.
*****
Molly berbaring di tempat tidur, namun pikirannya tidak tenang. Matanya terpejam, tapi rasa kantuknya sudah hilang semenjak Cliff memutuskan meninggalkannya begitu saja di tengah letupan gairah. Molly tidak bisa melupakan bagaimana bibir Cliff melumat bibirnya. Ia bahkan masih bisa mengingat dengan jelas sensasi kejantanan Cliff mengeras di balik celana bahan yang pria itu kenakan, menyentuh dan mendesak perutnya.
Molly membuka mata, menatap langit-langit kamar disertai napas yang terengah-engah. Rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya membuat Molly menyibakkan selimut, lalu turun dari tempat tidur. Ia langsung mengambil remote pendingin ruangan yang tersemat di dinding, berniat mengatur suhunya. Namun, saat embusan angin dingin menerpa wajahnya, ia tetap saja merasa kepanasan. Molly butuh sesuatu yang lebih dingin untuk meredam rasa panas dalam tubuhnya.
Ia pun berjalan menuju lemari pendingin yang berada di dekat meja TV. Molly meletakkan remote AC di meja, lalu membuka lemari pendingin dan mengambil sekaleng soda. Suara mendesis terdengar saat ia membuka penutup kaleng.
Tanpa berlama-lama, Molly segera meneguk minuman tersebut dan merasakan kesejukan menjalar dari tenggorokan hingga menyebar ke seluruh tubuh. Sensasi semriwing yang menyentuh lidah malah membuat mata Molly semakin segar. Setelah beberapa tegukan, Molly menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan cepat.
Ia berharap rasa panas di tubuhnya menghilang setelah meminum sekaleng soda dingin. Tapi nyatanya, kesegaran itu hanya bertahan sesaat, dan gelombang panas pun kembali menyelimuti dirinya. Molly menghela napas kesal, lalu menyalakan TV, kemudian duduk di pinggir tempat tidur, berharap matanya lelah akibat menonton berita yang sangat membosankan.
Molly terus menatap layar TV, sementara pikirannya tertuju pada Cliff. Ia tidak mengerti mengapa Cliff menciumnya seperti itu. Rona merah muda pun mulai mewarnai wajahnya saat membayangkan pelukan hangat Cliff.
Tubuh mereka terasa seperti memang diciptakan untuk menyatu, dan hal tersebut benar-benar membuat Molly takjub. Ia pun segera meneguk soda dingin setiap kali merasakan gelenyar yang menggelitik di punggungnya saat bayangan bibir Cliff terbersit liar di pikirannya.
Baru saja ia meneguk habis minumannya, terdengar ketukan di pintu yang langsung membuat Molly menoleh cepat. Tubuh Molly menegang seketika, jantungnya pun berdegup lebih cepat dari sebelumnya, bahkan napasnya tercekat saat ketukan di pintu kembali terdengar untuk yang kedua kalinya. Dengan gerakan pelan dan hati-hati, ia meletakkan kaleng soda di meja TV, lalu berjalan mengendap-endap menuju meja kecil di samping tempat tidurnya untuk mengambil ponsel.
Meskipun tidak mungkin seseorang bisa mendengar pergerakannya dari balik pintu, tapi Molly berusaha untuk tetap waspada. Ia tidak ingin menciptakan peluang bagi siapa pun di balik pintu itu—yang kemungkinan besar memiliki niat untuk mengancam keselamatannya. Molly mengambil ponsel, lalu mengetik nama Cliff secara spontan di daftar panggilnya.
Sebelum menghubungi pria itu, Molly berpikir sejenak. Sekarang pukul 03.55, dan kemungkinan besar saat ini Cliff sudah tidur. Membangunkan pria itu hanya karena ancaman ketukan di pintu, membuatnya tampak seperti seorang wanita yang pengecut dan bodoh. Akhirnya, ia pun mengurungkan diri untuk menghubungi Cliff, lalu memberanikan diri untuk berjalan mendekati pintu.
Dengan debaran jantung yang begitu cepat, Molly mengintip dari lubang kecil di pintu, tapi tidak melihat siapa pun di sana. Molly mundur selangkah, lalu memejamkan mata. Ia berusaha untuk kembali tenang dan menganggap bahwa ketukan itu hanya halusinasinya saja. Sedetik kemudian, ia pun berbalik dan melangkah menuju tempat tidur.
Namun, baru saja ia bersandar di sandaran tempat tidur, suara ketukan itu kembali terdengar, dan kali ini lebih menuntut dari sebelumnya. Tubuh Molly membeku. Tangan dan kakinya terasa sedingin es. Keadaannya kali ini berbanding terbalik dengan kondisi sebelumnya, saat ia masih diselimuti gairah akibat ciuman panasnya dengan Cliff.
Molly turun dari tempat tidur, lalu berjalan beberapa langkah dan berhenti tepat di samping meja TV. Ia mematikan TV agar bisa mendengar dengan baik, kemudian meletakkan remote-nya secara perlahan-lahan. Molly menatap lurus pintu kamar yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Ia pun menunggu dan menunggu, berharap bisa mendengar pergerakan di balik pintu.
Suasana begitu hening. Bahkan, ia bisa mendengar debar jantungnya berdentum hingga ke telinga. Tangan Molly yang dingin, menggenggam ponsel seolah-olah benda tersebut adalah satu-satunya penyelamat hidupnya.
Beberapa detik telah berlalu, namun waktu terasa berjalan begitu lama. Tiba-tiba, ketukan itu terdengar lagi dan semakin keras. Akhirnya, Molly memberanikan diri melangkah menuju pintu, lalu mengintip lagi dari lubang kecil. Tetap saja, ia tidak menemukan siapa-siapa di sana.
Tidak ingin menunggu lebih lama lagi, Molly segera menekan nama Cliff. Molly tidak tahu apakah pria itu akan menjawab panggilannya. Ia juga tidak tahu bagaimana sikap pria itu setelah ciuman mereka tadi. Namun saat ini, Molly berusaha mengesampingkan ketertarikan yang sangat kuat di antara mereka berdua, karena keselamatannya sedang terancam sekarang. Setelah lima kali nada dering, akhirnya pria itu menjawab panggilannya.
“Cliff … m-maaf mengganggu tidurmu. Tapi … dari tadi ada yang … ada orang yang … mengetuk pintuku,” ucap Molly langsung sembari menjaga suaranya yang gugup, campuran antara gairah dan takut. Pria itu tidak berbicara sepatah kata pun, dan panggilannya terputus begitu saja.
Molly menjauhkan ponsel dari telinga, lalu menatap layarnya dengan raut bingung. Molly berharap Cliff segera datang dan menemaninya di sini sampai ia merasa aman dari seseorang yang tampaknya tidak akan berhenti mengganggu ketenangannya sebelum berhasil mencabut nyawanya.
Molly segera menjauh dari pintu, kemudian berjalan menuju pintu. Ia duduk di kursi yang ada di dekat meja TV dengan tatapan terus tertuju ke pintu. Jantungnya masih berdebar cepat, ketakutan. Sementara, suasana hening kamar membuat keadaan semakin mencekam.
Ia menekuk kedua kaki ke depan dada, lalu memeluknya. Ketakutan semakin menyelimuti, dan rasanya ia ingin sekali menangis. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Molly segera membaca sebuah pesan masuk dari Cliff, dan seketika itu pula ia merasa sedikit lebih tenang.
‘Aku dalam perjalanan ke sana.’
*****
