Can I Trust You? – BAB 11 – BAB 15

BAB 11

10.000 Dollar!

Mata Molly terbelalak dan bibirnya terbuka lebar mendengar harga yang Cliff ucapkan. Bahkan saking terkejutnya, ia bisa merasakan bagaimana jantung, napas, serta seluruh aliran darah dalam tubuhnya berhenti seketika. Cliff, yang berdiri cukup jauh dari tempatnya duduk, malah terlihat begitu tenang seakan menganggap 10.000 Dollar adalah nilai yang kecil.

Cliff memasukkan salah satu tangan ke dalam saku celana, sementara tangan yang lain mencengkeram pinggiran grand piano. Tubuh tinggi dan tegap itu terlihat serasi dengan piano hitam, membuat pesona tegas dan mengancam Cliff terasa begitu kuat. Tatapan Cliff begitu tajam, mengunci Molly yang masih tenggelam dalam keterkejutannya.

“K-kamu tidak salah? 10.000 Dollar?” ulang Molly, berharap pendengarannya salah.

“Minimal. Jangan lupakan kata itu,” jawab Cliff tenang. Molly tidak mengerti bagaimana seseorang bisa bersikap setenang dan sedamai itu. Cliff tampak seperti tak memiliki emosi sedikit pun, sedangkan dirinya sedari tadi berusaha keras agar tidak menangis sewaktu menceritakan kembali tentang pembunuhan itu.

Tak ada ekspresi yang berarti di wajah Cliff. Bahkan senyuman kecil yang sempat terlihat di ujung bibir pria itu, sekedar menunjukkan bahwa Cliff menyimak setiap ucapannya. Mungkin, Cliff sudah sering mendengar masalah seperti yang ia alami. Atau, mungkin juga Cliff menganggap masalahnya tidak terlalu menarik.

Molly tidak tahu apa yang Cliff pikirkan. Tapi saat ini ada yang lebih penting dari sekedar membaca mimik wajah pria itu. Ia harus memikirkan bagaimana caranya agar Cliff mau menangani kasusnya. Molly menarik napas panjang, berpikir sejenak sembari terus menatap Cliff dengan debaran jantung tak tenang.

“Emm, bolehkah … maksudku, apa boleh kurang?” tanya Molly ragu dengan suara pelan.

Seumur hidupnya, Molly tidak pernah berurusan dengan seorang pengacara. Molly juga tidak tahu apakah seorang klien boleh menawar jasa pengacara sebelum mengurus suatu masalah. Meskipun Molly malu menanyakan hal ini, setidaknya ia harus mencoba.

“Kurang?” ulang Cliff menaikkan salah satu alis mata, seakan pertanyaan Molly adalah hal teraneh yang pernah pria itu dengar. Molly hanya bisa mengangguk kaku disertai senyum malu.

Ia tidak tahu apakah pertanyaan itu sudah membuat Cliff tersinggung atau tidak. Molly hanya berharap semoga saja pria itu tidak mengusirnya. Ia tidak meminta pria itu untuk membantunya secara suka rela, namun setidaknya Cliff mau memberinya harga spesial, mengingat dirinya bukanlah orang berada seperti klien-klien yang biasanya pria itu tangani.

“Kamu menawar jasaku?” tanya Cliff lagi, mempertegas pertanyaan Molly. Ia bisa merasakan gelombang panas mulai mewarnai wajahnya. Molly langsung tertunduk malu dan mencengkeram tali tas seerat mungkin, berusaha menekan rasa gugup dan takut yang terasa semakin menyesakkan dada.

“Kenapa kamu tidak mencoba mencari pengacara lain yang sesuai dengan kemampuan keuanganmu?” tanya Cliff datar, bingung dengan keberanian Molly untuk menawar. Molly mengangkat wajah, menatap raut datar Cliff yang membuatnya semakin sulit bernapas.

“K-karena … aku tidak … hanya saja … aku tidak mau,” jawab Molly jujur.

Tentu saja ia bisa mencari pengacara yang lebih murah. Tapi ia tidak mau. Lagi pula, Molly enggan untuk mengungkapkan kembali masalah ini kepada orang asing. Datang ke sini dan menceritakan semuanya pada Cliff saja sudah menguras hampir tiga per empat tenaga dalam tubuhnya.

“Tidak mau? Kenapa?” tanya Cliff yang mulai melipat kedua tangan di depan dada, tampak curiga. Molly bukanlah tipe orang yang mudah percaya pada orang lain. Jika bukan karena saran Kevin, dapat dipastikan ia tidak akan berada di sini dan meminta Cliff menjadi pengacaranya.

Ini adalah kasus pembunuhan, dan Molly menyadari pasti ada alasan di balik kematian mama. Ia tidak ingin gegabah. Ia bahkan semakin menutup diri dan selalu waspada terhadap orang lain, terutama orang asing semenjak kejadian itu.

Saat memutuskan untuk menceritakan kasus ini pada Cliff, Molly sudah bertekad tak akan pernah mengungkapkan masalah ini pada siapa pun, apalagi mencari pengacara lain. Karena, jika semakin banyak orang yang tahu, maka semakin kecil kesempatannya untuk melanjutkan penyelidikan ini.

Molly tidak bodoh. Ia mengetahui betapa besar kekuatan uang untuk membungkam dan menghilangkan kasus kematian mama, seakan kejadian itu tidak pernah terjadi. Hal itu bisa terlihat dari tawaran yang Brad berikan padanya. Seandainya Molly memiliki uang banyak dan bisa membayar Brad, pria tua itu pasti tidak akan melecehkan dirinya dengan ucapan yang menghina dan merendahkan.

Namun saat ini, Molly kembali dihadapkan pada kuatnya kuasa uang. Usahanya untuk menawar jasa Cliff dan bagaimana cara pria itu merespons, menghapus harapan Molly seketika. Ingin rasanya ia menangis, memohon, bahkan berlutut di hadapan Cliff agar pria itu mau berbaik hati memberikan harga spesial padanya. Tapi Molly tidak ingin merendahkan dirinya seperti itu.

“A-ada alasan tersendiri … ada sesuatu yang … ah, lupakan saja, itu tidak penting. Jadi, apakah boleh kurang?” jawab Molly gugup sembari mencoba peruntungannya sekali lagi.

Cliff terdiam sejenak, tampak sedang menimbang sesuatu. Molly menunggu dan menunggu hingga akhirnya pria itu beranjak dari sisi piano, lalu berjalan menuju jendela yang berada di belakang sofa yang ia duduki. Mata Molly mengikuti pergerakan pria itu hingga mengubah posisi duduknya agar bisa menatap Cliff dengan jelas. Pria itu menatap ke luar jendela, terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri selama beberapa saat.

Suasana rumah yang sangat sunyi membuat waktu berjalan semakin lama. Ia belum pernah merasakan suasana hening seperti ini. Rumah Cliff terasa seperti tidak memiliki jiwa. Sunyi, sepi, bahkan terkesan menyeramkan meskipun warna putih terang mendominasi interior rumah. Molly juga bertanya-tanya akan keberadaan wanita yang menemuinya pertama kali. Karena hingga saat ini, ia tidak melihat wanita itu lagi.

Embusan napas panjang Cliff, mengalihkan pikiran Molly dari rumah dan wanita tua itu. Ia pun spontan berdiri dari sofa dan menatap Cliff dengan penuh harap. Pria itu berbalik dan menatap Molly dalam-dalam. Ia bisa menangkap kerisauan di mata itu, tampak seperti berusaha mengambil keputusan yang terberat dalam hidupnya.

“10.000 Dollar,” ucap Cliff serak dan berat, “itu harga yang tepat untuk menangani kasus ini.”

Kali ini, Molly benar-benar yakin kalau tak ada lagi harapan untuknya. Dadanya terasa seperti diperas dan air mata hampir menggenang menyadari bahwa sampai kapan pun ia tak akan pernah menemukan si pembunuh. Dengan perasaan hancur dan kecewa, Molly menyunggingkan senyum lemah. 10.000 Dollar. Angka itu terpatri dalam ingatannya.

“Apakah dengan harga itu kamu bisa menjamin bisa menemukan pembunuh mamaku?” tanya Molly sambil berusaha menegarkan hatinya. Namun Cliff tidak menjawab pertanyaan Molly, hanya menatap tanpa ekspresi yang membuat dirinya semakin bingung.

“Kurasa … meskipun aku sanggup membayarmu, belum tentu aku bisa menemukan siapa pembunuhnya,” ucap Molly lemah dan pasrah. Air matanya kali ini benar-benar menggenang, tapi ia berusaha menahannya agar tidak menetes. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan perlahan.

“Kevin mengatakan kalau kamu adalah jalan keluar dari masalah ini. Kurasa … Kevin salah. Tak ada yang dapat membantuku, bahkan seorang pengacara terkenal sekali pun,” lanjut Molly lirih disertai senyum penuh kesedihan.

“Menemukan pembunuh adalah tugas polisi. Tugas pengacara hanya membantu klien untuk menuntaskan permasalahannya,” tegas Cliff yang membuat Molly tersentak.

Ya, Cliff memang benar. Sejak awal ia berharap Cliff mau menggunakan ketenaran dan kepiawaiannya untuk mendesak Brad agar segera menemukan pembunuh mama. Tapi, Molly salah. Berharap dan memercayakan masalahnya pada Cliff adalah sebuah kesalahan besar.

“Terima kasih sudah mau mendengarkan masalahku dan memperbolehkanku masuk,” ucap Molly akhirnya. Ia tidak akan berlama-lama lagi. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri dan mencari jalan keluar lain.

“Maafkan aku karena sudah mengganggu hari Sabtumu. Aku pamit,” ucap Molly disusul senyum lemah dan pasrah. Ia pun beranjak dari ruang tamu menuju pintu rumah, meninggalkan Cliff yang tak berkutik bahkan tak berusaha mencegah kepergiannya.

Napas Molly terasa sesak. Ingin rasanya ia menangis, menumpahkan rasa frustrasinya. Tapi ia tidak ingin menangis di depan Cliff. Ia tidak ingin orang lain menganggapnya lemah dan cengeng.

Hanya Kevin yang tahu bagaimana lemahnya Molly. Hanya Kevin. Dan sialnya, saat ini ia tidak bisa merajuk dan memeluk pria itu untuk menumpahkan kekecewaannya, karena mereka berjanji untuk menjaga jarak selama 2 minggu ini.

Molly harus mencari jalan keluar sendiri. Ia tidak boleh terus mengharapkan Kevin. Suatu saat, pria itu akan bahagia dengan wanita pilihannya dan membangun keluarga. Ia tidak ingin menjadi parasit dalam kehidupan Kevin. Ia harus kuat. Harus!

Ia pun menekan tuas pintu, lalu melangkah keluar dari rumah itu. Baru saja Molly menutup pintu, terdengar alunan piano yang langsung membuat dirinya terdiam sejenak. Molly berdiri di depan pintu dengan kepala tertunduk sembari mendengarkan betapa gelap, kelam, sedih, dan mendalamnya dentingan piano yang Cliff mainkan. Matanya terpejam dan air mata pun menetes saat alunan musik itu menyentuh hatinya yang terdalam.

*****

https://www.youtube.com/watch?v=VMaNmalbEU0

Entah sudah berapa kali Cliff memainkan ‘Requiem for a dream’ untuk melampiaskan perasaannya saat ini, tapi ia malah semakin tenggelam dalam pusaran kesedihan. Kerisauan dalam batinnya pun terasa semakin kuat. Jika saja Martha tidak muncul dan mengeluarkannya dari kekelaman yang ia rasakan saat ini, Cliff yakin ia bisa memainkan lagu itu hingga tengah malam. 

Napasnya terengah-engah. Dada Cliff terasa seperti diperas saat melihat Molly melangkah menghilang dari pandangannya. Ini salah! Sejak awal Cliff sudah menyadari bahwa menghampiri Molly adalah kesalahan. Namun, sisi liar dan kebutuhan akan aroma tubuh wanita itu mengendalikan akal sehatnya hingga ia bersikap gegabah.

Cliff beranjak dari kursi piano, lalu menutupnya dengan perlahan-lahan. Martha, yang sudah mengenalnya seperti Mors, menatapnya dengan penuh kasih sayang. Cliff tahu kalau Martha mengerti apa yang melanda pikirannya saat ini.

Rasa perih dan kilasan akan kejadian 23 tahun yang lalu seakan terpampang di hadapannya saat ini. Bunyi letupan senjata, merahnya darah mama, bahkan senyum sedih yang mama berikan padanya sebelum Salazar mencabut nyawa orang yang paling ia cintai, kembali menyelimutinya bak kabut asap yang membuat Cliff sulit bernapas. Martha menghampiri dirinya yang masih berdiri kaku di hadapan piano. Tatapan Cliff tertuju pada hitamnya penutup piano. Hitam kelam, sama seperti jiwanya.

“Apa Anda membutuhkan sesuatu, Sir?” tanya Martha lembut dengan sikap tenang seperti biasa. Cliff menggeleng kaku, lalu menatap wanita itu dengan tatapan dingin dan tajam. Martha tidak terpengaruh atau takut sedikit pun, karena wanita itu mengenalnya.

“Kami akan pergi sebentar lagi,” ucap Cliff seraya beranjak dari balik piano.

“Baik, Sir,” sahut Martha tenang. Cliff langsung melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dengan rasa perih dan sesak di dada, Cliff membuka pintu dan menemukan Mors yang mendengus geli.

Do shut up, Mors!” tegur Cliff kesal, lalu menutup pintu kamar.

“Sepertinya aku belum bicara apa-apa,” sahut Mors sinis.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan, Mors,” lanjut Cliff seraya berjalan menuju jendela.

Yeah, aku juga tahu apa yang kau pikirkan,” balas Mors dingin. Cliff menoleh ke arah Mors, menatapnya tajam dan geram selama beberapa saat sebelum ia kembali menatap ke luar jendela. 

Matahari bersinar cukup terik hari ini. Terlihat beberapa orang sedang berjalan kaki di trotoar, tampak asik dengan pembicaraan mereka masing-masing. Ada juga sepasang kekasih yang mendorong kereta bayi, terlihat begitu mesra dan penuh kasih sayang. Namun, tak satu pun dari semua itu menarik perhatiannya.

Saat ini pikirannya tertuju pada Molly dan masalah yang wanita itu bawa ke hadapannya. Ia terpaksa melontarkan nilai yang besar pada Molly agar wanita itu mundur dan mencari pengacara lain. Namun saat Molly menolak untuk mencari pengacara lain, Cliff malah semakin bingung dan penasaran. Ada rasa takut terselubung di setiap ucapan wanita itu yang membuat Cliff tak mampu mengusir bayangan wajah Molly dari pikirannya.

Ia menarik napas dalam-dalam, menyerap oksigen sebanyak mungkin agar dapat menenangkan perasaannya saat ini, tapi percuma. Kehadiran Molly sudah mengacaukan dunianya, dan Cliff tidak menyukai hal ini. Ia menyisirkan jemari di rambut, tanda frustrasi. Tawa kecil di belakangnya membuat Cliff berbalik, lalu melipat tangan kesal.

“Sudahlah! Aku yakin dia pasti akan kembali ke sini untuk meminta bantuanmu,” ucap Mors santai.

“Aku tidak berharap dia berpikir untuk kembali lagi ke sini. Ini salah Mors!” tegas Cliff sembari melangkah ke tempat tidur dan duduk di tepinya.

“Kenapa? Bukankah kau bilang kalau kau bisa menanganinya?” ingat Mors seakan ia lupa akan ucapannya sendiri.

“Aku memang berhasil menanganinya. Aku sudah membuatnya pergi dan menjauh,” jawab Cliff kesal terhadap tatapan Mors yang meremehkan keseriusannya.

“Kau mengelak,” ucap Mors geli bercampur sinis.

“Mengelak? Jangan bicara seakan kau mengetahui isi kepalaku, Mors!” tegas Cliff. Ia tidak suka jika Mors mulai ikut campur akan keputusannya mengenai Molly.

Yeah, aku tahu isi kepalamu. Aku tahu apa yang kau inginkan, apa yang kau rasakan padanya. Aku tahu Cliff, aku tahu. Kau dan aku sama. Kita menyukainya. Kita menginginkannya. Dan, kita membutuhkannya,” ujar Mors sinis, tegas, dan penuh ancaman.

Mors mengutarakan apa yang berusaha ia sembunyikan sejauh mungkin. Ia terus menatap Mors dengan penuh amarah. Ia tidak suka saat Mors mulai merasa seperti memiliki dirinya, mulai memengaruhi setiap keputusannya.

Dering ponsel mengalihkan tatapan Cliff dari Mors yang sedang menyunggingkan senyum sinis khas pembunuh berdarah dingin. Cliff beranjak dari tepi tempat tidur, lalu mengambil ponsel yang ia letakkan di meja kecil di samping tempat tidur. Nama Mr. Neandro terpampang di layar ponsel. Ia pun segera menjawabnya.

Cliff, ada masalah yang harus kau urus. Datanglah ke tempat Alexa, kita bertemu di sana,” ucap Mr. Neandro datar seperti biasa.

“Baik, Sir,” sahut Cliff patuh. Ia meletakkan ponsel kembali ke meja, lalu berbalik ke arah lemari pakaian.

“Melarikan diri dari kenyataan?” ejek Mors santai, membuat Cliff mendengus frustrasi. Ia tidak ingin menanggapi ejekan tersebut, dan segera mengganti pakaiannya. Mr. Neandro membutuhkannya sekarang. Setidaknya, ia bisa mengalihkan pikirannya sejenak dari Molly.

*****

BAB 12

Pria itu berdiri mengamati Molly dari kejauhan. Namun karena matahari masih bersinar terang, ia pun memutuskan untuk bersembunyi di balik mobil dan bersikap layaknya si pemilik kendaraan. Ia berusaha berbaur di suasana Sabtu yang cukup ramai, sementara matanya terus mengunci pergerakan Molly. Sesekali ia mengambil foto wanita itu secara diam-diam menggunakan kamera ponsel demi mengabadikan hasil pengintaiannya.

Ia sudah mengikuti Molly semenjak wanita itu keluar dari gedung apartemen tadi pagi. Ia tidak tahu apa yang Molly lakukan di salah satu rumah besar yang berada di daerah Epping. Hampir 2 jam lamanya ia menunggu dan mengamati Molly dari seberang rumah, hingga akhirnya wanita itu keluar dengan raut sedih.

Ia benar-benar tidak tahu apa yang membuat Molly tertunduk dan menangis. Ia bahkan tidak peduli. Tak ada seekor singa pun memedulikan apa yang mangsanya rasakan. Seperti itulah dirinya, mati rasa.

Hingga saat ini, ia tidak mengerti mengapa harus mengintai Molly selama lebih dari seminggu padahal wanita itu tetap akan mati di tangannya. Ia tahu, orang yang membayarnya pasti memiliki alasan tersendiri. Tapi itu bukan urusannya. Ia hanya melakukan sesuai perintah dan bayaran.

Setelah mengintai Molly yang memutuskan untuk berbelok masuk ke gedung apartemen, ia pun menunggu selama satu jam di sana. Hari ini, Molly tidak bekerja. Itulah yang ia dapatkan dari salah seorang informannya yang ia bayar untuk melakukan tugas ringan tersebut. Merasa bahwa wanita itu tampaknya tidak akan melakukan sesuatu kegiatan yang berarti, ia pun memutuskan untuk pulang dan kembali esok hari. Ini adalah tugas yang mudah dengan bayaran yang besar. Dan, ia menyukainya.

*****

Molly tiba di rumah sekitar pukul 14.00. Kaki dan tubuhnya terasa lelah, namun tak sebanding dengan rasa kecewa yang menyelimutinya saat ini. Harapannya untuk menemukan siapa pembunuh mama, pupus sudah. Sampai kapan pun, ia tidak akan mampu membayar Cliff.

Selama di kereta, Molly mencoba menenangkan perasaan dan pikirannya. Setelah menenangkan diri, ia pun mengulang kembali pembicaraannya dengan Cliff. Mungkin Cliff benar, menemukan penjahat adalah tugas polisi. Tapi setidaknya, jika ia memiliki pengacara andal, maka Brad dan timnya akan kembali melanjutkan penelitian.

Molly mengakui bahwa ucapannya sebelum keluar dari rumah Cliff adalah luapan amarah akan ketidakmampuannya untuk membayar pria itu. Oleh karena itu, Molly berusaha memutar otak bagaimana caranya agar bisa memiliki uang banyak dalam waktu singkat. Namun, sampai ia tiba di depan pintu masuk gedung apartemen, Molly belum juga menemukan satu pun cara.

Setibanya di apartemen, Molly melepaskan sweater, lalu meletakkannya di sofa panjang bersamaan dengan tas. Ia duduk di sofa sembari menghela napas lelah. Matanya menatap layar TV yang tidak dinyalakan, sementara pikiran Molly melayang ke sejumlah uang yang harus ia miliki. 10.000 Dollar. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? batin Molly sedih.

Ia melamun sejenak, dan nama Kevin kembali terbersit. Selama di kereta, Molly berusaha menahan keinginannya untuk menghubungi pria itu. Namun lagi dan lagi, nama Kevin kembali muncul dalam kepalanya.

Molly menoleh dan menatap tasnya sesaat, sebelum memutuskan untuk mengeluarkan ponsel. Ia berniat menghubungi Kevin dan meminta agar pria itu membantu mencari jalan keluar. Namun setelah menemukan nama Kevin di daftar panggilan, Molly menghentikan jarinya dan berpikir untuk yang ke sekian kali.

Molly menggeleng lemah, lalu meletakkan ponsel di meja sofa. Molly mengurungkan niatnya. Ia sudah terlalu sering menyusahkan Kevin. Mengutarakan masalah uang ini pada Kevin bisa berdampak buruk terhadap hubungan asmara pria itu. Dan, ia tidak mau Kevin kembali bersedih hanya karena keegoisannya.

Molly mengembuskan napas berat dan panjang. Ia kecewa pada dirinya sendiri. Kecewa karena tidak berhasil menemukan dan menghukum pembunuh mama. Embusan napas berat kembali melesat dari bibirnya saat ia bersandar di sandaran sofa, lalu memejamkan mata sejenak.

Tubuhnya yang lelah dan perasaannya yang campur aduk, membuat mata Molly terasa berat. Namun, dering ponsel yang cukup keras mengejutkan Molly dari kondisinya yang hampir saja terlelap. Ia membuka mata, lalu mengambil ponsel dan menemukan nama Kevin di layar. Molly berniat untuk tidak menjawab, tapi mengingat bagaimana sifat Kevin yang mudah khawatir terhadap dirinya, membuat Molly terpaksa mengusap layar ponsel, lalu menempelkan ponsel ke telinga.

Bagaimana?” tanya Kevin cepat.

“Aku sudah bertemu dengannya,” jawab Molly setenang mungkin, meskipun keinginan untuk mengungkapkan permasalahannya sangatlah kuat.

Lalu?” desak Kevin.

“Dia sibuk,” jawab Molly berbohong.

Sibuk?” ulang Kevin tak percaya.

“Ya. Katanya …, dia sedang menangani kasus penting. Jadi … dia belum tertarik,” jelas Molly sebaik mungkin, berharap Kevin percaya.

Kamu yakin? Bagaimana kalau aku coba cari pengacara lain? Aku bisa minta tolong ke kerabatku yang lainnya, siapa tahu mereka punya kenalan,” usul Kevin, menawarkan bantuan untuk yang ke sekian kalinya.

“Tidak perlu, Kev. Lagi pula … kurasa aku berniat untuk memintanya sekali lagi setelah dia selesai menangani kasus yang sedang dikerjakan saat ini,” jelas Molly, tak sepenuhnya berbohong karena ia memang berniat untuk mengunjungi Cliff di saat uangnya sudah terkumpul.

Kamu yakin, Ly? Kamu tidak berbohong padaku, ‘kan?” tanya Kevin yang terdengar masih belum bisa memercayainya.

“Untuk apa aku berbohong? Sudahlah, Kev. Bukankah kamu masih harus bekerja?” kilah Molly berusaha menghentikan rasa penasaran Kevin.

Kita harus bicara nanti. Aku pulang jam 5 sore,” ucap Kevin terdengar tak sabaran.

“Tidak perlu, Kev. Sore ini aku mau ke Westfield, ada barang yang ingin aku beli,” tolak Molly beralasan.

Hmm, baiklah,” sahut Kevin setelah mengembuskan napas panjang, “kalau kamu membutuhkan bantuanku, jangan segan untuk mengetuk pintuku. Walaupun ada Cindy, aku akan berusaha meluangkan waktuku untukmu. Ingat itu, Ly.

“Aku tahu, Kev. Terima kasih banyak. Kamu akan selalu berada di daftar pertamaku ketika aku membutuhkan bantuan,” balas Molly dengan senyum kecil, merasa bersyukur karena ada orang sebaik Kevin.

You’re welcome. Sampai ketemu besok pagi,” ucap Kevin sebelum memutuskan panggilan. Molly meletakkan ponsel di sofa begitu saja. Ia kembali bersandar di sofa dan menenangkan perasaannya seusai menerima telepon Kevin. Setelah berhasil menenangkan pikiran, Molly pun memutuskan untuk menyiapkan makan siangnya yang kesorean.

Molly beranjak dari sofa, lalu melangkah menuju dapur. Ia mengeluarkan seporsi makaroni keju dari kulkas, lalu memasukkannya ke microwave. Setelah mengatur waktu memasak, Molly mengambil peralatan makan dan menunggu sejenak di meja makan. Setelah microwave berdenting tanda sudah selesai, ia pun segera mengeluarkan makanannya.

Aroma makaroni keju yang lezat menyeruak mengisi apartemen. Perutnya bergemuruh, merespons aroma tersebut. Ia meletakkan makanan di meja makan, lalu menikmatinya sembari memikirkan berbagai macam cara untuk mengumpulkan uang.

Sempat terbersit di pikirannya untuk menjaminkan apartemen pada pihak rentenir. Namun ide gila tersebut segera ia hapus dari pikirannya, mengingat dirinya tak akan pernah memiliki uang yang cukup untuk membayar semua hutang itu. Molly tidak ingin terlilit hutang yang dapat mengakibatkan dirinya ditendang keluar dari tempat ini oleh pihak penagih. Ia tidak mau kehilangan apartemen ini. Tidak akan pernah!

Sempat juga terbersit di pikirannya untuk meminta bantuan keuangan kepada atasannya. Tapi mengingat bagaimana pelit si pemilik kafe dan besar nominal yang akan ia ajukan, Molly kembali menghapus rencananya. Setelah selesai makan, Molly segera beranjak dari meja makan, lalu mencuci peralatan makan.

Tiba-tiba, ia teringat akan kotak rahasia mama. Ia mengetahui keberadaan kotak itu karena mama sempat lalai meletakkannya di atas tempat tidur beberapa tahun lalu.

Apa yang Mama sembunyikan di sana? Mengapa Mama tidak memperbolehkanku mengetahui isi kotak itu? Apakah ada sesuatu yang berharga di sana? Kalaupun ada, mungkin aku bisa menggunakannya untuk membayar Cliff, batin Molly yang langsung bergegas merapikan dapur, kemudian beranjak menuju kamar mama. 

Setibanya di depan pintu kamar mama, Molly terdiam sejenak. Semenjak kejadian naas itu, ia sama sekali tidak pernah masuk ke kamar ini. Terakhir kali ia membukanya hanyalah untuk mengambil salah satu gaun terbaik yang akan mama kenakan di dalam peti mati. Masih segar di ingatan Molly bagaimana cantiknya mama saat mengenakan gaun hitam pilihannya, meskipun sudah tak bernyawa dan terbaring tenang.

Itulah alasan Molly mengapa ia enggan membuka kamar mama meskipun hanya sekedar membersihkannya. Ia tidak ingin mengingat saat-saat menyedihkan itu. Ia ingin tetap kuat demi menemukan pembunuh mama.

Tapi sekarang, Molly seakan dibawa kembali ke masa suram itu. Ke masa di mana ia bersusah payah mengendalikan isak tangisnya ketika memilah-milah gaun yang akan mama kenakan. Kenangan manis akan kebersamaan mereka pun membuat air mata Molly menetes begitu saja. Rasa perih dan sesak di dada, membuat Molly memilih untuk menenangkan diri sejenak.

Butuh waktu sekitar 10 menit sebelum akhirnya Molly berhasil menghentikan isak tangisnya. Dengan berat hati, Molly menekan tuas pintu, lalu membukanya lebar-lebar. Aroma ruangan itu masih sama seperti tiga bulan yang lalu, meskipun sudah bercampur dengan kelembaban akibat tidak pernah dibuka. Aroma parfum mama masih tercium jelas, seakan mama masih berada di sana.

Dengan langkah berat dan tangis yang tertahankan, Molly melangkah masuk, lalu berhenti sejenak. Ia masih bisa membayangkan bagaimana mama berbaring di tempat tidur setiap malam. Molly bahkan masih mengingat keceriaan mama saat merapikan ruangan ini setiap pagi. Namun yang paling Molly ingat adalah saat terakhir kali mama mengenakan seragam perawat sebelum berangkat kerja pagi itu.

Saat itu ia baru keluar dari kamar dalam keadaan setengah mengantuk, karena selama dua hari berturut-turut ia mendapatkan shift terakhir. Mama sudah bangun dan berseragam rapi. Wajahnya tampak cantik dan ceria seperti biasa. Sementara rambut panjang Mama yang sewarna dengan rambut Molly, sudah tergulung rapi di dalam harnet.

Air matanya kembali menetes saat mengingat senyum ramah yang selalu menghiasi wajah mama. Pagi itu, mama memeluknya erat sekali, seakan sudah mengetahui bahwa itu adalah pelukan terakhir untuknya. Mama pun mendaratkan kecupan ringan di keningnya, dan tak lupa mengucapkan ‘I love you’ sebelum keluar dari apartemen. Molly merindukan mama. Sangat merindukannya.

Molly mengusap air mata dengan pelan sebelum memutuskan melangkah menuju meja rias. Sembari berusaha keras menekan rasa sedih yang menyelimutinya, Molly mulai memeriksa laci bawah, tapi kotak itu tak ada di sana. Ia pun beralih ke lemari pakaian, lalu memeriksa di setiap sudutnya. Tetap saja Molly tidak menemukan kotak tersebut.

Dengan embusan napas yang terasa berat, Molly menutup pintu lemari lalu berbalik dan melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ia mencoba mengingat-ingat di mana tempat terbaik untuk menyembunyikan sebuah kotak rahasia. Pandangannya pun tertuju pada kolong tempat tidur.

Molly beranjak dari depan lemari, kemudian memeriksa kolong tempat tidur. Tepat di bawah sana tersembunyi sebuah kotak berukuran sedang. Molly mencoba menggapai kotak tersebut, dan saat menyentuh gembok yang menggantung, ia pun segera menariknya.

Debu halus menutupi bagian atas benda tersebut, tanda bahwa kotak itu sudah lama tidak disentuh. Perhatian Molly tertuju pada gembok yang terkunci, menandakan bahwa sesuatu di dalam sana menyimpan sesuatu yang sangat penting dan berharga. Tidak ingin menghabiskan waktu lama hanya untuk mencari keberadaan kunci gembok, Molly memutuskan mengambil palu di kotak perkakas.

Ia pun kembali ke kamar, lalu mengetuk gembok tersebut dengan sekuat tenaga hingga terlepas dari kaitannya. Jantung Molly berdebar cepat, berharap menemukan sesuatu yang berharga. Sambil terus berharap, Molly mulai membukanya.

Terdapat tiga album foto, dua kotak perhiasan, dan tiga map berwarna hitam. Molly mengangkat kotak tersebut, lalu duduk di tempat tidur mama. Ia mengeluarkan ketiga album foto, lalu meletakkannya di tempat tidur mama. Tak berniat membukanya sama sekali.

Molly pun langsung mengambil salah satu kotak perhiasan, lalu membukanya. Seketika itu pula mata Molly terbelalak. Di dalam kotak perhiasan tersebut terdapat beberapa pasang anting yang terbuat dari emas dan berlian. Ia tidak mengerti bagaimana mama bisa memiliki barang-barang mahal tersebut.

Di dasar kotak perhiasan terdapat beberapa surat kepemilikan. Nama mama tertera jelas di sana. Molly melihat tahun pembeliannya. Tahun di mana dirinya masih berusia 3 tahun. Molly meletakkan kotak perhiasan itu di tempat tidur, lalu mengeluarkan kotak yang satunya.

Mata Molly kembali terbelalak. Di dalam kotak itu terdapat beberapa kalung emas berhiaskan berlian yang ditumpuk sembarangan dengan bukti kepemilikan di mana nama mama juga tercantum di sana. Molly mengerut bingung. Ia tidak mengerti mengapa selama ini mama menyembunyikan semua perhiasan itu, dan memilih hidup sederhana. Bahkan bekerja keras demi membayar cicilan apartemen sementara mama bisa melunasinya dengan menjual seluruh perhiasan itu.

Masih dengan perasaan bingung bercampur kaget, Molly menutup kotak perhiasan, lalu meletakkannya begitu saja di tempat tidur. Ia pun mulai mengeluarkan ketiga map berwarna hitam yang sudah tampak lusuh. Perlahan-lahan, Molly membuka map pertama.

Di dalam map itu, terdapat aktaktae pernikahan dan surat kelahiran mama. Terdapat nama papa di akta pernikahan, namun Molly tidak berniat membacanya. Bagi Molly, semua kenangan dan keberadaan akan papa sudah ia kubur dalam-dalam semenjak pria itu memutuskan untuk meninggalkan mereka.

Molly beralih ke map kedua dan menemukan sebuah surat kepemilikan apartemen ini. Tersisa beberapa kali cicilan dan setelah itu, apartemen ini akan menjadi milik Molly sepenuhnya. Kemudian, ia pun beralih ke map ketiga dan terkejut bukan main saat menemukan surat yang ditulis dengan tangan. Sepertinya surat itu dari papa, dan dengan rasa penasaran ia pun membacanya.

 

‘Dear, My love.

Maafkan aku … aku terpaksa memutuskan untuk meninggalkan kalian berdua. Aku melakukan ini untuk kebaikan anak kita. Untuk kebaikanmu, My love.

Ini duniaku. Ini jiwaku. Aku tidak ingin kalian menderita dan menjadi sasaran orang-orang jahat hanya karena diriku. Aku bukanlah Papa dan suami yang sempurna, tapi aku berjanji akan selalu ada meskipun kalian tak melihat keberadaanku.

Maafkan aku, My love. Aku terpaksa pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal secara langsung, karena aku tahu, aku tidak akan sanggup.

Maafkan aku, My love. Besarnya rasa cintaku pada kalian berdua membuatku terpaksa mengambil keputusan sepihak. Mungkin kamu sulit untuk menerima keputusanku, tapi percayalah … aku akan hadir di setiap harimu meskipun kamu tidak melihatku.

Rawatlah anak kita dengan baik. Dan … kalau kamu berniat untuk kembali menikah dengan pria lain, aku akan merelakannya. Aku tahu … kamu membutuhkan seorang pria untuk menjadi pelindung dan tempat untuk mengadu. Aku mengerti akan hal itu, My love.

Tapi aku berjanji, aku akan selalu mengirimimu uang selama aku sanggup. Aku sudah membelikan beberapa perhiasan agar bisa kalian berdua gunakan di kemudian hari. Aku juga sudah membuatkan rekening khusus agar aku dapat mengirimimu uang dengan mudah.

Aku tahu, My love. Kamu berulang kali memintaku untuk berhenti, tapi aku tidak bisa. Ini adalah jiwaku. Ini adalah duniaku, dan aku tidak mau menyengsarakan kalian atas semua yang telah kulakukan selama ini.

Maafkan aku, My love. Maafkan aku. Kirimkan kecup dan peluk penuh cinta pada Molly, my beautiful little angel.

Selamat tinggal, My love.

Aku mencintaimu.

K. R. Malcom.’

 

Molly mengeluarkan surat itu dari map dan menemukan buku rekening di belakangnya. Dengan tidak sabaran, Molly membuka buku tersebut dan tercengang melihat betapa banyak uang yang tertera di sana. Seketika itu pula ia merasakan angin sejuk yang membuatnya yakin bahwa ini adalah jawaban untuknya.

Saldo di rekening itu sudah cukup untuk membayar Cliff, dan ia pun berniat menyimpan semua perhiasan tersebut. Namun, sebuah amplop putih yang terlihat masih baru, mengusik perhatian Molly. Di depannya tertera ‘untuk Molly’ dengan goresan tulisan mama. Ia pun segera membuka amplop tersebut, lalu membaca surat yang ada di dalamnya.

 

‘Dear, My little angel, Molly.

Anakku yang cantik, jika kamu menemukan dan membaca surat ini, artinya Mama sudah tenang di alam sana. Mama tidak tahu kapan dan bagaimana Mama akan meninggal. Namun sebelum semuanya terlambat, Mama ingin memberikan hak waris padamu. Harta yang seharusnya memang menjadi milikmu.

Dua kotak perhiasan itu adalah pemberian dari Papa, begitu juga dengan sejumlah uang yang ada di buku rekening. Papa sudah mempersiapkan semuanya sebelum pergi meninggalkan kita. Mama tidak berniat sama sekali untuk menggunakan semua harta pemberian Papa, karena Mama tidak sanggup. Mama terlalu mencintai Papa sehingga tidak tega menjual semua pemberiannya.

Tapi sekarang, semua ini adalah milikmu. Pergunakanlah dengan sebijaksana mungkin.

Kalau kamu bertanya apakah Mama masih berhubungan setelah kepergian Papa, maka jawabannya ‘ya, masih’. Tapi bukan berhubungan seperti yang kamu pikirkan, Sayang. Papa hanya mengirim surat tiga bulan sekali setelah mengirimkan uang. Mama menyimpan semua surat-surat itu dengan baik, karena hanya itulah bukti bahwa Papamu masih ada untuk kita berdua.

Jika kamu bertanya apakah Mama mengetahui di mana Papamu berada, maka jawabannya ‘tidak’. Mama sama sekali tidak tahu di mana dan apa yang Papa lakukan sekarang. Sudah lebih dari sepuluh tahun Mama tidak lagi mendengar kabar darinya, dan Papa juga sudah berhenti mengirimi uang.

Apa yang dia lakukan? Ke mana dia? Mama benar-benar tidak tahu. Alasan mengapa dia berhenti mengirimkan uang pun Mama tidak tahu. Tapi Mama terus mendoakannya agar dia dalam keadaan sehat dan bahagia. Mama juga berdoa agar Papa berhasil menemukan tujuan hidup yang selama ini dia cari. Kenapa? Karena cinta Mama pada Papa tak akan pernah hilang sampai kapan pun meski dia sudah meninggalkan kita.

Buku rekening, kartu ATM, dan surat pengalihan atas namamu sudah Mama persiapkan sebelumnya untuk berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk menimpa Mama. Datanglah ke bank yang tertera di sana, lalu berikan tanda pengenalmu, maka semua uang yang ada di rekening itu akan menjadi milikmu.

Pergunakan semua warisan yang kami tinggalkan ini dengan baik, Sayang. Hiduplah bahagia, jaga kesehatan, dan tetaplah menjadi anak kesayangan Mama dan Papa.

I love you, My little angel.

Mama.’

 

Air matanya berderai, campuran antara sedih, bahagia, dan kelegaan yang tiada tara. Akhirnya, ia tidak perlu bersusah payah mencari uang untuk membayar Cliff. Molly kembali memasukkan surat ke amplop, lalu merapikan semuanya.

Setelah itu, Molly bergegas membawa kotak rahasia mama ke kamarnya. Ia menyimpan kotak itu di dalam lemari, lalu menguncinya rapat-rapat. Tidak ada yang boleh tahu mengenai perhiasan-perhiasan itu.

Tujuannya sekarang adalah mencairkan uang yang ada di dalam rekening, lalu membayar Cliff dan meminta pria itu untuk menangani masalahnya. Jantung Molly berdebar cepat. Campuran antara antusias dan rasa kaget yang begitu besar. Ia pun keluar dari kamar tidur, lalu mengambil ponselnya di sofa. Dengan cepat, Molly mengirim pesan pada Kevin.

 

Kevin, aku minta ijin tidak masuk di hari Senin.
Ada sesuatu yang harus aku urus.

 

*****

BAB 13

Hari Senin yang cerah. Molly bangun dengan semangat dan ceria, bahkan mendahului alarm ponsel yang sudah ia pasang sebelum tidur. Meskipun kemarin ia masuk kerja dan mendapatkan shift ke tiga, tapi pagi ini Molly bangun dengan tenaga penuh walau tidur kurang dari 5 jam.

Kevin sempat mempertanyakan alasan dari izin mendadaknya. Karena setahu Kevin, tak ada yang rela mengambil libur di hari Senin, yang merupakan hari tersibuk di awal minggu. Bahkan, banyak pramusaji yang rela lembur di hari Senin demi mendapatkan tip tambahan.

Molly berusaha keras mencari alasan yang masuk akal. Namun karena dirinya begitu sulit berbohong di depan Kevin, akhirnya Molly pun mengatakan bahwa ia harus mengurus beberapa hal yang berhubungan dengan peralihan hak waris. Beruntung Kevin bisa mengerti dan tidak bertanya lebih lanjut. Ia pun melanjutkan pekerjaan seperti biasa sembari menyusun rencana berikutnya.

Sekarang, saat matahari sudah bersinar terang di balik gorden putih, Molly pun turun dari tempat tidur dengan antusias dan kepercayaan diri yang tinggi. Dengan langkah ringan, Molly berjalan masuk ke kamar mandi sambil bersenandung ria. Ia pun bergegas melepaskan pakaian tidur, lalu berdiri di bawah pancuran, dan mandi dengan cepat.

Perasaannya begitu riang dan rasa syukur menyelimuti Molly saat ini. Meskipun waktu itu Cliff dengan tegas mengatakan kalau hanya polisi yang mampu menemukan si pembunuh. Tapi setidaknya, Molly memiliki cukup banyak uang untuk meminta Cliff menggunakan segala macam cara agar pembunuh itu bisa segera ditemukan. Itulah kekuatan uang. Dan, baru kali ini Molly bahagia bisa menggunakan kekuatan itu.

Setelah selesai mandi, Molly memutar keran air, lalu beranjak keluar dari bawah pancuran. Saat sedang asyik mengeringkan tubuh, tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu apartemen. Tubuh Molly menegang seketika karena terkejut.

Dengan cepat ia melilitkan handuk di tubuh, lalu membuka pintu kamar mandi dengan perlahan-lahan. Ia tidak sedang menunggu seseorang. Kevin juga tidak mungkin mengetuk pintunya sepagi ini, karena Molly yakin pria itu pasti masih berada dalam pelukan hangat Cindy. Molly mengintip dari lubang kecil di pintu, namun tak menemukan siapa pun di sana. Ia mengaitkan rantai pengaman terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membuka pintu.

“Siapa?” tanya Molly pelan, tapi tak ada satu pun orang di lorong itu. Molly bergegas menutup pintu dan menguncinya, lalu bergerak mundur perlahan-lahan. 

Tiba-tiba, rasa takut langsung menyergapnya. Molly mulai membayangkan kejadian-kejadian terburuk yang dapat menimpa seorang wanita lajang yang hidup sendirian. Seketika itu pula, Molly semakin yakin bahwa ada misteri di balik kematian mama. 

Molly tidak tahu siapa yang melakukan hal ini dan apa tujuannya. Tapi satu hal yang ia tahu pasti, ada seseorang di luar sana yang berniat buruk padanya. Seseorang yang kemungkinan … menginginkan kematiannya.

Dengan secepat kilat, Molly berlari ke kamar, lalu menguncinya. Ia bersandar di pintu. Jantungnya berdebar cepat karena takut. Pikirannya langsung tertuju pada lemari pakaian dan kotak perhiasan mama yang ada di sana. Molly menyadari bahwa menyimpan semua perhiasan itu di dalam lemari akan mendatangkan malapetaka baginya. Maka dari itu, ia berniat membawa semua perhiasan itu ke bank dan menyimpannya di safe deposit box.

Tak ada yang tahu siapa yang baik dan jahat di dunia ini. Semua orang bisa berubah. Semua orang bisa menjadi serigala berbulu domba. Bahkan, semua orang bisa memiliki motif tersendiri untuk melakukan pembunuhan. Ya, semua orang bisa, dan Molly harus benar-benar selektif menentukan mana yang harus ia percaya dan mana yang tidak.

*****

“Ya, halo,” sahut pria itu datar, lalu mendengarkan permintaan dengan saksama.

“Seperti apa bentuknya?” tanya pria itu cepat. Seseorang di seberang sana mulai menggambarkan bentuk perhiasan yang harus pria itu ambil dari Molly. Sebuah kalung berlian dengan ukiran nama seseorang di belakangnya.

“Ada lagi?” tanya pria itu tenang. Bukannya menjawab, orang di seberang sana malah tertawa kecil selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan panggilan secara tiba-tiba. Pria itu menggeleng dan mendengus kesal, karena baru kali ini ia memiliki klien yang aneh dan banyak permintaan. Namun, sebuah pesan masuk dan bukti transfer uang ke rekening bank-nya membuat rasa kesal itu hilang dalam sekejap.

 

PERMAINKAN DIA!

 

Ia membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Senyum liar menghiasi wajah pria itu saat memperhatikan Molly yang baru saja bangun dari tidur nyenyaknya. Tak ada yang mengetahui keberadaan pria itu kecuali si pemilik unit yang ia sewa.

Tanpa diketahui Molly, pria itu sudah tinggal tepat di atas unitnya sejak kemarin sore. Molly sama sekali tidak menyadari bahwa setiap sudut apartemennya sudah dipasangi kamera tersembunyi oleh pria itu saat dirinya berangkat kerja kemarin. Dan tak ada seorang pun yang tahu bahwa pria itu sedang mengamati Molly dengan tatapan liar.

Barisan monitor yang menampilkan setiap sisi apartemen, membuat pria itu leluasa memperhatikan Molly yang saat ini beranjak menuju kamar mandi. Jantung pria itu berdebar cepat saat Molly mulai menanggalkan pakaian satu per satu. Tak dipungkiri, pria itu mulai merasakan ketertarikan tersendiri terhadap Molly. 

Selama ini, tak ada seorang pun menyadari bahwa setiap kali membunuh seorang wanita muda, pria itu pasti memerkosa dan menikmati tubuh korbannya terlebih dahulu. Dan sekarang, pria itu sudah tidak sabar ingin membunuh Molly.

*****

“Bagaimana hari ini? Lancar?” tanya Kevin santai. Pria itu membawa Molly langsung ke ruang karyawan saat ia tiba di kafe tepat pukul 16:30. Beruntung Kevin langsung mengambil jam istirahat agar bisa berbicara dengan leluasa. Anggukan cepat disertai senyum riang menghiasi wajah Molly saat menjawab pertanyaan Kevin.

Bagaimana tidak, Molly tak menyangka kalau rencananya pagi ini berjalan sangat lancar. Sebelum berangkat, Molly menghubungi pihak Bank dan menanyakan persyaratan apa saja yang harus ia bawa. Dan setelah seluruh dokumen yang ia bawa telah dipastikan keabsahannya, pihak Bank menyatakan kemungkinan dalam satu atau dua hari uang tersebut akan segera masuk ke rekeningnya. Molly juga tak lupa untuk menyimpan semua perhiasan di Bank tersebut.

“Lalu, ada angin apa kamu datang ke kafe? Kamu ‘kan ambil libur hari ini,” tanya Kevin penasaran.

“Aku mau ketemu sama Cliff,” jawab Molly jujur.

“Cliff? Ada masalah apa?” tanya Kevin cepat sembari memasang raut serius.

“A-aku hanya ingin bicara dengannya. Aku selalu teringat ucapanmu waktu itu. Lebih cepat lebih baik. Jadi … aku akan memintanya untuk segera menangani kasus Mama,” jelas Molly dengan tenang.

“Kamu yakin mau bicara dengannya di tempat umum seperti ini? Kenapa tidak meneleponnya saja? Lagi pula, bukannya kamu bilang kalau dia sedang menangani kasus penting?” tanya Kevin memastikan seraya mengerut bingung. Tampak jelas bagaimana pria itu masih belum percaya akan keberanian Molly.

“Sebenarnya aku takut. Tapi … aku lebih takut lagi kalau harus mendengarkan suaranya di telepon. Bahkan membayangkan wajahnya saja sudah membuatku merinding. Jadi kupikir … lebih baik bicara secara langsung,” ungkap Molly jujur. Namun entah mengapa, wajah Molly merona seketika saat mengingat bagaimana tatapan tajam Cliff yang menelitinya dengan saksama hari Sabtu lalu.

“Awas jatuh cinta, Ly,” goda Kevin disertai senyum geli.

“Astaga! Itu benar-benar tidak mungkin, Kev. Lagi pula, aku ke sini untuk memintanya jadi pengacara, bukannya jadi pacarku,” balas Molly cepat diiringi raut tersipu malu. Seakan tidak percaya dengan penolakannya, Kevin malah memutar bola mata dan menggeleng kecil.

“Lalu, bagaimana dengan bayarannya? Berapa banyak yang harus kita kumpulkan?” tanya Kevin cepat, kembali memasang raut serius.

“Tidak perlu, Kev,” balas Molly cepat, membuat pria itu mengerut bingung.

“Kenapa?” tanya Kevin tak kalah cepat.

“Kamu sudah terlalu sering membantuku. Lagi pula ….” Molly terdiam selama beberapa saat, berusaha mengatur kata-katanya sembari memperhatikan sekeliling ruangan. Ia tidak mau ada seorang pun mendengar pembicaraan ini.

“Lagi pula apa?” tanya Kevin tak sabaran. Molly memajukan tubuhnya, lalu mengarahkan bibir ke telinga pria itu.

“Aku akan membayarnya dengan uang warisan Mama,” bisik Molly cepat, tidak ingin siapa pun mengetahui bahwa ia memiliki sesuatu yang berharga. Atau lebih tepatnya, memiliki sesuatu yang dapat membuat orang baik berubah menjadi orang jahat. Uang. Dan saat ini, hanya Kevin yang ia percaya untuk menyimpan rahasianya.

“Sungguh? Kamu yakin itu cukup?” tanya Kevin masih terlihat ragu. Molly mengangguk cepat, berharap agar Kevin tidak bertanya lebih banyak lagi. Akhirnya, pria itu menghela napas panjang, terlihat lega sekaligus senang.

“Ingat, Ly. Aku tidak tahu seberapa besar warisan yang kamu miliki. Tapi kuharap kamu menggunakannya dengan bijaksana. Jangan lupa, aku akan selalu ada untuk membantumu. Pertolongan itu tidak selalu tentang materi, dan aku selalu siap kapan pun kamu membutuhkanku,” nasihat Kevin penuh perhatian dan kasih sayang.

Molly mengangguk pelan, lalu menghela napas lega. Ia sangat bersyukur masih memiliki Kevin di sisinya. Setidaknya, ia merasa aman karena Kevin akan terus ada untuk menjaganya. Sedetik kemudian, pria itu beranjak dari kursi panjang, lalu mengulurkan tangan ke arah Molly.

“Waktu istirahatku tinggal 15 menit lagi. Kamu pesan saja minuman seperti pengunjung yang lain. Aku akan menemanimu nanti sampai Cliff datang,” kata Kevin tenang disertai senyum kecil nan hangat. Molly menyambut uluran tangan itu, lalu beranjak dari kursi.

Mereka pun keluar dari ruang karyawan dengan langkah ringan. Tapi mereka tak sadar bahwa ada seseorang yang mendengar percakapan itu. Seseorang yang sudah dibayar oleh si pembunuh untuk memata-matai setiap gerak-gerik Molly selama di kafe. Seseorang yang memiliki kebencian tersendiri terhadap Molly.

*****

Waktu menunjukkan pukul 18.00, tapi Cliff belum juga muncul. Molly sudah menunggu lebih dari satu jam, bahkan minuman dalam gelasnya pun hampir habis. Kevin, yang sudah menghampirinya tiga kali, mulai memasang raut bingung sama seperti dirinya.

Molly mulai merasa bersalah akan ketidakhadiran Cliff. Ia berpikir pria itu memilih untuk tidak datang lagi ke kafe karena dirinya. Tak ingin berlama-lama lagi, Molly segera meneguk minumannya hingga tandas sebelum beranjak dari kursi. Ia yakin Cliff tidak akan muncul dan berniat untuk mengunjungi kediaman pria itu, lalu meminta maaf secara langsung.

“Kamu sudah mau pulang?” tanya Kevin cepat saat Molly membayar minumannya. Tak lupa ia memberikan tip untuk pramusaji yang melayaninya tadi.

“Kurasa dia tidak akan datang. Jadi …,” jawab Molly yang kemudian terdiam ragu.

“Apa?” tanya Kevin singkat.

“Kurasa aku akan ke rumahnya. Siapa tahu aku bisa bertemu dengannya di sana,” jawab Molly datar, masih terdengar ragu dengan keputusannya itu.

“Telepon saja, Ly,” saran Kevin tenang.

“Hah? Emmm, k-kurasa lebih baik menemuinya dan bicara secara langsung,” sahut Molly gugup. Kevin mengangguk paham, lalu menepuk bahu Molly sembari memasang raut khawatirnya yang khas.

“Kabari aku setibamu di sana, dan hati-hati di jalan,” pesan Kevin penuh perhatian. Molly mengangguk cepat, lalu melangkah ke luar kafe. Hiruk pikuk jalanan menemani dirinya saat melangkah menuju Stasiun Central.

Molly sudah bertekad kalau hari ini ia harus bicara dengan Cliff. Pria itu harus tahu kalau dirinya sudah memiliki uang untuk membayar jasanya. Dan setelah itu, ia akan meminta Cliff untuk segera mendesak Brad agar langsung melanjutkan penyelidikan atas kasus pembunuhan mama.

Aku akan menemukannya, Ma. Aku pasti menemukan pembunuh itu. Dia harus menerima hukuman yang setimpal. Harus!

Molly melangkah dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Tanpa Molly sadari, ada seorang pria yang mengikutinya dari belakang, mengamati setiap gerak-geriknya, bahkan sesekali mengambil fotonya dari kejauhan. Molly juga tidak tahu, bahwa semakin bertambahnya hari, maka keamanan dan keselamatannya pun semakin terancam.

*****

BAB 14

Langit malam yang cerah dengan taburan bintang dan sinar rembulan yang terang, mengiringi langkah Molly saat berjalan di trotoar menuju rumah Cliff. Daerah perumahan elite ini tidak sesepi pemukiman tempat tinggalnya. Sesekali pandangan Molly tertuju pada beberapa mobil yang lalu lalang di jalanan. Halaman parkir tiap-tiap rumah pun mulai terisi oleh kendaraan yang tampaknya baru tiba sehabis pulang kerja. Keberadaan para pejalan kaki yang berjalan di kanan dan kiri trotoar serta barisan beberapa mobil yang terparkir di pinggir jalan, membuat suasana malam ini cukup ramai.

Molly merapatkan sweater hitam kesayangannya, dan mencengkeram erat tali tas setiap kali ada orang yang berpapasan dengannya. Rasa takut akan kejadian yang menimpa mama, meningkatkan kewaspadaan dalam diri Molly. Ia pun mempercepat langkahnya saat melihat rumah Cliff di ujung mata. Molly memang baru satu kali ke daerah ini, tapi ia sudah menghafal letak tempat tinggal Cliff dengan mudah seakan ia sudah sering berkunjung.

Setelah mengetahui bahwa Cliff tidak muncul di kafe hari ini, entah mengapa Molly jadi merasa bersalah. Molly terus berpikir bahwa ketidakhadiran Cliff di kafe adalah kesalahannya. Ia berusaha mengingat apa saja yang sudah ia ucapkan waktu itu yang kemungkinan besar mampu membuat Cliff tersinggung.

Apakah dia kesal karena aku menawar jasanya? Apakah Cliff marah karena aku meragukan kepiawaiannya dalam menangani kasus? Atau … apakah dia tersinggung dengan luapan kekecewaanku?

Pertanyaan-pertanyaan itu seakan menghantui, membuatnya semakin merasa bersalah. Itulah mengapa ia berniat menemui Cliff dan mengutarakan permintaan maaf secara langsung. Setidaknya jika pria itu mau memaafkan, maka ia akan lebih mudah meminta Cliff agar mau menerima kasus pembunuhan mama. 

Molly berusaha mengesampingkan sifat dingin dan tegas Cliff. Bukan karena ia berniat terbiasa menghadapi sifat seperti itu, hanya saja Molly mencoba untuk bersikap dewasa. Ia berusaha menganggap bahwa sifat dingin dan tegas itu adalah sikap profesional yang Cliff pasang setiap kali berhadapan dengan klien. Ya, lebih baik Molly menganggapnya seperti itu. Setidaknya dengan begitu rasa takutnya terhadap Cliff sedikit berkurang.

Setelah berjalan beberapa puluh meter, akhirnya ia pun tiba di seberang rumah Cliff. Molly menoleh ke kanan dan kiri sebelum memutuskan untuk menyeberang. Rumah besar tanpa pagar itu tampak sepi saat ini, yang malah menambah kesan mencekam yang membuat siapa pun akan berpikir sepuluh kali untuk mendekat.

Sama seperti pertama kali ia berkunjung ke rumah itu, rumah Cliff terasa seperti tidak memiliki jiwa. Berbeda dengan rumah-rumah di sekitarnya yang tampak hangat dan memiliki jiwa masing-masing. Selama perjalanan menuju rumah Cliff, Molly memperhatikan beberapa rumah di sepanjang trotoar. Terdapat mobil-mobil yang masuk ke lahan parkir tiap rumah. Sambutan hangat anak dan istri saat suami tiba di rumah, menunjukkan bahwa kediaman itu memiliki jiwa dan kehangatan.

Rumah Cliff, meskipun terlihat besar dan luas, namun Molly bisa merasakan betapa kosong dan dinginnya suasana rumah itu. Bahkan saat ini, ketika Molly tiba di depan pintu rumah Cliff, tak ada kebisingan yang berarti yang mampu menunjukkan bahwa rumah itu memiliki penghuni. Rumah ini sama seperti pemiliknya. Dingin, mencekam, dan tampak tak memiliki jiwa.

Molly tidak tahu apakah Cliff ada di rumah, karena garasi mobil tertutup rapat. Namun lampu rumah yang menyala menandakan bahwa ada orang di dalam sana. Molly menarik napas panjang sebelum menekan tombol bel rumah yang tertempel di dinding dekat pintu. Ia menunggu dan menunggu hingga akhirnya terdengar seseorang memutar kunci pintu sebelum membukanya.

“S-selamat malam,” sapa Molly berusaha ramah disertai senyum kecil nan kaku. Benar saja, Molly kembali dipertemukan dengan wanita tua yang mulai menatapnya dengan raut wajah datar.

“Malam. Ada keperluan apa?” tanya wanita itu datar seraya meneliti Molly dengan saksama.

“Emm … saya mau ketemu sama Cliff. Apa dia ada di rumah?” jawab Molly jujur sembari tetap berusaha tersenyum ramah.

“Mr. Franklin tidak pulang sejak Sabtu kemarin,” jawab wanita itu cepat.

“Sabtu? A-apa dia bilang mau ke mana? Kapan kira-kira dia pulang ke rumah?” tanya Molly langsung, tak menyadari bahwa wanita yang berdiri di hadapannya tampak tidak menyukai pertanyaan yang ia lontarkan. Mendengar bahwa Cliff tidak pulang semenjak pertemuan mereka, membuat Molly kaget bukan main.

“Saya tidak berhak menanyakan ke mana Mr. Franklin pergi,” sahut wanita itu datar, menunjukkan loyalitasnya pada Cliff.

“Oh, maaf. Bolehkah saya titip pesan?” ujar Molly sopan.

“Silakan hubungi beliau di nomor ponselnya jika Anda memiliki keperluan yang mendadak,” tegas wanita itu, seperti menyuruhnya agar segera pulang.

“Baiklah,” sahut Molly merasa bersalah karena sudah melontarkan rasa penasarannya tanpa memperhatikan dengan siapa ia berbicara. Tanpa menunggu dirinya mengucapkan pamit, wanita itu langsung menutup pintu tepat di depan wajah Molly.

Ia tersentak bukan main menerima perlakuan dingin dan penuh penolakan itu. Setelah terdiam selama beberapa detik untuk menenangkan diri, akhirnya Molly memutuskan mengeluarkan ponsel dari tas. Molly mengetik nama Cliff di daftar kontak, yang ia peroleh dari Kevin. Sejenak Molly memikirkan kalimat apa yang harus ia gunakan untuk menyapa pria itu.

Hai? Halo? Apa kabar? Atau, di mana kamu sekarang? pikir Molly bingung dan ragu. Ia menatap nama Cliff beberapa saat di layar ponsel, dan memutuskan untuk memasukkannya kembali ke tas.

Tidak. Molly tidak akan pernah bisa mengirim pesan pada Cliff layaknya sahabat. Tidak, karena Molly butuh menatap pria itu, mendengar suaranya secara langsung, dan menangkap setiap perubahan mimik wajah Cliff dengan jelas.

Ya, Molly benar-benar butuh bertemu Cliff secara langsung agar ia bisa melihat apakah pria itu akan sungguh-sungguh menangani kasusnya. Akhirnya, Molly pun berbalik dan berjalan menjauh dari pintu rumah. Ia tidak tahu kapan Cliff akan kembali, namun Molly akan tetap menunggu.

Molly kembali berjalan kaki menuju stasiun. Ia tidak ingin ke mana-mana lagi. Hampir 12 jam ia berada di luar rumah, dan sekarang saatnya untuk beristirahat. Ia butuh mengumpulkan tenaga agar bisa bekerja esok hari.

*****

Hari sudah gelap, malah hampir mendekati tengah malam saat mereka tiba di rumah. Martha, yang sudah tahu akan kedatangannya, segera membukakan pintu dan menyambut mereka dengan senyuman hangat. Lima hari berlalu sejak kedatangan Molly ke rumahnya, dan selama itu pula Cliff berhasil mengalihkan pikirannya dari wanita itu.

Beruntung Mr. Neandro memberikan kasus kecil yang harus ia urus. Kasus yang tidak membutuhkan tenaga banyak karena Mr. Neandro hanya memintanya untuk mengurus seseorang yang berusaha melukai Alexa, adik Mr. Neandro.

Ia tidak mengerti mengapa masih ada saja pria gila yang berusaha mengejar Alexa Neandro, sementara semua orang tahu bahwa wanita itu sudah menikah dengan Wade. Namun yang membuatnya tak habis pikir adalah bagaimana cara pria gila itu berhasil menerobos masuk ke rumah Alexa dan berniat membunuh Wade. Akhirnya, ia dan Mors berhasil menghilangkan pria gila itu dalam sekejap tanpa jejak. Dan setelah menyusun berbagai macam skenario agar tak ada bukti atau tuduhan yang memberatkan bagi keluarga Neandro, akhirnya Cliff pun kembali ke rumah.

Saat ini perasaan Cliff sudah tenang dan damai. Begitu tenangnya hingga ia yakin bahwa dirinya tak akan tergoda lagi meskipun harus bertemu kembali dengan Molly. Tak ada lagi bayang-bayang wajah wanita itu di pikirannya. Tak ada juga keinginan liar yang memaksanya untuk menghirup aroma tubuh Molly.

“Selamat malam, Sir,” sapa Martha ramah sebelum menutup pintu di belakangnya.

“Malam,” sahut Cliff singkat dan datar yang langsung beranjak menuju dapur sembari membawa kopernya. Martha, yang mengetahui kebiasaannya selalu meminum segelas jus jeruk sebelum naik ke tempat tidur, langsung membuka lemari pendingin dan menyajikan jus ke dalam gelas.

Cliff meletakkan koper di samping meja dapur, lalu mengambil gelas tersebut dan meminumnya. Rasa dingin, segar, manis dengan sedikit asam, menyentuh lidahnya dengan sempurna. Ia mengecap sisa rasa manis di ujung lidah, menikmati sensasi perpaduan rasa itu selama beberapa saat sebelum memutuskan meneguk jusnya hingga tandas.

Kesegaran jus setidaknya menghapus sedikit rasa lelah di tubuhnya. Ia pun meletakkan gelas begitu saja, lalu Martha mengambil gelas itu dan mencucinya. Obat-obatan yang sudah dipersiapkan sebelum ia tiba di rumah pun sudah diletakkan di dalam wadah seperti biasa.

Cliff mengambil wadah tersebut, lalu beranjak dari balik meja dapur. Baru saja Cliff menarik koper dan berniat menaiki anak tangga, tiba-tiba Martha berdeham kecil.

Sir,” panggil Martha pelan. Cliff menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap wanita itu.

“Ada apa, Martha?” tanya Cliff cepat.

“Begini, Sir. Senin kemarin ada seorang wanita datang ke sini mencari Anda,” ungkap Martha tenang, “saya sudah menyuruhnya untuk langsung menghubungi Anda, karena Anda tidak ada di rumah. Saya hanya ingin memastikan apakah wanita itu sudah menghubungi Anda, Sir? Karena tampaknya wanita itu sedang mengalami masalah.”

Cliff mendengar dengan saksama, mengira-ngira siapa yang Martha bicarakan. Hingga detik ini, tak ada seorang wanita pun menghubunginya. Namun Cliff bisa menangkap sedikit kekhawatiran di wajah Martha. Ia tidak pernah sedikit pun melihat Martha seperhatian itu terhadap seseorang, terutama orang yang tidak dikenalnya.

“Siapa dia?” tanya Cliff penasaran.

“Wanita yang datang hari Sabtu kemarin, Sir,” jawab Martha cepat.

“Molly?” sebut Cliff tak percaya.

Menyebut nama wanita itu di bibirnya langsung membangkitkan gejolak aneh yang selama ini berusaha ia redam. Entakkan kuat di dada seakan menunjukkan bahwa usahanya untuk melupakan wanita itu, sama sekali tidak berhasil. Bayangan Molly ternyata hanya tertidur dalam benaknya selama beberapa hari ini. Dan saat ia mengucapkan nama Molly, seketika itu pula gairah liar kembali menggelora dalam dirinya.

Cliff tidak menyangka kalau Molly akan kembali ke rumah ini. Ia pikir harga yang mahal membuat wanita itu menyerah dan terpaksa mencari jasa pengacara lain. Tapi nyatanya tidak. Tampaknya wanita itu lebih kuat, tangguh, dan berani dari yang ia kira. Apa yang membuat Molly sampai datang mencariku? batin Cliff bingung.

“Apa dia mengatakan sesuatu?” tanya Cliff yang entah mengapa malah penasaran.

“Tidak, Sir. Karena menurut saya lebih baik dia bicara langsung dengan Anda. Tapi dari raut wajahnya saya bisa menangkap sepertinya dia memiliki masalah yang cukup berat, Sir,” jawab Martha.

Good job, Martha,” puji Cliff atas kebijaksanaan wanita itu, “terima kasih sudah menyampaikan masalah ini. Kami ke atas dulu. Istirahatlah.”

Cliff menaiki anak tangga sementara pikirannya kembali dipenuhi oleh Molly. Cliff salah. Ia kira menyibukkan diri dengan pekerjaan akan membuatnya kembali mati rasa. Cliff salah. Ia kira membunuh orang akan menenggelamkan letupan gairah liar yang bergejolak dalam dirinya setiap kali memikirkan Molly. Cliff salah. Benar-benar salah, karena menyebut nama wanita itu saja dengan mudahnya membangkitkan getaran nikmat yang membuat Cliff tidak nyaman.

“Kita tidak bisa lari lagi, Cliff,” ucap Mors santai saat mereka masuk ke kamar.

“Menurutmu!” sahut Cliff sinis sembari menggeleng kesal.

“Jangan ditahan,” balas Mors tenang. Cliff tidak mengerti bagaimana Mors bisa semudah itu mengucapkan bahwa mereka harus menerima letupan gairah ini begitu saja.

“Aku harus menahannya, Mors! Kau tidak tahu seberapa sulit aku menahan semua itu,” keluh Cliff geram sebelum mengempaskan bokongnya di pinggir tempat tidur. Mors menatapnya dengan raut geli seakan penolakan Cliff adalah bentuk kebodohan yang paling nyata di dunia.

“Kurasa akan semakin sulit jika kau terus membohongi dirimu. Kau tak bisa mengelak dari kuatnya pesona wanita itu. Kau hanya mengelak, Cliff. Sudah kukatakan sejak awal, kau mengelak!” tegur Mors sebelum mendengus geli melihat raut frustrasinya.

“Kita tidak akan bisa lepas darinya. Kita membutuhkannya, kau tahu itu,” ujar Mors santai seakan Cliff tak paham apa yang ia rasakan saat ini.

Tentu saja ia membutuhkan Molly, tapi ia tidak tahan melihat wajah murung wanita itu. Cliff tak tahan melihat air mata Molly menggenang setiap kali mengingat kejadian pembunuhan itu. Ia benar tidak tahan.

Harapannya untuk bisa kembali mati rasa tampaknya tidak akan pernah berhasil jika berhubungan dengan Molly. Cliff sudah terjebak, dan satu-satunya cara agar ia tidak terkungkung dalam kemelut perasaan aneh ini hanyalah menikmati tubuh wanita itu, kemudian melenyapkannya.

Ya, hanya itu caranya. Hanya itu cara agar ia bisa kembali ke dunianya yang tenang dan damai.

*****

BAB 15

Thank God it’s Friday‘ adalah slogan yang tepat untuk menggambarkan perasaan para pengunjung kafe sore ini. Wajah-wajah ceria, tawa lepas, dan helaan napas lega mengisi atmosfer tempat Molly bekerja. Namun, keramaian dan keceriaan para pengunjung tak mampu mengalihkan pikiran Molly dari Cliff.

Sudah lima hari berturut-turut Cliff tidak datang ke kafe. Sesekali, rasa penasarannya yang begitu besar memaksa Molly untuk menghubungi Cliff dan menanyakan keberadaan pria itu. Tapi setiap kali melihat nama Cliff di layar ponsel, rasa takut dan keraguan pun kembali melandanya.

Molly menyadari bahwa dirinya tidak berhak menanyakan di mana pria itu berada dan apa yang dilakukannya beberapa hari ini. Mereka tidak menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih, bahkan Molly baru mengenal Cliff beberapa hari belakangan ini. Itu pun karena ia berniat meminta Cliff untuk menjadi pengacaranya, bukan demi tujuan lain yang bersifat pribadi, apalagi yang berhubungan dengan asmara.

Ia berusaha keras menepis perasaan aneh yang bersarang di dadanya setiap kali memikirkan Cliff. Molly pun tidak bisa memungkiri bahwa bayang-bayang pria itu terus menghantui pikiran dan perasaannya. Bahkan, Cliff selalu muncul dalam mimpinya.

Masalahnya, kemunculan Cliff dalam mimpi-mimpinya beberapa hari ini sangat berbeda dengan mimpi buruk yang pertama kali ia alami saat berniat menemui pria itu. Cliff yang muncul dalam mimpinya akhir-akhir ini terlihat begitu menggoda. Bahkan mimpinya begitu intim dan liar, sehingga setiap kali terbangun Molly merasakan sekujur tubuhnya diselimuti oleh gelombang gairah yang begitu besar. Gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Setiap hari, saat jam di dinding menunjukkan pukul 17.00, Molly selalu menatap ke arah pintu kafe. Molly berharap Cliff muncul dengan wajah dingin dan tatapan tajam yang sangat ia kenal. Namun setiap kali menyadari bahwa pria itu tidak akan muncul, kekecewaan pun kembali menyelimuti Molly.

Ini salah, Molly tahu itu. Tapi ia tidak bisa menyingkirkan Cliff dari pikirannya begitu saja. Molly bahkan tidak tahu apakah ia bisa menatap Cliff seperti sebelumnya setelah semua mimpi liar yang menghampirinya setiap malam. Molly hanya berharap ia bisa menjaga mata dan jantungnya agar bisa bereaksi normal saat berhadapan dengan pria itu.

Saat ini waktu menunjukkan pukul 17.30, dan untuk yang ke sekian kalinya, mata Molly tertuju ke arah pintu kafe. Hingga saat ini, hanya beberapa orang asing yang membuka pintu dengan tujuan menghabiskan waktu di kafe. Molly pun menghela napas pasrah, lalu berbalik menuju meja bar. Ia mengambil pesanan salah satu pelanggan dan berniat mengambil jam istirahat setelah menyajikan hidangan tersebut di meja pelanggan.

Setelah menyajikan dua cangkir kopi di meja pelanggan, Molly pun berbalik menuju meja bar. Baru saja ia meletakkan nampan di meja bar, tepukan pelan di pundaknya membuat Molly menoleh cepat. Kevin, yang berdiri di belakangnya, mengangguk kecil serta mengarahkan pandangan ke arah pintu.

Molly mengerut bingung, lalu mengikuti arah pandang Kevin. Seketika itu pula Molly merasakan tubuhnya menegang kaku, napasnya tercekat, dan jantungnya seperti berhenti berdebar selama beberapa detik saat melihat seseorang yang sudah ia nanti-nantikan. Cliff.

Pria itu berjalan dengan tatapan lurus tajam tertuju ke arahnya, seakan Cliff tahu di mana ia berada. Molly hanya bisa terdiam di depan meja bar sembari mencengkeram pinggirannya sebagai tumpuan. Ia tidak tahu apa yang membuat wajah Cliff tampak begitu tegang, namun tatapan itu tampak seperti ingin melahapnya hidup-hidup.

Dengan langkah tegap dan tepat, Cliff pun akhirnya berhenti tepat di hadapan Molly. Aroma parfum maskulin Cliff menyeruak mengisi indra penciumannya, mengalahkan aroma kopi yang begitu kental mengisi kafe. Mata Molly langsung tertuju ke bibir Cliff, entah mengapa. Sialnya, kilasan mimpi-mimpi terliarnya kembali mengisi kepala Molly dalam sekejap. Bahkan, ia bisa dengan jelas membayangkan kembali bagaimana bibir itu mencumbunya di dalam mimpi.

We need to talk,” ucap Cliff tegas dan dalam. Jantung Molly seakan bangkit dari kematian dan kembali berdebar saat mendengar suara itu.

“S-sekarang?” tanya Molly gugup, masih berusaha keras menghapus mimpi-mimpi liar itu dari dalam kepalanya.

“Ya,” jawab Cliff singkat.

“A-aku tidak bisa … ini … ini masih jam kerja,” jawab Molly gugup. Kevin, yang masih berdiri di samping Molly, langsung memasang raut bingung mendengar keakraban canggung di antara mereka berdua.

“Jam berapa kamu pulang?” tanya Cliff cepat. Mata itu terus menguncinya, tak memedulikan tatapan penasaran yang Kevin tujukan pada mereka berdua.

“J-jam 7,” jawab Molly singkat.

“Aku akan menunggumu. Kali ini, aku pesan kopi hitam saja,” ujar Cliff datar sebelum beranjak dari hadapan Molly dan berjalan menuju meja yang biasa. Molly belum bisa bereaksi apa-apa selain terdiam dan menatap Cliff yang semakin lama semakin menjauh dari dirinya. Untuk yang kedua kalinya, perhatian Molly teralihkan oleh tepukan pelan di pundaknya. Kali ini, Kevin berkecak pinggang sambil memasang raut penasaran, menuntut penjelasan.

“Aku-kamu? Ada apa ini? Sejak kapan kalian sedekat itu? Apa ada yang belum kamu ceritakan padaku?” cecar Kevin cepat, penasaran bercampur curiga. Molly bingung harus menjelaskan dari mana karena memang tak ada yang perlu dijelaskan di sini. Mereka berdua tidak memiliki kedekatan seperti yang Kevin pikirkan.

Sesekali Molly melirik ke arah Cliff yang baru saja duduk. Sesuatu dalam dirinya merasakan kelegaan yang aneh. Kelegaan yang seharusnya tidak ia rasakan hanya dengan melihat keberadaan Cliff di tempat ini.

“Molly!” tegur Kevin sambil menjentikkan jari di depan wajah Molly, berusaha mengalihkan perhatiannya dari Cliff.

“Hah? Oh, itu … tidak ada apa-apa,” jawab Molly grogi, lalu berbalik dan memesan satu cangkir kopi ke barista kafe. Molly berusaha tidak menghiraukan tatapan menyelidik yang Kevin tujukan padanya. Saat ini, ia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri agar bisa menghadapi Cliff dengan sikap normal. Sikap layaknya seorang klien kepada pengacaranya. Bukan sikap seperti seorang wanita yang sedang kasmaran.

*****

Cliff duduk dengan debaran jantung yang begitu mengganggu. Matanya terus tertuju pada Molly dan pria yang saat ini sedang berbicara dengan wanita itu. Ia penasaran siapa pria itu dan apa hubungannya, karena mereka berdua terlihat cukup akrab.

Saat ini Molly terlihat sedang melayani meja pelanggan yang baru saja tiba. Ia bisa melihat bagaimana wanita itu berusaha keras terlihat tenang setelah pertemuan mereka tadi, sama seperti dirinya. Cliff tidak menyangka secepat itu gairah dalam tubuhnya bergelora saat menghirup aroma tubuh Molly. Ia bahkan tidak menyangka akan merasakan sensasi kelegaan yang begitu luar biasa memuaskan saat menemukan wanita itu berdiri di dekat meja bar.

Ia terus memperhatikan Molly dari kejauhan, dan berusaha memastikan kembali bahwa ini adalah keputusan yang benar. Sebelum memutuskan untuk datang ke kafe, ia dan Mors membicarakan apa yang seharusnya ia lakukan untuk menenangkan gelora panas dalam tubuhnya. Meskipun terjadi pertentangan batin dalam dirinya, akhirnya Cliff setuju mengikuti apa yang Mors sarankan.

Sejak mendapatkan kabar dari Martha bahwa Molly datang ke rumah disertai raut wajah penuh masalah, Cliff jadi tidak bisa tidur tenang. Entah sudah berapa cangkir kopi yang ia minum untuk membuat pikirannya tetap terjaga. Saat ini, ia harus bisa menjaga kewarasannya. Ia harus bisa tenang dan mengendalikan diri saat berbicara dengan Molly. Cliff tidak ingin Molly menangkap kegelisahan dalam dirinya. Kegelisahan yang timbul karena sejak semalam wajah wanita itu terus mengisi pikirannya. Ini gila! Ini benar-benar gila!

Cliff mengunci setiap pergerakan Molly. Saat ini wanita itu sedang melangkah menuju meja bar, kemudian mengambil secangkir kopi, lalu meletakkannya di nampan. Jantung Cliff melonjak kegirangan saat wanita itu berjalan menuju ke arahnya. Benar-benar aneh dan sangat mengganggu ketenangan yang selama ini menjadi andalan Cliff. Tatapan mereka saling bertemu, dan secepat kilat Molly mengalihkan pandangan ke arah lain. Darah Cliff berdesir cepat merespons rona merah yang menghiasi wajah Molly saat ini.

“Ini pesanannya, Sir,” ucap Molly kaku.

Sir?” ulang Cliff tipis, tak menyukai sapaan itu. Tampak tak ingin membangun percakapan, Molly segera berbalik meninggalkan mejanya. Namun dengan cepat Cliff menggenggam pergelangan tangan Molly, menahan kepergian wanita itu.

“M-maaf, apa Anda ingin memesan yang lain?” tanya Molly formal dan gugup sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya. Cliff tidak tahu apakah Molly merasakan sengatan aneh ketika kulit mereka saling bersentuhan. Sengatan yang membuat sekujur tubuhnya menegang kaku. Namun rona wajah Molly yang semakin memerah, menunjukkan bahwa sentuhannya memberikan sensasi liar yang berusaha keras wanita itu sembunyikan darinya. Dan hal itu membuat Cliff semakin tidak sabar untuk mengutarakan apa yang sudah ia susun selama di perjalanan menuju ke tempat ini.

“Apa kamu bisa ijin pulang lebih cepat?” tanya Cliff datar, tak memedulikan sikap formal Molly yang langsung menggeleng kaku.

“Siapa dia?” tanya Cliff sembari melemparkan tatapan ke arah seorang pria yang terus memperhatikan Molly dari kejauhan. Pria itu berusaha terlihat sibuk dengan papan jalan walaupun sesekali sembunyi-sembunyi memperhatikan Molly. Wanita itu pun menoleh ke arah pandangan Cliff, lalu kembali menatap dirinya.

“Itu Kevin, sahabatku,” jawab Molly jujur.

“Apa dia yang bertanggung jawab di sini?” tanya Cliff tanpa mengalihkan pandangannya dari Kevin.

“Iya. Kenapa?” tanya Molly yang mulai memasang raut bingung. Cliff kembali menatap Molly sembari berusaha menahan diri agar tidak terlena akan aroma tubuh wanita itu.

“Tidak apa-apa,” balas Cliff datar sebelum mengalihkan pandangan ke cangkir kopi dan menghirup aromanya dalam-dalam.

“Ada lagi yang Anda inginkan? Apa tidak ingin memesan beef lasagna seperti biasa?” tanya Molly yang masih terdengar gugup meskipun berusaha keras menjaga sikap formalnya.

“Tidak. Kita akan makan malam di luar nanti. Jadi, bersiap-siaplah,” jelas Cliff datar dan tenang, berusaha menjaga intonasi suaranya.

“Makan malam? Apa ada masalah?” tanya Molly cepat seraya mengerut penasaran.

“Aku tidak membicarakan pekerjaan di sini. Kamu ingat itu, ‘kan?” ujar Cliff sinis, berharap supaya Molly segera pergi agar ia bisa menikmati kopi hitam kesukaannya dengan tenang.

“Oh, b-baiklah,” jawab Molly malu, lalu beranjak pergi dari hadapannya. Cliff terus menatap kepergian Molly sembari menyeruput kopi. Sensasi hangat dengan rasa pahit yang kental mengisi rongga mulutnya. Setidaknya rasa pahit dan hangatnya kopi mampu membuat Cliff tetap berada di permukaan, bukannya tenggelam dalam aroma tubuh Molly yang begitu memabukkan.

Cliff menyadari bahwa kotak kehidupannya mulai bergeser dari posisi yang seharusnya. Semua ini gara-gara Molly. Semenjak wanita itu muncul dan melayaninya, Cliff menyadari bahwa Molly adalah malapetaka bagi ketenangan dunianya. Bukan hanya itu saja, kedatangan Molly ke rumah disertai kasus pembunuhan itu seakan membawa Cliff kembali ke masa lalunya yang menyeramkan. Semua ini gara-gara Molly, dan sebisa mungkin mereka harus menuntaskannya dengan segera agar ia bisa kembali ke kondisi semula. Kembali ke kotak kehidupannya yang sudah ia bangun sejak lama.

*****

Waktu terasa berputar dengan sangat cepat. Hingga saat ini, Molly masih tidak percaya kalau Cliff benar-benar berniat mengajaknya makan malam. Bahkan, hingga detik ini pria itu masih menunggunya selesai kerja, padahal biasanya Cliff selalu pulang ketika waktu menunjukkan pukul 18.30.

Ia tidak tahu apa tujuan Cliff dan ke mana pria itu akan membawanya. Tapi Molly bisa menangkap kerisauan yang begitu besar saat pria itu berbicara. Waktu menunjukkan pukul 19.00, Molly pun bergegas menuju pintu dapur dan langsung melangkah ke ruang karyawan. Kevin, yang mengikutinya dari belakang, terus memasang raut khawatir.

“Kamu yakin, Ly?” tanya Kevin untuk yang ke sekian kalinya saat mereka memasuki ruang karyawan.

“Astaga, Kev! Kurasa aku sudah menjawab pertanyaanmu 15 menit yang lalu,” jawab Molly sembari terus berjalan menuju loker pribadinya.

“Apa kamu tidak curiga dengan kemunculannya yang tiba-tiba?” tanya Kevin yang terdengar mulai mencurigai keberadaan Cliff. Molly menggeleng lemah sembari mengeluarkan tas serta sweater hitamnya dari loker.

“Tenanglah, Kev,” ucap Molly sembari mengunci loker, lalu berbalik menghadap Kevin.

“Aku yakin dia memiliki alasan lain mengapa dia menghilang beberapa hari kemarin. Dia seorang pengacara, dan kemungkinan besar kepergiannya yang mendadak itu adalah untuk mengurus pekerjaan. Kita tidak boleh berasumsi negatif padanya, Kev.

“Malam ini aku sudah bertekad untuk memintanya jadi pengacaraku. Dan bisa kupastikan makan malam ini hanya berisi tentang apa yang akan kami lakukan selanjutnya untuk menemukan si pembunuh itu,” jelas Molly seraya mengenakan sweater, lalu menyelempangkan tas di pundak.

“Kenapa harus makan malam di luar? Kenapa tidak bicara di sini saja?” tanya Kevin menumpahkan kecurigaannya yang begitu besar.

“Dia tidak pernah membicarakan pekerjaan di sini. Kamu ingat, ‘kan? Lagi pula ‘kan kamu yang mengatakan kalau Cliff adalah jalan keluar untuk masalahku. Lalu, kenapa sekarang kamu seperti tidak memercayainya?” tanya Molly yang malah terdengar seperti membela Cliff.

“Aku bukannya tidak percaya padanya, hanya saja … aku merasa sepertinya dia memiliki … cara bicaranya berbeda. Dia … sepertinya dia … tatapannya padamu …. Ah, pokoknya aku mengenal apa arti tatapan itu, Ly. Tatapan itu … begitu dalam,” ujar Kevin yang tampak sulit mengatur kata-kata.

Molly menarik napas panjang. Ia tidak tahu apa yang Kevin pikirkan, tapi ia tahu kalau Kevin sangat mengkhawatirkan keselamatannya. Itulah bentuk kasih sayang dan perhatian Kevin pada dirinya. Molly mengusap dada Kevin dengan penuh kasih sayang dan menatap pria itu dalam-dalam.

“Aku akan baik-baik saja, Kevin,” ucap Molly lembut dan pelan, “aku pasti akan menghubungimu jika terjadi hal buruk padaku.”

“Dan aku akan tiba saat semuanya sudah terlambat,” balas Kevin semakin khawatir. Sejujurnya, Molly menyembunyikan banyak hal yang mampu membuat pria itu khawatir. Selama beberapa hari ini Molly merasa seperti mendapat teror yang tak kasat mata. Semenjak ketukan misterius pagi itu, setiap hari baik pagi atau pun malam, ketukan di pintunya terasa semakin intens.

Molly juga merasa seperti ada orang yang terus mengikuti dan mengawasinya dari jauh. Ia tidak tahu apakah ini hanya perasaannya saja atau memang ada orang yang mengincar dirinya. Molly benar-benar tidak tahu. Yang pasti, ia berusaha untuk tetap menjaga diri dan keselamatannya.

“Aku bisa menjaga diriku, Kev,” janji Molly berharap raut khawatir itu hilang dengan segera.

“Aku tahu, tapi—”

“Percayalah padaku,” potong Molly cepat dan tenang.

Molly tahu bagaimana khawatirnya Kevin semenjak kematian mama, dan ia tidak menyalahkan sikap protektif itu. Tapi Molly sudah berjanji untuk menghadapi semua ini dengan kekuatan dan kemampuannya. Molly sudah bertekad untuk tidak menyusahkan Kevin lagi. Dan inilah saat bagi Molly untuk membuktikan pada Kevin bahwa ia sanggup melalui semuanya.

Ia pun mengecup pipi Kevin dengan penuh kasih sayang, lalu menyunggingkan senyum hangat seperti biasa. Akhirnya, ia pun melangkah menjauh dari Kevin, menuju pintu ruang karyawan. Molly membuka pintu, kemudian menoleh sejenak ke arah Kevin yang terlihat ingin sekali mencegah kepergiannya.

Molly kembali melemparkan senyum hangat pada Kevin sebelum meninggalkan pria itu sendirian di ruang karyawan. Molly terus melangkah melewati pintu belakang tempat biasanya para karyawan keluar. Ia berjalan di lorong yang sepi dengan pencahayaan yang kurang. Lorong yang membawanya langsung ke jalan raya. Suara klakson dan keramaian pejalan kaki pun terdengar di kejauhan.

Tanpa Molly sadari, seseorang sudah menantikan kemunculannya dan terus memperhatikan Molly di dalam kegelapan. Mata itu menatapnya tajam disertai geraman penuh amarah. Orang itu tampak sudah tak sabar ingin menyergap Molly. Namun karena orang yang membayarnya menyuruh untuk tetap mengawasi Molly selama bekerja, orang itu pun terpaksa menahan gejolak amarah dalam dirinya.

Molly terus berjalan tanpa menyadari betapa terancam nyawanya saat ini. Ia pun mempercepat langkahnya saat hampir tiba di ujung lorong. Molly sempat terhenti sejenak setelah keluar dari lorong itu hanya untuk mencari keberadaan Cliff.

Ia pun memilih berbelok ke kanan dan berjalan beberapa langkah. Akhirnya, Molly melihat Cliff yang berdiri bersandar di belakang mobil sedan hitam keluaran terbaru. Molly tidak bisa memungkiri bahwa Cliff termasuk pria yang tampan, berkarisma kuat, bahkan memiliki pesona yang mampu melumpuhkan setiap wanita dalam sekali kedipan.

Namun entah mengapa, Molly menilai kalau Cliff bukanlah tipe pria yang mudah bergonta-ganti wanita demi memuaskan gairah. Ya, ia sangat yakin sekali, dan hal itu memberikan nilai tambah bagi Cliff. Nilai yang membuat Molly mulai memiliki perasaan lebih pada pria itu.

Molly terus melangkah mendekat, sementara Cliff mulai membukakan pintu untuknya. Molly berdiri sejenak di depan Cliff dan menimbang keputusannya sekali lagi. Molly tahu, sudah terlambat baginya untuk menolak ajakan makan malam itu. Ia membutuhkan Cliff untuk menangani masalah mama, dan inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan bahwa dirinya sudah memiliki uang yang cukup untuk membayar Cliff.

“Kita mau ke mana?” tanya Molly sembari menatap mata Cliff dalam-dalam. Pria itu menyunggingkan senyum kecil yang langsung membuat napas Molly tercekat.

“Tenang saja. Aku tidak akan mencelakaimu. Masuklah,” sahut Cliff tipis. Tanpa berusaha menolak, Molly pun segera masuk ke mobil. Cliff menutup pintu di sampingnya, lalu berjalan memutar, kemudian membuka pintu pengemudi, dan duduk di belakang kemudi. Tanpa banyak bicara, Cliff mulai menyalakan mesin, lalu melajukan mobilnya masuk ke tengah keramaian kota Sydney malam itu.

*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja
error: Content is protected !!