Bittersweet Love – BAB 6 – BAB 10

BAB 6

Sandra mengernyit kesal saat bel pintu apartemennya meraung-raung lebih dari sepuluh kali. Suara berat yang terus memanggil-manggil namanya pun semakin menambah kebisingan dan mengusik tidur Sandra yang kurang nyenyak.

“Sandra, open the door!” teriak suara berat yang sudah sangat Sandra kenal.

Masih enggan menanggapi panggilan yang terdengar begitu menuntut, Sandra membalikkan badan ke sisi lain tempat tidur lalu menarik selimut hingga menutupi kepala. Sambil memaksa matanya agar tetap memejam, ia mencoba untuk kembali terlelap. Namun, semakin lama ia mengabaikan panggilan itu, semakin lenyap kantuknya. Oh, Tuhan! Tak bisakah aku menikmati hari Sabtu dengan tenang seperti orang lain? protes Sandra dari balik selimut.

“Sandra, open this fucking door! Sandra!!” teriak Nathan kesal, kali ini sambil menggedor-gedor pintu seperti kesetanan. Sandra mengerang frustrasi. Ia sungguh tak mengharapkan gangguan mendadak di Sabtu pagi yang seharusnya dapat ia nikmati dengan ketenangan sambil berleha-leha.

Tak kuasa lagi berpura-pura tidak mendengar, Sandra segera membuka selimut yang sedari tadi menutupi kepala, kemudian menendang-nendang jengkel benda tersebut hingga tersungkur di lantai. Bunyi bel yang kembali terdengar dan memekakkan telinga, memaksa dirinya bangkit dari posisi tidur sembari mengerang kesal. Begitu dongkolnya, Sandra melampiaskan kegeramannya dengan menggaruk-garuk kasar rambut seraya menggerutu, “Arrgh! Berisik sekali sih!”

Terpaksa, Sandra beranjak dari tempat tidur bak mayat hidup, kemudian menuruni tangga sambil mengentak-entakkan kaki penuh amarah seolah setiap anak tangga itu memiliki kesalahan yang tak dapat diampuni. Barisan gedoran sarat ketidaksabaran dan bunyi bel yang memekakkan telinga, tak henti-hentinya membombardir Sandra, bahkan ketika ia menekan tuas pintu apartemen.

“Ya, ampun, Nathan! Kau kesurupan??” tegur Sandra setelah membuka pintu. Tangan kanan Nathan yang terkepal erat di udara dan siap menggedor pintu, langsung berhenti seketika.

“Kesurupan?” Nathan langsung membawa turun tangan kanan itu dan berkacak pinggang sambil memasang raut protes. “Are you lost your mind? Dari semalam aku menunggu kabarmu, tapi kau sama sekali tidak mengabariku. Kau membuatku khawatir, Darling! Kukira kau diculik Dark Shadow!”

Protes sarat kepanikan Nathan—meski terdengar bak seorang ibu yang marah-marah saat mengetahui anak gadisnya menyelinap keluar tengah malam—sungguh menyentuh perasaan Sandra. Meski ia jauh dari keluarga, tapi ia masih memiliki Nathan yang selalu mengkhawatirkannya melebihi seorang ibu. Namun, gelenyar hangat yang tercipta akibat kekhawatiran dan perhatian Nathan, lenyap kurang dari sedetik ketika pria itu menyebut Dark Shadow. Sandra bahkan mengernyit seram sekaligus kesal saat nama itu disebut.

“Aku masih di sini. Jadi, kau bisa pulang sekarang. Aku mau tidur!” usir Sandra masih dengan kekesalan yang luar biasa akibat perpaduan nama Dark Shadow dan kurangnya jam tidur. Tak ada yang tahu betapa pertemuan Sandra dengan pria itu mampu memberikan mimpi buruk baginya hingga ia terjaga di tengah malam dan baru bisa kembali tidur sekitar pukul 03.00.

“Tunggu dulu!” Tangan kiri Nathan menahan pintu yang hendak ditutup oleh Sandra.

“Oh, God! Apa lagi, Nat? Aku benar-benar butuh tidur.” Sandra menggaruk rambutnya yang berantakan hingga semakin awut-awutan, kemudian menguap lebar demi menegaskan betapa ia sangat merindukan kasurnya yang empuk.

Nope! Yang kau butuhkan adalah kopi dan pelukanku,” sanggah Nathan yang kemudian merentangkan kedua tangan ke samping dengan gemulai, menyuruh Sandra untuk segera masuk ke pelukan hangat itu. “Sini!”

“Nathan,” protes Sandra dengan nada merajuk dan mata sayu.

“Sini,” bujuk Nathan, kali ini nada bicaranya lebih lembut dan penuh kasih sayang. Tak sanggup menolak kehangatan yang pria itu tawarkan, akhirnya Sandra menyerah. Dengan bibir melengkung cemberut manja, ia pun masuk ke dalam pelukan Nathan dan menyerap kehangatan yang selalu ada setiap kali ia mengalami kesusahan.

“Aku tahu, kau pasti membutuhkan pelukanku setelah bertemu dengan Iblis itu,” ujar Nathan sambil mengusap-usap punggung Sandra bak seorang kakak yang baik hati dan pengertian. Selama beberapa saat, Sandra menikmati kenyamanan yang melingkari tubuhnya. Ia bahkan menarik napas dalam-dalam demi menghirup aroma parfum Nathan yang lembut dan menenangkan.

“Mana kopinya?” tanya Sandra manja saat masih berada dalam pelukan Nathan. Kemudian, ia menengadah dan menatap mata Nathan yang melirik ke bawah, ke dua gelas Starbuck yang diletakkan di lantai dekat pintu apartemen. Akhirnya, Nathan melepaskan pelukan hangat itu dan membiarkan Sandra membungkuk demi mengangkat dua gelas kopi dari lantai.

“Kau memang sahabat terbaikku,” puji Sandra dengan senyum semringah sembari menghirup dalam-dalam aroma khas kopi yang menguar bahkan tanpa harus membuka penutup gelasnya. Secuil kegembiraan, yang mulai menghangatkan hatinya akibat kehadiran Nathan, berhasil mengubah suasana hati Sandra meski tidak terlalu signifikan.

“Oh, kau baru sadar,” ledek Nathan yang hanya mendapat respons seringai lebar Sandra. Ia pun bergegas membawa masuk kedua gelas kopi, sementara Nathan menutup pintu apartemen.

“OK. Sekarang, kau berutang cerita padaku,” tuntut Nathan sembari mengarahkan jemari telunjuk ke arahnya dengan gaya gemulai ketika Sandra baru saja meletakkan kedua gelas itu di meja dapur. “Bagaimana semalam? Apakah berjalan lancar?”

Sandra mengedikkan bahu, enggan menjawab. Ia segera membuka penutup salah satu gelas kopi, kemudian menghirup aromanya yang menenangkan. Senyum Sandra semakin lebar, terlebih ketika ia menyeruput kopi hitam yang berhasil melenyapkan kantuknya dalam sekejap. Tak menyukai sikap acuh tak acuh Sandra, Nathan melipat kedua tangan di depan dada sambil menyipitkan mata dan menelitinya dari ujung rambut sampai kaki bak seorang detektif.

“Hmm, kalau dari penilaianku, sepertinya kau tidak jadi memuaskannya. Lalu, apakah itu artinya aku menang?” tebak Nathan yang kemudian menyeringai gembira, mengira telah memenangkan taruhan.

“Hebat! Kau berhasil memenangkan piagam ‘Teman Terburuk Sepanjang Masa’ hanya dalam sekejap.” Senyum lebar Sandra seketika lenyap. Ia bahkan menggeleng dan menatap malas Nathan, berharap sahabatnya itu paham betapa dirinya sedang enggan membicarakan masalah pertemuan semalam.

“Hei! Jangan salahkan antusiasku. Siapa pun pasti tidak akan sabaran memenangkan taruhan kalau hadiahnya liburan ke Hawaii, terlebih lagi kalau kesempatan menangnya sangatlah besar,” timpal Nathan membela diri.

“Oh, jadi niat pertamamu mengganggu tidur nyenyakku hanya karena kau terlalu tidak sabaran untuk tahu apakah kau menang atau kalah?” tuduh Sandra sedikit kesal sembari membawa gelas kopi ke sofa panjang di area TV.

Well, tidak ada salahnya kan kalau aku tidak sabaran?” balas Nathan yang segera membawa gelas kopi dan mengikuti langkah Sandra. “Lagi pula, dari wajahmu aku tahu kalau kemenanganku sudah di depan mata.”

“Siapa bilang kalau kau akan menang? Permainan belum berakhir, Nat. Bahkan, dimulai pun belum.” Sandra duduk di sofa, kemudian menyeruput kopi dan menikmati rasa pahit yang mendiami lidahnya.

What?? Lalu, apa yang kalian lakukan semalam? Main truth or dare?” ledek Nathan saat duduk di samping Sandra dan meletakkan gelas kopi di meja tanpa berniat meminumnya.

“Dia … ah, sudahlah. Aku tidak ingin membicarakannya.” Sandra ragu membicarakan masalah ini pada Nathan, terlebih ia tahu bagaimana sahabatnya itu akan bereaksi setelah mengetahui dirinya kembali menyetujui sebuah tantangan yang disodorkan padanya.

“Oh, ayolah, Darling!” bujuk Nathan dengan gayanya yang centil, “setidaknya ceritakan padaku inti dari pertemuan kalian semalam.”

Sandra menatap Nathan lekat-lekat, menimbang sejenak keputusannya. Nathan, yang terlihat begitu penasaran, membalas tatapannya sambil memasang raut memelas. Akhirnya, Sandra menghela napas panjang, merasa tak ada gunanya menutupi sesuatu dari Nathan.

“Tapi … kau berjanji dulu padaku,” pinta Sandra demi mencegah hal yang tidak diinginkan.

“Berjanji apa?” Kedua alis Nathan menukik tajam hingga membentuk dua garis lurus yang begitu tegas di tengah-tengah alis.

“Berjanji untuk tidak marah dan tidak mengadukan semua ini pada Raffael,” jawab Sandra sebelum menyesap kembali kopi dalam genggaman.

What the heel is going on? Apa si Iblis itu berbuat hal yang tidak senonoh padamu? Katakan padaku!” Sisi protektif Nathan dan suaranya yang berat serta tegas kembali muncul ke permukaan.

“Janji dulu!” tuntut Sandra, “kalau kau tidak mau berjanji, aku tidak mau cerita.”

“Oke, oke. Aku janji,” balas Nathan cepat sekaligus tidak sabaran. “Cepat cerita!”

Sandra menarik napas dalam-dalam. Sementara itu, Nathan mulai memiringkan posisi duduk hingga menghadapnya dengan salah satu kaki dilipat santai di atas sofa. Mengetahui reaksi berlebihan yang akan pria itu tunjukkan, Sandra kembali menyesap kopi, kemudian meletakkan gelas tersebut di meja.

“Dark Shadow memberikan tantangan padaku, dan aku menerimanya.” Sandra mengucapkan kalimat itu dalam satu tarikan napas.

“Tantangan?” ulang Nathan sembari mengernyitkan kedua alis, penasaran sekaligus harap-harap cemas.

“Iya. Ehmm … mungkin lebih tepatnya ‘perjanjian kerja sama’. Dia berjanji akan gabung dengan H&H asalkan aku menjadi kekasihnya selama tiga bulan,” lanjut Sandra yang berhasil membuat bibir Nathan menganga selama sedetik.

“Kekasih selama tiga bulan??” ulang Nathan dengan mata terbelalak sambil memasang raut terkejut sekaligus tidak percaya.

“Nat, bisakah kau tidak mengulang kata-kataku?” protes Sandra yang kemudian mengalihkan pandangan dari Nathan lalu menjalin kesepuluh jemarinya di atas pangkuan.

No, I can’t! Apa kau tidak menyadari betapa luar-biasa-tidak-masuk-akalnya keputusanmu itu?” Nathan menekankan kata-kata tersebut seolah ingin menyadarkan Sandra akan betapa gila keputusan yang telah ia ambil. Masalahnya, Sandra sudah menyadari hal itu semalam, hanya saja ia gengsi untuk membatalkan tantangan yang sudah ia sanggupi sebelumnya.

“Kau sudah berjanji untuk tidak marah.” Sandra mengingatkan seraya menoleh dan menatap Nathan dengan sorot protes.

“Aku tidak marah. Sungguh! Aku hanya … aku … aku kaget!” Nada bicara Nathan seketika meninggi, tidak percaya. “Oh, Tuhan! Kenapa kau begitu mudah sekali menyanggupinya? Apa sebegitu tampannya dia sampai kau setuju untuk menjadi kekasihnya?”

Sandra tertunduk malu mendengar teguran Nathan. Jemari yang sedari tadi terjalin erat di atas pangkuan, kali ini bergerak saling menekan satu sama lain demi menutupi rasa bersalah sekaligus kepanikan yang melanda dirinya akibat teguran tersebut.

“Setidaknya dengan begitu dia mau bergabung dengan H&H.” Sandra beralasan, kemudian menatap Nathan sambil tersenyum masam. “Lagi pula, sampai detik ini aku belum tahu siapa nama aslinya dan bagaimana bentuk wajahnya. Dia tidak membuka maskernya sama sekali, bahkan minum pun tidak.”

Nathan menggeleng heran mendengar alasan Sandra berikut informasi yang berkaitan dengan Dark Shadow. Sejenak, suasana hening kaku di antara mereka. Tak ada yang mengeluarkan suara, bahkan bergerak pun tidak. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Sejujurnya, tanpa Nathan tegur pun entah sudah berapa kali Sandra mengutuki sifatnya yang tidak mau kalah saing itu sejak semalam. Bahkan sepanjang hidupnya, baru semalam ia berharap bisa menghapus sifatnya itu, tapi tidak bisa. Sifat itu seolah sudah mendarah daging, bahkan menjadi bagian dari DNA-nya.

Tak ingin berlama-lama terjebak dalam keheningan yang menyesakkan, Sandra kembali menoleh dan menatap Nathan sambil berharap agar sahabatnya itu tidak lagi melontarkan protes yang dapat membuat dirinya makin terpuruk. Sama seperti Sandra, Nathan pun menatap dengan sorot prihatin sambil memaksakan senyum masam, kemudian mengembuskan napas cepat, menyerah.

“Kau yakin dia tidak akan mempermainkanmu?” Nathan kembali membuka percakapan. Kali ini, pria itu terdengar sedikit lebih tenang, meski Sandra tahu betapa Nathan masih mengkhawatirkannya. Sandra mengedikkan bahu sambil memasang raut wajah tidak peduli.

“Bagaimana kalau ternyata dia tidak jadi bergabung dengan kita setelah perjanjian kalian berakhir?” tanya Nathan sedikit penasaran, kemudian membuka penutup gelas dan menyeruput kopi setelah menghirup sejenak aroma yang menguar memenuhi indra penciuman.

“Dia sudah menyiapkan surat perjanjian yang akan ditandatangani di depan pengacaranya nanti siang,” jawab Sandra sesuai dengan yang Dark Shadow utarakan kemarin malam. Ketenangan yang terkandung dalam suaranya sama sekali tidak mencerminkan riuhnya badai kegelisahan yang melanda dirinya saat ini. Jujur saja, Sandra gelisah membayangkan kegagalannya seandainya seluruh pengorbanan yang telah ia lakukan demi memuluskan kerja samanya dengan Dark Shadow tidak berjalan lancar.

Meski begitu, sebagian diri Sandra mencoba meyakinkan bahwa Dark Shadow tidak akan mempermainkannya. Dari pertemuan semalam, Sandra bisa menilai betapa ketatnya pria itu menjaga agar segala sesuatu berjalan sesuai dengan aturan yang akan ditetapkan bagi hubungan mereka. Sandra juga berani bertaruh kalau Dark Shadow adalah tipe pria yang akan selalu menepati janji. Lagi pula, untuk apa Dark Shadow bersikeras memintaku menandatangani surat perjanjian di depan pengacara jika dia berniat melanggarnya? Benar, kan? pikir Sandra hati-hati.

Sembari meletakkan kembali gelas kopi ke meja, Nathan menggeleng heran sekaligus tak percaya melihat ketidakpedulian Sandra akan betapa berisikonya keputusan yang telah diambil itu. Namun, sekeras apa pun Nathan menasihati, pria itu tahu bahwa Sandra tak akan pernah mengubah keputusannya.

Darling, kuingatkan, ya.” Nathan kembali memiringkan posisi duduknya hingga menghadap Sandra. Salah satu tangannya direntangkan di atas sandaran sofa, sementara salah satu kakinya yang panjang dilipat santai di sofa. “Mungkin tantangan ini terlihat mudah bagimu. Tapi … bagaimana dengan hatimu? Apa kau yakin kau tidak akan jatuh cinta padanya?”

Sandra spontan mendengus lalu menggeleng geli. “Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya, Nat. Ini hanyalah hubungan di atas kertas dengan keuntungan yang sangat besar buatku.”

“Apa kau lupa kalau kau itu wanita?” tanya Nathan sarat teguran, “wanita selalu menggunakan hati jika berkaitan dengan hubungan. Setenang dan sedatar apa pun kau menjalani hubungan itu, pasti akan ada celah di mana cinta itu akan tumbuh. Lalu, apa yang akan kau lakukan jika kau jatuh cinta padanya, padahal yang kau jalani hanya sebuah hubungan sementara?”

“Aku tidak akan jatuh cinta padanya,” tampik Sandra secepat dan seyakin mungkin.

Yeah, mungkin kau bisa bicara seperti itu sekarang. Coba kita lihat tiga bulan ke depan, apakah kau masih berani mengatakan kau tidak jatuh cinta padanya?” sindir Nathan sinis sekaligus memasang raut mengejek.

“Tidak akan, Nat!” Sandra kembali menolak sindiran sarat teguran itu.

“Terserah! Pokoknya aku sudah memperingatkanmu, ya. Aku hanya tidak ingin melihatmu terluka dan bersedih, itu saja.”

“Aku tahu, Nat.” Sandra menanggapi kekhawatiran Nathan setenang dan sebaik mungkin.

Lagi pula, aku tidak mungkin jatuh cinta pada orang yang arogan dan menyebalkan seperti Dark Shadow. Tidak mungkin!

*****

BAB 7

“Selamat datang.”

Seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut cokelat tua yang dipotong pendek dan disisir rapi, menyapa Sandra dengan senyum karismatik yang langsung menghipnotisnya dalam sekejap. Suara bariton yang sedikit serak serta bibir tipis yang melekuk sempurna, menimbulkan kesan bersahaja dan hangat. Dengan kaos putih lengan pendek yang menunjukkan lekukan otot atletis dan celana panjang jeans hitam yang menutupi kaki jenjangnya, pria itu tampil santai di siang hari tanpa mengurangi sedikit pun ketampanannya.

Sungguh, Sandra tak pernah menyangka bahwa hari yang ia awali dengan menggerutu malah akan membawanya bertemu dengan pria tampan yang ada di hadapannya saat ini. Sambil berdiri di ujung anak tangga salah satu townhouse tingkat tiga di area Clinton Hill, Sandra terpaku selama beberapa detik, meneliti sekilas pria berhidung mancung dan beriris hitam pekat yang memancarkan sorot penuh kepercayaan diri sekaligus kehangatan.

Tak ingin tampak seperti remaja kasmaran, Sandra segera membalas sambutan pria itu dengan senyum lebar dan penuh keceriaan. Sandra menunjukkan betapa menyenangkan pribadinya pada pria itu, meski sejujurnya ia cukup sulit menutupi sorot mata kagum serta warna pipinya yang mulai merona. Tak dipungkiri, pesona pria itu sangatlah kuat hingga Sandra sempat tak berkedip selama beberapa detik demi mengumpulkan kembali fokusnya.

“Silakan masuk,” lanjut pria itu sembari membuka pintu lebih lebar dan bergerak ke samping.

“Terima kasih,” balas Sandra diiringi senyum sopan, kemudian melangkah masuk. Matanya langsung mengamati ruang tamu yang memiliki konsep terbuka tanpa sekat dengan langit-langit tinggi dan lantai kayu yang indah.

Dari tempatnya berdiri, Sandra bisa melihat dapur modern dengan meja dapur marmer yang memberikan kesan mewah dan elegan. Rumah berdinding putih dengan sentuhan warna cokelat muda sebagai pemanis menimbulkan kesan nyaman dan hangat yang mampu membuat siapa pun betah berlama-lama di sana.

Dengan sopan, pria itu menawarkan diri untuk menggantungkan mantel panjang yang Sandra kenakan. Senyum Sandra kembali melebar merespons tawaran baik tersebut, kemudian melepaskan mantel dan memberikannya pada pria itu.

“Dark Shadow sudah menunggumu di lantai dua,” ucap pria itu seraya menggantungkan mantel Sandra di gantungan dekat pintu masuk.

“Kamu pengacaranya?” tanya Sandra memastikan seraya menjaga nada bicaranya agar tidak terdengar terlalu penasaran. Sunggu, ia berharap pria itu menjawab ‘tidak’ dan mengatakan bahwa dirinya adalah anak dari si pengacara yang sudah berusia lima puluhan.

“Oh, I’m so sorry. Pria macam apa aku ini. Perkenalkan, aku Gerald. Gerald Morgan. Pengacara Dark Shadow.” Pria itu menjulurkan tangan ke hadapan Sandra diiringi senyum lebar nan hangat yang kembali memesonanya. Sementara itu, harapan Sandra melayang bak sehelai bulu merpati yang tertiup angin.

Dengan sedikit perasaan kecewa, ia menyambut uluran tangan dan memperkenalkan diri, “Sandra Anderson.”

Selama beberapa saat, mereka saling berjabat tangan dengan tatapan saling mengunci. Jabatan kuat dan tegas yang melingkari tangan Sandra yang ramping dan lembut berhasil menimbulkan getaran tersendiri dalam dadanya. Kehangatan yang tercipta dari jabatan tangan itu pun entah mengapa terasa begitu menyenangkan saat merambat menyelimuti sekujur tubuhnya.

“Senang akhirnya bisa bertemu denganmu,” ujar Gerald ramah sembari melepas jabatan tangan, terlihat tak terusik sedikit pun dengan sorot ceria sarat harapan yang terpancar jelas di mata Sandra. “Setelah mendengar cerita singkat dari Dark Shadow mengenai perjanjian yang akan kalian lakukan, aku penasaran seperti apa wanita yang berani menerima tantangan gilanya.”

“Ya, ya, tentu saja,” ujar Sandra pelan seperti berbisik, canggung. Ia bahkan menyunggingkan senyum masam dan membawa tangannya yang tadi berjabatan tangan dengan Gerald, langsung berpindah ke tali tas yang menggantung di pundak. 

“Sebagai pengacaranya, dia pasti sudah membicarakan hal itu denganmu,” lanjut Sandra tanpa berusaha menutupi sedikit pun keengganannya untuk membahas masalah ini dengan Gerald. Sandra menyadari, Gerald pasti menilai betapa aneh dan gila dirinya karena sudah berani menerima tantangan Dark Shadow. Penilaian yang sangat tidak Sandra harapkan dari seorang pria tampan dan menarik seperti Gerald.

“Kalau boleh kuberi nasehat, sebagai sahabatnya Dark Shadow, aku tahu seperti apa dia. Dia mungkin terkesan kasar dan dingin, tapi sejujurnya dia adalah sosok yang baik dan sangat perhatian. Dia adalah salah satu sahabatku yang tidak pernah melakukan hal-hal aneh seperti pria kebanyakan. Kuharap kamu bisa sabar menghadapinya.”

Sandra tersenyum masam seraya menyelipkan rambut panjangnya yang tergerai ke balik daun telinga. Jujur, jauh di dalam lubuk hatinya, Sandra berharap Gerald tidak menganggap serius perjanjiannya dengan Dark Shadow. Karena, memang begitulah adanya. 

Ia juga menyayangkan jalan hidupnya yang tidak mempertemukan dirinya terlebih dahulu dengan Gerald sebelum ia menemui Dark Shadow. Seandainya ia bertemu Gerald lebih dulu, ia pasti akan menolak tantangan itu mentah-mentah. 

Di mata Sandra, Gerald terlihat begitu menarik, tampan dan berwibawa. Aura dominasi yang kuat dan kharisma yang terpancar jelas setiap kali berbicara, berhasil memesona Sandra dalam waktu singkat.

Gerald adalah pria idaman setiap wanita, idaman Sandra. Jika jatuh cinta pada pandangan pertama memang benar adanya, mungkin itulah yang Sandra alami saat ini. Ia tak menyesal bisa bertemu Gerald meski di waktu yang kurang tepat. Karena, sebagai seorang wanita yang sudah lima tahun lebih tidak menjalani hubungan serius, Sandra merasa bahwa kehadiran Gerald merupakan jawaban dari doanya selama ini.

Sandra sadar, ia memang sudah terlanjur menerima tantangan Dark Shadow untuk menjadi kekasih selama tiga bulan. Namun, hal itu bukan berarti melarangnya untuk jatuh cinta pada pria lain. Benar, kan?

“Aku hanya menjalani peran sebagai kekasihnya selama tiga bulan, bukannya menjadi istri. Jadi, aku yakin aku masih sanggup menerima sikap dingin dan arogansinya hingga yang teraneh sekali pun,” jelas Sandra setenang mungkin seraya tersenyum kecil. Ia ingin menegaskan pada Gerald bahwa hubungan yang ia jalani dengan Dark Shadow bukanlah sesuatu yang serius. Hubungan yang mereka jalin hanyalah sebatas hubungan simbiosis mutualisme, tidak lebih!

“Lama sekali!”

Dark Shadow yang tiba-tiba muncul di ujung tangga teratas, berhasil membuat Sandra tercekat kaget. Mereka berdua mengarahkan pandangan ke Dark Shadow yang berdiri sambil bersedekap. Tubuh pria itu menjulang tinggi bak Dewa Kematian yang siap mencabut nyawa orang. Masker hitam yang masih menjadi andalan Dark Shadow untuk menutupi identitasnya malah semakin menambah tajam dan tegasnya teguran yang terpancar dari mata pria itu.

Gerald tersenyum miring menanggapi teguran itu, kemudian mengangguk ringan pada Sandra lalu menaiki anak tangga menuju lantai dua. Kesal karena Dark Shadow mengganggu waktu berduanya dengan Gerald, Sandra berjalan di belakang pria itu dan menapaki tiap-tiap anak tangga menuju lantai dua sambil mengerutkan kening sarat protes.

“Jangan merona!” tegur Dark Shadow sembari merentangkan satu tangan ke sisi lain pegangan tangga demi mencegat langkah Sandra ketika kakinya hampir menginjak anak tangga terakhir. “Dia sudah punya kekasih. Jadi, berhenti berkhayal dan kembali ke kenyataan.”

“Aku tidak merona!” kilah Sandra seraya menatap mata Dark Shadow tanpa takut sedikit pun.

Really? Bahkan, tomat saja kalah merahnya jika dibandingkan dengan warna pipimu,” ledek Dark Shadow sinis. “Ingat! Keberhasilanmu menjalani peran sebagai kekasihku menentukan sukses tidaknya cerita baru yang akan kuberikan pada perusahaanmu.”

Sandra menatap kesal iris biru yang terlalu indah untuk berada di diri seorang pria menyebalkan seperti Dark Shadow. Tak segan menunjukkan kekesalannya, Sandra menepis kasar tangan pria itu.

“Aku ingat!” jawab Sandra ketus lalu melenggang mengikuti kepergian Gerald yang sudah menghilang di balik pintu sebuah ruangan yang ia yakini adalah ruang kerja pria itu.

“Silakan duduk,” ujar Gerald ketika Sandra baru saja masuk ke ruangan berukuran cukup besar dan nyaman untuk menjadi sebuah ruang kerja. Sandra duduk di kursi yang tersedia di depan meja kerja. Senyum ramah yang terus mengukir wajah Gerald sungguh menyita seluruh perhatian dan menghapus kekesalan di hati Sandra dalam sekejap. Namun, ketika Dark Shadow menarik kursi di samping Sandra dan duduk di sana, perhatiannya langsung buyar.

“Baiklah. Kita langsung mulai saja, ya,” ucap Gerald langsung ke pokok masalah. Sandra mengangguk singkat, meski sejujurnya ia enggan membicarakan masalah perjanjiannya dengan Dark Shadow di depan Gerald. Sementara itu, Dark Shadow tidak memberikan respons sama sekali dan hanya diam tenang sambil bersedekap.

“Sesuai dengan informasi yang aku dengar semalam dari Dark Shadow, kalian berdua telah sepakat untuk melakukan perjanjian kerja sama di atas hitam dan putih. Adapun peraturan serta keuntungan yang akan diperoleh kedua belah pihak sudah aku tuangkan dalam surat perjanjian yang akan kalian tanda tangani setelah membacanya dengan saksama. Jika ada pertanyaan atau tambahan yang ingin kalian masukkan ke dalam surat perjanjian ini, silakan diutarakan agar aku bisa mengubah dan menggantinya dengan yang baru sebelum ditandatangani.”

Sandra mendengarkan penjelasan Gerald—atau lebih tepatnya, menatap wajah pria itu dan menikmati pesona yang Gerald pancarkan setiap kali berbicara. Bahkan, ketika pria itu menyodorkan map transparan ke hadapannya, Sandra terpaksa mengerjap-ngerjap demi melepaskan tatapan dari sosok yang begitu menghipnotisnya. 

“Terima kasih,” ucap Sandra sembari menerima map tersebut. Ia kemudian membuka map dan mulai membaca isi surat perjanjian yang mencantumkan beberapa butir peraturan serta keuntungan dari kerja sama yang akan terjalin.

“Ini serius?” tanya Sandra yang langsung menoleh tak percaya ke arah Dark Shadow setelah membaca sekilas mengenai keuntungan yang akan ia peroleh setelah perjanjian itu berakhir.

“Kenapa? Kamu tidak mau?” tanya Dark Shadow datar tanpa menoleh sedikit pun.

“Oh, tentu saja aku mau! Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dengan bodohnya menolak keuntungan berlipat ganda seperti ini. Tapi, apa kamu yakin akan memberikan seluruh royalti buku terbarumu padaku selama tiga bulan berturut-turut?” Sandra memastikan kembali kalimat yang tertera di surat perjanjian itu. Nada bicaranya yang sedikit lebih tinggi merepresentasikan kegembiraan sekaligus ketidakpercayaan Sandra pada kemurahan hati Dark Shadow.

“Bukan hanya itu saja. Seluruh karyaku yang sudah kutarik dari penerbit lama juga boleh diterbitkan ulang oleh penerbitmu. Selama tiga bulan berturut-turut, semua royaltiku sepenuhnya menjadi milik mereka. Kuharap kamu membacanya,” sahut Dark Shadow sedikit sinis dengan pandangan terus tertuju pada surat perjanjian di atas map. Dark Shadow benar-benar tak menunjukkan sedikit pun ekspresi berarti yang bisa memberikan Sandra petunjuk lebih mengenai perasaan pria itu.

“Tentu saja aku membacanya.” Sandra menyahut secepat kilat, kemudian melemparkan pertanyaan sarat kecurigaan. “Lalu, apa keuntungannya bagimu?”

Tiba-tiba, Dark Shadow menoleh dan menatapnya dengan sorot tajam sekaligus penuh makna. “Dirimu.”

Sandra tak mampu berkata-kata saat mendengar jawaban Dark Shadow. Ia bisa merasakan pipinya merona seketika saat gelenyar panas merambat naik dari hati ke kepala akibat satu kata yang begitu dalam, penuh penekan, dan penuh makna. Tatapan intens sarat gelora liar tersembunyi pun seolah memercik sesuatu dalam diri Sandra yang membuat napasnya sempat terhenti sejenak selama se per sekian detik.

Ia segera mengalihkan pandangan dari pria itu kembali ke surat perjanjian. Selama beberapa detik, Sandra terus tertunduk malu menatap kertas di hadapannya, sementara ia masih merasakan tatapan Dark Shadow terus menguncinya.

“Bagaimana? Apakah ada yang mau direvisi?” tanya Gerald demi memecah keheningan kaku yang sempat mengisi ruangan. Sandra segera mengangkat pandangan dan menatap pria tampan yang telah menarik perhatiannya sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini.

“Boleh aku baca ulang sekali lagi?” pinta Sandra yang kemudian mendapat anggukan Gerald. Ia kembali membaca surat perjanjian itu, sedangkan Dark Shadow hanya meletakkan map begitu saja di meja kerja.

Di surat perjanjian itu tertera beberapa peraturan yang harus mereka jalani selama tiga bulan menjadi sepasang kekasih. Sandra harus tinggal di apartemen Dark Shadow. Ia harus bersikap layaknya seorang kekasih sungguhan baik ketika mereka hanya berdua saja ataupun di depan umum, begitu pula sebaliknya.

Selain itu, tertera bahwa Sandra dan Dark Shadow harus saling menghargai waktu kerja mereka. Setidaknya, bagi Sandra hal tersebut memberikan kebebasan bagi dirinya untuk melakukan aktivitas keseharian seperti biasa.

Kemudian, di surat itu dikatakan bahwa Sandra harus bisa mendukung dan menjadi inspirasi terbaik bagi Dark Shadow demi menunjang keberhasilan karya terbaru yang akan pria itu buat. Sandra juga tidak boleh memberi tahu identitas asli dan tempat tinggal Dark Shadow kepada publik tanpa seizin pria itu sampai kapan pun.

Namun, dari semua yang tertera di surat tersebut, ada satu peraturan yang membuat Sandra menghela napas pasrah. Dinyatakan dengan jelas bahwa selama menjadi kekasih Dark Shadow, Sandra tidak boleh menjalin hubungan asmara dengan pria lain. Artinya, rencana Sandra untuk mengenal Gerald lebih jauh terpaksa ia tunda sementara waktu hingga surat perjanjian ini berakhir.

“Kenapa semua peraturan yang tertera ini lebih tertuju kepadaku?” protes Sandra sembari menatap Dark Shadow.

“Karena kamu yang mendapatkan keuntungan lebih banyak di sini.” Jawaban pria itu seketika menyadarkan Sandra bahwa memang dirinya yang lebih banyak diuntungkan jika dilihat dari nilai uang. 

Mau tidak mau, Sandra mengakui hal itu. Ia pun mengendus kesal sebelum kembali bertanya, “Lalu, kenapa tidak ada syarat yang mengatakan mengenai … batasan-batasan kita?”

“Batasan apa?” Kedua alis Dark Shadow mengerut ketika menatap Sandra. Tatapan yang sebelumnya terlihat begitu tajam, kali ini tampak bingung setelah mendengar pertanyaannya. 

Jujur, Sandra malu membicarakan hal ini di depan Gerald. Namun, ia harus memperjelas akan sejauh mana dirinya berperan sebagai kekasih pria itu.

“Seperti … maksudku, aku akan menjalani peran sebagai kekasihmu. Sementara yang kita tahu, sepasang kekasih pasti … maksudku, apakah … bagaimana mengenai—”

“Berhubungan intim?” lanjut Dark Shadow datar.

“I-iya. Itu maksudku.” Sandra merona malu, tapi ia memberanikan diri menatap Dark Shadow tanpa memikirkan penilaian Gerald terhadap dirinya.

“Kita tidak bisa menutup kemungkinan kalau hal itu bisa terjadi,” tukas Dark Shadow datar seolah hal tersebut tidak terlalu penting bagi pria itu.

“Hal itu tidak akan terjadi!” tampik Sandra cepat dan penuh penekanan.

“Tenang saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang hal itu. Aku bukanlah pria jahat yang suka memaksa seorang wanita untuk tidur denganku. Aku tidak akan memaksamu, kecuali memang kamu menginginkannya.”

Sandra mengernyit mendengar penjelasan Dark Shadow. Ingin menegaskan batasannya, ia pun membalas, “Aku sudah pasti tidak akan menginginkannya!”

“Ada lagi yang ingin ditambahkan atau diubah?” Pertanyaan Gerald seketika menghentikan pertikaian kecil yang terjadi di antara mereka berdua. Sandra kembali membawa tatapannya kepada Gerald tanpa sedikit pun menghapus raut kesal dari wajahnya.

Sejenak, Sandra memikirkan kembali ucapan Gerald mengenai sosok Dark Shadow yang berbeda dari pria kebanyakan. Sungguh, Sandra ingin sekali percaya pada ucapan Gerald karena ketulusan yang terpancar di mata pria itu. Namun, setelah mendengar kata-kata Dark Shadow dan betapa tenangnya pria itu menanggapi perihal hubungan intim, seketika itu pula Sandra ragu dengan penilaian Gerald. Masalahnya, Sandra tidak punya jalan keluar lain untuk meloloskan kerja sama ini selain mengikuti aturan permainan Dark Shadow.

“Tidak ada. Kurasa semua sudah tertulis jelas di sana.” Sandra akhirnya menyetujui isi surat perjanjian itu meskipun terpaksa.

“Bagaimana denganmu?” tanya Gerald pada Dark Shadow.

“Tidak ada,” jawab Dark Shadow singkat.

Akhirnya, mereka berdua menandatangani surat perjanjian itu. Sandra sadar bahwa ketika ia menandatangani surat itu, ia tidak akan bisa mundur, apalagi menyesali keputusannya. Tiga bulan ini mungkin akan terasa berat baginya. Namun sebagai seorang wanita yang tak pernah menyerah menghadapi setiap tantangan, Sandra percaya bahwa sesulit apa pun itu, ia pasti mampu melewatinya.

Yes! I know I can do it!

*****

BAB 8

“Sekarang, apa aku sudah boleh tahu siapa namamu yang sebenarnya?”

Bukannya menjawab pertanyaan Sandra, Lucas malah menatap Gerald sesaat. Sahabatnya itu mengedikan alis sambil tersenyum kecil seolah menertawakan Lucas yang mau tidak mau harus menjawab sebuah pertanyaan yang selalu ia hindari sejak lama.

Sebelum Sandra tiba di rumah Gerald, sahabatnya itu sudah lebih dari tiga kali menegur dan menasihati Lucas terkait hubungan kontraknya dengan Sandra. Gerald bahkan berusaha mengingatkan Lucas terkait hal-hal tak terduga yang mungkin terjadi selama hubungan kontrak itu berlangsung. Jatuh cinta, misalnya. Atau, rasa nyaman dan rasa memiliki yang tercipta akibat seringnya bertemu.

Namun, Lucas memilih untuk tidak memedulikan nasihat serta teguran itu. Dendam dan kebenciannya pada Sandra benar-benar telah mendarah daging. Lucas percaya dan yakin kalau besarnya dendam yang ia miliki dapat berperan sebagai perisai kuat yang mampu melindunginya dari benih-benih cinta. Rasa sakit yang terpatri di setiap jengkal tubuhnya pun dapat Lucas gunakan sebagai pengingat agar ia tak mudah jatuh dalam pesona Sandra dan kembali dimanfaatkan oleh wanita itu seperti sepuluh tahun yang lalu. Jadi, Lucas sepenuhnya yakin kalau ia tidak akan jatuh cinta pada Sandra.

Lucas tahu, Gerald tidak akan pernah memahami jalan pikirannya terkait keputusannya kali ini. Karena, sahabatnya itu tidak tahu alasan di balik bersikerasnya Lucas agar hubungan kontrak ini dapat segera terlaksana.

Gila? Memang. Namun, hanya ini caranya agar wanita itu tetap berada di dekatnya, masuk ke dalam permainannya, dan menjebak Sandra dalam pusaran perasaan. Kemudian, setelah ia berhasil memanfaatkan wanita itu, ia akan mengempaskan Sandra bak barang yang tidak berharga, sama seperti yang pernah wanita itu lakukan padanya dulu.

“Kenapa kamu tidak menjawabku?” tegur Sandra kesal yang seketika menarik Lucas keluar dari dalam pikirannya sendiri.

“Kemarin kamu bilang kalau aku boleh mengetahui namamu setelah penandatanganan surat perjanjian. Apa kamu lupa?” ingat Sandra yang terlihat mulai gemas menghadapi sikap diam Lucas.

Lucas sadar, inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan identitasnya. Namun, sebagian dari dirinya menahan Lucas untuk terbuka sepenuhnya pada Sandra. Akhirnya, ia menarik napas panjang, kemudian menegakkan posisi duduknya.

“Boleh tinggalkan kami berdua sebentar?” pinta Lucas pada Gerald yang langsung mengangguk mengerti dan beranjak dari kursi.

“Kenapa dia harus pergi? Bukankah dia juga harus mendengarkan?” protes Sandra curiga.

Lucas menoleh dan melemparkan tatapan menusuk pada Sandra, “Dia sudah tahu siapa aku.”

Jawaban singkat, datar, dan penuh penekanan Lucas berhasil membungkam Sandra. Wanita itu bahkan sampai mengalihkan pandangan darinya dan memilih untuk mengamati Gerald yang bergerak meninggalkan ruangan. Dalam keheningan kaku yang tercipta sesaat, Lucas menangkap sorot hangat penuh harap Sandra terus mengunci pergerakan Gerald.

Jujur, ia tidak menyukai cara Sandra menatap Gerald. Meski menjalani hubungan atas dasar kontrak, Lucas tidak suka melihat wanita yang akan menjadi kekasihnya malah menatap pria lain dengan binar kehangatan dan penuh arti. Sorot memuja yang tertuju pada Gerald pun semakin mempertegas bahwa Sandra memiliki perasaan pada pria itu, dan Lucas tidak menyukainya.

“Oke. Dia sudah pergi,” ujar Sandra langsung ketika pintu ruangan tertutup, kemudian menatap Lucas dengan sorot menantang. Tampak jelas bahwa keberanian wanita itu sudah kembali.

“Sekarang, katakan padaku siapa namamu?” tanya Sandra kemudian.

“Lucas.”

“Lucas? Hanya itu?” Sandra mengernyit heran sekaligus tak percaya.

“Itu saja sudah cukup untukmu.” Ketegasan yang terkandung dalam nada bicara Lucas tak sedikit pun mengurangi niat wanita itu untuk kembali bertanya.

“Lalu, di mana kamu tinggal? Berapa usiamu?” tanya Sandra tak sabaran.

“Rogers Avenue, Flatbush, 30 tahun,” jawab Lucas seadanya. Kening Sandra mengernyit kesal merespons jawaban itu.

“Kapan aku harus pindah ke tempatmu?” Sandra tak sedikit pun berniat menyudahi pertanyaannya.

“Hari ini.”

“Hari ini?” ulang Sandra terkandung protes. “Yang benar saja! Aku belum merapikan pakaianku. Bagaimana mungkin aku bisa mengepak seluruh keperluanku dalam waktu singkat?”

Lucas menghela napas panjang, lalu menyugar kasar rambutnya. Menghadapi penolakan dari wanita yang ia kenal sangat keras kepala dan selalu menolak jika bertentangan dengan keinginan wanita itu, sungguh merupakan salah satu tantangan terbesar yang harus Lucas hadapi dalam menjalani hubungan kontrak ini. Namun, Lucas berusaha mengendalikan diri agar tidak mudah terpancing emosi.

“Kalau begitu, besok siang aku akan menjemputmu. Tepat jam dua belas siang,” jelas Lucas datar tanpa ekspresi berlebih.

“Lalu, bagaimana dengan keluargamu? Orangtuamu? Apa kamu punya saudara? Apakah mereka tahu tentang hubungan kontrak ini? Kalau mereka tidak tahu, apa yang harus kukatakan jika bertemu dengan mereka?” tanya Sandra sedikit lebih menuntut.

Kali ini, Lucas yang mengerut kesal saat mendengar pertanyaan yang diberikan padanya. Membahas keluarga adalah salah satu topik yang paling Lucas hindari. Kejadian yang menimpa keluarganya beberapa tahun lalu menjadi alasan utama mengapa ia menarik semua karyanya dari penerbit lama. Hampir tiga tahun berlalu, tapi luka itu masih ada, amarah itu masih mendekam bak bara api di dadanya, dan ia tak akan pernah melupakan kejadian itu.

Pertanyaan itu … pertanyaan menuntut yang Sandra berikan padanya, seketika memunculkan kembali trauma yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Tak ada seorang pun tahu tentang masalah ini. Tak seorang pun yang tahu alasan di balik kematian kedua orang tuanya malam itu. Tidak ada yang tahu.

“Kurasa pertanyaanmu cukup sampai di situ,” putus Lucas sepihak.

Tak ingin memberikan kesempatan bagi Sandra untuk kembali melontarkan pertanyaan yang sifatnya terlalu pribadi, Lucas segera beranjak dari kursi dengan perasaan sedikit terguncang dan bergegas menuju pintu ruangan. Namun, seperti Sandra yang ia kenal sepuluh tahun lalu, wanita itu bergerak cepat menghampiri Lucas demi kembali mengonfrontasinya. Sandra adalah seorang petarung, dan Lucas sangat tahu itu.

“Tapi, aku belum selesai.” Sandra menarik pergelangan Lucas yang langsung ditepisnya dengan cukup kasar.

“Aku sudah,” timpal Lucas tak peduli sambil terus berjalan.

“Tunggu dulu!” tegur Sandra keras hingga suara wanita itu menggema di telinga Lucas. Kali ini, tarikan Sandra berhasil menghentikan langkah Lucas.

Dengan sorot sinis dan dingin, Lucas menatap cengkeraman Sandra di pergelangan tangannya. Cengkeraman erat itu menunjukkan betapa Sandra ingin mengendalikannya, dan ia tidak menyukai hal tersebut. Di sini, saat ini, dirinyalah yang berhak mengendalikan keadaan, bukan Sandra.

Masih dengan sorot sinis, Lucas melepaskan cengkeraman yang terasa membakar kulitnya, kemudian mengunci iris cokelat nan indah yang saat ini menatapnya dengan kobaran api penasaran.

“Tanya-jawabnya sudah selesai,” tegas Lucas demi menunjukkan betapa ia sudah cukup dengan pertanyaan sarat investigasi yang akan Sandra berikan.

“Tidak adil!” tuduh Sandra kesal.

“Apanya yang tidak adil?” Kening Lucas mengerut, heran dengan tuduhan itu.

“Kemarin kamu bilang kalau kita akan saling mengenal. Bagaimana kita bisa saling mengenal kalau kamu tidak terbuka?” cecar Sandra blak-blakan, tak takut sedikit pun pada Lucas.

“Jangan berlebihan!” tukas Lucas tipis, “kamu memang sudah menandatangani surat perjanjian itu, tapi bukan berarti kamu berhak mengaturku. Sekali lagi aku tegaskan, aku yang menentukan bagaimana caranya agar kerja sama ini berjalan lancar. My work, My rules!”

Sandra tampak geram. Bibir merah nan kenyal itu langsung terkatup rapat, seolah mencegah sumpah serapah dan protes yang hendak dimuntahkan. Lucas sudah siap menghadapi sumpah serapah itu, tentu saja. Bahkan, ia akan semakin menegaskan kedudukannya jika Sandra masih bersikeras mengambil alih kendali permainan.

Beberapa detik berlalu, tapi masih belum ada caci maki yang keluar dari bibir wanita itu. Lucas bisa menilai bahwa Sandra terpaksa memahami hanya satu cara yang dapat dilakukan agar hubungan kerja sama ini bisa berjalan dengan lancar, yaitu menurut pada setiap ucapannya. Meski begitu, tak secuil pun rasa penasaran surut di mata wanita itu.

“Bagaimana dengan wajahmu? Sampai kapan kamu mengenakan masker di dekatku? Apakah aku juga tidak boleh mengetahui wajah aslimu?” tanya Sandra cepat. Lucas bisa menangkap rasa kesal dan geram dari cara bicara wanita itu.

“Aku akan membuka maskerku saat kamu sudah tinggal bersamaku,” jawab Lucas

“Kenapa tidak sekarang saja? Kenapa harus nanti?” paksa Sandra yang kembali menunjukkan protes di mata indahnya. “Apa sebenarnya yang berusaha kamu sembunyikan? Toh nanti aku juga akan mengetahui wajahmu.”

Lucas menatap jengkel wanita yang saat ini berdiri tegak menantang di hadapannya. Rasa penasaran yang begitu menuntut itu mulai terasa memuakkan baginya. Berniat mengintimidasi, Lucas bergerak mendekat. Sandra, yang menyadari perubahan emosi Lucas, mulai bersikap waspada dan bergerak mundur. Namun, Lucas tak sedikit pun menghentikan langkahnya.

Ketika punggung Sandra menyentuh dinding ruangan, langkah Lucas terhenti tepat di hadapan wanita itu. Jarak mereka yang cukup dekat, memudahkan Lucas untuk mengintimidasi Sandra hanya dengan tatapan dan postur tubuhnya yang tinggi.

Sandra menengadah demi melawan sorot intimidasi Lucas. Namun dalam hitungan detik, iris cokelat yang indah nan menawan itu mulai bergerak gugup menatap matanya. Sekilas, Lucas mengamati wajah Sandra dan leher jenjang nan halus yang begitu menggoda untuk disentuh. Bibir merah yang sedikit terbuka pun seolah menantang Lucas untuk memagut dan melampiaskan amarah yang terpendam sepuluh tahun lamanya pada wanita itu.

“Jadi … kamu mau melihat wajahku?” tanya Lucas parau dan dalam.

“Ya!” Sandra menjawab dengan berani meskipun kegugupan itu masih terpancar jelas di matanya.

Akhirnya, Lucas melepaskan masker dengan gerakan lambat tanpa sedikit pun melepaskan tautan mata mereka. Selama sesaat, Sandra masih terfokus pada matanya sebelum akhirnya Lucas bergerak mundur satu langkah demi memberi ruang bagi wanita itu untuk mengenali wajahnya.

Jujur, Lucas sudah siap menghadapi Sandra seandainya wanita itu mengenali dirinya. Namun, setelah beberapa detik berlalu, tak ada sepatah kata pun terucap dari bibir Sandra. Wanita itu hanya terpaku. Sorot mata yang sebelumnya memancarkan gelora menantang, kali ini terlihat sedikit lebih lembut, bahkan seolah terpesona pada paras Lucas. Seketika itu pula, ia merasa lega dan menang.

Sepuluh tahun telah berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Sandra. Selama rentang waktu itu pulalah Lucas mengalami perubahan yang luar biasa signifikan baik pada fisik maupun penampilan. Jika Sandra tidak mengenalinya saat ini, Lucas bisa memaklumi. Bahkan, Gerald pun sempat mengatakan padanya beberapa tahun yang lalu bahwa semakin hari Lucas terlihat semakin menarik, terlebih di mata para wanita.

Tentu saja. Kejadian sepuluh tahun itu berhasil menghantam keras kepercayaan diri Lucas serta menyadarkannya akan pentingnya sebuah penampilan.

Dulu, penampilan Lucas memang jauh dari kata menarik. Rambutnya panjang sebahu, berantakan, dengan poni yang selalu menutupi bagian dahi dan alis hingga sebagian wajah Lucas tidak pernah terlihat jelas. Wajah tirus, badan yang kurus, dan kacamata bulat yang selalu membingkai matanya, selalu membuat Lucas menjadi bahan olok-olokan.

Sekarang, ia tidak lagi kurus. Berkat olahraga dan gaya hidup sehat yang sempat ia pilih beberapa tahun lalu—meski sekarang pola makannya tidak sesehat dan serutin dulu—tubuhnya memiliki bobot yang proporsional dengan otot yang tidak terlalu besar, tapi mengisi tepat di bagian pundak, tangan, kaki, serta pahanya. Perut yang dulu hanya berupa lapisan kulit dan daging tanpa otot terlatih, sekarang sudah dipenuhi otot kencang meski tidak menyerupai para binaragawan.

Lucas bukan lagi pria kurus dan pemalu yang mudah dimanfaatkan. Ia bukan lagi pria pendiam yang mudah jatuh cinta hanya karena dekatnya sebuah hubungan. Ia bukan lagi pria yang selalu berjalan sambil menundukkan kepala karena malu dengan penampilannya yang berantakan. Tidak! Ia bukan lagi pria culun dan bodoh. Ia sudah berubah. Berubah total.

Do you like what you see, Angel?” tanya Lucas parau sarat emosi. Sandra tidak menjawab. Wanita itu masih terpaku dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

*****

Dengan secangkir cokelat panas di tangan kanan, Sandra berdiri di belakang dinding pembatas taman atap apartemen. Pandangannya tertuju pada jalanan di depan apartemen. Beberapa mobil masih tampak lalu lalang di bawah sana. Para pejalan kaki pun masih terlihat memenuhi bahu jalan meski waktu sudah menunjukkan pukul 21.00.

Udara malam ini cukup dingin dengan angin yang bertiup cukup kencang, terlebih saat berada di ketinggian seperti ini. Hanya dengan celana pendek santai, kaos longgar tanpa lengan, dan cardigan rajut berwarna abu-abu, Sandra berdiam diri selama beberapa saat di luar sambil mengingat kembali pertemuannya siang ini dengan Lucas dan Gerald.

Sandra menyeruput cokelat panas kesukaannya dan mengecap rasa manis yang sudah akrab di lidah, kemudian menghirup dalam-dalam aroma kental yang acap kali berhasil menenangkan gejolak perasaannya. Sayang, kali ini aroma tersebut gagal mengusir kegelisahan yang Sandra rasakan sepanjang hari, dan semua itu karena Lucas.

Disertai embusan napas berat, Sandra mengeluarkan ponsel dari saku celana, kemudian menemukan nama Nathan di urutan teratas daftar panggilnya. Ingin rasanya ia menghubungi Nathan dan menumpahkan segala keluh kesahnya pada pria itu. Namun, saat ini sahabatnya itu sedang mengunjungi sang ibu dan baru akan kembali esok malam.

Seperti biasa, Nathan terpaksa mengikuti kemauan sang ibu untuk dikenalkan pada seorang wanita. Sandra bisa membayangkan betapa bosan dan kesalnya Nathan ketika harus memperkenalkan diri kepada orang baru, sementara pria itu—Sandra bisa menebak dengan yakin—tidak tertarik pada wanita ke sekian yang disodorkan ke hadapannya.

Senyum kecil menarik ujung bibir Sandra saat membayangkan raut cemberut Nathan, tapi hanya sesaat karena bayangan wajah Lucas seketika muncul dalam benaknya. Ia tidak mengerti mengapa pria itu bisa tiba-tiba muncul di pikirannya, padahal ia cukup kesal dengan sikap Lucas hari ini. Perangai Lucas yang begitu tertutup, dingin, tapi suka mengatur, cukup berhasil memancing kesabaran Sandra. Namun, setelah mengetahui identitas Dark Shadow, wajah, dan pesona misterius sarat ancaman yang begitu kuat, Sandra tak mampu menepis gejolak aneh yang tiba-tiba timbul dalam dirinya.

Dari pertemuan hari ini, entah mengapa Sandra yakin ada sesuatu yang berusaha Lucas sembunyikan di balik perjanjian kerja sama mereka. Sandra makin penasaran dan tertantang, tentu saja. Masalahnya, ia tidak tahu apakah ia bisa berhasil menjalani tiga bulan ke depan dengan lancar atau malah akan berhenti di tengah jalan. Sungguh, Sandra benar-benar tidak tahu. Bukan karena ia takut menghadapi Lucas, tapi … ia mulai teringat akan ucapan Nathan, dan kegelisahan pun semakin melingkupinya.

Demi menekan kegelisahan dalam dirinya, Sandra kembali menyeruput cokelat panas hingga tersisa setengah. Ia menjilati sisa cokelat di bibir atasnya, kemudian menghela panjang sambil berusaha memahami gejolak perasaan dalam dirinya.

Seolah menyadari kegelisahan hatinya, tiba-tiba ponsel Sandra bergetar. Perhatian Sandra yang sebelumnya tertuju pada lampu-lampu gedung pencakar langit yang selalu terlihat menakjubkan di malam hari, segera beralih ke layar ponsel.

Bagaimana tadi? Apa kau sudah mengetahui identitasnya? Apa dia tampan?

Tanpa menunggu sapaan dari Sandra, Nathan langsung mencecarnya dengan pertanyaan. Setidaknya, pertanyaan sarat antusias Nathan berhasil mengukir senyum kecil di bibir Sandra. Mendengar suara Nathan dan gaya bicaranya yang centil pun mampu menghibur kegelisahan Sandra.

“Satu-satu, Nat,” sahut Sandra yang kemudian membawa cangkir cokelat panas ke meja bundar beralas kayu dan berkaki besi ulir.

Oke. Mulai dari, apakah kau sudah mengetahui identitasnya?” tanya Nathan dengan sedikit penekanan, menegaskan betapa pria itu sungguh tidak sabar untuk mendengar ceritanya. Terdengar suara televisi yang cukup keras dan tawa ringan mengiringi acara yang sedang ditonton.

“Kau sudah di rumah Mom? Bagaimana pertemuanmu kali ini? Apakah dia cantik?” tanya Sandra ambil merapatkan kardigannya, kemudian duduk di kursi taman berbahan besi dan bercat hijau tua yang sudah sedikit pudar akibat diterpa sinar matahari dari tahun ke tahun.

Jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat cerita!” tuntut Nathan gemas dengan nada bicaranya yang centil. Decit yang terdengar ketika Sandra menarik kursi agar lebih dekat ke meja, membuatnya mengernyit ngilu sekilas sebelum akhirnya bersandar santai.

“Aku sudah tahu namanya,” ujar Sandra tenang.

Siapa?” Nathan penasaran.

“Sayangnya, aku tidak boleh memberi tahumu tanpa persetujuan darinya, Nat. Hal ini tertera dalam surat perjanjian yang sudah kutandatangani tadi siang.” Sandra menggerakkan jari telunjuknya dengan gerakan memutar di atas bibir cangkir bulat berbentuk kepala beruang dalam genggamannya.

Brengsek! Dia benar-benar pintar menyembunyikan identitas,” maki Nathan kesal, yang kemudian meminta maaf kepada sang ibu karena sudah berkata kasar.

“Bahkan, dia tidak memberikan alamat lengkapnya padaku. Padahal, besok aku sudah harus pindah dan menetap di tempat tinggalnya,” timpal Sandra seraya mengeluh.

Besok?

“Yup,” jawab Sandra cepat, kemudian mengangkat cangkir dan meneguk isinya. “Besok dia akan menjemputku jam dua belas tepat. Kau tahu? Dia menekankan hal itu dengan tegas seolah waktunya begitu berharga.”

Kalau begitu, besok aku pulang pagi-pagi. Aku harus bertemu dengannya,” putus Nathan spontan. Gaya bicara yang sebelumnya mengayun gemulai, kali ini terdengar tegas, dalam, dan terkesan protektif.

“Untuk apa?” Sandra mengerutkan kening seraya mengecap rasa manis yang tersisa di lidahnya. Angin malam kembali bertiup menerpa wajahnya. Demi menjaga agar tubuhnya tetap hangat, Sandra merapatkan kembali kardigannya yang sempat terbuka ketika ia mengangkat cangkir.

Untuk menasihatinya, tentu saja. Kami harus bicara antar sesama pria, dan aku harus menegaskan padanya bahwa dia tidak boleh menyakitimu. Kau adalah sahabatku, Darling. Kau salah satu wanita terbaik yang pernah kukenal.

Mata Sandra spontan terbelalak. “Wait, what? Oh, no. Please, Nat. Jangan lakukan itu.”

Kenapa?” Gaya bicara Nathan kembali melembut dan mendayu.

“Karena, aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagi pula … kurasa dia tidak mungkin menyakitiku.” Sandra beralasan sambil berharap agar Nathan mengurungkan rencana yang malah dapat mempermalukan dirinya di depan Lucas.

Hmm,” gumam Nathan penuh selidik, “kalau begitu, bisa kusimpulkan—dan aku yakin dengan penilaianku karena sudah mengenalmu cukup lama—Dark Shadow pasti tampan.

Sandra tidak langsung menjawab pernyataan itu karena kata tampan kurang tepat untuk menjabarkan paras Lucas yang sebenarnya. Iris biru safir yang indah terlihat semakin sempurna di wajah Lucas ketika pria itu melepaskan masker di hadapannya. Hidung mancung dengan bibir tipis yang terukir sempurna sempat mencuri perhatian Sandra hingga napasnya tercekat oleh gelenyar aneh yang muncul tidak pada waktunya.

Damn, right! Aku sudah tahu ini pasti terjadi. Aku bahkan sudah bisa menebak, kau pasti tidak akan berkutik saat tahu kalau ternyata si Dark Shadow ini tampan. Sial! Kau benar-benar dalam masalah, Darling.

Sandra menghela napas panjang. Ia bahkan menggeleng pasrah dengan penilaian Nathan. “Tenanglah. Aku masih bisa mengatasinya, Nat.”

Ingat, ya!” Nathan mulai memberatkan nada bicaranya, persis seorang ayah yang sedang menasihati anaknya. “Jangan sampai jatuh cinta.

Sandra mendengus malas. “Aku tidak akan semudah itu jatuh cinta pada seorang pria, Nat.”

Tapi, yang satu ini berhasil membuatmu tak berkata-kata, dan artinya, ketampanan Dark Shadow pasti mampu meluluhlantakkan hati setiap wanita, bahkan yang keras kepala sepertimu.

Nathan memang sangat mengenalnya, tapi ketika sahabatnya itu berbicara mengenai ketampanan Lucas, Sandra tidak menampik sama sekali. Sandra akui, Lucas memang luar biasa tampan. Ia bahkan sempat terpaku selama beberapa detik ketika pria itu membuka masker.

Iris biru safir yang sebelumnya terlihat indah, malah tampak semakin mengagumkan ketika disandingkan dengan hidung mancung dan paras menarik Lucas. Alis tebal yang menaungi mata indah itu bahkan terlihat lebih jelas saat Lucas mengekspos wajahnya secara keseluruhan. Bibir tipis yang melengkung sedikit ke bawah malah membuat raut tampan yang terkesan murung itu malah jadi lebih menarik. Janggut serta kumis yang dipangkas rapi hingga menyisakan bulu-bulu halus di rahang tegas Lucas, memperkuat aura misterius yang mampu menarik rasa penasaran setiap wanita.

Jika dibandingkan, antara Gerald dan Lucas, tentu saja kedua pria itu memiliki kadar ketampanan yang berbeda. Gerald lebih lembut, terkesan sangat berwibawa, dan mampu memesona wanita dengan senyum lebar yang begitu hangat bak sinar matahari di pagi hari. Sementara, Lucas … pria itu seperti menguarkan aura gelap yang memperkuat sifat tertutupnya. Dengan sikap dingin dan tatapan tajam, Lucas mampu menaklukkan seekor singa sekali pun. Dapat disimpulkan, Lucas bukan hanya tampan. Lucas … berbahaya!

“Kau berlebihan,” kilah Sandra sambil bersusah payah menghapus bayang-bayang wajah Lucas dari benaknya.

Ucapkan itu padaku dua minggu lagi, dan kita lihat apakah aku benar atau tidak.

Sandra merasa bahwa percakapan mengenai ketampanan Lucas harus segera diakhiri, atau ia tidak akan tidur nyenyak malam ini. “Ada sesuatu dalam isi surat perjanjian itu yang kuyakini dapat membuatmu terkejut.”

Hmm, dasar wanita pintar!” ledek Nathan yang mengetahui niat Sandra untuk mengalihkan topik pembicaraan. “Apakah kau mendapatkan keuntungan lebih dari perjanjian ini?

“Luar biasa banyak!” seru Sandra, mulai bersemangat. Ia pun mulai menceritakan keuntungan apa saja yang akan diperolehnya serta H&H Publishing.

Wow! Murah hati sekali dia,” puji Nathan sinis, “lalu, apa keuntungan yang dia dapatkan? Apakah dia terlalu kaya sampai dengan mudahnya dia memberikan jumlah uang yang sangat banyak tanpa imbalan?

Sandra tidak langsung menjawab pertanyaan Nathan. Ia merasa bahwa jawaban Lucas tadi siang berhasil menimbulkan sensasi baru bagi dirinya. Sensasi liar yang entah mengapa malah membuatnya tampak begitu berharga di mata Lucas sekaligus menggoda dan penuh hasrat.

Hei! Kau melamun lagi,” tegur Nathan.

“Oh, maafkan aku.” Sandra mengangkat cangkir dan menghabiskan cokelat yang sudah tidak panas.

Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa keuntungan yang dia dapatkan?

“Diriku.” Mau tidak mau, Sandra menjawab jujur. Perutnya bergejolak, sensasi liar itu kembali mengerubungi sekujur tubuhnya.

Damn! Kurasa dia benar-benar player sejati. Sebaiknya kau berhati-hati, Darling,” tebak Nathan seolah sudah mengenal Lucas.

“Kau tahu bagaimana aku kan, Nat.” Sandra berharap Nathan menyudahi penilaian demi penilaian yang dapat berpotensi menyurutkan keberaniannya dalam menjalani hubungan kontrak ini.

Ya, aku tahu. Tapi … aku tahu bagaimana seorang player jika sudah melancarkan taktiknya. Apalagi, kau harus berperan sebagai kekasihnya. Bisa kau bayangkan bagaimana hebatnya dia saat melancarkan aksi demi aksi yang biasa seorang pria lakukan pada kekasihnya?

Jujur, ucapan Nathan berhasil membuat bulu kuduk Sandra meremang. Masih berusaha terdengar optimis, Sandra mempertahankan nada bicaranya agar tetap terdengar tenang dan terkendali. “Nathan, kau tahu sendiri kalau kebanyakan pria yang mendekatiku adalah pecundang. Jadi, aku pasti tahu setiap akal busuknya.”

Masalahnya, yang satu ini bukan pecundang,” timpal Nathan cepat.

“Tahu dari mana?” Sandra masih berusaha menepis kenyataan yang sebenarnya sudah ia ketahui jauh sebelum Nathan menilai Lucas.

Well, seorang pecundang tidak mungkin menantang seseorang dan memberikan hadiah yang begitu banyak pada lawannya. Dia sudah mengetahui akhir dari permainan ini karena dia yang mengendalikan semuanya. Dia bukan pecundang, Darling, dia pejuang. Just like you.

“Pokoknya, aku bisa pastikan kalau aku tidak akan jatuh ke pelukannya,” ujar Sandra lantang, penuh percaya diri.

Yeah, we’ll see.

*****

BAB 9

Ketika Lucas menghentikan mobil SUV-nya di area parkir yang tersedia di pinggir jalan, Sandra menatap ke luar jendela dan mengagumi apartemen berdinding bata ekspos yang berlokasi di Rogers Avenue, Flatbush, Brooklyn. Berada di area permukiman padat penduduk, gedung bertingkat tujuh itu bisa dikatakan sebagai salah satu apartemen tertinggi jika dibandingkan dengan bangunan sekitar. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari stasiun lokal menjadikan tempat itu mudah dijangkau hanya dengan berjalan kaki saja.

Kawasan itu cukup nyaman dan ramai. Terlihat barisan mobil yang parkir di kanan-kiri jalan utama, dan para pejalan kaki memenuhi trotoar. Pohon-pohon tinggi nan rindang yang berbaris rapi di kedua sisi jalan menjadi salah satu aspek yang memberikan kesan asri dan teduh bagi area tersebut. Setelah mengamati sekilas selama perjalanan ke tempat itu, Sandra diam-diam mengakui kalau ia cukup menyukai suasana di kawasan ini.

Setelah Lucas mematikan mesin mobil, Sandra melangkah keluar sembari menyampirkan tas kerja berisi laptop dan kepentingan pekerjaannya, serta menggantungkan tas kecil yang selalu ia bawa di pundak kanan. Sementara itu, Lucas bergegas ke bagasi demi mengeluarkan dua koper besar milik Sandra tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ternyata, suasana di area ini tidak jauh berbeda dengan lokasi tempat tinggalnya di Downtown Manhattan—aktivitas penduduk setempat yang beragam, suara sirene di kejauhan yang masih terdengar dan cukup memekakkan telinga, hingga klakson pengendara yang sesekali melengking keras di udara. Ramai, tapi tetap terasa menyenangkan.

Sambil mencengkeram tali tas kerja, Sandra melayangkan pandangan ke sekitar apartemen sejauh jangkauan matanya. Benar-benar nyaman. Meski di seberang gedung terdapat lahan kosong dengan rumput liar hampir setinggi satu meter dan tampak coretan-coretan vandalisme di permukaan gerbang besi yang memagari tempat tersebut, tapi tidak mengurangi sedikit pun kehangatan dan rasa nyaman yang dirasakannya ketika menginjakkan kaki pertama kali tiba di sana.

“Tempatmu di lantai berapa?” tanya Sandra ringan seraya menatap Lucas yang baru saja menutup pintu bagasi.

“Paling atas.” Lucas menjawab datar dari balik masker yang masih menutupi sebagian wajah.

Spontan, Sandra menengadah dan menyipitkan mata, mengira-ngira yang mana apartemen Lucas karena terdapat dua balkon berukuran cukup luas di lantai teratas. Saat mendengar suara gagang pegangan koper ditarik keluar, ia membawa kembali pandangannya ke Lucas.

“Terima kasih,” ucap Sandra ceria seraya menjulurkan tangan saat pria itu mengunci mobil dengan remote control. Ia berniat membawa barang-barangnya sendiri. Namun, dengan gerakan cepat, Lucas malah menggenggam erat kedua pegangan koper.

“Aku saja,” ujar Lucas datar yang kemudian beranjak menjauh dari Sandra.

Salah satu alis Sandra yang terukir sempurna refleks mengedik, tak menyangka kalau Lucas mampu bersikap begitu jentelmen di balik gaya bicaranya yang dingin dan sinis. Sikap Lucas saat ini benar-benar berbeda 180 derajat jika dibandingkan dengan sikap pria itu kemarin. Misterius, acuh tak acuh, dan otoriter. Mungkinkah Lucas sedang menjalankan perannya sebagai kekasih yang baik? pikir Sandra skeptis.

Tak ingin terpaku dengan pikirannya sendiri, Sandra segera menghampiri Lucas yang sedang menempelkan kartu kunci di layar akses keamanan. Ketika pintu gedung apartemen terbuka, Sandra menyamakan langkahnya di samping Lucas yang bergerak mantap menuju pintu lift.

“Nanti, aku akan memberimu satu kartu akses. Pergunakan itu dengan baik,” ujar Lucas tenang sambil memberikan penekanan di kata-kata terakhirnya ketika mereka menunggu pintu lift terbuka.

Sandra memutar bola mata dan menggeleng kesal mendengar nada perintah yang meluncur dari bibir Lucas. Jujur, ia tidak menyukai nada tegas itu. Setiap kali mendengar nada otoriter Lucas, Sandra merasa diperlakukan bak seseorang yang tidak berharga.

Tak ingin adu mulut terjadi di hari pertamanya pindah ke apartemen Lucas, Sandra berusaha mengabaikan hal tersebut. Ketika pintu lift terbuka, pria itu mempersilakan Sandra masuk terlebih dahulu—sikap jentelmen untuk yang kedua kalinya, aneh!

Akhirnya, Sandra memilih berdiri di belakang Lucas dan membiarkan pria itu bertindak bak tuan rumah yang berpura-pura bersikap sopan. Setelah Lucas menekan nomor lantai yang akan dituju, keheningan pun melingkupi mereka. Tanpa disadari, Sandra diam-diam meneliti pria itu dari belakang.

Jika Sandra tidak mengetahui perangai Lucas yang menyebalkan, mungkin ia bisa saja tertarik pada pria itu. Dengan paras yang tampan, iris biru yang memikat, pundak bidang dan tinggi badan yang dapat mengintimidasi, serta aura dominasi yang kuat, Sandra yakin sekali bahwa sosok Lucas sangat sempurna untuk menjadi pasangannya. Bahkan, ia bisa membayangkan betapa nyamannya dipeluk oleh pria berbahu dan berdada bidang seperti itu. Sayangnya, kekesalan Sandra sudah terlanjur menggunung pada Lucas akibat perangai buruk pria itu.

“Ini apartemenku,” ucap Lucas setelah mereka keluar dari lift. Pria itu menunjuk ke satu-satunya pintu yang terlihat di lorong itu. Sembari mengernyit heran mendengar petunjuk yang mubazir, Sandra mengikuti langkah Lucas dan berhenti sejenak ketika pria itu membuka pintu. Ia pun segera melenggang masuk dengan tenang saat pria itu membukakan pintu lebar-lebar.

Sungguh, Sandra tak berharap banyak mengenai kondisi apartemen seorang pria. Karena, sepanjang pengalamannya berkunjung ke apartemen para pria yang pernah dekat dengannya, ia selalu mendapatkan hasil tampilan yang sama. Kacau, berantakan, dan berbau aneh—campuran bau keringat, lembap, makanan basi, dan pengharum ruangan.

Itulah alasannya mengapa Sandra tidak terlalu antusias mengetahui keadaan tempat tinggal seorang penulis, apalagi yang berjenis kelamin pria. Ia sudah siap melihat beberapa bungkus camilan kosong di meja TV atau barisan botol bir kosong dan beberapa cangkir kopi yang kotor di meja dapur. Bahkan, setelah menaiki satu anak tangga yang berguna sebagai pemisah antara area pintu dengan area utama apartemen, Sandra sudah siap menghabiskan hari untuk merapikan segala kekacauan di tempat tersebut demi kenyamanannya sendiri.

Namun, betapa terkejutnya Sandra saat menemukan betapa luas, bersih, rapi, mewah, dan elegannya tempat itu. Langit-langitnya yang tinggi bukan hanya memberikan efek luas, tapi juga mewah dengan barisan lampu-lampu downlight mengisi plafon. Jendela-jendela tinggi dan besar pun terbentang di sepanjang matanya memandang. Gorden putih yang dibiarkan terbuka malah menciptakan kesan menakjubkan, yang membuat tempat itu tampak seperti tak berdinding. Cahaya matahari yang menyinari seluruh area apartemen, menjadikan tempat itu begitu bercahaya dan memukau mata Sandra.

Perhatian Sandra beralih ke balkon pribadi yang luas, yang dapat dijangkau hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Balkon itu berhasil menarik minat Sandra dalam sekejap. Ia bahkan bisa membayangkan betapa asyiknya duduk di sana sambil menikmati secangkir cokelat panas di malam hari.

“Sini, biar kugantung mantelmu,” pinta Lucas tenang setelah meletakkan kedua koper besar Sandra di dekat sofa panjang berwarna hitam pekat yang menghadap ke layar televisi.

Dengan gerakan gugup dan tergesa-gesa, Sandra melepaskan diri dari selempangan tali tas kerja serta tas kecilnya. Kemudian, ia memberikan mantel pada Lucas yang langsung menggantungnya di dalam lemari tersembunyi di dekat pintu masuk yang didesain khusus untuk menyimpan mantel, payung, dan segala perkakas ringan lainnya.

Tanpa malu sedikit pun, Sandra terus berjalan masuk selangkah demi selangkah, kemudian meletakkan kedua tasnya di dekat koper, dan berhenti di tengah ruangan pemisah antara area TV dan dapur. Pandangannya terus meneliti tempat tersebut hingga tak sepatah kata pun meluncur dari bibirnya yang menganga kagum.

Di sisi kanan apartemen, terdapat area TV yang luas dengan peralatan berteknologi tinggi dan sebuah lorong di sudut kanan ruangan yang mengarah ke tiga pintu tertutup. Sesaat, ia sempat terkagum-kagum melihat rak buku berukuran besar yang tertanam di sisi kanan dinding area TV. Berbagai macam buku dari puluhan, bahkan ratusan penulis ternama memenuhi rak tersebut,. Sungguh sangat menggoda untuk dibaca.

Di sisi kiri apartemen, terdapat mezanin dengan area dapur di bawahnya. Persis seperti di apartemennya. Perbedaannya, mezanin Lucas memiliki sebuah ruangan dengan dua jendela besar menghadap ke area TV. Gorden cokelat yang menutupi kedua jendela besar tersebut seolah melarang siapa pun mengintip ke dalam ruangan.

“Anggap saja rumah sendiri,” ujar Lucas yang sudah membuka masker, kemudian melenggang santai menuju area dapur.

“Ini keren!” puji Sandra jujur sambil masih berdiri di tempat. “Aku benar-benar tidak menyangka kalau … kalau tempatmu—”

“Rapi?” lanjut Lucas seraya mengeluarkan dua gelas kosong dari lemari kontainer atas, kemudian meletakkannya di meja dapur.

Sambil mengangguk cepat, Sandra kembali memuji tempat yang begitu menakjubkan dan tak pernah terbersit di pikirannya. “Jujur, aku pernah mengunjungi beberapa pria, dan semuanya kacau! Tempat mereka kotor dan berantakan seperti kapal pecah. Tapi ini … ini—”

“Bersih?” lanjut Lucas ketika membuka penutup botol jus jeruk yang baru saja dikeluarkan dari kulkas.

Kembali, Sandra mengangguk cepat. Ia segera menghampiri Lucas yang sedang menuangkan jus jeruk ke dua gelas kaca. Sayangnya, Sandra yang begitu takjub dengan tempat itu, tak menangkap perubahan nada bicara Lucas ketika Sandra mengakui bahwa ia pernah mengunjungi tempat tinggal beberapa pria.

Sandra duduk di salah satu kursi yang ada di depan meja dapur berukuran panjang dan terbuat dari marmer hitam dengan corak putih yang memikat pandangan. Spontan, ia melemparkan senyum bersahabat pada Lucas ketika pria itu menyodorkan gelas berisi jus ke padanya. Ia pun segera meneguk minuman tersebut, kemudian menatap hangat pria yang berdiri di balik meja dapur, tepat di seberangnya. Berharap sikap dingin Lucas berkurang setelah meneguk kesegaran jus jeruk, Sandra pun mulai melancarkan pertanyaan demi mencairkan keadaan.

“Sudah lama tinggal di sini?” Sandra memutar-mutar gelas di hadapannya dengan senyum kecil bersahabat sambil menatap ceria wajah tampan Lucas yang berdiri dengan segelas jus di tangan kanan.

“Sudah.” Dengan tenang, Lucas kembali meneguk minumannya hingga tandas.

“Berapa lama?” tanya Sandra lagi.

Bukannya menjawab, pria itu malah meletakkan gelas kosong sambil menatap datar Sandra dengan raut wajah tak terbaca, kemudian beranjak dari balik meja. Dengan langkah tenang, Lucas bergerak menuju sebuah pintu yang berada di bawah tangga mezanin.

“Ini ruang laundry,” ujar Lucas seraya membuka pintu tersebut. Pria itu sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaannya. Tak ingin ambil pusing, Sandra kembali mengabaikan sikap tertutup Lucas. Akhirnya, Sandra beranjak sedikit dari kursi, menopang tubuh dengan kedua siku menempel di meja, kemudian menjulurkan kepala demi melihat sekilas ruangan tersebut tanpa berniat turun dari kursi tinggi.

“Walaupun di bawah ada area laundry umum, tapi kamu bisa menggunakan ruangan ini supaya lebih mudah dan lebih dekat,” lanjut Lucas datar. Sandra mengangguk patuh dan kembali duduk. Sementara, Lucas menutup pintu ruangan tersebut, dan bergerak menjauh dari sana. Dengan sorot penasaran, matanya terus mengikuti pergerakan Lucas.

“Kamu mau ke mana?”

“Menaruh kopermu ke kamar,” jawab Lucas sambil terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Penasaran dengan kamar yang akan ia tempati, Sandra buru-buru menghabiskan minumannya lalu beranjak dari kursi dengan keceriaan yang tak terbendung.

Sandra menghampiri Lucas yang dengan cekatan menyampirkan tas kerja dan tas kecil Sandra di pundak bidang itu, lalu menarik koper dengan kedua tangan. Mereka bergerak melewati ruang TV dan mulai memasuki lorong yang tidak terlalu panjang dan bercat putih.

“itu adalah ruang penyimpanan dan toilet,” jelas Lucas bak tuan rumah yang ramah dan baik hati. Sandra mengikuti arahan jemari Lucas ke dua pintu yang berada di bagian kanan lorong, sebelum pandangannya kembali ke pria itu.

“Dan, ini ruang tidur utama,” lanjut Lucas sembari membuka pintu lebar-lebar.

Tidak seperti Lucas yang langsung melangkah masuk sambil membawa kedua koper dan tas, Sandra malah terpaku di dekat pintu sambil menatap ruang kamar yang begitu rapi, bersih, dan putih. Gorden putih yang dibiarkan terbuka, menampilkan balkon di balik pintu kaca yang dapat digeser ke samping. Kedua balkon yang tadi ia lihat di bawah, ternyata salah satunya merupakan balkon kamar tidur utama.

Setelah terpesona dengan keindahan apartemen Lucas, Sandra baru menyadari betapa tempat ini benar-benar didominasi oleh warna putih. Keseluruhan perabotan yang didominasi oleh warna hitam terlihat bak hiasan yang menciptakan kesan mewah dan mahal. Namun, Sandra hanya sekejap terpaku oleh keindahan kamar itu dan menyadari sesuatu. Sambil mengerutkan kening curiga, ia bertanya pada Lucas yang baru saja meletakkan tas kerja dan tas kecil Sandra di tempat tidur. “Aku tidur di mana?”

“Di sini,” jawab Lucas singkat, “bersamaku.”

What!!” Sandra terbelalak. Suaranya yang melengking menandakan betapa terkejutnya ia mendengar jawaban Lucas. 

Tak memedulikan keterkejutannya, Lucas malah menghampiri Sandra dengan langkah lebar dan mantap seolah tak ada yang dapat menghentikan pergerakan pria itu. Tanpa rasa takut sedikit pun, Sandra langsung mengangkat tegas wajahnya dan mengunci iris biru safir Lucas ketika pria itu berhenti tepat di hadapannya. Dengan debar jantung yang menggebu-gebu, Sandra sudah siap melontarkan penolakan.

“Kamu lupa kalau kamu adalah kekasihku sekarang?” Lucas mengingatkan sambil terus mengunci tatapan Sandra. Benci! Sandra benar-benar benci mengingat bahwa dirinya harus menyadari bahwa sekarang ia adalah kekasih Lucas.

“I-iya, memang. Aku tahu. Tapi … tidur bersama? Langsung? Secepat itu?” Sandra panik, tapi berusaha menyembunyikannya. Ia sungguh tak menyangka akan langsung tidur sekamar dengan Lucas—pria yang sama sekali belum ia kenal baik.

“Masalah?” tanya Lucas datar sarat ancaman. Kedua alis yang mengerut tegas itu pun semakin memperjelas betapa Lucas tidak menyukai protes sarat kepanikan Sandra yang sialnya terpampang jelas di wajahnya meski sudah sekeras mungkin ia tutupi.

“Masalah!” lawan Sandra kesal, kali ini berniat mempertegas batasan yang seharusnya pria itu pahami dalam menjalin sebuah hubungan. Kekaguman akan kemewahan apartemen yang begitu menghipnotis pun lenyap seketika setelah mengetahui betapa gilanya Lucas dengan segala aturan mengenai tidur bersama ini.

“Aku memang kekasihmu sekarang, tapi bukan berarti aku bisa semudah itu tidur seranjang denganmu. Lagi pula, kemarin kamu mengatakan kalau tidak akan memaksaku tidur denganmu. Kenapa sekarang berubah?” lanjut Sandra sambil mengingatkan Lucas akan ucapannya kemarin.

“Kamu editor, kan? Bukankah seharusnya kamu paham arti dari kata-kataku kemarin?” tegur Lucas dengan nada mencemooh. “Aku memang tidak memaksamu tidur denganku. Tidur dalam artian bercinta. Tapi, kamu tetap harus tidur di kamar ini bersamaku.”

“Oh, Tuhan. Kamu menjebakku!” Sandra menyugar kasar rambutnya, frustrasi dengan kelihaian Lucas dalam mempermainkan kata-kata. Sementara itu, Lucas menyunggingkan senyum tipis sarat ejekan. Tak kuasa menahan kekesalannya, Sandra kemudian menatap Lucas dengan penuh kebencian.

“Apakah … apakah kamu semudah itu tidur seranjang dengan wanita?” tanya Sandra ketus dari barisan giginya yang terkatup rapat karena geram.

“Aku tidak pernah mengizinkan wanita mana pun untuk tidur di kamarku!” Lucas menjawab lantang dan tegas seraya melipat kedua tangan di depan dada.

“Lalu, kenapa sekarang kamu memperbolehkan aku semudah ini?” protes Sandra, hampir berteriak keras demi melampiaskan rasa frustrasinya.

“Karena, kamu kekasihku!” tegas Lucas untuk yang kedua kalinya. “Apa aku harus mencatatnya di dahimu supaya kamu tidak lupa?”

“Aku tidak pernah lupa!” Sandra mengentak kaki kesal sembari mengepal erat kedua tangannya di samping badan. “Hanya saja … ini terlalu cepat!”

“Masih lebih cepat ketika kamu menyetujui tantanganku saat pertama kali. Ingat?” celetuk Lucas sinis.

Gigi Sandra menggemeretak kesal saat mendengar celetukan itu. Dengan sorot penuh amarah, ia kembali menekankan keputusannya. “Pokoknya, aku tidak mau!”

“Keputusan ada di tanganmu. Silakan batalkan perjanjian kerja sama itu, dan keluarlah dari apartemenku!” tegas Lucas yang kemudian melesat pergi begitu saja dari hadapan Sandra.

Seketika, Sandra mematung terkejut dengan nada bicara Lucas yang begitu tegas dengan volume sedikit keras. Kata-kata pria itu pun langsung menamparnya. Kerja sama, perjanjian, dan peluangnya memperoleh jabatan yang sudah lama ia idam-idamkan, semua berada dalam satu pilihan yang sialnya sangat mengancam rasa nyaman dan amannya.

Tak ingin kalah dalam perdebatan yang mengisi hubungan palsu ini, Sandra bergegas menghampiri Lucas yang sudah berada di balik meja dapur, terlihat sedang menuang jus jeruk ke dalam gelas kosong yang sedari tadi dibiarkan di sana.

“Aku tidak akan membatalkan perjanjian itu!” ucap Sandra lantang dan penuh amarah ketika berada di tengah-tengah area pemisah antara ruang TV dan dapur. Bukannya membalas ucapannya, Lucas malah dengan tenang meneguk jus jeruk tanpa melepaskan tatapan tajam dari Sandra.

“Tapi, aku juga tidak akan mau tidur seranjang denganmu. Tidak akan!”

Lucas tidak menyahut sama sekali. Dengan tenang, Lucas meletakkan gelas di meja, kemudian bergerak keluar dari balik meja lalu melewati Sandra begitu saja. Tidak terima dengan sikap acuh tak acuh itu, Sandra menarik lengan Lucas hingga pria itu berhenti melangkah.

“Baiklah, aku akan tidur di kamarmu!” Akhirnya, Sandra terpaksa mengikuti kemauan Lucas agar perjanjian kerja sama itu tidak batal. Namun, ia akan tetap mencoba peruntungannya sekali lagi. Sebisa mungkin, Sandra akan berusaha berkompromi dengan pria itu. Setidaknya, ia harus bisa mengambil sedikit langkah kecil demi kenyamanannya di tempat baru ini.

“Bagus!” Lucas akhirnya menyahut, tapi tak ada sedikit pun kelegaan di mata pria itu.

“Tapi—”

“Tidak ada ‘tapi’!” tegas Lucas yang tak sedikit pun mengurangi sikap kaku dan otoriternya. Mendengar ketegasan yang tak surut sedikit pun dan melihat bulatnya keputusan Lucas, Sandra pun terkesiap. Ia terdiam, menatap iris biru safir itu dalam-dalam sambil berharap ada secuil pengertian di diri pria itu.

Please … beri aku waktu seminggu untuk beradaptasi,” mohon Sandra, kali ini melembutkan nada bicaranya. Ia mencoba untuk mengalah dan meruntuhkan sedikit egonya demi keberhasilan kerja sama ini. Ia juga menyadari bahwa mau tidak mau, cepat atau lambat, ia memang harus belajar beradaptasi hidup bersama Lucas.

Take it or leave it, Angel,” ucap Lucas penuh penekanan dan sarat ancaman, “no compromise!

*****

BAB 10

Pantang menyerah!

Sifat yang satu itu rasanya memang tidak akan pernah hilang dari diri Sandra. Masalahnya, kesabaran Lucas hampir habis karena keteguhan Sandra dalam memperjuangkan keinginannya.

Sudah berulang kali ia mengatakan bahwa hanya dirinyalah yang berhak menentukan cara agar kerja sama ini bisa berjalan lancar. Bahkan, ia kembali menegaskan kemarin bahwa Sandra harus mau menuruti peraturan dan cara mainnya. Namun, Sandra selalu saja berusaha mengambil alih kendali permainan dan bersikeras mengatur segala sesuatu sesuai dengan keinginan wanita itu.

Please, Lucas!” mohon Sandra dengan wajah memelas. “Kumohon, sekali ini saja kabulkan permintaanku.”

Cengkeraman Sandra di lengan Lucas terasa semakin erat seiring dengan bertambah besarnya sorot memohon yang terpancar nyata di mata wanita itu. Lucas mencoba untuk mempertahankan egonya. Ia bahkan terus berusaha menutup belas kasihannya terhadap Sandra. Namun, sebagian kecil dari dirinya seolah menggoyahkan keteguhan Lucas agar memberikan sedikit kesempatan pada wanita itu untuk bisa beradaptasi dengan kedekatan mereka yang serba cepat ini.

“Tidak!” tegas Lucas tanpa sedikit pun menyurutkan sorot tajam di matanya. “Jika kamu tidak bisa menuruti syarat-syarat yang telah kita setujui bersama dalam surat perjanjian, akhiri saja kerja sama ini sebelum semuanya berjalan lebih jauh.”

“Aku tidak mau mengakhiri kerja sama ini!” tegas Sandra, bulat dengan keputusannya.

Lucas kemudian melepaskan cengkeraman Sandra, kemudian memutar tubuh hingga menghadap wanita itu. Ditatapnya iris cokelat yang memancarkan keteguhan, tapi sarat pengharapan. Demi menekan gejolak emosi dan melawan sebagian kecil dirinya yang entah mengapa begitu mudah luluh pada sorot mata indah itu, Lucas pun menggemeretakkan gigi dan melipat kedua tangan di depan dada.

“Kalau begitu, patuhi peraturanku dan jangan melawan!” tegas Lucas lantang.

Sandra menghela napas panjang. Lucas bisa melihat bagaimana Sandra berusaha keras mengendalikan luapan amarah serta kekecewaan yang saat ini bercokol dalam diri wanita itu. Sejenak, Sandra terdiam seolah sedang berpikir. Tanpa lelah, Lucas siap menunggu karena ia tahu wanita itu pasti menyerah. Kalaupun tidak, Lucas yakin Sandra akan mengusahakan segala cara agar kerja sama ini bisa berhasil.

Setelah terdiam selama beberapa saat, Sandra mulai berbicara dengan nada sedikit lebih tenang dan terkendali, “Maafkan aku, Lucas. Mungkin permohonanku ini tidak sesuai dengan cara kerjamu. Tapi, satu hal yang harus kamu ketahui, aku tidak akan membatalkan kerja sama ini.”

Tak ada lagi sorot menuntut di mata Sandra. Bahkan, wanita itu tampak siap bernegosiasi dan mau meruntuhkan keegoisannya demi kelancaran kerja sama ini. Lucas tidak menyahut atau membalas ucapan itu. Ia hanya menunggu dan mendengar apa yang akan Sandra utarakan demi menggoyahkan keputusannya.

“Aku masih ingat dengan jelas isi dari surat perjanjian kita. Kamu benar, aku memang seorang editor dan seharusnya aku paham arti tidur yang kamu ucapkan kemarin. Maafkan atas ketidakpahamanku. Tapi, patut kamu pahami bahwa aku juga tidak melakukan satu kesalahan pun yang berpotensi melanggar surat perjanjian itu,” lanjut Sandra tanpa melepaskan tautan mata mereka yang saling mengunci. Lucas bahkan bisa menangkap kepercayaan diri wanita itu mulai tumbuh dan semakin besar.

“Kamu memintaku pindah ke apartemenmu, aku mematuhinya. Tapi kamu lupa, tak ada satu pun kalimat di surat perjanjian itu yang mengharuskanku untuk tidur seranjang denganmu,” jelas Sandra lancar, kali ini dengan sedikit penekan demi menunjukkan bahwa wanita itu berada di jalur yang benar.

Seketika, Lucas mengutuki kelemahan dari surat perjanjian tersebut. Ia juga tidak menyangka bahwa Sandra akan sepintar itu melihat celah dari ketatnya perjanjian yang sudah terjalin di antara mereka.

“Aku tidak akan menggagalkan hubungan ini. Seperti janjiku sebelumnya, aku akan menjadi kekasihmu dan membantu menjadi inspirasi terbaikmu. Oleh karena itu, aku berjanji akan beradaptasi secepat mungkin dengan keadaan kita ini. Tapi, beri aku waktu seminggu untuk menyesuaikan diri. Seminggu, hanya seminggu. Setelah itu, aku berjanji akan tidur seranjang denganmu,” sambung Sandra yang kembali mengucapkan janji demi menyukseskan hubungan kerja sama ini.

Tanpa disadari, pendirian Lucas mulai goyah. Ia bahkan menilai bahwa tak ada salahnya memberikan waktu bagi wanita itu untuk beradaptasi. Karena kenyataannya, kehadiran seorang wanita di apartemennya, terlebih di atas tempat tidurnya, sungguh merupakan hal baru juga baginya. Hal baru yang kemungkinan akan menimbulkan perasaan asing bagi tubuhnya. 

Namun di sisi lain, ingatan akan rasa sakit yang ia alami di masa lalu berhasil mengombang-ambingkan keputusannya. Lucas tidak ingin terlihat lembek di depan Sandra. Tidak! Ia tidak mau Sandra mengetahui kelemahan dan celah sensitifnya. Jika wanita itu tahu, Lucas yakin Sandra akan menggunakan segala cara untuk kembali mengendalikannya—kembali menundukkannya.

Akhirnya, tanpa mengiakan atau menolak, Lucas melenggang pergi dari hadapan Sandra. Ia tidak akan mengucapkan sepatah kata pun terhadap permintaan itu. Ia butuh menyendiri, memikirkan langkah selanjutnya, dan menenangkan gejolak liar yang entah mengapa tiba-tiba muncul ketika menatap Sandra dalam-dalam.

*****

Lucas pergi.

Setelah pertengkaran kecil mereka tadi siang, pria itu berdiam diri di kamar selama beberapa jam. Sementara, Sandra mengisi waktu kosongnya dengan membaca salah satu buku karangan penulis ternama yang tersusun rapi di lemari buku pribadi Lucas sambil berbaring di sofa panjang. Ditemani segelas jus jeruk dingin nan menyegarkan, Sandra menikmati waktu kosongnya di hari Minggu, dan mencoba sebisa mungkin meredam amarah serta kekesalan yang sempat tersulut.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul 16.00, Lucas keluar dari kamar dengan pakaian yang berbeda dari sebelumnya. Sandra, yang saat itu sedang duduk santai di balkon dengan buku yang belum selesai dibaca, melihat Lucas bergerak melintasi ruangan hingga berbelok menuju lorong yang mengarah ke pintu apartemen. Tak ada sapaan, tak ada sepatah kata pun terucap. Pria itu melenggang begitu saja seolah menganggap Sandra tidak ada, bahkan melirik pun tidak.

Kesal? Tentu saja. Namun, Sandra tidak peduli. Ia tidak ingin sikap menyebalkan Lucas malah menambah beban pikiran. Ia bahkan tak ingin tahu ke mana pria itu pergi. Akhirnya, Sandra menggunakan waktu luang untuk mengenali apartemen itu dengan caranya.

Untuk ke sekian kalinya, ia mengagumi keindahan apartemen itu. Ia mulai dengan memasuki ruang laundry yang cukup luas, mengamati isinya sejenak, kemudian bergerak ke sisi lain apartemen. Sandra membuka pintu yang menurut petunjuk Lucas adalah ruang penyimpanan.

Sejenak, Sandra sempat terpaku melihat luasnya ruang penyimpanan yang lebih cocok dijadikan ruang tidur. Bukannya terlihat berantakan bak kamar yang penuh dengan barang-barang tidak terpakai, ruangan itu malah begitu rapi dengan lemari-lemari penyimpanan dan beberapa boks berwarna putih dengan label di bagian depan permukaannya. Sebuah ventilasi udara di langit-langit membuat tempat itu tidak lembap seperti gudang kebanyakan.

Sandra akui, Lucas termasuk pria yang rapi dan teratur. Setiap barang yang tersimpan diberi label, bahkan ada yang dimasukkan ke dalam plastik demi menjaga kualitas barang tersebut. Setelah puas mengamati ruang penyimpanan, Sandra berpindah ke toilet yang berada tak jauh dari ruang penyimpanan. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi tertata rapi, bersih, beraroma segar, dan juga didominasi warna putih.

Ia kemudian beralih ke kamar tidur utama. Kedua koper Sandra masih berada di tempat pertama kali Lucas meletakkannya, begitu juga dengan tas kerja dan tas kecilnya. Masih enggan merapikan pakaian, Sandra menggunakan kesempatan luangnya untuk berendam sejenak di kamar mandi utama yang berada di dalam kamar tidur.

Seusai berendam, Sandra mengenakan kaos longgar dan celana panjang santai berbahan ringan, kemudian menguncir kuda rambutnya. Baru saja ia mengangkat ponsel demi membaca beberapa surel yang masuk, tiba-tiba sebuah pesan dari Lucas menyedot seluruh perhatiannya.

Meja di ruang tengah adalah meja kerjamu. Pergunakan dengan baik.

Kalimat itu tertera jelas di layar ponsel, tapi rasanya Sandra bisa mendengar nada tegas Lucas di telinganya. Ia tidak membalas pesan tersebut dan mulai merapikan peralatan kerja serta meletakkan laptopnya di meja yang telah Lucas sediakan.

Meja tersebut diletakkan tak jauh dari area dapur dan berada di dekat jendela tinggi yang menghadap langsung ke jalan utama. Ia memang sudah melihat meja tersebut sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, tapi Sandra tak menyangka kalau meja itu adalah miliknya. Bahkan, ia tak pernah mengira kalau Lucas akan meluangkan waktu dan berbaik hati menyiapkan area khusus untuknya bekerja.

Jujur, Sandra masih bingung dengan sikap Lucas. Ia tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan agar dapat memahami perangai Lucas yang suka berubah-ubah. Namun, setidaknya Sandra bertekad akan berusaha semaksimal mungkin agar hubungan ini bisa berjalan lancar. Tak ingin membuang waktu, Sandra segera melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda dan tenggelam dalam sekejap.

Perlahan-lahan, langit terang berubah menjadi gelap. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 19.45, dan rasa lapar pun mulai menghampiri. Mau tidak mau, Sandra menghentikan kesibukannya sejenak lalu beranjak dari kursi kerja demi menyiapkan makan malam sederhana.

“Anggap saja rumah sendiri.” Sandra mengulang ucapan Lucas dengan nada sedikit mencemooh sambil membuka kulkas dua pintu berwarna hitam elegan. Kulkas yang dipenuhi berbagai macam camilan ringan, buah, sayuran, daging, hingga beberapa macam minuman, sempat memesona mata Sandra selama beberapa detik. Namun, perut yang bergemuruh berhasil mengeluarkan Sandra dari keterkagumannya.

Tak ingin memasak sesuatu yang sulit, Sandra memasak spageti dengan saus bolognaise. Demi mengisi kekosongan selama memasak, ia pun menyalakan musik klasik kesukaannya dari ponsel. Aroma masakan menyeruak dan menambah rasa lapar Sandra. Segelas minuman soda menjadi pelengkap sempurna makan malamnya.

Ketika baru saja duduk di kursi tinggi, tiba-tiba ponselnya berdering keras dan menghentikan musik klasik yang sedang ia putar. Nama Nathan tertera jelas di layar ponsel. Tanpa berlama-lama, Sandra segera menjawab panggilan tersebut dan menyalakan pengeras suara.

“Hai, Nat,” sapa Sandra ringan sebelum memasukkan sesendok spageti ke mulut.

Hai, Darling!” seru Nathan ceria, “bagaimana hari kepindahanmu? Lancar?

“Awalnya. Tapi … yeah, begitulah.” Sandra mengunyah santai sambil mengaduk-aduk spageti.

Kenapa?

Sandra bisa mendengar tingkat penasaran Nathan mulai meningkat. “Kami bertengkar.”

Karena?” tanya Nathan singkat.

“Dia memaksaku tidur seranjang, dan aku menolaknya,” jawab Sandra kesal, kemudian meneguk minuman lalu kembali menikmati spagetinya. Nathan tertawa kecil merespons jawaban Sandra.

“Kenapa kau malah tertawa?” gerutu Sandra sambil mengunyah kesal.

Karena kau aneh,” ledek Nathan santai, “lagi pula, hal sepele seperti itu kenapa harus diperdebatkan? Bukankah memang itu yang dilakukan sepasang kekasih?

“Memang. Tapi kan kami baru menjalani hubungan ini. Seharusnya dia mengerti, tidak mungkin semudah itu aku bisa langsung tidur seranjang dengannya.” Sandra berusaha membela diri. Makanan yang sebelumnya terasa lezat, kali ini berkurang kenikmatannya karena bayangan Lucas dan sorot tajam pria itu tiba-tiba mengisi benak Sandra.

Well, itu salah satu konsekuensi yang harus kau hadapi saat menyetujui permintaannya, Darling,” tegur Nathan seraya mengingatkan. Sandra berdecak kesal, kemudian mendengus. Tanpa diingatkan pun ia menyadari bahwa akan ada banyak konsekuensi yang harus ia hadapi akibat kerja sama ini. Namun, tidur bersama? Sandra masih belum siap.

“Aku tahu, tapi tidak secepat ini, Nat!” keluh Sandra manja. Ia mengetuk-ngetuk garpu di permukaan piring, berusaha melampiaskan kekesalannya pada benda itu.

Lambat laun, kau pasti akan seranjang dengannya juga, kan?” goda Nathan iseng.

“Hei! Kenapa kau malah memihaknya? Jangan-jangan kau lupa, akulah sahabatmu, Nat, bukan dia!” tegur Sandra sembari melipat kedua tangan di depan dada. Wajah Sandra tertekuk kesal, sementara matanya terus tertuju pada layar ponsel seolah Nathan berada di hadapannya.

Take it easy, Darling. Aku sama sekali tidak memihak dia. Tapi, aku harap kau tidak lupa kalau berhasil tidaknya kerja sama kalian, semua itu tergantung padamu. Jadi, pikirkanlah kembali setiap tindakanmu sebelum kau menyesal.

Sandra terdiam sejenak mendengar nasehat Nathan. Jika dipikir-pikir, tidak ada yang salah dengan ucapan Nathan. Hubungan kerja sama ini memang terjalin atas kesepakatan Sandra dengan Lucas. Namun, memang dirinyalah kunci keberhasilan hubungan ini, dan hal itu menjadi beban berat yang tidak Sandra perhitungkan sebelumnya.

“Tapi dia benar-benar menyebalkan, Nat!” keluh Sandra manja. Seandainya Nathan berada di dekatnya, ia pasti sudah meringkuk manja dalam pelukan hangat pria itu. Sandra kembali menyantap makan malamnya dan berusaha mengembalikan selera makannya yang sempat hilang karena Lucas.

Nathan tertawa ringan. “Kau tahu? Kalau ada yang mendengarmu menggerutu seperti ini, mereka pasti berpikir kalau kalian benar-benar berpacaran.

“Hanya 3 bulan, Nat. Jangan berlebihan!” balas Sandra cepat, tak menyukai penilaian itu. “Setelah dia menyelesaikan buku terbarunya dan hubungan kontrak ini berakhir, bisa kupastikan, aku tidak akan muncul lagi di hadapannya.”

Yeah, we’ll see.”

“Hah, sudahlah! Berhenti membicarakan dia. Sekarang, ceritakan bagaimana keadaanmu di sana,” tanya Sandra mengalihkan topik.

Akhirnya, Nathan menceritakan tentang betapa sepinya apartemen tanpa keberadaan Sandra. Sahabatnya itu juga sempat bercerita mengenai pertemuan singkatnya dengan salah satu penulis yang akan dipinang oleh H&H. Nathan pun melontarkan cerita lucu mengenai pertemuan pria itu dengan wanita yang baru dikenalkan oleh sang ibu.

Namun, Sandra menangkap ada sesuatu yang berbeda kali ini. Nathan menunjukkan ketertarikannya pada wanita itu, meskipun hanya sedikit. Sandra bisa mendengar antusias yang cukup meluap-luap ketika Nathan bercerita. Ia pun berharap sahabatnya bisa menemukan pujaan hati sesuai dengan yang diinginkan.

Setelah berbincang hampir satu jam lamanya, panggilan itu pun berakhir. Keheningan kembali menemani Sandra. Demi mengisi waktu kosong sambil menunggu kepulangan Lucas, Sandra mulai menyalakan TV dan menonton film hingga akhirnya terlelap.

*****

Setelah menghabiskan waktu dengan duduk di bar langganan dan menenggak beberapa gelas bourbon, akhirnya Lucas berhasil meredam kekesalannya terhadap Sandra. Tak ingin segera kembali ke apartemen, ia pun memilih duduk-duduk santai di Brooklyn Bridge Park sambil menikmati pemandangan sekitar dan keramaian yang mengelilinginya. Sekarang, setelah kepalanya benar-benar dingin dan ia sudah bisa mengendalikan emosinya, Lucas akhirnya pulang setelah waktu menunjukkan pukul 21.45.

Suara TV menyapa kedatangan Lucas ketika ia membuka pintu apartemen. Lucas menarik napas panjang selama tiga kali sebelum melepaskan mantel dan menggantungkannya di dalam lemari penyimpanan. Ia sudah siap menghadapi raut sinis dan sorot mata menantang Sandra. Namun, ketika ia berhenti di tengah apartemen, Lucas tak melihat keberadaan wanita itu.

Penasaran, Lucas bergegas bergerak menuju kamar tidur. Ia harap wanita itu sudah menurunkan egonya dan tertidur di sana. Namun, betapa herannya Lucas saat melihat tempat tidurnya masih dalam keadaan rapi dengan kehampaan yang sudah mengisi selama bertahun-tahun.

Sambil mengeluarkan ponsel dari saku, berniat menghubungi Sandra, Lucas berbalik dan bergegas kembali ke ruang TV. Saat nada panggil mengalun di telinganya, Lucas mendengar nada dering ponsel Sandra di dalam apartemen. Baru saja ia keluar dari lorong, tiba-tiba langkahnya terhenti.

Entakkan keras menghantam dada Lucas saat menemukan tubuh Sandra yang tergeletak lemah di sofa panjang. Mata wanita itu terpejam nyenyak, sementara tubuhnya meringkuk bak bayi mungil nan menggemaskan. Tak ingin dering ponsel mengganggu tidur wanita itu, Lucas memutuskan panggilan sambil melangkah menghampiri Sandra.

Seketika, kenangan-kenangan indah akan kedekatannya dengan Sandra bertahun-tahun lalu, kembali muncul dalam ingatan. Meski penuh keceriaan dan kebahagiaan, tapi kenangan-kenangan itu menimbulkan rasa perih di dada yang membuat Lucas tersenyum getir.

“Kenapa kamu baru muncul sekarang, Sandy?” tanya Lucas pelan saat berhenti tepat di depan sofa, sementara matanya terus mengunci Sandra. “Kenapa kamu tidak menemaniku saat itu? Kenapa, Sandy?”

Perih yang bersarang di dada Lucas perlahan-lahan menyebar hingga menimbulkan percikan amarah dalam dirinya. Namun, secuil rasa sayang yang pernah ia rasakan pada Sandra, berhasil mengendalikan Lucas dari amarah terpendamnya.

Selama beberapa saat, Lucas menatap wajah Sandra yang terlelap, begitu tenang dan teduh. Seandainya Lucas tidak dendam pada Sandra, mungkin ia akan segera menghampiri wanita itu, mengikatnya dalam pernikahan, dan hidup bahagia selamanya. Namun, nasib berkata lain. Wanita itu menorehkan luka yang begitu dalam pada diri Lucas, dan hanya satu cara yang tepat untuk mengobati setiap luka-luka itu. Balas dendam. 

“Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu. You are mine, Sandy. Mine.”

*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja
error: Content is protected !!