Bittersweet Love – BAB 16 – BAB 20

BAB 16

Lucas benar-benar menjemputnya.

Sejujurnya, Sandra sempat mengira Lucas tidak akan datang. Bagaimana tidak? Ia sudah menunggu pria itu di area lobi gedung sejak pukul 18.12 hingga 18.45, tapi pria itu belum juga mengabarinya. Sekali lagi, Sandra mencoba menunggu sambil membuka sosial media, berharap hal tersebut dapat memperpanjang kesabarannya. Namun, ketika waktu di layar ponselnya menunjukkan pukul 19.05, kesabaran Sandra pun lenyap.

Baru saja Sandra berjalan menuju pintu keluar lobi dan memutuskan untuk pulang, tiba-tiba Lucas meneleponnya. Dengan sedikit perasaan kesal, Sandra menjawab panggilan itu tanpa berhenti melangkah, “Kita jadi makan malam atau tidak? Kalau tidak, aku pulang saja!”

Jadi. Ini aku baru saja berhenti di dekat kantormu,” jawab Lucas cepat. “Kamu tidak bersama Nathan, kan?

“Tidak. Dia sudah pulang dari tadi,” jawab Sandra ketus sambil terus melangkah menuju ke area jalan raya. Keningnya mengerut, heran dengan pertanyaan Lucas sementara pria itu sudah mengingatkan Sandra sebelumnya untuk tidak memberi tahu Nathan. Apa dia tidak memercayaiku?

Baguslah.”

Panggilan yang terputus begitu saja membuat kening Sandra semakin mengerut. Masih kesal karena sudah menunggu lama, Sandra memasukkan ponsel ke saku trench coat sambil mendengus. Sementara itu, matanya menangkap kehadiran Lucas yang baru saja keluar dari mobil. Ia pun segera menghampiri mobil tersebut.

Ketika Lucas mengitari mobil dan berhenti di dekat pintu penumpang, napas Sandra sempat tercekat melihat penampilan pria itu. Dengan jaket bomber hitam menutupi kemeja biru tua dan celana chino hitam, Lucas terlihat sangat menarik. Rambut yang disisir rapi ke belakang menunjukkan rahang tegas yang semakin memperkuat aura maskulin Lucas. 

Penampilan Lucas tidak terlalu formal, tapi berhasil membuat Sandra terpana hingga sulit menelan ludah. Kekesalan yang sebelumnya menyerang pun seketika surut saat melihat iris biru safir itu. Namun, ia tidak ingin Lucas mengetahui betapa mudahnya ia terpikat pada penampilan menarik dan mata indah itu. Oleh karena itu, Sandra mempertahankan raut kesalnya meski perasaannya sudah jauh lebih baik.

“Kenapa tidak mengenakan masker dan topi? Bukankah kamu tidak ingin siapa pun mengetahui wajah dan identitasmu?” tanya Sandra sedikit ketus sambil bersusah payah mempertahankan raut kesalnya di hadapan Lucas. Tangan kanan Sandra masih berada di dalam kantong trench coat, menggenggam ponsel. Sementara, tangan kirinya menggenggam tali tas laptop yang terselempang miring di depan dada. 

“Karena itulah aku bertanya apakah kamu bersama Nathan atau tidak,” jawab Lucas datar dan tanpa ekspresi sama sekali, “aku ingin menjemputmu tanpa alat penutup identitas. Aku ingin malam ini kita makan malam layaknya kekasih sungguhan.”

Sandra refleks mengedikkan alis saat mendengar kata ‘kekasih sungguhan’. Seketika itu pula ia teringat akan ucapan Nathan tadi siang. Sambil menggemeretak gigi, Sandra memaki sahabatnya itu dalam hati karena sudah merasuki pikirannya dengan ide-ide gila yang sama sekali tak pernah ia pikirkan.

“Kenapa kamu harus bertanya? Tadi siang kan kamu sudah memperingatkanku agar tidak memberitahu siapa pun mengenai kedatanganmu. Apakah kamu tidak memercayaiku?” cecar Sandra heran, menuntut penjelasan.

“Aku tidak bisa bilang kalau aku dapat memercayaimu sepenuhnya. Kita baru mengenal satu sama lain, jadi tidak ada salahnya aku memastikan kembali, kan?”

Jawaban jujur Lucas malah terasa bak tamparan keras bagi kepercayaan diri Sandra. Ia pikir, ciuman semalam membuat hubungan mereka selangkah lebih baik, membuat mereka bisa saling memercayai. Nyatanya, tidak. Pria itu belum bisa memercayai Sandra, begitu pula sebaliknya.

“Suatu saat, kamu pasti akan berkenalan dengan Nathan dan membongkar identitasmu padanya,” tukas Sandra ketus.

“Ayo, masuk. Aku tidak mau kamu kelaparan,” bujuk Lucas datar, tapi tenang. Jelas sekali betapa tak pedulinya Lucas akan rasa kesal Sandra yang kembali muncul akibat jawaban jujur itu.

Berusaha bersikap layaknya kekasih yang baik, Lucas membukakan pintu bagi Sandra dan mempersilakannya masuk. Tak ingin memperpanjang perdebatan yang dapat merusak makan malam mereka, Sandra mencoba mengalah dan meredam secuil rasa kesal dalam hatinya. Ia pun segera duduk di kursi penumpang tanpa penolakan. 

Ketika pintu tertutup di sampingnya, Sandra mengamati Lucas bergerak mengitari mobil. Dalam hati, ia memuji ketampanan dan pesona kuat pria itu. Namun, Sandra masih tidak mengerti mengapa seorang pria dengan paras menarik, tubuh atletis, serta merupakan penulis ternama, bisa menjadi sosok yang begitu menyebalkan, dingin, dan misterius.

Kita tidak tahu apa yang terjadi ke depannya. Mungkin saja, hubungan yang awalnya terjalin karena kontrak kerja sama bisa berakhir ke jenjang pernikahan.

Ide gila Nathan kembali mengisi pikiran Sandra. Saat Lucas bergerak memasuki mobil dan duduk di belakang kemudi, mata Sandra malah mengagumi pria itu. Sial! Ide gila Nathan benar-benar sudah merasuki Sandra. Mau tak mau, ia pun berusaha keras untuk mengalihkan pandangan dari Lucas agar tidak semakin terpancing oleh ide gila itu. Sandra juga tidak mau terlihat seperti remaja tanggung yang tergila-gila pada pasangannya. Lagi pula, Lucas hanya sebatas pasangan kontraknya. Jadi, tidak seharusnya jantungku berdebar secepat ini, kan?

Sandra segera mengeluarkan ponsel dari saku trench coat, kemudian membalas beberapa pesan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Setidaknya, ia bisa mengalihkan pandangan dari Lucas dan berhenti memikirkan ide gila Nathan.

“Kita mau makan malam di mana?” Pertanyaan Sandra memecah keheningan di antara mereka ketika mobil Lucas sudah bergabung dengan ramainya kendaraan yang bergerak menuju Madison Avenue.

“Tadinya, aku ingin mengajakmu makan malam private di hotel.” Lucas menjawab tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sandra. Sikap tenang dan minim ekspresi Lucas seolah menunjukkan betapa terkendalinya pria itu menanggapi pertanyaan Sandra. Berbanding terbalik dengan Sandra yang cukup terkejut mendengar rencana itu.

Sebagai seorang wanita yang begitu menjunjung tinggi romantisme dalam sebuah hubungan percintaan, Sandra sangat menginginkan makan malam private di hotel layaknya film-film dan novel romantis bertema CEO. Mengetahui bahwa Lucas sempat merencanakan hal itu, dunia Sandra seakan terguncang. Ia sama sekali tak menyangka bahwa pria yang ia kenal dengan sifat misterius, suka berubah-ubah, dan menyebalkan, bisa memiliki ide romantis seperti itu.

“Tapi, aku pikir aku belum memerlukan momen itu dalam ceritaku. Jadi, aku memesan meja di salah satu restoran yang tidak terlalu jauh dari tempat kerjamu, tapi sangat cocok untuk kita berdua,” lanjut Lucas datar, yang kemudian menoleh sekilas menatap Sandra sebelum mengembalikan perhatian sepenuhnya pada kepadatan lalu lintas malam itu.

Lagi-lagi, Lucas mengucapkan kata ‘kita’ seakan mereka memiliki hubungan yang sangat spesial. Tak ingin bersikap bak remaja yang baru pertama kali berdekatan dengan pria, Sandra mencoba menanggapi ucapan Lucas dengan setenang mungkin meski sebagian besar dirinya merespons kata itu dengan sangat aneh.

“Tapi, aku pastikan makan malam ini jauh lebih baik daripada kemarin.” Lucas menyunggingkan senyum kecil tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. Namun, kalimat yang diucapkan dengan begitu tenang dan terkendali entah mengapa malah terdengar seolah ingin meyakinkan Sandra bahwa pria itu tidak akan mengecewakannya kali ini.

Meskipun Lucas tak menutupi bahwa makan malam ini menjadi bagian dari riset ceritanya, tetap saja Sandra tersentuh dengan niat baik pria itu. Lagi pula, Sandra tidak bisa menyalahkan Lucas jika pria itu memanfaatkan dirinya sebagai bagian dari riset. Karena, memang itulah fungsi Sandra bagi Lucas. Benar, kan?

*****

Mereka baru saja selesai menikmati hidangan penutup yang begitu memanjakan lidah, tapi mereka tidak langsung beranjak dari tempat itu. Tampak jelas bahwa mereka berdua masih ingin menikmati sisa malam ini sambil ditemani segelas anggur putih diiringi alunan musik yang lembut dan menenangkan. Dalam diam, mereka mengagumi sejenak indahnya dekorasi restoran yang begitu kental dengan kehangatan, romantisme, dan aura sensual.

Lucas sengaja memilih tempat ini. Selain karena lokasinya dekat dengan kantor Sandra sehingga mudah dijangkau, nilai makanannya pun sangat memuaskan. Berada di rooftop salah satu gedung ternama, restoran ini menawarkan pemandangan malam area bisnis Manhattan yang luar biasa indah. Atmosfernya yang kental dengan kehangatan dan romantisme juga menjadi penunjang yang tepat untuk memperbaiki hubungan mereka yang sempat tegang akibat perangainya tadi pagi.

“Apakah kamu berniat beralih menjadi penulis novel fiksi roman?” tanya Sandra di tengah keheningan, mengungkit kembali alur cerita di novel terbaru yang saat ini sedang Lucas garap. Ketegangan di antara mereka yang terjadi karena dirinya terlambat tiba di kantor Sandra, telah hilang sejak mereka menginjakkan kaki di restoran ini. 

Lucas mendengus geli mendengar pertanyaan itu, kemudian berkata, “Tidak akan pernah.” 

“Kenapa?” Kening Sandra spontan mengerut heran. Raut wajah wanita itu tampak menggemaskan di bawah cahaya kuning hangat yang menyinari sekeliling restoran. Menggemaskan? Seharusnya Lucas tidak boleh menilai seperti itu, tapi ia tidak tahu kata yang tepat untuk menggambarkan raut wajah Sandra saat ini selain dari kata menggemaskan.

“Aku bukanlah tipe pria romantis. Menulis alur percintaan dari awal hingga akhir bisa membuatku mual. Meskipun disisipi dengan berbagai macam ketegangan, tetap saja aku tidak berminat membuat cerita fiksi romansa. Itulah kenapa aku mengajakmu makan malam.”

“Apa alasannya? Karena, jujur saja, hingga saat ini aku tidak tahu apa hubungannya makan malam ini dengan ceritamu?” tanya Sandra, begitu penasaran.

“Aku ingin mempelajarimu,” ujar Lucas blak-blakan yang langsung membuat kedua alis Sandra bergedik. “Kamu tidak sadar kan kalau aku diam-diam memperhatikanmu sejak pertama kali aku tiba di depan gedung kantormu? Setiap respons, perubahan mimik wajahmu, bahkan luapan emosi yang terpancar dari wajah, mata, serta gerak-gerikmu, semua itu aku pelajari dan aku simpan dalam benakku. 

“Seperti yang kukatakan sebelumnya, baru kali ini aku mencoba memasukkan unsur percintaan dalam cerita misteri pembunuhan. Aku sengaja membentuk tokoh utama wanita yang kurang-lebih sama sepertimu. 

“Akhir-akhir ini, ada banyak ide di kepalaku yang dapat kujadikan cara tepat untuk mempertemukan si tokoh wanita ini dengan tokoh kunci dalam ceritaku, tapi aku merasa kalau makan malam yang disusun berdasarkan perjodohanlah yang paling cocok. Masalahnya, aku merasa masih banyak kekurangan dari tokoh utamaku ini, terlebih dari karakter dan kebiasaan hidupnya.”

Lucas berusaha menunjukkan pada Sandra bahwa makan malam ini murni demi riset cerita yang sedang ia garap. Meski sejujurnya, tujuan Lucas sebenarnya adalah ingin mendekatkan diri dengan Sandra dan menjebak perasaan wanita itu.

“Apakah kamu sama sekali belum pernah menjalin hubungan serius dengan wanita?” tanya Sandra penasaran. Wanita itu terlihat begitu tertarik dengan cara Lucas untuk mendalami karakter tokoh dalam cerita.

“Pernah,” jawab Lucas singkat sebelum meneguk anggur dalam gelas.

“Apakah pengalamanmu dengan wanita itu tidak bisa dijadikan pedoman dalam ceritamu?” Sandra kembali mengernyit heran.

“Masalahnya, aku hanya pernah melakukan hubungan serius dengan satu wanita, dan dia tidak serupa dengan karakter yang aku buat saat ini.” Lucas kembali meneguk minumannya. 

Sebenarnya, Lucas enggan membicarakan wanita yang pernah berhubungan cukup lama dengannya. Namun, ia tidak berniat berbohong pada Sandra karena ia tahu bahwa kejujurannya kali ini akan melancarkan rencananya.

“Memangnya seperti apa karakter wanita dalam ceritamu itu?”

“Wanita yang polos dan introvert. Dalam ceritaku kali ini, tokoh utamaku tidak pernah merasakan jatuh cinta yang sebenarnya, meski sudah pernah menjalin hubungan asmara dengan beberapa pria. Ketika dia akhirnya jatuh cinta, dia malah terjebak pada hubungan yang mematikan,” jelas Lucas tenang.

“Jadi, di matamu aku ini wanita polos?” tanya Sandra sembari memasang raut kaget, tak percaya dengan penilaian Lucas.

“Tentu saja tidak. Caramu membalas ciumanku kemarin membuktikan kalau kamu tidak polos,” jawab Lucas tenang sebelum meneguk minumannya hingga tandas. Secercah kegembiraan muncul saat menangkap rona merah menghiasi pipi Sandra.

“Ciumanmu semalam juga tidak sesuai dengan penilaian yang pernah Gerald ucapkan padaku,” timpal Sandra sedikit menggerutu sembari mengalihkan pandangan dari Lucas.

Mendengar jawaban wanita itu, Lucas spontan mengernyit tidak senang. Entakan keras menghantam dadanya saat mendengar nama Gerald muncul di tengah percakapan mereka. Ia tidak tahu apa hubungan Gerald dengan ciuman mereka semalam, yang pasti Lucas tidak terlalu menyukai kehadiran sahabatnya di tengah usaha Lucas memperbaiki hubungan mereka. “Apa maksudmu?”

Meski rona merah di pipi masih mewarnai wajah, Sandra cukup berani mengangkat pandangan dan menatap Lucas seolah siap bertarung. “Dia bilang … kamu salah satu sahabatnya yang tidak pernah melakukan hal aneh-aneh. Kamu adalah pria baik-baik. Tapi … pria baik-baik tidak akan menciumku seperti yang kamu lakukan kemarin,” 

“Seperti apa?” tanya Lucas cepat.

Bukannya menjawab, Sandra malah mengerutkan kening tanpa melepaskan tautan mata mereka. Tampak jelas besarnya keraguan yang bercampur dengan percikan gairah di mata wanita itu. Rona merah di wajah Sandra bahkan semakin mempertegas bahwa percakapan terkait ciuman mereka cukup mengguncang keteguhan serta kewarasan wanita itu. 

Masalahnya, Lucas merasakan hal yang sama. Gelora gairah mulai memercik sesuatu yang liar dalam dirinya. Sesuatu yang ia yakini dapat memporak-porandakan hati dan kewarasannya.

“Seperti apa?” ulang Lucas, dalam dan tegas.

“Panas dan liar,” ungkap Sandra blak-blakan. Kali ini, wanita itu terlihat jauh lebih berani daripada sebelumnya. Bahkan, Lucas bisa melihat bagaimana Sandra berusaha keras mengendalikan diri agar tidak terpancing ke dalam percakapan yang sarat gairah ini.

“Kamu suka?” tanya Lucas seraya memajukan tubuh hingga ia menyentuh pinggiran meja.

“Hah?” Sandra terbelalak heran mendengar pertanyaan itu.

“Kamu suka?” ulang Lucas sembari menyunggingkan senyum tipis tanpa sedikit pun melepaskan tautan mata mereka.

“K-kenapa kamu menanyakan itu?”

“Kalau kamu suka, aku bersedia melakukannya lagi,” jawab Lucas yang sudah siap memancing Sandra agar terjerat dan masuk dalam perangkapnya.

Sayangnya, wanita itu berhasil memutus kontak mata mereka yang sudah begitu jelas memancarkan ketertarikan gairah satu sama lain. Sandra menggeleng cepat, kemudian menandaskan minumannya.

“Sebaiknya … kita sudahi makan malam ini. Aku masih ada pekerjaan yang harus kukerjakan,” ujar Sandra dengan sedikit penekanan seraya beranjak dari kursi.

Wait!” Lucas mencengkeram pergelangan Sandra, mencegah wanita itu agar tidak langsung pergi dari tempatnya, “aku masih ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Ke mana?” Wajah Sandra menunjukkan penolakan, sedangkan gestur tubuh wanita itu memancarkan rasa gugup sekaligus curiga.

“Aku yakin kamu pasti suka.”

Lucas pun beranjak dari kursi, lalu melangkah mantap menuju pintu keluar restoran tanpa melepaskan genggaman dari pergelangan Sandra. Malam ini harus ditutup dengan sempurna, dan hanya ada satu tempat yang tepat untuk mengakhiri ketegangan di antara mereka.

*****

BAB 17

Brooklyn Bridge Park.

Sandra tak menyangka kalau Lucas akan membawanya ke sini. Brooklyn Bridge Park adalah salah satu taman favoritnya setelah Central Park. Hutan yang rimbun, pemandangan kota metropolitan yang mampu menghipnotis setiap mata di siang hari, hingga indahnya panorama matahari terbenam yang mengukir warna jingga nan menakjubkan di langit biru, menjadi alasan mengapa Sandra selalu merindukan tempat ini.

Ia juga begitu menyukai suasana taman yang kental akan kedamaian di malam hari dan penuh keceriaan serta semangat di siang hari. Namun, atmosfer penuh kehangatan dan romantisme di malam harilah yang paling ia sukai. Sandra selalu jatuh cinta pada kemegahan yang ditampilkan oleh gedung-gedung pencakar langit yang berbaris rapi di sepanjang tepi East River.

Sambil melangkah menghampiri pagar pembatas yang menghadap langsung ke hamparan sungai East River, Sandra menikmati setiap embusan angin malam yang terasa dingin menerpa wajahnya. Sementara, matanya terus mengagumi ribuan lampu gedung-gedung tinggi yang menunjukkan keanggunan, yang seketika membangkitkan sisi romantisnya.

Tanpa diperintah, benak Sandra langsung membayangkan adegan-adegan romantis yang mungkin saja dapat terjadi di tempat ini. Jiwa romantisnya yang begitu mengagungkan keindahan cinta pun semakin mendominasi dan menciptakan kebahagiaan tersendiri dalam diri Sandra. Kebahagiaan yang mungkin tidak dapat dimengerti oleh orang lain kecuali dirinya sendiri.

Ketika Lucas berhenti tepat di sampingnya, Sandra belum berminat untuk membuka percakapan. Ia malah menghirup dalam-dalam udara malam tanpa sedikit pun berhenti mengagumi sekelilingnya sambil berdiri di belakang pagar pembatas. Seolah memiliki kecintaan yang sama terhadap tempat ini, mereka berdua memilih diam selama beberapa saat, menikmati keheningan yang melingkupi mereka dan mensyukuri keindahan yang terpampang nyata di depan mata.

“Aku sangat menyukai tempat ini.”

Suara berat Lucas langsung memecah keheningan mereka sekaligus menyedot sebagian besar perhatian Sandra. Ia pun segera menoleh dan menyunggingkan senyum bersahabat, lalu menimpali, “Aku juga.”

Lucas menoleh sejenak hanya untuk menatap Sandra dengan sorot dalam sembari menyunggingkan senyum lemah. Senyum yang seolah mengatakan betapa pria itu bersyukur mengetahui bahwa Sandra menyukai tempat ini. Namun, entah mengapa ia menangkap aura penuh luka dan kepahitan di diri Lucas. Seolah takut Sandra mengetahui luka batin yang Lucas miliki, pria itu segera mengalihkan pandangan darinya dan kembali menatap hamparan keindahan yang terbentang luas di hadapan mereka.

Sandra tergoda untuk bertanya mengenai luka dan kepahitan yang pria itu berusaha sembunyikan darinya. Akan tetapi, sebagian besar dari dirinya seakan menahan bibir Sandra dan menegurnya. Mereka memang sudah berciuman sekali, tapi bukan berarti Sandra berhak menggali masalah pribadi Lucas.

“Aku tahu kamu pasti suka. Taman ini penuh dengan keajaiban,” ujar Lucas datar, tapi terkandung kesedihan yang membuat Sandra semakin penasaran. “Setiap aku ada masalah atau mengalami kebuntuan dengan tulisanku, aku selalu menyempatkan diri untuk datang ke sini. Tempat ini selalu berhasil memberikan ketenangan dan inspirasi baru yang kubutuhkan dalam tulisanku.”

“Taman ini memang penuh keajaiban.” Sandra menimpali sembari mengalihkan pandangannya dari Lucas. Matanya mengunci pergerakan kapal feri yang melintas di hadapan mereka. “Setiap kali aku melihat pemandangan kota Manhattan di malam hari dari sini, semua rasa lelah, suntuk, dan masalah yang menimpaku pasti langsung hilang seketika.”

Senyum lebar mengukir wajah Sandra ketika ia menghela napas panjang penuh kelegaan. Keheningan mulai melingkupi ketika mereka kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Jujur, malam ini luar biasa menyenangkan. Meskipun tadi Lucas terlambat datang, tapi pria itu berhasil menebus kesalahan dengan memberikan makan malam romantis di tempat yang sempurna. Tiba-tiba, ia teringat akan percakapan terakhir mereka di restoran.

Seketika, pipi Sandra pun mulai merona. Gelora panas sarat gairah mulai merambat liar di sepanjang tulang belakangnya, dan jantungnya ikut berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya saat mengingat betapa intens tatapan Lucas sewaktu membahas ciuman mereka kemarin malam.

Tak dipungkiri, ciuman mereka kemarin malam merupakan topik percakapan yang berusaha Sandra hindari. Bukannya tidak menyukai ciuman itu, hanya saja sesuatu dalam diri Sandra seakan menuntut untuk kembali merasakan bibir Lucas setiap kali ia mengingat kejadian itu. Parahnya lagi, setiap membayangkan ciuman mereka kemarin, darah dalam tubuh Sandra bergelora hebat seolah itu adalah ciuman pertamanya. Beruntung, ia berinisiatif mengakhiri percakapan itu agar ia tidak semakin mempermalukan dirinya sendiri.

Tak ingin ciuman itu merusak ketenangan dirinya saat ini, Sandra menarik napas dan mengembuskannya secara perlahan selama beberapa kali. Ia bahkan menegur tubuhnya yang mulai bereaksi berlebihan dan mencoba bersikap tenang. Gelora panas yang sempat merambat liar di sepanjang tulang belakangnya pun perlahan-lahan surut dan digantikan oleh perasaan bahagia sarat kedamaian.

“Terima kasih sudah menerima ajakan makan malamku,” ucap Lucas datar, memecah keheningan di antara mereka. Sambil menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga, Sandra berpaling menatap Lucas yang terus memusatkan perhatian pada barisan gedung bertingkat di seberang sana.

My pleasure,” balas Sandra lembut.

Menyadari Lucas tidak akan melanjutkan percakapan, Sandra mengalihkan pandangan dari pria itu dan menyimpan erat-erat rasa sukacita yang bersemi dalam dirinya saat ini. Untuk kesekian kali, keheningan kembali melingkupi mereka, tapi Sandra tidak menghiraukan sikap diam Lucas karena ia pun butuh waktu sejenak untuk menikmati indahnya pemandangan malam ini sebelum mereka kembali ke apartemen.

“Sandra, maukah kamu memaafkanku?”

Tiba-tiba, Lucas melontarkan pertanyaan yang berhasil mengusik ketenangan Sandra. Ia pun menoleh menatap pria itu dan mencoba menanggapi dengan sesantai mungkin, “Memaafkan apa?”

“Tadi pagi,” jawab Lucas datar, yang kemudian menoleh dan mengunci tatapan Sandra. “Sebenarnya … waktu itu aku lagi ada masalah dengan ceritaku. Ideku tiba-tiba buntu, bahkan aku tidak tahu apa yang harus kutulis. Aku sadar, alasan itu sama sekali tidak membenarkan sikapku kepadamu. Tapi … aku berharap kamu mau memaafkanku.”

Ternyata Nathan benar. Lucas bersikap begitu dingin padanya karena ada masalah dengan novel yang sedang dikerjakan. Sandra pun menyadari bahwa reaksi Lucas akan kehadirannya di depan pintu ruang kerja cukup masuk akal. Karena, ia sendiri pasti akan bersikap sama kesalnya seperti Lucas jika ada yang mengganggu konsentrasinya ketika bekerja.

“Oh, itu. Sudahlah, lupakan saja.” Sandra tersenyum lebar, penuh kehangatan. Ia sudah tidak ingin mempermasalahkan kejadian tadi pagi.

Memang, ia sempat kesal sepanjang hari karena sikap dingin dan penuh penolakan yang Lucas tunjukkan padanya. Akan tetapi, makan malam dan pemandangan indah yang tersaji di hadapannya saat ini telah menghapus semua rasa kesalnya.

Sandra kembali melayangkan pandangan ke barisan gedung pencakar langit yang megah nan memesona. Sekali lagi, ia menikmati keheningan di antara mereka sambil diam-diam tersenyum, menghargai kerendahan hati Lucas yang mau meminta maaf padanya. Tanpa disadari, permintaan maaf itu menciptakan getaran baru dalam diri Sandra. Getaran yang malah melahirkan fatamorgana-fatamorgana indah akan sebuah hubungan romantis di antara mereka.

Mau tidak mau, Sandra mengakui untuk kedua kalinya bahwa perkataan Nathan memang benar. Tentu saja, tidak ada yang tahu apa yang terjadi di kemudian hari. Bahkan, ketika mereka sudah saling mengenal dan memahami satu sama lain, tak menutup kemungkinan bahwa sesuatu yang indah dapat terjadi dalam hubungan mereka.

Namun, Sandra masih berusaha menjaga kewarasannya. Ia tidak ingin berandai-andai terlalu jauh. Meski pun begitu, Sandra tidak mencoba menghapus fatamorgama itu dari benaknya, bahkan malah menikmatinya meski tahu kalau itu hanyalah khayalan semata. Sayangnya, Sandra tidak menyadari sudah sedalam apa ia tersesat dalam pusaran fatamorgana yang ia ciptakan sendiri.

“Lucas,” panggil Sandra lembut sembari menatap pria itu dengan sorot hangat bersahabat, “aku juga mau berterima kasih padamu. Malam ini benar-benar menyenangkan.”

Lucas membalas tatapan Sandra dan menguncinya lekat-lekat. “Semoga malam ini dapat menebus kesalahanku.”

“Kesalahanmu? Yang mana? Aku tidak ingat sama sekali,” canda Sandra yang langsung berbalik menghadap Lucas sembari memasang raut pura-pura lupa sambil melipat kedua tangan di depan dada. Bibir Sandra tertarik ke samping, keningnya mengerut seolah sedang berpikir keras, sementara bola matanya menatap Lucas dengan sorot bingung palsu.

Lucas tersenyum ringan merespons perubahan raut wajah dan gestur tubuh Sandra. Namun, sedetik kemudian pria itu tiba-tiba mendaratkan ciuman di bibir Sandra. Tanpa permisi dan dalam gerakan cepat, Lucas melingkarkan tangan kanan di pinggang Sandra dan menariknya mendekat hingga tubuh mereka saling menempel. Sementara, tangan kiri pria itu mencengkeram leher Sandra, tapi penuh kelembutan sarat gairah.

Tersentak kaget oleh gerakan mendadak yang Lucas lakukan, Sandra membeku selama beberapa detik. Akan tetapi, kehangatan dan gerakan lembut saat bibir Lucas mengusap bibirnya berhasil menyadarkan Sandra betapa ia begitu menginginkan ciuman pria itu semenjak pembahasan mereka terkait ciuman kemarin malam. Akhirnya, Sandra membiarkan akal sehatnya lenyap begitu saja dan mulai membalas ciuman Lucas.

Kali ini, ciuman Lucas tidak membabi buta dan penuh hasrat seperti kemarin malam. Ciuman yang pria itu berikan saat ini terasa begitu lembut, perlahan, dan sensual. Oleh karena itu, Sandra pun berusaha mengimbangi permainan Lucas agar tidak terlihat terlalu terburu-buru, atau bahkan terlampau liar.

Selama beberapa saat, bibir mereka saling memuja, melumat dengan penuh kelembutan, tapi sama sekali tidak menutupi besarnya rasa haus yang mereka miliki akan satu sama lain. Sandra tenggelam dalam pusaran nikmat yang tercipta ketika bibir mereka menyatu penuh hasrat. Lidah mereka pun saling mengecap dan menjelajahi satu sama lain. Sementara, pelukan erat yang memancarkan kehangatan berhasil meningkatkan suhu udara di antara mereka.

Lucas terus menciuminya. Akan tetapi, Sandra bisa merasakan bagaimana pria itu berusaha keras menjaga letupan berahi yang begitu menuntut, agar ciuman ini tidak berlanjut ke hal yang lebih jauh lagi—hal yang diam-diam sangat diharapkan olehnya. Sekali lagi, Sandra tersentuh akan sikap dewasa Lucas. Ia pun penasaran manuver apa lagi yang Lucas sembunyikan di balik sikap misterius dan tertutup itu.

Selama sesaat, Sandra menikmati ciuman itu sembari mengimbangi Lucas. Namun, tak lama kemudian ciuman pria itu mulai terasa menuntut, dalam, dan penuh hasrat. Tangan Lucas yang sedari tadi memeluk tubuh Sandra dengan lingkaran posesif malah semakin membakar gairah dalam diri Sandra. Anehnya, ada secuil rasa bahagia yang timbul ketika Lucas mulai menaikkan tempo ciumannya.

Sandra tenggelam, dan tak tahu apakah ia akan berhasil menguasai dirinya malam ini. Ciuman, pelukan, dan kehangatan yang Lucas berikan sungguh mampu menghipnotis Sandra hingga ia tak menghiraukan sama sekali batas kewarasannya. Berusaha menunjukkan bahwa ia menginginkan hal yang sama seperti yang ia yakini Lucas inginkan, Sandra mendesah nikmat, kemudian membiarkan Lucas mencumbu lehernya selama beberapa saat.

Sambil menengadah, Sandra menatap sekilas langit malam yang tampak indah sembari menenggelamkan jemarinya di rambut Lucas. Lidah pria itu menjilati leher Sandra dengan gerakan liar, bahkan menyapu garis rahangnya sekilas sebelum kembali mendaratkan ciuman di bibir Sandra.

Saat ini, mereka benar-benar sudah diselimuti oleh gairah. Bahkan ketika tangan Lucas bergerak ke bawah dan meremas gemas bokongnya, Sandra hanya mengerang nikmat sembari menekan bagian bawah tubuhnya ke area kejantanan Lucas yang terasa mengeras di balik celana panjang yang pria itu kenakan.

Oh, Sandra tidak tahu apakah ia akan menyesal esok hari karena tak sanggup menahan gairahnya sendiri. Namun satu hal yang ia tahu, ia begitu menyukai sensasi bibir Lucas di bibirnya, dan tak sabar ingin merasakan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman serta cumbuan liar. Sandra sudah siap, dan ia tahu kalau Lucas pun merasakan hal yang sama.

Baru saja Sandra merasakan tubuhnya meleleh karena gairah, tiba-tiba Lucas menghentikan ciumannya. Berbeda dengan kemarin malam—yang berakhir dengan sikap kaku dan misterius—kali ini, Lucas tidak bersikap dingin dan menjauh. Lucas hanya menjauhkan sedikit kepalanya agar dapat menatap Sandra lekat-lekat dan melonggarkan pelukan. Akan tetapi, mata mereka masih yang saling mengunci seolah mengungkapkan isi hati yang tak mampu diucapkan karena rasa takut dan keraguan.

“Maafkan aku,” ucap Lucas dengan napas terengah-engah sarat gairah, “aku … aku tidak bisa menahan diri setiap kali aku melihat ….”

Lucas tidak melanjutkan kalimatnya. Akan tetapi, ketika mata itu menatap bibir Sandra dan ibu jari Lucas mengulas lembut bibir bawahnya, Sandra pun tahu apa yang ingin Lucas ucapkan. Mengetahui kenyataan tersebut, ia merasa seperti di awang-awang. Pipi Sandra pun merona merah, tersipu malu sekaligus tersanjung. Ia tidak menyangka bahwa pria dingin nan misterius yang sempat membuatnya kesal beberapa hari ini, ternyata mampu membuatnya melayang layaknya gadis polos yang sedang dimabuk cinta.

“Aku suka,” ucap Sandra parau tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari iris biru safir yang indah dan memesona.

“Maksudmu?” Lucas mengernyit bingung.

“Aku suka kalau kamu menciumku seperti kemarin,” aku Sandra blak-blakan, sama sekali tidak malu mengakui betapa ia sangat menyukai sensasi ketika bibir Lucas menyentuh bibirnya. Ia juga tidak mengelak bahwa sesungguhnya ia begitu menyukai eratnya pelukan Lucas yang melingkar posesif di tubuhnya.

“Hanya kemarin?” tanya Lucas tipis sembari mengencangkan lingkaran pelukan di pinggang Sandra. Tercekat oleh gerakan posesif itu, Sandra membiarkan dadanya menempel pasrah di tubuh Lucas. Ia bahkan menengadah demi memperkecil jarak antara bibirnya dengan bibir pria itu.

“Aku suka ciumanmu … kemarin dan sekarang,” lanjut Sandra parau sarat gairah.

Gemas, Lucas menggemeretakkan gigi. “Hati-hati dengan permintaanmu, Angel. Aku tidak bisa menjamin apakah aku bisa menahan diriku jika aku menciummu lagi.”

Then don’t.”

*****

BAB 18

Sandra akhirnya masuk ke perangkapku, batin Lucas sembari membukakan pintu apartemen bagi wanita itu. Dengan sikap sedatar dan setenang biasanya, ia mempersilakan Sandra masuk terlebih dahulu. Namun, sikap tenang Lucas berbanding terbalik dengan kemelut yang berkecamuk dalam kepala.

Ini aneh! Seharusnya aku senang. Iya, kan? Tapi … kenapa perasaanku tidak keruan begini? pikir Lucas bimbang sembari menutup pintu di belakangnya. Sementara, iris birunya mengunci pergerakan Sandra yang melangkah menjauhi area koridor setelah menggantung trench coat.

Masih berusaha mempertahankan sikap tenang palsunya, Lucas menghela napas panjang demi menghalau kegelisahan yang telah menggelayuti dada semenjak mereka memutuskan untuk pulang. Jujur, saat ini ia benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Seharusnya, Lucas bahagia karena rencananya untuk menjerat Sandra telah berhasil. Namun kenyataannya, ia tidak sebahagia yang ia harapkan.

Saat ini, ia malah diberondong perasaan sedih sarat penyesalan. Bahkan, sebagian kecil dari dirinya mulai menilai rencana balas dendamnya ini adalah sebuah kesalahan.

Sembari berjalan meninggalkan area koridor pintu masuk, Lucas mendapati Sandra baru saja meletakkan tas laptop di meja kerja yang memang ia sediakan bagi wanita itu, tapi belum pernah digunakan sama sekali. Dari gerak-gerik Sandra yang penuh perhitungan dan gugup, Lucas bisa menilai bahwa wanita itu masih berharap agar mereka kembali melanjutkan letupan gairah yang sempat terhenti saat di taman. 

Namun, Lucas sudah bertekad untuk tidak memercik kembali gairah yang telah berhasil ia redam. Ciuman tadi sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan pada Sandra bahwa ia menginginkan wanita itu, dan ia tidak ingin mencobai dirinya lagi.

Selama beberapa saat penuh keheningan, Sandra menatap Lucas dari samping meja kerja. Sementara itu, Lucas berdiri tak jauh dari anak tangga pemisah antar ruangan tengah dengan koridor pintu masuk. 

Sembari menggosok-gosok gelisah lengan kiri dengan tangan kanan, tampak jelas betapa Sandra menunggu pergerakan Lucas. Namun, tak sedikit pun kata-kata keluar dari bibirnya. Ia malah membalas tatapan gelisah penuh harap Sandra dengan sorot datar sambil memainkan kunci mobil dalam genggaman, berusaha bersikap seolah ciuman mereka tadi tidak berpengaruh apa-apa pada dirinya.

Situasi ini benar-benar canggung. Sejujurnya, Lucas pun bingung harus melakukan apa demi mengakhiri malam yang penuh ketegangan sarat gairah ini.

“K-kamu … kalau kamu mau mandi di kamar mandi utama, aku bisa menunggu di sini,” ujar Sandra pelan, yang akhirnya memecah kecanggungan di antara mereka.

“Kamu saja,” sahut Lucas tanpa ekspresi, paham bahwa kalimat yang Sandra ucapkan hanya sekedar basa-basi. “Aku bisa mandi di kamar mandi yang satu lagi.”

“Oh, baiklah,” balas Sandra singkat. 

Bersamaan dengan beranjaknya wanita itu dari samping meja kerja, Lucas langsung mengalihkan pandangan dari Sandra, kemudian melangkah menuju area lemari buku. Ketika Lucas meletakkan kunci mobil di mangkuk datar berukuran kecil dan terbuat dari keramik, tiba-tiba napasnya tercekat sewaktu Sandra melangkah melewatinya. 

Meski bersikap seolah dirinya terbuat dari batang kayu yang kokoh dan keras, Lucas tidak menampik bahwa sebagian besar dari dirinya ingin menarik Sandra dan kembali mencium bibir merah nan menggemaskan itu. Aroma menenangkan yang menguar dari tubuh Sandra—baik saat ia mencium wanita itu ataupun ketika Sandra melangkah melewatinya—berhasil menghipnotis Lucas dan mengaburkan kembali keteguhan dirinya. Aura panas sarat gairah yang begitu kuat di antara mereka pun seolah saling sahut-menyahut meski tanpa sepatah kata pun terucap.

Jujur, ia tidak mengerti mengapa harus merasakan ketertarikan seksual sebesar ini terhadap Sandra. Bahkan, sekuat apa pun ia menepis kenyataan bahwa ia menginginkan wanita itu, sebagian dirinya seolah memberontak dan menegur kekerasan hatinya. Sandra memang cantik dan menarik. Kepribadian Sandra yang ramah dan riang sudah pasti dapat memikat hati setiap pria, bahkan yang sekeras batu sekali pun seperti Lucas. 

Masalahnya, dari sekian banyak rencana yang ia persiapkan, letupan gairah ini sama sekali tidak termasuk di dalamnya. Ia pikir, besarnya rasa benci dan sakit hati yang ia miliki terhadap Sandra merupakan pondasi kuat untuk membalaskan dendamnya. Nyatanya, tidak. Gelora gairah dan ketertarikan seksual di antara mereka semakin hari semakin besar, dan Lucas sama sekali tidak mempersiapkan diri akan semua itu.

Seolah tersihir oleh aroma tubuh Sandra, Lucas mengikuti langkah wanita itu dari belakang. Entah apa yang telah merasuki Lucas, tapi sebagian dari dirinya merasa bahwa ini adalah tindakan yang tepat.

Ketika Sandra berhenti di depan pintu kamar, wanita itu tidak langsung berbalik menghadap Lucas. Memahami bahwa pergerakan sekecil apa pun dapat memercik kembali api gairah di antara mereka, Lucas memilih berdiri diam di belakang wanita itu.

Selama beberapa detik lamanya, Lucas mengamati betapa tegang dan kakunya pundak Sandra dari belakang. Ia tahu betapa wanita itu pasti sedang menimbang langkah-langkah yang tepat bagi ketegangan sarat gairah di antara mereka saat ini, karena ia pun begitu. Ketika akhirnya Sandra berbalik dan menatap matanya dalam-dalam, Lucas tahu kalau wanita itu sudah memutuskan pilihan.

“Aku senang malam ini,” ucap Sandra dengan suara sedikit bergetar karena gugup, “sekali lagi, terima kasih, Lucas.”

“Sama-sama,” balas Lucas datar dan cepat.

Sandra kembali terdiam, tapi mata wanita itu sesekali menatap bibir Lucas. Ia tahu betapa Sandra sangat berharap agar ia kembali mencium wanita itu meski hanya sekedar kecupan selamat malam. Namun, Lucas tidak mau mencobai pengendalian dirinya. Ia tahu seberapa sulitnya menghentikan kegilaan yang menyerang dirinya ketika bibir mereka saling bersentuhan.

Menyadari kalau Lucas tidak akan memberikan ciuman selamat malam, Sandra akhirnya menghela napas penuh kekalahan, kemudian berkata, “Selamat malam, Lucas.”

Tanpa diduga dan tanpa berpikir panjang, Lucas segera melangkah mendekat, kemudian meraih leher Sandra dengan penuh kelemahlembutan. Masih berusaha menjaga agar tidak memancing percikan gairah di antara mereka, Lucas kemudian mendaratkan kecupan selamat malam di kening Sandra.

Tak menyangka Lucas akan bertindak begitu manis, Sandra langsung menengadah, menatapnya dengan binar-binar kasmaran.

“Lucas,” panggil Sandra parau sarat permohonan. Lucas bisa melihat gelora gairah mulai menghiasi mata wanita itu, tapi ia berusaha keras menahan dirinya.

“Aku tahu, aku juga ingin menciummu lagi. Tapi … aku tidak ingin melewati batas amanku, Angel,” ujar Lucas seraya mengusap ibu jarinya di bibir Sandra, merasakan kekenyalan bibir itu di bawah sentuhannya.

“Malam ini … kita hanya larut oleh suasana,” lanjut Lucas parau, tapi penuh pengendalian diri, “Aku tidak mau esok hari kamu menyesali semua yang telah terjadi seandainya kita benar-benar bercinta.”

“Kenapa aku harus menyesalinya?” Kening Sandra mengerut heran. Tampak jelas betapa wanita itu masih berusaha menentang akal sehat yang coba Lucas jaga demi kebaikan mereka berdua. 

Siapa bilang Lucas tidak ingin merasakan tubuh Sandra berada di bawah kuasanya? Tentu saja Lucas ingin sekali. Hanya saja, Lucas harus berpikiran jernih. Bercinta dengan Sandra malam ini akan menghancurkan segala rencananya. Rasa penasaran Sandra terhadap dirinya akan lenyap begitu saja, dan rencana Lucas untuk membuat wanita itu tergila-gila pun akan semakin sulit. 

Oleh karena itu, ia berusaha untuk tarik-ulur di awal permainan ini. Karena Lucas yakin, semakin Sandra penasaran dan membutuhkan ciuman serta cumbuannya, maka semakin dalam juga perasaan yang wanita itu miliki terhadap dirinya.

“Kamu belum mengenalku, Angel. Aku … aku tidak ingin kita gegabah,” ungkap Lucas beralasan.

“Tapi—”

“Seandainya pun nanti kita akhirnya bercinta, aku ingin kita melakukannya bukan karena kita larut oleh suasana romantis atau apa pun itu yang akan kita sesali di kemudian hari. Aku ingin karena kita benar-benar menginginkannya. Dan aku berjanji, jika saatnya tiba … aku pastikan kamu tidak akan melupakannya,” jelas Lucas demi mencegah Sandra mengutarakan kata-kata yang dapat meruntuhkan pendiriannya.

“Apakah malam ini kamu tidak menginginkanku?” tanya Sandra dengan sorot penuh harap dan raut mengerut kecewa. 

Menanggapi pertanyaan itu, pandangan Lucas spontan tertuju pada bibir Sandra. Ketika wanita itu menggigit bibir bawah, Lucas bisa menangkap besarnya tuntutan gairah yang saat ini bergejolak dalam diri Sandra. 

Lucas kembali mengusap bibir bawah Sandra yang telah lepas dari gigitan. Mencoba menunjukkan betapa berat keputusan yang harus ia ambil, Lucas pun menunduk hingga keningnya menyentuh kening Sandra, lalu menghela panjang. 

“Kamu tidak tahu betapa aku sangat menginginkanmu,” ujar Lucas sembari mengusap hidungnya dengan hidung Sandra, “tapi, tidak malam ini, Angel.”

Mendengar jawaban Lucas, kedua pundak Sandra terkulai lemas diiringi embusan napas panjang sarat kekecewaan. Tak ingin wanita itu tenggelam dalam kekecewaan, Lucas menangkup leher Sandra dengan kedua tangan, kemudian mengusap lembut garis dagu Sandra. 

Selama sesaat, mereka berdua berdiri diam sambil memejam, berkutat dengan pikiran masing-masing. Perlahan-lahan, Lucas merasakan denyut nadi leher Sandra mulai tenang dan terkendali. Ia pun menyadari bahwa gelora gairah yang sebelumnya menyelimuti Sandra, akhirnya berhasil diredam.

Sesaat kemudian, Lucas membuka mata dan mulai menjauhkan kepalanya dari Sandra, sementara wanita itu kembali menatapnya dengan sorot penuh harap. Masih dengan sikap lembut penuh pengertian, Lucas menatap mata wanita itu dalam-dalam. Ia masih bisa menangkap kekecewaan terpancar di mata Sandra, tapi senyum hangat yang menghiasi wajah wanita itu menjadi pertanda bahwa Sandra mau memahami penolakannya.

“Maafkan aku, ya,” bujuk Lucas. Masih dengan kedua tangan menangkup leher Sandra, Lucas mengusap garis dagu wanita itu dengan gerakan memuja. Sandra mengangguk, memaafkan Lucas. Senyum kecil nan menggemaskan pun mulai menghiasi bibir wanita itu.

Ia kembali mendaratkan kecupan di kening Sandra, lalu menatap wanita itu lekat-lekat. “Mimpi yang indah.”

Sekali lagi, Sandra mengangguk seraya tersenyum kecil, tapi sorot penuh harap itu tetap menghiasi mata Sandra. Tak ingin memercik kembali gairah di antara mereka, Lucas menjauhkan tangannya dari wanita itu, kemudian bergerak mundur selangkah. Sementara itu, Sandra berbalik dan membuka pintu.

Sebelum menutup pintu, tiba-tiba Sandra menatap Lucas dengan sorot penasaran. “Lucas, bolehkah aku bertanya satu hal?”

Berharap pertanyaan yang Sandra lontarkan tidak menjurus ke hal-hal yang dapat membangkitkan gairah, Lucas pun mengangguk cepat.

“Kenapa kamu memanggilku ‘angel‘?” tanya Sandra lembut.

Lucas tak pernah mengira kalau Sandra akan menanyakan hal itu. Namun, setidaknya ia memiliki jawaban yang tepat, yang juga dapat menghentikan rasa penasaran wanita itu. Sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana, Lucas pun menjawab tenang, “Karena, kamu pantas mendapat panggilan itu.”

“Pantas? Kenapa begitu?” Sandra kembali melontarkan pertanyaan.

“Kamu bilang hanya bertanya satu hal, Angel. Tidurlah,” tegur Lucas lembut disertai senyum miring demi menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin masih mengisi benak wanita itu.  

“Baiklah,” ujar Sandra patuh seraya tersipu malu, “good night, Lucas.”

Good night, Angel.”

Akhirnya, Sandra menutup pintu dan menghilang dari pandangannya. Bersamaan dengan itu, senyum miring di wajah Lucas pun sirna. Ia bahkan menatap daun pintu dengan sorot tajam sarat kebencian.

Selama beberapa saat, Lucas berdiri di sana sembari memutar ulang semua yang terjadi hari ini—semua kata-kata manis serta ciuman yang dalam dan penuh hasratnya. Sebagian dari dirinya merasa jijik akan kepalsuan yang Lucas tunjukkan demi menjerat Sandra. Namun, sebagian dari dirinya yang begitu mudah terpesona pada kecantikan Sandra, meraung sedih seraya memintanya untuk melembutkan hati dan memohon agar ia melupakan dendam serta kebencian yang sudah mendiami dirinya selama sepuluh tahun.

Dalam keheningan, Lucas berusaha menata kembali perasaannya yang campur aduk. Ia juga mencoba meneguhkan kembali pendiriannya yang sempat goyah akibat ciuman itu. Lambat laun, kebencian mulai kembali membara dalam dada. Seluruh tubuh Lucas pun terasa panas—terbakar oleh kilasan masa lalu yang tak pernah berhenti menyiksa batinnya.

Aku tidak boleh terpesona! Aku tidak boleh terjerat! Aku tidak boleh terjebak lagi! Tidak boleh!

*****

Sambil mengeringkan rambut dengan handuk di depan cermin wastafel, Sandra menatap wajahnya yang segar sehabis mandi. Pipinya merona bahagia, sementara senyum di wajahnya tak berkurang sedikit pun semenjak ia beranjak dari tempat tidur. 

Pagi ini, Sandra bangun dengan penuh semangat dan perasaan bahagia yang meluap-luap. Penyebabnya, tentu saja karena Lucas dan percakapan mereka kemarin malam. Bahkan, Sandra masih bisa ingat dengan sangat jelas setiap kata yang Lucas ucapkan—kata-kata yang berhasil membuat Sandra melayang dan tersipu malu.

Kamu tidak tahu betapa aku sangat menginginkanmu.

Pipi Sandra semakin merona, kali ini campuran rasa senang dan percikan gairah dalam dirinya. Seketika, Sandra teringat akan tubuh Lucas yang kokoh dan atletis. Ia masih ingat bagaimana tubuh bagian atas Lucas bergerak indah ketika berjalan menghampirinya pagi itu. Ia bahkan bisa mengingat setiap lekuk indah tangan, perut, serta bahu Lucas yang sempat membuatnya terpaku kala itu.

Parahnya, kilasan pergerakan indah tubuh Lucas berhasil membuat napasnya sesak saat ini. Tak ingin tenggelam dalam fatamorgana liar di benaknya, Sandra mencoba mengatur tarikan napasnya, menenangkan debar jantungnya yang menggila, kemudian menggulung rambut dalam lilitan handuk.

Setelah berpakaian dan merias ringan wajahnya, Sandra memasukkan ponsel ke saku celana, kemudian keluar dari ruang tidur dan bergegas menuju area dapur. Untuk kedua kalinya, Sandra tidak melihat keberadaan Lucas di sofa— tempat pria itu tidur—ataupun di dapur. 

Ketika melintasi ruangan TV menuju ruang tengah, Sandra mengangkat pandangan ke area mezanin. Lampu di ruangan itu masih menyala. Mengingat kejadian kemarin, Sandra memutuskan untuk membiarkan Lucas berkutat dengan tulisannya. Lagi pula, ia tidak ingin mengusik konsentrasi Lucas, yang mana dapat menghambat keberhasilan pria itu dalam menyelesaikan novelnya.

Sandra terus berjalan melintasi ruangan berlangit-langit tinggi dan berhenti di depan meja dapur. Di sana, ia melihat sepiring telur orak-arik dengan tiga lembar bakon, dua lembar roti panggang, dan segelas susu. Senyum mengembang di bibir Sandra saat membaca pesan yang Lucas tulis dalam selembar kertas kecil yang ditekuk menjadi bentuk segi tiga.

Semoga harimu menyenangkan.
Maaf, aku tidak bisa menemanimu sarapan.
Kuharap kamu menyukai sarapan yang sudah kusiapkan.
Lucas.

Hati Sandra berbunga-bunga membaca pesan itu. Mendapati sepiring sarapan telah disediakan baginya, Sandra mulai menyadari bahwa Lucas termasuk pria yang senang memanjakan pasangan. Meski mereka berdua menjalin hubungan kontrak, tapi keseriusan pria itu untuk memperlakukannya seperti kekasih sungguhan benar-benar membuat Sandra tersentuh.

Ia mulai duduk di kursi tinggi yang ada di meja dapur, kemudian mulai menikmati sarapan yang Lucas siapkan untuknya. Sembari mengunyah, Sandra mengeluarkan ponsel dari saku, kemudian mengirim pesan pada Lucas.

Terima kasih sarapannya.
Aku suka.

Sandra menunggu beberapa saat, tapi pria itu tak membalas, bahkan tak membaca pesannya. Berusaha berpikir positif dengan menyakinkan diri kalau penyebab Lucas tidak membuka pesannya adalah karena terlalu sibuk, Sandra menghela napas ringan, kemudian meletakkan ponsel begitu saja di samping gelas susu. Ia pun menikmati hidangan di hadapannya dengan tenang.

Selama beberapa saat, Sandra akhirnya menghabiskan sarapannya. Baru saja ia meneguk habis susu dalam gelas, tiba-tiba ada pesan masuk dari Lucas. Bak gadis remaja yang kasmaran dan tak sabar menunggu pesan balasan dari sang kekasih, Sandra buru-buru meletakkan gelas, kemudian mengangkat ponsel dan membuka pesan masuk tersebut.

Seketika senyum mengembang dan pipi Sandra merona setelah membaca pesan dari Lucas. Pria itu memang seorang penulis andal. Sandra pun menilai kalau Lucas cocok menjadi penulis fiksi romansa. Buktinya, setiap kalimat yang pria itu tuangkan dalam pesan berhasil membuat Sandra berbunga-bunga.

Aku senang membuatkan sarapan untukmu.
Sudah lama tak ada yang merasakan masakanku.
Semoga harimu menyenangkan.
Can’t wait to kiss you again.’ 

*****

BAB 19

Hari ini Sandra benar-benar lelah. Pekerjaan di kantor sangat menguras tenaga sekaligus emosi. Bagaimana tidak? Ia harus berulang kali menghubungi penulis yang karyanya sempat ia tangani tiga minggu lalu, dan memintanya untuk segera melakukan revisi terkait beberapa bagian dalam cerita yang masih memiliki plot hole

Ia juga harus memperpanjang kesabarannya dalam menghadapi junior editor yang baru saja bekerja selama sebulan di H&H Publishing—wanita berusia 21 tahun yang berani melamar menjadi editor, tapi minim pengetahuan dalam dunia literasi. Sebulan! Bisa kalian bayangkan? Sudah sebulan bekerja, tapi sampai sekarang wanita itu belum juga paham cara mengedit tulisan dengan benar. Sandra tidak mengerti bagaimana wanita itu bisa lolos dalam tes masuk yang HRD berikan. 

Namun, yang membuat Sandra benar-benar kehabisan tenaga adalah karena ia harus menggantikan Raffael di dua pertemuan penting di dua tempat dan jam yang berbeda. Bekerja sama dengan dua rumah produksi yang berbeda, kedua pertemuan itu membicarakan hal tentang alih wahana cerita menjadi film layar lebar—dua novel yang sempat menyedot perhatian para pembaca. Meski Raffael menugaskan sopir pribadi untuk mengantar Sandra ke dua lokasi pertemuan, tetap saja ia kewalahan karena belum mempersiapkan diri menghadapi permintaan mendadak yang berhasil mengacaukan jadwalnya hari ini.

Seharusnya, hari ini Sandra bisa menyelesaikan naskah yang sedang ia pegang dan memberikannya ke tim desain dan percetakan. Ia juga seharusnya sudah bisa menentukan tiga naskah terbaru yang akan mereka pinang dari beberapa penulis baru yang sempat menarik perhatiannya. Namun, semua terpaksa ia tunda hingga esok hari.

“Anggap saja dua pertemuan itu sebagai latihan sebelum kau benar-benar menjabat sebagai Redaktur Pelaksana,” ujar Nathan ketika Sandra baru saja dilimpahkan tugas penting tersebut dari Raffael.

Ya, Nathan memang benar. Sandra bisa menganggap dua pertemuan hari ini sebagai latihan. Karena itulah ia menjalani pertemuan tersebut dengan semangat berapi-api. Sayangnya, ketika jarum jam di arlojinya menunjukkan pukul 21.15 dan ia sudah berada di dalam mobil, Sandra baru menyadari betapa ia sudah memforsir dirinya.

Sekarang, Sandra benar-benar bak mainan yang hampir kehabisan baterai. Langkahnya lemah ketika melangkah keluar dari lift menuju pintu apartemen. Sambil menyeret kakinya yang pegal dengan sisa-sisa tenaga di tubuhnya, Sandra merogoh kunci apartemen dari dalam tas kerja. Embusan napas lelah bercampur rasa lega pun melesat cukup keras dari bibir Sandra ketika ia menggantungkan trench coat di gantungan jaket yang tersedia. 

“Hai.” 

Sandra tersentak kaget mendengar sapaan Lucas di tengah keheningan apartemen. Ia pikir, pria itu sudah tidur. Sambil mengerutkan kening, Sandra menoleh dan mendapati pria itu berdiri di anak tangga pemisah ruangan. Mengenakan celana pendek basket dan kaos hitam tanpa lengan, Lucas tampil santai malam ini. Otot-otot lengan yang terekspos ketika pria itu melipat kedua tangan di depan dada berhasil mengalihkan sekilas perhatian Sandra. 

Kalau saja ia tidak sedang kelelahan, ia mungkin tergoda untuk menyentuh otot-otot seksi itu. Sayangnya, rasa lelah yang menyerang membuat Sandra tidak mampu memikirkan hal lain selain merebahkan tubuhnya di tempat tidur. 

“Hampir saja aku mati karena serangan jantung. Kamu benar-benar mengagetkanku,” gerutu Sandra sembari melangkah melewati Lucas. Ia bahkan tak segan melirik sinis ketika pria itu semakin melebarkan senyum setelah mendengar ucapannya.

“Tampaknya harimu tidak berjalan lancar,” nilai Lucas dari raut lelah Sandra, kemudian berbalik dan bergerak sedikit menjauh dari anak tangga.

“Semuanya lancar,” sahut Sandra sedikit ketus sembari meletakkan tas di meja kerja. Sambil menghela napas lelah, ia melepaskan jepitan dari rambutnya yang tergulung sempurna, lalu berbalik dan menyandarkan bokongnya pada pinggiran meja kerja.

“Tapi, kenapa kamu terlihat begitu lelah?” tanya Lucas santai sambil menduduki sandaran sofa panjang.

“Ada dua pertemuan mendadak yang benar-benar menguras tenagaku hari ini,” ungkap Sandra jujur, kemudian beranjak dari pinggir meja setelah menghela napas panjang sekali lagi.

“Apa kamu sudah makan malam?” tanya Lucas ringan, sementara iris biru safir itu terus mengikuti pergerakan Sandra.

“Aku kenyang.” Sandra terus melangkah melintasi ruangan, berharap dapat segera berendam di air hangat demi merelaksasi seluruh tubuhnya yang sudah berteriak kelelahan.

“Kenyang karena capai?”

Sandra mengangguk malas menjawab pertanyaan Lucas tanpa berhenti melangkah. Satu rencana yang sudah terpatri dalam benaknya setelah ia mandi adalah tidur. Jangankan makan, untuk berbicara saja rasanya ia sudah tidak sanggup.

Tiba-tiba, Lucas meraih lembut pergelangan tangan Sandra ketika ia baru saja melewati pria itu. Sambil menghela napas lelah, Sandra menatap Lucas yang masih menduduki sandaran sofa. 

“Aku juga belum makan. Maukah kamu menemaniku makan malam?” bujuk Lucas lembut dengan kehangatan yang terpancar di mata pria itu. Sejenak, Sandra menyelami sorot tulus Lucas, dan tersentuh oleh perhatian yang terkandung jelas dalam bujukan itu.

Akhirnya, Sandra pun mengangguk. Bukan hanya demi mengakhiri percakapan yang dapat memperlambat rencananya untuk berendam, tapi juga karena ia menyadari bahwa setelah berendam, rasa lapar pasti akan segera merongrongnya mengingat sedari tadi ia belum makan malam. 

“Baiklah,” ucap Sandra lemah. Diiringi senyum hangat, Lucas melepaskan genggaman dari pergelangan Sandra, dan ia pun bergegas melangkah menuju kamar.

Setelah menanggalkan pakaian kerja yang telah seharian melekat di tubuhnya, Sandra memanjakan diri dengan berendam di air hangat sambil memejam sejenak. Alunan musik klasik yang berasal dari ponsel, membantu Sandra tenggelam dalam ketenangan hingga akhirnya terbangun setelah merasakan suhu air berubah menjadi dingin. Sesaat kemudian, Sandra menyudahi mandinya, lalu mengeringkan tubuh dan berpakaian. 

Hanya dengan mengenakan celana pendek sepaha bermotif garis-garis dan berkaos longgar berwarna putih, Sandra beranjak keluar dari kamar sembari mengikat sembarang rambut panjangnya. Tiba-tiba, perutnya bergemuruh saat aroma gurih dan lezat menyeruak memenuhi hidung.

Setibanya di ruang TV, ia mendapati Lucas sedang membuka dua piza berukuran besar. Matanya langsung tertuju pada taburan pepperoni yang memenuhi permukaan piza. Oh, Sandra sangat menyukai piza, dan ia tidak akan pernah kenyang meski sudah menelan dua potongan besar.

“Kuharap kamu menyukai pilihanku,”

“Suka? Aku sangat tergila-gila akan piza!” seru Sandra antusias. Rasa lelah yang sebelumnya sempat menyerang dirinya pun lenyap seketika saat melihat piza tersaji di meja sofa. Akhirnya, mereka mulai menyantap piza ditemani beberapa kaleng minuman bersoda. Televisi yang menyiarkan acara tentang berita terkini, menjadi penghibur di kala mereka membahas ringan kegiatan yang Sandra lalui hari ini.

Di tengah kenikmatan Sandra mengunyah piza, tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat, Sandra membersihkan tangannya menggunakan tisu, lalu merogoh keluar ponsel dari saku celana. Nama Nathan terpampang jelas di layar ponsel. 

Lucas, yang duduk di samping Sandra, langsung bergerak sedikit menjauh darinya. Sandra tak tahu apakah Lucas melihat siapa yang menghubunginya malam ini. Namun, ia tidak ingin menimbulkan kesalahan persepsi untuk yang kedua kali terkait kedekatan hubungannya dengan Nathan di mata Lucas. Tanpa menyadari perubahan gestur tubuh Lucas yang menegang kaku dan suasana ceria yang perlahan-lahan menjadi canggung, Sandra menjawab panggilan itu dengan santai.

“Kenapa, Nat?” tanya Sandra saat mendengar sapaan sarat rengekan manja di balik ponsel.

Mom baru saja menelepon,” jawab Nathan dengan sedikit nada merajuk.

“Kenapa? Apakah dia berniat menjodohkanmu lagi dengan wanita baru?” tebak Sandra langsung karena ia tahu hanya topik itu yang berhasil mengubah suasana hati Nathan.

Seperti itulah.” Terkandung keengganan sarat kesedihan dalam suara Nathan, yang malah membuat Sandra penasaran.

“Lalu, kenapa kau terdengar seperti sedih begitu?” tanya Sandra sebelum mengambil sepotong piza dan mengigitnya sambil melirik Lucas yang terlihat begitu kaku tanpa ekspresi.

Karena dia adalah wanita yang pernah aku incar saat masih kuliah,” jawab Nathan yang seketika menyedot seluruh perhatian Sandra. “Aku … aku tidak menyangka kalau dia merupakan anak dari kerabat mom.

“Bukankah seharusnya kau senang?” Kening Sandra mengerut heran mendengar kegelisahan yang tak sedikit pun berusaha Nathan tutupi.

Itulah masalahnya,” sahut Nathan lemah, tak bersemangat.

“Apa?” Sandra meletakkan pizanya, lalu mengangkat kaleng minuman bersoda dan meneguknya.

Dia … dia tidak pernah mengenalku. Dia tidak pernah menganggapku ada, Darling. Bagaimana … maksudku, apakah dia akan menyukai diriku yang sekarang? Apakah … aku akan terluka untuk yang kedua kalinya, Sandra?

Sambil menghela napas lega setelah selesai meneguk minuman, Sandra meletakkan kembali kaleng kola, lalu bersandar santai di sofa. “Kau belum mencobanya, Nat, kenapa kau malah mengkhawatirkan hal itu?”

Karena, aku … aku dulu begitu menyukainya,” ungkap Nathan jujur.

“Lalu, apakah sekarang kau masih menyukainya?” Sandra berusaha menanggapi keluh kesah Nathan dengan baik. Ia tahu betapa Nathan selalu berubah menjadi pria yang pemalu dan rendah diri setiap kali menghadapi pertemuan berkedok perjodohan yang dilakukan oleh sang ibu.

Aku tidak tahu,” jawab Nathan sangsi.

“Kalau begitu, kenapa kau tidak cari tahu saja?” saran Sandra cepat.

Bagaimana caranya?” Nathan malah terdengar semakin merana dan rendah diri di balik ponsel. Seandainya pria itu ada di sampingnya sekarang, Sandra pasti akan memeluk Nathan erat-erat demi menenangkan kegelisahan dan keraguan dalam diri sahabatnya itu.

“Temui saja dia. Lihat bagaimana dia merespons kehadiranmu. Setelah itu, cari tahu apakah kau masih menyukainya atau tidak. Kalau kau tidak menyukainya sebesar yang kau rasakan dulu, ya sudahi saja.”

Mendengar nasehat yang Sandra berikan kepada Nathan, Lucas menoleh tegas ke arahnya. Merasakan betapa tajam tatapan pria itu, Sandra menoleh dan menangkap adanya ketidaksetujuan sarat kebencian di mata Lucas. Menanggapi respons Lucas, Sandra spontan mengernyit heran. Namun, ia tidak ingin meladeni luapan emosi Lucas. Saat ini, ia sedang fokus pada unek-unek Nathan.

Bagaimana kalau aku ternyata masih menyukainya? Aku—”

“Oh, come on, Nat! Kau belum mencobanya, tapi kau sudah panik duluan,” potong Sandra demi menegur rasa rendah diri Nathan yang semakin menjadi-jadi. Lucas, yang sebelumnya menatap Sandra dengan sorot tajam, langsung mengalihkan pandangan darinya sembari bergerak sedikit lagi ke samping. Tampak jelas kalau pria itu sedang berusaha menjaga jarak darinya.

Tapi—”

“Kapan ketemuannya?” potong Sandra lagi demi menghentikan barisan alasan yang akan Nathan ucapkan.

Sabtu ini,” jawab Nathan lemah.

“Oke, dengarkan aku baik-baik.” Sandra menegakkan posisi duduknya, lalu menekan nada bicaranya demi memberi kesan tegas tanpa sedikit pun mengurangi rasa sayangnya pada Nathan. “Kalau kau belum siap bertemu dengannya, undur saja pertemuan itu. Kalau kau berani dan penasaran, datang saja.”

Bagaimana kalau dia masih mengingatku?” Nathan terdengar sedikit histeris di seberang sana.

“Tadi kau bilang kalau dia tidak pernah menganggapmu. Lalu, kenapa sekarang kau berharap seolah dia mengingat keberadaanmu?” Sandra mencoba menarik Nathan dari kekalutan yang mengisi benak pria itu. Ia juga ingin menyadarkan Nathan bahwa kepanikan yang saat ini merongrong bisa saja muncul karena rasa rendah diri yang begitu besar.

Kau benar juga.” Akhirnya, Nathan setuju dengan jalan pikiran Sandra. 

Sedetik kemudian, Sandra mendengar embusan napas panjang dari balik ponsel. Sementara di sudut matanya, ia menangkap pergerakan Lucas yang baru saja menenggak habis kola dan meremas kaleng kosong itu hingga berubah bentuk.

“Nah, sekarang yang perlu kau lakukan adalah istirahat. Besok kita bicarakan masalah ini di kantor. Oke?” ujar Sandra tenang demi mengakhiri percakapan.

Baiklah. Good night, Darling.”

Sleep tight,” balas Sandra lembut sebelum memutuskan panggilan.

Setelah meletakkan ponsel di meja sofa, Sandra mengambil sepotong piza dan menikmatinya tanpa menghiraukan perubahan suasana hati Lucas. Sedangkan pria itu hanya duduk diam dengan sekaleng kola yang baru saja dibuka, sementara pandangan Lucas lurus menatap layar televisi tanpa menunjukkan eskpresi yang berarti.

Beberapa menit berlalu, tapi atmosfer yang kental akan kecanggungan sarat emosi di antara mereka, tak sedikit pun surut. Muak dengan kebisuan kaku itu, akhirnya Sandra membuka percakapan.

“Apakah ada ucapanku tadi yang menyinggung perasaanmu?” tanya Sandra tenang sembari menatap raut wajah Lucas yang tegang penuh amarah.

“Tidak ada,” balas Lucas cepat. Kening Sandra spontan mengerut mendengar kesinisan dalam nada bicara Lucas.

“Lalu, kenapa sikapmu berubah?” Sandra masih berusaha menjaga nada bicaranya agar tetap tenang terkendali.

“Memangnya sikapku harus seperti apa?” balas Lucas tegas tanpa menatap Sandra sama sekali. 

Tak terima dengan perubahan suasana hati yang begitu tiba-tiba dan tanpa alasan, Sandra pun mulai kesal. Dengan geram, ia memasukkan sisa lembaran piza dalam genggamannya, lalu mengunyah gemas seolah Lucas-lah yang sedang ia makan. 

Setelah menenggak habis kola dalam kaleng, Sandra menyeka kasar bibirnya dengan tisu, lalu melipat kedua tangan di depan dada seraya memutar posisi duduknya hingga menghadap Lucas. Hari ini, emosi dan tenaga Sandra telah dikuras habis oleh pekerjaan. Ia tidak butuh sikap sinis Lucas untuk membuat harinya semakin terasa menyebalkan. 

“Kamu tahu apa yang tidak kusukai darimu?” Sandra sudah tidak sanggup menahan luapan emosinya. Rasa lelah yang sebelumnya menyerang Sandra, kali ini kembali, bahkan terasa sepuluh kali lebih besar hingga berhasil memantik amarah dalam dirinya.

Bukannya menanggapi pertanyaan Sandra, Lucas malah memilih diam dengan pandangan lurus ke depan menatap televisi seolah ia tak ada di samping pria itu. Namun, sikap diam Lucas sama sekali tidak menghentikan Sandra untuk meluapkan kekesalannya.

“Sikapmu selalu berubah-ubah. Di satu saat kamu bisa baik, tapi sesaat kemudian kamu bisa berubah menjadi sinis dan menyebalkan. Terkadang kamu terlihat begitu misterius dan menakutkan, tapi di lain waktu kamu bisa berubah menjadi begitu romantis dan menggoda. Apakah itu memang sifatmu? Apakah ada yang salah dengan dirimu? Atau, kamu memang tidak senang dengan keberadaanku? Kalau kamu tidak menyukai keberadaanku, kenapa kamu memberikan tantangan untuk tinggal bersamamu dan menjadi kekasihmu? Kenapa?”

Sandra mencecar Lucas. Ia tidak berniat memperkecil suara atau memperhalus nada bicaranya. Ia benar-benar sudah tidak tahan melihat sikap Lucas yang selalu berubah-ubah tanpa alasan yang jelas.

“Kenapa? Apakah sekarang kamu berubah jadi bisu?” tegur Sandra dengan nada menantang. Matanya memancarkan protes, sementara tarikan napasnya pendek karena sekujur tubuh telah dipenuhi amarah.

Bukannya menjawab, Lucas malah menoleh dan menatapnya tajam. Ada amarah di mata itu, tapi tak sedikit pun Sandra takut akan luapan emosi Lucas. Selama beberapa detik, mereka saling menatap tanpa bicara sepatah kata pun. Atmosfer ruangan kental akan gelora amarah. Namun, mereka berdua tetap bertahan pada kekerasan hati masing-masing.

Setelah beberapa saat berlalu, Sandra kira Lucas akan berbicara. Nyatanya, pria itu tetap tidak berkutik, sementara tubuh Sandra mulai berteriak menuntut istirahat. Kecewa karena tidak mendapatkan perlawanan yang ia harapkan, Sandra pun beranjak dari sofa, lalu menatap Lucas dengan penuh kebencian.

“Kuharap novelmu cepat selesai agar aku tidak bertemu lagi dengan manusia menyebalkan sepertimu!” ketus Sandra yang kemudian bergegas pergi dari hadapan Lucas.

Tidak. Kali ini, Lucas tidak mengikuti Sandra atau mencegah kepergiannya. Pria itu tetap diam di sofa, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Setidaknya, Lucas memilih keputusan yang tepat. Karena, jika pria itu mencegah kepergiannya atau mengikuti Sandra ke kamar, ia tidak tahu caci maki apa lagi yang akan ia ucapkan demi menyakiti perasaan Lucas.

Sandra benar-benar muak!

*****

Dua hari berlalu setelah luapan kekesalan Sandra pada Lucas. Selama dua hari itu pulalah Sandra berusaha menjaga jarak. Ia sengaja pulang terlambat, bahkan rela mengerjakan pekerjaannya di kafe kopi yang berada tak jauh dari apartemen hanya demi pulang larut malam. 

Seolah berpikiran sama dengannya, Lucas pun tidak tampak setiap kali Sandra tiba di apartemen. Namun, pria itu masih selalu menyiapkan sarapan untuknya, yang tidak pernah Sandra sentuh demi menunjukkan rasa kesalnya. Kalau pun mereka tidak sengaja saling bertemu, Sandra-lah yang pertama kali memutuskan untuk menjauh dan menghilang dari hadapan Lucas.

Sandra tidak tahu, sampai kapan mereka akan perang dingin seperti ini. Masalahnya, sekarang adalah hari Sabtu. Ia sedang malas bepergian, terlebih karena kemarin ia baru saja diberikan tugas terbaru oleh Raffael untuk menangani satu karya dari salah satu penulis ternama yang sempat naik daun tahun yang lalu.

Sembari menguncir kuda rambutnya di depan cermin, Sandra berusaha menahan lapar yang mulai menyerang perutnya. Ia ingin sekali berdiam sepanjang hari di dalam kamar, bersantai dan bermalas-malasan. Namun ia tahu, perutnya butuh diisi dan ia tidak mungkin seharian di dalam kamar karena ia harus mengerjakan tugas terbarunya, sementara tas laptop ia letakkan di meja kerja.

“Abaikan dia. Kau pasti bisa!” ucap Sandra kepada dirinya sendiri saat memutuskan untuk keluar dari kamar.

Sambil melangkah mantap, ia keluar dari ruang tidur, lalu menutup pintunya. Ia mendengar suara penyiar berita dari televisi, pertanda bahwa Lucas sudah bangun dan sedang berada di ruang TV. Sandra kembali meneguhkan keberaniannya, kemudian melanjutkan perjalanan menuju area dapur. 

Dengan dagu sedikit terangkat sembari memaksa pandangan lurus ke depan, Sandra melangkah melewati ruang TV. Namun, matanya yang nakal melirik sekilas ke sofa, dan tidak menemukan Lucas di sana. Alhasil, langkah Sandra terhenti di depan rak buku sembari mengamati keadaan sofa yang sudah rapi. Tak ada selimut ataupun bantal di sana.

“Sudah bangun?”

Sandra berjingkat kaget mendengar suara Lucas yang berat sarat ancaman, lalu menoleh cepat ke arah pria itu. Sialnya, napas Sandra tercekat melihat kehadiran Lucas yang hanya mengenakan celana training panjang dan kaos kutang putih fit body yang memetakan bentuk tubuh pria itu secara sempurna. Wajah pria itu terlihat segar. Rambut yang sedikit lembab dan aroma harum yang menguar lembut mengisi indra penciumannya, menandakan bahwa Lucas baru saja selesai mandi.

Berusaha menunjukkan kalau dirinya masih belum memaafkan kejadian dua hari lalu, Sandra segera membuang pandangan dari Lucas sembari mendengus kesal, kemudian bergegas meninggalkan area TV. Dengan langkah sedikit lebih cepat, Sandra bergerak menuju ruang dapur. Begitu cepatnya hingga siapa pun akan mengira dirinya sedang melarikan diri dari sesuatu yang berbahaya. Yeah, Lucas memang berbahaya bagi keteguhan dan kewarasan Sandra saat ini.

“Masih marah padaku?” tanya Lucas santai sembari mengeluarkan gelas dari rak. Sandra melirik sinis tanpa berniat menjawab pertanyaan itu. Ia berpura-pura sibuk mencari sesuatu di dalam kulkas, sementara sudut matanya menangkap pergerakan Lucas yang mulai mendekat menghampiri.

“Mau apa?” tegur Sandra ketus sembari menoleh kelas ke arah Lucas yang sudah berdiri di sampingnya. “Apa kamu tidak tahu kalau aku tidak ingin bicara denganmu?”

“Kamu tidak sadar kalau kamu sedang berbicara denganku sekarang?” balas Lucas tenang yang malah terdengar seperti ejekan di telinga Sandra. Pria itu terus menatapnya tanpa sedikit pun menunjukkan rasa bersalah karena sudah menciptakan kekesalan pada diri Sandra dua hari yang lalu.

“Aku mau ambil air minum. Kamu sudah selesai?” lanjut Lucas tanpa terlihat risi dengan keberadaan Sandra. Berbanding terbalik dengan Sandra yang mulai canggung dengan kedekatan mereka.

Tak ingin Lucas menangkap kecanggungannya, Sandra menyambar apa saja yang ada di dalam kulkas, lalu bergerak ke samping demi memberikan ruang bagi Lucas untuk mengambil botol kaca berisi air putih yang selalu tersedia di sana. Bukannya segera pergi dan menjauh dari Lucas, Sandra malah terdiam memperhatikan setiap gerakan yang pria itu lakukan. Mulai dari mengambil botol kaca, menuangkan isinya ke gelas dalam genggaman, hingga setiap pergerakan jakun Lucas ketika meneguk air putih. 

Diam-diam, lamunan nakal mulai mengisi benak Sandra. Tanpa disadari, ia pun menelan ludah dengan susah payah seolah tubuhnya haus akan sesuatu yang liar, sementara gelenyar panas semakin lama semakin menjalar ke sekujur tubuh. Sialan! Sandra benar-benar membenci pikiran mesumnya, begitu juga pada matanya yang begitu mudah terpesona oleh ketampanan Lucas.

“Kamu sarapan paprika?” tanya Lucas yang seketika membuyarkan lamunan Sandra.

Secepat kilat Sandra mengalihkan pandangan dari tubuh Lucas ke paprika merah dalam genggaman. Menyadari bahwa ia telah mengambil sesuatu yang tidak masuk akal untuk dijadikan sarapan, Sandra hanya bisa tertunduk malu. Ia tidak berani menatap Lucas karena ia tahu kalau saat ini wajahnya semerah paprika yang ia pegang.

Tak ingin semakin mempermalukan dirinya, Sandra memutuskan untuk beranjak dari hadapan Lucas, kemudian meletakkan paprika tersebut di meja dapur tanpa berani menoleh sedikit pun. Namun, baru saja ia berjalan dua langkah jauhnya dari meja dapur, tiba-tiba Lucas meraih lengan Sandra yang seketika menghentikan pergerakannya.

Masih tidak berani melihat Lucas, Sandra berdiri diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan, melepaskan genggaman Lucas pun tidak.

“Mau kubuatkan sarapan?” bujuk Lucas lembut. 

Sandra tak mau menjawab. Bukan hanya karena malu akibat paprika menyebalkan yang entah mengapa harus berada di hadapannya untuk diraih, tapi juga karena ia tahu betapa mudah dirinya luluh akan kelemahlembutan Lucas padanya.

“Aku tahu kamu masih marah padaku. Tapi, aku tidak suka melihat kekasihku kelaparan,” lanjut Lucas sarat kekhawatiran. Mendengar kalimat terakhir itu, Sandra seketika mengangkat wajah kemudian menatap Lucas dengan sorot tak percaya.

“Kekasih?” ulang Sandra tak percaya. Ia tahu, dirinya memang kekasih palsu Lucas selama tiga bulan ini. Namun, cara pria itu mengucapkan kata ‘kekasih’ seolah menyatakan bahwa Sandra adalah kekasih sungguhan.

“Kamu adalah kekasihku selama tiga bulan ini. Kamu lupa?”

“A-aku tidak lupa. Tapi … caramu mengucapkannya terdengar seperti kamu menganggapku layaknya kekasih sungguhan.” Sandra mengutarakan isi pikirannya tanpa memperhitungkan sedikit pun akibat dari ucapannya. Ia bahkan tidak menghiraukan apakah nantinya Lucas akan mengira dirinya besar kepala atau terlalu percaya diri. Sandra hanya ingin Lucas memahami bahwa ucapan pria itu kali ini benar-benar berhasil menimbulkan sesuatu yang terlarang dalam diri Sandra.

“Kita sudah berciuman, dua kali,” ingat Lucas seolah Sandra lupa akan dua ciuman yang luar biasa menggoda itu. Namun, Sandra sama sekali tidak menyangka Lucas akan mengungkit ciuman itu di saat seperti ini.

“Memang. tapi bukan berarti aku benar-benar jadi kekasihmu. Banyak yang berciuman dengan sembarang orang, dan itu bukanlah masalah besar,” jelas Sandra demi memperjelas hubungan di antara mereka yang mulai kabur karena ciuman itu.

Tak menyukai ucapannya, Lucas menarik Sandra hingga tubuhnya menabrak dada pria itu. Berusaha menunjukkan bahwa ia tidak takut dengan ketegasan yang berusaha Lucas tunjukkan saat ini, Sandra malah menengadah dan menatap mata Lucas lekat-lekat, begitu juga sebaliknya. Bedanya, Lucas menatap dengan sorot geram.

“Haruskah aku mengingatkanmu betapa panasnya ciuman kita? Apakah harus kuingatkan kembali betapa kamu begitu menyukai ciumanku? Atau … apakah kamu lupa bagaimana tubuhmu pasrah dalam pelukanku setiap kali berciuman denganku?” 

Pertanyaan demi pertanyaan sarat godaan itu meluncur tipis dari sela-sela gigi Lucas yang terkatup rapat. Jujur, ketika Lucas mengingatkan Sandra akan betapa pasrah tubuhnya saat pria itu menciumnya, Sandra merasakan gelenyar liar merambat cepat di sepanjang tulang belakang. Namun, ia tak ingin menunjukkan pada Lucas bahwa pria itu berhasil memercik sesuatu yang liar dalam tubuhnya.

“Semua ciuman sama saja!” Sandra berusaha mengelak.

“Tidak dengan ciumanku, Angel,” tegas Lucas sarat godaan, terlebih ketika mata pria itu mengunci bibir Sandra dengan sorot liar. “Kupastikan … tidak ada yang bisa menandingiku.”

Tak ingin tenggelam dalam liarnya sorot mata Lucas yang begitu menggoda, Sandra segera mendorong dada Lucas hingga ia terlepas dari pria itu. “Aku lapar. Kalau kamu tidak jadi memasakkan sarapan untukku, aku akan cari di luar saja.”

Sandra melipat kedua tangan di depan dada, berusaha menunjukkan bahwa dirinya masih kuat menghadapi aura dominasi Lucas. Meski sejujurnya, kaki Sandra lemas dan goyah akibat iris biru safir yang menggelap sarat gairah ketika menatapnya. Bukannya marah karena sikap tegas sarat penolakan yang Sandra tunjukkan, Lucas malah tersenyum miring—senyum nakal yang menyiratkan sisi liar dan buas pria itu. 

“Duduklah. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita,” bujuk Lucas sebelum berbalik menuju area dapur. 

Bukannya langsung duduk, Sandra malah membatu sejenak. Entakan keras menghantam dada Sandra saat mendengar kata ‘kita’ meluncur dari bibir Lucas, terlebih cara pria itu mengucapkannya. Dasar, otak sialan! gerutu Sandra dalam hati sebelum akhirnya melangkah menghampiri kursi tinggi di depan meja dapur.

*****

BAB 20

Sandra masih kesal pada Lucas. Meski sempat terjadi kejadian yang memalukan dan muncul percikan gairah di antara mereka beberapa saat lalu, tapi rasa kesal dan kekecewaan dalam diri Sandra akibat kejadian malam itu masih saja menggelora.

Sandra akui, ketertarikan seksual di antara mereka sangatlah kuat. Setiap kali Lucas memeluknya, Sandra bisa merasakan sel-sel darahnya mendidih secepat kilat. Ia juga mendapati tubuh Lucas seketika menegang sarat tuntutan gairah setiap kali menatap bibirnya. Meski begitu, bukan berarti kali ini ia akan memaafkan Lucas seperti sebelum-sebelumnya.

Perasaan kecewa yang berdiam dalam diri Sandra masih terasa cukup menyesakkan dada. Tak sedikit pun ia melupakan sorot mata Lucas yang memancarkan kebencian seolah dirinya adalah penjahat paling kejam di dunia. Sikap Lucas yang serta merta menjaga jarak seolah dirinya adalah sumber penyakit, benar-benar membuat Sandra tersinggung dan sakit hati.

Kali ini, Sandra bukan hanya kecewa, tapi ia juga mulai muak. Entah sudah berapa kali ia dibuat kesal oleh perubahan perangai Lucas yang tiba-tiba. Bodohnya, berkali-kali pula ia luluh oleh sikap lemah lembut dan kata maaf yang pria itu ucapkan. Bahkan, tak dipungkiri kalau beberapa menit lalu Sandra sempat luluh pada senyuman dan kelemahlembutan Lucas.

Demi meneguhkan pendirian serta mengobarkan kembali amarah dalam dirinya, Sandra terus mengingat betapa menyebalkannya kejadian malam itu. Ia juga menyadarkan kembali akal sehatnya yang sempat goyah akibat makan malam romantis dan ciuman penuh perasaan yang Lucas berikan. Sungguh, Sandra tak henti-hentinya memaki kebodohannya karena begitu mudah tenggelam dalam suasana romantis nan penuh gairah.

Ini hanya hubungan kontrak. Ingat, Sandra! batinnya berulang kali demi menegur dirinya yang mudah luluh pada kelemahlembutan Lucas—sikap yang selalu pria itu tunjukan setiap kali melakukan kesalahan.

Jangan terpesona! Ingat, Sandra, ini hanya hubungan kontrak. Dia tidak menyukaimu seperti yang kau pikirkan. Ingat itu! tegur Sandra tegas pada sisi romantisnya yang kerap kali terpesona pada sosok Lucas. Ia bahkan mengutuki ide gila Nathan yang sempat meracuni pikirannya hingga ia sempat berharap agar hubungan kontrak ini dapat berubah menjadi sesuatu yang nyata di kemudian hari.

Tidak! Sandra tidak boleh jatuh cinta kepada sosok menyebalkan yang sikapnya selalu berubah-ubah layaknya bunglon, atau ia akan menyesal dan berubah menjadi manusia aneh seperti Lucas. Maka dari itu, Sandra bertekad untuk tetap menjaga jarak agar hubungan ini tidak lebih dari sekedar hubungan kerja, meski ia tak menampik bahwa percikan-percikan liar mungkin saja terjadi kembali di kemudian hari.

“Kamu suka panekuk buatanku?” tanya Lucas tenang yang seketika memecah kebisuan di antara mereka.

“Hmm,” gumam Sandra ketus tanpa menatap Lucas sedikit pun dan terus menikmati sarapan yang pria itu sajikan. Meski sedari tadi pandangannya tertuju pada panekuk, tapi ia bisa merasakan betapa intens Lucas memerhatikannya.

Sandra tidak memungkiri, panekuk buatan Lucas sangatlah lezat. Namun, jika Lucas mengira sepiring panekuk—yang dilumuri sirup mapple dan dihiasi taburan buah blueberry serta strawberry—dapat memperbaiki suasana hati Sandra, maka pria itu salah besar! Kekecewaan dan kekesalan yang Sandra rasakan sudah terlalu besar hingga membuatnya mampu bersikap dingin dan acuh tak acuh.

Demi membantu mengalihkan pikiran dari Lucas, Sandra membalas beberapa pesan masuk dari Nathan yang akhirnya memutuskan untuk menghadapi cinta masa lalunya. Ia berusaha bersikap seolah Lucas tidak ada di satu ruangan yang sama dengannya meski pria itu duduk tepat di seberangnya.

“Bagaimana kalau siang ini kita makan di luar?” usul Lucas santai demi menyela keheningan yang sempat kembali tercipta. Mengerti makna di balik usul tersebut, Sandra segera mengangkat pandangan dari layar ponsel, lalu menatap datar pria itu.

“Apakah makan siang ini berkaitan dengan adegan cerita di dalam novelmu?” tanya Sandra tanpa ekspresi. Ia bahkan sengaja menggunakan nada formal demi menyadarkan Lucas—dan juga dirinya sendiri—agar tidak tenggelam lebih jauh lagi dalam ketertarikan seksual yang beberapa hari ini tercipta tanpa disengaja.

“Tidak,” jawab Lucas tenang diiringi senyum kecil menawan sembari mengangkat cangkir kopi dan membiarkannya berhenti di depan bibir. “Aku hanya ingin makan siang denganmu. Hari ini tampaknya cerah, jadi—”

“Kalau begitu, tidak perlu,” potong Sandra cepat dan sedikit tegas, yang langsung menghentikan pergerakan Lucas saat ingin menyesap kopi.

“Kenapa?” Kening Lucas mengernyit kaget sekaligus heran, kemudian menyesap kopi sekilas, lalu meletakkan cangkir tanpa melepaskan tatapan dari Sandra.

“Ada naskah baru yang harus kutangani. Jadi, sebaiknya aku tidak membuang-buang waktu dengan makan siang di luar,” jawab Sandra tenang dan terkendali sebelum menyeruput kopi dalam cangkirnya, kemudian mengembalikan pandangan ke layar ponsel.

Lucas terdiam sejenak. Tampak jelas betapa pria itu sangat terkejut dengan penolakan dan sikap dingin Sandra. Namun, ia bersikeras pada pendiriannya untuk menjaga hubungan kerja ini tetap pada jalurnya.

“Buang-buang waktu?” ulang Lucas tipis, tak terima.

“Bagiku, melakukan kegiatan yang tidak berkaitan dengan proses pembuatan novelmu sama saja dengan buang-buang waktu. Lagi pula, masih banyak hal penting yang dapat kamu lakukan—menyelesaikan novelmu, misalnya,” jelas Sandra tanpa menatap Lucas sedikit pun.

“Jadi … kamu tidak akan makan siang atau melakukan hal lain denganku jika tidak berkaitan dengan proses pembuatan novel?” Lucas terdengar seperti seorang yang sedang kebingungan akibat ketegasan, penolakan, serta sikap dingin Sandra.

“Benar sekali.” Sandra segera melahap habis sisa panekuk yang ada di piringnya tanpa memedulikan protes yang terkandung dalam pertanyaan Lucas.

“Apakah kamu lupa kalau statusmu sebagai kekasihku menjadi penentu keberhasilanku dalam menciptakan novel terbaruku?” ingat Lucas, kesal. Sandra mendengus geli. Ia sudah hafal luar kepala akan tuntutan Lucas setiap kali ia mencoba menolak keinginan pria itu.

“Aku ingat,” sahut Sandra sembari mengerling sinis pada Lucas, kemudian menyeka bibir dengan serbet demi menegaskan bahwa ia sudah selesai menyantap sarapan dan akan segera beranjak dari kursi. Ia bahkan membalas kembali pesan Nathan yang baru saja masuk sambil bersandar santai pada sandaran kursi sebagai pertanda bahwa ia sudah tidak ingin melanjutkan percakapan ini. Namun, tampaknya Lucas tidak sepemikiran dengan Sandra. Jelas sekali bahwa pria itu belum ingin menyudahi percakapan dengan Sandra.

“Apakah kamu tidak sadar kalau makan siang denganku adalah bagian dari statusmu sebagai kekasihku?” tanya Lucas dengan nada sedikit lebih tinggi.

Sembari menghela napas jenuh, Sandra kembali mengangkat pandangannya dari layar ponsel. Kali ini, ia menatap Lucas lekat-lekat sembari menunjukkan ketegasan dalam setiap gesturnya. Dengan sikap tenang terkendali, Sandra menggeser piring kosong ke samping, lalu melipat kedua tangan di atas meja, dan menegakkan postur tubuhnya. Tak lupa, ia juga memasang raut serius andalannya yang selalu ia gunakan setiap kali menghadapi penulis keras kepala dan angkuh.

“Kurasa ada satu hal yang kamu lupakan di sini. Aku memang setuju menjadi kekasihmu, tapi aku bukan bonekamu. Kamu tidak bisa memerintahku melakukan hal-hal yang menurutku tidak masuk akal, apalagi jika perintahmu berpotensi mengganggu pekerjaanku, aku pasti akan menolaknya. Kamu juga tidak berhak mengatur apa yang akan kulakukan. Memang benar, kita sudah menandatangani kontrak perjanjian, tapi bukan berarti kamu menguasai kehidupanku.

“Aku sudah pernah mengatakan, meski terikat dalam hubungan kontrak ini, tapi kita memiliki kehidupan dan pekerjaan masing-masing. Aku tidak mau hubungan kontrak ini menjadi perusak masa depanku, apalagi pekerjaanku. Jika kamu tidak bisa berkompromi dengan kehidupan dan pekerjaanku, sebaiknya kamu hubungi Gerald dan batalkan saja kontrak kerja sama ini.”

Lucas tampak geram, tidak menyukai setiap kata yang keluar dengan tenang dari bibir Sandra. “Jadi, kamu akan mengakhiri kontrak ini setelah semua yang sudah kita lakukan?”

“Setelah semua yang sudah kita lakukan?” ulang Sandra penuh penekanan sembari tersenyum sinis, “Memangnya kita sudah melakukan apa, Lucas? Lagi pula, bukan aku yang ingin mengakhiri kontrak ini.”

“Tapi, tadi kamu bilang—”

“Oke. Aku ulangi perkataanku, supaya kamu paham,” potong Sandra cepat demi mencegah tuduhan yang akan Lucas berikan padanya. “Aku tegaskan sekali lagi, ya. Kalau kamu tidak bisa berkompromi dengan kehidupan dan pekerjaanku, sebaiknya kamu batalkan saja kontrak kerja sama ini.”

Gila? Tentu saja tidak. Sandra masih waras, tapi ia benar-benar ingin menatang keangkuhan Lucas. Ia juga ingin melihat sampai sejauh mana Lucas—pria yang terkenal suka mengatur dan misterius—akan bersikeras pada pendiriannya.

Sandra yakin, Lucas tidak akan membatalkan kontrak kerja ini. Mereka memiliki ketertarikan satu sama lain, terlebih jika berkaitan dengan gelora gairah. Meski di awal-awal pertemuan Lucas selalu bersikap bak pria yang berpendirian kuat, gila kendali, dan suka memaksa. Namun, sebagai seorang wanita yang sudah beberapa kali berhubungan dengan pria, Sandra tahu bagaimana seks dapat menjadi kunci untuk mengendalikan perhatian dan perasaan para pria.

Ia juga tahu, jauh di balik sikap misterius Lucas, pria itu menginginkan sesuatu yang liar sarat gairah darinya, karena Sandra pun sama. Hal tersebut terlihat dari bagaimana panas dan dalamnya ciuman yang Lucas berikan setiap kali mereka berciuman. Maka dari itu, Sandra sangat yakin kalau Lucas tidak akan mengakhiri hubungan kontrak ini.

Keheningan kembali terjadi, kali ini sarat dengan ketegangan dan gelora amarah. Sandra bisa menilai kalau Lucas sama sekali tidak mengira akan menerima perlawanan darinya. Sorot mata yang memancarkan amarah yang begitu luar biasa besar menjadi pertanda betapa pria itu masih belum bisa menerima penolakan Sandra, dan ia pun yakin bahwa sebentar lagi Lucas akan kembali menjadi pria otoriter, pemaksa, dan menyebalkan.

Namun, perkiraan Sandra salah. Betapa terkejutnya ia melihat perubahan emosi di raut wajah pria itu beberapa saat kemudian. Bukannya meluapkan amarahnya, raut wajah Lucas yang kaku dan tegang perlahan-lahan mengendur, bahkan pria itu memejam sejenak demi mengendalikan luapan emosi dalam diri. Luar biasanya lagi, Lucas bahkan menghela napas panjang seolah mencoba mengalah bak petarung yang rela menyerah demi memperbaiki keadaan—hal yang sama sekali tak pernah Sandra kira akan sanggup Lucas lakukan.

“Aku mengerti mengapa sikapmu seperti ini,” ujar Lucas jauh lebih tenang daripada sebelumnya, bahkan terdengar begitu penuh kesabaran. “Kamu masih marah padaku dan belum bisa menerima permohonan maafku. Kukira, suasana hatimu sudah berubah dan keadaan kita sudah membaik, tapi ternyata tidak.”

Permohonan maaf? Kapan dia mengucapkan kata maaf? Panekuk ini kah yang dia maksud permohonan maaf? Dasar gila!! batin Sandra geram seraya mengernyitkan kening, penuh protes. Ia tidak menyukai sikap dan cara bicara Lucas. Pria itu berbicara seolah ketegangan yang terjadi di antara mereka saat ini adalah karena ketidakmampuan Sandra dalam mengendalikan emosi dan amarahnya.

Ini salah! Seharusnya, Sandra tidak diperlakukan seperti seseorang yang telah melakukan kesalahan. Di sini, Lucas yang bersalah. Pria itulah yang menimbulkan ketegangan dan perang dingin di antara mereka, bukan Sandra. Jadi, tidak seharusnya Lucas bersikap bak pria bijaksana yang paling sabar di dunia, sementara pria itu memosisikan Sandra sebagai pelaku dari sumber masalah yang ada di antara mereka.

Tidak terima karena Lucas berusaha melimpahkan kesalahan padanya, Sandra memutuskan untuk menyudahi percakapan. Tanpa banyak bicara, ia menandaskan kopi dalam cangkir, lalu memasukkan ponsel ke saku celana, dan beranjak dari kursi tinggi.

Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Lucas bergerak mengitari meja dan berhenti tepat di depan Sandra yang baru saja berbalik dari meja dapur yang berfungsi ganda sebagai meja makan. Seolah keberadaan tubuh tinggi dan kekar pria itu belum cukup mengintimidasinya, Lucas menutup jalur pergerakan Sandra dengan mencengkeram kedua sandaran kursi tinggi di kanan-kirinya.

“Apa lagi?” Sandra menatap Lucas dengan penuh kebencian. Jika Lucas ingin beradu mulut dengannya, Sandra tidak akan meladeni. Ia tidak ingin buang-buang energi, ia akan pergi dari tempat ini dan menyudahi semuanya.

“Jangan pergi!” pinta Lucas tipis dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. Kali ini, terpancar amarah di mata Lucas, tapi Sandra bisa melihat bagaimana pria itu berusaha menekan luapan emosi demi membujuknya. Namun, tak sedikit pun Sandra gentar. Amarah yang bergelora dan kekecewaan yang semakin meremas dadanya, membuat Sandra tak sedikit pun berniat menurunkan egonya. Ia tidak ingin berdamai dengan Lucas sampai pria itu benar-benar menyadari kesalahan dan terbuka padanya.

Sambil melipat kedua tangan di depan dada dengan tubuh tegap menantang, Sandra mempertahankan kekerasan hatinya. “Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan!”

Tak sedikit pun Sandra melepaskan tatapan penuh kebenciannya dari Lucas. Ia ingin pria itu menyadari bahwa dirinya tidak dapat dipermainkan lagi. Mungkin sisi romantisnya yang mudah luluh kerap kali membuat Sandra tampak lemah dan gampang diperdaya, tapi tidak dengan sisi keras kepala dan pantang menyerahnya.

Sejenak, pria itu mengatup bibir rapat-rapat, tampak seperti sedang mengendalikan gejolak emosi dalam dirinya. Sementara itu, Sandra sama sekali tidak meruntuhkan pertahanannya. Seandainya Lucas meluapkan amarah dan mengusirnya, Sandra sudah siap angkat kaki. Ia tak butuh hidup berdampingan dengan orang yang tidak memiliki hati seperti Lucas.

“Bisakah kita bicara baik-baik?” bujuk Lucas sedikit lebih lembut setelah menghela napas panjang beberapa kali. Namun, kedua tangan Lucas yang mencengkeram sandaran kursi, masih terlihat tegang dan kokoh.

“Dari tadi bukannya kita sudah bicara baik-baik?” Sandra memberi penekanan pada kata-katanya demi menegaskan bahwa dari tadi ia sudah berusaha bicara baik-baik dengan pria itu.

Masih berusaha membela diri, Lucas menggigit dinding pipi sembari menghela napas keras seolah menghadapi kekerasan hati Sandra adalah salah satu ujian terberat yang pernah dihadapi oleh pria itu. “Bukan begitu. Maksudku, bisakah kita membicarakan masalah yang membuat kita saling … menjaga jarak?”

“Kita?” Sandra tidak terima dengan ucapan Lucas. “Bukankah kamu yang pertama kali tiba-tiba menjaga jarak dariku? Apa kamu lupa?”

“Oke, oke. Aku akui kalau aku bersikap cukup aneh malam itu. Tapi, bisakah kita bicarakan ini dengan kepala dingin?” Lucas mengunci mata Sandra dengan sorot memohon. Dengan penuh kesabaran, pria itu menunggu jawaban darinya, sementara Sandra bersusah payah menepis rasa kasihan yang tiba-tiba muncul. Sial! Iris biru safir itu tampaknya memiliki kekuatan sihir yang dapat meluluhkan hati setiap orang.

Masih berusaha menunjukkan rasa kesalnya, Sandra membuang wajah ke samping seraya mendengus keras. Sebisa mungkin ia tidak berlama-lama menatap mata Lucas. Karena ia tahu, iris biru safir itu adalah salah satu bagian terbaik dari diri Lucas yang mampu meluluhlantakkan pertahanannya.

“Maafkan aku. Maukah kamu memaafkanku?” mohon Lucas penuh penyesalan. Sambil sedikit memiringkan kepala agar dapat menatap mata Sandra, pria itu terus memasang raut memelas sambil memupuk kesabaran yang diperlukan dalam menghadapi kekerasan hati Sandra.

“Aku tidak butuh kata maaf!” ketus Sandra masih belum ingin memalingkan wajahnya menghadap Lucas.

“Oke. Katakan apa yang kamu mau. Sebisa mungkin, aku akan melakukannya asalkan kamu berhenti marah padaku,” bujuk Lucas dengan lemah lembut, yang seketika menarik perhatian Sandra.

“Penjelasan,” jawab Sandra tegas yang akhirnya kembali menghadap Lucas dan menatap mata itu dengan penuh keberanian. “Kamu harus menjelaskan padaku kenapa sikapmu selalu berubah-ubah. Kamu juga harus menjelaskan apa yang salah dengan ucapanku malam itu sampai kamu tiba-tiba membenciku.”

Bukannya menjawab, Lucas malah terdiam. Pria itu tampaknya sedang berpikir keras sambil menimbang-nimbang keputusan. Mulai lelah menghadapi kebimbangan Lucas, Sandra mendorong kursi di sampingnya dengan sekuat tenaga, berharap bisa keluar dari kungkungan pria itu. Namun, Lucas segera menahan pergerakan bangku tersebut. Kesal, Sandra kembali menatap geram Lucas sembari memasang raut penuh protes.

“Baiklah,” ucap Lucas menyerah, “Aku akan menjelaskannya.”

“Jangan main-main denganku, Lucas!” tegas Sandra sarat ancaman.

“Aku tidak pernah main-main jika berkaitan denganmu, Angel. Apakah kamu tidak menyadarinya?”

Sandra tertegun mendengar keseriusan yang terkandung dari ucapan Lucas. Matanya bahkan sedikit membesar saat merasakan ketegasan sarat keintiman dalam aura dominasi Lucas yang seolah menyatakan bahwa hanya Sandra-lah pusat perputaran dunia pria itu saat ini.

Tak ingin tenggelam dan terhipnotis oleh intensnya tatapan Lucas, Sandra segera memutus tautan mata mereka, lalu kembali duduk di kursinya. Ketika punggungnya tak sengaja menyentuh barisan jemari Lucas yang masih mencengkeram sandaran kursi, tubuh Sandra seketika menegang kaku. Ia bahkan menegakkan tubuhnya dan menjaga jarak dengan Lucas yang kemudian duduk di sampingnya. Pria itu memutar posisi duduk agar bisa langsung menatap Sandra, sementara ia mempertahankan posisinya menghadap meja.

Sejenak, terjadi keheningan di antara mereka. Sandra menunggu dengan kesabaran setipis tisu sambil mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Lucas membutuhkan waktu untuk mengatur kata-kata. Namun, setelah beberapa menit berlalu dan tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Lucas. Pria itu malah termenung, pandangannya pun kosong. Akhirnya, kesabaran Sandra lenyap.

“Kalau kamu tidak mau bicara, sebaiknya—”

“Aku pernah hancur,” potong Lucas ketika Sandra baru saja mengangkat sedikit bokongnya dari kursi, berniat untuk pergi. Namun, kata-kata itu berhasil mengurungkan niat Sandra hingga akhirnya ia kembali duduk dan menatap Lucas dengan sorot penasaran sekaligus tak sabaran.

“Dan hampir mati … dua kali,” lanjut Lucas datar dengan tatapan tertuju pada badan kursi yang Sandra duduki.

“Karena apa?” Sandra, yang kesabarannya benar-benar sudah habis, langsung melemparkan pertanyaan sarat rasa penasaran tanpa menghiraukan apakah besarnya keingintahuannya dapat menyinggung perasaan Lucas. Biar saja! Toh, dia berutang penjelasan padaku, batin Sandra keras kepala.

Tiba-tiba, Lucas mengangkat pandangannya dan menatap Sandra dengan sorot kesedihan. Sesaat, ia bisa menangkap luka yang tergambar jelas di raut pria itu. Namun, yang paling menyesakkan dada adalah genangan air mata yang mulai tampak menggenangi kelopak mata Lucas.

Sandra tidak tahu sehancur apa masa lalu Lucas. Ia pun tidak mengerti seberat apa beban yang menimpa kehidupan pria itu di masa lalu hingga membuat Lucas hampir mati dua kali. Akan tetapi, sisi rapuh dan lemah yang Lucas tunjukkan saat ini di hadapannya berhasil menyedot simpati Sandra.

“Karena, aku jatuh cinta pada wanita yang salah.”

*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja
error: Content is protected !!