BAB 11
Permukaan bantal yang halus dan lembut, menenggelamkan kepala Sandra dalam rasa nyaman nan memanjakan. Kehangatan selimut yang menyelimuti Sandra serta empuknya tempat tidur, mengukir senyum di tiap ujung lekukan bibirnya. Sambil menggeliat manja, Sandra mensyukuri tidurnya yang begitu pulas, bahkan bermimpi pun tidak.
Namun, sedetik kemudian, kening Sandra mengernyit. Dengan mata masih tertutup, ia tiba-tiba tersadar akan sesuatu. Wait! Tempat tidur? Bukannya semalam aku … di sofa?
Dalam sekejap, mata Sandra terbelalak. Bahkan, tubuhnya spontan bangkit dari posisi tidur seolah tubuhnya disetrum oleh listrik bertegangan tinggi. Sambil terduduk kaku, Sandra mencoba mencerna keadaan yang ia alami saat ini disertai debaran jantung yang sangat cepat.
Sandra belum berani menoleh ke samping. Sekujur tubuhnya masih diselimuti perasaan kaget. Napasnya yang memburu pun semakin mempercepat penyebaran rasa paniknya hingga memenuhi sekujur tubuh. Layaknya patung, leher Sandra terasa kaku dan tegang. Namun, mau tidak mau, ia harus membicarakan masalah ini dengan Lucas dan kembali menegaskan batasan-batasan yang seharusnya pria itu pahami demi kelancaran hubungan mereka.
Dengan gerakan kaku bak robot, Sandra menoleh ke sisi lain tempat tidur. Ia sudah menyiapkan barisan kalimat protes yang akan ia lontarkan pada Lucas karena sudah berani membawanya ke tempat tidur tanpa izin. Sandra juga sudah siap memarahi keegoisan Lucas yang memaksanya tidur seranjang di saat ia sudah terlelap.
Sayangnya, semua kalimat protes dan luapan amarah yang sudah siap Sandra luapkan, lenyap seketika saat menemukan ketidakberadaan Lucas di sisi lain tempat tidur. Bahkan, area tersebut tak menunjukkan adanya tanda-tanda pernah ditiduri. Rasa bersalah langsung menyergap Sandra. Ia sudah menuduh Lucas dengan penilaian-penilaian buruk. Sandra merasa bak seorang pecundang yang tidak bisa mengendalikan diri serta emosi.
Setelah berhasil mengendalikan gejolak emosi serta perasaan bersalah yang menyerangnya, Sandra menegur dirinya sendiri untuk mulai bersikap sedikit lebih tenang dan dewasa. Setidaknya, demi kelancaran hubungan ini. Beberapa saat kemudian, ia pun beranjak dari tempat tidur.
Pagi ini, ia harus berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya. Karena, jarak tempat tinggal Lucas memakan waktu sedikit lebih lama jika dibandingkan jarak antara apartemennya ke kantor. Terbiasa mengawali pagi dengan segelas air putih, Sandra beranjak keluar dari kamar tidur lalu melangkah tenang menuju area dapur.
Merasa bahwa sapaan pagi yang ramah adalah ide yang bagus untuk memperbaiki ketegangan mereka kemarin, Sandra berniat menyapa Lucas dan menunjukkan sikap bersahabat. Lagi pula, ia ingin mengawali hari Senin ini dengan keceriaan, kehangatan, dan semangat.
Ketika Sandra memasuki area TV, langkah Sandra terhenti sejenak. Angin musim gugur bertiup lembut melalui pintu kaca balkon yang terbuka lebar. Namun, matanya tertuju pada sebuah bantal dan selimut yang sudah terlipat rapi di sofa. Lucas tidur di sini semalam. Lalu, apakah itu artinya dia mengabulkan permintaanku? batin Sandra terharu.
Meskipun Lucas tidak secara gamblang mengatakan bahwa pria itu setuju memberikan Sandra waktu untuk beradaptasi, tapi dengan memindahkannya ke kamar, bahkan membiarkannya tidur sendirian, tindakan pria itu benar-benar berhasil menyentuh perasaannya. Sesaat, Sandra tersenyum kecil, merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk terhadap Lucas.
Tak lama kemudian, Sandra kembali berjalan menuju dapur. Dahaga sudah menyerang, dan ia tak sabar ingin segera untuk minum. Ketika mengeluarkan teko kaca berisi air putih dari kulkas, Sandra mendengar derap kaki di belakangnya. Refleks, ia berbalik dan menemukan Lucas berjalan tenang menghampirinya.
Bukannya langsung melemparkan sapaan ceria seperti yang ia rencanakan sebelumnya, Sandra malah terpaku. Lidahnya kelu, bahkan napasnya sempat tercekat saat melihat kehadiran Lucas. Bagaimana tidak? Lucas melangkah tenang, bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana piama panjang yang menggantung nakal di pinggang ramping nan menggoda itu.
Ini bukan pertama kalinya Sandra melihat pria tanpa busana. Masalahnya, Sandra tak menyangka paginya akan disajikan pemandangan indah dari tubuh atletik Lucas yang mampu membuat setiap wanita meneteskan liur. Tanpa sadar, bibir Sandra menganga sedikit, campuran rasa kaget sekaligus terpesona. Sementara, matanya meneliti tubuh Lucas mulai dari betapa bidangnya pundak pria itu, hingga ke perut Lucas yang ramping dan berotot. Namun, yang benar-benar membuat Sandra susah payah menelan ludah adalah barisan bulu halus di area perut bawah Lucas, serta dua garis lurus nan tegas yang kemudian menghilang di balik lingkaran celana piama putih berbahan ringan itu.
Sesaat, Sandra hampir lupa dengan tujuan awalnya ke dapur. Namun, dinginnya gagang teko kaca dalam genggaman berhasil menyadarkan Sandra dari kekaguman akan tubuh indah Lucas. Ia pun berdeham kecil sebelum menuang air ke dalam gelas kaca sambil menahan pergerakan tangannya agar tidak gemetar dan menumpahkan air, yang mana dapat berpotensi mempermalukan dirinya di hadapan pria itu.
“Bagaimana tidurmu?” Suara parau Lucas berhasil menciptakan sensasi menggelitik di dasar perut Sandra. Dengan susah payah, Sandra meletakkan teko kaca tanpa menimbulkan dentingan keras sarat kegugupan ketika pria itu duduk di kursi yang berada di depan meja makan.
“Nyenyak,” jawab Sandra setenang mungkin sambil menatap Lucas sekilas. “Kamu?”
“Biasa saja,” jawab Lucas singkat, sedangkan Sandra secepat mungkin mengalihkan pandangan dari pria itu.
Nada bicara Lucas masih sama seperti kemarin, dingin, datar, dan terkesan sinis. Namun, entah mengapa hal itu sama sekali tidak terdengar menyebalkan di telinga Sandra saat ini. Entah karena tubuh indah Lucas yang berhasil memesonanya, atau memang dirinya yang mulai melunak dan tanpa sadar mulai terbiasa dengan nada bicara pria itu. Sandra benar-benar tidak mengerti apa yang sedang melandanya saat ini. Ia hanya berharap semoga Lucas tidak menangkap gelagat canggungnya.
“Mau minum?” tawar Sandra sembari memberanikan diri menatap Lucas yang terlihat begitu menggoda di pagi hari. Lucas mengangguk singkat. Sandra segera menuangkan air ke gelas kaca yang baru saja ia ambil dari lemari kontainer atas, kemudian menyodorkannya ke hadapan Lucas. Tak ingin keheningan kaku semakin mengelilingi mereka, Sandra berusaha membangun percakapan.
“Terima kasih sudah menggendongku ke kamar. Aku … sebenarnya, aku tidak masalah kalau tidur di sofa,” ujar Sandra sebelum meneguk kesegaran air dingin dalam gelasnya. Setidaknya, kesegaran itu berhasil membawa pergi rasa canggung yang sempat bercokol di tenggorokannya.
“Masalah bagiku,” ujar Lucas datar dan tegas sebelum meneguk minuman.
“Kenapa?” Sandra mengerut heran dengan jawaban Lucas. Bukannya langsung menjawab, pria itu malah meletakkan gelas kaca di meja, menangkup permukaan gelas dengan kedua tangannya yang besar, sementara iris biru nan indah itu menatap Sandra lekat-lekat. Sesaat, sorot mata Lucas memerangkap jiwa Sandra dalam kabut aneh yang berhasil membuatnya bingung dan tersesat.
“Karena, kamu adalah pacarku, dan aku tidak akan pernah membiarkan kekasihku tidur di sofa.”
Seketika, pipi Sandra merona. Jantungnya pun seolah mencelus ke dasar perut setelah mendengar jawaban Lucas. Pria itu sama sekali tak segan menunjukkan kepemilikan serta sisi protektif atas dirinya. Malu, Sandra langsung membuang pandangan ke air putih dalam gelas.
Sedetik kemudian, Sandra mulai berdeham demi memecah keheningan yang cukup menyesakkan, tapi ia masih belum berani menatap Lucas. Ia pun kembali meneguk minumannya hingga tandas, kemudian menghela napas panjang demi mengusir puluhan kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.
“Aku penasaran, kira-kira sudah berapa banyak wanita yang kamu bawa ke sini?” tanya Sandra basa-basi sambil menatap mata Lucas langsung seolah ia ingin menunjukkan betapa berani dan kuat dirinya dalam menghadapi aura dominasi pria itu. Entah apa yang merasuki Sandra sehingga berani melontarkan pertanyaan itu pada Lucas. Namun, rasa penasaran yang tiba-tiba timbul akibat pernyataan Lucas sebelumnya, berhasil mendorong keberanian Sandra—yang sialnya langsung ia sesali.
Sandra mengatup bibir rapat-rapat, bahkan menggigit bibir bawahnya karena rasa bersalah. Kilat liar yang menghiasi sorot tajam Lucas ketika menatapnya, langsung menciutkan kepercayaan diri Sandra, tapi tidak dengan rasa penasarannya.
“Tidak ada,” jawab Lucas singkat sebelum turun dari kursi tinggi.
“Aku sudah mengatakan padamu kemarin, aku tidak pernah mengizinkan siapa pun tidur di tempat tidurku. Kamu ingat?” lanjut Lucas sembari melangkah tenang menuju kulkas dan membukanya. Pria itu mencari sesuatu untuk dimakan, sementara Sandra masih bergumul dengan rasa ingin tahunya.
“Hmmm … atau, jangan-jangan kamu belum pernah menjalin hubungan serius dengan wanita?” tanya Sandra sambil menjaga intonasi suaranya agar terkesan tenang dan santai meski sejujurnya luapan rasa penasaran itu berhasil memompa adrenalin Sandra.
“Tentu saja pernah,” jawab Lucas seraya mengeluarkan sekotak pizza berukuran sedang dari kulkas, lalu menutup pintunya dengan tangan kanan. Kening Sandra mengernyit heran melihat keberadaan kotak tersebut karena semalam ia sama sekali tidak memesan pizza.
“Tidak mungkin,” cibir Sandra skeptis. “Bagaimana bisa kamu menyebut hubungan itu adalah sesuatu yang serius kalau kamu tidak pernah membawanya ke sini? Hubungan asmara seperti apa yang kalian jalani? Kalau pun kalian benar-benar menjalani hubungan serius, kenapa dia tidak pernah menginap di sini?”
Tak langsung menjawab pertanyaan sarat penasaran Sandra, Lucas malah memasukkan pizza ke dalam microwave, kemudian mengatur waktu pemanasan. Seolah mempermainkan kesabarannya dalam menunggu jawaban, pria itu malah menoleh dan mengunci Sandra selama beberapa detik dengan sorot tenang nan menghanyutkan. Dengan senyum tipis mengukir ujung bibir, pria itu mulai melangkah mendekat, menghampiri Sandra yang masih berdiri di dekat meja dapur. Mata mereka saling mengunci, sementara atmosfer sarat gairah terasa makin kental.
“Apa sebenarnya yang ingin kamu tanyakan padaku, Angel?” tanya Lucas ketika berhenti tepat di hadapan Sandra sambil melipat kedua tangan di depan dada. Mata Sandra spontan terpaku pada dada bidang Lucas yang terlihat begitu lembut dan menggoda untuk disentuh.
“Apa kamu penasaran dengan jumlah wanita yang pernah menjalin hubungan denganku? Atau, sudah berapa banyak wanita yang pernah tidur denganku?” lanjut Lucas yang seketika menarik pandangan Sandra dari dada bidang pria itu. “Atau … kamu penasaran akan sejauh apa hubunganku dengan para wanita itu?”
Mata Sandra terbelalak mendengar pertanyaan Lucas, sementara jantungnya berdegup kencang memompa adrenalin liar ke tiap sel darahnya. Ia tidak tahu mengapa tubuhnya bereaksi seaneh itu. Padahal, ini bukanlah pertama kalinya Sandra berdekatan dengan pria. Masalahnya, pria yang berdiri di hadapannya saat ini memiliki aura mengancam sekaligus menggoda yang mampu membuat setiap wanita bertindak liar bak manusia tak berakal.
“A-aku … bukan itu maksudku. Aku hanya … aku penasaran saja. Soalnya … kalau dipikir-pikir, aku merasa hubungan yang kamu jalani itu—”
“Tentu saja, hubungan yang panas dan liar,” potong Lucas cepat namun penuh penekanan.
Sandra tak mengira akan mendengarkan jawaban yang begitu blak-blakan dari Lucas. Seolah jawaban itu belum cukup membuat Sandra sulit bernapas, Lucas malah memenjaranya bak tawanan. Kedua tangan panjang nan kekar yang menekan pinggiran meja di kanan-kiri Sandra, berhasil menciptakan sensasi menggelitik di sekujur tubuhnya. Ia tidak mengerti dengan reaksi tubuhnya yang sangat aneh pagi ini. Padahal, kedua tangan itu sama sekali tidak menyentuh kulitnya.
Namun, kedekatan mereka yang begitu intim dan intens mampu menimbulkan percikan baru nan liar dalam diri Sandra. Percikan liar yang semakin lama malah semakin menggoda dan menggila ketika Lucas mulai membungkukkan tubuh demi menyejajarkan iris biru safir itu dengan mata Sandra.
“Satu hal yang harus kamu pahami, Angel,” ucap Lucas dengan suaranya yang parau, dalam, dan berat. “Aku selalu menjalani hubungan yang panas dan liar dengan para wanita itu, tapi … bukan berarti mereka bisa datang ke sini. Kalau aku ingin meniduri mereka, aku lebih suka melakukannya di hotel atau di tempat tinggal mereka.”
Sandra tak berkutik. Sepintas, ia teringat akan kata-kata Gerald yang menyatakan bahwa Lucas merupakan salah satu pria yang tidak pernah melakukan hal-hal aneh seperti pria kebanyakan. Namun, pernyataan Lucas tadi benar-benar berbanding terbalik dengan penilaian Gerald.
Dalam jarak yang begitu dekat, Sandra bisa merasakan embusan napas pria itu menyentuh bibirnya. Bahkan dalam sekejap, atmosfer yang mengelilingi mereka makin memancarkan gairah liar nan memabukkan.
Mata mereka masih saling mengunci selama beberapa saat, tapi Sandra tak malu untuk mengerling sesekali ke bibir Lucas yang cukup dekat dan menggoda untuk dikecup. Oh, Tuhan! Apakah ini mimpi? batin Sandra histeris, terlebih ketika alam bawah sadarnya berteriak kegirangan menyadari kedekatan mereka.
Sandra akui dirinya sudah lama tidak menjalin hubungan dengan para pria, bahkan kehidupan seksnya bisa dikatakan sudah mati. Namun, entah mengapa berdekatan dengan Lucas seperti ini malah membuat Sandra bertingkah bak remaja yang mudah terjerat oleh ketampanan seorang pria.
Lucas benar-benar berbahaya. Bahkan dalam keadaan diam seperti ini, Sandra bisa merasakan betapa pria itu mampu menyedot seluruh jiwa dan kewarasannya dalam sekejap. Seandainya ia tak memiliki akal sehat, ia pasti sudah melemparkan dirinya ke dalam pelukan Lucas dan menikmati setiap kenikmatan yang akan pria itu berikan.
Sayangnya, Sandra masih waras. Ia bahkan masih ingat perangai menyebalkan Lucas yang sempat membuatnya kesal kemarin. Tak ingin tatapan intens dan kedekatan yang cukup intim itu berlanjut lebih jauh, Sandra kemudian berdeham keras lalu membuang pandangan ke arah lain.
“Permisi, aku harus berangkat ke kantor,” ucap Sandra sembari meloloskan diri dari tangan kekar yang sedari tadi memenjaranya. Beruntung Lucas tidak menahan kepergian Sandra. Ia pun bersyukur karena masih bisa mengendalikan diri.
Dengan langkah terbirit-birit, Sandra bergegas masuk ke kamar dan mengunci diri di kamar mandi selama beberapa saat. Setelah debar jantungnya kembali normal, Sandra pun mandi.
*****
“Morning, Bos!” sapa Sandra penuh semangat seraya menjulurkan kepala dari balik daun pintu ruang kerja Raffael, kemudian melangkah memasuki ruangan. Pria berwajah teduh dengan senyum hangat itu langsung mengangkat pandangan dari layar laptop.
“Hai, Sandra. Kau terlihat ceria sekali. Apakah itu artinya kau sudah berhasil menemui Dark Shadow dan mengajaknya kerja sama?” Sambil bersandar santai di kursi kerjanya yang empuk, Raffael tersenyum lebar antusias.
“Well, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu terkait Dark Shadow,” ujar Sandra santai sembari menarik salah satu kursi empuk di depan meja kerja Raffael. Mendengar ucapan Sandra, senyum lebar Raffael seketika lenyap digantikan raut panik dan khawatir.
“Wait a minute! Jangan bilang kalau kau mundur dari tugas ini.” Raffael menebak sembari harap-harap cemas. Tak ingin menambah besar kepanikan di wajah pria itu, Sandra pun menggeleng santai seraya tersenyum.
“Kau tahu kalau aku bukanlah orang yang mudah menyerah, kan,” ucap Sandra demi mengembalikan senyum di wajah pria itu. Rentang usia mereka yang tidak terlalu jauh, membuat hubungan kerja Sandra dengan Raffael terasa menyenangkan dan tidak kaku. Bahkan, Raffael termasuk salah satu atasan yang tidak memandang jabatan sebagai jarak pemisah penuh kekakuan. Pria itu juga sangat bersahabat dan suka membaur dengan bawahan.
“Lalu, apakah ada masalah?” tanya Raffael cepat sembari menegakkan posisi duduk, kemudian mencondongkan tubuh ke depan hingga menyentuh pinggiran meja, lalu melipat kedua tangan di atas meja.
“Hmm, kurasa ‘masalah’ bukanlah kata yang tepat jika berkaitan dengan Dark Shadow.” Sandra mencoba berbicara setenang mungkin. Kata-kata yang ia ucapkan pun telah ia pilih dengan sangat baik agar tidak menimbulkan kepanikan bagi Raffael—pria yang terkenal begitu mudah panik dan khawatir jika terkait pekerjaan.
“Oh, come on, Sandra! Cepat katakan padaku apa sebenarnya yang terjadi?” desak Raffael tidak sabaran. Mata yang memancarkan antusias sarat penasaran pun membuat Sandra tak tega berlama-lama menyimpan informasi penting dari pria itu.
“Begini. Aku sudah bicara dengan Dark Shadow, dan aku berhasil melakukan negosiasi dengannya.” Sandra teringat kembali beberapa persyaratan yang harus ia jalani agar Lucas mau bergabung dengan H&H Publishing. Namun, ia tidak akan mengatakan pada Raffael mengenai hubungan kontrak yang harus ia jalani dengan Lucas.
“Jadi, dia mau bergabung dengan kita?” sela Raffael sambil memasang raut wajah tak percaya sekaligus bahagia.
“Dia mau bergabung dengan kita, tapi kita harus menunggu tiga bulan lagi.” Sandra menegaskan rentang waktu yang harus dijalani demi mengingatkan Raffael agar pria itu lebih bersabar menunggu.
“Itu artinya tahun depan? Kenapa harus selama itu?” keluh Raffael—sudah Sandra duga.
“Dia butuh waktu untuk menyelesaikan satu judul novel terbarunya yang akan diberikan kepada kita. Dia juga mengatakan kalau kita boleh mencetak ulang karya-karyanya yang terdahulu,” jelas Sandra sabar, tahu bahwa informasi tersebut dapat menghapus kekesalan Raffael.
“Benarkah?” Raffael terbelalak tak percaya, tapi antusias. Sandra mengangguk cepat menjawab pertanyaan pria itu.
“Selain itu, dia juga mengatakan bahwa selama tiga bulan berturut-turut royalti dari penjualan buku-buku itu akan menjadi milik H&H sepenuhnya,” lanjut Sandra tenang. Raffael kembali melebarkan senyum bahagia. Setidaknya, reaksi itulah yang Sandra harapkan.
“Wow! Pantas saja penerbitnya yang terdahulu bisa langsung mendulang kekayaan. Ternyata, Dark Shadow adalah manusia yang murah hati,” sahut Raffael takjub sekaligus bersemangat. Sementara, Sandra hanya bisa tersenyum kecil menanggapi penilaian itu. Memang, jika dilihat dari banyaknya keuntungan yang mereka peroleh, Lucas terlihat seperti orang yang murah hati. Hanya saja, tak semua orang tahu betapa Lucas bisa berubah menjadi orang yang sangat menyebalkan dalam waktu sekejap.
“Kau benar-benar luar biasa, Sandra!” puji Raffael dengan mata berbinar-binar bahagia. “Aku sudah tahu kau pasti berhasil mengajaknya bergabung dengan kita. Memang, hanya kau yang tepat untuk mengisi posisi redaksi pelaksana.”
Sandra mengangguk setuju dengan penilaian Raffael. Ia memang luar biasa, bahkan tak segan melakukan segala cara demi menggapai impiannya. Sialnya, cara yang Sandra pilih kali ini bukan hanya menguji kesabaran serta keteguhannya, tapi juga hati dan kewarasannya.
Sandra, yang biasanya begitu yakin akan keberhasilannya dalam sebuah tantangan, perlahan-lahan mulai dihantam keraguan. Ragu, karena Sandra sama sekali tidak memprediksi kuatnya pesona dan aura dominasi Lucas, yang tentu saja mampu mengancam ketenangan hatinya. Ragu karena sesungguhnya Sandra tak berniat untuk jatuh hati pada Lucas. Ragu karena … kejadian tadi pagi telah berhasil membangkitkan gairahnya dalam sekejap.
Sial! Kenapa Lucas harus setampan itu? Kenapa Lucas tidak bisa bersikap seperti pria-pria membosankan yang sempat mendekatiku? Kenapa?
*****
BAB 12
Getaran ponsel mengusik konsentrasi Lucas yang tengah tenggelam dalam alur cerita. Dengan cepat, ia mengerling dari balik kacamata anti radiasinya dam mendapati nama Gerald terpampang di layar ponsel yang ia letakkan di samping laptop. Tak ingin sahabatnya menunggu lama, Lucas segera menjawab panggilan itu melalui pengeras suara agar dapat kembali melanjutkan ketikannya sambil berbincang.
“Bagaimana hari pertamamu dengan Sandra? Lancar?” tanya Gerald santai setelah mendapat sapaan singkat dari Lucas.
“Lancar,” jawab Lucas datar, tak menaruh kecurigaan sedikit pun pada pertanyaan Gerald. Ia bisa saja mengatakan betapa menyebalkannya perdebatan kecil yang terjadi antara dirinya dengan Sandra kemarin siang. Masalahnya, Lucas tidak pernah mengizinkan siapa pun mengetahui kehidupan pribadinya terlalu dalam, bahkan sahabatnya sekali pun.
Tak ingin panggilan itu menghentikan ide-ide dalam kepala, Lucas kembali melanjutkan ketikannya. Namun, tampaknya Gerald tidak percaya dengan jawaban Lucas. “Serius? Tidak ada penolakan, pertengkaran, atau apa pun?“
Mendengar tingginya tingkat rasa penasaran Gerald, kening Lucas spontan mengernyit curiga tanpa melepaskan pandangan dari layar laptop. Jemarinya terus mengetik beberapa baris kalimat di keyboard, tapi pikiran Lucas mulai terbagi dua.
Pertanyaan sarat rasa ingin tahu Gerald berhasil mengusik ketenangan Lucas. Bagaimana tidak? Rasa penasaran yang Gerald tunjukkan saat ini seketika mengingatkan Lucas akan sikap ramah sahabatnya itu pada Sandra. Ingin rasanya ia melupakan momen singkat antara Sandra dan Gerald yang terjadi hari Sabtu kemarin. Namun, sorot memuja yang Sandra berikan pada Gerald saat itu berhasil menimbulkan gelenyar aneh nan menyebalkan dalam diri Lucas. Gelenyar yang entah mengapa begitu mudah memantik rasa cemburu yang tak pernah Lucas harapkan sama sekali.
“Apa sebenarnya yang kau harapkan? Apa kau mengira kami akan bertengkar, lalu membatalkan hubungan yang telah kami sepakati bersama ini? Itukah yang kau harapkan?”
Tak sedikit pun Lucas berusaha menutupi nada sinisnya. Bahkan, rasa dongkol yang timbul bersamaan dengan perasaan cemburu seolah mendukung sikapnya saat ini. Lucas tidak tahu apa alasan di balik rasa penasaran sahabatnya itu. Namun setidaknya, ia harus bisa menunjukkan posisinya pada Gerald.
“Hei, bukan itu maksudku,” sahut Gerald dengan nada bercanda, kemudian tertawa kecil seolah menertawakan kesinisan Lucas. “Aku hanya penasaran, bagaimana bisa? Kalian berdua kan seperti kucing dan anjing. Aura pertengkaran di antara kalian terlihat begitu jelas. Siapa pun pasti bisa menilai kalau kau tidak akan pernah cocok dengannya.“
Jemari Lucas seketika berhenti mengetik, keningnya semakin mengerut, dan sorot mata penuh kekesalan pun langsung tertuju pada layar ponsel seolah benda tersebut adalah Gerald. “Lalu, menurutmu … siapa yang cocok dengannya? Kau?”
Api cemburu Lucas semakin membara ketika Gerald tak bersuara. Rasa kesal pun semakin memuncak ketika teringat betapa Sandra secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya kepada Gerald. Namun, rasa kesalnya lenyap beberapa detik kemudian setelah mendengar suara lembut seorang wanita di balik ponsel—yang menjadi alasan mengapa Gerald tidak langsung menjawab pertanyaannya. Memang, perasaan kesal itu lenyap dalam sekejap, tapi tidak dengan api cemburu yang sudah terlanjut menyala dalam dirinya.
Sesaat, Lucas mendengar suara lembut yang sedang berbicara dengan sahabatnya, tapi ia tidak penasaran dengan identitas si wanita asing tersebut. Lagi pula, ia tidak pernah ikut campur ataupun ingin tahu dengan siapa sahabatnya itu menjalin kasih. Bagi Lucas, itu bukanlah hal yang penting.
Sebenarnya, Gerald sama seperti Lucas. Bahkan, ia sudah menganggap Gerald seperti kakaknya sendiri meskipun mereka seumuran.
Bukan tanpa alasan. Gerald selalu menjadi penolong di kala Lucas kesulitan. Gerald jugalah yang selalu memperkenalkan wanita baru kepada Lucas setiap kali melihatnya datang ke klub malam tanpa menggandeng kekasih. Gerald cukup mengerti sikap Lucas yang tidak terlalu mahir menjerat hati para wanita. Padahal, Lucas memiliki ketampanan yang dapat menarik perhatian wanita dalam sekejap.
Meski begitu, Gerald sama sekali tidak pernah menunjukkan ketertarikan berlebih kepada wanita-wanita yang pernah menjalin hubungan dengan Lucas. Itulah mengapa kecurigaan Lucas langsung mencuat saat Gerald menunjukkan ketertarikan khusus pada hubungannya dan Sandra. Itu jugalah yang membuat Lucas penasaran dengan alasan di balik keingintahuan sahabatnya itu.
Sambil menunggu Gerald kembali memusatkan perhatian pada percakapan mereka, Lucas berniat melanjutkan ketikan yang sempat terhenti. Anehnya, berkali-kali ia menuangkan kalimat di layar laptop, berkali-kali pula ia kembali menghapusnya.
Kesal, ia pun mendengus kasar seraya mengempaskan punggung ke sandaran kursi, sementara matanya menatap geram layar laptop seolah ketidakmampuannya menuangkan kata-kata adalah kesalahan benda tersebut.
“Maaf sudah membuatmu menunggu,” ujar Gerald beberapa saat kemudian. “Eh, aku lupa memberi tahumu. Ada pegawai baru yang cukup menarik perhatianku. Umurnya masih 23 tahun, tapi tubuhnya … wajahnya … damn! She is hot!“
Lucas hanya menghela napas. Entah sudah berapa kali Lucas mendengar pujian serupa yang Gerald lontarkan setiap kali bertemu dengan seorang wanita baru yang berhasil menarik perhatian. Oleh karena itu, ia sangat yakin kalau wanita yang sekarang dipuji sahabatnya itu pasti akan mengalami hal serupa dengan barisan wanita yang pernah Gerald dekati.
“Mangsa baru?” celetuk Lucas acuh tak acuh seraya memajukan tubuh, menumpukan siku tangan kiri di meja, kemudian menopang dagu dengan telapak tangan.
“Calon,” timpal Gerald blak-blakan, kemudian tertawa geli. “Aku sudah tak sabar ingin mengenalnya lebih jauh.”
“Maksudmu, menidurinya?” tebak Lucas datar dengan tatapan terus tertuju pada kalimat yang terhenti di tengah jalan.
“Hei! Kau kira aku sebejat itu?” protes Gerald dengan nada tersinggung palsu. “Setidaknya, aku ingin mengenalnya, ingin tahu seperti apa sifatnya. Kalau cocok, yaaa … tidak menutup kemungkinan kalau hal-hal lain akan mengikuti, kan?”
“Hmm,” gumam Lucas singkat, tidak terlalu peduli dengan kalimat pembelaan itu meski ia tahu niat Gerald yang sesungguhnya.
“Jadi, kau sudah selesai dengan Daisy?” tanya Lucas iseng. Ia teringat akan wanita yang Gerald pacari belakangan ini. Wanita yang dikenal Gerald ketika menangani suatu kasus di ruang persidangan.
“Kau tahulah. Satu bulan saja sudah cukup. Itu pun sudah terlalu lama bagiku yang tidak pernah berniat menjalin hubungan serius. Lagi pula, dia sudah pergi dengan pria lain.” Gerald terdengar begitu santai, tak sedikit pun menunjukkan kesedihan atas kandasnya hubungan singkat yang sempat terjalin dengan wanita yang menurut Lucas cukup cerdas setelah beberapa kali bertemu.
“Hmm, baru kali ini aku tahu kalau kau ditinggalkan begitu saja oleh wanita,” sahut Lucas sambil kembali menegakkan tubuh dan melipat kedua tangan di depan dada.
Ia membaca ulang barisan kalimat yang ia buat sebelumnya. Sedari tadi, Lucas berpikir keras menentukan adegan yang tepat agar kejadian demi kejadian dalam ceritanya dapat menjadi satu kesatuan yang sempurna, tapi entah mengapa tiba-tiba semuanya buyar hanya karena Gerald menunjukkan rasa penasaran berlebih terhadap Sandra.
“Hei! Dengar baik-baik.” Nada bicara Gerald terdengar sedikit lebih berat dari sebelumnya. Pria itu berusaha memberi kesan menegur, sementara Lucas bisa membayangkan bagaimana sahabatnya itu sedang memasang raut tak-mau-kalah yang sudah ia kenal.
“Aku yang meninggalkan dia, bukan sebaliknya. Dia sadar kalau aku mulai bosan, makanya dia pergi dengan alasan sudah memiliki pacar baru. Yeah, setidaknya aku tidak perlu menghadapi drama tangis kekecewaan,” lanjut Gerald, membela diri.
Lega. Begitulah penilaian Lucas terhadap perasaan Gerald saat ini. Sahabatnya yang satu ini memang paling lihai berpindah hati dari satu wanita ke yang lain. Jadi, tak salah rasanya jika Lucas langsung mencurigai niat dan keramahan Gerald pada Sandra kemarin, serta ketertarikan pria itu saat ini pada hubungannya dan Sandra.
Lucas akui, Sandra memang cantik—kecantikannya malah semakin bertambah meski mereka sudah berpisah selama satu dekade. Lucas juga tahu, setiap pria pasti akan menoleh dua kali ketika Sandra berjalan di depan mereka demi mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Bahkan, ia menyadari betapa Sandra memiliki pesona yang mampu menjerat pria, mulai dari yang sangat berpengalaman dalam percintaan hingga yang pemula sekali pun—seperti dirinya saat pertama kali mengenal Sandra.
“Oke. Kembali ke topik sebelumnya. Ceritakan padaku bagaimana bisa kalian melewati hari pertama dengan lancar?” Gerald mengulang kembali pertanyaannya, tapi kali ini tidak terdengar sepenasaran sebelumnya. Meski begitu, Lucas tidak serta merta menurunkan kecurigaannya.
“Sepertinya, penting sekali sampai kau begitu penasaran dengan hari pertama kami.” Kesinisan tak sedikit pun berkurang dari nada bicara Lucas. Menyerah dengan kebuntuannya, akhirnya Lucas menyudahi kegiatan menulisnya untuk hari ini.
“Tidak juga. Hanya saja … mendengar kau berhasil melewati hari pertama tanpa pertengkaran menjadi sesuatu yang menarik bagiku,” ungkap Gerald begitu semangat dan penasaran. Sambil mendengarkan, Lucas melepaskan kacamata, mematikan laptop, kemudian beranjak dari kursi kerja dan menggenggam ponsel di tangan kanan.
“Jujur, menurut penilaian sekilasku, Sandra adalah wanita yang tangguh dan seorang pejuang, sama sepertimu. Makanya, aku pikir pasti akan terjadi sesuatu yang menegangkan kemarin, tapi ternyata tidak. Jadi, aku penasaran saja seperti apa wanita bernama Sandra ini.“
“Kenapa kau jadi penasaran?” tanya Lucas singkat dan sedikit tegas. Tak sadar, tangannya menggenggam ponsel sedikit lebih erat setelah mendengar kejujuran Gerald.
Berniat menyegarkan mata, ia pun bergerak menuju jendela tinggi yang berada di sisi lain ruang kerja, kemudian mengarahkan pandangan langsung ke jalan utama. Entah sudah berapa lama ia berada di ruangan ini, tapi langit malam yang hitam kelam dengan rintik-rintik halus membasahi tanah, menandakan bahwa ia telah menghabiskan sebagian besar harinya di depan laptop.
“I don’t know. Aku hanya ingin tahu se-spesial apa dia sampai kau rela memberikan begitu banyak keuntungan padanya.“
Seketika, Lucas mengalihkan pandangan dari jalanan yang masih ramai kendaraan ke layar ponsel. Matanya tertuju pada jam digital yang tertera di sudut kanan layar. Pukul 19.15, tapi Sandra belum juga pulang.
“Tidak ada yang spesial darinya,” jawab Lucas sedatar mungkin demi menunjukkan pada Gerald bahwa tak ada alasan lain di balik keputusannya itu. Ia kembali menatap ke luar, lebih tepatnya ke trotoar. “Sudah kukatakan padamu waktu itu, dia hanya beruntung dan terlalu bodoh. Selama ini, tidak ada satu pun editor yang siap menjadi bahan risetku. Mereka semua waras, sementara dia … cukup gila.”
Lucas mengingat momen ketika Sandra marah-marah kemarin siang. Amarah yang meledak-ledak dan dapat berubah 180 derajat menjadi tenang terkendali dalam waktu singkat setelah mengingat ketidaksempurnaan dari surat perjanjian mereka, sungguh menunjukkan betapa wanita itu cukup gila dalam kadar yang sesungguhnya.
“Kenapa harus editor?” Gerald masih penasaran.
“Karena cerita yang sedang kubuat saat ini berkaitan dengan profesi editor,” jawab Lucas seadanya.
“Hmm, tapi kenapa aku merasa seperti ada sesuatu yang spesial dari Sandra yang membuatmu akhirnya memilih dia?” Gerald mengungkapkan ketidakpercayaannya.
Lucas menghela napas berat, lalu menggeleng pelan, takjub dengan ketelitian Gerald dalam menilai dirinya. “Kalau pun ada, kenapa kau tiba-tiba ingin tahu?”
“Honestly, ada sesuatu yang kurasakan saat melihat Sandra,” ungkap Gerald yang berhasil mengusik ketenangan Lucas. Entakkan keras di dada Lucas malah meningkatkan rasa cemburu yang sedari tadi belum mampu ia redam.
“Kau menyukainya?” tuduh Lucas tanpa tedeng aling-aling.
“Bukan itu,” kilah Gerald cepat, “Sandra memang cantik, dan kuakui kecantikannya berhasil memukauku kemarin. Masalahnya, ada sesuatu dari wanita itu yang membuatku penasaran untuk mengenalnya lebih jauh.
“Bukan karena kecantikannya, tapi lebih kepada besarnya pengaruh kehadiran Sandra terhadap dirimu, apalagi saat aku melihat caramu menegur kami waktu itu. Rasanya … I don’t know … aku merasakan ada keterikatan yang … berbeda.”
Cantik, hah? batin Lucas kesal. Kejujuran Gerald berhasil membakar cemburu dalam dada Lucas semakin menggelora. Tangan kirinya yang terkepal erat menyertai sorot tajam penuh kekesalan yang tertuju pada layar ponsel
“Aku juga bisa melihat caramu menatapnya. Sangat berbeda,” lanjut Gerald seolah sedang menginvestigasi setiap gerak-gerik Lucas. “Kita sudah saling mengenal selama bertahun-tahun, tapi baru kali ini aku melihatmu seperti sedang menahan sesuatu dalam dirimu ketika Sandra muncul kemarin.“
Lucas tak sanggup lagi menahan dirinya. Ia ingin melontarkan teguran pada Gerald agar berhenti menelitinya bak kasus berat yang harus dipecahkan. Namun, ketika bibirnya terbuka, siap berbicara, matanya malah menangkap sosok wanita yang sangat ia kenal. Sandra.
Meskipun apartemennya berada di lantai paling atas, tapi matanya mampu mengenali Sandra yang sedang berjalan di trotoar dengan trench coat cokelat tanpa mengenakan payung sama sekali. Rasa cemburu yang tadi mendominasi perasaan Lucas, berubah cepat menjadi kekhawatiran.
Sisi protektifnya muncul tanpa diminta. Obsesinya pada wanita itu pun seolah memaksa alam bawah sadarnya untuk segera menghampiri Sandra. Beruntung, sebagian besar dirinya yang masih waras berhasil menahan Lucas agar tidak melakukan sesuatu yang berpotensi dapat menghancurkan rencana serta harga dirinya.
“Sandra sudah pulang. Good night, Gerald,” ujar Lucas datar, memutus percakapan secara sepihak.
Bukannya langsung keluar dari ruang kerja, Lucas malah berdiri diam di dekat jendela, masih terus menatap Sandra sampai wanita itu menghilang dari area pandangnya ketika memasuki pintu apartemen. Lucas masih menunggu selama beberapa menit sampai akhirnya terdengar suara pintu yang terbuka.
Dengan gerakan cepat dan teratur, Lucas kemudian berbalik dan melangkah tenang menuju pintu ruangan kerjanya. Baru saja ia ingin menekan tuas pintu, tiba-tiba suara ringan Sandra mengisi apartemennya yang sedari tadi dipenuhi kesunyian.
“Iya, Nat. Ini aku baru sampai. Kau juga sudah sampai?” Suara ringan Sandra langsung mengisi keheningan yang sedari tadi melingkupi apartemen.
Tubuh Lucas membeku seketika. Bukan karena suara dan kehadiran wanita itu, tapi karena penasaran akan sosok yang sedang berbicara dengan Sandra saat ini. Cara bicara yang hangat dan penuh kasih sayang itu menandakan adanya kedekatan spesial antara Sandra dengan seseorang di balik ponsel. Tak tahan, Lucas mulai membuka pintu perlahan-lahan agar dapat mendengar lebih jelas.
“Astaga, Nathan! Kurasa kau sudah gila. Aku tidak mungkin melupakan itu.”
Mendengar nama seorang pria meluncur dari bibir Sandra, memaksa Lucas keluar dari ruang kerjanya yang berada di area mezanin. Meski api cemburu kembali membakar tubuhnya, Lucas tidak langsung menghampiri wanita itu. Ia berhenti di depan pintu ruang kerja yang sudah tertutup rapat dan terdiam sejenak.
Ketika mendengar suara tas diletakkan di meja, Lucas pun menoleh, kemudian bergerak dua langkah hingga berhenti di bagian teratas anak tangga. Ia menatap Sandra berdiri di samping meja yang telah ia sediakan bagi wanita itu. Menyadari kehadirannya, Sandra pun berbalik dan mengangkat pandangan hingga mata mereka saling bertemu.
“Nat, aku akan menghubungimu nanti. Aku mau mandi,” ucap Sandra cepat demi mengakhiri panggilan tersebut.
Lucas menangkap kegugupan sekilas dari cara Sandra berbicara seolah sedang menutupi sesuatu darinya. Mata Lucas refleks menyipit curiga dan langsung mengambil kesimpulan bahwa ada hubungan khusus antara Sandra dengan pria bernama Nathan. Tak menyukai hal tersebut, Lucas kemudian menuruni anak tangga demi menegur dan memperingatkan Sandra mengenai syarat-syarat di surat perjanjian mereka.
“Kamu sudah makan?” tanya Sandra ringan dan hangat sambil menarik lengan panjang kemeja hingga ke siku.
“Belum,” jawab Lucas singkat dan sinis tanpa berhenti menuruni tiap-tiap anak tangga.
“Ini hampir jam delapan malam, kenapa belum makan?” tanya Sandra ketika melihat sekilas arloji di pergelangan tangan sebelum menarik lengan kemeja di sisi yang satunya. Lucas menangkap sedikit perhatian Sandra padanya, tapi ia tidak ingin terjebak dalam kamuflase yang dapat mengaburkan niatnya untuk menegur wanita itu.
“Mau kubuatkan makan malam atau kita pesan saja? Aku juga belum makan malam.” Sandra menawarkan niat baik ketika Lucas baru saja menapakkan kaki di lantai utama apartemen.
Ketika Lucas bergerak menghampiri Sandra, wanita itu malah melangkah tenang ke area dapur seolah tidak menyadari kesalahan yang telah diperbuat. Tak ingin Sandra lolos begitu saja, Lucas langsung mencengkeram lengan wanita itu.
“Apa kamu lupa salah satu syarat dalam surat perjanjian kita?” tanya Lucas datar dan menuntut ketika Sandra menatapnya dengan sorot bingung dan kening mengerut heran.
“Syarat yang mana?” tanya Sandra balik tanpa sedikit pun menghapus raut heran dari wajahnya.
“Kamu tidak boleh memiliki hubungan khusus dengan pria lain.” Lucas mengulang salah satu syarat yang sangat penting dalam surat perjanjian mereka. Sejenak, Sandra terdiam seperti sedang mencerna ucapan Lucas, sebelum akhirnya wanita itu mengangguk pelan, memahami makna di balik tegurannya.
“Tentu saja aku masih ingat,” sahut Sandra lembut, kemudian menarik lepas lengannya dari cengkeraman Lucas.
“Tapi, tadi … kamu berbicara dengan—”
“Nathan?” potong Sandra tenang sambil melipat kedua tangan di depan dada. “Apakah menjalin hubungan denganmu artinya aku tidak bisa berbicara dengan pria lain?”
Bukannya menjawab pertanyaan Sandra, Lucas malah menggemeretak kesal. Ia menatap Sandra lekat-lekat, tapi wanita itu sama sekali tak menunjukkan secuil pun rasa takut. Bahkan, terlihat siap menghadapi setiap tudingan yang akan Lucas lontarkan. Keheningan sarat ketegangan pun tercipta selama beberapa saat.
“Begini, ya, Lucas,” ucap Sandra tenang, tapi sarat teguran, “patut kamu pahami kalau aku juga memiliki kehidupan di luar hubungan ini. Aku tahu, selama tiga bulan ini aku adalah kekasihmu. Aku tidak pernah melupakan itu.
“Tapi, kamu juga harus tahu kalau kamu bukanlah satu-satunya pria di duniaku. Aku tidak mungkin tidak berhubungan dengan Nathan. Lagi pula, dia lebih dulu hadir dalam kehidupanku daripada kamu. Jadi, kuharap kamu mengerti.”
Menganggap tak ada lagi yang perlu diperdebatkan, Sandra kemudian berbalik dan kembali melangkah ke area dapur. Tak terima dengan jawaban Sandra, Lucas sekali lagi mencengkeram lengan wanita itu, kali ini sedikit lebih keras hingga tubuh Sandra tersentak dan berbalik menghadapnya.
“Sakit!” keluh Sandra kesal sembari mencoba melepaskan cengkeraman Lucas, tapi gagal.
“Kalau begitu, kamu sudah melanggar perjanjian kita!” tegur Lucas tegas.
“Aku tidak pernah melanggar perjanjian kita. Sekarang, lepaskan aku!” protes Sandra sambil mengentak kasar cengkeraman Lucas hingga lengan itu lepas dari genggamannya.
“Ya, kamu sudah melanggarnya!” Lucas mempertahankan ego serta pendapatnya.
“Dari sisi mana aku melanggar perjanjian?” tantang Sandra kesal.
Lucas mendengus geram karena wanita itu sama sekali tak menyadari di mana letak kesalahannya. Atau, memang seperti itulah Sandra, mudah bersikap hangat dan lembut kepada semua pria, batin Lucas semakin diselimuti amarah.
“Dari caramu berbicara dengannya,” tuduh Lucas blak-blakan, berharap wanita itu menyadari bahwa cara berbicara yang hangat dan lembut pada pria lain menegaskan seberapa jauh hubungan yang terjalin di antara keduanya.
“Kenapa dengan cara bicaraku?” tanya Sandra heran, tapi tak terlihat takut sedikit pun.
“Cara bicaramu terlalu mesra dan lembut,” jawab Lucas cepat.
“Ya, ampun! Berhenti bersikap kekanak-kanakan dan posesif. Nathan adalah teman sekerjaku. Dia itu sahabatku.” Sandra menggeleng kesal, kemudian mendengus malas. Jelas sekali wanita itu mulai lelah dengan sikap Lucas.
“Aku tidak posesif ataupun kekanak-kanakan. Tapi, aku tidak percaya kalau pria dan wanita bisa bersahabat,” sahut Lucas tak mau kalah. Berdasarkan pengalamannya, jelas sekali bahwa pria dan wanita tidak mungkin murni bersahabat. Ia yakin seandainya pun terjalin persahabatan, pasti akan ada perasaan lebih di antara keduanya.
“Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang pasti dia adalah sahabatku dan dia juga tahu tentang perjanjian kita,” jelas Sandra menegaskan kedekatannya dengan Nathan.
Tak menyukai ada pihak lain yang mengetahui perjanjian mereka selain Gerald, Lucas pun mengernyit tak terima. “Kamu memberi tahunya?”
“Tentu saja,” jawab Sandra lantang. “Sudah kubilang, Nathan adalah sahabatku. Apa pun yang terjadi padaku, dia pasti tahu.”
Entakkan kuat di dada memaksa Lucas untuk menahan diri. Ia pun terdiam sejenak sembari mencerna informasi tersebut, mencari celah ataupun keburukan dari hubungan antara Nathan dan Sandra. Namun, semakin ia mencari kekurangan dari hubungan itu, ia malah semakin teringat akan apa yang pernah ia alami di masa lalu.
Api cemburu dan amarah masih menyelimuti tubuh Lucas. Membayangkan pria lain memiliki hubungan dekat dengan Sandra sementara wanita itu adalah kekasihnya, sungguh merupakan ujian tersendiri bagi Lucas. Ujian bagi kewarasan dan kesabarannya. Namun, ia tahu kalau ia harus bisa mengendalikan emosinya.
“Jadi, dia tahu kalau aku adalah kekasihmu?” Lucas berusaha melembutkan nada bicaranya, tapi tidak mengurangi sorot cemburu di matanya. Sebagian dirinya yang masih dikendalikan oleh kewarasan dan kesabaran, memaksa Lucas untuk bermain pintar dalam hubungan ini.
“Iya! Tapi tenang saja, aku tidak memberi tahu siapa namamu,” jawab Sandra cepat dan masih diselimuti kekesalan.
Lucas kembali terdiam demi mengatur tarikan napasnya. Lucas mengakui, ia tidak suka mengetahui betapa Sandra begitu melindungi dan membela Nathan. Namun, Lucas harus mulai bisa mengendalikan amarah dendamnya agar setiap rencana berjalan lancar. Ia pun menyadari bahwa meskipun di luar sana ada pria yang lebih dulu dekat daripada dirinya, tapi dirinyalah pemilik tubuh Sandra selama tiga bulan ke depan.
“Sudah puas nuduh-nuduhnya?” Sandra menatap sebal Lucas yang terdiam tanpa menghapus sorot interogasi dari matanya. “Kalau sudah, aku mau mandi. Laparku sudah hilang!”
Memutuskan bahwa percakapan itu sudah selesai, Sandra pun berpaling dan beranjak dari hadapan Lucas. Cukup terkejut dengan luapan amarah Sandra, ia terpaku selama beberapa detik sebelum akhirnya mengejar wanita itu.
Berniat mengambil alih keadaan dan menegaskan posisinya, Lucas kembali mencengkeram pergelangan tangan Sandra ketika wanita itu baru saja melewati sofa panjang di area TV. Kali ini, cengkeraman Lucas jauh lebih lembut dari sebelumnya.
“Apa lagi?” keluh Sandra malas seraya mengernyit lelah. Pundak yang terkulai lemah menunjukkan betapa wanita itu tak ingin berdebat lagi malam ini.
“Kuharap kamu ingat kalau kamu harus selalu mendukung dan menjadi inspirasi terbaik bagiku. Keberhasilan karya terbaruku tergantung dari sikapmu selama menjadi kekasihku.” Lucas mengingatkan Sandra akan posisi mereka selama menjalin hubungan.
“Kalau begitu, jadilah kekasih yang baik untukku, maka aku akan menjadi kekasih yang baik juga untukmu. Jadi, gunakanlah waktu tiga bulanmu ini dengan sebaik mungkin,” balas Sandra datar sembari menatap Lucas dengan sorot malas.
Tanpa permisi, Lucas melepaskan cengkeraman di pergelangan Sandra, kemudian menyusupkan tangan ke belakang tubuh wanita itu secepat kilat dan melingkarkan pelukan posesif di pinggang Sandra. Berusaha menunjukkan kepemilikan, Lucas menarik tubuh wanita itu hingga menempel pada tubuhnya dan menatap mata indah yang saat ini menatap dirinya dengan sorot protes sekaligus kesal.
“Apa yang kamu lakukan?” tegur Sandra tegas, tapi tak berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Lucas bisa melihat sorot menantang di mata wanita itu.
“Menggunakan waktu tiga bulanku dengan sebaik mungkin,” jawab Lucas parau dan dalam, kemudian mencengkeram lembut leher jenjang Sandra dengan tangan yang lain, sementara kedua tangan wanita itu menggantung kaku di samping tubuh.
“Kamu bilang … kamu tidak akan memaksaku.” Sandra mengingatkan kembali janji Lucas.
“Tidak memaksamu bercinta,” tambah Lucas dengan penekanan demi menegaskan bahwa ia sama sekali tidak melupakan ucapannya sendiri. “Tapi, aku tidak berjanji untuk tidak menciummu.”
Iris Sandra seketika membesar, tak percaya dengan kelicikan Lucas. Sekilas, ia mendapati kilat gairah bercampur keraguan di mata itu. Meskipun Sandra berusaha menolak, tapi Lucas tahu bahwa setiap manusia memiliki gejolak liar yang tersembunyi.
Tak ingin memberikan peluang bagi wanita itu untuk melarikan diri dari pesonanya, Lucas semakin mendekatkan wajahnya, siap merasakan bibir Sandra yang menggoda.
“Jangan lakukan,” pinta Sandra parau. Tubuh wanita itu setegang kayu, tapi tak sedikit pun memberontak atau menjauh. Lucas berhenti beberapa senti dari bibir Sandra, kemudian menatap dalam iris yang terus menguncinya dengan kilat gairah sarat keraguan.
“Diam dan bersikaplah layaknya kekasih yang baik,” tegur Lucas berat dan parau.
Tak ingin menunggu lama lagi—yang berpotensi memberikan peluang bagi wanita itu untuk menolak dan melontarkan protes—Lucas langsung mendaratkan bibirnya di bibir Sandra. Bukannya segera mencium bibir Sandra dengan membabi buta, Lucas hanya menempelkan bibirnya, menunggu sambil berharap agar wanita itu tidak menjauh dan mendorongnya. Setelah menyadari bahwa Sandra tidak memberontak, akhirnya Lucas mulai melancarkan aksinya.
Perlahan-lahan, Lucas menjauhkan sedikit bibirnya dari bibir Sandra. Kemudian, ia mengusap lembut bibir Sandra dengan lidah sebagai isyarat bahwa ia tidak akan melukai wanita itu. Ia bahkan memberikan kecupan-kecupan kecil di tiap lekukan bibir Sandra yang masih mengatup rapat, kemudian mengulas lembut bibir itu dengan lidahnya untuk yang kedua kali.
Tak disangka, ketegangan di bibir Sandra mulai melunak dan mata wanita itu akhirnya memejam. Tubuh wanita itu pun perlahan-lahan melemah dalam pelukannya.
Tanpa menunggu lama lagi, Lucas kembali menempelkan bibirnya di bibir Sandra, dan mulai mencium wanita itu dengan kelembutan. Meski tubuh Lucas sudah dipenuhi oleh letupan-letupan gairah yang menuntut, tapi ia berusaha menahan diri demi menciptakan memori baru nan indah di benak wanita itu.
Lucas ingin menunjukkan pada Sandra bahwa ia bukanlah pria yang kasar dan penuntut. Ia juga ingin membentuk penilaian baru dalam benak Sandra. Dengan begitu, langkah Lucas untuk masuk ke dalam hati Sandra pun menjadi lebih mudah.
Tak berniat menghentikan kenikmatan yang sudah lama ia rindukan, Lucas terus menciumi bibir Sandra seolah ia memohon maaf atas kesalahannya. Ia juga mempererat dekapannya demi menunjukkan ketulusan serta kehangatannya pada wanita itu. Ketika bibir Sandra mulai terbuka sedikit, ia pun menggunakan kesempatan tersebut untuk memperdalam ciumannya dan memburu wanita itu dengan hasrat bercampur dendam serta kerinduan.
*****
BAB 13
Lucas larut dan tenggelam, begitu pula dengan Sandra.
Di kala wanita itu membalas ciumannya dengan penuh hasrat dan melingkarkan tangan di leher Lucas seolah memasrahkan nyawa kepadanya, di saat itulah Lucas menyadari bahwa mereka berdua telah terseret ke dalam masalah baru. Bukannya segera menghentikan kegilaan itu, Lucas malah membiarkan dirinya ikut larut dan terhipnotis oleh kenikmatan yang sama sekali tak pernah ia perkirakan sebelumnya.
Awalnya, Lucas hanya berniat menunjukkan kepemilikannya terhadap Sandra. Ia juga ingin menegaskan bahwa ia akan menggunakan waktu 3 bulannya sebagai kekasih yang baik dan tepat untuk wanita itu. Namun, ketika Sandra membuka bibir dan larut pada setiap ciumannya, kelemahlembutan yang coba ia berikan seketika berubah liar dan rakus.
Gairah yang bercampur dengan gelora dendam di masa lalu, bukan hanya melahap kewarasannya, tapi juga mengaburkan batas-batas yang seharusnya Lucas pertahankan agar semua rencana berjalan sesuai dengan yang ia inginkan. Ciuman yang mulanya hanya usapan lembut bermakna permohonan maaf, berubah sekejap menjadi penuh hasrat menggebu-gebu diiringi lenguhan nikmat yang sesekali melesat liar dari bibir Sandra.
Wanita itu menikmati permainan lidah Lucas dan membalas sama liarnya dengan ciuman yang ia berikan. Remasan jemari Sandra yang penuh hasrat pada rambut Lucas dan belaian liar tangan wanita itu di lengan serta lehernya, semakin membuat Lucas lupa diri
Ini salah! Lucas menyadari kalau ini adalah kesalahan. Seharusnya ia tidak seliar ini. Seharusnya, ciuman permohonan maaf tidak boleh senikmat ini. Masalahnya, ia terlanjur tenggelam dalam pusaran gairah yang ia sadari akan berujung ke satu hal. Seks.
Oh, tak ada yang tahu betapa sulitnya Lucas mengendalikan dirinya saat ini. Gelombang gairah yang begitu besar benar-benar berhasil mengelabuhi akal sehat Lucas hingga semudah ini dirinya larut dalam permainannya sendiri.
‘Kau pecundang! Dia tidak menyukaimu. Kau pecundang!‘
Sekelebat ingatan akan kejadian di masa lalu tiba-tiba muncul bak teguran menyakitkan di tengah nikmatnya tautan bibir mereka. Kejadian yang selama ini berusaha ia lupakan. Kejadian yang sempat membuat Lucas terpuruk dan takut menjalin hubungan dengan orang lain. Kejadian masa lalu yang berhasil menghancur-leburkan kepercayaan serta harga diri Lucas. Kejadian yang juga menjadi akar dari semua dendam dan benci yang terkandung dalam tiap sel darah Lucas.
Masih larut dalam gelombang gairah, Lucas berusaha tidak memedulikan kalimat hinaan tersebut dan terus menikmati tautan bibir mereka. Ciuman mereka semakin dalam dan liar. Hasrat yang meluap-luap tergambar jelas dari setiap kuluman, tarikan, dan permainan lidah mereka. Gairah yang membakar tubuh mereka pun lambat laun mulai menuntut sesuatu yang lebih liar dan panas—sesuatu yang Lucas yakini dapat mengobrak-abrik pertahanan serta rencananya.
‘Kau tidak layak! Kau hanyalah bonekanya, Bodoh!‘
Ingatan akan kejadian di masa lalu kembali menghantam Lucas. Hinaan yang terjadi di tahun yang sama, tapi di tempat dan waktu yang berbeda.
Tak seperti teguran sebelumnya, kali ini ingatan itu berhasil mengusik Lucas. Refleks, keningnya mengernyit kesal, bahkan hampir melepas tautan bibir mereka. Namun, desahan nikmat yang melesat dari bibir Sandra berhasil menarik Lucas kembali pada letupan gairah mereka yang begitu menggebu-gebu.
Tak ingin ingatan itu mengacaukan suasana, Lucas membawa Sandra sedikit ke samping, menuju dinding terdekat tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Ketika punggung wanita itu menempel di dinding, Lucas semakin menekan tubuh Sandra yang terasa mungil dalam dekapannya. Kejantanannya yang mulai mengeras di bawah sana pun mulai ikut menuntut dipuaskan.
Tangan Sandra masih melingkari leher Lucas. Meski tangan wanita itu sesekali meremas rambut Lucas demi memperdalam ciuman, terlebih ketika ia membawa bibirnya ke leher Sandra dan meninggalkan beberapa cupang di sana, tapi wanita itu akan kembali melingkari leher Lucas demi kenyamanan.
Berbeda dengan wanita lain yang pernah berciuman dengannya—yang langsung bergerak liar membuka pakaian ataupun celana Lucas—Sandra lebih memilih untuk tetap melingkari leher Lucas dan sesekali bergerak menjamah pundak atau lengannya. Lucas menilai kalau Sandra masih ragu untuk bergerak jauh. Ia pun menyimpulkan bahwa Sandra masih ingin bermain aman untuk saat ini. Bukannya senang karena Sandra menyadari batasannya, Lucas malah penasaran akan seberapa jauh batas aman wanita itu.
Dengan tautan bibir yang terus memburu penuh gairah, Lucas refleks menarik keluar ujung kemeja yang Sandra kenakan dari lingkaran pinggang celana kerja. Tanpa permisi, ia pun mulai menyelipkan tangan ke balik kemeja Sandra, dan merasakan lembutnya kulit wanita itu di bawah sentuhannya.
Merespons sentuhannya, wanita itu mempererat pelukan di pundak Lucas sembari melengkungkan tubuh agar semakin menempel padanya. Lenguhan liar dan dalam yang melesat di sela-sela tautan bibir mereka menandakan betapa mereka benar-benar sudah dilahap api gairah. Bahkan, ketika Lucas membawa belaiannya semakin ke atas dan berhenti di tepi lingkaran bra Sandra, ia bisa merasakan tubuh wanita itu bergetar kecil, merespons sentuhannya.
‘Kau hanya mainan! Lihatlah, dia sama sekali tidak peduli padamu!‘
Kilasan kejadian demi kejadian masa lalu itu kembali menertawakan Lucas. Namun, api gairah yang melahap tubuhnya lebih besar daripada rasa sakit yang ditimbulkan oleh kilasan itu.
Dunia Lucas terasa seperti berputar, dan kewarasannya dapat dipastikan telah lenyap dalam kabut gairah yang menutupi benaknya. Seolah gairah dan tubuh mereka memang diciptakan untuk saling melengkapi, setiap gerakan yang tercipta pun layaknya telah terprogram dengan baik.
Lucas mulai menjalankan belaiannya ke bawah. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Lucas meremas bokong Sandra sekilas sebelum membungkuk sedikit demi membawa salah satu kaki Sandra ke pinggang dan menahannya sejenak di sana.
Posisi yang begitu intim dan panas itu menggoda mereka untuk melakukan hal yang lebih liar lagi. Spontan, Lucas mengangkat tubuh Sandra, dan wanita itu melingkarkan kedua kaki di pinggangnya. Dengan dorongan kuat, Lucas membiarkan punggung wanita itu kembali menempel di dinding, sementara kedua tangannya menopang bokong Sandra.
Selama beberapa saat, bibir mereka saling memburu dan tangan mereka saling memuja satu sama lain. Sungguh, Lucas tak tahu apakah ia akan menyesali kecerobohannya ini atau malah bersyukur. Namun satu hal yang pasti, ia tidak akan pernah melupakan kejadian ini.
‘Dia tidak mencintaimu, Pecundang! Kau lebih baik mati daripada harus mengotori dunia ini dengan kehadiranmu! Dia tidak mencintaimu!‘
Akhirnya, kilasan kejadian yang paling menyakitkan dari masa lalunya muncul ke permukaan. Kali ini, kilasan itu berhasil menghentikan kegilaan Lucas.
Meski enggan, ia langsung melepaskan tautan bibir mereka, lalu menurunkan Sandra dari gendongan dengan kelemahlembutan yang masih tersisa dalam diri Lucas. Ketika Sandra menapakkan kaki di lantai, Lucas tak langsung menjauh. Ia tetap melingkarkan pelukan di tubuh wanita itu selama beberapa waktu demi menjaga pijakan kaki Sandra yang goyah akibat ciuman penuh hasrat mereka. Lucas paham bahwa Sandra butuh waktu untuk menenangkan gejolak gairah yang terhenti tiba-tiba, sama seperti dirinya.
Selama sesaat, Lucas tertunduk diam sambil menempelkan kening di puncak kepala Sandra. Napas mereka terengah-engah akibat ciuman penuh hasrat itu. Atmosfer di sekitar mereka pun masih kental akan gairah yang meletup-letup. Namun, tak satu pun dari mereka mencoba untuk membuka percakapan, apalagi bergerak.
Lucas memejam, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk membuka percakapan. Akan tetapi, kilasan demi kilasan masa lalu itu malah semakin jelas tergambar dalam benaknya ketika ia memejam. Perlahan-lahan, gelenyar panas yang sebelumnya menyelimuti tubuh Lucas, mulai mereda akibat kilasan tersebut. Gairah yang sebelumnya memacu adrenalin serta debar jantungnya pun lambat laun mulai menghilang.
Lucas sadar, ciuman tadi bisa berdampak besar bagi hubungan mereka. Ia tidak tahu apakah dampaknya positif atau negatif, tapi setidaknya Lucas yakin kalau ciuman itu dapat mempertegas posisinya dalam kehidupan Sandra saat ini—dalam hubungan kontrak mereka, lebih tepatnya. Meski dalam hati mengutuki kelemahannya terhadap keberadaan Sandra di sisinya, Lucas berharap kejadian ini tidak menjadi titik kemunduran dalam rencananya.
Tak ingin larut kembali dalam gairah, Lucas mulai melepaskan pelukan dengan lembut, kemudian bergerak mundur selangkah. Meski tidak suka dengan jarak yang tercipta di antara mereka, tapi kilasan menyakitkan yang muncul dalam benaknya terasa bak garam yang ditabur di atas luka hatinya yang belum tertutup sempurna.
Keheningan sarat gairah masih melingkupi mereka. Ketika Lucas memberanikan diri menatap iris Sandra, ia bahkan masih melihat sorot memohon sarat gairah terpancar jelas di mata indah itu. Kening Sandra yang mengerut bingung serta wajah yang merona akibat panasnya gairah di antara mereka seolah menggoda Lucas untuk kembali mendekat dan melanjutkan ciuman penuh hasrat yang terhenti begitu saja.
Lucas ingin, sangat ingin!
Hanya saja, Lucas harus bisa menjaga kewarasannya dan kembali mempertahankan rencananya. Jika ia ingin pembalasan dendamnya berjalan lancar, Lucas seharusnya mampu mengesampingkan perasaannya yang selalu rentan setiap kali berdekatan dengan Sandra. Seharusnya, ia juga mampu menjaga kekokohan dinding kebencian yang melingkupi hatinya agar Sandra benar-benar merasakan rasa sakit yang pernah Lucas rasakan.
Sesaat, Lucas menatap bibir Sandra yang basah dan sedikit membengkak akibat ciumannya yang rakus serta liar. Ia pun kembali teringat alasan di balik ciuman itu dan penyebabnya. Sekejap kemudian, getir yang timbul dalam dada Lucas akibat kecemburuan sesaatnya berhasil memupuk kembali lapisan demi lapisan kebencian yang sempat terlempar jauh dari dirinya.
Setidaknya, ciuman tadi memiliki arti penting dalam hubungan ini. Setidaknya, keintiman sesaat yang tercipta tadi dapat mempermudah langkahku untuk masuk ke dalam hati Sandra. Setidaknya … ya, setidaknya aku jadi tahu betapa lemah diriku ketika sudah berdekatan dengan Sandra, batin Lucas getir.
Ya, Lucas lemah dan mudah teperdaya. Lucas tidak bisa menampik bahwa perasaan yang pernah mendiami hatinya sepuluh tahun lalu, masih ada sampai sekarang. Lucas lemah. Lucas luluh. Lucas terluka, dan luka itulah yang berhasil menciptakan kepahitan dalam dirinya.
“Maafkan aku,” ujar Lucas datar. Meski ia tidak bisa menghalau parau gairah dalam suaranya, tapi sorot dingin dan tajam yang menyertai raut tanpa ekspresinya berhasil membuat Sandra tercekat kaget dan terluka.
“M-maksudmu?” Sandra mengernyit heran.
“Mandilah. Ini sudah malam,” ucap Lucas dingin.
“That’s it?” Sandra menatapnya, tak percaya.
Lucas tidak mengangguk ataupun menggeleng. Ia tetap mempertahankan raut tanpa ekspresi dan sorot dinginnya, berharap Sandra menyadari bahwa kenikmatan sesaat yang terjadi di antara mereka sudah cukup untuk hari ini.
Kesal, Sandra segera melangkah pergi dari hadapan Lucas. Entakkan demi entakkan langkah yang wanita itu ciptakan menunjukkan betapa besar amarah Sandra. Dalam diam, Lucas terus menatap punggung Sandra yang mulai menjauh dari hadapannya.
Ketika berhenti di depan pintu kamar, Sandra menoleh ke arahnya. Sorot mata penuh kekecewaan itu tertuju pada Lucas. Ia bahkan bisa menangkap besarnya harapan Sandra agar Lucas menghampiri dan meminta maaf karena sudah menghancurkan kemesraan sesaat yang tercipta di antara mereka.
Hati Lucas perih, napasnya sesak. Ingin rasanya Lucas menghampiri Sandra dan menuruti kemauan wanita itu. Namun, sebisa mungkin ia mempertahankan keputusannya.
Harus! Kali ini, Lucas harus kuat. Jika ia ingin Sandra jatuh dalam pelukannya karena wanita itu benar-benar mencintainya, maka ia harus bisa menahan diri untuk saat ini. Ia tidak ingin Sandra menyerahkan diri padanya hanya karena gairah dan nafsu, tapi benar-benar karena cinta. Ketika wanita itu benar-benar telah jatuh cinta padanya, di saat itulah Lucas akan perlahan-lahan membalikkan keadaan dan memberikan rasa sakit bertubi-tubi, sama seperti yang pernah wanita itu lakukan padanya sepuluh tahun yang lalu.
*****
“Sialan!” maki Sandra geram, kemudian menghela napas kecewa untuk yang ke sekian kali. Sambil merebahkan tubuhnya yang sudah berbalut kaos santai dan celana panjang berbahan satin nan nyaman, Sandra menatap langit-langit kamar.
Jujur, Sandra tidak mengerti pada dirinya sendiri. Ia seharusnya marah pada Lucas karena sudah menciumnya, tapi yang tersisa hanyalah kekecewaan dan rasa frustrasi yang menyesakkan dada. Kekecewaan itu bahkan seolah menunjukkan bahwa Sandra menginginkan lebih.
“Aku tidak menginginkan lebih!” kilah Sandra kesal seraya melipat kedua tangan di depan dada, memprotes rasa kecewa bermakna ganda tersebut.
Masih dalam keadaan kesal, ia berusaha keras menghapus ciuman itu dari ingatannya, tapi tidak bisa. Benaknya malah mengulang-ulang kejadian tadi bak kaset rusak yang semakin membuat jantungnya berdegup cepat, campuran antara amarah dan gairah.
Tak dipungkiri, Lucas memang sangat lihai dalam berciuman. Sialnya, kelihaian Lucas begitu mudah menghipnotis Sandra hingga ia melupakan rasa kesal yang muncul akibat sifat kekanak-kanakan pria itu. Meski berat hati, Sandra juga mengacungkan dua jempol atas manuver penuh tipu daya Lucas yang berhasil menjeratnya.
Dengan kelemahlembutan dan gerakan memuja yang Lucas tunjukkan saat pertama kali merengkuhnya dalam pelukan erat dan hangat, pria itu berhasil meruntuhkan pertahanan serta rasa kesal Sandra. Bahkan, ia tak menyangka kalau Lucas benar-benar berani menciumnya, sementara mereka baru saja bertengkar kecil. Meski awalnya hanya sekedar menempelkan bibir tanpa sedikit pun gerakan menuntut untuk dibalas, tetap saja akhirnya pria itu berhasil menghipnotis Sandra dan menciumnya dengan liar serta penuh gairah.
Sandra memejam, berusaha menekan perasaan aneh yang bergejolak dalam dada yang timbul akibat ciuman singkat penuh gairah tadi. Sambil menutup mata dan berbaring di tempat tidur, Sandra menelaah kembali mengapa ia bisa begitu mudahnya tenggelam dan larut dalam dekapan serta ciuman Lucas. Hebatnya, ia bisa mengingat detik demi detik awal dari semua kegilaan itu.
Ia bisa mengingat dengan jelas bagaimana Lucas mengusap bibirnya dengan begitu lembut seolah membujuk Sandra untuk memaafkan pertengkaran kecil yang terjadi akibat keposesifan serta sifat kekanak-kanakan pria itu. Sandra juga mengingat kecupan-kecupan kecil yang Lucas berikan seolah pria itu memuja bibirnya. Sampai di situ, ia masih bisa bertahan dengan rasa kesal yang bercokol dalam dada. Namun, ketika lidah pria itu mengulas lembut bibir Sandra untuk yang kedua kalinya, saat itulah seluruh pertahanannya runtuh.
Ini gawat! Seharusnya ia tidak semudah itu luluh. Usapan lembut sarat godaan itu berhasil membuat Sandra melemah dan pasrah hingga ia tenggelam dalam setiap letupan gairahnya sendiri. Ia bahkan terhipnotis oleh lembutnya setiap usapan lidah Lucas, terlebih ketika pria itu menjelajahi tiap sudut bibirnya.
Hebatnya, Sandra menyambut ciuman itu tanpa paksaan dan menikmati lihainya cumbuan Lucas yang berhasil menimbulkan gejolak baru dalam dirinya. Gejolak yang hingga detik ini tidak mampu ia redam.
‘Kau benar-benar dalam masalah, Darling.‘
Mata Sandra sontak terbelalak mendengar teguran Nathan yang tiba-tiba menggema dalam kepalanya. Ia bahkan sampai bangkit dan terduduk di tempat tidur saking kagetnya.
“Tidak, tidak, tidak! Aku tidak bisa begini terus,” putus Sandra yang kemudian menyambar ponsel di meja nakas yang berada tepat di samping tempat tidur, lalu menghubungi Nathan.
Teguran tadi adalah pertanda bahwa ia harus segera berbicara dengan Nathan. Hanya Nathan-lah tempatnya mengeluh. Dengan debar jantung menggebu-gebu, Sandra sudah tak sabar menuangkan segala kekesalannya akan Lucas.
Hanya butuh tiga nada dering, sahabatnya itu langsung menjawab panggilannya. “Sudah selesai mandi?”
Sapaan ringan nan menyenangkan Nathan langsung mengisi pendengaran Sandra. Biasanya, hanya mendengar keceriaan suara Nathan, kekesalan dalam dirinya langsung tergerus habis. Namun, kali ini tidak. Kegalauannya malah semakin menjadi-jadi karena ia malah merindukan kehadiran Nathan di sisinya.
“Sudah,” jawab Sandra dengan nada menggerutu sembari menyandarkan punggung di sandaran tempat tidur.
“Hei! Ada apa?” Nathan yang begitu mengenal Sandra, langsung bisa mengetahui perubahan suasana hatinya.
“Aku membencinya, Nat! Sangat, sangat membencinya!” tegas Sandra tanpa sedikit pun menutup-nutupi perasaannya.
“Oh, Darling. Seandainya kau masih ada di apartemenmu, aku pasti sudah memelukmu saat ini,” balas Nathan lembut bak seorang kakak yang begitu hangat dan penuh perhatian. “Ayo, ceritakan padaku. Apa yang Dark Shadow lakukan sampai membuatmu sekesal ini?“
Sandra terdiam. Ia, yang awalnya menggebu-gebu ingin bercerita pada Nathan, tiba-tiba merenungkan kembali keputusannya. Bukan karena tidak percaya kepada sahabatnya, hanya saja Sandra tidak ingin terdengar seperti anak remaja ingusan yang baru saja bertengkar dengan sang kekasih. Namun, ia tidak mampu menyimpan kejadian ini dari Nathan. Bercerita kepada Nathan adalah salah satu cara terbaik untuk mengurangi kekesalan yang ia rasakan saat ini.
“Dia menciumku,” ungkap Sandra akhirnya, pasrah akan reaksi Nathan.
“What!! Kau serius??” Suara Nathan yang menggelegar kaget membuat Sandra sedikit menjauhkan ponsel sejenak dari telinganya. “Lalu, apakah kalian melakukannya?“
“Melakukan apa?” tanya Sandra balik setelah menempelkan kembali ponsel di telinga. Keningnya refleks mengernyit heran mendengar pertanyaan Nathan.
“Seks!“
Sandra memutar bola mata, tak menyangka kalau Nathan malah menanyakan hal tersebut di tengah rasa kesalnya. “Well, Nat. Kau tahu kalau seks adalah salah satu obat penenang paling mujarab di dunia. Kalau aku sudah berhubungan seks dengannya, mungkinkah aku sekesal ini?”
“Ohh … jadi, kau kesal karena tidak berhasil berhubungan seks dengannya?” tebak Nathan cepat yang semakin membuat Sandra mengernyit tak percaya.
“Astaga! Kenapa kau malah mengarahkan pembicaraan ke situ?” Sandra menyugar rambutnya yang masih sedikit lembap, lalu menarik kedua lutut dan menekuknya di depan dada.
“Lalu, aku harus mengarah ke mana?”
“Ke topik ‘dia menciumku’ tadi, Nat,” protes Sandra manja, berharap Nathan dapat menanggapi keluh kesahnya dengan serius.
“Oh, Darling. Kan aku sudah pernah bilang padamu, kau harus siap dengan segala konsekuensi dari hubungan kontrak itu. Seks, ciuman, pelukan, bahkan tidur sekamar. Semua itu sudah konsekuensinya,” ingat Nathan santai tanpa sedikit pun menghilangkan nada centil dalam suaranya.
“Tapi, dia menciumku tanpa permisi!” Sandra berusaha menyadarkan Nathan bahwa perbuatan Lucas tidak dapat dibenarkan. Namun, sahabatnya itu malah tertawa rendah, yang malah terdengar seperti mengejek protes kekanak-kanakan Sandra.
“Apakah ada yang salah dengan itu? Lalu, bagaimana ciumannya? Is he a great kisser?“
Sandra menggeram kesal karena Nathan malah lebih memedulikan seberapa lihai Lucas dalam berciuman, sementara ia butuh menumpahkan kekesalan dan mencari pembelaan atas kejadian yang menimpanya.
“Kenapa kau malah menanyakan hal itu?” timpal Sandra sinis.
“Is he??” tanya Nathan, tidak sabaran.
“Yeah, tapi—”
“Great!” potong Nathan cepat. “Setidaknya, aku tahu kau pasti menikmatinya.“
“Kau gila! Aku meneleponmu karena aku berharap kau kesal dengan kelakuannya dan membelaku. Tapi, kau malah menanyakan hal-hal yang luar biasa tidak kuharapkan.”
Sandra benar-benar kesal kali ini. Baru kali ini Nathan tidak membelanya. Rasa kesal yang ia harapkan dapat hilang setelah memberi tahu Nathan, malah bertambah besar karena pria itu tidak memihaknya sama sekali.
“Sandra, kau jangan lupa. Kau bukan lagi gadis remaja yang baru pertama kali dicium oleh laki-laki. So, wake up, Darling! Ciuman itu adalah hal sepele, dan kau tidak seharusnya kesal, terlebih setelah kau menikmati ciumannya.“
Mata Sandra menyipit, tidak terima dengan penilaian Nathan. “Kau tidak tahu awal mulanya, Nat. Makanya kau menganggap ini sepele.”
“Oke, oke. Ceritakan padaku seperti apa awal mulanya supaya aku tidak menganggap ini sepele,” bujuk Nathan demi menyenangkan hati Sandra.
“Tidak mau! Aku jadi malas bercerita padamu,” ambek Sandra sembari menopang dagu di antara kedua lutut kaki yang tertekuk di depan dada.
“Oh, ayolah, Sandra. Aku tahu perasaanmu tidak akan lega sebelum bercerita padaku. Come on, Darling, ceritakan padaku.“
Bujukan itu akhirnya menggugah sisi manja Sandra. Ia pun mulai menceritakan awal mula pertengkaran kejadian yang menimpanya saat tiba di apartemen Lucas, sampai ke sikap dingin Lucas yang tiba-tiba menghentikan ciuman tanpa penjelasan. Nathan mendengarkan dengan baik tanpa menyelanya sedikit pun. Setelah Sandra menuangkan segala protes dan kekesalannya, perlahan-lahan amarah dalam dirinya pun surut.
Baru saja Sandra bernapas lega, ketukan di pintu kamar spontan membuatnya menoleh cepat dan memacu debar jantungnya sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Ia berusaha tidak menggubris ketukan itu dan kembali memusatkan perhatiannya pada Nathan.
“Sandra, aku sudah memesan makan malam untukmu,” ujar Lucas dari balik pintu kamar. Kening Sandra mengerut heran mendengar inisiatif Lucas yang tiba-tiba memesan makan malam untuknya.
“Wow! Apakah aku tidak salah mendengar?” ujar Nathan penasaran dari balik ponsel setelah mendengar suara Lucas di kejauhan.
“Apa yang kau dengar?” ketus Sandra, melampiaskan secuil rasa kesal yang tiba-tiba muncul setelah mendengar suara Lucas.
“Dia berusaha berdamai denganmu, Sandra,” jelas Nathan seolah Sandra tak paham arti dari sikap Lucas.
“Biarkan saja.” Sandra masih tetap dengan kekerasan hatinya. Ia masih kesal pada Lucas, meski tidak sebesar sebelumnya.
Ketukan di pintu kembali terdengar. Tampaknya, Lucas tidak akan menyerah sebelum Sandra keluar dari kamar dan mengikuti kemauan pria itu.
“Aku tahu kamu belum tidur. Aku masih bisa mendengar suaramu,” ujar Lucas tenang. Mendengar ketenangan dalam suara Lucas malah membuat Sandra mengeram kesal, kemudian mendengus dongkol.
“Makanlah,” bujuk Nathan lembut.
“Aku tidak lapar!” Sandra menjawab bujukan Nathan. Namun, perutnya yang bergemuruh mengejek ucapan Sandra.
“Ya, sudah. Lakukanlah apa yang menurutmu benar, Darling. Pesanku, berbaikanlah. Memang, aku tidak setuju dengan keputusanmu menerima hubungan kontrak ini. Tapi, karena kau sudah menyanggupinya, kau juga harus bisa menyesuaikan diri dan memahami dirinya. Kau mau karyanya selesai dengan baik, kan?”
Nasihat Nathan kali ini benar-benar menegur sikap keras kepala Sandra. Memang, dirinyalah yang dengan cepat menerima tantangan Lucas untuk menjalani hubungan selama tiga bulan. Dirinya jugalah yang akan mendapatkan banyak keuntungan jika karya Lucas selesai dengan baik. Namun, Sandra masih mempertahankan secuil keegoisannya hanya demi menunjukkan bahwa dirinya tidak sepenuhnya salah dalam masalah ini.
“Terima kasih sudah mendengarkanku, Nat,” ucap Sandra yang mulai lelah dengan pergumulannya, sekaligus berniat menyudahi percakapan mereka.
“My pleasure, Darling.“
Percakapan Sandra dengan Nathan pun berakhir. Ketukan di pintu juga tidak terdengar lagi. Meski masih enggan berhadapan dengan Lucas, Sandra mulai beranjak dari tempat tidur, lalu melangkah menuju pintu kamar. Perutnya yang bergemuruh memprotes kekerasan hati Sandra, mau tidak mau harus diberi makan. Setidaknya, perut yang kenyang dapat membantunya tidur nyenyak malam ini.
Pelan-pelan, ia membuka pintu kamar, tapi tidak menemukan Lucas di sana. Suara TV yang terdengar dari ruang tengah, menjadi satu-satunya suara yang mengisi tempat itu. Sandra tidak langsung beranjak dari ambang pintu. Ia terdiam selama beberapa detik, menimbang kembali keputusannya.
Sekali lagi, perutnya bergemuruh. Akhirnya, ia pun memaksakan kakinya melangkah menuju ruang TV. Seolah menyadari kedatangannya, Lucas yang sedang duduk di sofa panjang langsung menoleh dan menyunggingkan senyum ringan pada Sandra. Sementara, tangan pria itu sibuk mengeluarkan beberapa kotak makan dari plastik pesan-antar.
“Aku tahu, kamu pasti akan keluar,” ucap Lucas dengan nada sedikit lebih ringan dari biasa. “Ayo, makan.”
Sandra tertegun mendapati sorot hangat yang Lucas berikan padanya. Kehangatan yang menghiasi mata pria itu terasa berbeda dari sebelumnya—sorot hangat sarat gairah yang terpancar di mata Lucas saat berniat mencium Sandra. Kali ini, sorot hangat itu seolah mengungkapkan permintaan maaf yang tulus, sekaligus ajakan berdamai yang tak mampu pria itu ucapkan dengan kata-kata.
‘Kau juga harus bisa menyesuaikan diri dan memahami dirinya.’
Nasihat Nathan menggema lembut di telinga Sandra. Kali ini, Sandra merasa bahwa nasihat Nathan ada benarnya.
Mau tidak mau, Sandra mencoba memahami bahwa tampaknya Lucas bukanlah tipe pria yang mudah mengungkapkan perasaan secara langsung melalui kata-kata. Lucas tampaknya lebih suka menunjukkan perasaan dengan tindakan. Meskipun tindakan Lucas acap kali membuat Sandra terkejut, gugup, kesal, marah, dan juga luluh, tapi nasihat Nathan berhasil menyadarkan Sandra untuk mau mencoba memahami karakter pria itu.
Tak ingin membiarkan perutnya kembali bergemuruh, Sandra akhirnya menghampiri Lucas dan berusaha untuk berdamai dengan pria itu.
*****
BAB 14
Sandra bangun dari tidurnya yang nyenyak. Sembari tersenyum lebar, ia menggeliat sejenak di atas tempat tidur yang empuk nan nyaman, kemudian menghela napas panjang. Masih dengan senyum mengembang, Sandra menatap langit-langit kamar selama sesaat, kemudian menoleh ke jendela dan menikmati sejenak sinar matahari yang menyelinap centil dari sela-sela tirai putih.
Beberapa saat kemudian, ia pun bangkit dari posisi tidur lalu menyugar rambutnya yang berantakan bak singa. Setelah menghela napas ringan sekali lagi, Sandra menyibakkan selimut yang menutupi tubuh, kemudian bergerak ke samping, dan duduk di pinggir tempat tidur dengan kedua kaki menggantung santai.
Pagi ini, Sandra merasa luar biasa bahagia dan penuh semangat. Bagaimana tidak? Perutnya masih kenyang efek makan malam yang nikmat dan banyak. Badannya terasa lebih berenergi karena tidur yang begitu nyenyak. Besarnya luapan kebahagiaan yang menyelimuti dirinya saat ini pun merupakan amunisi terbaik bagi Sandra untuk mengawali hari.
“Kau kalah,” ejek Sandra penuh kemenangan pada weker ponsel yang baru saja berbunyi.
Semalam, Sandra sengaja mengatur ulang weker di ponsel agar bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Ternyata, luapan kebahagiaan yang menyelimuti diri Sandra malah membangunkannya lebih cepat dari yang ia harapkan.
Tak ingin dering itu mengusik kebahagiaannya, ia kemudian mematikan weker lalu beranjak dari tempat tidur. Sembari melangkah riang menuju kamar mandi, Sandra teringat akan malam makannya dengan Lucas—yang menjadi penyebab utama timbulnya keceriaan dan kebahagiaan Sandra pagi ini.
Semalam, sambil menonton serial CSI—yang sebenarnya tidak terlalu ia sukai karena takut dengan adegan pembunuhan dan darah—mereka menyantap makan malam sembari bercengkerama ringan bak sahabat karib. Ketegangan di antara mereka akibat ciuman panas itu tak lagi terasa, yang ada hanyalah senyum dan kehangatan baru.
Sepanjang menikmati makan malam ditemani beberapa kaleng bir, Lucas menjelaskan beberapa istilah kriminal yang tidak Sandra pahami. Dengan sabar, Lucas bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan sarat penasaran yang Sandra lontarkan terkait kasus pembunuhan. Pria itu juga mengungkapkan bahwa serial CSI merupakan salah satu inspirasi Lucas ketika menciptakan novel pembunuhan yang penuh misteri dan ketegangan.
Selain makan malam dan tontonan menarik yang membuat Sandra senang menghabiskan waktu bersama Lucas semalam, ada satu hal yang berhasil menghapus rasa ragu serta antipati Sandra terhadap pria itu, yaitu kembali meluncurnya ucapan maaf dari bibir Lucas.
Ingatannya akan kejadian semalam sempat terjeda saat ia membuka pakaian dan melangkah masuk ke bawah pancuran. Ketika air hangat menyentuh sekujur tubuhnya, Sandra mengingat kembali bagaimana kedekatan mereka semalam dapat berakhir dengan baik. Sembari membersihkan tubuh dengan sabun dan mencuci rambut dengan sampo beraroma stroberi, Sandra tak akan melupakan detik demi detik menyenangkan yang menghampirinya semalam sebelum akhirnya ia masuk ke kamar dan tertidur nyenyak.
Semalam, setelah serial CSI selesai dan digantikan oleh acara yang lain, Sandra memutuskan untuk menyudahi keakraban singkat mereka. Ia pun mengucapkan selamat malam, kemudian beranjak dari sofa sementara Lucas sedang meneguk bir langsung dari kaleng. Sandra kira, Lucas tetap duduk di sofa sembari menikmati bir. Ternyata, pria itu malah menyusul langkah Sandra dan mengikutinya dari belakang tanpa bicara sepatah kata pun.
Sandra tidak tahu apa yang Lucas inginkan saat itu, tapi ia berusaha bersikap tenang. Ketika tiba di depan pintu kamar, ia segera berbalik menghadap Lucas yang berhenti tepat di sampingnya. Jarak mereka yang cukup dekat seketika memacu debar jantung Sandra sedikit lebih cepat.
“Selamat malam, Lucas,” ucap Sandra lembut, berharap pria itu memahami bahwa kedekatan mereka tadi di ruang TV sudahlah cukup.
Baru saja ia ingin berbalik dan membuka pintu, tiba-tiba Lucas mencengkeram lembut pergelangan tangan Sandra. Dengan jantung berdebar semakin cepat, ia kembali menghadap Lucas dan menatap iris biru safir yang entah mengapa begitu mudah menjerat akal sehat Sandra.
“Maafkan aku karena sudah membuatmu kesal tadi, dan … maaf karena sudah menciummu.”
Sandra cukup terkejut mendengar ucapan itu kembali meluncur dari bibir Lucas. Terlebih karena permintaan maaf itu terdengar jauh lebih tulus daripada sebelumnya. Sesaat, mereka saling bertatapan diselimuti keheningan nan kaku. Ketika Sandra mendapati pandangan Lucas sesekali menatap bibirnya, saat itu pula ia berpikir kalau pria itu akan kembali menciumnya.
Tidak ingin kejadian itu terulang lagi dalam waktu dekat, Sandra segera memutus tautan mata mereka. Ia pun segera berjinjit, mendaratkan kecupan di pipi Lucas, dan mengucapkan selamat malam untuk yang kedua kali sebelum beranjak masuk ke kamar secepat yang dapat ia lakukan.
Mengingat kejadian itu, senyum kemenangan langsung mengukir wajah Sandra. Ia bangga pada dirinya sendiri karena berhasil mengendalikan diri serta suasana yang cukup kental oleh letupan gairah. Tak ingin berlama-lama, Sandra mempercepat mandinya, kemudian mengeringkan tubuh dan berpakaian. Ia tidak ingin tenggelam terlalu lama dalam kenangan manis yang tercipta semalam antara dirinya dengan Lucas. Lagi pula, ia masih memiliki tanggung jawab pekerjaan yang harus ia tangani dengan sebaik mungkin.
Setelah merias ringan wajahnya, Sandra membawa ponsel dalam genggaman sembari melangkah menuju pintu kamar. Seperti biasa, dahaga selalu menyerang di pagi hari dan menuntutnya menenggak segelas air putih.
Ketika Sandra menekan gagang pintu kamar, pesan masuk dari Nathan mengambil sebagian besar perhatiannya.
‘Kau mau kupesankan kopi?
Kebetulan aku akan masuk sedikit lebih pagi.‘
Sembari berjalan menyusuri koridor yang tidak terlalu panjang, Sandra membalas pesan tersebut.
‘Tidak perlu, Nat.
Pagi ini aku ada janji temu di luar kantor.’
Hari ini Sandra akan mendatangi kediaman salah satu penulis ternama untuk membicarakan rencana penerbitan buku terbaru. Kondisi sang penulis yang saat ini masih berada di kursi roda akibat kecelakaan yang terjadi beberapa bulan lalu, mengharuskan Sandra untuk datang ke kediaman wanita itu.
Balasan pesan Nathan yang hanya berisikan kata ‘oke’ langsung muncul di layar ponsel secepat kilat. Sambil terus melangkah, Sandra memasukkan ponsel ke saku celana bahan yang ia kenakan. Namun, sesaat kemudian langkahnya terhenti sejenak ketika melihat sofa panjang yang sudah kosong dengan selimut tergeletak begitu saja di lantai dan bantal yang tampak telah ditiduri, tapi ditinggal sembarangan oleh Lucas.
Tak senang melihat keadaan yang berantakan, Sandra langsung melipat rapi selimut tersebut dan meletakkan bantal kepala tepat di atas selimut. Sambil berkacak pinggang, Sandra mengalihkan pandangannya dari sofa ke ruangan di area mezanin yang ia yakini merupakan ruang kerja Lucas. Lampu di ruangan itu menyala, pertanda bahwa Lucas berada di sana.
Apakah dia tidur semalam? batin Sandra penasaran disertai sedikit perasaan khawatir, kemudian menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Tak ingin membuang-buang waktu, Sandra beranjak dari sisi sofa dan melangkah ke area dapur. Baru beberapa langkah dari sofa, keningnya mengerut heran saat melihat sepiring sarapan yang terdiri dari beberapa lembar bakon dan telur mata sapi serta segelas susu segar tersaji di meja dapur.
Dengan langkah cepat penuh rasa penasaran, Sandra segera menghampiri meja tersebut. Terdapat secarik kertas kecil berisi sebuah pesan yang diletakkan di bawah tindihan gelas susu.
‘Aku siapkan sarapan untukmu.
Lucas.‘
Sandra tak henti-hentinya mengernyit heran. Ia kemudian meletakkan kertas tersebut begitu saja di meja dan memutuskan untuk segera menghampiri Lucas.
Jujur, Sandra tak menyangka kalau Lucas begitu berbaik hati menyiapkan sarapan untuknya. Namun, sebagai wanita yang sudah terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri, mendapat perlakuan khusus dari seorang pria yang baru ia kenal malah membuat Sandra sedikit tidak enak hati. Apalagi, setelah kejadian semalam.
Setibanya di depan pintu ruang kerja Lucas, Sandra mengetuk setenang mungkin agar tidak terkesan menuntut. Ia menunggu beberapa detik, tapi tak terdengar sedikit pun pergerakan dari balik pintu. Sandra kembali mengetuk pintu, kali ini sedikit lebih keras dari sebelumnya.
“Lucas,” panggil Sandra disertai ketukan.
“Yap!” Lucas akhirnya menyahut dari dalam ruangan. Suara Lucas yang terdengar sedikit lemah malah meningkatkan rasa khawatir Sandra, terlebih ketika melihat arlojinya yang baru menunjukkan pukul 06.00. Artinya, kemungkinan besar Lucas sudah terjaga satu atau dua jam sebelum Sandra bangun tidur.
“Apa kamu baik-baik saja di sana?” Sandra mendekatkan telinga ke daun pintu, berusaha mendengar apa yang sedang Lucas lakukan di dalam sana.
Bukannya segera menjawab, pria itu malah diam seribu bahasa dan membiarkan keheningan menyergap telinga Sandra. Dengan raut mengerut penasaran, Sandra menjauhkan kepalanya dari daun pintu. Ia kembali mengetuk pintu tersebut, kali ini tampak jelas kekhawatirannya.
Tak kunjung mendapat jawaban, Sandra langsung menggenggam gagang pintu. Baru saja ia ingin menekan benda tersebut, tiba-tiba pintu terbuka kasar hingga genggaman Sandra terlepas dari gagang. Sedetik kemudian, Lucas muncul dengan wajah kusam serta rambut acak-acakan. Bertingkah seakan tak ingin siapa pun melihat isi ruangan tersebut, Lucas segera menutup pintu, sementara Sandra refleks bergerak mundur demi memberi jarak di antara mereka.
“Ada apa?” tanya Lucas datar, terkesan seperti tidak ingin diganggu.
“Aku melihat hanya ada sepiring makanan di—”
“Itu untukmu,” potong Lucas cepat demi mempersingkat percakapan.
“Aku tahu. Tapi … apakah kamu sudah makan?” tanya Sandra perhatian, sementara matanya cukup terkejut melihat penampilan Lucas yang hanya mengenakan celana basket dan kaos hitam polos dengan raut wajah kusut.
“Sudah.” Kedua alis Lucas mengerut, terganggu dengan kehadiran Sandra.
“Apakah semalam kamu tidur?” tanya Sandra menunjukkan kekhawatirannya.
“Iya, aku tidur.”
Sandra mengedikkan kedua alisnya, heran mendengar jawaban singkat dan sinis itu. Sikap Lucas pagi ini benar-benar berbanding terbalik dengan semalam. Kemarin malam, Lucas begitu hangat, tenang, dan menunjukkan sikap bersahabat. Sekarang, pria itu terlihat kesal, sinis, dan dingin.
Jujur, Sandra ingin sekali menanyakan perubahan drastis dari sikap Lucas. Namun, ia tidak ingin merusak kebahagiaan yang sedari tadi memenuhi hatinya. Tak mau memperkeruh suasana hati Lucas yang tampaknya sudah buruk, Sandra pun berbalik dan bergegas meninggalkan pria itu begitu saja. Dengan langkah tegas, ia pun menuruni tanggal sambil berusaha mempertahankan letupan kegembiraan dalam dirinya.
*****
“Sialan!!”
Lucas menggebrak permukaan meja kerja demi melampiaskan rasa kesal yang sudah membubung memenuhi kepala. Dengan tatapan penuh amarah ke layar laptop dan napas sesak karena terhimpit luapan kekecewaan yang belum sepenuhnya keluar, Lucas mengutuki kebodohannya berkali-kali.
“Kenapa jadi begini?” Lucas menopang kedua siku tangan di meja, kemudian meremas kesal rambutnya seraya tertunduk kecewa. “Seharusnya aku tidak boleh seperti itu! Sialan! Kenapa aku jadi sebodoh ini?”
Sesaat kemudian, Lucas kembali menegakkan kepala dan menatap layar laptop seolah benda itulah yang salah. Padahal, ia tahu kalau kejadian pagi tadi sepenuhnya adalah kesalahan dirinya sendiri.
Jika ingin membela diri, bisa saja Lucas mengatakan bahwa kurangnya jam tidurlah yang membuat emosinya mudah sekali terpancing. Masalahnya, bukan itu alasan sebenarnya. Alasan utama ia uring-uringan seperti ini adalah karena ciuman itu.
Lucas ingin merasakan kembali sensasi nikmat yang tercipta ketika ia mengulum bibir Sandra. Lucas ingin merengkuh kembali tubuh Sandra dan menyerap kehangatan yang wanita itu berikan saat berada dalam pelukannya. Hanya saja, Lucas tidak bisa—tidak boleh, lebih tepatnya. Sialnya, semakin keras Lucas menepis keinginannya itu, semakin tipis akal sehatnya.
Ini salah! Seharusnya ia tidak boleh kacau seperti ini. Selama ini, Lucas sangat mengenal dirinya sendiri sehingga ia selalu berhasil mengatasi setiap masalah yang menghampiri. Ia juga selalu mampu memisahkan antara akal sehat dan gairah. Namun, kehadiran Sandra di dalam kehidupannya berhasil mengacaukan seluruh sistem dalam tubuh dan pikiran Lucas.
Ingin rasanya Lucas menaruh semua kesalahan dan kekecewaannya pada Sandra, tapi ia tidak bisa. Bukan salah Sandra jika seluruh sel dalam tubuh Lucas bereaksi di luar kendalinya. Lucas-lah yang salah karena ternyata ia terlalu bodoh hingga terjebak dalam permainan yang ia ciptakan sendiri.
Tak ingin tampak kacau dan lemah, ia pun spontan bersikap dingin dan sinis pada Sandra tadi pagi. Masalahnya, kebodohan yang ia lakukan tadi sama sekali tidak ada dalam barisan rencananya. Jujur, Lucas sangat menyesali sikapnya pagi ini. Bahkan, ia tak menyangka akan sesinis itu pada Sandra, sementara semalam hubungan mereka sudah tampak mengalami kemajuan. Akibatnya, rasa bersalah serta kekecewaan menyerang Lucas bak ratusan peluruh ditembakkan secara membabi buta ke sekujur tubuhnya.
Demi meredam rasa bersalah itu, Lucas berusaha kembali berkutat di depan laptop. Biasanya, menulis selalu mampu meredam kegelisahan dalam dirinya. Namun, kali ini tidak.
Sudah tiga jam berlalu semenjak Sandra berangkat ke kantor, tapi Lucas belum juga berhasil meredam kegelisahannya. Semakin ia berusaha berkonsentrasi membuat adegan demi adegan, tingkat keresahannya malah semakin bertambah. Parahnya lagi, rasa bersalah yang sebelumnya menyergap Lucas, kali ini berubah menjadi rasa takut—takut jika sikap dingin dan sinisnya tadi membuat hubungannya dengan Sandra kembali mundur selangkah.
Kesal dengan kebodohannya, Lucas mengempaskan punggungnya pada sandaran kursi, kemudian berpikir sejenak. Ini salah! Kejadian pagi tadi benar-benar sudah keluar jalur. Aku harus bisa mengembalikan hubungan ini ke jalur yang kuinginkan jika ingin semua berjalan dengan benar.
Sambil mengetuk-ngetuk pinggiran meja, Lucas mencoba mencari jalan keluar untuk memperbaiki kesalahannya. Beberapa menit kemudian, sebuah ide cemerlang menghampiri dirinya. Tanpa berpikir lebih lama lagi, Lucas segera mengangkat ponsel yang diletakkan di samping laptop, kemudian menghubungi Gerald.
“Kau punya rekomendasi restoran yang bisa memberikan makan malam romantis, tapi private?” tanya Lucas tanpa basa-basi ketika Gerald menjawab panggilannya.
“Kau mau makan malam dengan siapa?” tanya Gerald penasaran.
“Sandra.”
“Wow! Tak kusangka hubungan kalian bisa meningkat secepat ini,” ujar Gerald heran.
“Di mana?” Lucas tidak mau menanggapi penilaian Gerald. Ia tidak ingin siapa pun tahu sudah sejauh mana hubungannya dengan Sandra.
Sangat mengenal perangai Lucas yang tertutup, Gerald berusaha menekan rasa penasarannya untuk sesaat. Akhirnya, Gerald memberikan tiga rekomendasi restoran yang pernah didatangi untuk menjamu para wanita.
“Apakah kau mulai merasakan sesuatu?” Baru saja ingin memutuskan panggilan, tiba-tiba Gerald melontarkan pertanyaan yang berhasil mencegah niat Lucas.
“Merasakan apa?” tanya Lucas balik seraya mengerutkan kening.
“Jatuh cinta, atau … apakah kau sudah mulai merasa nyaman dengan keberadaannya di sisimu?” Gerald tak segan melontarkan pertanyaan sarat penasaran pada Lucas. Meski pria itu tahu betapa tertutupnya Lucas akan kehidupan pribadi dan perjalanan cintanya, tapi ia juga tahu betapa Gerald mampu menganalisa sesuatu dengan tepat hanya dari respons seseorang akan setiap pertanyaan yang diberikan.
“Dia baru mau tiga hari tinggal di sini. Kau kira aku akan semudah itu jatuh cinta?” kilah Lucas datar demi mengelabuhi penilaian Gerald.
“Tidak ada yang tahu kapan cinta akan menghampirimu.” Gerald menasehati Lucas layaknya seorang ayah sedang memberikan wejangan kepada putra semata wayang.
“Tapi, aku yang tahu apakah aku akan jatuh cinta padanya atau tidak. Dan jawabannya, tentu saja tidak.” Lucas masih mempertahankan ego serta pendiriannya. Lagi pula, seandainya pun suatu saat ia benar-benar memiliki perasaan lebih terhadap Sandra, ia tidak ingin perasaan itu merusak rencananya. Dendamnya harus terbalaskan, dan ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri detik-detik ketika Sandra hancur berkeping-keping karena cinta palsu yang ia bentuk dengan sempurna.
“Hmm, terserah sajalah. Setidaknya, aku sudah mengingatkanmu dari awal. Aku yakin, pasti akan terjadi hal-hal yang tak terduga dari kedekatan kalian. Kuharap kau sudah mempersiapkan diri untuk semua hal yang tak terduga itu.“
“Terima kasih sudah mengingatkan,” sahut Lucas datar hanya agar Gerald menyudahi percakapan ini.
“My pleasure.“
Akhirnya, panggilan itu pun berakhir. Tanpa menunggu lama, Lucas kemudian menghubungi ketiga restoran tersebut dan mencari tahu tentang seberapa private-nya makan malam yang dapat mereka berikan padanya. Akhirnya, setelah memilih restoran yang tepat, Lucas segera menghubungi Sandra.
Ia tidak tahu apakah saat ini Sandra sedang sibuk berkutat dengan pekerjaan atau tidak, tapi ia tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Ia harus segera menghubungi Sandra agar wanita itu bisa meluangkan waktu malam ini untuk makan malam bersamanya. Dengan begitu, ia bisa mengembalikan hubungan ini ke jalan yang telah ia susun sedemikian rupa.
*****
BAB 15
Jam makan siang masih satu jam lagi, tapi perut Sandra sudah bergemuruh seakan-akan ia belum sarapan. Sambil mengunyah camilan demi mengganjal perut, Sandra cepat-cepat mencepol rambut panjangnya, sementara pusat konsentrasinya terus tertuju pada layar laptop. Segelas Caramel Frappucino yang bertengger manis di samping foto kedua orangtuanya, menjadi suntikan penyemangat dan konsentrasi Sandra saat ini.
Namun, baru saja Sandra larut dalam alur cerita, tiba-tiba suara Nathan memecah konsentrasinya. “Aku kasih dia nilai 8 dari 10 atas hasil ciuman kalian kemarin.”
Dengan kening berkerut bingung, Sandra menoleh ke samping dan mendapati Nathan sudah memutar kursi kerja hingga menghadap dirinya. Kedua tangan yang terlipat di atas perut seolah menandakan bahwa Nathan sudah siap mencecar Sandra dengan pertanyaan-pertanyaan penuh selidiki.
“Apa maksudmu?” tanya Sandra yang segera mengalihkan pandangan kembali ke layar laptop.
“Itu,” jawab Nathan yang mengundang rasa penasaran Sandra. Untuk kedua kalinya, Sandra menatap Nathan. Kali ini, pandangan pria itu tertuju pada area lehernya yang terbuka lebar. “Ada dua cupangan di lehermu.”
Seketika, Sandra terbelalak kaget dan panik. Spontan, ia menangkupkan telapak tangan ke leher, bermaksud menutupi ruam merah yang menjadi topik pembahasan mereka kali ini. Menyadari kepanikan Sandra, Nathan malah tersenyum geli. Sementara itu, Sandra bisa merasakan betapa merah wajahnya saat ini karena malu.
“Kenapa ditutup?” goda Nathan iseng tanpa sedikit pun menghapus senyum geli dari wajahnya, “aku kan sudah melihatnya.”
Menyadari bahwa ucapan Nathan ada benarnya, Sandra mulai menurunkan tangan, menjauh dari area leher. Tak ingin perasaan malu dan kepanikan terlalu lama mendera dirinya, Sandra mencoba menenangkan diri dan bersiap menerima segala nasehat yang mungkin akan Nathan berikan setelah mengetahui betapa liar ciumannya dengan Lucas semalam.
Tadi pagi, Sandra sudah mencoba menutupi bekas cupang itu menggunakan riasan. Ketika keluar dari kediaman penulis yang memiliki janji temu dengannya, Sandra yakin betul kalau riasan itu masih menutupi ruam merah tersebut dengan sempurna.
Namun, perjalanan dari subway menuju kantor memaksa Sandra untuk berjalan sedikit lebih cepat, bahkan hampir berlari. Trench coat yang Sandra kenakan demi menutupi diri dari terpaan angin dingin musin gugur malah membuatnya berkeringat. Alhasil, keringat tersebut melunturkan riasan sedikit demi sedikit.
Bukan tanpa alasan Sandra terburu-buru seperti itu. Panggilan Raffael-lah penyebabnya. Raffael meminta agar surat kerja sama dengan penulis yang Sandra temui tadi pagi, segera diletakkan di meja kerja. Selain itu, Raffael juga memintanya untuk segera menyelesaikan naskah yang sedang ia tangani karena minggu depan harus masuk ke tim designer sebelum kemudian beralih ke divisi percetakan. Kesalahannya, ia lupa memeriksa kembali riasan sebelum duduk di kursi kerjanya.
Sungguh, ia tak berharap Nathan melihat cupang itu. Karena, semakin detail Nathan mengetahui kejadian semalam, semakin kuatlah praduga sahabatnya itu akan betapa lemahnya Sandra saat menghadapi Lucas.
Sandra akui, ada sesuatu di diri Lucas yang membuat Sandra mudah sekali terperangkap. Salah satunya adalah iris biru safir yang begitu memesona Sandra sejak saat pertama kali mereka bertemu. Selain itu, sisi misterius Lucas, sikap yang suka berubah-ubah, dan tampak tidak senang bergaul dengan orang luar semakin membuat Sandra tertarik untuk mencari tahu lebih dalam mengenai kehidupan Lucas di masa lampau. Meski memiliki ketertarikan khusus pada Lucas, Sandra tidak ingin Nathan berpikir bahwa dirinya mudah terpesona dan lemah.
Sekarang, setelah Nathan melihat cupang itu, Sandra berharap agar sahabatnya itu tidak berpikiran negatif terhadapnya. Dengan ogah-ogahan, ia pun memutar kursi menghadap Nathan, kemudian mengempaskan punggung ke sandaran kursi seraya menghela napas panjang.
“Baiklah. Karena kau sudah melihatnya, kuharap kau tidak mengungkit kejadian itu lagi.” Wajah Sandra tertekuk malas bercampur rasa kesal.
“Kenapa?” Penasaran, Nathan menggerakkan kursi kerjanya hingga berada cukup dekat dengan Sandra. Sementara itu, Sandra malah semakin dipenuhi perasaan kesal saat teringat perubahan sikap Lucas tadi pagi.
“Dia adalah manusia paling aneh yang pernah kutemui,” ujar Sandra tipis dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. “Jadi, jangan bahas dia lagi.”
Berniat menghentikan pembahasan terkait ciumannya dengan Lucas, Sandra kembali mengarahkan posisi duduknya menghadap laptop, berusaha melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Namun, Nathan tampaknya tak akan berhenti menggali informasi sebelum rasa penasarannya terpuaskan.
“Wait!” Tangan Nathan segera mencengkeram sandaran kursi Sandra, kemudian memaksa agar kursi tersebut kembali menghadap pria itu. “Maksudmu, semalam kau tidak jadi makan malam dengannya? Kau tidak memaafkannya?”
Sandra memutar bola mata, heran dengan tingkah laku Nathan yang terlihat seperti lebih memihak Lucas daripada sahabatnya sendiri. Raut penasaran yang Nathan tunjukkan bukan hanya menandakan besarnya keingintahuan pria itu, tapi juga terkandung maksud terselubung yang membuat Sandra berbalik penasaran. Tak ingin rasa kesal menguasai kewarasannya, Sandra menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Nathan.
“Aku memaafkannya, tentu saja. Bahkan, makan malam kami berlangsung santai dan menyenangkan.”
“Lalu, apa masalahnya?” tanya Nathan tak sabaran.
Sejenak, Sandra terdiam. Ia menimbang kembali apakah membicarakan masalah ini dengan Nathan adalah keputusan yang benar. Akan tetapi, Sandra menyadari sebaik apa pun ia menutupi hal ini dari Nathan, suatu saat ia sendirilah yang akan menghampiri dan merajuk pada sahabatnya itu demi menumpahkan segala keluh kesahnya atas Lucas.
“Dia berubah,” keluh Sandra sambil melipat kedua tangan di depan dada.
“Jadi apa?” sahut Nathan sembari tersenyum geli. Suasana yang tadinya serius, malah berubah 180 derajat. Kesal karena Nathan tidak menanggapi keluh kesahnya dengan serius, Sandra memberengut.
“Menurutmu dia berubah jadi apa? Please, kalau kau hanya ingin bercanda denganku, kurasa ini bukanlah waktunya. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku.” Sandra menegakkan tubuhnya, kemudian menggeser kursi agar kembali menghadap meja kerja.
“Aku bercanda, aku bercanda,” ujar Nathan meminta maaf disusul tawa kecil, sementara tangan pria itu menahan sandaran kursi Sandra untuk yang kedua kali, “Aku tidak mau kau terlalu murung begitu. Chill out, Darling.”
Berusaha menunjukkan rasa kesalnya, Sandra menepis tangan Nathan dari sandaran, kemudian menarik kursi hingga tubuhnya menempel pada pinggiran meja.
“Oh, Darling. Jangan marah begitu padaku,” bujuk Nathan centil, masih dengan nada menggoda.
“Ah, sudahlah!” Sandra kesal. Berusaha melampiaskan kekesalannya, Sandra menekan keyboard laptop hingga berbunyi kasar.
“Ayolah! Kau kan tahu kalau aku paling tidak suka dengan gosip yang setengah-setengah,” bujuk Nathan lagi, kali ini rasa bersalah terkandung dalam suara centil itu.
“Ini bukan waktunya bergosip, Nat!” tolak Sandra ketus.
“Tapi, kau sudah terlanjur membangkitkan rasa penasaranku,” keluh Nathan manja. “Kau mau aku jadi hantu penasaran?”
“Kau belum mati. Jangan berlebihan!” balas Sandra tanpa menoleh sedikit pun dari layar laptop.
“Oh, ayolah … kau benar-benar mau menyimpan masalah ini dariku?” mohon Nathan dengan wajah memelas.
Tak tega mendengar sahabatnya memohon, Sandra akhirnya menoleh dan luluh pada raut memelas itu. Entah sudah berapa kali Sandra mengembuskan napas pasrah, tapi kali ini embusannya terdengar kasar demi menunjukkan pada Nathan bahwa ia tidak ingin bercanda.
“Kau tahu, aku tidak mungkin menyimpan masalah ini darimu. Hanya kau sahabatku,” ucap Sandra jujur sebelum akhirnya mendorong kursi kerja dan memutarnya hingga menghadap Nathan.
“Itu baru gadisku,” ujar Nathan sarat kebanggaan, “nah, jelaskan padaku, apa yang membuatmu kesal padanya.”
“Seperti yang kukatakan tadi, dia berubah. Bahkan, ini bukan pertama kalinya sikap dia berubah-ubah padaku,” jawab Sandra sembari melipat kedua tangan di depan dada dan bersandar malas pada kursi.
“Berubah-ubah seperti apa?” Nathan mengernyit penasaran. Kali ini, sahabatnya itu benar-benar terlihat serius menanggapi keluhan Sandra.
“Terkadang, dia bisa bersikap seperti seorang gentleman, tapi berselang beberapa waktu selanjutnya dia bisa berubah menjadi pria yang menyebalkan, suka menutut, dan kaku. Seperti yang kuceritakan padamu semalam, awalnya dia menciumku dengan penuh gairah, tiba-tiba dia menghentikan semuanya dan menatapku dengan raut kaku seolah dia baru saja melihat hantu,” jelas Sandra tanpa sedikit pun menutupi rasa kesalnya akan perubahan sikap Lucas.
“Tapi, kau bilang tadi kalau makan malammu berlangsung santai dan menyenangkan. Lalu, apa masalahnya? Berarti kalian sudah berbaikan, kan?” nilai Nathan tanpa sedikit pun mengurangi kerutan heran di keningnya.
“Memang. Dia bahkan membuatkanku sarapan. Kau tahu? Aku senang sekali melihat sarapan itu tersaji di meja makan dengan secarik pesan darinya. Kupikir Dark Shadow benar-benar ingin memperbaiki kesalahannya. Tapi, sewaktu aku menghampirinya di ruang kerja, dia malah bersikap seolah keberadaanku sangat mengganggu. Dia … dia jadi dingin, tertutup, dan misterius. Dia … ah, pokoknya dia itu aneh!” cerita Sandra sambil sedikit mengecilkan suaranya agar tidak didengar oleh orang lain kecuali Nathan.
“Mungkin saat itu dia sedang berkutat dengan ceritanya. Jadi, kurasa masuk akal kalau dia kesal karena kau sudah mengusik konsentrasinya.”
Sandra terbelalak tak percaya mendengar pembelaan Nathan. Bukannya mendukung dan memberi semangat pada Sandra, pria itu malah menyalahkan dirinya. “Oh, jadi sekarang kau adalah sahabatnya?”
“Bukan begitu, Darling,” kilah Nathan membela diri.
“Memang benar kok! Sejak kemarin kau selalu mencoba memintaku untuk mengerti sifat Dark Shadow. Kau bahkan membujukku untuk berbaikan dengannya. Ada apa denganmu?” tegur Sandra seraya menuntut penjelasan yang memuaskan.
“Well, kalau boleh jujur, aku melihat banyak hal positif yang bisa kau peroleh dari kedekatan kalian. Memang benar, awalnya aku melihat hubungan kontrakmu dengan dia adalah sebuah kesalahan. Tapi … setelah aku pikir-pikir, sesuatu yang salah belum tentu akan berakhir salah juga, kan,” jelas Nathan sedikit lebih tenang dan berwibawa.
“Apa maksudmu?” Sandra menyipitkan mata, menatap Nathan dengan penuh curiga.
“Coba pikirkan, sudah berapa lama kau tidak menjalin hubungan serius dengan pria? Dua tahun, tiga tahun? Aku lupa sudah berapa lama kau tidak memiliki kekasih. Tapi, seingatku kau pernah bilang kalau kau berencana menikah di usia 30. Sekarang, kau berusia 30, tapi kau belum juga menikah. Oh! Kau juga jangan lupa, kau sudah janji kepada orangtuamu kalau Thanksgiving ini kau akan membawa pasangan saat berlibur ke rumah mereka.”
Menyadari ke mana arah pembicaraan ini berlabuh, Sandra memajukan tubuh demi menunjukkan pada Nathan bahwa dirinya siap menolak ide gila yang saat ini mungkin sedang bercokol dalam pikiran pria itu.
“Lalu, maksudmu?” tantang Sandra.
“Siapa tahu hubunganmu dengan Dark Shadow bisa berlanjut ke hal yang lebih serius,” jawab Nathan yang kemudian kembali menjadi sosok pria gemulai nan hangat.
“Oh, my God! Kurasa otakmu sudah rusak.” Sandra mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia benar-benar tak menyangka Nathan akan berpikir segila itu.
“Aku serius, Sandra. Kita tidak tahu apa yang terjadi ke depannya. Mungkin saja, hubungan yang awalnya terjalin karena kontrak kerja sama bisa berakhir ke ikatan pernikahan. Benar, kan?” Nathan mencoba menyuntikkan ide gila itu ke dalam benak Sandra.
Memang, tidak ada yang tidak mungkin. Hanya saja, Sandra sama sekali tidak pernah mengharapkan sesuatu yang lebih dari Lucas. Tujuannya hanya ingin mengajak pria itu bergabung dengan penerbitan mereka. Keuntungan berupa sejumlah besar uang yang akan Sandra dapatkan saat hubungan ini berakhir pun sama sekali bukan permintaannya.
Baru saja Sandra ingin melontarkan penolakan, tiba-tiba telepon di meja Nathan berdering. Nathan bergegas mengangkat gagang telepon, berbicara sejenak dengan lawan bicara, kemudian kembali menatap Sandra setelah menutup panggilan.
“Aku harus menemui Raffael lagi untuk yang ketiga kalinya hari ini,” ujar Nathan sembari memasang wajah malas sebelum beranjak dari kursi. Sandra masih terdiam, sama sekali tak penasaran dengan masalah yang Raffael alami hingga harus memanggil Nathan.
“Pikirkan ucapanku, Sandra,” pesan Nathan dengan suaranya yang berat, pertanda bahwa pria itu sedang serius membahas kedekatan Sandra dengan Lucas. “Seandainya pun hubungan kontrak itu berakhir dan kalian tidak berhasil membangun chemistry, setidaknya kau berhasil mengajaknya bergabung dengan perusahaan kita.”
Sandra tertegun menatap kepergian Nathan. Ia berusaha menepis saran aneh yang baru saja sahabatnya itu ucapkan. Namun, saran itu malah terus mengisi benak Sandra seolah berniat mengubah pendiriannya.
Tak ingin tenggelam dalam kemelut baru yang Nathan ciptakan bagi pikiran dan perasaannya, Sandra mencoba kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun setengah jam kemudian, tiba-tiba getaran ponselnya menarik perhatian Sandra. Dengan lirikan sinis, Sandra mencari tahu identitas penelepon yang berani mengusik konsentrasinya. Ketika nama Dark Shadow terpampang di layar, Sandra mengernyit heran, kemudian mengangkat ponsel secepat kilat.
“Ada apa?” tanya Sandra ketus, masih kesal dengan kejadian tadi pagi.
“Aku mau mengajakmu makan malam. Apa kamu ada waktu untukku malam ini?” tanya Lucas tenang dan sopan.
Kening Sandra mengerut heran. Mendengar betapa tenangnya Lucas berbicara menandakan bahwa suasana hati pria itu sudah berubah 180 derajat. Tadi pagi, suara pria itu sangatlah dingin, tegas, bahkan terkesan menaruh benci yang begitu besar pada Sandra. Kali ini, suara Lucas terdengar ringan, tenang, dan bersahabat. Bahkan, Sandra bisa menangkap kehangatan yang meluncur dari ajakan santai itu.
“Makan malam?” ulang Sandra tak percaya.
“Iya. Aku ingin mengajakmu makan malam untuk menebus makan malam sederhana yang kuberikan semalam,” jawab Lucas beralasan. Sandra yakin, wanita mana pun pasti tergoda untuk menerima ajakan makan malam itu. Bagaimana tidak? Alasan yang pria itu berikan seolah menunjukkan bahwa Lucas ingin memberikan yang terbaik bagi pasangannya. Masalahnya, Sandra bukanlah pasangan Lucas yang sebenarnya.
“Kurasa itu tidak perlu. Semalam … makan malamnya … enak,” jawab Sandra kaku, bermaksud menolak.
“Tapi, aku sudah memesan tempat untuk kita,” ungkap Lucas lembut yang malah menimbulkan kesan betapa dalamnya pria itu kecewa akan penolakan Sandra.
Sebuah entakan keras menghantam dada Sandra saat mendengar kata ‘kita’ meluncur dari bibir Lucas. Ia tak pernah mengira bahwa satu kata itu dapat memberikan efek yang luar biasa bagi sekujur tubuh dan pendiriannya. Bahkan, napas Sandra tercekat dan jantungnya seolah berhenti berdetak selama sepersekian detik akibat satu kata itu.
“Kamu yakin kalau ini keputusan yang baik untuk … kita?” tanya Sandra seraya memberi penekanan pada kata ‘kita’.
“Tentu saja. Aku benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita. Kuharap, makan malam ini dapat menebus kesalahanku kemarin dan tadi pagi. Dengan begitu, hubungan kita dan cerita yang sedang kubuat sekarang bisa benar-benar berjalan dengan baik.”
Well, wanita mana yang tidak luluh mendengar bujukan lembut itu? Meskipun Sandra tahu alasan Lucas ingin memperbaiki hubungan mereka adalah agar novel yang sedang dibuatnya bisa berjalan lancar, tapi tetap saja Sandra luluh. Semudah itu? Ya, semudah itu, dan Sandra pun heran pada dirinya sendiri.
“Baiklah. Aku akan makan malam denganmu,” jawab Sandra akhirnya. Anehnya, ia bisa merasakan angin sejuk menembus rongga pernapasan saat menyetujui permintaan itu.
“Sungguh?” Lucas terdengar cukup terkejut di balik sana.
“Hmm,” gumam Sandra menjawab ketidakpercayaan Lucas.
“Great! Jam berapa kamu selesai?”
“Sekitar jam 6 sore,” jawab Sandra tenang sembari kembali menatap layar laptop.
“Kalau begitu, aku akan menjemputmu,” ujar Lucas riang.
Kening Sandra seketika mengerut ragu saat mendengar ucapan pria itu. “Kamu yakin?”
“Tentu saja.” Lucas terdengar begitu bersemangat. “Tapi … boleh aku minta satu hal darimu?”
“Apa?”
“Jangan beri tahu siapa pun, bahkan Nathan, kalau aku akan menjemputmu,” mohon Lucas dengan sedikit nada memelas.
“Baiklah.” Sandra menyanggupi. Karena ia tahu, permintaan itu berhubungan dengan kerahasiaan identitas Lucas.
*****
