BAB 1
“Dark Shadow?”
Sandra mengangguk cepat disertai seringai gembira demi menjawab pertanyaan Nathan, salah satu senior editor yang juga merupakan kerabat terdekatnya di Harold & Hammer Publishing yang berlokasi di Rockefeller Plaza, New York. Iris cokelat yang sering mengerling genit padanya, kali ini terbelalak tak percaya mendengar betapa beraninya Sandra menerima tugas menantang dari pemimpin redaksi, Raffael Smith.
“Satu Caramel Frappuccino grande dan satu Caffé Americano tall 3 shots,” pesan Sandra ketika tiba di depan meja kasir Starbucks. “Kau pesan apa?”
“Kenapa kau pesan dua minuman?” Sambil menekan satu tangan di pinggir meja kasir dan tangan yang lain berkacak pinggang, Nathan terus menatap Sandra seolah dirinya adalah tersangka kejahatan.
“Aku butuh melek malam ini. Kau tidak ingat kalau aku punya tugas penting?” jelas Sandra seraya mengeluarkan kartu pembayaran dari dompet.
“Dark Shadow itu bukan hanya tugas pen—”
“Kau pesan apa?” potong Sandra cepat, tidak ingin percakapan mereka memperlambat barisan antrean.
“Pistachio Cream Cold Brew grande,” jawab Nathan pada wanita cantik di balik mesin kasir, kemudian kembali menatap Sandra dengan sorot tegas dan bibir mengerucut sarat protes. “Ceritakan padaku selengkapnya!”
“Take it easy, Darling.” Sandra menyerahkan kartu pembayaran kepada kasir. Nathan, yang sudah tidak sabar mendengar ceritanya, langsung menggepit lengan Sandra dan menariknya ke area pengambilan pesanan setelah ia memasukkan kembali kartu pembayaran ke dompet.
“Aku sudah sabar selama lima menit. Sekarang, cerita!” Nathan menuntut dengan tatapan yang sedari tadi tak henti-hentinya mengunci Sandra. Namun kali ini, kedua tangan pria itu terlipat di depan dada, sehingga barisan kancing kemeja di area perutnya yang sedikit berisi terlihat seperti ingin lepas dari tempatnya.
“Astaga, Nat! Tak bisakah kau menunggu sampai kita duduk?”
“Tidak!” jawab Nathan secepat kilat menyambar. “Tingkat kesabaranku sangatlah tipis. Kau tahu itu, Darling. Cepat cerita padaku atau aku bakalan kena serangan jantung.”
“Jangan bercanda! Jantungmu baik-baik saja.”
“Tidak ada yang baik-baik saja jika berkaitan dengan Dark Shadow,” tukas Nathan, kemudian menyugar rambut hitam pekat yang mulai menutupi kening dan hampir menyentuh kelopak mata. Gaya kemayu dan kedipan bulu mata centil itu membuat pria berwajah oval dan bertubuh sintal yang saat ini berdiri di hadapan Sandra malah terlihat makin menggemaskan. Usia mereka memang tidak terlalu jauh. Nathan hanya berusia tiga tahun lebih tua dari Sandra.
“By the way, kenapa sih kau penasaran sekali dengan si Dark Shadow ini? Kenapa kau tidak penasaran dengan apa yang akan kudapatkan kalau aku berhasil mengajak dia bergabung?” Sandra tak sabar ingin menceritakan alasan di balik kesiapannya menerima tugas dari Raffael.
“Redaksi pelaksana. Aku sudah tahu karena Raffael sempat menawarkanku posisi itu, tapi aku menolaknya. Kau tahu kalau aku belum siap menerima tanggung jawab sebesar itu. Lagi pula, aku tidak peduli seandainya Raffael akan memberimu pesawat sekali pun. Aku hanya penasaran dengan apa yang dia katakan padamu tentang si Dark Shadow ini dan bagaimana caramu menggaetnya agar mau bergabung dengan penerbit kita,” desak Nathan makin tak sabaran.
“Well, kau harus menambah sedikit lagi kesabaranmu karena aku tidak akan bicara sampai minumanku datang. Kau tahu, otakku tidak bisa berpikir jernih kalau belum minum kopi,” kilah Sandra sambil mengalihkan perhatian ke barista yang bergerak cekatan meramu setiap pesanan.
Akhirnya, Nathan berdecak kesal lalu menatap tak sabaran ke arah barista. Sandra tahu betul betapa enggannya Nathan disuruh menunggu. Pria itu adalah manusia paling tidak sabaran yang pernah Sandra kenal.
Beberapa saat kemudian, minuman mereka pun sudah siap di nikmati. Sandra langsung membawa dua minumannya ke salah satu meja yang kosong, sementara Nathan memilih untuk menyesap kopinya terlebih dahulu. Senyum kecil seketika menghiasi wajah Nathan, kemudian pria itu bergegas menghampiri Sandra yang sudah duduk dan menyesap minuman melalui sedotan.
Seperti biasa, mereka berdua selalu mengisi sisa waktu istirahat makan siang dengan menikmati segelas kopi di Starbuck sambil bertukar informasi mengenai pekerjaan. Saking seringnya berkunjung, para pekerja di tempat itu mengenal mereka layaknya sahabat. Bahkan, tak jarang mereka melakukan pertemuan ringan dengan beberapa penulis di sini demi efisiensi waktu dan biaya.
“Nah, otakmu sudah bisa berpikir jernih, kan? Sekarang, cerita padaku!” tuntut Nathan tak sabaran sembari memajukan tubuh hingga menyentuh pinggiran meja.
“Apa tadi pertanyaanmu?” Sandra pura-pura lupa demi memancing kekesalan Nathan. Ia mengibas ringan rambut hitamnya yang panjang ke balik pundak, kemudian menopang dagu dengan salah satu tangan.
Benar saja, pria itu mendengus kesal, kemudian memutar bola mata. “Apa yang Raffael katakan padamu mengenai Dark Shadow?”
“Hmm, dia hanya mengatakan kalau Dark Shadow adalah penulis ternama yang telah menerbitkan 10 buku terlaris, yang membuat salah satu penerbit saingan kita memperoleh keuntungan berlipat-lipat karena karya-karyanya. Jujur, aku tidak terlalu mengenal penulis ini. Kau tahu sendiri kalau aku tidak suka dengan cerita bergenre pembunuhan. Aku memang pernah mendengar namanya dari beberapa editor junior karena mereka membaca karya pria itu, tapi … tetap saja aku tidak berniat mencari tahu tentang—”
“Oh, God! Langsung ke inti masalah, Darling. Kau benar-benar membuatku gemas,” potong Nathan sambil mengaduk-aduk minuman dengan sedotan, tak sabaran.
“OK. OK,” sahut Sandra sembari tersenyum kecil. “Jadi, Dark Shadow ini sempat memutuskan untuk menarik seluruh karya-karyanya dari penerbit tersebut dua atau tiga tahun lalu, bahkan rela membayar ganti rugi yang ditimbulkan dari penarikan naskah itu. Nah, katanya Raffael, Dark Shadow ini tiba-tiba muncul di salah satu platform menulis dengan karya terbaru. Dari situlah Raffael tahu, bahkan para pemimpin penerbitan menyadari bahwa Dark Shadow telah memutuskan kembali ke dunia menulis. Itulah kenapa Raffael memintaku untuk menghubungi Dark Shadow agar mau bergabung dengan penerbitan kita.”
“Itu saja?” Nathan tampak tak percaya, keningnya mengerut hingga kedua alis hampir menyatu.
“Iya. Memang itu saja yang dia ceritakan padaku.” Sandra menyesap Caramel Frappuccino kesukaannya, menikmati manisnya karamel dan pahitnya kopi yang bercampur menjadi satu kesatuan nan menyenangkan di lidah.
“Apa dia tidak cerita seberapa sulitnya menemui Dark Shadow? Apa dia juga tidak cerita kalau sampai detik ini tidak ada yang tahu seperti apa wujud seorang Dark Shadow? Apa dia juga tidak memberitahumu sekeras apa penerbit sebelumnya membujuk pria itu untuk bergabung?”
Suasana Starbuck yang ramai tak sedikit pun menyurutkan Nathan untuk memuntahkan pertanyaan-pertanyaan itu. Nada bicara yang semakin tinggi dan cara Nathan menatapnya seolah-olah memarahi kebodohan Sandra yang begitu mudah menyanggupi perintah Raffael. Bingung dengan pertanyaan dan reaksi Nathan, ia hanya menggeleng sambil memasang raut polos, sementara tangannya sesekali menarik keluar sedotan demi bisa menjilati whipped cream yang menempel di badan sedotan.
“Oh, please, Darling. Jangan memasang wajah innocent-mu yang menggemaskan itu. Aku tahu kau tidak sepolos itu.”
Teguran Nathan malah membuat Sandra menyeringai malu. Nathan memang sangat dekat dengannya. Begitu dekatnya sampai kedua orangtua Sandra selalu mengundang pria itu ke rumah kelahirannya di Beaver Hills, New Heaven. Setiap kali mereka mengadakan hari raya, mulai dari Paskah, Thanksgiving, Natal, hingga tahun baru, Nathan selalu menjadi bagian dari keluarganya.
Nathan juga selalu menjadi tempatnya bercerita. Pria itu tak pernah sekali pun memarahinya jika ia menelepon tengah malam hanya untuk menangis dan marah-marah setiap kali mendapatkan naskah yang berhasil menguras emosinya. Bahkan, selalu siap menemaninya tidur setiap kali Sandra ketakutan sehabis menonton film horor.
Selain itu, hanya Sandralah yang tahu seperti apa Nathan yang sesungguhnya. Meski sering tampil dengan gaya centil dan kemayu, Sandra tahu kalau Nathan tetap menyukai wanita. Bahkan, Nathan sempat menjalin hubungan yang cukup serius dengan seorang wanita satu tahun yang lalu. Sayangnya, hubungan itu kandas karena Nathan tidak berani melamar. Mereka berdua begitu dekat dan terbuka satu sama lain. Saking terbukanya, Sandra sulit sekali untuk menyimpan rahasia dari Nathan.
“Aku memang tidak polos, Nat, tapi aku tidak pernah berbohong padamu. Memang hanya itu yang Raffael ceritakan padaku.”
Sandra menyandarkan punggung di sandaran kursi yang terbuat dari kayu, sementara Nathan menggeleng kesal mendengar kejujurannya. Pria itu kemudian menyedot minumannya lalu mengembuskan napas panjang, tampak seperti terbebani oleh pikirannya sendiri.
“Kau tahu kenapa aku bilang ‘tidak ada yang baik-baik saja jika berkaitan dengan Dark Shadow’?” Nathan membuka kembali percakapan yang sempat terhenti selama beberapa detik lamanya. Spontan, Sandra menggeleng cepat, kemudian mengangkat minumannya dan merasakan kembali perpaduan manis-pahit yang begitu ia sukai.
“Dark Shadow adalah masalah!” tukas Nathan sedikit menekan volume suara sembari menjulurkan kepala ke depan, seolah yang pria itu bicarakan adalah sebuah rahasia yang sangat penting.
“Kau terlalu berlebihan, Nat.” Sandra menanggapi dengan santai sambil menikmati minumannya yang sudah hampir habis setengah gelas.
“Aku serius, Darling! Dia itu … aduh, bagaimana aku menggambarkannya, ya?” Nathan berhenti sejenak untuk menyedot minumannya. Kepanikan nyata yang tergambar di wajah pria itu membuat Sandra kembali menegakkan posisi duduknya.
“Pokoknya, dia itu malapetaka! Kau sebaiknya menolak tugas itu atau kau akan menyesal. Ini saran dari pria terbaik yang tak akan pernah membohongimu, Sandra. Dengarkan aku, please!” mohon Nathan yang malah membuat Sandra semakin penasaran dengan sosok Dark Shadow.
“Kenapa sih? Apa dia pembunuh berdarah dingin? Dia cabul?”
“Bukan! Dia lebih dari itu. Dia adalah … apa ya istilah yang tepat untuknya? Emm, kau tahulah arti dari Dark Shadow. Dia itu serupa bayangan hitam yang mampu membuat siapa pun menyerah, bahkan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dia itu ….”
“Iblis?” lanjut Sandra sembari tersenyum geli.
“Kurasa dia pantas disebut seperti itu,” timpal Nathan setuju. “Asal kau tahu, lebih dari lima orang editor senior langsung mengundurkan diri setelah menghubungi dia. Aku dengar selentingan kalau dia itu tak segan menantang para editor. Aku tidak tahu tantangan seperti apa, tapi yang pasti mereka semua selalu berakhir sama. Menyerah dan mengundurkan diri.”
“Ah, itu kan hanya selentingan. Kenapa kau—pria yang selalu percaya pada fakta—malah percaya hal-hal seperti itu?” ujar Sandra setelah mendengus geli mendengar cerita Nathan.
“Karena, salah satu editor yang menyerah itu adalah temanku waktu kuliah dulu.”
Pernyataan Nathan malah membangkitkan rasa penasaran Sandra. “Hmm … kau tahu kan kalau aku suka tantangan?”
“OMG! Please, jangan bilang kalau kau akan tetap menerima tugas itu?” sahut Nathan sambil memasang raut tak percaya.
“Tentu saja! Kau sangat mengenalku, Nat. Semakin sulit sebuah tugas, semakin senang aku mengerjakannya.” Senyum lebar mengembang di wajah Sandra. Namun, kali ini Nathan tidak setuju dengan pilihan Sandra. Pria itu bahkan tampak kecewa.
“Kau pasti gagal!”
Sandra mendengus geli mendengar penilaian Nathan. Ia kembali menyedot minumannya, kemudian menatap sahabatnya lekat-lekat. Sambil meletakkan gelas minuman di meja, Sandra memajukan tubuh hingga menempel di pinggiran meja.
“Bagaimana kalau aku berhasil? Kau berani memberiku apa?” Sorot menantangnya berbanding lurus dengan senyum miring angkuh yang mengukir bibir Sandra saat membalas ucapan Nathan. Kuku jemari yang dipoles kuteks merah muda mulai mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme tetap, tapi sarat antusias.
Sandra tak sabar menunggu jawaban Nathan. Pria itu tahu betul bagaimana Sandra sangat menyukai tantangan. Selama empat tahun bekerja di H&H Publishing sebagai editor senior, ia tak pernah gagal melaksanakan tugas yang diperintahkan padanya. Bahkan, tugas terberat sekali pun.
Terlahir sebagai anak bungsu perempuan satu-satunya, bukan artinya Sandra tumbuh menjadi wanita manja dan cengeng. Memiliki dua kakak laki-laki yang rentang usianya tidak terlalu jauh pun berhasil membentuk Sandra menjadi wanita yang tangguh dan cerdas. Tekad bulat serta sifat pantang menyerahnya pun ia peroleh dari gen keluarga yang merupakan keturunan marinir.
Sandra Anderson tidak pernah gagal! Nathan tahu betapa ia begitu berambisi menjadi redaktur pelaksana di H&H Publishing. Saat redaktur pelaksana yang sudah bekerja selama tujuh tahun memutuskan mengundurkan diri, Sandra sudah bertekad ingin mengisi posisi itu bagaimana pun caranya.
Seolah sudah digariskan, tadi pagi Raffael memanggilnya ke ruangan dan menawarkan posisi redaktur pelaksana padanya. Sandra tentu saja menyambut tawaran tersebut dengan tangan terbuka meski ia harus menjalani satu tugas sebagai penentu apakah dirinya layak untuk posisi itu atau tidak.
Jujur, Sandra baru tahu kalau ternyata Dark Shadow adalah penulis yang sulit untuk ditaklukkan. Mengetahui bahwa beberapa editor senior dari penerbit pesaing menyerah dan mengundurkan diri, sempat membuat Sandra ragu dengan tugas itu. Namun, entah mengapa kemustahilan yang menempel pada Dark Shadow malah semakin membakar semangat Sandra.
“Bagaimana kalau kau tidak berhasil? Kau berani memberiku apa?” tantang Nathan balik, sadar bahwa usahanya untuk mencegah Sandra telah gagal.
“Oh, come on! Kau tahu kalau peluang menangmu sangat kecil. Aku selalu berhasil, Nat.” Sandra begitu bangga pada dirinya sendiri. Mendengar besarnya kepercayaan diri yang terlontar dari bibir Sandra, Nathan hanya mengedikkan bahu sembari melengkungkan bibir ke bawah. Sikap acuh tak acuh itu malah membuat Sandra makin tertantang.
“Tak ada yang tak mungkin,” balas Nathan, kemudian menyedot kopinya. “Bahkan, pembalap motor terhebat sekali pun pernah jatuh, Sandra.”
“Oke! Aku terima tantanganmu.” Sandra menjulurkan tangan ke hadapan Nathan sebagai tanda persetujuan akan sebuah taruhan. “Kalau aku tidak berhasil, aku akan membelikan laptop terbaru yang sudah kau incar sebulan yang lalu.”
“Ah, terlalu mudah,” balas Nathan seraya menepis ringan telapak tangan Sandra. Sambil melipat kedua tangan di atas meja, Nathan memasang raut serius dan mengangkat satu alis, licik dan penuh siasat.
“Kalau kau kalah, kau harus membelikanku tiket pulang-pergi ke Hawaii beserta hotel dan uang jajannya. Bagaimana?” tantang Nathan bersemangat diiringi senyum lebar sarat kemenangan.
“Damn! Kurasa kau ingin membuatku bangkrut.” Sandra kembali bersandar di kursi kayu, melipat kedua tangan di depan dada seraya memasang raut cemberut.
“See! Aku tahu kau takut,” ledek Nathan sembari menyugar rambut.
“Siapa bilang kalau aku takut?” sahut Sandra tak mau kalah aksi. “Hanya saja, permintaanmu bisa menguras tabunganku. Lagi pula, kalau aku menang, kau berani memberiku apa?”
“Kau mau apa? Sebut saja.” Kali ini, Nathan menanggapi dengan kobaran semangat di matanya.
“Hmm, kalau begitu aku samakan saja dengan permintaanmu. Hawaii sepertinya menarik untuk dikunjungi,” sahut Sandra sambil tersenyum miring. Kemudian, Sandra menjulurkan kembali tangannya ke hadapan Nathan. “Deal?”
Sejenak, Nathan menatap tangan Sandra, seolah menimbang peruntungannya. Sementara, Sandra sudah sangat yakin dengan keberhasilan yang akan ia peroleh. Dark Shadow bukanlah hambatan baginya. Dark Shadow tak jauh berbeda dengan penulis-penulis ternama yang berusaha memasang harga tinggi demi sebuah keuntungan semata. Maka dari itu, tak ada secuil pun keraguan muncul dalam diri Sandra.
Akhirnya, Nathan menjabat tangan Sandra. “Deal!”
*****
BAB 2
Sandra merentangkan kedua tangan ke atas kepala seraya meregangkan tubuh dan kakinya yang kaku akibat berjam-jam menatap layar laptop dan ratusan barisan kalimat pada naskah yang sedang ia tangani. Baru saja Sandra menghela napas lega karena jam kerja telah usai, tiba-tiba Nathan muncul dari balik pembatas bilik meja kerja tepat di sampingnya.
“Kau sudah tahu bagaimana cara menemukan Dark Shadow?” Rasa penasaran yang tak kunjung surut sejak mereka kembali dari Starbuck, masih terus menaungi wajah Nathan.
“Kau berbakat membuat orang jantungan,” gerutu Sandra sarat protes. Sambil menarik kemeja putihnya yang tertarik sedikit akibat peregangan tadi, Sandra memperbaiki posisi duduk dan kursinya.
“Sudah tahu belum?” Pertanyaan sarat tuntutan itu kembali meluncur dari bibir Nathan. Namun, Sandra menjawab dengan kedikan bahu, bibir melengkung cemberut, dan gelengan lemah.
“Aku sudah mencari informasi lokasi tempat tinggalnya di laman pencarian, tapi tidak ketemu. Aku juga sudah bertanya pada tiga editor junior yang mengaku pembaca setia karya-karyanya, tapi tak satu pun dari mereka mengetahui di mana lokasi keberadaan Dark Shadow. Kau yakin temanmu yang pernah menghubungi Dark Shadow itu tidak mau memberi tahu?”
“Tidak,” jawab Nathan sembari mendorong kursi kerja ke belakang, menjauh sedikit dari meja kerja, dan memutarnya hingga menghadap Sandra. “Katanya, dia tidak mau ada orang yang mengalami hal serupa dengannya. Dia malah bilang padaku kalau hanya orang gila dan tidak punya otak yang nekat menghubungi Dark Shadow.”
“Aku bukan orang gila, dan aku yakin otakku masih ada di tempatnya.” Sandra membungkuk hingga kursi kerjanya terdorong ke belakang, kemudian menopang dagu di atas kedua tangan yang terlipat malas di atas meja. Embusan kesal melesat cepat dari bibir Sandra, sementara matanya menatap layar laptop yang masih menampilkan naskah yang sedang ia edit.
“Kapan terakhir kali dia menghubungi Dark Shadow?” Pertanyaan itu sempat Sandra lontarkan pada Nathan ketika mereka masih menikmati kopi di Starbuck. Ia hanya ingin memastikan kembali informasi tersebut.
“Dua bulan lalu, itu pun setelah dua editor senior dari penerbit saingan kita mengundurkan diri,” jawab Nathan malas-malasan. “Kenapa kau bertanya lagi?”
“Dua bulan lalu …,” gumam Sandra pelan. “Dia bertemu langsung atau—”
“Satu kali melalui surel, satu kali pertemuan secara langsung,” potong Nathan cepat, mulai bingung dengan pertanyaan berulang yang Sandra berikan.
“Berarti dia pernah bertatapan langsung, kan?” Sandra melontarkan kalimat yang terdengar seperti pertanyaan di telinga Nathan. Padahal, Sandra hanya mengungkapkan pendapat serta isi pikirannya.
“Memang, tapi pria itu menutupi wajahnya dengan masker dan tak pernah melepaskan topi selama berbicara. Kurasa dia memang berusaha menjaga identitasnya.” Nathan mulai berspekulasi. Bagi Sandra, dugaan Nathan ada benarnya.
“Dan mereka bertemu di—”
“Restoran, malam hari. Hei! Kenapa kau bertanya lagi? Apa ada yang salah denganmu?”
Sandra tak menggubris protes Nathan. Ia malah memikirkan kembali rencana dan kata-kata pamungkas yang akan ia gunakan ketika bertemu Dark Shadow. Masalahnya, sampai detik ini ia masih belum menemukan alamat tempat tinggal pria itu. Ia juga sudah menghubungi Dark Shadow via pesan di platform tempat pria itu memulai kembali jejak digitalnya dan meninggalkan alamat surelnya agar lebih mudah berkomunikasi. Namun, tetap saja belum membuahkan hasil.
Entah sudah berapa kali Sandra membuka platform tersebut dengan harapan Dark Shadow menjawab pesannya. Bukannya menjawab, pria itu malah menerbitkan bab terbaru dalam ceritanya. Sandra kembali mengembuskan napas kesal.
“Ternyata dia lebih sulit dari yang kubayangkan,” gumam Sandra sambil menatap keyboard laptop, sementara pikirannya menerawang jauh entah ke mana.
“Jadi … kau menyerah?”
Tak menyukai penilaian tersebut, seketika Sandra menegakkan posisi duduk dan menghadap Nathan sambil bersedekap. “Aku? Menyerah? Kau tahu kalau aku tidak pernah menyerah, kan? Atau … jangan-jangan kau yang takut kalah taruhan?”
“Aku tidak takut kalah taruhan. Hanya saja, kali ini aku yakin kau pasti gagal.” Sambil mengayun-ayunkan sandaran kursi kerja ke belakang layaknya kursi goyang, Nathan mengembangkan senyum kemenangan di wajahnya yang menggemaskan. Salah satu alis tebal itu pun digerakkan naik-turun demi menggoda Sandra dan tekadnya.
“Cih! Teman macam apa kau ini. Teman yang baik tidak akan mendoakan temannya gagal.” Sandra menatap jengkel Nathan.
“Kau salah.” Nathan berhenti mengayun sandaran kursi lalu menegakkan posisi duduk dan mengacungkan jari telunjuk sambil memasang raut serius bak seorang ayah sedang menasihati anaknya. “Teman yang baik itu tidak akan lelah menasihati temannya yang mulai bertindak tidak masuk akal dan berpotensi membahayakan pekerjaannya.”
Sandra menggigit dinding bagian dalam pipi, lalu menggeleng malas dan mengembuskan napas cepat. Kemudian, ia mengalihkan perhatian dari Nathan dan mematikan laptopnya. Selang beberapa detik, terdengar embusan napas pasrah Nathan ketika Sandra sibuk merapikan meja kerja.
Sebagai sahabat terbaik dan teman sekerja yang sudah mengenalnya lebih dari siapa pun, pria itu pasti tahu kerasnya tekad Sandra saat menjalani sebuah tugas. Bahkan, setiap pekerjaan yang selalu dipandang mustahil oleh orang lain, selalu berhasil Sandra lakukan jika ia sudah bertekad untuk menyelesaikannya. Itulah mengapa meski tidak menyukai keputusannya, tetap saja Nathan menjadi support system-nya, selalu berada di sisi Sandra dan penasaran dengan setiap rencananya.
“Kenapa kau tidak bertanya pada Raffael? Siapa tahu dia punya sedikit petunjuk,” saran Nathan sambil lalu seraya mematikan laptop.
“Dan berpotensi mendapatkan penilaian sebagai orang yang mudah menyerah? Oh, tidak. Tentu saja, tidak!” tolak Sandra cepat seraya memasukkan ponsel ke tas selempang kecil yang selalu ia gunakan ke kantor.
“Hmm, terserah. Setidaknya aku sudah memberi saran.” Nathan menimpali seraya bangkit dari kursi dan memasukkan laptop ke tas.
“Terima kasih atas sarannya,” ujar Sandra demi menutup percakapan mengenai Dark Shadow yang nyatanya berhasil menyita sebagian besar kegiatannya sore ini.
Masih sambil memikirkan cara termudah menggapai keberadaan Dark Shadow, Sandra memasukkan laptop ke tas khusus, kemudian mengenakan trench coat berwarna cokelat tua demi menutupi kemeja putih lengan panjang yang ia kenakan hari ini. Tak lupa, ia menguncir kuda rambutnya dan membuang gelas minuman Starbuck yang sudah kosong ke tempat sampah di bawah meja kerjanya.
“Jadi, malam ini kita makan di mana?” tanya Nathan seraya mengenakan trench coat hitam yang sedari tadi disampirkan pada sandaran kursi kerja.
“Kurasa, aku akan memesan Chinese food saja. Naskah ini harus selesai dalam seminggu supaya bisa masuk ke bagian proofreading.” Sandra menyelempangkan tas kecilnya, kemudian menenteng tas laptop.
“Hmm, ide yang bagus. Aku juga masih harus membaca naskah terbaru yang baru saja masuk ke surelku.”
*****
Memasuki pertengahan Oktober, musim gugur di Manhattan kali ini terasa sedikit lebih dingin dari tahun sebelumnya. Beruntung, sepatu boots hitam yang ia kenakan berhasil menghalau dinginnya suhu udara yang perlahan-lahan menurun saat menjelang malam. Celana panjang bahan berwarna cokelat muda yang membalut kedua kaki Sandra setidaknya memberikan kehangatan yang cukup di setiap langkahnya saat memasuki bangunan bertingkat delapan yang sudah ia tempati selama tujuh tahun terakhir.
Dibangun tahun 1920 dan telah mengalami pemugaran di tahun 1980, tidak sedikit pun membuat bangunan tersebut tampak menyeramkan atau terkesan kuno. Malah, bangunan yang memiliki empat belas unit di dalamnya ini masih tetap kokoh dan terawat. Lift yang setiap hari mengantarnya ke lantai delapan pun sudah diperbaharui sehingga para penghuni apartemen dapat menggunakannya dengan aman. Sandra sangat menyukai tempat ini, begitu juga Nathan yang memilih pindah dari apartemen lama ke satu lantai di bawahnya tiga tahun lalu.
“Langsung kabari aku kalau kau dapat kabar terbaru dari Dark Shadow!” Sandra menggeleng, tak percaya mendengar pesan penuh ketegasan yang Nathan lontarkan sebelum pria itu keluar dari lift.
“Kurasa, lama-lama kau bisa jatuh cinta padanya,” ledek Sandra iseng, kemudian tersenyum menertawakan rasa penasaran Nathan.
“Dasar! Kau tahu kalau aku masih suka WANITA!” Nathan meneriakkan kata-kata terakhirnya tepat ketika pintu lift tertutup. Keheningan seketika melingkupi Sandra, dan senyum yang sebelumnya menghiasi wajah langsung lenyap secepat munculnya. Meski hanya beberapa detik sebelum pintu lift kembali terbuka di lantai delapan, setidaknya keheningan yang sesaat itu berhasil memberikan ketenangan bagi pikiran dan hati Sandra.
Setelah keluar dari lift dan membuka pintu apartemen serta menekan sakelar lampu yang berada tak jauh dari pintu, Sandra menyampirkan trench coat di tiang gantungan yang berada tak jauh dari pintu masuk. Lampu yang hanya menerangi area pintu masuk sudah cukup bagi Sandra untuk melenggang tenang memasuki tempat tinggalnya yang nyaman dan hangat.
Apartemennya tidak terlalu mewah, tapi nyaman. Dengan langit-langit tinggi serta keberadaan mezzanine yang cukup memadai untuk dijadikan area tempat tidur, memberikan kesan megah dan luas. Dindingnya yang sebagian besar masih merupakan bata ekspos, memberi kesan antik, tapi tidak kusam, apalagi menyeramkan. Jendela-jendela besar yang mengarah langsung ke jalanan, memberi keleluasaan bagi sinar rembulan untuk masuk dan menyinari area TV serta ruang makannya yang memang tidak disekat demi menciptakan efek lebih luas.
Tangga ulir menuju mezzanine yang berada tak jauh dari pintu masuk, dibuat khusus demi kenyamanan pengguna apartemen. Dapur yang sudah modern dan berada tepat di bawah mezzanine menjadi salah satu area yang paling Sandra sukai, meskipun ia terbilang jarang memasak makanan berat akibat rutinitas kesehariannya.
Satu hal lagi yang membuat Sandra begitu nyaman tinggal di apartemen ini, yaitu taman atapnya yang menakjubkan. Memiliki pintu khusus yang langsung mengarah ke taman atap, memberikan keleluasaan bagi Sandra untuk menikmati keindahan pemandangan kota Manhattan di malam hari ditemani segelas cokelat panas. Salah satu ritual khusus yang sering ia lakukan sebelum memutuskan naik ke tempat tidur.
Sambil mengembus napas lelah, Sandra segera menaiki anak tangga menuju ruang tidur. Pikirannya terus tertuju pada Dark Shadow. Bahkan, ketika meletakkan tas laptop di meja kerja dan menggantungkan tas selempang kecil di gantungan yang berada di samping lemari pakaian, Sandra masih mencari cara yang tepat agar dapat menemui penulis misterius itu.
Sejak keluar dari kantor, Sandra sudah bertekad untuk kembali menelusuri jejak digital Dark Shadow. Bahkan, meneliti blog dan setiap postingan di media sosial Dark Shadow. Ia sempat membuka salah satu media sosial pria itu dan menemukan fakta bahwa postingan terakhir adalah berita dua tahun yang lalu—berita mengenai ditariknya semua karya Dark Shadow dari penerbit. Selain itu, tak ada satu pun pemberitahuan tentang cerita baru yang pria itu tulis, begitu juga dengan kabar kembalinya Dark Shadow ke dunia kepenulisan.
Tak ingin membuang waktu hanya dengan melamun, Sandra bergegas mandi secepat yang dapat ia lakukan, kemudian mengenakan kaos santai dan celana panjang piama berbahan lembut nan nyaman. Dengan semangat berkobar ingin mencari keberadaan Dark Shadow, Sandra langsung duduk di kursi kerja, mengeluarkan laptop dari tas, kemudian meregangkan tubuh dan mengatur posisi yang tepat agar bisa berlama-lama berkutat di depan laptop. Rambutnya yang masih basah pun ia biarkan terbungkus handuk.
Ia berniat membuka laptop, tapi perutnya yang bergemuruh mengingatkan Sandra untuk segera memesan Chinese food dari salah satu restoran favoritnya. Meski enggan beranjak dari kursi kerja, Sandra kemudian mengambil ponsel dalam tas selempang yang ia gantung dekat lemari pakaian, dan bergegas menghubungi restoran favoritnya. Setelah memesan makanan, Sandra meletakkan ponsel di meja kerja dan melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.
Baru saja ia menyalakan laptop, tiba-tiba ponselnya bergetar singkat. Sandra melirik ke ponsel dan melihat ikon surel muncul di layar. “Hah! Kenapa sih ada saja gangguan?”
Dengan setengah hati, Sandra mengangkat ponselnya, lalu membuka surel masuk tersebut. Sedetik kemudian, mata Sandra terbelalak, napasnya tercekat, bahkan jantungnya seolah berhenti berdegup.
“Dark Shadow?”
Sandra mengucapkan nama itu seolah sesuatu yang sakral. Begitu pelan dan penuh ketidakpercayaan. Namun, keterkejutannya hanya berlangsung beberapa detik, sebelum digantikan dengan kening mengernyit tegang diiringi gelombang amarah yang seketika menyergapnya saat membaca isi dari surel tersebut.
“Apa-apaan ini? Sialan! Dia kira aku takut?”
*****
Langit malam yang tampak kelabu dengan suhu udara yang mulai terasa dingin menusuk kulit seharusnya menjadi suasana yang mendukung bagi Dark Shadow dalam menciptakan suasana mencekam pada ceritanya. Namun, sesuatu mengusik perhatiannya, mengusik ketenangannya. Sesuatu yang tak pernah ia kira akan menghampirinya.
Hari ini, ia belum membuka platform tempatnya memutuskan untuk kembali ke dunia kepenulisan. Platform yang setidaknya memiliki sistem di mana ia dapat memosting karya dengan menggunakan pengaturan jadwal tayang. Dengan begitu, ia tak perlu repot harus membuka platform setiap hari dan bisa fokus mengetik.
Dark Shadow baru saja tiba di apartemen dan berniat melanjutkan ketikannya yang sempat terhenti sewaktu ia keluar untuk menyegarkan mata serta menikmati makan malam sendirian di salah satu kafe favoritnya yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Saat Dark Shadow membuka platform untuk melihat tingkat pembaca hari ini, ia malah menemukan pesan masuk yang cukup menarik perhatiannya.
Beberapa saat, Dark Shadow membaca pesan tersebut sembari mencari jawaban terbaik untuk mengusir atau sekedar menakuti sang editor yang berniat mengajaknya bekerja sama. Dengan senyum tipis miring dan iris biru safir yang memancarkan antusias sarat kejahilan, Dark Shadow mulai membuka surel demi membalas pesan masuk itu. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia mengetik kalimat yang diyakini dapat membuat wanita itu enggan berurusan dengannya, kemudian mengirim surel tersebut.
Rasa puas dan keangkuhan melingkupi dirinya, sementara ia melipat kedua tangan di depan dada sambil tersenyum jahil. Matanya terus menatap sebaris kalimat di layar laptopnya sambil berharap wanita itu berhenti menghubunginya. Namun, betapa terkejutnya ia ketika hanya dalam beberapa detik, wanita itu membalas surelnya.
‘Aku siap memuaskanmu, kalau itu yang kamu inginkan. Tentukan tempat dan waktunya.’
*****
BAB 3
“He said what??”
Sambil berjalan, Sandra mengernyit seraya menelengkan kepala demi mengamankan gendang telinganya. Sayang, pekikan sarat keterkejutan sudah terlebih dahulu menyusupi pendengarannya. Bahkan, ramainya kendaraan yang melintasi Fifth Avenue pun tak mampu menutupi suara berat Nathan yang menggelegar.
Pagi ini, kondisi jalanan begitu padat. Semua kendaraan seolah tumpah ruah memenuhi Fifth Avenue. Adanya penutupan satu ruas jalan sepanjang beberapa meter mengakibatkan penyempitan dan menjadi penyebab utama kemacetan.
Tak memedulikan lirikan para pejalan kaki, Nathan menarik pergelangan Sandra cukup keras hingga ponsel dalam genggamannya hampir terlepas. Langkah mereka menuju kantor pun terhenti sejenak di tengah pedestrian akibat keterkejutan Nathan yang berlebihan.
“Tell me again, what the hell he said to you?” tanya Nathan sambil memasang raut tak percaya dan mata terbelalak.
“Dia memintaku menunjukkan sehebat apa aku memuaskannya.” Sandra mengulang kalimat itu, kali ini disertai rasa mual, tapi ia berusaha menutupinya. Kemudian, Sandra melepaskan cengkeraman Nathan, dan kembali melanjutkan perjalanan.
“See! Sudah kubilang, dia itu malapetaka, Darling,” ujar Nathan yang segera menyusul Sandra hingga mereka kembali berpapasan. Cara bicara Nathan yang gemulai pun muncul lagi ke permukaan. Terkadang, Sandra sendiri bingung bagaimana Nathan yang biasanya terlihat gagah dan maskulin saat berduaan dengannya, bisa berubah gaya bicara serta gestur tubuh semudah menjentikkan jari.
“Kurasa sebaiknya kau bicarakan dulu masalah ini sama Raffael. Ini sudah di luar jangkauanmu, Darling,” saran Nathan yang langsung mendapat respons dengusan geli dari Sandra.
“No, no! Aku tidak akan menghadap Raffael. Saat aku menyanggupi tugas ini, dia terlihat begitu percaya padaku. Pokoknya, aku tidak mau gagal hanya karena kata-kata iseng itu. Kau tahu bagaimana aku kan, Nat?” tukas Sandra tanpa berhenti melangkah.
“Tapi ini sudah kelewatan, Darling! Ini sama saja dengan pelecehan!” Terdengar jelas betapa Nathan tidak menyukai pilihan Sandra. Masalahnya, Nathan tidak tahu bagaimana darah Sandra mendidih seketika saat membaca tantangan itu.
Jiwa petarungnya mendorong Sandra untuk menyambut tantangan itu, dan ia termasuk wanita yang tidak akan berhenti mencoba sampai ia benar-benar kalah. Selain tertantang, Sandra merasa kalau kata-kata Dark Shadow hanya guyonan semata yang berusaha menghentikan langkahnya. Ah, lagi pula tidak mungkin ada orang yang segila itu, kan?
“Tenanglah, Nat,” bujuk Sandra setenang mungkin saat mereka berhenti di belakang barisan para pejalan kaki yang menunggu lampu merah penyeberangan berubah menjadi hijau agar dapat menyeberang ke sisi lain jalanan. “Dia kan hanya bilang ‘memuaskannya’. Tapi, dalam bentuk apa? kita juga tidak tahu. Jadi, bagaimana kalau kita berhenti berspekulasi sampai aku benar-benar bertemu dengannya?”
“Kau memang benar-benar gila.” Nathan menggeleng heran sambil mengernyitkan kedua alis, menunjukkan ketidakpercayaannya atas sikap dan jalan pikiran Sandra. “Jadi, kapan kalian bertemu?”
See! Nathan tetap saja penasaran, batin Sandra sambil tersenyum kecil. “Belum tahu. Dia belum membalas surelku.”
Tak lama kemudian, lampu penyeberangan berubah menjadi hijau. Sandra dan Nathan bergerak bersamaan dengan para pejalan kaki. Mereka menyeberangi jalan dan berbelok menuju gedung perkantoran di mana H&H Publishing beroperasi. Jaraknya yang dapat ditempuh kurang dari lima menit tak sedikit pun mengurangi tempo langkah mereka berdua.
Selama perjalanan menuju gedung perkantoran, Nathan tak lagi membahas tentang kata-kata liar Dark Shadow. Pria itu mulai bercerita mengenai rencana sang ibu yang berniat menjodohkan Nathan dengan seorang wanita.
Sandra mendengarkan keluh kesah Nathan, bahkan ketika mereka memasuki gedung dan menunggu di depan lift. Namun, pikiran Sandra masih tetap tertuju pada Dark Shadow dan tantangan yang diberikan padanya.
‘Tunjukkan padaku sehebat apa kamu dapat memuaskanku, setelah itu mari kita bicarakan tentang kerja sama.’
Jujur, setelah menerima tantangan itu dengan berapi-api, tak lama kemudian Sandra mengutuki keputusannya. Ia sudah melakukan kesalahan karena tidak berpikir panjang, dan Sandra mengakui keteledorannya. Sifatnya yang mudah sekali menerima tantangan sering kali menjebak Sandra dalam sebuah situasi yang tidak menyenangkan. Namun, entah mengapa Sandra selalu saja terpancing untuk menyambar setiap tantangan yang diberikan padanya.
Meskipun ia tidak pernah kalah—oh, wait! Sandra pernah kalah, dan itu terjadi satu tahun lalu. Kakak laki-lakinya yang tertua menantang Sandra untuk melakukan sesuatu yang bisa dikatakan sangat mustahil dilakukan. Sayangnya, tantangan itu berujung pada kekalahan yang memaksa Sandra harus mengeluarkan uang cukup banyak.
Well, jika dibandingkan dari banyaknya keberhasilan yang ia peroleh dari semua tantangan yang ia terima dan meski tingkat kegagalannya sangatlah kecil, tapi tetap saja Sandra menilai sikapnya semalam sangatlah ceroboh.
Mundur? Tentu saja Sandra tidak bisa—salah! Sandra tidak mau. Membayangkan dirinya mundur dari sebuah tantangan yang sudah ia sanggupi membuat Sandra tampak bak pecundang. Tidak! Ia tidak mau menyandang predikat pecundang.
Sandra selalu berusaha mendapatkan segala yang ia inginkan. Ia juga selalu mengusahakan segala cara untuk mencapai tujuan, bahkan yang tersulit sekali pun. Jadi, tak ada kata mundur baginya! Sandra hanya harus menjalani tantangan ini. Menang atau kalah, itu urusan belakangan.
“Lalu, bagaimana menurutmu?” tanya Nathan, memecah lamunan Sandra sekaligus menyadarkan dirinya bahwa mereka sudah tiba di lantai 19.
Logo H&H yang terbuat dari aluminium dengan cahaya kuning hangat yang menyebar di sekeliling huruf besar, memberikan efek mahal dan elegan. Logo itu menempel di dinding belakang meja resepsionis berbentuk setengah lingkaran. Dua wanita berseragam serba biru menyapa kedatangan mereka sehangat dan seramah mungkin.
Harold & Hammer Publishing merupakan salah satu penerbit ternama yang sudah mencetak puluhan penulis terkenal. Beberapa karya yang diterbitkan pun pernah diadaptasi menjadi film. Namun, Raffael selaku pemimpin redaksi melihat kemunduran yang signifikan tahun ini. Itulah mengapa pria itu sangat berharap besar pada kerja sama yang akan terjalin dengan Dark Shadow.
“Kurasa kau harus mencobanya, Nat.” Meski Sandra tidak mendengar keluh kesah Nathan secara keseluruhan, tapi ia tahu ke mana arah pertanyaan pria itu.
Sambil melangkah melewati pintu kaca yang langsung membawa mereka ke sebuah ruangan yang luas, Nathan masih mengeluhkan tentang perkenalan paksa yang sudah diatur sang ibu. “Bagaimana kalau ternyata aku tidak menyukainya?”
Sandra sudah sangat hafal dengan pertanyaan itu. Setiap kali Nathan diminta sang ibu untuk berkenalan dengan seorang wanita, pria itu pasti melontarkan pertanyaan yang sama. Namun, jawaban Sandra pun tak pernah berubah, “kalau kau tidak mencobanya, kau tidak akan pernah tahu apakah kau menyukainya atau tidak.”
Sandra meletakkan ponsel, tas laptop, serta tas selempangnya di meja kerja. Baru saja ia menyampirkan trench coat di sandaran kursi, tiba-tiba ponsel Sandra bergetar singkat. Dengan santai, ia membawa ponsel ke hadapan dan melihat sebuah surel masuk.
Nathan masih terus mengoceh mengenai betapa kesal pria itu akan sikap sang ibu yang selalu memaksanya untuk segera menikah. Sementara, Sandra terdiam sejenak saat melihat identitas si pengirim surel. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia membaca singkatnya pesan yang tertera di layar ponsel.
‘Temui aku malam ini di Sally’s Restaurant pukul 19.30, dan simpan nomorku.’
Kening Sandra mengerut bingung sekaligus heran mengetahui betapa mudahnya pria itu memberikan nomor ponsel padanya. Sementara, menurut cerita Nathan, Dark Shadow paling sulit didekati, apalagi dihubungi karena pria itu jarang memberikan nomor ponsel kepada sembarang orang. Melihat kenyataan bahwa Dark Shadow tak sesulit itu dijangkau, senyum kemenangan pun mengembang di wajah Sandra.
Benar, kan? Tak ada satu pun tantangan yang tak dapat kulalui. Aku pasti menang—selalu menang! Sandra bersorak girang dalam hati. Kemudian, ia membalas surel tersebut dan menyatakan kesediaannya lalu menyimpan nomor Dark Shadow dalam ponsel.
“Jadi, malam ini kita ke mana?” Untuk kedua kalinya, Nathan berhasil mengeluarkan Sandra dari pikirannya sendiri. Pria itu sudah duduk manis di kursi kerja dengan sweater rajut berwarna merah maron bermotif domino dan celana jeans biru dongker.
“Maafkan aku, Nat. Malam ini aku tidak bisa,” jawab Sandra seraya menarik kursi kerja dan mendudukinya.
“Tapi, ini kan hari Jumat. Waktunya kita untuk bersenang-senang,” ingat Nathan dengan raut sedikit cemberut dan kedua tangan terlipat di depan dada.
“Aku ada janji makan malam,” ungkap Sandra jujur seraya mengeluarkan laptop dari tas.
“Dengan siapa?” tanya Nathan cepat seraya memajukan kursi kerja ke samping Sandra. Raut penasaran serta volume suara yang dikecilkan seolah-olah mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting.
Sandra langsung mengangkat ponsel dan menghadapkan layarnya ke Nathan sambil menyeringai penuh kemenangan. “Dark Shadow.”
“What!!” Pekikan Nathan cukup mengejutkan hingga beberapa orang yang berada tak jauh dari meja mereka langsung menoleh dan melemparkan tatapan heran. Namun, pria itu tidak memedulikan lirikan penasaran yang ditujukan pada mereka. Pusat perhatian Nathan masih tertuju pada Sandra dan senyum kemenangan di wajahnya yang ternyata tak diharapkan oleh sahabatnya itu.
“Please, Sandra. Jangan nekat!” mohon Nathan sarat teguran.
“Tapi, aku harus, Nat,” balas Sandra selembut mungkin demi membujuk Nathan agar dapat menanggapi kabar gembira ini dengan sedikit lebih tenang. Ia meletakkan ponsel di meja kerja, kemudian menepuk paha Nathan bak seorang adik yang berusaha menenangkan kakaknya. “Tenanglah. Lagi pula, aku yakin dia tidak akan berani melakukan sesuatu yang gila padaku.”
“Bagaimana kalau dia berani dan ternyata dia lebih gila dari yang kau bayangkan?” Nathan berusaha menyadarkan Sandra bahwa sesuatu yang buruk mungkin saja terjadi. “Remember, Darling! Lebih dari lima editor senior karirnya berakhir tragis setelah bertemu dengannya. Apa kau mau menjadi yang selanjutnya?”
“Aku ingat, Nat. Tenanglah, aku pasti baik-baik saja.” Sandra masih berusaha menenangkan kekalutan Nathan.
“Aku tidak bisa tenang! Kau sahabat terbaik yang pernah kumiliki,” ungkap Nathan yang seketika menyentuh relung hati Sandra yang terdalam. Senyum penuh kasih sayang pun menghiasi bibir Sandra, sementara matanya menatap Nathan dengan sorot lembut sarat rasa syukur.
“Kau juga sahabat terbaik yang pernah kumiliki, Nat,” ungkap Sandra jujur sembari mengusap lembut lengan pria itu.
“Bagaimana kalau dia benar-benar gila? Bagaimana kalau dia meminta yang aneh-aneh? Bagaimana kalau—”
“Kalau begitu,” potong Sandra cepat sembari menyunggingkan senyum kecil, “kita lihat, seberapa gila permintaannya.”
*****
Sandra berdiri di depan restoran sambil menggenggam erat tali tas yang menggantung di pundak. Matanya mengamati suasana restoran yang ramai pengunjung di malam hari. Bahkan, terlihat barisan antrean yang cukup panjang di luar bangunan demi menunggu giliran agar dapat menikmati hidangan di tempat itu.
Lampu-lampu hias yang memancarkan warna kuning hangat menciptakan atmosfer hangat dan nyaman. Aroma lezat serta raut gembira para pengunjung yang terlihat dari balik barisan jendela-jendela berukuran besar di kedua sisi bangunan membuat siapa pun ingin merasakan nikmatnya makan di restoran yang terkenal selalu memiliki barisan anggur terbaik dan ternama.
Berlokasi di Brooklyn Heights, restoran ini ternyata cukup mudah dijangkau. Keberadaannya yang tak jauh dari stasiun subway pun memudahkan Sandra untuk tiba tepat waktu. Bukannya segera masuk, Sandra memilih untuk menunggu sejenak selama beberapa menit demi menenangkan jantungnya yang berdebar sedikit lebih cepat.
Sungguh, Sandra tidak tahu apakah ini adalah keputusan yang tepat. Namun setidaknya ia tahu, hanya ini cara yang tepat untuk mengajak Dark Shadow bergabung dengan H&H Publishing.
Ragu? Tidak, Sandra sama sekali tidak ragu. Gugup? Lumayan, tapi jangan lupakan letupan antusias yang beriringan mengisi setiap debar jantungnya.
Demi mengendalikan letupan antusias dan kegugupannya, Sandra menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembus perlahan. Setelah berhasil mengumpulkan keberanian yang sempat surut sedikit akibat kegugupan yang timbul sejenak atas keputusannya, ia pun melangkah memasuki restoran. Dengan penuh kepercayaan diri, Sandra menghampiri meja penerimaan tamu.
Setelah berhasil menenangkan Nathan yang kembali mengoceh saat makan siang, Sandra mencari tahu jenis restoran yang akan ia kunjungi. Itulah mengapa Sandra memutuskan menggunakan gaun hitam berlengan pendek di balik trench coat hitam yang kini menutupi tubuhnya. Rok gaun selutut, sepatu boots hitam, dan kalung berbandul mutiara membuat penampilan Sandra terlihat menawan. Rambut yang dibiarkan tergerai pun memperkuat pesona serta kecantikannya yang ia harap mampu membujuk Dark Shadow yang terkenal sulit untuk diajak kerja sama.
“Selamat malam. Reservasi atas nama siapa?” Wanita berkemeja hitam dan bercelana panjang bahan berwarna senada menyapa Sandra dengan ramah dan senyum formal.
“Dark Shadow,” jawab Sandra sesuai dengan pesan masuk yang ia terima sebelum menuju ke restoran. Setelah memeriksa nama pemesan, wanita itu memanggil seorang pelayan untuk mengantar Sandra ke tempat yang sudah disediakan.
Mereka berjalan melewati beberapa meja makan yang sudah terisi penuh oleh pengunjung. Ruangan yang didominasi warna cokelat tua dan hitam, memberikan kesan elegan sekaligus seksi. Puluhan botol anggur ternama dan berkualitas tinggi yang berjejer rapi di sisi kanan dan kiri ruang makan menunjukkan betapa pemilik restoran begitu mengutamakan kualitas anggur yang menjadi ciri khas tempat itu.
Sambil menikmati suasana restoran yang hangat dan nyaman, Sandra terus mengikuti langkah pelayan berpakaian kemeja putih dan celana panjang bahan berwarna hitam. Akhirnya, langkah Sandra terhenti ketika wanita di hadapannya bergeser ke samping demi menunjukkan sebuah meja yang berada tepat di ujung sudut ruangan.
Seorang pria berkacamata dengan masker hitam menutupi area bibir dan hidung, sudah duduk di salah satu kursi yang tersedia. Meja yang memang diperuntukkan untuk dua orang, terlihat kecil di hadapan pria itu.
Pelayan itu segera pamit meninggalkan Sandra. Selama beberapa detik, ia berdiri mengamati seorang pria yang lebih memilih untuk tetap duduk diam, tak berniat berdiri menyambut kedatangannya. Tak ingin membuang waktu dengan meladeni sikap diam dan respons dingin pria itu padanya, Sandra mulai melepaskan trench coat yang sedari tadi menutupi tubuhnya, kemudian menyampirkannya di sandaran kursi.
“Dark Shadow, perkenalkan, namaku Sandra Anderson,” ucap Sandra seraya menjulurkan tangan ke arah pria itu.
Bukannya menyambut, pria itu malah menatap sinis tangan Sandra selama sedetik sebelum kembali menatapnya dengan sorot mata tajam yang entah mengapa malah terkesan seperti malas melihat kehadirannya. Saat itu pula, sedikit demi sedikit kepercayaan diri Sandra mulai berkurang. Ia pun menarik kembali tangannya sambil tetap bersikap tenang dengan senyum ceria palsu menghiasi wajahnya.
“Kamu terlambat!” Ketegasan meluncur cepat dari bibir pria itu. Masker yang dikenakan nyatanya tak mampu memperlembut suara berat dan dalam pria itu. Malah, membuat suara tersebut terdengar seperti ancaman daripada teguran.
Seketika, Sandra menyadari kesalahan yang ia perbuat. Saat itu pulalah Sandra menyadari bahwa rencananya untuk membujuk Dark Shadow bekerja sama tidak akan berjalan lancar.
*****
BAB 4
Sandra Anderson.
Sejak pertama kali wanita itu memasuki restoran, Lucas terus mengunci setiap pergerakannya. Mulai dari sebagian rambut hitam panjang yang bergerak ke depan melewati pundak ketika wanita itu menoleh ke samping, bulu mata yang mengerjap lembut saat mengamati sekeliling, bibir merah yang sempat mengatup hingga membentuk garis lurus, serta tangan kanan yang terus mengepal erat tali tas yang menggantung di pundak.
Jujur saja. Saat pertama kali membaca nama wanita itu di pesan masuk platform, Lucas merasa sesuatu yang berbeda akan mengguncang kehidupannya. Ia sadar, nama tersebut cukup pasaran. Namun entah mengapa, firasat Lucas mengatakan bahwa wanita bernama Sandra Anderson adalah wanita yang sama yang telah menghancurkannya beberapa tahun lalu.
Dalam sekejap, nama itu berhasil memunculkan kembali kenangan-kenangan yang selalu menjadi cambuk penyiksa baginya. Kenangan-kenangan yang akhirnya mengguncang ketenangan Lucas hingga tak satu baris kalimat pun tercipta dalam ceritanya kemarin malam. Kenangan-kenangan yang mampu mengaburkan segala akal sehatnya hingga saat ini.
Ketika Sandra berhenti di hadapannya, Lucas bisa melihat betapa iris cokelat gelap itu bersinar penuh semangat. Wangi parfum yang menguar lembut dari tubuh wanita itu seketika mengalahkan aroma makanan yang sebelumnya mendominasi indra penciuman Lucas. Paras cantik serta aura memikat yang dulu sempat menaklukkan Lucas, ternyata semakin memesona seiring bertambahnya usia.
Gaun malam yang melekat sempurna mengikuti setiap lekuk tubuh wanita itu, menunjukkan betapa Sandra begitu menjaga proporsional badannya—tipikal wanita yang selalu digilai para pria. Namun dari semua keindahan di diri wanita itu, ada satu hal yang tak akan pernah Lucas lupakan, yaitu lesung pipi yang seketika menghiasi wajah Sandra ketika mengulas senyum ramah padanya.
“Dark Shadow, perkenalkan, namaku Sandra Anderson.”
Wanita itu memperkenalkan diri dengan keceriaan yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Akan tetapi, nada bicara yang penuh semangat sarat kegembiraan itu malah menimbulkan getir memuakkan di hati Lucas. Tangan Sandra yang terjulur di hadapannya pun seolah menggoda Lucas untuk menepis kasar dan menunjukkan besarnya kebencian yang ia rasakan terhadap wanita itu.
Dark Shadow. Lucas Wilson sengaja memilih nama itu sebagai nama pena demi menutupi identitas aslinya dari semua orang. Dark Shadow juga merupakan perwujudan dirinya yang penuh amarah dan kebencian pada seorang wanita yang saat ini berdiri di hadapannya.
Sandra tidak mengenali Lucas, tentu saja. Tak ada yang tahu siapa Dark Shadow yang sebenarnya, kecuali pengacara pribadinya, Gerald. Bahkan, setiap penandatanganan kerja sama dengan penerbit terdahulu, Lucas selalu menolak untuk dimintai tanda pengenal dan menyerahkan segala urusan legalitas kepada Gerald. Hal tersebut ia lakukan bukan tanpa sebab, dan penyebab utamanya adalah Sandra Anderson.
Lucas menatap sekilas tangan yang terulur ke hadapannya sebelum kembali mengunci Sandra. Menyadari bahwa Lucas tak akan menyambut jabatan tangan itu, Sandra membawa tangan kembali ke samping tubuh sambil menyembunyikan rasa malu yang tercipta akibat penolakannya. Senyum yang dipaksakan malah membuat wanita itu tampak konyol di hadapannya.
“Kamu terlambat!” tegur Lucas tanpa sedikit pun mengecilkan volume suaranya. Wanita itu tersentak kaget. Keceriaan yang Sandra tunjukkan saat pertama kali tiba, perlahan-lahan menghilang akibat ketegasannya. Senyum palsu yang tadi menghiasi bibir merah merona itu pun lenyap secepat kilat.
Sambil bersandar di kursi dan melipat kedua tangan di depan dada, Lucas menatap malas Sandra yang terdiam sejenak akibat tegurannya. Namun hanya berselang beberapa detik, wanita itu mampu mengatasi kegugupan serta rasa malu secepat kemunculannya. Benar-benar seperti Sandra Anderson yang Lucas kenal 10 tahun lalu. Senyum ceria kembali menghiasi bibir Sandra, begitu juga dengan percikan semangat di matanya.
“Maafkan aku,” sesal Sandra ringan seraya menarik kursi dan mendudukinya tanpa permisi, “aku harus menjawab panggilan dari atasanku sebelum masuk ke sini.”
Apakah Lucas percaya? Tentu saja tidak. Ia tahu—sangat tahu bagaimana Sandra mampu memanipulasi seseorang dengan kebohongan-kebohongan, kemudian memanfaatkannya hingga orang tersebut tak berguna lagi bagi wanita itu.
“Emm, apa kamu sudah pesan makanan?” tanya Sandra dengan sikap hangat dan bersahabat sembari menyampirkan tali tas di sandaran kursi.
“Belum.” Jawaban singkat yang ia berikan tak sedikit pun mengusik keceriaan Sandra, dan hal itu mulai membuat Lucas kesal. “Kita langsung saja ke pokok pembicaraan.”
“Bagaimana kalau kita makan dulu?” usul Sandra cepat, tidak menghiraukan ketegasan dalam nada bicara Lucas.
Kening Lucas mengerut kesal. Ia tidak suka ketika wanita itu mulai mendominasi dan merasa mampu mengaturnya. Tidak! Sandra tidak akan pernah bisa mengaturnya lagi.
“Kalau begitu, aku pergi!” putus Lucas geram seraya menekan permukaan meja dengan kedua tangan lalu beranjak dari kursi.
Baru saja ia ingin melangkah pergi, Sandra tiba-tiba menyambar pergelangan Lucas, menahan pergerakannya. Meski jaket hoodie yang ia kenakan cukup tebal, tapi gelenyar panas yang tercipta dari genggaman wanita itu terasa bak bara api yang mampu melukai setiap sel dalam tubuhnya. Tak menyukai kehangatan itu menyentuh kulitnya, Lucas menatap sinis genggaman lembut di pergelangan tangannya, kemudian mengalihkan sorot tajam sarat teguran pada iris cokelat yang saat ini menguncinya dengan penuh penyesalan.
“Maafkan aku kalau aku membuatmu kesal. Tapi, bisakah kita bicarakan ini baik-baik?” bujuk Sandra lembut, tak menggubris sorot tajam Lucas. Wanita itu malah menyunggingkan senyum manis yang mampu meluluhlantakkan hati sekeras batu.
Masalahnya, Lucas tidak mau luluh. Ia pun bersikeras mempertahankan dendam dalam dirinya demi menolak pesona senyuman hangat itu. Beruntung, masker masih menutupi sebagian wajahnya, sehingga wanita itu tak tahu betapa geramnya Lucas saat ini.
Tak ingin senyum itu memengaruhi dirinya, Lucas segera mengalihkan pandangan dari Sandra, kemudian melepaskan genggaman wanita itu, dan kembali duduk. Sandra menghela napas lega lalu tersenyum sekilas pada Lucas.
“Kurasa, perkenalan kita tidak diawali dengan benar,” ujar Sandra ringan yang kemudian menjulurkan tangan ke hadapan Lucas. “Mari kita ulang. Perkenalkan, namaku Sandra Anderson, editor senior H&H Publishing.”
“Dark Shadow.” Meski enggan, Lucas akhirnya menjabat tangan Sandra. Tangan itu terasa begitu lembut dan rapuh dalam genggamannya yang besar dan kuat.
Untuk yang kedua kalinya, ia merasakan gelenyar hangat menjalar dari kulit mereka yang saling bersentuhan. Kehangatan yang seketika membuat tubuh Lucas menegang. Jabatan tangannya pun refleks mengeras.
Tak ingin berlama-lama, Lucas segera melepaskan jabatan tangan itu dan kembali bersedekap. Senyum manis menghiasi bibir Sandra, sedangkan Lucas berusaha mengusir gelenyar hangat yang mulai terasa menyebalkan di sekujur tubuhnya.
Sungguh, tak ada yang tahu seberapa besar Lucas ingin menyatakan identitas aslinya pada Sandra. Ia juga ingin mengungkapkan kekecewaan yang telah ia pendam sekian tahun lamanya. Akan tetapi, kebencian yang sudah mendarah daging pada Sandra, memaksa Lucas untuk tetap menyembunyikan jati dirinya.
“Bolehkah setidaknya kita berbicara sambil minum segelas anggur? Kudengar, tempat ini terkenal karena barisan anggurnya yang sangat berkualitas,” ujar Sandra santai. Lucas menyipitkan mata, mencurigai sesaat usaha wanita itu dalam mengulur waktu. Tak ingin penolakannya malah semakin membuang-buang waktu, akhirnya Lucas mengangguk, kemudian mengalihkan pandangan dari Sandra.
Lucas bersikeras mempertahankan sikap dingin dan misteriusnya. Ia ingin menunjukkan pada Sandra bahwa dirinya tak mudah ditaklukkan. Lagi pula di mata Lucas, Sandra sama saja seperti beberapa editor yang datang menghampirinya. Mereka semua hanya menginginkan karya-karyanya demi mendulang keuntungan berlipat-lipat kali ganda.
Jadi, jika Sandra begitu menginginkan seorang Dark Shadow bergabung dengan penerbitannya—Lucas sangat mengenal karakter Sandra yang akan menggunakan segala macam cara untuk mencapai sebuah tujuan—maka, wanita itu harus tunduk padanya.
Tiba-tiba, sebuah ide menarik muncul dalam benak Lucas. Senyum tipis pun mengulas bibir Lucas yang masih ditutupi masker, sementara ia sudah membayangkan betapa bahagianya ia melihat Sandra hancur dan terpuruk. Sandra harus merasakan rasa sakit yang pernah Lucas alami. Wanita itu juga harus tahu betapa sulitnya Lucas merangkak keluar dari kekecewaan yang tercipta akibat manipulasi licik yang Sandra perbuat terhadap dirinya.
Oh, sungguh … Lucas tak sabar ingin mempermainkan perasaan wanita itu. Tak dipungkiri, kegembiraan seketika meluap-luap dalam diri Lucas. Namun, ia berusaha mengendalikan gejolak emosi itu demi memanipulasi dan menjebak Sandra.
Setelah memesan dua gelas wine, Sandra kembali menatap Lucas dengan sikap siap bernegosiasi. Sama seperti wanita itu, Lucas pun sudah tak sabar ingin melihat reaksi Sandra ketika ia meluncurkan permintaan demi permintaan yang ia yakini dapat membuat wanita itu tak berkutik.
“Boleh aku bertanya?” Sandra mulai membuka percakapan. Iris Lucas bergerak perlahan saat kembali menatap wanita itu. Sorot matanya menunjukkan rasa bosan, sementara ia menimbang sejenak permintaan itu. Akhirnya, ia pun mengangguk, mempersilakan.
Sandra melipat kedua tangan di atas meja, sementara tubuh wanita itu dicondongkan ke depan hingga menyentuh pinggiran meja. “Apa yang membuatmu menarik semua naskah dari penerbit sebelumnya?”
“Karena bosan,” jawab Lucas singkat dan tanpa ekspresi.
“Hanya itu? Tidak ada hal lain?” Kening Sandra mengernyit tak percaya.
Tentu saja ada hal lain yang mendasari keputusan Lucas saat itu, tapi ia lebih memilih diam demi kebaikannya sendiri. Lucas pun menggeleng singkat. Ia tidak ingin orang lain ikut campur atau bahkan berpura-pura memahami keputusannya tersebut.
“Lalu, kenapa setelah 2 tahun lebih berhenti berkarya, kamu memutuskan untuk kembali menulis?” tanya Sandra yang tampaknya tak akan berhenti penasaran sebelum kejanggalan-kejanggalan akan menghilangnya Dark Shadow dari dunia kepenulisan mendapatkan jawaban yang memuaskan.
“Karena aku suka menulis.” Lucas kembali menjawab sesingkat mungkin.
Bibir Sandra spontan mengerucut. Alis yang terukir sempurna itu pun ikut mengernyit kecewa dengan jawaban singkatnya. Melihat reaksi tersebut, Lucas tersenyum sinis tanpa sedikit pun melepaskan pandangan dari wanita itu.
Sandra masih belum puas, Lucas bisa menilai dengan mudah dari sinar mata yang memancarkan sejuta tanda tanya padanya. Namun, kedatangan pelayan restoran menyela sejenak pertanyaan yang ingin wanita itu lontarkan. Setelah menyajikan dua gelas wine di hadapan mereka, pelayan tersebut segera pergi. Sandra mengangkat gelas kaca, sementara Lucas tak berniat menikmati anggur yang ia ketahui akan terasa begitu menyenangkan di lidahnya. Selain untuk tetap menutupi wajahnya dari wanita itu, Lucas masih harus mempertahankan kewarasannya demi menjebak Sandra ke dalam permainan.
Sambil memejam, Sandra menghirup aroma wine dalam-dalam. Sedetik kemudian, mata wanita itu memancarkan kegembiraan, kemudian menyesap cairan berwarna merah gelap. Senyum kecil pun terukir di wajah Sandra, tanda betapa wine yang disajikan memiliki rasa serta aroma yang begitu memuaskan.
“OK. Mari kita kembali ke bisnis,” ujar Sandra riang seraya meletakkan gelas di meja.
“Sudah siap menunjukkan kehebatanmu dalam memuaskanku?” Lucas langsung melontarkan pertanyaan yang seketika membuat Sandra mematung. Iris cokelat yang terbelalak dengan bibir menganga menunjukkan betapa wanita itu tak menyangka bahwa ia akan menanyakan hal tersebut.
Lucas tertawa terbahak-bahak di dalam hati. Pertanyaan tersebut hanyalah permulaan dari permainan sarat balas dendam yang akan wanita itu terima jika menyanggupi tantangan yang Lucas berikan—dan ia yakin, Sandra akan menyambar setiap tantangannya tanpa pikir panjang.
“Kenapa diam?” tanya Lucas, tak sabaran.
“W-wait … kukira kamu hanya—”
“Bercanda?” lanjut Lucas cepat seraya mengangkat sinis salah satu alisnya, “aku tidak pernah bercanda.”
“O-oke. Emm, masalahnya … mungkin kamu lupa kalau wanita memiliki tamu bulanan. Jadi—”
“Alasan,” potong Lucas geram. Kebohongan demi kebohongan akan selalu muncul dari bibir Sandra, dan Lucas sangat dibenci dibohongi. “Kamu menyerah. Percakapan ini cukup sampai di sini!”
“Menyerah? T-tentu saja tidak!” kilah Sandra parau, kemudian berdeham lalu meneguk wine. Lucas bisa menangkap kegugupan yang tampak jelas pada tangan Sandra yang gemetar kecil ketika mengangkat gelas.
“Lalu?” desak Lucas. Ia tak ingin memberikan peluang bagi wanita itu untuk mengelak atau mengucapkan kebohongan yang akan semakin membuat dirinya murka.
“Tidak bisakah kita membicarakan hal ini dengan pikiran jernih?” pinta Sandra seraya meletakkan gelas kembali ke meja. Wanita itu menggigit bibir sembari memasang raut memelas.
Pandangan Lucas menatap bibir itu, kemudian menggemeretak geram. “Jernih?”
“I-iya. Maksudku … kenapa kita tidak membicarakan terlebih dulu keuntungan yang akan kamu peroleh? Jika kamu bersedia bergabung, H&H siap memberikan banyak program yang dapat mendatangkan keuntungan berlipat-lipat padamu,” usul Sandra dengan suara sedikit bergetar. Jika wanita itu berpikir uang dan ketenaran dapat mengalihkan Lucas dari rencananya, wanita itu salah. Salah besar!
“Aku yang menentukan keuntungan apa yang akan aku peroleh. Bukan kamu, bukan siapa pun. Aku!” tegas Lucas penuh penekanan. Wanita itu terkesiap, kemudian menandaskan minumannya.
Selama beberapa detik wanita itu menatapnya dengan sorot ragu. Raut wajahnya memancarkan kepanikan sekaligus rasa penasaran. Lucas tahu, wanita itu pasti sedang mencari cara untuk mengubah pendiriannya. Sandra salah jika berpikir Lucas mudah diperdaya. Tidak. Ia tidak akan pernah lagi jatuh dalam tipu daya wanita, apalagi seorang Sandra Anderson.
“Apakah tidak ada cara lain yang dapat aku lakukan untuk mengajakmu bergabung dengan H&H?” tanya Sandra pelan, masih mencoba peruntungannya.
“Jadi, kamu memang menyerah,” nilai Lucas datar.
“Tidak! Aku tidak menyerah. H-hanya saja … kondisiku … maksudku, tamu bulananku sedang berkunjung. Jadi … bagaimana aku bisa memuaskanmu kalau—”
“Hentikan omong kosongmu!” tegur Lucas yang langsung memotong alasan memuakan itu.
“Tapi, aku benar-benar—”
Kalimat pembelaan yang ingin wanita itu ucapkan seketika terhenti saat Lucas mengarahkan jari telunjuk ke bibir yang tertutup masker, menyuruh diam. Wanita itu tak tahu seberapa menggelora api dendam melahap tubuh Lucas. Tak ada hal lain yang dapat meredam amukan api dalam hatinya kecuali mendengar kesanggupan dan kepatuhan Sandra terhadap setiap permintaannya.
Sambil memajukan tubuh, Lucas melipat kedua tangan di atas meja. Matanya mengunci iris cokelat itu lekat-lekat, memerangkap jiwa wanita itu dalam percikan api dendam yang membakar tubuh Lucas, dan menegaskan dominasinya.
“Let’s get one thing very clear, Angel!” tegas Lucas penuh penekanan dari barisan giginya yang terkatup rapat. “Di sini, aku yang menentukan bagaimana caranya agar kerja sama ini akan terlaksana. Aku juga yang menentukan siapa saja yang dapat berhubungan denganku. Jika kamu tidak sanggup menuruti setiap permintaanku, jangan harap kamu akan mendapatkan secuil keuntungan dariku.”
Wanita itu masih terdiam selama beberapa detik setelah Lucas selesai meluncurkan kata-kata pamungkasnya. Ia kembali menjauhkan tubuh dari meja lalu bersandar tenang tanpa sedikit pun merasa kasihan dengan raut pucat Sandra. Senyum miring penuh kemenangan mulai menghiasi bibir Lucas. Ada kepuasan tersendiri yang muncul di dalam dirinya melihat saat Sandra terpaku bak patung, kebingungan.
Namun, sebagaimana para editor datang menghampirinya, Lucas yakin Sandra sedang bertarung melawan akal sehat serta mempertimbangkan segala hal yang dapat dipertaruhkan demi meloloskan kerja sama yang pasti akan sangat menguntungkan bagi perusahaan penerbitan tersebut. Sayangnya, tak ada yang mampu mengatur cara kerjanya. My work, my rules!
Tak ingin memberikan waktu lama pada wanita itu untuk berpikir, Lucas menarik sedikit lengan jaket hoodie dan menatap arlojinya sambil memasang raut bosan. Kebisuan yang terjadi di antara mereka saat ini benar-benar membuang waktu berharganya. Kemudian, ia menghela napas lelah dan menatap Sandra dengan sorot kesal.
“Percakapan ini sudah selesai,” putus Lucas sepihak.
“Tunggu!” Suara Sandra yang cukup keras seketika mengundang perhatian pengunjung restoran yang duduk di dekat mereka. Lucas memilih diam selama beberapa detik hingga sorot penasaran yang tertuju pada mereka beralih ke hal lain.
“Kamu benar-benar membuang waktu berhargaku!” Lucas tak segan menunjukkan kekesalannya pada wanita itu. Menyadari kesalahan, Sandra mulai berdeham, kemudian memasang raut siap bertarung. Dalam hati, Lucas menertawakan kesiapan wanita itu.
“Aku akan melakukan apa pun, asalkan kamu mau bergabung dengan penerbitan kami.” Dengan penuh keberanian, kata-kata itu meluncur cepat dari bibir Sandra yang terlihat begitu kenyal dan menggoda.
“Apa pun?” ulang Lucas, memastikan.
“Apa pun!” tantang Sandra penuh keberanian.
“Bahkan yang tergila sekali pun?” tantang Lucas sarat ancaman.
“Yes!” Sandra menjawab tanpa rasa takut sedikit pun. Kobaran api semangat dan pantang menyerah menyala-nyala di iris cokelatnya yang menawan.
“Selama tiga bulan, tubuhmu adalah milikku. Deal?” Lucas tak ragu melontarkan keinginannya.
“M-maksudmu?” Mata Sandra terbelalak mendengar permintaan Lucas.
“Kamu harus menjadi kekasihku. Be mine and stick to my rules.”
“Bagaimana aku bisa percaya kalau setelah tiga bulan kamu benar-benar akan bergabung dengan H&H?” tanya Sandra, meragukan keseriusan Lucas.
“Aku tidak pernah main-main jika berurusan dengan karya-karyaku,” jawab Lucas tegas, menunjukkan betapa ia begitu menyayangi setiap karya yang ia ciptakan. “Kita akan membuat perjanjian di atas kertas dan di hadapan pengacaraku. Jadi, perjanjian ini akan kuat di mata hukum.”
Tak ada sepatah kata pun terucap dari bibir wanita itu. Keterkejutan yang luar biasa tergambar jelas di wajah Sandra. Sementara, mata wanita itu menatapnya dengan sorot ketakutan sarat gairah. Senyum miring kembali mengukir wajah Lucas. Kali ini, Sandra tak akan lepas dari cengkeramannya.
“Deal?”
Mata wanita itu menatap ragu tangan Lucas yang terjulur di tengah-tengah meja. Selama beberapa detik lamanya, Lucas menunggu respons Sandra. Menyadari bahwa wanita itu tak juga bergerak, Lucas pun mulai kesal dan muak.
Baru saja Lucas ingin menarik kembali tangannya, tiba-tiba Sandra menyambut jabatan tangan itu dengan genggaman erat. “Deal!”
*****
BAB 5
“Deal!”
Sandra masih bisa mendengar kata-kata itu menggema dalam kepalanya. Sandra bahkan sempat tertegun selama tiga detik ketika menyadari betapa gila dan beraninya ia menyanggupi permintaan Dark Shadow tanpa menimbang baik-baik berbagai kerugian yang akan ditanggungnya di kemudian hari.
Tangan mereka masih saling berjabat erat, sementara iris biru safir itu terus menguncinya dengan kilat liar yang berhasil menimbulkan percikan baru dalam diri Sandra. Percikan yang seketika menyadarkan Sandra bahwa ia telah menyeret dirinya sendiri ke dalam sebuah permainan berbahaya. Permainan yang akan mengguncang dan mengubah kehidupannya. Oh, God! What’s wrong with me? batin Sandra heran pada keberaniannya sendiri.
Dark Shadow terlebih dahulu melepaskan jabatan tangan mereka. Pria itu kembali melipat tangan di depan dada dan bersandar tenang dengan tatapan terus mengunci Sandra. Sementara, Sandra menjalin panik kesepuluh jemarinya di atas pangkuan dengan pundak terkulai lemah. Keheningan kaku pun kembali melingkupi meja mereka.
Dalam diam, Sandra berusaha mencerna masalah yang ia ciptakan sendiri. Sandra sangat menyukai tantangan, memang. Ia menyukai debar adrenalin yang timbul setiap kali ia diberikan tantangan. Ia juga menyukai saat di mana ia berusaha mengerahkan seluruh kemampuannya demi memenangkan tantangan tersebut agar predikat pecundang tidak melekat di dirinya.
Sialnya, baru kali ini Sandra menyesali kenekatannya. Mau tak mau, ia harus menjalani kesepakatan itu dan sebisa mungkin memperbaiki kesalahan yang telah ia perbuat. Dengan tatapan nelangsa, Sandra menatap gelas anggurnya yang sudah kosong. I need more wine! putusnya dalam hati. Setidaknya, alkohol dan nikmatnya anggur mampu menyegarkan kembali pikiran serta semangatnya.
Sandra segera mengalihkan pandangan dari gelas kosong ke seorang pelayan restoran yang baru saja menyajikan hidangan di meja pengunjung lain. Setelah memesan satu gelas anggur lagi, Sandra menarik napas dalam-dalam, mencoba menelaah situasi yang akan ia hadapi selanjutnya. Pikirannya pun berputar cepat mencari solusi terbaik bagi permintaan teraneh yang terpaksa ia terima akibat keberaniannya mengucapkan kalimat yang begitu terlarang untuk diucapkan.
‘Aku akan melakukan apa pun, asalkan bla-bla-bla.‘
Dari dulu, Sandra selalu berhati-hati agar tidak mengucapkan kalimat itu. Namun, sikap dingin dan dominan, serta keangkuhan Dark Shadow memaksa Sandra untuk melontarkan kalimat sakral tersebut. Sialnya, pria itu malah meminta sesuatu yang sangat tidak terduga. Menjadi kekasih Dark Shadow.
Mungkin, tidak terlalu sulit menjalani peran sebagai kekasih pria itu selama tiga bulan. Namun, masih ada banyak hal yang tidak Sandra ketahui tentang Dark Shadow, begitu juga alasan di balik permintaan aneh itu. Bahkan, identitas asli pria itu pun masih penuh misteri.
“Besok siang kita bertemu di kantor pengacaraku untuk penandatanganan surat perjanjian sebelum kamu pindah ke tempatku,” ucap Dark Shadow tenang dan terkendali dengan suaranya yang berat, tapi sarat intimidasi. Suara yang berhasil menarik Sandra keluar dari lamunan.
“Pindah ke tempatmu?” Sandra terbelalak terkejut sembari menunjukkan penolakan. Napasnya yang tercekat menandakan betapa ia belum siap menjalani peran sebagai kekasih pria itu. “W-wait a minute! Sebelum kamu menentukan apa yang akan aku—maksudku, yang akan kita lakukan selanjutnya, bagaimana kalau sebaiknya kita menerapkan beberapa aturan terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahpahaman?”
Sandra tidak tahu apakah pria itu mendengar betapa bergetar suaranya akibat kepanikan yang saat ini melanda. Namun, ketika kedua alis tebal Dark Shadow tiba-tiba mengerut tegang, Sandra menyadari betapa pria itu tidak menyukai kata-katanya. Iris biru safir yang sempat menghipnotisnya saat pertama kali pun menegaskan kecurigaan yang begitu kuat pada Sandra.
“Apa kamu berniat mempermainkanku?” Dark Shadow sama sekali tidak ragu melontarkan tuduhannya.
“Tidak! Tentu saja tidak. Aku … aku hanya ingin supaya kita tahu batasan masing-masing, setidaknya … demi mencegah kesalahpahaman atau masalah di kemudian hari,” jelas Sandra seraya menatap Dark Shadow lekat-lekat. Sambil menjaga nada bicaranya agar tetap terkesan mantap dan optimis, ia berharap pria itu memahami betapa pentingnya batasan di antara mereka dalam menjalani hubungan singkat ini. Namun, tampaknya niat baik Sandra terasa bak ancaman bagi Dark Shadow.
“Seperti yang kukatakan sebelumnya, stick to my rules! Jadi, hanya aku yang berhak menentukan aturan mainnya, bukan kamu!” tegas Dark Shadow yang seketika menyadarkan Sandra bahwa kecil kemungkinannya ia dapat mengembalikan kekacauan ini ke jalur yang benar.
“Tapi—”
“Kita sudah ‘deal‘. Apa kamu ingin menarik kata-katamu? Kamu menyerah?” potong Dark Shadow sambil memajukan tubuh dan meletakkan kedua tangan di atas meja. Tatapan pria itu begitu tajam dan menantang, sementara aura kuat sarat ancaman itu begitu mudahnya mengintimidasi Sandra. Namun, Sandra tak ingin terlihat lemah ataupun ketakutan di hadapan pria itu. Ia seketika menegakkan tubuhnya, kemudian mencondongkan tubuh ke depan hingga jarak wajah mereka cukup dekat.
“Apa kamu bilang? Aku menarik kata-kataku?” Sandra cukup tersinggung dengan tuduhan itu. Ia menggeleng sinis seraya mengerutkan kedua alis yang terukir sempurna. “Aku tidak pernah—kutekankan sekali lagi—aku tidak pernah menyerah.”
“Lalu, kenapa kamu terlihat ragu? Apa kamu menyesal?” tanya Dark Shadow yang membuat Sandra semakin mengerutkan alis. Baru saja Sandra ingin menjawab, tiba-tiba pelayan datang dan menyajikan segelas anggur di hadapannya. Layaknya orang yang tengah kehausan, ia langsung mengangkat gelas tersebut dan meneguk isinya hingga tandas.
Sambil mengembus lega, ia meletakkan gelas cukup keras hingga menimbulkan sedikit getaran pada meja. Setidaknya, kandungan alkohol dalam wine berhasil meredam kekesalannya. Demi mengendalikan gejolak emosi, Sandra menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya secara perlahan sebelum kembali berbicara.
“Dengarkan aku.” Sandra memberikan penekanan pada kata-katanya demi melanjutkan pembelaannya yang sempat terhenti. “Kamu pasti mengira kalau kata-kataku mengenai ‘penerapan aturan’ terdengar seperti ingin mengaturmu. Tapi kamu lupa, kita belum mengenal satu sama lain.”
Kepercayaan diri Sandra mulai bangkit. Bahkan, ketegasan yang terkandung dalam suaranya menunjukkan betapa ia tak akan gentar menghadapi Dark Shadow meskipun ia sudah menyetujui permintaan yang tidak masuk akal itu.
“Banyak hal yang harus kita bicarakan mengenai hubungan ini. Aku tahu, hanya kamu yang berhak menentukan peraturan, tapi kamu tidak boleh lupa kalau aku mempunyai kehidupan pribadi dan pekerjaan, begitu pula dirimu. Aku tidak masalah berperan sebagai pasangan selama tiga bulan ini, tapi pertanyaan terbesarnya adalah apa alasanmu memintaku jadi kekasihmu? Lalu, kenapa aku harus pindah ke tempatmu?
“Selain itu, aku tidak tahu siapa namamu sebenarnya. Tidak mungkin kan aku memanggilmu ‘Dark Shadow’ sepanjang waktu? Aku yakin kamu pasti punya nama, setidaknya nama panggilan. Dan asal kamu tahu, mengetahui namamu mungkin bisa mengurangi kekakuan di antara kita selama menjalin hubungan,” ungkap Sandra tanpa ragu sedikit pun.
Tak dipungkiri, ada kelegaan yang tercipta ketika ia melontarkan seluruh pertanyaan itu. Senyum kecil bahkan menarik ujung bibir Sandra meski sorot geram di mata Dark Shadow tak sedikit pun berkurang. Biasanya, Sandra mampu membaca perasaan seseorang dari perubahan tiap mimik wajahnya. Sayangnya, masker yang menutupi bibir dan hidung Dark Shadow mempersulit penilaian Sandra akan ekspresi dan perasaan pria itu saat ini.
“Kita akan saling mengenal seiring berjalannya waktu,” ucap Dark Shadow datar, minim ekspresi. “Aku tahu kamu punya kehidupan pribadi dan pekerjaan, itulah kenapa besok kita harus menandatangani surat perjanjian. Di surat itu tertera peraturan yang jelas mengenai hubungan kita. Kenapa kamu harus pindah ke tempatku? Karena sebagai kekasih yang baik, kamu harus selalu berada di dekatku.
“Dan, alasanku memintamu menjadi kekasihku karena aku berencana membuat sebuah cerita baru yang—jika kamu serius menjalani peran sebagai kekasihku, maka cerita itu akan menjadi masterpiece terbaru yang dapat memberikan keuntungan luar biasa besar bagi penerbitanmu dan juga dirimu. Kamu adalah bahan risetku. Jadi, lancar tidaknya cerita baru ini semua tergantung padamu. Sedangkan namaku? Kamu akan mengetahuinya besok setelah menandatangani surat perjanjian, aku tidak mau memberikan secuil informasi pribadi kepada seseorang yang tidak dapat kupercaya.”
“Tidak dapat dipercaya?” Sandra spontan terbelalak mendengar kejujuran sinis itu.
“Tentu saja. Tidak ada yang tahu siapa Dark Shadow kecuali pengacaraku, dan aku akan terus menjaga semuanya tetap seperti itu. Kamu adalah orang baru yang akan masuk ke dalam lingkup pribadiku. Aku tidak ingin mengambil risiko dengan memercayai orang yang siap menjadi kekasihku demi sebuah keuntungan. Saat kamu menandatangani surat perjanjian, saat itulah kamu mengetahui siapa namaku,” jawab Dark Shadow dengan memberikan penekanan di beberapa kata, seolah ingin menegaskan pada Sandra bahwa ia harus menyadari posisinya.
Sungguh, baru kali ini Sandra bertemu orang yang penuh misteri dan begitu tertutup. Aura gelap sarat ketegangan dan ancaman yang menguar dari pria itu pun mampu membuat orang memilih untuk menjauh daripada harus berkenalan dan mendapatkan respons yang tidak menyenangkan.
“Oke. Aku bisa memahami alasanmu,” sahut Sandra yang kemudian menghela napas panjang. Ia bahkan bersandar di kursi sambil memasang sikap tenang terkendali.
“Apakah semua editor yang berniat mengajakmu bergabung selalu kamu tantang untuk menjadi kekasihmu?” tanya Sandra, penasaran. Ia tidak lagi bersikap layaknya seorang editor yang berusaha membujuk penulis untuk bergabung dengan penerbitannya. Jika Dark Shadow menginginkan dirinya menjadi kekasih selama tiga bulan, maka pria itu harus siap menerima sifat aslinya yang dinilai cukup menyebalkan oleh Nathan.
“Ya.”
“Bahkan, pria sekalipun?” Mata Sandra terbelalak saking kagetnya.
“Untungnya, mereka semua adalah wanita. Sementara, yang cukup bodoh dan berani menerima permintaanku hanyalah kamu,” jawab Dark Shadow tenang, tak merasa bersalah sama sekali setelah melontarkan kalimat ejekan yang Sandra yakini dengan sengaja diucapkan.
“Bodoh?” ulang Sandra tidak terima.
“Tentu saja,” sahut Dark Shadow ringan tanpa dosa. “Jika kamu memiliki sedikit saja kewarasan dan kecerdasan, kamu pasti akan menolak permintaanku.”
Sandra tak segan menunjukkan betapa tidak sukanya ia akan ucapan pria itu. Matanya memancarkan sorot penuh kekesalan, sementara ia menggigit dinding bagian dalam pipi demi menegaskan raut marahnya. “Aku menerima permintaanmu bukan karena aku tidak waras atau bodoh, tapi karena—”
“Frustrasi? Putus asa? Atau … tidak mau dikira pecundang?” tebak Dark Shadow cepat. Cara bicara yang angkuh dan kasar itu seolah ingin menunjukkan betapa pria itu begitu mudah membaca isi pikirannya.
Sandra tersinggung dan kesal. “Jaga bicaramu, Dark Shadow! Kamu tidak mengenalku. Berhenti membacaku seolah kamu tahu segalanya.”
“Yes, Angel. Aku memang tahu segalanya.”
Seketika, Sandra terdiam bingung mendengar jawaban itu. Napasnya tercekat dan jantungnya pun seolah berhenti berdetak selama beberapa detik. Apa maksudnya itu?
*****
Selama beberapa saat, Lucas duduk menyendiri di Brooklyn Bridge Park. Ia menikmati kesendirian yang sudah mendarah daging di kehidupannya selama sepuluh tahun terakhir. Kesendirian yang entah mengapa tiba-tiba terasa menyiksa batin setelah pertemuannya dengan Sandra.
Dalam diam, Lucas menatap barisan gedung-gedung di kota Manhattan yang terbentang indah di sepanjang tepian sungai. Lampu-lampu gedung yang terlihat begitu indah di bawah langit malam merupakan salah satu pemandangan favoritnya setiap kali ia menyendiri di tempat ini. Biasanya, keindahan yang ditawarkan oleh ribuan lampu gedung bertingkat itu mampu mengusir kerisauannya. Namun malam ini, keindahan itu tak mampu meredam sedikit pun kegelisahan dalam dirinya.
Tanpa terasa, waktu pun berlalu dan malam semakin larut. Akhirnya, Lucas pulang dengan sejuta keraguan dalam dirinya. Ragu akan kesiapan Sandra menjalani tantangan yang ia berikan, dan ragu pada dirinya sendiri.
Dengan pikiran melayang jauh entah ke mana, ia membuka pintu apartemen penthouse-nya yang berlokasi di Roger Avenue, Brooklyn. Apartemen yang didominasi warna putih cerah dengan langit-langit tinggi, menciptakan kesan mewah sekaligus luas. Lantai kayu kualitas terbaik yang memberikan kesan hangat sekaligus mewah serta ruangan tanpa sekat, menjadi alasan utama Lucas membeli tempat ini. Memiliki perabotan serba modern dengan penataan yang luar biasa apik, serta balkon pribadi yang luas dan menghadap langsung ke jalanan, Lucas yakini pasti dapat memberikan kenyamanan bagi siapa pun yang datang bertamu. Namun, hingga detik ini tak seorang pun pernah menginjakkan kaki di apartemennya, bahkan Gerald.
Terbiasa dengan kesunyian yang menyambut kedatangannya, Lucas melangkah tenang menuju dapur, mengeluarkan sekotak jus jeruk dari kulkas, kemudian meneguknya langsung dari kotak setelah membuang masker yang sedari tadi ia gunakan demi menutupi identitasnya. Kesegaran pun meluncur cepat membasahi kerongkongan dan menghapus dahaganya dalam sekejap.
Sambil menghela napas panjang, Lucas meletakkan kotak jus tersebut di meja dapur. Pikiran Lucas kembali tertuju pada percakapannya dengan Sandra dan peraturan-peraturan yang harus ia tuangkan dalam surat perjanjian. Tanpa berlama-lama, Lucas segera mengeluarkan ponsel dari saku, kemudian menghubungi Gerald.
Jam di dinding menunjukkan pukul 23.15, dan kemungkinan besar Gerald sudah tidur. Namun, Lucas tetap mencoba peruntungannya. Ia harus membicarakan masalah ini dengan pria itu sebelum Sandra bertemu langsung dengan Gerald.
“What the hell are you doing? Apa kau tak tahu ini jam berapa?” tegur Gerald dengan nada malas dan berat, pertanda bahwa panggilan Lucas berhasil membuat pria itu terjaga.
“Maaf. Aku tahu ini sudah larut malam, tapi … ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu sekarang.” Sungguh, Lucas menyesal karena sudah membangunkan Gerald, tapi hanya ini caranya agar malam ini ia bisa tidur nyenyak.
“Oh, great! Kuharap yang ingin kau bicarakan ini bisa mendatangkan banyak uang untukmu.” Gerald menguap keras. Bunyi gemeresik dan geraman pelan yang terdengar di balik ponsel menandakan bahwa pria itu sedang bangkit dari posisi tidur.
“Masalahnya—”
“Wait, wait. Aku keluar kamar dulu. Aku tidak mau mengganggu Daisy,” potong Gerald dengan volume suara sedikit lebih pelan. Sambil menunggu, Lucas membawa kotak jus dan duduk di sofa panjang yang langsung menghadap ke televisi layar datar. Setelah meneguk jus jeruk dan meletakkan kotaknya di meja sofa, ia kemudian menyandarkan tubuhnya dan merasakan kenyamanan yang tak terkira. Sambil menengadah, Lucas menatap langit-langit apartemen dan pikirannya melayang entah ke mana.
“Apa masalahnya?” tanya Gerald, kembali dengan volume suara yang normal. Lucas pun segera memusatkan perhatian pada percakapan mereka.
“Masalahnya, apa yang akan kuminta untuk kau lakukan ini tak akan memberikan satu sen pun keuntungan material bagiku.” Pengakuannya itu seketika menimbulkan decakan kesal di balik ponsel.
“Oh, God! Kau bikin masalah apa lagi sekarang?” tuduh Gerald tanpa sungkan.
Tentu saja Gerald berani menegur, apalagi memarahi Lucas. Pria itu adalah salah satu teman terbaik yang Lucas miliki semenjak ia pindah kuliah pada tahun kedua. Pertemuan mereka yang tidak disengaja di perpustakaan kampus membuat mereka semakin dekat. Meski mereka mengambil jurusan yang berbeda—Lucas mengambil jurusan sastra, sementara Gerald mengambil jurusan hukum—tapi hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menjalin persahabatan.
“Aku tidak membuat masalah. Aku hanya ….” Lucas menghentikan kalimatnya. Ia mencoba menimbang kembali kata-kata yang akan ia ucapkan agar dirinya tidak terdengar seperti penjahat, atau lebih parah lagi, psikopat!
“Sialan! Jangan bilang kalau kau membangunkanku hanya untuk membuatku penasaran! Atau, jangan-jangan kau memang tidak suka melihatku tidur nyenyak?” protes Gerald kesal ketika keheningan mengisi percakapan mereka selama beberapa detik.
“Aku membuat perjanjian dengan seorang wanita,” ungkap Lucas cepat dan lugas.
“Kau apa?” Nada bicara Gerald spontan meninggi, terkejut dan tidak percaya.
“Aku membuat perjanjian dengan seorang wanita, dan aku ingin minta tolong padamu untuk membuat surat perjanjian dengan beberapa persyaratan yang akan kami sepakati bersama besok,” ulang Lucas sembari menegaskan maksud dari panggilan tengah malamnya.
“Besok?” ulang Gerald dengan nada semakin tinggi.
“Iya, besok.” Lucas kembali menegakkan tubuh hanya demi mengangkat kotak jus dan meneguk kesegaran yang setidaknya berhasil mengusir kegelisahan yang sempat menggelayuti kerongkongannya.
“Wait, wait, wait! Kau tidak mabuk, kan?” Gerald memastikan dengan penuh penekanan.
“Tidak.”
“Apa kau menghamili wanita itu?” tanya Gerald blak-blakan.
“Hell no! Jangan gila, Gerald,” tegur Lucas sedikit kesal.
“Lalu, kenapa kau harus membuat perjanjian dengannya kalau kau tidak melakukan hal buruk yang merugikannya? Please, Lucas, jangan membuatku berpikir keras. Ini sudah malam. Sebagian besar otakku sudah berhenti bekerja keras sejak dua jam lalu,” keluh Gerald yang kemudian menguap lebar.
“Oke, oke. Aku akan menceritakan secara singkat, tapi kuminta … kau jangan bereaksi berlebihan,” ujar Lucas sembari mengancam.
“Hmm,” gumam Gerald malas, menyetujui.
Akhirnya, Lucas mulai bercerita. Mulai dari pesan Sandra di platform, hingga tantangan yang ia berikan pada wanita itu. Lucas juga tidak lupa mengungkapkan tentang imbalan yang akan Sandra terima jika wanita itu berhasil menjadi kekasihnya selama tiga bulan. Namun, ia tak sedikit pun bercerita tentang masa lalunya dengan Sandra dan dendam yang terkandung di dalam perjanjian itu.
Selama ia bercerita, Gerald tidak mengucapkan sepatah kata pun. Lucas berharap sikap diam sahabatnya itu menandakan bahwa Gerald dapat memahami permintaan anehnya dan segera menyusun surat perjanjian serta beberapa peraturan yang harus disetuju oleh kedua belah pihak. Akan tetapi, Gerald malah menegur Lucas setelah ia selesai bercerita, “Kau gila!“
“Sudah kubilang, jangan bereaksi berlebihan,” ingat Lucas datar.
“Siapa pun pasti akan bereaksi berlebihan setelah mendengar ceritamu. Atau, jangan-jangan kalian berdua memang sudah gila?” cecar Gerald setengah membentak.
Lucas pun terdiam sejenak setelah mendapat teguran keras dari sahabatnya. Bahkan, ia mencoba mengingat kembali alasan mengapa ia begitu ingin mempermainkan Sandra. Yeah, mungkin mereka berdua sudah gila. Tapi Gerald tidak tahu, Sandra-lah yang terlebih dahulu membuatku gila. Gila sampai ingin mati!
*****
