Behind The Lies – BAB 1

BAB 1

Brakk!!

Pintu yang berdebum keras menghantam dinding akibat tendangan kaki seorang pria berbadan tegap, tinggi, dan kekar seketika membangunkan Cassie dari tidurnya yang tak pernah nyenyak. Dalam keadaan linglung karena baru bangun, Cassie memaksa otaknya bekerja cepat dan keras agar dapat mengenali situasi yang menimpanya saat ini.

Baru saja ia berhasil menatap sekeliling kamar dengan pandangan jernih, cengkeraman kasar menjambak rambut panjangnya dan menarik kuat tubuhnya hingga tertarik ke sisi kanan tempat tidur. Rasa sakit yang luar biasa kembali mengaburkan pandangan Cassie, tapi tidak mengurangi sedikit pun tingkat kesadarannya.

“Aaa!! Lepaskan!” Spontan, Cassie berteriak kesakitan ketika tarikan kuat itu menyeret tubuhnya hingga membentur lantai cukup keras.

“Lepaskan, kumohon! Lepaskan!” raung Cassie kesakitan seraya memukul-mukul tangan kekar itu, tapi tak sedikit pun jambakannya melonggar. Rasa sakit di kepalanya terasa semakin menyiksa saat pria itu menggunakan rambut Cassie bak tali kekang dan menyeret tubuhnya menjauh dari tempat tidur. Oh, Tuhan! Rambutku seperti ingin lepas dari kulit kepala.

Cassie tak henti-hentinya memukuli tangan pria itu sambil terus berteriak kesakitan. Ia tak sempat bangkit dan melawan layaknya orang yang memiliki kesadaran penuh. Tenaganya belum terkumpul benar, dan pusat konsentrasinya hanya tertuju pada rasa sakit di kepala. Keterkejutan yang luar biasa pun menyerap seluruh kewaspadaannya akan serangan tiba-tiba yang ia alami.

Seolah belum puas menyiksa, pria itu mengempas kasar kepala Cassie hingga membentur sisi meja rias minimalisnya. Ia pikir, siksaan itu akan berhenti. Nyatanya, tidak. Sedetik kemudian, tendangan keras menyerang perut dan tubuh Cassie yang tak sempat menghindar.

“Ampun! Hentikan!” seru Cassie sambil meringkuk kesakitan menghadapi tendangan keras yang menghujani tubuhnya. Air mata yang seketika menggenang karena rasa sakit, langsung menghujani pipinya. Sungguh, ia tak mengerti mengapa paginya terasa seperti mimpi buruk. Ia bahkan tak tahu masalah apa lagi yang menghampiri dirinya kali ini.

“Hentikan! Kumohon … hentikan!” Cassie meringkuk bak bayi dalam kandungan, tapi tak mampu menghalangi siksaan membabi buta yang menyerang tubuhnya. Ia terus memohon. Sungguh, ia tak sanggup melawan. Menyadari sekuat apa pun ia mencoba melawan dan memberontak, kekuatannya tak akan sebanding dengan dengan pria itu.

“Hen-ti-kan … ku-mo-hon … hen-ti-kan,” cicit Cassie lemah dengan air mata berderai sampai akhirnya siksaan itu tiba-tiba berhenti begitu saja. Keheningan mengisi kamar tidurnya yang kecil. Tak ada derap kaki menjauhi tubuhnya, yang artinya pria itu masih berada di sekitar Cassie. Bahkan, pria itu sedikit pun tak terengah-engah setelah menyiksanya.

Memberanikan diri untuk menghadapi sosok menakutkan yang sedari tadi menyiksanya tanpa ampun, Cassie mulai membuka mata. Sambil meredam isak tangisnya, ia mengerjap-ngerjap demi menjernihkan pandangannya yang buram karena air mata yang tak henti berderai. Sepasang sepatu berukuran besar dan tebal mengisi sebagian besar jarak pandangnya.

Masih belum berani mengeluarkan sepatah kata pun, Cassie mengangkat pandangan menyusuri jeans hitam yang menjulang tinggi di atasnya. Ia berusaha mengenali wajah pria itu, tapi ketika menggerakkan tubuhnya sedikit, ia langsung merintih kesakitan. Seluruh tulang di tubuhnya remuk redam, bahkan tarikan napasnya terasa sesak dan perih.

“Bawa dia ke sini!” perintah pria itu, kasar.

Tak lama kemudian, derap-derap kaki memasuki kamar tidurnya. Si pria yang dari tadi menyiksanya langsung bergerak ke samping sehingga Cassie bisa melihat siapa yang memasuki kamarnya. Dalam keadaan meringkuk di lantai dengan sekujur tubuh kesakitan, Cassie terisak-isak pelan seraya menatap kedua pria—yang berperawakan tak kalah besar dengan pria yang tadi menyiksanya—menyeret masuk tubuh seorang pria yang terkulai lemah. Kepala pria itu tertuduk tak bertenaga, sementara tubuhnya tak menunjukkan sedikit pun perlawanan. Meski begitu, Cassie mengenal baik pria yang sudah tak berdaya itu. Mark, kekasihnya. Tanpa perasaan, kedua pria tersebut melempar tubuh Mark bak barang tak berharga hingga tergeletak di dekat kaki Cassie.

“Katakan padanya, tiga hari lagi dia harus melunasi utangnya!” Suara berat dan tegas itu bukan hanya membuat bulu kuduk Cassie meremang ketakutan, tapi juga menampar kesadarannya. Seketika, otaknya berputar cepat mencerna informasi yang baru saja ia terima.

“U-utang …?” tanya Cassie lirih dan kesakitan.

“Kalau dia tidak melunasinya, Mr. Sheldon tidak akan memberi ampun lagi!” ancam pria itu yang langsung berbalik membelakangi Cassie tanpa merasa kasihan sedikit pun padanya. Kedua orang yang tadi melempar Mark pun segera mengikuti langkah pria itu.

Hanya butuh beberapa detik setelah kepergian orang-orang itu, Cassie akhirnya mampu mencerna kejadian buruk yang kembali menimpa kehidupannya. Mark membuat masalah untuk yang kesekian kali dan menyeretnya serta. Namun, Cassie tak mampu berharap banyak dari pria itu. Ia sangat mencintai Mark. Sangat!

*****

“Astaga, Cassie!”

Lily menangkup dagu Cassie, sementara mata wanita itu menatap nanar lebam di pipi, pelipis, dan lekukan bibirnya. Sungguh, Cassie sudah berusaha semaksimal mungkin menyamarkan lebam-lebam di wajahnya dengan make up, tapi tetap saja tak mampu menutupi dengan sempurna.

Dengan insting tajamnya, Lily segera menjauhkan tangan dari wajah Cassie, lalu menarik ke atas satu per satu lengan panjang kemeja putih yang ia kenakan. Mata wanita itu terbelalak seraya menggeleng tak percaya melihat lebam di kedua tangannya. Tak mampu berkata-kata, Lily menghela napas kecewa dan menatapnya sedih sekaligus kasihan. Tak berhenti sampai di situ, Lily dengan cekatan menarik bagian bawah kemeja Cassie, kemudian mengangkatnya sedikit seraya memutar tubuh Cassie, meneliti bak seorang kakak yang begitu khawatir akan keselamatan adiknya.

“Ya, ampun, Cass! Kenapa badanmu juga biru-biru semua?” tanya Lily histeris seraya menurunkan kembali kemeja Cassie.

“Aku jatuh dari tempat tidur tadi,” ujar Cassie seraya merapikan kemejanya tanpa berani menatap Lily. Entah mengapa ia harus berbohong, padahal ia tahu betul kalau sahabatnya itu pasti sudah bisa menebak siapa yang mungkin menjadi pelaku utama di balik lebam-lebam di tubuhnya.

“Kau tahu kalau kau pembohong yang buruk, ‘kan?” ketus Lily seraya berkacak pinggang, menunjukkan protes akan kelemahan Cassie yang selalu berusaha menutup-nutupi masalah yang menimpa dirinya.

“Sudahlah, Ly. Nanti juga hilang,” bujuk Cassie seraya menarik lembut kedua tangan Lily menjauh dari pinggang, kemudian menggenggamnya.

“Hilang? Lama kelamaan, nyawamu yang hilang, Cass!”

Ia menanggapi gerutuan Lily dengan senyum lemah, tapi sedetik kemudian mengernyit kesakitan karena luka di ujung bibirnya masih belum sembuh benar. Lily menggeleng heran sekaligus tak percaya dengan jalan pikirannya.

“Sudah berapa kali kukatakan padamu? Tinggalkan dia!” nasihat Lily seraya mengerut kesal hingga kedua alisnya hampir menyatu. Sorot mata kasihan yang tertuju pada Cassie pun menunjukkan betapa terlukanya wanita itu melihat kondisinya saat ini. Nasihat itu sudah sering diucapkan oleh Lily, dan ia pun tahu seberapa benci sahabatnya itu pada Mark. Masalahnya, ia tidak bisa melepaskan diri dari pria itu. Ia sudah terbiasa dengan kehadiran Mark dalam kesehariannya meski ia tahu betapa buruk kelakuan Mark.

“Aku tidak bisa, Ly,” aku Cassie sedih. Wajahnya murung membayangkan betapa terlukanya Mark ketika ia memutuskan meninggalkan pria itu.

“Kenapa??” Lily menatap kesal, lalu melepaskan genggaman manja Cassie.

“Aku … tidak bisa. Dia … sendirian, Ly,” ungkap Cassie membela Mark.

“Tidak bisa atau tidak mau?” tukas Lily geram.

“Aku mencintainya, Ly. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Dia … bagaimana kalau dia—”

“Hentikan!” potong Lily cepat seraya membawa telapak tangan yang terbuka ke depan wajah Cassie. “Aku sudah hafal kata-katamu. Semakin banyak kau mengucapkan kata-kata pembelaan, semakin muak aku padanya. Kau tidak akan pernah hidup tenang kalau masih menjalin hubungan dengan benalu itu. Sadarlah, Cass! Hubungan kalian tidak akan pernah berhasil.”

Cassie tertunduk lemas sambil menautkan jari jemari, gelisah dan serba salah. Ia tahu kebiasaan buruk Mark. Masalahnya, Cassie begitu mencintai Mark. Seandainya pun ia memutuskan hubungan dengan pria itu, ia tak tahu harus ke mana. Cassie hidup sebatang kara di kota ini. Hanya Mark yang ia punya.

Meskipun ia masih memiliki orang tua, tapi Cassie enggan meminta tolong kepada mereka. Mom, setelah menjalani tiga pernikahan yang berakhir buruk, tak jera untuk kembali menjalin hubungan asmara. Setelah tiga tahun menjanda, Mom pun menikah dengan Robert.

Apakah Cassie gembira? Tentu saja ia gembira, bahkan bahagia. Cassie termasuk tipe romantis melankolis. Itulah mengapa ia begitu mudah jatuh cinta dan selalu memiliki kepercayaan tinggi bahwa setiap orang akan berubah, meski yang buruk sekali pun. Cassie pun meyakini bahwa suatu hari nanti Mark akan menyadari kesalahannya dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang berkelakuan positif. Entah kapan, tapi ia tetap berkeyakinan seperti itu.

Saat ini, Mom berada cukup jauh darinya, di Queensland. Sedangkan Cassie lebih memilih tinggal di tanah kelahirannya, Adelaide, Australia Selatan. Bukannya tidak ingin hidup bersama Mom, tapi Cassie pernah mengalami satu kejadian buruk dengan salah satu mantan kekasih Mom yang memberikan trauma cukup mendalam baginya dan juga Mom. Setidaknya, kali ini Mom menikah dengan pria baik yang memiliki rumah dan pekerjaan tetap.

Sementara Dad … yeah, Dad tidak jauh berbeda dari Mark. Pemabuk dan penjudi. Dad bahkan tak pernah berusaha turut andil dalam kehidupan Cassie. Sebagai seorang ayah, Dad semestinya mampu mengayomi, menjaga, serta merawatnya—bukan malah sebaliknya. Dad memang sesekali muncul di depan pintu apartemen atau tempatnya bekerja. Bukan untuk menanyakan kabar Cassie, tapi untuk meminta uang.

Setelah Mom pindah ke Queensland, Cassie memilih tinggal di apartemen kecil Mark. Meski memiliki perangai buruk, pria itu mencintainya. Sebelum Cassie mendapatkan pekerjaan di restoran tempatnya bekerja hingga saat ini, Mark-lah yang membiayai seluruh kebutuhan hidupnya.

Sempat suatu waktu mereka berdua bertengkar mengenai kebiasaan Mark yang mulai menghabiskan persediaan uang mereka. Berjudi. Cassie menegur Mark dan mengancam akan meninggalkan pria itu jika tidak berhenti berjudi. Pria itu tidak terima dengan tegurannya, lalu memukul Cassie. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk kabur. Sayangnya, pria itu selalu berhasil menemukannya setiap kali ia pergi diam-diam. Bukan karena ia tak bisa pergi jauh, tapi karena tempat pelariannya hanya satu. Apartemen Lily.

“Apa dia yang melakukan ini padamu?” tanya Lily mulai menginterogasinya.

“Bukan,” jawab Cassie seraya menggeleng lemah.

Lily mendengus muak. “Dia berurusan dengan siapa kali ini?”

Ketegasan sarat amarah yang terkandung dalam pertanyaan itu membuat Cassie merasa serba salah. Jika ia memberi tahu Lily, ia bisa membayangkan betapa murka sahabatnya itu pada Mark. Namun, jika ia mencoba menutupi masalah ini, dapat dipastikan Lily akan mencaci Mark habis-habisan dan melaporkan pria itu ke pihak berwajib dengan laporan tindakan penganiayaan. Tidak! Cassie tidak mau pihak berwajib ikut campur dalam masalah ini, karena itu sama saja membawa Mark semakin dekat dengan jeruji besi.

“Sudahlah, Ly. Aku masih bisa mengatasi ini,” ujar Cassie dengan nada memohon, berharap Lily berhenti bertanya.

“Oh, sungguh? Kau benar-benar bisa mengatasinya? Dengan apa? Tubuhmu? Bagaimana caramu mengatasinya?? Jelaskan padaku!” cecar Lily murka seraya melipat kedua tangan di depan dada dan menatap Cassie bak seorang polisi yang sedang menginterogasi tahanan.

“Aku akan meminta tambahan shift dan mencari pekerjaan baru di luar sana supaya aku bisa—”

“Aku yakin seratus persen, kau manusia terbodoh di dunia!” sela Lily kesal. Raut wajah muak disertai gelengan kepala frustrasi menandakan betapa wanita itu sudah siap memuntahkan kembali ketidaksukaannya terhadap rencana Cassie.

Cassie menarik napas sedalam yang dapat ia lakukan karena semakin dalam ia menarik napas, rasa sakit di dadanya terasa semakin menyiksa. Menangkap kernyitan kembali menghiasi wajah Cassie, Lily pun berniat menyudahi percakapan. Wanita itu berbalik, lalu duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu, dan bersandar di dinding ruang karyawan yang sepi saat itu. Keheningan melingkupi ruangan, dan Cassie pun segera duduk di samping Lily, kemudian menggenggam tangan wanita itu erat-erat.

“Aku bisa mengatasi ini, Ly.” Cassie berusaha meredam luapan emosi sahabatnya, sementara ia mencoba membendung air mata yang mulai menggenang. Sebagian dari dirinya—yang selalu memaksanya berpikir logis—merasa bersalah karena tak mampu mengambil sikap tegas terhadap Mark. Namun, sebagian lagi—yang selalu dipenuhi fatamorgana cinta—memohon agar ia memaklumi kejadian itu dan memaksanya mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Mark.

“Berapa jumlahnya kali ini?” tanya Lily langsung ke pokok permasalahan.

Cassie melepaskan genggaman tangannya, lalu tertunduk dan menautkan kembali jari jemarinya di atas pangkuan. Ingin rasanya ia mengatakan pada Lily berapa jumlah uang yang harus ia siapkan dalam kurung waktu kurang dari tiga hari. Namun, Lily sudah terlalu banyak membantunya, bahkan Cassie tidak tahu bagaimana cara mengembalikan uang yang sudah ia pinjam dari Lily demi menyelamatkan Mark dari tangan para penagih.

“Berapa, Cass?” desak Lily, mulai tak sabar. Dengan sorot sedih dan putus asa, Cassie pun menoleh dan menatap Lily.

“2.000 Dollar,” jawab Cassie takut-takut.

“2.000 Dollar??” Mata Lily terbelalak seolah ingin keluar dari rongga kepala. Embusan napas kecewa pun terdengar jelas ketika wanita itu menyandarkan kepala di dinding.

“Kapan batas pembayarannya?”

“Tiga hari lagi,” jawab Cassie kembali tertunduk lemas.

“Dengan siapa dia berurusan saat ini?” tanya Lily untuk kedua kalinya.

“Mr. Sheldon,” jawab Cassie yang kemudian mengembuskan napas sedih, lalu menutup wajah dengan kedua tangan. Air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya menetes. Cassie putus asa. Segala cara sudah ia lakukan demi menyadarkan Mark agar menjauhi dunia penuh kejahatan itu, tapi tetap saja pria itu selalu kembali dan terjebak dalam lingkaran setan yang membuat batin Cassie tersiksa.

“Mark mencuri kokain dari Mr. Sheldon, Ly,” lanjut Cassie dan tangisnya pun meledak.

*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja
error: Content is protected !!