A Struggle Heart – BAB 6 – BAB 10

BAB 6

Maira berdiri di depan pagar pembatas pintu kedatangan. Debaran jantungnya begitu cepat, perpaduan rasa gugup dan senang. Tangan dan kakinya pun terasa dingin. Ia terus menggenggam tali tas makin erat demi menekan rasa gugupnya. Sementara, matanya tertuju ke salah satu sudut di mana makin banyak orang keluar dari balik tembok. 

Mata Maira berbinar bahagia ketika melihat pria yang begitu ia cintai, berjalan menuju pintu keluar sambil mendorong sebuah troli berisi beberapa koper. Seorang wanita berseragam perawat, mendorong kursi roda dan berjalan di samping Ben. Ibu Ben duduk diam di kursi roda dengan tatapan kosong, sedangkan Ben—yang melihat ke arah Maira—langsung tersenyum lebar dan mempercepat langkahnya.

“Ben.” Suara Maira bergetar ketika pria itu berdiri tepat di depannya. Ia berusaha keras menahan kerinduan yang mulai tak terbendung. Tak ada yang tahu betapa Maira sangat merindukan Ben. Baru saja sehari tak bertemu, perasaannya sudah gundah gulana. Bagaimana kalau satu bulan? batin Maira nelangsa.

Seolah-olah mampu merasakan kerisauannya, Ben langsung membelai lembut wajah Maira. Seketika itu pula, air matanya menetes. Saat ini, Maira tak mampu lagi menahan perasaannya. Ia merindukan Ben. Sangat!

“Aku pulang, Sayang,” ucap Ben lembut yang membuat air mata Maira makin berderai. Ia mencoba kuat, tetapi tidak bisa. Maira tidak bisa berbohong. Ia tahu kalau dirinya tidak akan bisa jauh dari Ben. 

Maira mengangguk lemah seraya mengusap air matanya. Tak ingin membuang waktu hanya dengan menangis, Maira mulai menarik napas dan mencoba menahan isak tangisnya. Senyum lembut yang menghiasi wajah Ben ketika menggenggam erat tangan Maira, memberikan kekuatan serta ketegaran yang sempat hilang dalam dirinya.

“Maira, ini Ibuku,” ucap Ben memperkenalkan. Ibu Ben tampak seperti berada di dunia lain, tatapannya begitu kosong meskipun saat ini wanita itu tersenyum lembut pada Maira.

“Bu, ini Maira, wanita yang kuceritakan kemarin,” lanjut Ben. Maira menjabat tangan wanita itu dengan senyum merekah. Ibu Ben terlihat lebih cantik dibandingkan dengan foto yang pernah Ben tunjukkan padanya. 

“Selamat datang, Tante,” sambut Maira ramah. Ibu Ben mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, hanya tersenyum.

“Kamu parkir di mana, Sayang?” tanya Ben pada Maira.

“Tidak jauh dari sini,” jawab Maira sambil menunjukkan arah. Mereka pun mulai berjalan menuju tempat parkir mobil. Sesampainya di depan mobil Maira, Ben meminta kunci, berniat untuk menyetir. Dengan senang hati, Maira memberikan kunci mobil pada Ben.

Dengan cekatan, Ben memasukkan koper ke bagasi, lalu menggendong ibu masuk ke mobil. Sama pendiamnya dengan ibu Ben, si perawat bergegas duduk di samping wanita itu. Maira berusaha tidak memedulikan hal tersebut dan segera duduk di kursinya. Setelah semua duduk tenang di kursi masing-masing, Ben langsung mengendarai mobil menjauh dari bandara menuju salah satu hotel yang dekat dengan tempat tinggal pria itu.

Perjalanan mereka cukup lancar, sama seperti saat Maira datang ke bandara. Namun, selama perjalanan Ben tidak terlalu banyak bicara seperti biasa. Pria itu hanya menanyakan hal-hal ringan, seperti bagaimana kabarnya dan apakah ia sudah makan. Hanya itu. 

Biasanya, setiap kali mereka berada di mobil, Ben selalu bercerita tentang kegiatan selama di kantor atau kejadian-kejadian lucu yang dialaminya, tetapi tidak hari ini. Padahal, mereka tidak bertemu kemarin. Maira yakin pasti ada cerita lucu atau apa pun itu yang bisa Ben ceritakan. Namun, pria itu hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Mungkin Ben lelah, pikir Maira.

Ibu Ben juga tidak bersikap layaknya calon mertua yang senang menggali informasi dan kelemahan dari calon menantu. Sedikit banyak, Maira merasa bersyukur jika ia mendapatkan calon mertua yang tidak cerewet. Namun di sisi lain, ia merasa janggal dengan kesunyian ini.

Sikap Ben sangat pendiam, begitu juga ibunya. Biasanya setiap kali mengendarai mobil, Ben sesekali melirik dan tersenyum ke arahnya. Namun hari ini, pria itu hanya tersenyum padanya saat di gerbang kedatangan saja. Setelah itu, tidak ada sama sekali. Apa karena ada ibunya jadi Ben bersikap kaku seperti ini? pikir Maira mencoba mengerti.

Perjalanan singkat jadi terasa lama dan membosankan. Akhirnya, Maira inisiatif menyalakan radio demi mengisi kesunyian yang membuatnya mengantuk. Sebuah lagu lawas dari Air Supply yang berjudul Without You, mengalun indah dan memberi ketenangan di hati. Namun, Ben tiba-tiba mengganti saluran radio dan mengecilkan volume. 

Maira langsung menoleh dan melemparkan tatapan protes pada Ben. Ingin rasanya ia menanyakan tentang perubahan sikap itu, tetapi Maira tidak mau membuat calon mertuanya menilai bahwa dirinya adalah calon istri yang cerewet, suka melawan dan mengatur. Tidak! Maira tidak menginginkan hal itu.

Akhirnya, Maira membuang wajah ke samping dan memandangi jalan tol yang penuh kendaraan lalu lalang. Ingin rasanya Maira membuka percakapan, tetapi ia tidak tahu harus bertanya atau membicarakan apa. Tidak ingin kekakuan yang terasa begitu kental mengisi suasana mobil merusak suasana hatinya, Maira memutuskan untuk diam seribu bahasa sambil mendengar suara radio yang begitu pelan, bahkan hampir tak terdengar. 

Satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah hotel. Tempat itu tidak terlalu mewah, tetapi juga tidak terlalu buruk. Ben memarkir mobil di lahan parkir yang berada tidak jauh dari pintu lobi. 

Masih dalam keadaan diam seribu bahasa, Ben segera keluar dari mobil dan langsung menuju pintu bagasi, lalu mengeluarkan kursi roda. Maira pun turun, menutup pintu, lalu menunggu sejenak sembari memperhatikan. Setelah menggendong dan menempatkan ibu di kursi roda dengan hati-hati, Ben langsung menurunkan dua koper berukuran besar. 

Maira menangkap besarnya perhatian dan rasa sayang Ben pada ibu. Ada sedikit rasa cemburu atas perhatian yang Ben berikan pada wanita itu, tetapi dengan cepat Maira menepisnya. Ia tidak ingin merasa tersaingi oleh satu-satunya wanita yang tak mungkin tergantikan di hidup Ben. Wanita itu yang melahirkan dan merawat Ben dari kecil hingga menjadi pria yang ia cintai saat ini.

Setelah memastikan barang bawaan ibunya tidak ada yang tertinggal, Ben langsung mengunci pintu, lalu melangkah menuju pintu lobi. Pria itu berjalan di samping kursi roda, masih tetap dalam kondisi diam seribu bahasa. Sementara, Maira masih berusaha sabar dengan keheningan yang begitu memuakkan, dan mengikuti langkah Ben dari belakang. 

Mereka masuk ke hotel dan menunggu di salah satu sofa besar dekat meja resepsionis selagi Ben melakukan reservasi. Beberapa menit kemudian, Ben menghampiri dan mengajak mereka―lebih tepatnya, hanya ibu dan si perawat saja―untuk masuk lift. Ben meminta Maira untuk menunggu di sofa, sementara pria itu mengantarkan ibu ke kamar hotel. 

Maira ingin menolak dan menawarkan diri untuk ikut. Namun, apalah dayanya? Maira hanyalah tunangan Ben dan belum menjadi istri. Akhirnya, ia pun pasrah dan menunggu di sofa sambil melihat mereka masuk lift.

Kenapa aku nggak boleh ikut? Apa Ibunya nggak suka sama aku?

∞∞∞∞∞

Hampir satu setengah jam Maira menunggu, tetapi Ben belum juga turun. Akhirnya, Maira mengeluarkan ponsel dari tas dan segera menghubungi Ben. Ia sudah tidak bisa bersabar lagi. Baginya, ini sudah tidak masuk akal. 

Mana ada seorang tunangan disuruh nunggu di bawah seperti orang asing, sedangkan pasangannya malah di kamar hotel bersama ibunya sampai lupa sama tunangannya sendiri? geram Maira dalam hati. Dua kali ia menghubungi Ben, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Maira mencoba untuk yang ketiga kali, dan akhirnya pria itu menjawab. 

Kenapa?” tanya Ben tipis. Napasnya terengah-engah seperti sedang tergesa-gesa.

“Kenapa?” ulang Maira kesal, tidak percaya dengan pertanyaan itu. Ingin rasanya Maira langsung memaki dan meninggalkan Ben.

Ada apa?” tanya Ben, merasa tidak bersalah sama sekali.

“Kamu turun sekarang, atau aku pulang naik taksi!” ancam Maira tegas. Ini sudah di luar batas sabarnya. Sikap Ben benar-benar aneh hari ini. Begitu dingin, tidak ada senyum hangat, dan menganggapnya tidak ada. Ini bukanlah Ben yang ia kenal. Maira langsung memutuskan panggilan tanpa berusaha memberi kesempatan pada Ben untuk menjelaskan. Beberapa menit kemudian, pintu lift pun terbuka dan Ben keluar sambil melangkah cepat. Masih dengan ekspresi tak terbaca, pria itu menghampiri Maira, yang langsung beranjak dari sofa.

“Maafkan aku, Sayang,” ucap Ben lembut, dan seketika itu rautnya berubah menjadi sosok pria yang Maira kenal. Sosok yang memiliki sinar wajah ramah serta tatapan hangat dan penuh cinta yang selalu tertuju padanya.

“Ben, apa ada masalah?” ucap Maira hati-hati. Ben terdiam sejenak. Tatapan hangat itu kembali menghilang dalam sekejap, bahkan Maira bisa melihat jelas betapa Ben berusaha bersikap tenang seperti biasa. 

“Oh, itu. Nggak ada apa-apa, Sayang. Semua baik-baik saja, kok,” jawab Ben gugup. Maira menatap Ben dalam-dalam, dan instingnya mengatakan kalau ada sesuatu yang berusaha disembunyikan darinya. 

“Maafkan aku karena membuatmu menunggu lama ya, Sayang,” ucap Ben lembut, lalu menarik tangan Maira, dan menggenggamnya erat. Sedangkan tangan yang lain, membelai wajah Maira penuh cinta, sementara mata Ben menatapnya dalam-dalam. Meskipun keraguan itu masih ada, tetapi dengan mudahnya Maira memaafkan Ben. Akhirnya, Maira menghela napas cepat dan senyum kecil pun mulai menghiasi wajahnya, sementara Ben mengembuskan napas lega. 

“Kamu cantik sekali hari ini. Apa aku sudah mengatakannya?” tanya Ben, mengalihkan pembicaraan. Maira menggeleng, mengerut kecewa seperti anak kecil yang sedang merajuk. Ben pun langsung memberi tatapan penuh penyesalan. 

“Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar sudah mengecewakanmu,” sesal Ben merasa bersalah.

“Nggak apa-apa, Ben. Aku mengerti, kok,” jawab Maira, ekstra sabar.

“Kamu sudah makan? Bagaimana kalau kita cari makan siang?” tanya Ben sambil menuntunnya keluar dari ruang tunggu. Maira melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 11.25.

“Kita makan di tempat biasa, yuk,” ajak Maira, mulai ceria. Ben tersenyum hangat, menyetujui usulnya. Ya. Senyum inilah yang ia tunggu dari tadi. Senyum hangat dan penuh cinta.

∞∞∞∞∞

Maira mengunyah makanan sambil memandang Ben yang menikmati sepiring iga bakar. Sesekali Ben tersenyum padanya, mencoba terlihat tenang dan santai. Namun, bukan Maira namanya kalau ia tidak bisa merasakan kejanggalan pada sikap Ben. Ia harus bertanya, atau ia akan melewati malam ini dengan penuh rasa curiga di pikirannya.

“Ben,” panggil Maira membuka pembicaraan.

“Ya, Sayang,” jawab Ben santai.

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Maira sambil menatap wajah Ben yang berubah kaku seketika, seakan-akan mengetahui apa yang akan ia bicarakan.

“Kenapa, Sayang?” tanya Ben balik, sedangkan senyum kaku di wajah menunjukkan ada yang sedang ditutupi oleh pria itu.

“Apa ada masalah waktu kamu di Bali?” tanya Maira tenang.

Ben tidak langsung menjawab pertanyaannya. Pria itu malah mengangkat gelas, lalu meneguk es teh manis dengan gugup. Maira bisa mendengar bagaimana es-es di dalam gelas itu berdenting karena tangan Ben bergetar ketakutan. Maira menatap Ben, tetapi pria itu berusaha agar tidak bertatapan dengannya. Dan saat itu juga, Maira benar-benar yakin kalau Ben sedang menyembunyikan sesuatu.

“Ben, kamu nggak bisa menutupi apa pun dariku. Kamu tahu itu, ‘kan? Aku bisa lihat, hari ini kamu sangat berbeda, kamu—“

“Maafkan aku, Sayang. Nggak ada masalah sama sekali kok,” potong Ben cepat, membuat Maira terdiam sejenak. Jawaban itu terkesan dingin dan ketus, yang membuat Maira makin tidak tenang.

“Kamu bisa cerita padaku, Ben. Sikapmu kaku sekali, dan wajahmu … seperti sedang memikirkan sesuatu,” lanjut Maira, bertekad tak akan berhenti sampai Ben menceritakan yang sebenarnya.

“Aku hanya memikirkan pekerjaanku, Sayang. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dalam waktu dekat ini,” jawab Ben kaku. Ingin sekali ia memercayai alasan tersebut, tetapi sikap dan cara bicara Ben yang kaku, membuktikan kalau ada hal lain yang berusaha disembunyikan darinya. 

Ben masih tidak berani menatap Maira saat berbicara, terlihat gugup, dan mencoba sibuk dengan makanannya. Ini bukan Ben yang ia kenal. Pria yang ada di hadapannya saat ini seperti dikendalikan oleh sesuatu. Seakan-akan, jiwa dan pikirannya pergi entah ke mana.

“Kamu yakin hanya itu, Ben?” tanya Maira. Ben langsung meletakkan sendok, mengangkat tangan ke wajah Maira, lalu membelainya lembut. Sangat lembut hingga membuatnya terbuai. Rasa penasarannya pun sedikit memudar.

“Iya, Sayang. Hanya itu. Maafkan aku kalau sudah buat kamu khawatir,” jelas Ben sambil mengusap ibu jarinya di pipi Maira dengan lembut. Maira menangkup tangan Ben, yang masih membelai wajahnya.

“Tapi, Ben … aku benar-benar merasa ada yang salah denganmu hari ini,” ungkap Maira yang belum puas akan jawaban Ben, “kamu begitu dingin padaku. Bahkan, kamu membiarkanku menunggu lama di hotel. Kamu nggak pernah begitu sama aku, Ben.”

Ben langsung menarik tangan, menjauh dari wajah Maira, atau lebih tepatnya mengempaskan tangan Maira seakan-akan jijik dengan sentuhannya. Ia pun tersentak kaget menerima sikap dingin itu.

“Aku sudah bilang kalau nggak ada apa-apa! Apa lagi yang kamu mau?” tanya Ben kesal. Sorot mata geram dan muak, tertuju langsung pada Maira. Seketika itu pula, rasa perih bersarang di dada Maira saat menerima perlakuan yang begitu dingin, kasar, dan sinis dari Ben.

“A-aku … aku cuma ….”

“Hentikan, Maira! Jangan tanya apa-apa lagi untuk saat ini. Bisa?” pinta Ben tegas dan penuh penekanan. Maira langsung terdiam dan mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ya, aku yakin sekali kalau ada sesuatu yang Ben sembunyikan dariku. Entah apa itu, tetapi suatu saat aku pasti akan mencari tahu, batin Maira.

Ia mengangkat gelas, lalu menghabiskan es teh manisnya. Maira mencoba untuk tidak mengungkit masalah itu lagi dan memendam rasa sakit hatinya. Ben, yang kehilangan selera makan, langsung meneguk minuman hingga tandas, kemudian beranjak dari meja dan melangkah menuju kasir. 

Maira duduk terdiam, pikirannya terus berputar sambil menahan rasa kesal yang makin membuncah di dada. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya cepat. Berulang kali Maira melakukan hal itu, berharap bisa meredam rasa pedih dalam dada. Lambat laun, perasaannya mulai terasa lebih ringan, meskipun rasa curiga dan sedih itu masih ada. Beberapa menit kemudian, Ben kembali ke meja, lalu duduk di kursinya. 

“Maira,” panggil Ben datar. Maira menatap Ben dengan sikap tenang dan penuh kesabaran agar pria itu tidak marah dan kesal lagi padanya.

“Hari Selasa kita ada pertemuan dengan keluarga dari pihak ayahku yang ada di Jakarta. Usahakan supaya hari itu kamu tidak terlalu sibuk, ya,” pinta Ben, nadanya masih dingin dan kaku.

“Aku usahakan,” jawab Maira cepat, “di mana pertemuannya?”

“Bandar Djakarta. Jam enam sore,” jawab Ben singkat.

“Kamu jemput aku atau kita ketemuan di sana?” tanya Maira.

“Ketemuan di sana,” jawab Ben singkat. Jawaban itu sangat menohok dada Maira, yang langsung mengerut kecewa dengan sikap Ben. Sekali lagi, Maira menarik napas panjang, berusaha untuk tetap bersabar dan membiarkan sikap dingin Ben berlalu begitu saja. 

“Baiklah,” jawab Maira singkat. 

Akhirnya, mereka beranjak meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah makan. Maira masuk mobil, lalu menutup pintu yang ada di sampingnya, begitu juga dengan Ben. Pria itu langsung menyalakan mobil, mengeluarkannya dari tempat parkir, lalu melaju menuju tempat tinggal Ben.

∞∞∞∞∞

Hai, Ben,” sapa wanita di seberang sana.

“Hai,” jawab Ben ringan, sambil berbaring di tempat tidur. Ben senang karena wanita itu menghubungi tepat saat ia sedang memikirkannya. Aneh? Ya, tentu saja. Namun, itulah yang ia rasakan saat ini.

Bagaimana hari ini? Lancar?” tanya wanita di seberang sana, terdengar ringan dan riang.

“Lumayan. Bagaimana denganmu?” tanya Ben. Senyum terus menghiasi wajah Ben, sementara pikirannya membayangkan wajah wanita itu, yang saat ini mungkin sedang tersenyum sambil berbicara dengannya.

Nggak terlalu lancar, Ben,” keluh wanita itu, terdengar murung disertai tawa kecil yang terkesan dipaksakan.

“Ada apa?” tanya Ben cepat, lalu bangkit dan duduk di tempat tidur.

Orang tuaku mulai menanyakanmu, Ben. Dan ….” 

Wanita itu terdiam sejenak. Hanya terdengar embusan napas berat, menandakan kalau ada sesuatu yang mengusik pikirannya.

“Kenapa?” tanya Ben lembut, mulai khawatir.

Sepertinya, mereka sudah tahu kalau aku … aku sudah—

“Seminggu,” potong Ben cepat, “beri aku waktu seminggu. Aku akan kembali ke sana untuk memperbaiki semua ini.” 

Aku nggak tahu apa aku bisa meredam semua ini, Ben,” ungkapnya, menyerah.

“Aku yakin kamu bisa,” sahut Ben, mencoba menguatkan.

Kamu yakin, Ben?” tanya wanita itu ragu.

“Aku yakin,” ujar Ben lantang, “seminggu. Hanya seminggu.”

Baiklah, Ben,” jawab wanita itu pasrah. Kembali terdengar embusan napas berat yang membuat Ben makin khawatir dan tidak tenang.

Bagaimana keadaan Ibu? Apa Ibu senang ketemu sama Maira?” tanya wanita itu penuh perhatian seraya mengalihkan pembicaraan.

“Aku rasa begitu,” jawab Ben tak yakin.

Ada apa, Ben?” tanya wanita itu penasaran.

“Ibu terlalu dingin sama Maira. Dia juga nggak terlalu banyak bicara dan terlihat nggak tertarik sama Maira,” jawab Ben. Ia menyesali sikap ibu pada Maira. Ben tahu kalau Maira mampu merasakan sikap dingin ibu. Ben juga melihat bagaimana ibu terlihat seperti tidak peduli, bahkan tak menganggap keberadaan Maira. Ben benar-benar merasa begitu bersalah.

Sabar, Ben. Kamu tahu Ibu memang begitu. Terkadang, Ibu suka lupa di mana dia berada. Ibu juga bisa tiba-tiba sedih karena mengingat sesuatu,” jelas wanita itu, memberikan pengertian pada Ben.

“Ya. Aku tahu,” balas Ben lemah. 

Tentu saja, Ben tahu dan tidak berusaha menutupi hal itu dari siapa pun. Sejak kematian ayah, ibu memang suka berdiam diri, menyendiri, dan melamun. Bahkan, ibu terkadang suka melupakan hal-hal penting, kecuali ayah. Ibu begitu mencintai ayah. Semua hal yang berhubungan dengan ayah selalu melekat dalam pikiran ibu. Semuanya! Mulai dari parfum kesayangan, makanan dan minuman favorit, bahkan lagu yang selalu ayah nyanyikan pada ibu.

Lagu Without You dari Air Supply adalah salah satu lagu kesukaan ibu. Setiap kali ayah berada jauh dari ibu, ayah selalu menyanyikan lagu dari telepon. Makanya, saat radio tidak sengaja memutar lagu itu di mobil, Ben langsung mengganti ke siaran lain. Ia tidak ingin ibunya kembali bersedih.

Rasa cinta ibu pada ayah sangat besar, begitu juga sebaliknya. Ayah adalah pria yang sangat romantis dan mencintai ibu hingga akhir hayat, dan Ben berharap ia bisa seperti ayah. Mencintai Maira hingga akhir hayat.

Aku harap apa yang kamu lakukan di sana bisa berjalan lancar, Ben,” ujar wanita itu tulus.

“Terima kasih. Kabari aku kalau terjadi sesuatu,” pesan Ben hangat.

Baik, Ben,” jawab wanita itu patuh, dan mereka segera mengakhiri percakapan. Ben meletakkan ponsel begitu saja di tempat tidur dan merenung sejenak, mengingat serta menyusun semua rencananya agar bisa berjalan dengan baik sebelum ia kembali ke Bali.

Semoga semua berjalan lancar.

∞∞∞∞∞

BAB 7

Hari Selasa pun tiba, dan Maira merasa tidak semangat seperti biasa. Maira duduk di tempat tidur, mengusap kedua telapak tangan di wajahnya dengan beberapa usapan lemah, lalu bergeser ke tepi tempat tidur dan duduk di sana sejenak. Ia mengembuskan napas cepat, mencoba mengubur kegelisahan yang melingkupinya sejak kepulangan Ben dari Bali.

Pikirannya pun melayang, membayangkan apa yang akan ia lalui hari ini. Nanti sore, ia akan bertemu dengan keluarga Ben dari keluarga mendiang ayah pria itu. Namun, kebimbangan serta kerisauan yang menggelayuti dada sejak kemarin, membuat Maira ragu. Tarikan napasnya pun makin berat setiap kali membayangkan bagaimana ia harus memasang raut bahagia palsu di depan orang-orang terdekat Ben.

Sesaat kemudian, Maira bangkit dan berjalan menuju pintu kamar mandi. Ia berhenti sejenak di depan pintu, kembali memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ingin rasanya ia tinggal di rumah dan tidak melakukan apa-apa hari ini, tetapi tidak bisa karena hari ini ia ada janji meeting dengan Micro Computer. Setelah itu, ia juga harus mempersiapkan gathering untuk Dhirgan Media. 

Maira mengembuskan napas berat untuk yang ke sekian kali sebelum membuka pintu lebar-lebar, lalu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Maira berendam di bathtub sambil memikirkan barisan kegiatannya yang akan ia lakukan hari ini. Ia pun kembali teringat akan perubahan sikap Ben.

Semenjak kepulangan dari Bali, sudah dua hari ini Ben bersikap aneh. Kemarin, Ben menjemputnya dan baru kali itu terlambat. Alasannya karena pria itu harus mengunjungi ibunya terlebih dulu di hotel sebelum terjebak macet ketika ingin menjemput Maira. 

Ia bersikeras untuk pulang sendiri, tetapi Ben memaksa akan tetap menjemputnya. Akhirnya—dua jam kemudian—Ben tiba di depan rumah Desi. Maira mencoba untuk tidak mempermasalahkan keterlambatan itu, apalagi alasannya karena Ben baru saja bertemu ibu. Yang Maira permasalahkan adalah sikap pria itu. 

Awalnya, Ben menunjukkan betapa pria itu sangat menyesal karena sudah terlambat menjemputnya. Namun, saat Maira mencoba bercerita dan bergurau selama perjalanan pulang, Ben sama sekali tidak menyambut dengan baik. Pria itu lebih banyak diam, bahkan hanya tersenyum dan tertawa seperlunya. 

Akan tetapi, yang membuat Maira makin curiga adalah saat ia mencoba memperhatikan raut wajah Ben. Pria itu langsung menegurnya karena merasa tidak nyaman. Ada apa ini? Kenapa Ben sangat berubah? Mau sampai kapan Ben bersikap misterius seperti ini? pikir Maira.

Ia mengusap wajah, membasahi kepalanya dengan air, lalu menekuk dan memeluk kedua kakinya erat-erat di depan dada. Rasa penasaran dan curiga ini benar-benar menyiksa batin Maira. Ingin sekali ia mencari tahu apa sebenarnya yang Ben sembunyikan, tetapi bagaimana caranya?

Frustrasi, Maira menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dengan cepat. Matanya terpejam, salah satu tangan meremas rambut, sedangkan yang satu lagi masih terus memeluk kedua kakinya. Air mata pun mulai membasahi pipi. 

Ini bukanlah air mata kesedihan. Bukan juga karena patah hati, tetapi ini … ini adalah air mata putus asa. Maira tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengorek misteri yang Ben sembunyikan darinya. Gelora panas yang menjalar dari hati hingga ke sekujur tubuh, mengubah rasa sakit dan putus asa itu menjadi amarah. 

Maira marah, tetapi bukan pada Ben. Maira marah kepada dirinya sendiri karena merasa tak berguna, gagal, dan tak bisa mencari jalan keluar terbaik bagi masalah ini. Maira marah karena ia hanya bisa diam dan mengikuti kemauan Ben tanpa berbuat apa-apa. Maira marah karena ia hanya bisa menyimpan kecurigaannya demi menjaga perasaan Ben. Maira marah—sangat-sangat marah—karena kebodohannya!

Dengan geram, Maira memukul air hingga menciprati wajah. Cipratan itu seakan-akan menampar dan menyadarkan Maira dari pikiran kelam yang melandanya beberapa hari ini. Akhirnya, ia bergegas bangkit dari posisinya, lalu membuka penyumbat bathtub, kemudian menyalakan shower yang berada tepat di atas kepala. Ia membasuh tubuhnya hingga bersih, lalu mematikan shower.

Setelah mengeringkan tubuh, Maira segera keluar dari kamar mandi dan berpakaian. Ia mengenakan setelan blazer abu-abu dengan tank top hitam. Rambut hitam panjangnya, ia biarkan terurai indah. Kulit putihnya pun terlihat menonjol di balik setelan baju kerja yang ia kenakan. 

Dengan lihai, Maira memoleskan riasan sempurna di wajah, kemudian menyemprotkan parfum. Waktu menunjukkan pukul 07.30, ia pun bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sereal serta segelas susu. Sambil menikmati sarapan, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan dari Ben.

Seperti biasa, Ben mengucapkan selamat pagi dan mengatakan kalau saat ini dalam perjalanan menuju rumahnya. Maira langsung membalas pesan dengan sikap datar, kemudian meletakkan ponsel tepat di samping gelas susu. Ia menghabiskan sarapan dengan cepat, lalu membersihkan semuanya. Setelah itu, Maira masuk ke kamar dan mengambil tas kerja yang tergeletak di meja nakas.

Tak lama kemudian, terdengar suara deru mobil di depan gerbang. Maira langsung keluar kamar dan berjalan cepat menuju pintu rumah. Dengan raut sama seperti kemarin, Ben memperhatikannya dari mobil saat ia mengunci gerbang rumah. Maira mencoba untuk tidak menghiraukan raut Ben dan langsung masuk mobil tanpa banyak bicara. 

“Aku langsung ke Micro, ya,” kata Maira memberi tahu Ben.

“Daerah mana?” sahut Ben singkat dan dingin.

“Slipi. Kamu mau antar aku?” tanya Maira, basa-basi. Ben melihat jam digital yang ada di dashboard mobil, lalu berdecak kecil.

“Sepertinya aku cuma bisa mengantarmu ke halte terdekat yang searah dengan kantorku. Soalnya, aku ada rapat jam sembilan,” jelas Ben.

“OK. Nggak masalah,” jawab Maira tenang karena tahu kalau Ben pasti akan menolak.

∞∞∞∞∞

Seusai rapat dengan Micro, Maira langsung mempersiapkan beberapa keperluan untuk gathering Dhirgan. Dan saat ini, akhirnya ia bisa beristirahat sejenak sambil duduk di salah satu kursi Starbucks ditemani segelas Dark Mocha Frappuccino. Ia menikmati minuman itu seraya memperhatikan sekeliling. 

Tempat itu cukup ramai, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Ada beberapa mahasiswa yang berkumpul di salah satu meja sambil membicarakan tentang perkuliahan mereka. Ada pula sekumpulan orang yang bercengkerama dan tertawa saat lawan bicaranya melontarkan lelucon. 

Maira kembali memusatkan perhatian ke layar laptop, di mana ia sedang memasukkan beberapa data, menyusun acara untuk Micro, serta keperluan untuk Dhirgan. Ia masih punya waktu kurang dari dua jam sebelum bertemu dengan keluarga Ben. Keinginannya untuk membatalkan pertemuan itu sangatlah besar. Namun, saat mengingat bagaimana pria itu mengatakan bahwa pertemuan ini sangatlah penting agar Maira bisa lebih dekat dan dikenal keluarga besar Ben, malah membuatnya bimbang setengah mati. 

Maira teringat akan pembicaraan mereka tadi pagi tentang perubahan sikap Ben, yang akhirnya berani ia utarakan. Maira tidak peduli jika nanti Ben akan marah dan membencinya, tetapi ia sudah bertekad menyelesaikan masalah itu secepatnya. Bukan hanya demi dirinya, tetapi juga demi hubungan mereka.

“Ben, maafkan kalau aku terdengar seperti memaksa atau menaruh curiga sama kamu. Tapi jujur, semenjak kepulanganmu dari Bali, aku merasa ada yang salah denganmu,” ungkap Maira, menghancurkan kesunyian di dalam mobil. Ben tidak menjawab dan tetap memandang lurus ke jalan. 

“Kamu bisa bilang kalau nggak ada apa-apa di Bali, dan mengatasnamakan pekerjaan atas perubahan sikapmu itu. Tapi, aku tahu kalau ada yang kamu sembunyikan dariku,” lanjut Maira makin memberanikan diri.

“Kalau kamu belum siap dengan semua ini, aku nggak akan memaksa kamu untuk menikahi aku. Kita bisa tunda sampai kamu siap, atau … lebih baik kita break dulu,” tegas Maira sebelum akhirnya berhenti berbicara. 

Rasa sakit langsung bersarang di dada Maira ketika mengucapkan kalimat terakhir itu. Ia pun menoleh dan menangkap raut kaku Ben, sementara tangan pria itu meremas geram kemudi. Akhirnya, Ben menepikan mobil, lalu memarkirkannya di bahu jalan. 

Maira masih diam, menunggu reaksi Ben. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Kalau Ben belum siap menikahinya, Maira tidak akan memaksa. Namun, jika Ben tetap ingin menikah dengannya, pria itu harus menjelaskan semua sampai rasa curiga dalam dirinya hilang. Maira menunggu dan menunggu. Cukup lama ia menunggu hingga akhirnya Ben mengembuskan napas berat. 

“Aku mencintaimu, Maira.”

Hanya itu yang Ben ucapkan sebelum kembali terdiam. Maira tidak menjawab atau menyanggah pernyataan itu. Ia terus menunggu penjelasan lebih dari Ben, meskipun hatinya terasa sakit. 

“Aku mencintaimu dan ingin menikah denganmu, Maira. Tapi ….” 

Kata-kata Ben pun terhenti lagi. Ya, ada ‘tapi’ di dalam hubungan ini, dan hal itu merupakan sebuah masalah besar yang pasti bisa mengganggu hubungan mereka. Namun, Maira harus tahu apa ‘tapi’ itu sebelum semua berlanjut menjadi perkara lebih besar lagi.

“Tapi, aku ….” Ben terdiam lagi, bergelut dengan pikirannya sendiri. 

“Maira, apa kamu harus menanyakan hal ini sekarang?” tanya Ben dengan wajah memelas. Maira menatap Ben dengan raut penuh curiga. Ia tidak tahu apa sebenarnya yang Ben sembunyikan, tetapi Maira yakin rahasia itu pasti sangatlah besar.

“Iya!” jawab Maira tegas, tanpa takut sedikit pun. Ben mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan.

“Ini tentang keluargaku … menyangkut aku dan Ibuku,” ungkap Ben pelan seraya menyusun kalimat yang akan diucapkan selanjutnya. Ben menghela napas cepat, lalu memejamkan mata.

“Ayah menyuruhku melakukan sesuatu dalam surat wasiatnya,” lanjut Ben. Bukannya merasa tenang, Maira malah makin penasaran. Dengan tatapan meneliti, Maira terus mengunci raut Ben yang terlihat makin gugup.

“Ada surat wasiat yang diberikan padaku sehari setelah kematiannya. Dan …, karena wasiat itulah, beberapa hari ini aku merasa gelisah,” jelas Ben, tampak suram dan bingung.

“Kenapa baru merasa nggak tenang sekarang?” tanya Maira bingung.

“Karena sebentar lagi kita akan menikah, dan aku rasa wasiat itu sedikit berpengaruh dalam rencana kita ke depan,” jelas Ben, tidak berani menatap Maira.

“Apa isinya?” tanya Maira langsung, tidak ingin menunda-nunda lagi.

“Bukan masalah besar. Hanya sebuah janji yang harus aku tepati demi kebahagiaan Ibu. Itu saja,” jawab Ben, tidak menjawab pertanyaan Maira dengan terbuka.

“Janji apa?” tanya Maira lebih mendesak.

“Aku nggak bisa bilang ke kamu, Maira. Ini antara aku dan mendiang Ayahku,” jawab Ben makin gelisah, menunjukkan bahwa pertanyaan yang Maira lontarkan begitu mengganggu dan terlalu menyelidik.

“Apa, Ben? Kenapa kamu nggak mau terbuka sama aku? Aku bisa bantu kalau ada yang—“

“Bukankah lebih baik jika aku saja yang mengurus masalah ini? Semua ini berhubungan dengan Ibuku, dan aku rasa belum saatnya kamu untuk ikut campur!” jawab Ben memotong kalimat Maira dengan tatapan dingin dan tajam. 

Kata-kata itu begitu menohok dan menyadarkan Maira kalau saat ini posisinya masih berada di luar lingkaran keluarga Ben. Maira hanya bisa menghela napas kecewa, bahunya terkulai lemah dan tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi. Ini adalah masalah keluarga Ben. Maira hanya bisa berharap agar masalah itu cepat selesai dan Ben dapat bersikap seperti sedia kala. Ia ingin tahu apa isi wasiat itu, tetapi perkataan tadi benar-benar memperjelas kedudukannya saat ini.

“Maafkan aku, Sayang. Aku sungguh-sungguh minta maaf,” ucap Ben menyesali ketegasannya, “aku benar-benar nggak mau kamu terlibat dulu dalam masalah ini. Aku hanya ingin membuatmu tenang.”

“Tapi kamu malah membuatku makin nggak tenang, Ben,” balas Maira jujur.

“Aku tahu. Maafkan aku, Sayang,” sahut Ben sambil meremas tangan Maira. Pasrah, Maira kembali mengembuskan napas berat untuk yang ke sekian kali. Beban dalam dadanya belum hilang sama sekali, bahkan terasa makin berat. Ia tidak bisa membiarkan Ben mengatasi masalah ini tanpa bantuan darinya sedikit pun. 

“Kumohon, Sayang. Maafkan aku. Aku akan berusaha menyelesaikan masalah ini secepatnya. Aku nggak mau kamu menderita, begitu pula dengan Ibuku,” jelas Ben memelas. Wajah pria itu berubah menjadi sedih, dan kali ini tatapan memohonnya terlihat begitu tulus.

“Baiklah. Aku memaafkanmu, Ben,” balas Maira pasrah, “tapi, jangan bersikap dingin lagi padaku!”

“Aku janji, Sayang,” jawab Ben cepat.

“Kamu sudah mengucapkan banyak janji padaku, Ben. Kamu sadar?” ujar Maira, menyinggung dan menyadarkan pria itu.

“Aku tahu, Sayang. Aku pasti akan menepati setiap janjiku,” jawab Ben serius. Maira terpaksa tersenyum, tetapi pria itu membalas dengan senyuman hangat. Dengan penuh cinta, Ben mengangkat tangan Maira, lalu mengecup punggung tangannya. Ia terenyuh seketika, dan senyum palsunya pun berubah menjadi tulus.

Aku harus mencoba memahami situasi ini. Aku harus bersabar sampai masalah keluarga Ben selesai. Aku harus bersabar dan bersabar lagi demi hubungan ini. Harus! batin Maira, mencoba membatasi diri dan perlahan-lahan menghapus keraguannya.

Dan sekarang, saat terik matahari mulai mereda, Maira mencoba berkutat dengan data-data penting yang harus diselesaikan demi menenangkan kegelisahannya. Dering ponsel mengalihkan perhatian Maira dari layar laptop dan melihat nama Ben tertera di sana.

“Ben?” sahut Maira bingung karena sebelumnya pria itu mengatakan ada rapat penting yang berlangsung sore ini.

Sayang, kamu lagi apa?” tanya Ben riang.

“Aku di Starbucks, lagi input data,” jawab Maira ringan.

Mau aku jemput?” tanya Ben cepat.

“Bukannya kamu ada rapat?” tanya Maira bingung.

Aku pulang cepat, aku sudah izin sama bos,” jawab Ben.

“Yakin nggak apa-apa kalau kamu minta izin begitu?” tanya Maira meskipun perasaan senang mulai menyeruak dalam dadanya.

Iya, Sayang. Aku mau menebus kesalahanku. Boleh ‘kan aku jemput kamu?” tanya Ben lembut. Maira tersenyum kecil mendengar ucapan itu. Akhirnya, Ben kembali menjadi sosok yang ia kenal, yang perhatian dan selalu mengutamakan dirinya. Ya, Ben berhak menerima maafnya. 

“Bagaimana dengan Ibu?” tanya Maira, basa-basi.

Saudara Ayah berkunjung tadi siang ke hotel. Dia yang bawa Ibu ke tempat pertemuan,” jelas Ben.

“Serius?” tanya Maira, tidak percaya.

Iya, Sayang,” jawab Ben lembut.

“Baiklah. Aku ada di Setia Budi,” jawab Maira.

OK, aku berangkat sekarang. Tunggu aku, ya,” balas Ben semangat, “I love you, Maira.”

Love you too, Ben,” balas Maira, dan panggilan itu pun berakhir. Perasaannya seketika berubah menjadi bahagia. Harapan yang sebelumnya pupus, mulai tumbuh kembali meskipun masih ada misteri wasiat yang membayangi hubungan mereka. Setidaknya, Ben mau berusaha menyelesaikan masalah keluarga demi kebahagiaan Maira. Kebahagiaan mereka.

∞∞∞∞∞

BAB 8

Mereka tiba di area parkir Bandar Djakarta, Ancol. Semangat dan kebahagiaan, membuncah di dada Maira yang sudah siap untuk bertemu keluarga besar Ben. Maira keluar dari mobil, begitu juga Ben. Pria itu terus menggenggam tangannya saat berjalan menuju restoran, sampai akhirnya mereka bertemu seorang pria berusia lima puluhan bertubuh gempal yang memiliki wajah ramah dan suara riang. 

Ben menjabat tangan pria itu dan mengenalkannya pada Maira. Pria itu adalah salah satu paman Ben. Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan menuju barisan meja yang sudah dipesan. Terlihat beberapa orang sedang asyik bercengkerama riang dan akrab. Mata Maira tertuju pada ibu Ben yang duduk manis di kursi roda dan sedang berbicara dengan wanita berusia lima puluhan yang berpenampilan cantik dan elegan.

Ben terus menggenggam tangan Maira, menuntunnya ke arah meja, di mana ibu Ben duduk. Tatapan hangat wanita itu menyambut kedatangannya. Senyum manis pun terukir di wajah yang sudah tidak muda lagi. Maira sedikit terkejut dengan perubahan sikap Ibu Ben karena terakhir kali ia ingat, wanita itu cukup dingin padanya. 

Maira mencoba menepis kerisauan dalam hatinya. Ia tidak ingin sikap ibu Ben malah merusak momen berharganya saat ini. Dengan raut ceria, Ben memanggil seorang pelayan, sementara Maira duduk di tempat yang sudah disediakan, tepat di samping Ben. Pelayan tersebut segera menghampiri.

“Ada apa, Ben?” tanya Maira setelah Ben berbisik pada si pelayan.

“Nggak ada apa-apa,” jawab Ben tersenyum lebar, tampak menyembunyikan sesuatu, lalu mengecup punggung tangan Maira dengan lembut. 

Tak lama kemudian, si pelayan yang sebelumnya berbicara dengan Ben, datang membawa sebuah buket bunga melati yang sangat indah, lalu meletakkannya tepat di hadapan Maira. Ia menatap Ben dengan raut bingung terutama saat pria itu berdiri dan memberi isyarat kepada beberapa orang yang ada di sana. Semua orang pun mulai diam dan memusatkan perhatian pada Ben. 

“Selamat sore semua!” sapa Ben semangat. Maira memperhatikan sikap dan raut Ben yang terlihat begitu percaya diri, bangga, serta ceria.

“Saat ini, saya mengundang saudara-saudara semua dengan maksud dan tujuan tertentu. Seperti yang sudah saya ceritakan pada Paman tertua beberapa hari sebelumnya, saya bermaksud untuk mengenalkan seorang wanita yang sangat saya cintai—selain Ibu saya, tentunya,” ucap Ben lancar, lalu mengulurkan tangan pada Maira sambil tersenyum. Ia menerima uluran tangan itu dan berdiri. 

Ben menarik Maira mendekat, lalu melingkarkan tangan di pinggangnya.  Wajah Maira sontak merona ketika menerima perlakuan mesra itu. Ia memang sudah sering berada di muka umum untuk mempresentasikan pekerjaan. Namun, mempertunjukkan kemesraan di depan keluarga adalah hal baru bagi Maira. Pandangan hangat serta senyum bahagia yang keluarga Ben berikan, tertuju kepada mereka berdua.

“Wanita ini adalah Maira. Dialah yang akan menjadi calon istri dan pendamping hidup saya,” lanjut Ben sambil menatap matanya dalam-dalam. Kehangatan langsung memenuhi dada Maira, tersentuh akan keberanian serta tatapan penuh cinta yang Ben tunjukkan padanya. Ketika Ben menoleh ke arah tamu undangan, Maira melirik sekilas ke arah ibu Ben. Perasaan hangat kembali menyelimuti dadanya saat melihat senyum bahagia menghiasi wajah wanita itu.

“Saya ingin memperkenalkan wanita cantik ini kepada keluarga besar, dan memohon restu demi kelancaran persiapan kami dalam menyusun rencana pernikahan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat,” lanjut Ben semangat. 

Tatapan tegas, senyum bangga, dan pelukan erat di pinggang Maira, menunjukkan betapa Ben bersedia menerjang apa pun demi memperjuangkan kebahagiaan mereka. Maira terus memperhatikan wajah Ben dan sesekali melempar pandangan ke keluarga besar, yang menerima kehadirannya dengan mudah. Maira, yang begitu tenggelam dalam kebahagiaan, tidak mendengar dengan jelas apa yang Ben katakan. 

Namun, ketika Ben melepaskan pelukan dari pinggang Maira, saat itu pula ia berusaha memusatkan perhatian dan mengendalikan rasa senang dalam dirinya. Ben mengambil buket bunga melati yang ada di meja, lalu mengeluarkan sebuah kalung mutiara bertakhtakan berlian indah, yang ternyata sudah tergantung di sela-sela bunga sejak tadi. Perhatian Maira terlalu terpusat pada Ben hingga ia tidak menyadari keberadaan benda itu. Dengan penuh cinta dan kelembutan, Ben mulai melingkarkan kalung tersebut di leher Maira, sementara keluarga Ben bertepuk tangan, ikut merasakan kebahagiaan mereka.

“Aku mencintaimu, Maira,” ucap Ben lembut, lalu mengangkat tangan Maira dan mengecupnya.

“Aku juga mencintaimu, Ben,” balas Maira, terharu.

Lambat laun, tepuk tangan itu mulai berhenti saat mereka berdua melemparkan senyum dan mengucapkan terima kasih dari tempat mereka berdiri. Mereka kembali duduk di kursi masing-masing, menunggu hidangan tersaji di meja. Angin yang bertiup sepoi-sepoi mengantarkan aroma laut hingga memenuhi indra penciumannya, membuat kebahagiaannya terasa begitu sempurna. Tempat favoritnya, pria yang sangat ia cintai, dan seluruh keluarga yang menerimanya dengan tangan terbuka. 

It’s so perfect. My life is perfect.

∞∞∞∞∞

Maira tergeletak di tempat tidur, tenggelam dalam kebahagiaan. Ia menggenggam bandul berlian dan mengingat kembali betapa romantisnya Ben saat memberikan kalung itu. Ben benar-benar sempurna, dan ia tidak ingin kehilangan pria itu. Maira juga teringat akan ucapan ibu Ben saat memeluknya erat-erat untuk memberi selamat. 

“Terima kasih. Kamu sudah membuat anakku bahagia,” kata ibu Ben dengan suara serak dan lemah. Air mata Maira serasa ingin tumpah karena akhirnya ibu Ben mau bersikap hangat padanya. 

Hari ini benar-benar diakhiri dengan sempurna, meskipun sempat terselingi oleh panggilan Desi di tengah-tengah acara makan. Desi kembali menghubunginya untuk meminta pendapat karena mendapat ajakan kencan dari seorang pria. Dan seperti biasa, Desi menjauh seribu langkah dari pria itu. Mungkin butuh waktu dan pria yang tepat untuk membuat Desi berubah. Maira yakin, Desi pasti akan mendapatkan pria yang mencintai wanita itu dengan tulus dan menjaganya dengan sepenuh hati.

Senyum bahagia masih melekat di wajah Maira, hingga akhirnya ia memutuskan beranjak dari tempat tidur dan masuk kamar mandi. Ia mandi cepat dan langsung mengenakan pakaian tidur. Sebuah pesan masuk dari Ben ketika ia baru saja selesai berpakaian. Maira langsung membacanya dengan wajah semringah.

Selamat tidur, My future wife.

Pesan singkat itu membuat perasaan Maira membumbung tinggi. Dengan cepat, ia membalas pesan itu.

Selamat tidur juga, My future husband.
Tapi aku mau selesaikan pekerjaanku dulu, ya.

Dan, balasan dari Ben pun datang secepat kilat.

Jangan tidur malam-malam, Sayang. 
Aku nggak mau kamu sakit.

Rasa cinta Maira makin bertambah besar. Ben sangat memperhatikan dan memikirkan kesehatannya. Setelah ia memprotes sikap dingin Ben dan memutuskan menceritakan masalah keluarga yang dihadapi, sikap pria itu mulai kembali normal. Kembali menjadi Ben yang ia cintai.

Iya, Ben. Aku tahu. 
Selamat tidur, Sayang,

Maira membalas pesan itu dengan cepat. Balasan pesan dari Ben pun membuat dirinya makin melayang.

Selamat tidur juga, Sayang. 
Miss you already. 
Can’t wait to marry you.

Maira meletakkan ponsel di tempat tidur setelah membalas pesan terakhir. Lalu, ia turun dari tempat tidur dan mengambil laptop dari tas kerja. Sembari bersandar di sandaran tempat tidur, Maira menyalakan laptop, kemudian membuka berkas perusahaan Dhirgan. Karena ini adalah gathering ketiga Dhirgan yang Maira handle, setidaknya ia sudah terbiasa dengan detail dan permintaan dari klien yang satu ini.

Sebuah surel dari salah satu manajer Dhirgan tadi siang, memintanya menyiapkan beberapa makanan khusus yang ditujukan untuk tamu kehormatan. Dengan tanggap, Maira langsung menghubungi pihak katering setelah menerima surel tersebut. Gathering kali ini diadakan di Hotel Luxury, dan ia sudah mengurus reservasinya. Besok, ia tinggal mengurus beberapa hal kecil seperti dekorasi, tata cahaya lampu, sound system, dan lainnya. 

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Jam di dinding menunjukkan pukul 23.30. Maira bergegas mematikan laptop dan memasukkan kembali ke tas kerja. Ia harus segera tidur dan bangun besok pagi dengan keadaan segar. Dan yang pasti, aku akan bermimpi indah malam ini.

∞∞∞∞∞

Kamis pun tiba. Setelah kemarin bekerja keras menyelesaikan sentuhan terakhir untuk acara Dhirgan, akhirnya Maira tertidur nyenyak pukul 19.00 setelah memberi kabar pada Ben. Ia benar-benar tidak bisa menahan kantuk dan lelah. Meskipun ia dibantu beberapa vendor langganan, tetap saja ia tidak bisa membiarkan mereka bekerja tanpa pengawasan. Dan sekarang adalah hari pelaksanaan gathering Dhirgan yang akan berlangsung mulai pukul 15.00.

Setelah bangun dari tidur nyenyaknya, Maira bergegas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Desi. Dengan perut yang terisi penuh dan pesan singkat Ben yang selalu menyapanya setiap pagi, Maira siap memulai hari ini dengan kekuatan penuh. 

Hari ini, Maira membiarkan rambutnya tergerai bebas. Kemeja biru terang lengan panjang dengan dua kancing atas terbuka, membuat Maira terlihat seksi, tetapi tetap elegan. Celana bahan hitam yang melekat indah di kaki jenjangnya, memudahkan Maira untuk bergerak lincah mengurus gathering hari ini. Sementara, sepatu heels hitam tertutup, menyempurnakan penampilannya. Senyum merekah dan rona merah muda, menghiasi wajah segar Maira ketika menghampiri Ben yang sedang menunggu kedatangannya.

“Kamu selalu terlihat cantik, Sayang. Kamu membuat hari-hariku selalu berwarna,” sanjung Ben sebelum mereka meninggalkan rumah, yang menjadi moodbuster-nya hari ini. 

Lalu lintas Jakarta yang padat merupakan hal biasa bagi mereka. Jarak antara rumah Maira dengan rumah Desi tidaklah terlalu jauh. Hanya memakan waktu 30 menit, itu pun jika mereka terjebak macet. Setibanya di rumah Desi, Ben memarkirkan mobil di depan pagar. Maira mendaratkan kecupan singkat di bibir Ben sebelum keluar dari mobil. Dengan riang, ia melangkah menuju pintu rumah, lalu berbalik dan membalas lambaian tangan Ben sebelum menghilang dari pandangan.

Senandung riang mengiri langkah Maira saat memasuki ruang kerja dan meletakkan tas di meja. Dengan segera, Maira mengeluarkan laptop dari tas kerja dan menyalakannya. Hari ini, ia harus membuat laporan mengenai meeting kemarin dan memberikannya pada Desi agar sahabatnya itu bisa membuat draft tagihan untuk perusahaan Micro dan Dhirgan.

“Des, gue kirim report Micro sama keperluan Dhirgan, ya,” kata Maira yang dijawab anggukan lemah Desi. Wanita itu tampak berbeda dari biasanya, seperti ada sesuatu yang mengganjal dan membebani hati. Terakhir kali ia melihat Desi seperti ini adalah saat wanita itu terpuruk karena perselingkuhan Steve. Akhirnya, Maira memberanikan diri bertanya pada Desi.

“Des, lu kenapa?” tanya Maira ringan sambil berkutat dengan persiapan Dhirgan.

“Dia mau minta tolong sama lu, Ra. Tapi, dia takut,” jawab Sasha cepat. Sasha melirik ke arah Desi, dan tertawa geli. Penasaran, Maira pun menatap wajah Desi yang merona. 

“Minta tolong apa, Des? Bilang aja,” pancing Maira berniat meringankan beban Desi.

“Lu mau gantiin gue buat urus Zyro, nggak?” tanya Desi, wajahnya memelas, “tapi acaranya dari hari Sabtu sampai Senin.” 

What?” balas Maira, terkejut mendengar permintaan Desi.

Please, Ra! Cuma lu satu-satunya harapan gue,” mohon Desi makin memelas.

“Des, gue nggak bisa! Beneran, deh. Soalnya hari Minggu ini ada pertemuan keluarga gue sama calon besan,” jelas Maira. Ingin sekali ia membantu Desi, tetapi waktunya benar-benar tidak tepat. Hari Minggu ini Ben akan melamarnya secara resmi. 

Desi pun mulai menceritakan tentang seorang pria tampan bernama Mike yang sangat menakutkan, otoriter, dan begitu mengintimidasi. Seorang pria yang berbeda dari pria-pria lain yang pernah mendekatinya. Maira berpikir mungkin ini saatnya bagi Desi untuk membuka hati pada pria lain, bangkit dari keterpurukan, dan menghadapi dunia luar yang indah serta menakjubkan ini.

“Sudahlah, Des. Santai saja,” kata Maira sambil beranjak dari kursi, lalu mulai membereskan meja, dan memasukkan laptop ke tas kerja. Waktu menunjukkan pukul 10.00. Ia pun harus bergegas untuk memastikan semua rencananya berjalan sempurna.

“Gue berangkat, ya. Mau urusin Dhirgan dulu. Wish me luck!” pamit Maira, penuh semangat. Sasha tersenyum ringan, membalas ucapannya, sedangkan Desi masih terlihat gelisah.

“Hati-hati, ya, Ra! Kabarin,” ucap Desi lemah.

“OK!” jawab Maira sebelum keluar dari ruangan. Sebuah taksi yang sudah ia pesan sebelumnya, tiba di depan rumah. Maira langsung masuk dan kendaraan itu segera pergi meninggalkan rumah Desi.

∞∞∞∞∞

BAB 9

Maira tiba di Hotel Luxury pukul 11.00. Ia langsung menuju ruang serbaguna di lantai lima. Ruangan itu sudah dipenuhi dekorasi dan barisan meja katering yang tersusun rapi. Teknisi yang mengurus pencahayaan dan sound system akan tiba satu jam lagi. Sedangkan beberapa hadiah yang sudah ia pesan melalui vendor kepercayaannya, masih dalam perjalanan. Secara keseluruhan, tempat ini sudah siap dan tertata sesuai keinginannya. 

Maira berdiri di tengah ruangan. Ia memperhatikan sekali lagi dengan saksama, lalu mengeluarkan buku catatan, dan memeriksa kembali setiap detailnya. Pertama, Maira meneliti tata panggung yang sudah dihiasi dekorasi megah. Di atas panggung berkarpet merah, tersusun empat kursi besar berwarna keemasan dan sebuah meja di depannya. Sebuah podium yang terbungkus kain merah, diapit oleh empat rangkaian bunga hias di kanan dan kirinya. Layar putih dan dua buah standing mic pun sudah diletakkan di sebelah kiri panggung.

Kemudian, ia memeriksa kelengkapan puluhan meja bundar bertaplak putih bersih yang dikelilingi sepuluh kursi di tiap-tiap meja, yang juga sudah ditutupi kain penutup berwarna putih. Di atas masing-masing meja sudah tersusun rapi sepuluh set piring dan gelas kaca, serta sendok dan garpu berwarna keemasan. Pot bunga mungil nan indah pun menghiasi meja-meja tersebut. 

Pintu ruang serbaguna itu terbelah menjadi dua saat Maira sedang asyik melakukan pemeriksaan terakhirnya. Tim teknisi pencahayaan dan sound system tiba lebih cepat dari dugaannya. Senyum ramah langsung terlukis indah di wajah Maira saat menyambut beberapa pria yang familier baginya. Kepala teknisi menghampiri, lalu berbincang sejenak sebelum mereka mulai bekerja sesuai arahan Maira. 

Tak lama kemudian, vendor hadiah pun tiba dan membawa puluhan door prize yang sudah terbungkus rapi dengan kertas kado. Maira sangat menyukai pekerjaannya ini. Melihat orang-orang bekerja di bawah arahannya, mengatur, merencanakan, menyusun acara, melihat wajah-wajah para tamu serta klien yang tersenyum bahagia dan puas saat acara berakhir, merupakan kebanggaan tersendiri baginya.

Kesibukan yang Maira lakukan membuat waktu berjalan sangat cepat. Tak terasa, sekarang sudah pukul 14.15. Para penerima tamu dan dua orang MC sudah siap di tempatnya masing-masing. Petugas katering pun sudah mempersiapkan hidangan di barisan meja yang telah disusun sedemikian rupa untuk memudahkan para tamu mengambil makanan. 

Jantung Maira berdebar antusias setiap kali mendekati menit-menit terakhir persiapan. Satu per satu para tamu mulai berdatangan dan petugas penerima tamu mulai sibuk dengan tugas mereka. Maira memperhatikan dari kejauhan dan terus berkoordinasi dengan masing-masing kepala vendor melalui walkie talkie yang tidak pernah lepas dari genggamannya.

Lambat laun, ruangan mulai penuh. Maira pun makin sibuk karena para jajaran manajer, direksi, owner, serta tamu spesial akan tiba sebentar lagi. Alunan musik yang mengisi ruangan, menemani para tamu yang sudah duduk di tempat masing-masing. Baru saja Maira berniat menghampiri kedua MC, seorang pria berseragam serba hitam mulai menghampiri dan memberi tahunya bahwa pemilik perusahaan Dhirgan sudah tiba di lantai dasar. Sekali lagi, Maira melemparkan pandangan ke seluruh ruangan. Rasa bangga atas kerja kerasnya pun mulai menyelimuti.

Maira langsung menuju ke meja penerima tamu, lalu memberi aba-aba kepada para petugas andalannya untuk mempersiapkan kedatangan si pemilik perusahaan Dhirgan. Jantung Maira berdebar makin kencang, tak mampu menahan antusias dalam dirinya. Beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka dan seorang pria paruh baya berusia enam puluhan, melangkah keluar dari lift. Terdapat enam pengawal pribadi bertubuh tinggi besar dan berwajah kaku berjalan di depan, samping, dan belakang pria itu.

Pak Sudarsono memang sudah tidak muda lagi. Tubuhnya yang berisi dengan tinggi sekitar 170 sentimeter, masih tetap terlihat sehat dan bugar. Tatapan lembut dan senyuman hangat yang selalu menghiasi wajah keriputnya, membuat Pak Sudarsono menjadi salah satu owner perusahaan paling ramah yang pernah bekerja sama dengan mereka.

Pak Sudarsono langsung menyapa Maira. Senyum hangat terus menghiasi wajah pria itu selama berbicara dengannya, sebelum akhirnya mereka melangkah masuk ke ruang serbaguna. Seluruh karyawan perusahaan langsung berdiri menyambut kedatangan pria itu, sementara matanya memperhatikan dekorasi ruangan. Senyum puas pun mulai menghiasi wajah Pak Sudarsono, yang membuat Maira makin bangga atas kinerjanya.

Jajaran manajer dan direksi mulai mengikuti langkah mereka dari belakang, lalu duduk di meja yang sudah disediakan. Maira menghitung dan menandai setiap tamu penting yang sudah hadir di buku catatannya. Hanya satu orang yang masih belum tiba hingga saat ini, yaitu tamu spesial Pak Sudarsono.

Maira bertanya pada salah satu petugas keamanan di lantai dasar, mencoba memastikan kedatangan si tamu spesial itu. Namun, tetap saja orang tersebut belum tiba. Mungkin tamu itu tidak jadi datang, pikir Maira sambil berdiri di ambang pintu sebelum ia menutupnya. 

Pembawa acara mulai melaksanakan tugas, sementara Maira memilih untuk berdiri di salah satu sudut ruangan sambil memperhatikan jalannya acara. Semua berjalan lancar dan sesuai perhitungan Maira. Pak Sudarsono beserta para tamu yang hadir terlihat sangat menikmati acara. Pembawaan MC yang riang dan ceria, membuat acara tidak terlalu monoton, dan Maira bersyukur mempunyai MC andalan seperti mereka. 

Acara makan pun tiba. Para tamu mulai beranjak dari kursi dan melangkah menuju meja prasmanan. Dengan senyum hangat andalannya, Maira menghampiri Pak Sudarsono yang sedang menikmati segelas anggur putih dengan beberapa makanan khusus yang tersaji di hadapan.

“Bagaimana makanannya, Pak?” tanya Maira sopan dan ramah.

“Kamu selalu tahu kesukaanku, Cantik,” jawab Pak Sudarsono dengan senyum puas.

“Maaf, Pak. Boleh saya tanya sesuatu?” ijin Maira sebelum melanjutkan pertanyaannya.

“Silakan, Cantik,” jawab pria itu.

“Apakah tamu spesial yang waktu itu Bapak bilang tidak jadi datang? Saya sudah berulang kali memeriksa ke bagian penerimaan tamu, tapi beliau belum juga hadir sampai sekarang,” tanya Maira, mengkonfirmasi.

“Oh, dia. Sebentar lagi mungkin. Dia memang selalu datang beberapa menit sebelum tampil,” jawab Pak Sudarsono sebelum meneguk segelas air putih.

“Tampil, Pak?” tanya Maira bingung.

“Iya. Dia akan tampil bersama band-nya nanti,” jelas Pak Sudarsono.

Maira makin kebingungan. Ia memeriksa susunan acara dalam genggaman, tetapi tak menemukan satu pun permintaan khusus bahwa si tamu spesial akan tampil di acara ini. Maira mencoba mengingat-ingat kembali, tetapi ia sangat yakin kalau tak ada satu pun dari pihak Dhirgan yang meminta untuk menyelipkan penampilan si tamu spesial ke dalam susunan acara. Maira sangat yakin, bahkan bisa memastikan bahwa ia tidak mungkin melakukan kesalahan. Ia juga tidak mungkin lupa dengan hal penting seperti ini.

“Tapi, kemarin tidak ada yang mengkonfirmasi ke saya kalau akan ada perform dari band lain, Pak,” jelas Maira tenang sembari meluruskan kesalahpahaman yang mungkin terjadi.

“Memang. Saya yang menyuruhnya untuk tampil nanti sebagai hadiah ulang tahun,” jawab Pak Sudarsono penuh wibawa tanpa menghapus sedikit pun senyum hangat di wajahnya. 

“Jadi, bisakah kamu memasukkannya ke susunan acara itu, Cantik?” tanya Pak Sudarsono dengan sangat sopan.

“Bisa, Pak,” jawab Maira menyanggupi, lalu pamit meninggalkan pria itu. Ia pun langsung berkoordinasi dengan kedua MC, kemudian memberi tahu petugas sound system dan penata cahaya kalau akan ada satu penampilan dari sebuah band yang akan tampil—entah kapan.

Setelah mengatur agar acara tambahan itu bisa terlaksana sempurna, Maira kembali berdiri di salah sudut dinding yang dilapisi tirai besar berwarna merah, yang berada tak jauh dari panggung. Ia memperhatikan setiap wajah, dan berharap tidak menemukan satu pun raut kecewa.

Waktu berlalu begitu saja, dan acara makan pun hampir selesai. Sampai saat ini, tamu spesial itu belum juga tiba. Maira memberi instruksi pada petugas penerima tamu dan pihak keamanan yang berada di lantai dasar agar segera memberitahu dirinya jika tamu spesial itu tiba di hotel. Tamu berpenampilan seperti sekelompok band, itulah yang Maira jelaskan pada mereka. Setidaknya, hanya itu yang bisa Maira gambarkan agar para penerima tamu dan bagian keamanan bisa segera mengenali si tamu spesial.

Setelah sesi makan selesai, kedua MC mulai melanjutkan acara sesuai susunan dan masuk ke sesi door prize. Wajah tiap-tiap karyawan kantor tampak sangat berharap mendapatkan salah satu door prize yang sudah tersusun rapi di atas panggung. Beberapa hadiah besar seperti motor, TV, mesin cuci, dan kulkas—yang berjumlah lima unit per jenisnya—disusun semenarik mungkin di bawah panggung. 

Usai pengocokan door prize yang ketiga, pintu utama ruangan tiba-tiba terbuka lebar. Maira segera menoleh dan menangkap keberadaan lima pria melangkah memasuki ruangan sembari membawa beberapa alat musik. Kelima pria itu berjalan di tengah-tengah karpet merah yang menjulur hingga ke panggung, sementara beberapa pria bertubuh besar langsung menutup pintu utama ruangan. Berusaha untuk memastikan, Maira langsung berlari kecil menuju meja Pak Sudarsono. Namun sebelum ia tiba di sana, Pak Sudarsono langsung memberikan isyarat pada Maira. 

Ya, inilah si tamu spesial itu. Datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan, dan masuk begitu saja bak artis papan atas. Maira langsung memberi aba-aba pada salah satu MC yang sedang menatap ke arahnya. Mengerti bahwa si tamu spesial sudah tiba, kedua MC segera melanjutkan pengundian door prize demi mengisi keheningan sesaat yang timbul akibat kehadiran kelima pria itu. 

Tamu spesial itu pun berhenti di depan meja Pak Sudarsono. Salah seorang dari mereka terlihat cukup akrab dengan pria paruh baya itu. Gestur tubuh serta senyum kecil nan hangat yang mengukir wajah pria itu, menunjukkan rasa hormat dan sopan santunnya terhadap Pak Sudarsono. Maira memperhatikan bagaimana ceria dan bahagianya pria paruh baya itu ketika menyambut kehadiran mereka.

Setelah berbincang selama beberapa saat, kelima pria itu melangkah menuju sisi panggung, lalu menunggu aba-aba dari MC yang langsung menghentikan sejenak pengundian door prize. Setelah diperbolehkan naik, keempat pria itu mulai mempersiapkan alat musik mereka masing-masing, sementara seorang pria lagi langsung menghampiri pihak sound system. 

Perhatian Maira terus tertuju pada keempat pria yang saat ini sedang bersiap untuk tampil, dan berharap agar penampilan mereka tidak merusak kerja kerasnya hari ini. Pria yang tadi berbicara akrab dengan Pak Sudarsono, berdiri tenang seraya mengeluarkan sebuah mik dari dalam koper kecil berwarna perak yang sedari tadi ada dalam genggamannya. 

Maira mengamati dari kejauhan. Ia tidak pernah melihat ataupun mengenal band itu. Namun, ketenangan dan kesiapan untuk tampil di atas panggung, menunjukkan bahwa mereka sudah terbiasa melakukan hal ini. 

Hanya memakan waktu singkat, band itu akhirnya siap untuk tampil. Pihak sound system yang membantu pun segera turun dari panggung. Tak ingin membuang banyak waktu, Maira segera menginstruksikan pada MC untuk melakukan tugasnya.

Tiba-tiba, ponsel Maira berbunyi ketika pembawa acara sedang berbincang dengan tamu spesial. Ia segera berbalik dan bersembunyi di salah satu sudut tirai. Maira menutup salah satu telinganya, sementara telinga yang satu terpusat pada panggilan tersebut.

“Ben, ada apa?” tanya Maira dengan nada berbisik.

Tiba-tiba aku kepikiran sama kamu, Sayang. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Ben khawatir.

“Aku baik-baik saja, Ben. Bisakah kamu meneleponku nanti? Lagi ada perubahan susunan acara di sini. Nanti aku hubungi balik, ya,” jelas Maira cepat. Sesekali ia melirik ke panggung. Kedua MC terlihat asyik bercanda gurau selama beberapa menit, sebelum akhirnya turun dan memberikan kesempatan pada band itu untuk tampil. 

Kamu mau aku jemput?” tanya Ben lembut.

“Aku tidak tahu, Ben,” jawab Maira tak sabar ingin menyudahi panggilan itu, “aku kabari nanti.”

Baiklah, kabari aku secepatnya. I love you, Maira,” ucap Ben, dalam dan serius.

I love you, too, Ben.” 

Maira langsung memasukkan ponsel ke saku celana setelah mengakhiri pembicaraan itu. Lampu mulai diredupkan saat petikan gitar memulai penampilan pertama mereka. Cahaya lampu sorot warna-warni, membuat penampilan band terlihat begitu mengagumkan. 

Band itu membawakan lagu ciptaan mereka sendiri. Maira tidak tahu apa judul lagu tersebut, tetapi setiap kata yang dilantunkan terasa begitu menyentuh kalbu. Si vokalis menyanyi dengan penuh penjiwaan, membuat lagu tersebut makin merasuki jiwanya.

Maira tidak menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang terpesona akan penampilan band dan lirik lagu itu. Namun, semua orang yang ada di ruangan pun tak berkutik dengan tatapan tertuju ke arah panggung, tersihir oleh pesona keempat pria yang tampil dengan sangat sempurna.

You’re not Mine

Lagu Ciptaan : Oktaviana_vivi
Lagu bisa didengar di link ini : 
https://karyakarsa.com/Oktaviana_vivi/youre-not-mine-47182

I was always there … in every part of your stories
At every step you take, I was always there
I was always there … in every tear
In every pain, I was always there

You looked at me with your beautiful smile
You touched my heart and made me fall in love
But your heart, your soul, your body is not mine

Reff :

You broke my heart and I forgive you (I still love you)
You hurt me, but it’s OK (I still love you)
Because I’m glad … glad … glad … glad
Glad to know you … to know you
Even though you’re not mine

You’re always there … in my dreams
In my prayers, you’re always there
You’re always there … in every breath
In every beat of my heart, you’re always there 

Ooo ….

I wanna live forever with you
I wanna build a family with you
I wanna live forever with you
I wanna build a family with you
But your heart, your soul, your body is not mine        

Reff :

You broke my heart and I forgive you (I still love you)
You hurt me, but it’s OK (I still love you)
Because I’m glad … glad … glad … glad
Glad to know you … to know you
Uooo …. (I forgive you)
Uooo …. (I still love you)
Because I’m glad … glad … glad … glad … glad to know you
Oh, I love you … even though you’re not mine
You’re not mine … you’re not mine!

Kualitas suara yang khas, ringan, dan sedikit serak serta gaya pembawaan sang vokalis yang begitu memukau, membuat Maira terhipnotis seketika. Maira yakin, pesona serta karisma kuat yang penyanyi itu miliki, mampu meruntuhkan setiap wanita, mungkin juga pria. Setelah selesai menyanyikan lagu dengan sempurna, tepuk tangan kagum langsung menggelegar dan mengisi ruangan.

Sang vokalis membungkukkan badan, berterima kasih atas respons yang begitu meriah. Perlahan-lahan, tepuk tangan riuh itu pun berhenti, dan band tersebut mulai bersiap untuk membawakan lagu kedua yang merupakan lagu permintaan dari pak Sudarsono. Lagu One Day In Your Life milik Michael Jackson, meluncur sempurna dari bibir si vokalis. Maira benar-benar terhipnotis, bahkan seorang petugas penerima tamu sampai harus mengguncang pundaknya agar Maira tersadar dan menoleh ke belakang.

“Ada apa?” tanya Maira sedikit kesal karena wanita mungil berseragam putih hitam mengusik ketenangannya saat menikmati penampilan terindah yang pernah ia lihat.

“Bu, ada beberapa wartawan dari stasiun TV, pihak media cetak, dan radio di depan pintu. Katanya mereka datang untuk mewawancara band itu,” jelas petugas penerima tamu ber-name tag ‘Santi’ seraya menunjuk ke arah panggung. 

Maira terkejut dan heran dengan kedatangan para awak media. Terpaksa meninggalkan penampilan band, ia bergegas menuju pintu utama, kemudian mengintip dari celah pintu setelah membukanya sedikit. Matanya terbelalak melihat kehadiran empat stasiun TV ternama, lima media cetak terkenal, serta beberapa stasiun radio yang sibuk dengan mik dan kamera di tangan masing-masing.

Apa-apaan ini? batin Maira kaget. Ia mencoba keluar dan mendorong pintu besar itu dengan sekuat tenaga karena beberapa pria bertubuh besar, kekar, berwajah menyeramkan, serta berseragam serba hitam menjaga agar tak seorang pun keluar-masuk tanpa melewati mereka. Setelah berhasil melewati barisan pria bertubuh besar itu, Maira langsung menghampiri salah satu wanita berparas cantik dari stasiun TV, lalu bertanya, “Maaf, ini ada apa, ya?” 

“Ada apa?” ulang wanita itu geli, “apa kau tidak tahu siapa yang ada di dalam sana?”

Maira hanya bisa menggeleng. Wanita itu kembali mendengus geli, lalu mengarahkan jari telunjuknya yang lentik dan terawat ke arah pintu, kemudian berkata, “Mereka itu salah satu band ternama asal Australia. Rencananya mereka berniat bekerja sama dengan salah satu penyanyi Indonesia.”

“Mereka? Memang siapa mereka?” tanya Maira penasaran. Kali ini, Maira merasa bak manusia gua karena tidak terlalu mengikuti perkembangan musik, bahkan artis pendatang baru sekali pun.

“D’Aphrodite,” jawabnya. 

Meskipun wanita itu menyebut ‘D’Aphrodite’ dengan sangat jelas, tetap saja Maira tidak familier dengan nama tersebut. Nyanyian dari balik pintu pun terhenti, dan awak media mulai bersiap-siap dengan alat perang mereka masing-masing. Ada yang merapikan baju, mempertebal riasan, menyalakan alat perekam, menyiapkan kamera video, dan ada pula yang sudah siap dengan mik di tangan. Maira tercengang dengan kesigapan para awak media yang tak kenal lelah mencari sumber informasi.

Tak lama kemudian, salah seorang pria bertubuh besar yang berdiri di depan pintu, mulai mendengar perintah dari alat komunikasi yang menempel di telinganya. Pria itu menjawab datar dan kaku, lalu memberi perintah pada yang lain agar bersiap-siap menerima kedatangan seseorang dari balik pintu itu. Maira, yang memilih untuk berdiri tak jauh dari meja penerima tamu, mendengar tepuk tangan riuh para peserta gathering.

Dengan cekatan, dua pria bertubuh besar mulai membuka pintu dan membelahnya menjadi dua. Para anggota band melangkah keluar dengan cepat. Perhatian Maira pun tertuju pada sang vokalis yang berada di paling belakang. Riuhnya suara kamera saat mengambil gambar dan pertanyaan yang dilemparkan oleh para awak media, membuat Maira mengernyit ketakutan, lalu menutup kedua telinganya.

Sang vokalis mengangkat salah satu tangan untuk menghalangi cahaya lampu kamera yang menyilaukan. Dengan telinga masih tertutup oleh kedua tangannya, Maira terus memperhatikan si vokalis band. Tubuhnya tinggi dan atletis. Terdapat tato barisan tuts piano menghiasi lengan kirinya yang kekar. Tato sayap yang melingkari lengan, beberapa not balok, serta ukiran artistik, memperindah tato tuts piano tersebut.

Wajah tampan dengan rahang persegi, bibir tipis, serta dahi dan tulang pipi yang tinggi, membuat wajah pria itu terlihat tegas dan gagah. Jenggot tipis yang tercukur rapi di pipi dan dagu, serta rambut hitam kecokelatan yang dipangkas dan ditata dengan model slick pompadour, menambah kesan maskulin yang membuat wanita mana pun sulit mengalihkan pandangan dari pria itu.

Seakan-akan mengetahui di mana Maira berdiri, pria itu menoleh dan menatapnya tajam. Tatapan mereka pun saling bertemu. Seketika itu pula, Maira tercekat kaget saat menatap mata pria itu. 

Sejenak, Maira ragu jika si pemilik mata itu adalah pria yang sama. Namun, keraguannya menguap seketika saat pria bermata cokelat almond yang tajam dan dalam itu, menatapnya sambil menyunggingkan senyum miring sarat godaan. Nico?

∞∞∞∞∞

BAB 10

D’Aphrodite. 

Nama band itu terus mengisi kepala Maira. Bahkan, lagu yang Nico nyanyikan terus terngiang di telinga Maira bak kaset rusak. Akhirnya, yang bisa Maira lakukan hanya duduk di mobil tanpa banyak bicara selama perjalanan pulang. Ben menjemputnya tepat saat ia selesai menangani para vendor sekitar pukul 21.00. 

Acara hari ini berlangsung lancar, mewah, dan tak akan pernah ia lupakan. Sebelum meninggalkan hotel, Pak Sudarsono menghampiri Maira dengan raut puas. Pria paruh baya itu menjabat tangan Maira erat-erat sebelum mengecup lembut punggung tangannya. Pak Sudarsono merupakan pria yang hangat, lembut, dan sangat menyanjung serta menghormati wanita. Hal itu terlihat jelas dari cara Pak Sudarsono berbicara dengan dirinya.

Sebelum Pak Sudarsono masuk lift, pria itu mengatakan kalau tamu spesial—yang tidak lain adalah D’Aphrodite—sangat senang bisa tampil di acara ini. Manajer band tersebut pun berniat menghubungi Maira untuk menyusun beberapa acara yang mungkin akan berlangsung di Jakarta dalam beberapa bulan ke depan. Maira tidak mengerti apakah ia harus senang atau takut mendengar informasi tersebut. Karena sejujurnya, bulu kuduk Maira meremang seketika setiap kali mengingat tatapan tajam dan senyum nakal yang Nico berikan sebelum menghilang dari pandangannya.

“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Ben lembut saat menangkap raut Maira yang termenung dan tampak gelisah.

“Nggak apa-apa, Ben. Aku cuma kelelahan saja,” jawab Maira lemah.

“Sungguh? Apa kamu sudah makan?” tanya Ben cepat, menunjukkan kekhawatiran yang terdengar jelas di tiap katanya.

“Sudah, Ben,” jawab Maira singkat, “aku lelah. Itu saja.”

Ben tidak bertanya lagi dan kembali memusatkan perhatian ke jalan. Suasana dalam mobil terasa begitu sepi. Akhirnya, Maira memutuskan untuk menyalakan radio, lalu kembali bersandar lelah di kursi. Pandangannya tertuju ke luar jendela, memperhatikan kendaraan lalu lalang sambil mendengarkan suara penyiar radio yang riang dan penuh semangat, berusaha menghibur para pendengar yang bosan dan lelah di tengah kemacetan Jakarta yang selalu menghantui setiap hari. 

Matanya yang baru saja terpejam, langsung terjaga saat mendengar lagu yang diputar oleh stasiun radio tersebut. Musik itu, lagu dan suara itu seakan-akan mengikuti dan menghantui ketenangan pikiran Maira.

I was always there … in every part of your stories
At every step you take, I was always there
I was always there … in every tear
In every pain, I was always there

Maira langsung mengganti saluran radio, lalu kembali bersandar, menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya secara perlahan. Ia benar-benar butuh istirahat. Baik pikiran, hati, tubuh, dan jiwanya.

Pertemuan yang tidak terduga tadi benar-benar menyerap seluruh energinya. Maira tidak tahu mengapa seluruh sel dalam tubuhnya bereaksi sangat aneh saat bertemu dengan Nico. Kehadiran pria itu seakan-akan merongrong jiwanya yang kelaparan dan haus akan gejolak baru. Gejolak gairah yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan dengan Ben sekali pun. Gejolak itu pulalah yang membuat Maira bingung pada dirinya sendiri. Akhirnya, Maira menarik tuas kursi, merebahkan sandaran, dan berbaring sejenak di sana. 

“Tidurlah, Sayang. Nanti aku bangunin kalau sudah sampai rumah,” ucap Ben penuh perhatian. Tanpa perlu disuruh, Maira memang ingin memejamkan mata. Akhirnya, ia pun terlelap dalam lelah.

∞∞∞∞∞

You’re mine, Maira … you’re mine.” 

Suara itu memaksa Maira untuk membuka mata. Ia menatap sekelilingnya yang dipenuhi warna putih, bersih, damai, dan kosong. Di mana aku? Apa aku sudah mati? pikir Maira bingung.

You’re mine, Maira … you’re mine.” 

Maira langsung berbalik, mencari-cari asal suara yang terdengar tak asing di telinganya. Suara ringan dan sedikit serak yang mengalun lembut di telinganya, terasa begitu menyenangkan meski sarat godaan.

You’re mine, Maira.

Lagi, suara itu kembali mengisi indra pendengarannya. Maira tak tahu dari mana asalnya karena ia hanya sendirian di sini. Ia pun memberanikan diri untuk melangkah sembari berharap bisa bertemu dengan si pemilik suara. Namun, seberapa pun jauhnya ia melangkah, tetap tidak ada siapa-siapa di sana.

“Halo!” teriak Maira, mulai ketakutan. Kehampaan serta kesendirian yang begitu mengungkung membuat kepanikan dalam dirinya makin besar. Ia berharap setidaknya si pemilik suara muncul untuk menemani. Rasa takut yang makin kuat, membuat tubuh Maira gemetar.

Tiba-tiba, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya, lalu menarik tubuh Maira hingga berbalik. Maira tersentak kaget saat tubuh itu memeluknya dengan penuh kehangatan. Dekapan erat nan nyaman itu pun langsung melenyapkan rasa takutnya dalam sekejap. Seketika itu pula, rasa aman menyelimuti dirinya.

You’re mine, Maira,” ucap pria itu dengan lembut. 

Betapa terkejutnya Maira saat mengangkat wajah dan menatap mata cokelat almond itu. Aliran darahnya berdesir cepat merespons tatapan yang dengan mudah memerangkap jiwa dan hatinya. Gilanya lagi, gairah serta sisi terliar dalam dirinya yang belum pernah ia rasakan, muncul ke permukaan karena mata indah itu.

Ia sama sekali tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Di satu sisi, ia nyaman berada dalam dekapan pria itu dan sangat menyukai kehangatannya. Namun di sisi lain, Maira tahu bahwa ini adalah sebuah kesalahan besar karena seharusnya hanya Ben yang mampu membuatnya nyaman dan hangat seperti ini.

You’re mine, Maira,” ucap Nico parau sebelum bibir indah itu mendarat lembut di bibirnya. Maira memejamkan mata, menikmati sensasi hangat saat bibir Nico mengecupi bibirnya dengan lembut. Pelukan pria itu pun terasa makin erat saat ciumannya berubah menjadi makin dalam dan penuh hasrat. 

Anehnya, seluruh saraf di tubuh Maira berteriak kegirangan. Ia tak lagi bisa mengendalikan tubuh serta akal sehatnya. Atas kemauannya sendiri, ia pun menyambut ciuman Nico. Bahkan, Maira membuka bibirnya, memberikan ruang bagi pria itu agar makin leluasa menjelajah dan mengecap setiap kenikmatan yang ia berikan.

Nico mengecap lidah Maira, lalu menarik dan menggigit bibir bawahnya dengan sangat lembut. Cumbuan Nico memberikan sensasi liar yang belum pernah Maira rasakan sebelumnya. Tubuhnya bergetar nikmat, sementara kakinya terasa lunglai karena gairah.

Tangan Nico memeluk tubuhnya erat, membungkusnya dengan kehangatan yang terpancar dari tiap sentuhan pria itu. Dengan sangat berani dan tanpa ragu sedikit pun, Maira mengangkat tangan, lalu meraba dada Nico yang keras. Cepatnya debaran jantung Nico yang terasa jelas di bawah telapak tangan Maira, membuatnya girang bukan main.

Maira meresapi setiap sentuhan yang Nico berikan baik di punggung, leher, bahkan saat jemari-jemari pria itu menyusup ke balik rambutnya. Bibir Nico terus menjajah bibir Maira dengan lihai. Ia merasa melayang, kepalanya pun terasa begitu ringan meskipun napasnya terengah-engah dan jantungnya berdebar sangat cepat karena gairah.

Tidak. Maira tidak ingin semua ini berakhir. Ia ingin terus dan terus merasakan sentuhan dan bibir Nico. Ciuman yang Nico berikan menunjukkan betapa pria itu sangat memujanya. Permainan lidah yang sensual pun terus menjelajah tanpa henti. Bukan hanya membuat kakinya terasa tak bertulang, tetapi juga membuat tubuh Maira meleleh. 

Tangan kanan Nico mulai menyusup ke balik kemeja Maira, menyentuh lembut kulitnya dengan penuh kehangatan. Begitu hangatnya hingga ia ingin kehangatan itu menyentuh tiap jengkal tubuhnya. Sementara, tangan kiri Nico membalut leher Maira lembut, membuat ciuman mereka makin dalam dan liar. 

Maira memberanikan diri untuk membuka mata. Ia memperhatikan bagaimana Nico terus mengunci tatapannya dengan penuh gairah. Seketika itu pula, aliran darahnya yang meletup-letup karena gairah menggulung kenikmatan hingga memenuhi kepala.

Matanya kembali terpejam. Ciuman Nico terasa makin manis, nikmat, dan bergairah. Maira tersanjung melihat bagaimana Nico menikmati bahkan tak malu menunjukkan betapa besar gairah pria itu terhadap dirinya. Akal sehatnya pasti benar-benar sudah hilang saat ini karena ia begitu menikmati ciuman yang Nico berikan, sementara ia sudah memiliki tunangan. Oh, Tuhan! Kenapa aku bisa luluh begitu saja? pikir Maira heran.

Akhirnya, ia pun tersadar dan menghentikan kegilaan sesaat yang begitu menguasai dirinya. Maira langsung membuka mata, berniat melepaskan tautan bibir mereka. Namun, betapa terkejutnya Maira saat menemukan bibir Ben sedang mengulum rakus bibirnya.

Dengan kasar, Maira melepas ciuman itu dan mendorong tubuh Ben. Napasnya terengah-engah, sementara rautnya mengerut ketakutan. Maira tidak mengerti mengapa ia kesal saat mengetahui kalau Ben yang menciumnya, bukannya Nico. Padahal, seharusnya ia bisa menerima ciuman itu dengan bahagia karena Ben adalah tunangannya.

“M-maafkan aku, Ben,” sesal Maira sambil tertunduk malu.

Ia tak berani menatap Ben. Rasa bersalahnya begitu besar. Karena sejujurnya, secara tidak langsung ia sudah mengkhianati Ben. Ia sudah memperbolehkan pria lain menyusup ke alam bawah sadarnya, dan gilanya … Maira menyukai mimpi liar tersebut.

Gairah dalam dirinya meletup-letup dengan mudah ketika mengingat bagaimana bibir Nico menyatu dengan bibirnya. Penyatuan yang membuat dirinya bergetar nikmat. Ini salah! Tidak seharusnya aku memimpikan pria lain. Lalu, kenapa perasaanku jadi tidak keruan seperti ini? Ya, Tuhan! Ada apa dengan diriku? batin Maira bingung sekaligus takut.

“Nggak apa-apa, Sayang. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah menciummu diam-diam,” balas Ben lembut sembari mengusap bibir Maira. Namun, tubuh Maira malah menunjukkan penolakan, bahkan menjauhkan wajahnya dari sentuhan Ben.

“Nggak, Ben. I-ini bukan salahmu. Aku … ini pasti karena aku terlalu capek. Maafkan aku, Ben. Kurasa aku benar-benar butuh istirahat,” jawab Maira penuh penyesalan. Ben menggenggam tangan Maira sambil terus menatapnya dalam-dalam. 

Ada rasa takut dalam diri Maira ketika ia membalas tatapan itu. Ia takut Ben bisa melihat keraguan dalam dirinya. Ia takut Ben bisa merasakan kegelisahan yang timbul akibat kehadiran pria lain dalam pikirannya. Tidak! Maira tidak ingin Ben mengetahui hal itu, dan ia berniat menjernihkan pikirannya dari Nico.

“Maafkan aku, ya,” kata Ben lagi sambil tersenyum lembut. 

Oh, Tuhan! Dia sangat mencintaiku, tapi kenapa malah pria lain yang hadir dalam mimpiku? Kenapa? sesal Maira dalam hati. Sembari berusaha meneguhkan kembali perasaannya, Maira mengangkat tangan kanan Ben, lalu mengecupnya lembut, dan membalas tatapan pria itu dengan penuh cinta.

Ben mulai memberanikan diri untuk mendekat dan menciumnya lagi. Ciuman yang singkat, dalam, dan hangat. And, guess what? Maira sama sekali tidak merasakan getaran itu. Getaran liar yang ia rasakan saat berciuman dengan Nico di mimpinya. Getaran penuh gairah yang membuatnya kecanduan. Tidak ada. Sama sekali tidak ada!

Senyum hangat menghiasi wajah Ben setelah menjauh dari bibirnya. Ia pun segera keluar dari mobil, menyudahi kebimbangan yang saat ini melandanya. Setelah membuka gerbang rumah, Maira berbalik dan melambaikan tangan ke arah Ben. 

Saat mobil itu melesat pergi dari hadapannya, Maira terdiam sejenak di belakang gerbang. Tiba-tiba, kilasan mimpi yang begitu menggairahkan kembali mengisi kepalanya. Seharusnya, ia tidak boleh bermimpi seperti itu. Dan sialnya, ia menginginkan mimpi itu menjadi kenyataan. Oh, God!

∞∞∞∞∞

Pagi pun tiba, tetapi Maira masih enggan untuk bangkit dari tempat tidur. Ingin rasanya ia mengunci diri di dalam rumah. Perasaan gelisah dan rasa bersalah yang menggelayuti dadanya sejak semalam, membuat tubuh Maira lelah sekaligus lemah. Ia pun memutuskan untuk mengambil ponsel yang diletakkan begitu saja di samping bantal, lalu mencari nama Sasha di daftar panggilan. Dalam dua nada dering, Sasha langsung menjawabnya.

Kenapa, Ra?” tanya Sasha santai.

“Kayaknya gue nggak ke kantor hari ini, deh. Badan gue sakit semua,” jelas Maira beralasan.

Lu kenapa? Habis berantem sama Hulk?” ledek Sasha. Senyum mengembang di wajah Maira, sedikit terhibur dengan banyolan temannya.

“Iya. Hulk-nya lagi ngomong sama gue nih sekarang,” canda Maira.

Sialan lu! Sudah, tidur sana. Kalau lu kenapa-kenapa entar gue yang repot,” gerutu Sasha dengan nada ketusnya yang khas.

“Lah, kenapa jadi lu yang repot?” tanya Maira bingung.

Ya, iyalah. ‘Kan gue sayang sama lu, Ra,” jawab Sasha genit.

“Ishhh! Kenapa gue jadi jijay bajay gitu dengar lu ngomong ‘sayang’, ya?” balas Maira ringan. Mereka berdua pun tertawa sejenak.

“Sudah, ah! Nggak jadi istirahat deh gue kalau begini,” ucap Maira, berniat mengakhiri panggilannya.

OK. Have a nice dream, Beb,” sahut Sasha centil.

“Asli, gue geli banget. Sudah, ah!” balas Maira cepat.

He-he-he … bercanda, bercanda. Ya sudah, deh. Bye,” sahut Sasha yang langsung memutuskan panggilan. Maira segera menghubungi Ben dan memberi tahu kalau hari ini ia tidak ke kantor karena ingin istirahat seharian. Ben langsung menawarkan diri untuk merawatnya, tetapi Maira menolak. Yang ia butuhkan saat ini bukan Ben. Ia hanya butuh waktu sendirian demi menata perasaannya kembali. Akhirnya, Maira kembali tertidur di balik selimutnya yang hangat.

∞∞∞∞∞

“Kau sudah bertemu dengannya?” tanya wanita itu tak sabaran. Senyum manis dengan suara riang dan mata berwarna sama dengannya, langsung melemparkan pertanyaan yang sangat sensitif.

“Aku rasa kau tidak perlu terlalu sering menanyakan tentang wanita itu padaku,” jawab Nico datar. Ia sedang duduk di ruang musik, berkutat dengan alunan musik dalam kepalanya, ketika Alexa muncul dengan pertanyaan yang sudah sering ia dengar.

“Kau harus segera bertemu dengannya, Nico,” saran Alexa sedikit mendesak sembari berjalan mendekat ke sofa panjang tempat Nico duduk sambil bermain gitar. Ia terus memainkan alunan nada yang akhir-akhir ini selalu mengisi telinga dan benaknya, tetapi belum ada satu pun kata-kata yang tepat bagi alunan tersebut.

Nico merekam setiap nada dengan alat perekam dan menulisnya di kertas partitur. Ia berusaha untuk tidak menghiraukan saran Alexa, ia tidak ingin alunan indah itu menghilang dari pikiran. Alunan nada yang muncul dan terus berdengung di telinganya semenjak ia bertemu dengan Maira. Sialnya, bukan hanya nada-nada itu saja yang selalu menghantui, tetapi wajah, suara, dan mata Maira membuatnya seperti terhipnotis.

“Nico, apa kau mendengarkanku?” tegur Alexa mulai tampak kesal.

“Sudahlah, Lexa! Aku tidak mau membicarakannya lagi,” tolak Nico dingin, kemudian beranjak dari sofa dan meletakkan gitarnya begitu saja.

“Tapi wanita itu adalah milikmu, Nico!” protes Alexa, tidak tahu harus bagaimana lagi supaya Nico mau bergerak dan memiliki apa yang seharusnya menjadi miliknya.

“Belum. Dia belum menjadi milikku,” tangkis Nico tegas, membelakangi Alexa sambil memasukkan kertas partitur ke dalam tas.

“Terserah! Aku hanya mengingatkanmu—untuk yang ke sekian kalinya. Jangan sampai kau kehilangannya. Kau pasti akan menyesal seumur hidupmu, Nico!” ingat Alexa ketus. Akhirnya, wanita itu keluar dari ruang musik dengan entakkan kaki kesal dan dengusan frustrasi, lalu membanting pintu, meninggalkan Nico sendiri dengan pergumulannya. 

Alexa salah jika berpikir kalau Nico tidak ingin bertemu dengan Maira. Nico ingin sekali menghampiri dan mengenal Maira lebih dalam. Namun ketika ia melihat wanita itu bermesraan dengan seorang pria di bandara, Nico pun bertekad bahwa ia tidak ingin masuk ke dalam hubungan itu. Ia tidak berniat menghancurkan hubungan Maira hanya karena statusnya.

Nico tahu, Maira adalah miliknya—seharusnya jadi miliknya. Namun, ia tidak ingin wanita itu merasa diperdaya dan terpaksa. Tidak! Ia bukanlah bajingan yang suka merebut kekasih orang lain. Selama Maira masih memiliki kekasih, Nico akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengusik kehidupan wanita itu. Tidak akan!

Ia melangkah kembali ke sofa, mengambil gitar dan memainkan alunan nada itu berulang-ulang kali. Bahkan tanpa kertas partitur, nada-nada itu terus mengalun di pikiran dan hatinya, terpatri dan tertanam dalam dirinya. Berselang beberapa saat setelah kepergian Alexa, ketukan di pintu kembali mengusik ketenangannya. Namun, tak mampu menghentikan Nico dalam memainkan nada-nada itu di gitar. Pintu terbuka tanpa perintah dan langkah kaki terdengar makin mendekat. 

“Nada yang indah. Kurasa itu harus masuk ke album selanjutnya.”

Seorang pria bertubuh tinggi, dengan postur yang tidak terlalu atletis, tetapi terlihat sehat karena rutin berolah raga ringan, bergerak menghampiri Nico. Cio, pria berparas manis dengan senyum hangat menghanyutkan, mampu membujuk siapa pun untuk tunduk terhadap keinginannya. Kelihaian dalam bernegosiasi dan kemampuannya yang andal dalam mengatur serta menyusun jadwal, membuat Cio pantas menjadi manajer band.

Cio selalu mengatur jadwal panggung, press conference, pemotretan, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan band. Hanya tentang band. Di luar itu, atau yang berhubungan dengan pekerjaan kantor, Cio hanyalah bawahan Nico yang selalu siap sedia jika ia butuhkan. Dengan kata lain, Cio adalah karyawan sekaligus manajernya.

Dengan senyum hangatnya yang khas, Cio meletakkan map hitam di meja panjang yang berada di depan sofa tempat Nico duduk saat ini. Nico meminta Cio mempekerjakan beberapa orang untuk menjaga, mengikuti, dan mengawasi setiap kegiatan serta keberadaan Maira. Dan setiap hari, mereka harus memberi laporan kepada Nico. Ia ingin tahu apa yang Maira lakukan dan segala hal yang berhubungan dengan wanita itu.

“Bukan untuk umum,” sahut Nico dingin.

“Kurasa itu akan laku di pasaran. Nadanya begitu indah dan ….”

Cio tidak melanjutkan kalimatnya dan memilih menyimpan penilaian itu untuk dirinya sendiri ketika Nico melemparkan tatapan tajam dan sinis. Cio sangat mengenal sifat Nico yang sinis, dingin, dan keras. Ia pun berhenti memetik gitar, kemudian meletakkan benda tersebut di samping sofa, lalu mengambil map hitam yang tergeletak di meja.

‘Maira’

Nama wanita itu tertera cukup besar di bagian depan map. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat, penasaran dengan hasil pengintaian hari ini. Dengan sikap tenang palsu, Nico membuka map dan melihat lembaran foto Maira saat melakukan aktivitas. Darah Nico berdesir cepat, memompa gelora panas dalam dirinya ketika melihat foto Maira yang sedang tersenyum, seperti sedang tersenyum padanya. Nico meremas ujung map dan rasa perih di dalam dada mulai terasa menyiksa. Bukan! Senyum itu bukan miliknya—belum. Belum menjadi miliknya.

Ingin rasanya ia menggunakan seluruh kekuasaan dan kekuatannya untuk segera memiliki wanita itu, tetapi tidak bisa. Nico sudah mulai menyusun rencana agar perlahan-lahan Maira bisa merasa dan menyadari kehadirannya. Ia akan membuat Maira tidak bisa lepas darinya. Maira adalah milikku. Hanya milikku.

“Oh, iya. Jangan lupa! Besok penerbangan jam sepuluh, ya,” ingat Cio.

“Ke mana?” tanya Nico datar, tak terlalu memedulikan jadwal konser mereka yang makin padat. Tujuan utamanya datang ke Indonesia hanyalah demi menemui Maira.

“Sydney,” jawab Cio singkat.

“OK,” sahut Nico cepat, “sampai ketemu besok di bandara.”

Nico mengambil salah satu foto Maira, lalu menutup map tersebut, Dan meletakkannya begitu saja di meja. Ia beranjak dari sofa, lalu berjalan menuju keyboard yang berada di sudut ruangan dengan beberapa monitor dan pengatur suara.

“Oh, satu lagi,” ingat Nico ketika duduk di kursi keyboard, “tetap suruh mereka mengawasi dan menjaganya. Dan, jangan lupa beri laporan padaku setiap hari!”

∞∞∞∞∞

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja
error: Content is protected !!