A Stolen Heart – BAB 6 – BAB 10

BAB 6

Mereka melangkah bersama menuju acara pernikahan. Ted terus menggenggam tangan Sasha, seakan-akan tidak ingin kehilangan kehangatan itu. Sasha tampil cantik dan memesona. 

Semua mata menatap kagum saat ia membawa Sasha melangkah di atas karpet menuju sebuah meja bundar tempat di mana ia seharusnya duduk. Rico dan Na sedang menghampiri para tamu yang hadir dengan wajah ceria. Namun Ted tidak memedulikan hal itu, karena ada seorang wanita yang mencuri penuh perhatiannya. Sasha.

Beberapa temannya yang duduk di sana, menyambut kedatangannya. Ted melihat kegugupan di raut wajah Sasha. Ia memutuskan melepaskan genggaman dan melingkarkan tangan di pinggul Sasha, yang langsung menegang di bawah sentuhannya. Mereka terus melangkah hingga tiba di meja itu. Ted mempersilakan Sasha duduk sebelum ia duduk tepat di sebelah wanita itu.

Ted mulai berbincang dengan beberapa kerabatnya dan tak lupa ia memperkenalkan Sasha pada mereka. Ia menggenggam tangan Sasha selama berbicara dengan para kerabatnya. Sebuah tepukan di punggungnya membuat Ted berbalik dan menatap Rico yang tampak bahagia.

“Hai, Ted! Ke mana saja, Bro?” sambut Rico hangat. Ted beranjak dari kursi, menjabat uluran tangan Rico dengan bersahabat. Sasha pun segera berdiri dan melemparkan senyum kecil pada pria itu.

“Ada urusan tadi,” jawab Ted tersenyum kecil,” selamat untuk pernikahan kalian, ya.”

“Terima kasih, Ted,” sahut Rico gembira. Sasha mengulurkan tangan ke arah Rico. 

“Waw, ternyata dia gandenganmu sekarang?” goda Rico pada Sasha seraya menjabat tangan dan mengerlingkan mata genit. Ted langsung menarik Sasha ke dalam pelukannya.

“Kami—“

“Ya, kami menjalin hubungan sekarang,” jawab Ted memotong ucapan Sasha yang terkejut sambil menatap wajahnya. Na ternganga kaget serta menunjukkan tatapan sinis pada Sasha. Ted berusaha tidak menggubris reaksi Na dan tetap bersikap tenang. Ia menjulurkan tangan pada Na yang langsung menjabat tangannya. Ted segera melepaskan jabatan tangan itu, lalu mempersilakan Sasha memberikan selamat pada Na.

Wanita itu sama sekali tidak menyambut jabatan tangan Sasha, yang membuat Ted kesal dengan penolakan yang Na berikan. Sasha menurunkan tangan, berusaha tetap tenang dan tak peduli dengan sikap sinis Na. Benar-benar wanita yang kuat dan berani, pikir Ted.

“Kita sudah saling mengenal,” ucap Na sinis.

“Aku juga tahu siapa dirimu yang sebenarnya,” lanjut Na ketus, “bukankah seharusnya kau mengurus acara ini sampai selesai?”

Ted tidak menyukai hal ini. Ia tahu Na pasti akan menyerang setiap wanita yang berada di dekatnya. Dan sekarang, Na berusaha untuk menyerang Sasha. Ted tahu siapa Na. Ia juga tahu kalau Sasha memiliki masa lalu yang kelam. Maka dari itu, ia tidak menginginkan pertikaian di antara dua wanita itu.

“Dia adalah calon istriku,” ungkap Ted tenang, ”itulah mengapa dia duduk di sini sekarang. Lagi pula, dia punya tim hebat yang bisa bekerja tanpa harus dimonitor sepanjang acara.”

Berbeda dengan dirinya yang merasa bangga, Sasha malah melemparkan tatapan kaget. Begitu juga dengan Na dan Rico, yang terbelalak tak percaya. Ted semakin mempererat lingkaran tangan di pinggul Sasha, berusaha membuktikan bahwa ia serius dengan ucapannya.

“K-kau serius, Ted?” tanya Rico memastikan. 

“Tentu saja,” sahut Ted santai dan tersenyum lebar. 

“Bagaimana bisa?” tanya Na sinis.

“Cinta pada pandangan pertama,” jawab Ted tenang seraya menatap Sasha yang masih tercengang dengan ucapannya. Ia menatap Sasha dengan penuh kehangatan dan rasa kagum pada wanita itu. Mata Sasha yang terkejut pun perlahan-lahan melembut dan mulai menyunggingkan senyum kecil padanya. Oh, I like that smile, batin Ted.

Congratulation!” seru Rico bahagia kembali menjabat tangan Ted, “jaga dia, Ted. Dia adalah wanita yang baik.”

“Dia bukan wanita baik-baik!” sanggah Na cepat, tampak marah.

“Elena!” tegur Rico tegas.

“Dia tidak pantas untuk Ted!!” lanjut Na lagi, wajahnya memerah karena amarah.

“Hentikan!” Ted menatap Na dengan pandangan penuh amarah. Na tidak berhak mengaturnya dan ia tidak suka melihat Sasha dipermalukan di depan umum.

“Jangan membuat masalah!” tegur Ted tegas seraya mengarahkan jari telunjuk ke arah Na, “aku mencintainya. Dan kamu … kamu tidak boleh menyakitinya sedikit pun!”

Aku harus melakukan ini demi kebaikan semua. Aku tidak ingin Na menyakiti Sasha. Aku sedang mengubur rasa cintaku pada Na dan kehadiran Sasha sangat membantuku melewati semua ini. Sasha berharga bagiku. Tak ada seorang pun yang bisa menyanggah hal itu. Bahkan Na sekali pun!

*****

Suasana menjadi canggung. Ted dan Elena saling menatap tajam sementara ia dan Rico serta kerabat yang duduk semeja dengan mereka terdiam menatap kedua orang itu. Sasha tidak tahu apa yang Ted pikirkan saat ini, yang pasti semua ucapan Ted membuatnya tercengang. Bahkan pelukan mesra yang melingkar di tubuhnya saat ini seakan menunjukkan betapa serius setiap ucapan yang diucapkan.

“Aku harap kamu bisa menerima kenyataan ini,” ujar Ted pada Elena. Mendengar ucapan itu, Sasha menyadari satu hal. Pasti ada sesuatu antara mereka berdua sebelumnya. Rico, yang menyadari ketegangan ini, segera membawa Na pergi dari hadapan mereka. Para kerabat Ted yang duduk semeja dengan mereka tampak canggung dan mulai mencoba mencari bahan pembicaraan untuk mencairkan suasana.

“Bisa jelaskan kepadaku, apa itu tadi?” tanya Sasha langsung, menuntut penjelasan. Ted tidak menjawab pertanyaannya, namun senyum tipis yang tersungging di bibir itu tampak menyirat sesuatu.

“Apa maksudmu memperkenalkanku sebagai calon istri?” tanya Sasha merasa sedikit kesal.

“Tidak apa-apa,” jawab Ted santai seraya mengangkat gelas dan meneguk isinya.

“Apa kamu berniat membuat Elena kesal?” tanya Sasha menuntut penjelasan, “kalau itu yang kamu harapkan, kurasa kamu berhasil.”

Raut kesal yang mewarnai wajah Ted tadi, berganti menjadi senyum geli yang membuat Sasha bingung. Alunan musik riang pun berubah menjadi lembut dan halus. Beberapa orang melantai, lalu berdansa.

“Ted! Jelaskan padaku, ada apa sebenarnya?”  tuntut Sasha lagi sambil mengerutkan kening kesal. Ted menoleh dan menatapnya sejenak. Bukannya menjawab pertanyaan, pria itu malah beranjak dan mengulurkan tangan pada Sasha.

Wanna dance with me, Princess?” ajak Ted lembut. Sesaat Sasha masih terlihat kesal. 

“Berdansalah denganku, Sasha,” bujuk Ted memelas.

Sasha mengembuskan napas pasrah. Ia menyambut uluran tangan itu dan mereka pun melangkah menuju lantai dansa. Alunan lagu yang romantis, membuat semua orang larut dalam suasana. Lagu-lagu yang Sasha persiapkan untuk acara ini ternyata sangat disukai oleh para tamu.

Ted melingkarkan pelukan di pinggul Sasha, dan mereka berdansa. Tubuh mereka begitu dekat. Aroma maskulin yang menyeruak memenuhi penciumannya, membuat jantung Sasha berdebar cepat. Ia bisa merasakan gelenyar hangat merambat di sekujur tubuh, membuat wajahnya merona seketika. Namun Sasha tetap mengendalikan dirinya.

“Jangan marah padaku, Sha,” bujuk Ted lembut sambil menatap matanya dalam-dalam. Tatapan itu begitu tulus dan hangat, membuat rasa kesal dalam dirinya perlahan-lahan mereda.

“Aku tidak suka dengan kejadian tadi,” ungkap Sasha jujur.

“Aku tahu. Maafkan aku, Princess,” balas Ted merasa bersalah. Sasha mengangguk pelan, memaafkan kejadian tadi.

“Apa aku sudah bilang kalau kamu begitu mengagumkan malam ini?” tanya Ted seraya mempererat pelukan di tubuh Sasha.

“Sudah,” jawab Sasha cepat.

“Kamu benar-benar mengagumkan, Sha,” puji Ted lembut.

That’s the second times,” balas Sasha ringan seraya tertawa kecil. Ted berhenti bergerak, lalu menengadahkan wajahnya. Pria itu menatap Sasha dengan penuh kehangatan, membuat tawanya menghilang seketika. 

“Aku senang mendengar tawamu,” ucap Ted tenang sambil tersenyum, “tertawa bahagia, bukan karena menertawakan masa lalumu.”

Tubuh Sasha menegang seketika mendengar ucapan itu. Ia ingat bagaimana ia menertawakan masa lalunya yang kelam saat bercerita pada Ted. Ia menertawakan keluguan, kepolosan serta kebodohan dirinya saat masih remaja. Tawa sinis penuh amarah dan kebencian.

“Aku akan berusaha membuat bibir ini selalu tersenyum dan tertawa,” lanjut Ted serak dan dalam sambil menyentuh bibir Sasha dengan ibu jari. Perlahan namun pasti, Ted mulai mengecupnya. Kecupan itu memberikan kesegaran yang berbeda, bagaikan embusan angin pantai menembus rongga dadanya.

Lama kelamaan, kecupan itu berubah menjadi ciuman. Sasha menyambut tanpa ragu dan Ted semakin memperdalam ciuman itu. Tubuhnya yang tegang mulai terasa rileks. Keahlian Ted dalam berciuman, membuat seluruh syaraf di tubuhnya meronta kegirangan. Tak lama kemudian, Ted melepas ciuman dan menatap matanya dalam-dalam.

Aku harus meredam gairahku. Tidak! Aku tidak mau merusak malam ini. Ted terlalu baik dan sempurna. Aku tidak ingin membuat Ted sebagai penghibur sesaat demi menyenangkan diriku yang kesepian. Tidak! Aku tidak mau, batin Sasha sedih.

“Lusa aku akan kembali ke Jakarta,” ujar Sasha tiba-tiba. Ia ingin agar Ted menyadari bahwa semua ini akan berakhir. Pertemuan singkat mereka, menceritakan masa lalunya, menikmati ciuman yang memabukkan, dan berdansa di bawah sinar rembulan, semua bagaikan mimpi indah yang tidak ingin ia lupakan. Jika semua ini benar-benar mimpi, Sasha tidak ingin bangun dan terus tenggelam dalam tidurnya.

Tetapi, bukan. Ini bukanlah mimpi dan Sasha menyadari kalau ia harus kembali ke dunia nyata, kembali menjalani hidup dan statusnya sebagai seorang wanita single. Ia tidak tahu apakah ia akan bertemu lagi dengan Ted, tetapi ia sangat berterima kasih untuk semua kenangan indah yang mereka lalui di sini.

“Aku juga akan kembali ke Jakarta,” balas Ted tenang, kembali melingkarkan tangan di pinggang Sasha dan mereka pun kembali berdansa dengan gerakan lembut.

“Kapan?” tanya Sasha cepat. 

“Lusa,” jawab Ted singkat.

“Penerbangan jam berapa?” tanya Sasha lagi. 

“Jam 10 malam,” jawab Ted tenang.

“Aku juga,” sahut Sasha tak percaya.

“Kalau begitu, kita akan berangkat bersama dari sini. Apa pun yang terjadi setelah kita tiba di Jakarta, biarkanlah semua mengalir apa adanya. Aku tidak akan memaksa atau menuntut apa pun darimu,” ungkap Ted dengan santai.

“Tapi saat ini, aku mau melewati sisa hari bersamamu. Aku ingin menikmati Bali, bersenang-senang denganmu. Apa kamu mau?” ajak Ted tersenyum kecil. Ucapan Ted seakan-akan ingin menunjukkan bahwa pria itu tetap ingin bersamanya. Ini bukan mimpi indah, tapi kenyataan yang sangat menakjubkan. Ia akan menikmati setiap menit, bahkan setiap detik yang akan mereka lalui.

Sasha senang bisa bertemu dengan pria seperti Ted. Pria yang bisa menerima masa lalunya dan memperlakukan Sasha bak seorang putri. Pria yang menatapnya dengan hangat dan kadang mampu membuatnya tertawa. Ia tidak tahu apakah mereka akan bertemu lagi setelah kembali ke Jakarta, yang pasti ia tidak akan melupakan semua ini.

“Kamu yakin, Ted?” tanya Sasha ragu sambil menatap Elena yang duduk di pelaminan dengan senyum palsu yang tampak jelas sekali.

“Tentu saja,” jawab Ted antusias.

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Ted dan Elena. Tetapi melihat reaksi Elena, Sasha tahu bahwa saat ini Ted membutuhkan seseorang teman untuk berbagi. Ted begitu baik dan hangat padanya, bahkan mau menerima masa lalunya. Maka, Sasha akan melakukan hal yang sama.

*****

BAB 7

Sinar matahari pagi menusuk matanya yang sedang terpejam. Ia terbangun dan menyadari bahwa pintu kaca balkon terbuka lebar. Sasha bangun dari posisi tidur dan mengusap matanya yang masih mengantuk.

Good morning, My princess.

Sasha terkejut mendengar suara Ted.  Ia menoleh  cepat ke arah suara itu berasal. Ted bersandar di daun pintu kaca itu sambil tersenyum ke arahnya. Pria itu tidak mengenakan baju, hanya celana boxer hitam dengan secangkir kopi di tangan kanan.

“Apa kita … apakah … maksudku ….” 

Sasha gugup dan bingung. Ia tidak mengingat sama sekali apa yang terjadi semalam. Ia menyadari kalau semalam ia cukup banyak minum, tetapi ia tidak ingat bagaimana ceritanya mereka bisa ada di kamar dan … melihat tubuh Ted bertelanjang dada, begitu menggoda matanya di pagi hari.

“Tenang, Sasha. Kita tidak melakukan apa-apa,” jawab Ted sambil berjalan ke arahnya. Wajah Sasha merona malu, lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang masih mengenakan pakaian tidur tipis.

“Kamu yakin?” tanya Sasha, memastikan semuanya.

“Aku bukan pria yang suka tidur dengan sembarang wanita,” tegas Ted datar saat duduk di pinggir tempat tidur, tepat di hadapannya. Sasha mengembuskan napas lega.

“Syukurlah, karena aku sama sekali tidak ingat apa yang terjadi semalam,” ucap Sasha sambil menyisir rambut dengan jemari, “yang aku ingat hanyalah aku minum beberapa gelas wine.”

“Sudahlah. Kamu tenang saja. Kita tidak melakukan apa-apa,” jelas Ted santai sebelum menyeruput kopinya.

“Kamu terlalu lelah, bahkan tidak bisa melangkah dengan benar. Aku menggendongmu ke kamar. Dan, aku bisa memastikan bahwa kamu sendiri yang melepas pakaianmu sebelum aku menemukanmu tertidur di lantai kamar mandi,” lanjut Ted mencoba menenangkan Sasha. Ted membelai lembut wajah Sasha lalu bergerak mendekat. Dengan cepat, ia menjauhkan wajahnya.

“Aku hanya ingin memberikan ciuman selamat pagi, Princess,” ucap Ted yang tawa kecil melihat reaksinya.

“Aku belum sikat gigi,” jawab Sasha sambil menutup mulut dengan telapak tangan. Sasha beranjak dari tempat tidur dan melesat cepat masuk ke kamar mandi. Ia langsung melepaskan pakaiannya dan mandi dengan cepat. 

Setelah mandi, Sasha mengeringkan tubuh dan melilitkan handuk besar menutupi tubuhnya. Ia membuka pintu kamar mandi perlahan-lahan, lalu mengintip ke arah tempat tidur. Ia tidak menemukan Ted di sana. Sasha melangkah keluar, berusaha mencari keberadaan Ted yang ternyata sedang berdiri di balkon sambil menatap ke arah laut.

Ia segera mengambil pakaian, lalu masuk kembali ke kamar mandi. Setelah mengenakan pakaian dan mengeringkan rambut, Sasha berdiri menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya merona, jantungnya berdebar cepat. Ia belum pernah seintim ini dengan seorang pria setelah Jack.

Sasha menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Ia harus bisa mengontrol dirinya agar tidak bersikap bodoh. Ia adalah seorang wanita dewasa sekarang, bukan seorang gadis berusia 17 tahun yang polos. Beberapa saat kemudian, ia memutuskan untuk keluar. Sasha membuka pintu dan terkejut menemukan Ted yang berdiri tepat di hadapannya.

“Boleh aku pinjam kamar mandimu?” tanya Ted tenang. 

“Oh, silakan,” jawab Sasha singkat, menekan rasa gugupnya.

Ia bergerak ke samping, memberikan ruang bagi Ted. Pintu itu tertutup di belakangnya dan tanpa berlama-lama, Sasha segera berjalan menuju balkon. Ia membutuhkan sentuhan angin segar untuk menenangkan gelora panas dalam tubuhnya yang tiba-tiba bangkit melihat tubuh Ted yang bertelanjang dada tepat di hadapannya.

Aroma kopi hangat yang khas membuat Sasha menoleh. Dua cangkir kopi hangat dengan beberapa roti panggang di piring putih serta selai dan butter tersaji di meja bundar. Ia mengambil roti yang sudah diolesi selai cokelat dan membawa secangkir kopi di tangan kiri. Ia berdiri di pinggir balkon memandang keindahan hamparan laut di pagi hari sambil menikmati roti dan kopi hangat.

Sasha hampir menghabiskan roti kedua saat Ted keluar dari kamar mandi. Ia berbalik dan memerhatikan setiap gerak-gerik Ted saat mengeringkan rambut dengan handuk. Mata Sasha menjalar ke bawah, meneliti setiap lekuk tubuh Ted, terutama dada bidang dan perut yang terbentuk sempurna.

Keindahan yang terpampang di hadapannya saat ini begitu menggoda dan membangkitkan gairah terpendam yang selama ini ia kunci erat. Tatapan mereka saling bertemu. Ia segera berbalik, mengalihkan pandangannya ke hamparan laut seraya berusaha keras meredam debaran jantungnya yang sangat cepat. 

“Kamu sudah sarapan?” tanya Ted santai saat duduk di salah satu kursi balkon.

“Sudah,” jawab Sasha singkat, tanpa menoleh sedikit pun. 

“Apa rencanamu hari ini?” tanya Ted ringan sebelum mengangkat cangkir kopi. Sasha berbalik seraya memasukkan potongan roti terakhir ke mulut, lalu menyeruput kopinya. Matanya langsung tertuju pada tubuh Ted. Entah apa yang merasuki dirinya. Sasha meneguk kopi sekali lagi, berusaha mendorong sisa roti yang sulit untuk ditelan. Ia berdeham dan menarik napas cepat.

“Aku mau ke tempat vendor untuk menyelesaikan beberapa proses administrasi,” jawab Sasha datar dan tenang sambil berusaha keras mengalihkan pandangan dari tubuh Ted.

“Setelah itu?” tanya Ted cepat. 

“Tidak ada,” jawab Sasha singkat.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan?” usul Ted sebelum meneguk kopi. Sasha berpikir sejenak, menimbang apakah ia harus menerima ajakan itu atau tidak. Tanpa Sasha sadari, ia mulai membangun kembali tembok penghalang yang beberapa hari ini mulai runtuh karena kehadiran Ted.

“Kurasa itu bukan ide yang baik,” tolak Sasha dingin.

Why?” tanya Ted bingung.

“Karena kita … maksudku, sejujurnya kita belum benar-benar saling mengenal. Aku—“ 

Sanggahan Sasha terhenti saat Ted beranjak dari kursi dan menyunggingkan senyum kecil di wajah tampan itu. Ted meletakkan cangkir kopi di meja, lalu bergerak mendekat.

“Bukankah semalam kamu setuju untuk menghabiskan sisa hari kita di Bali bersama-sama?” tanya Ted ringan saat berhenti tepat di hadapan Sasha.

“Ya, tapi … kurasa itu bukan … maksudku, kurasa lebih baik kita menyudahi ini, Ted,” tolak Sasha tak mampu memberikan alasan yang jelas. Ia berusaha untuk menekankan pada Ted bahwa ia tidak ingin memiliki hubungan romantis dengan pria itu karena takut. Tetapi, entah mengapa semua kata-kata itu menguap begitu saja. Ted meletakkan kedua tangan di tiang balkon, memenjara Sasha.

“Apakah kamu sadar kalau kamu mulai membangun tembok itu lagi?” tanya Ted dalam, sementara mata mereka saling mengunci.

“Aku tidak—“

Yes, you did, Princess,” potong Ted cepat. Sasha mengerutkan kening, tidak menyukai posisinya yang tersudut seperti ini.

“Aku bukan Jack, Sasha,” tegur Ted lembut. Tubuh Sasha menegang mendengar nama itu dan napasnya mulai terasa sesak.

“Jangan bangun tembok itu lagi dan nikmati sisa harimu di sini bersamaku. Aku akan menunjukkan padamu bahwa aku jauh lebih baik darinya,” lanjut Ted yang membuat Sasha luluh. Ted mulai membelai wajahnya, kemudian menyentuh bibirnya dengan lembut.

“T-tapi … kamu tetaplah orang asing bagiku,” ujar Sasha serak, masih berusaha menolak kehangatan yang Ted berikan. Senyum kembali tersungging di bibir Ted. Pria itu menjauhkan tangan dari wajahnya, lalu bergerak mundur.

“Theodore Amadius,” ucap Ted seraya mengulurkan tangan pada Sasha, “kurasa kita harus memulai semua ini dengan benar.” 

Sasha menatap uluran tangan itu sesaat sebelum menjabatnya. 

“Sasha Clarissa,” sahut Sasha tegang. Ted mengecup punggung tangan Sasha, tersenyum hangat, lalu menarik dan memeluknya.

“Nama yang indah,” ucap Ted ringan sebelum mendaratkan kecupan singkat yang terasa hangat. Ted melepaskan pelukan itu, lalu kembali duduk di kursi. Sasha memerhatikan Ted yang terlihat begitu santai menikmati sisa sarapan. Ia meneguk kopinya hingga tandas sementara matanya terus meneliti Ted. Sasha menghela napas panjang, berusaha kembali menenangkan dirinya.

Mungkin Ted benar. Mungkin dia bukanlah pria jahat seperti Jack. Tapi sebelum semua ini berlanjut, aku akan mencari tahu siapa Ted yang sebenarnya. Aku tidak akan gegabah kali ini! Tidak! Tak akan pernah lagi!

*****

Bel kamar berbunyi saat ia asyik membaca artikel di ponsel sambil duduk bersandar di tempat tidur. Ted segera beranjak dan membuka pintu, berharap Sasha yang muncul di balik pintu. Senyum yang mengembang di wajahnya seketika menghilang saat melihat Na yang tampak geram dan marah.

“Mana Rico?” tanya Ted datar.

“Tidur,” jawab Na singkat, “boleh aku masuk?”

Ted mencoba menerka apa yang akan Na lakukan saat ini. Ted masih belum melupakan bagaimana Na memperlakukan Sasha semalam, namun ia berusaha untuk tetap tenang. Ted segera bergerak ke samping, mempersilakan wanita itu masuk demi menghargai kedekatan mereka selama ini.

Na mengentakkan kaki kesal saat masuk ke kamarnya. Ted menutup pintu dan  menghampiri Na yang langsung duduk di pinggir tempat tidur. Ia berdiri bersandar di dinding kamar, berusaha menjaga jarak sembari melipat kedua tangan di depan.

Ia tidak berkata sedikit pun, hanya menunggu serta memerhatikan Na yang tampak begitu gelisah, marah, dan kesal. Ted tahu kalau wanita itu akan membahas masalah semalam, namun tak ada seorang pun yang mampu mengubah keputusannya. Bahkan Na sekali pun.

“Apa yang ada di pikiranmu, Ted? Apakah kamu sudah gila?” tanya Na kesal, langsung ke pokok permasalahan. Mata itu menatapnya penuh amarah.

“Aku tidak gila. Ada masalah?” jawab Ted tenang. Ia tidak ingin gegabah dan menyambut amarah Na yang tampak sudah siap memuntahkan semua makian untuk menghina Sasha.

“Wanita itulah masalahnya, Ted!” tegas Na seraya melemparkan tatapan kesal bercampur bingung dengan sikap tenangnya.

“Kamu tidak tahu siapa dia! Dan, dengan mudahnya kamu mengatakan kalau dia adalah calon istrimu. What the hell is that??” cecar Na geram, menuntut penjelasannya.

“Aku tahu siapa dia yang sebenarnya,” jawab Ted tenang.

She doesn’t deserve you, Ted!” protes Na cepat seraya beranjak dari tempat tidur.

Then, who does? You are?” tanya Ted tegas sambil berjalan menghampiri Na yang tersentak kaget mendengar ketegasannya, lalu berhenti tepat di hadapan wanita itu.

“Bukan itu maksudku, Ted! A-aku … aku tidak mau … aku …,” ucap Na terbata-bata.

“Apa maumu, Na?” tuntut Ted sambil menatap kesal wanita itu, “apa lagi yang kamu inginkan dariku?”

Napas Na terengah-engah. Terlihat jelas betapa besar amarah yang menyelimuti wanita itu saat ini.

“Kamu sudah menikah, Na. Lagi pula, kamu tidak berhak mengaturku!” tegas Ted, lalu berbalik dan menjauh dari Na. 

“T-tapi kamu mencintaiku, Ted,” ungkap Na kesal.

“Ya. Lalu, apa masalahnya?” tanya Ted balik, “aku mencintaimu, kamu mencintai Rico. Semua sudah jelas dan sudah tak ada yang harus diperjuangkan di sini.”

Ini harus berakhir. Na tidak bisa terus menghantuiku. Aku memang mencintainya, tapi Na tidak boleh memperlakukanku seperti ini. Na tidak boleh memberikan harapan itu lagi padaku karena ada seorang pria yang mencintai dan menantinya saat ini, batin Ted geram.

“A-aku mencintaimu juga, Ted,” ungkap Na gugup, membuat Ted muak.

“Stop! Berhenti menipuku, Na!” bentak Ted tak mampu menahan amarahnya lagi. Na tersentak kaget lagi.

“Kamu tidak mencintaiku! Kamu hanya takut kehilangan seseorang yang begitu mencintaimu. Tapi sekarang, kamu sudah memiliki Rico. Dia begitu mencintaimu, tidakkah kamu menyadarinya!” papar Ted geram seraya mengepal kedua tangan, mencoba menekan luapan amarahnya.

“Aku tidak ingin tenggelam dan terpuruk hanya karena kamu!” jelas Ted, berharap Na mengerti posisinya. Napas Ted begitu cepat, secepat debaran jantungnya.

“Tapi, kenapa harus wanita itu? Dia tidak pantas untukmu. Dia kotor dan kejam. Kamu tidak tahu siapa dia yang sebenarnya, Ted,” ungkap Na mencoba menyadarkannya. Tapi ia tidak butuh untuk disadarkan karena ia sudah tahu semuanya.

“Sasha bukan wanita kotor ataupun kejam!” tegas Ted membela Sasha.

“Dia membunuh seseorang dan videonya saat bercinta dengan banyak pria sudah tersebar di mana-mana! Dia wanita murahan!!” teriak Na.

‘Plak!’

Tamparan Ted melayang tepat di wajah Na, membungkam hinaan yang berusaha wanita itu lontarkan. 

“Kamu tidak pantas bicara seperti itu!” geram Ted seraya menatap tajam Na yang tampak terluka dengan sikapnya.

“Apa yang kamu lakukan, Ted?” keluh Na sambil menangis dan menangkup pipinya.

“Kamu tidak mengenal Sasha seperti diriku,” ucap Ted sinis.

“Kamu menamparku … demi wanita kotor itu?” protes Na, terluka.

“Dia bukan pembunuh dan tidak pernah bercinta dengan banyak pria. Mulai sekarang, berhenti menjelek-jelekkannya di hadapanku! Jika kamu tetap melakukannya, jangan harap bisa bertemu denganku lagi!” ancam Ted tegas.

Na menangis terisak-isak. Tak ada yang tahu sesakit apa perasaan Ted saat melayangkan tamparan ke pipi Na, tetapi ia harus melakukannya. Na tidak pantas menghina Sasha seperti itu. Jika Na berada di posisi Sasha, Ted yakin Na tidak akan sekuat dan setegas Sasha. Karena ia tahu, Na adalah anak manja yang selalu hidup layaknya putri raja. Tidak seperti Sasha yang telah mengalami masa lalu yang berat. Ted terus menatap tajam Na hingga akhirnya wanita itu beranjak dari hadapannya dan menghilang di balik pintu yang berdebum keras. 

“Maafkan aku, Na,” ucap Ted penuh rasa bersalah.

Aku terpaksa melakukan hal ini. Aku tidak ingin Na mengharapkan cintaku lagi. Aku memiliki Sasha sekarang dan aku serius ingin memperistri wanita itu. Aku tidak main-main. Secepatnya aku akan menyelamatkan hidup Sasha, batin Ted sambil menatap ke arah pintu kamarnya.

*****

BAB 8

Ted menunggu Sasha di sofa lobby hotel. Wanita itu mengirim pesan dan mengatakan sedang dalam perjalanan. Cukup banyak tamu yang lalu lalang di hadapannya, namun tatapannya tertuju pada seorang wanita yang sedang melangkah masuk melalui pintu hotel yang terbuka otomatis. 

Sasha terlihat cantik dan memesona dalam balutan skinny jeans biru dongker, kemeja putih lengan panjang berbahan ringan, serta sepatu heels  yang senada dengan kemeja. Kecantikan Sasha membuat beberapa mata pria menoleh saat wanita itu berjalan sembari melemparkan pandangan, mencari keberadaannya. Ted beranjak dari sofa dan menghampiri Sasha yang mulai mengetik sesuatu di ponsel. 

Halo, Princess,” sapa Ted yang membuat Sasha terkejut dan mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

“Kamu selalu mengagetkanku,” keluh Sasha sedikit ketus. 

“Bagaimana urusanmu? Sudah selesai?” tanya Ted santai sambil merangkul pundak Sasha, mengiring wanita itu berjalan menuju pintu Hotel dan menunggu mobil pesanan Ted.

“Sudah,” jawab Sasha singkat.

“Jadi, sudah bebas sekarang, ya?” goda Ted santai. 

“Maksudmu?” tanya Sasha ketus.

“Maksudku, kamu sudah tidak ada kerjaan lagi, kan?” jawab Ted, memperjelas ucapannya.

“Iya,” jawab Sasha singkat.

“Baiklah. Kalau begitu, sekarang saatnya aku menyenangkan tuan putri,” ucap Ted sambil menyeringai lebar. Sasha memutar bola mata menanggapi ucapannya.

Senyum kecil di sudut bibir Sasha menggoda Ted untuk mengecup bibir indah itu. Ia tidak memungkiri betapa kuat pesona Sasha pada dirinya. Cukup lama mereka menunggu mobil sewaan Ted. Ia segera mengeluarkan ponsel dari saku celana untuk menghubungi sopir yang membawa mobilnya.

“Ted, Sasha!” panggil Rico dari kejauhan.

“Hai, Rico,” sambut Sasha yang berbalik dan memberikan senyum ramah. Ted, yang sedang menghubungi sopir, segera menoleh dan memerhatikan raut wajah Na yang berjalan tepat di samping Rico. Pria itu menggenggam mesra tangan Na. Ted segera memutuskan panggilan itu dan menyambut kedatangan mereka. Rico memeluk Sasha singkat, lalu menjabat tangan Ted dengan hangat. 

Sikap hangat Sasha dan senyum lebar yang wanita itu tujukan pada Rico membuat Ted segera melingkarkan tangan di pinggang Sasha. Ia tidak suka jika Sasha memberikan senyum hangat pada pria lain selain dirinya. Ted melihat Na yang memasang wajah palsu dan tersenyum terpaksa ke arah Sasha, lalu melemparkan tatapan sinis padanya. Ia tidak peduli. Selama Na tidak mengusik Sasha, maka semua akan baik-baik saja.

“Kalian mau ke mana?” tanya Rico ringan.

“Tidak tahu,” jawab Sasha santai, “Ted mau mengajakku ke suatu tempat.”

“Kami mau candle light dinner di Jimbaran,” jelas Ted tenang seraya mempererat pelukannya di pinggang Sasha.

“Benarkah? Itu ide yang bagus. Bagaimana kalau kita ikut mereka, Na?” tanya Rico pada Na. Senyum palsu tersungging di wajah Na, tampak ingin menolak namun tidak bisa.

“Kami boleh ikut?” tanya Rico, “tenang saja. Kami tidak akan mengganggu dinner kalian.”

“Aku sih tidak masalah,” jawab Sasha santai, lalu menengadahkan wajah dan menatap Ted, seakan-akan meminta persetujuannya.

“Aku juga,” sahut Ted ringan seraya tersenyum hangat pada Sasha. Ted memerhatikan ekspresi terkejut Na. Ia tahu betapa tidak sukanya Na akan kebersamaan mereka, tetapi sebisa mungkin Ted akan menjauhkan Sasha dari Na. Ia tidak mau Na menyakiti Sasha.

“Apa yang kalian tunggu?” tanya Rico ingin tahu.

“Mobil sewaanku. Sepertinya dia salah melihat jadwal pesanan hari ini, jadi mobilnya masih dalam perjalanan,” jawab Ted sedikit kesal.

“Naik mobil kami saja,” ajak Rico.

Are you sure, Rico?” tanya Na cepat, berniat memprotes.

“Tentu saja,” jawab Rico tenang, “ayo, naik ke mobil kami!” 

Dengan terpaksa, Ted menyetujui ajakan itu. Ia mengirimkan pesan kepada sopir agar langsung menuju Jimbaran karena ia tidak ingin pulang ke hotel bersama dengan Rico dan Na. Ia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Sasha, selama yang ia bisa.

Mereka pun masuk mobil. Rico duduk di kursi penumpang paling depan, sedangkan Na, Sasha dan Ted duduk di kursi tengah. Selama perjalanan Ted dan Rico saling bercengkerama, sedangkan Na dan Sasha hanya duduk diam memandang ke luar. Ia menggenggam tangan dan melingkarkan pelukan di pinggang Sasha. Na tampak kesal setiap kali Ted menunjukkan perhatian pada Sasha, namun ia tidak peduli.

Ted tidak tahu mengapa ia bisa begitu tak peduli akan keberadaan dan pendapat Na setiap kali ada Sasha di sisinya. Mungkin sebenarnya, ia tidak mencintai Na seperti yang ia bayangkan selama ini. Bahkan sejujurnya, setiap kali Sasha di sampingnya, Ted menyadari bahwa pikiran dan pusat rotasi dunianya hanya tertuju pada wanita itu.

*****

Mereka tiba di salah satu restoran yang berada di daerah Jimbaran. Suasana di sana cukup ramai sore itu. Ted memesan sebuah meja yang berada di bibir pantai. Pria itu tidak pernah berada jauh dari tubuhnya. Menggenggam tangan ataupun melingkarkan pelukan di pinggangnya, membuat Sasha semakin tenggelam dalam pusaran perasaan aneh yang membuatnya merasa hangat.

Sejak pembicaraan mereka tadi pagi, Sasha berusaha keras menekan sisi gelap dalam dirinya yang terus meronta ingin mengendalikan tubuhnya. Ia ingin Ted mengenal dirinya yang mandiri, sempurna, dan kuat, bukan sosok wanita yang mampu menghancurkan segala sesuatu dalam sekejap.

Sesekali ia menarik napas panjang demi menghalau rasa menggelitik di dadanya setiap kali sisi gelap itu berusaha muncul, terutama karena lirikan tajam yang Na berikan kepadanya. Ia tahu apa yang bisa dilakukan oleh sisi gelapnya, tetapi ia tidak mau. Sasha ingin menyimpan setiap kenangan indah yang akan ia lalui bersama Ted.

Ia menyukai setiap perhatian, sanjungan, serta kehangatan yang Ted tujukan. Ted terus menggenggam tangannya, mendengarkan setiap ucapan dengan tatapan hangat yang menenangkan. Benar-benar pria yang sempurna, pikir Sasha.

Mereka berdua duduk saling berhadapan. Lilin-lilin  kecil di meja membuat suasana semakin romantis. Perlahan-lahan sinar matahari berganti menjadi cahaya bulan yang menerangi tempat itu.

Tak lama kemudian, makanan mereka pun tersaji. Mereka menikmati makanan sambil bersenda gurau. Band yang tampil di panggung kecil bagaikan soundtrack  yang mengisi suasana romantis itu.

Waktu berlalu dan mereka pun menyudahi makan malam itu. Ted memesan sebotol bir, sementara Sasha asyik menikmati jus alpukat. Tangan kiri Ted menggenggam tangannya dan menatapnya dalam-dalam. 

“Kamu senang malam ini?” tanya Ted sambil mengelus punggung tangannya dengan ibu jari.

“Ya,” jawab Sasha santai. Namun ia bisa merasakan wajahnya merona karena tatapan hangat Ted.

“Kamu pantas mendapatkannya, Sha. Dan selama di sini, aku akan membuatmu bahagia. Aku ingin kamu melupakan masa lalumu dan melangkah bersamaku,” ucap Ted yang terlihat begitu tulus.

Ia tersentuh akan ucapan itu, namun sejujurnya ia takut. Takut jika ia menginginkan lebih dari apa yang ia terima saat ini. Takut tenggelam dalam kebodohan yang membuatnya kembali merasakan sakit. Ya, ia sangat takut.

“Terima kasih, Ted. Tapi kurasa kamu tidak perlu seperti itu,” balas Sasha, menegaskan kenyataan yang harus mereka hadapi nanti.

“Kenapa?” tanya Ted bingung, “aku tulus melakukan semua ini untukmu, Sha.”

“Aku tahu. Tapi untuk apa, Ted? Kenapa kamu begitu baik padaku?” tanya Sasha menuntut penjelasan. Ted menarik napas panjang tanpa menghilangkan senyum hangat dari wajah tampan itu.

“Aku pernah mengatakan kalau aku menyukaimu. Kamu ingat?” ucap Ted tenang.

“Tapi rasa suka saja bukanlah alasan tepat untuk melakukan semua ini, Ted,” tolak Sasha bingung.

“Lalu, apa sebenarnya yang ingin kamu dengar dariku?” tanya Ted balik.

“Alasanmu yang sebenarnya,” jawab Sasha cepat. Genggaman Ted di tangannya sedikit lebih erat dari sebelumnya. Mata itu terus menguncinya dalam-dalam, membuat jantungnya berdebar lebih cepat.

“Kalau aku bilang aku jatuh cinta padamu, apa kamu percaya?” tanya Ted mengungkapkan perasaan yang membuat Sasha terbelalak kaget.

“Jatuh cinta? Secepat itukah?” tanya Sasha tak percaya, mengingat bahwa sebenarnya Ted memiliki perasaan pada Elena.

“Aku menyukaimu, Sasha, bahkan mungkin aku jatuh cinta padamu. Setiap kali berada di dekatmu memberikan sensasi berbeda yang membuatku lebih hidup. Aku tidak pernah main-main dengan perasaanku dan sejujurnya kamulah yang membuatku kuat menghadapi patah hatiku,” jelas Ted.

“Jadi, aku adalah pelarian?” tanya Sasha seraya menarik tangan dari dalam genggaman Ted.

“Bukan!” jawab Ted tegas. Sasha terus menatap mata Ted, berusaha mencari sedikit saja kebohongan yang mungkin pria itu sembunyikan darinya. Tetapi tidak ada. Mata itu seakan-akan menunjukkan apa yang Ted rasakan saat ini.

“Aku mengatakan kemarin kalau kamu adalah calon istriku dan aku tidak main-main dengan ucapanku. Aku memang berniat menikahimu, Sha,” lanjut Ted yang membuat Sasha semakin terkejut.

“Kurasa kamu sudah gila, Ted,” ucap Sasha cepat. Ia terdiam dan meneliti raut wajah Ted. Ia sudah mencari informasi tentang Ted via internet saat ia selesai melakukan pembayaran ke para vendor. Pria ini cukup terkenal, bahkan merupakan salah satu bujangan kaya yang memiliki beberapa perusahaan besar.

Ted adalah anak satu-satunya dari seorang pria Yunani dan wanita berdarah campuran Indonesia-Australia. Dengan mata biru tua dari sang ibu dan wajah tampan warisan sang ayah, membuat Ted mudah menaklukkan wanita mana pun. Tapi tak satu pun media menyatakan bahwa Ted adalah playboy terkenal. 

Ted jarang menjalin hubungan dengan wanita, yang membuat Sasha semakin bingung mengapa Ted memilih untuk jatuh cinta padanya. Sasha memerhatikan Ted yang menarik napas panjang untuk ke sekian kalinya. Tampaknya pria ini begitu sabar menghadapi dirinya yang penuh dengan pertanyaan. 

“Kalau aku melamarmu sekarang, apakah kamu masih tidak percaya?” tanya Ted tiba-tiba. Sasha membatu mendengar keseriusan yang tergantung dalam setiap ucapan yang Ted ucapkan. Ia merasa seperti berada di dalam mimpi, namun kali ini mimpi itu terasa begitu nyata.

No way! Aku tahu, kamu pasti bercanda, kan?” ungkap Sasha sambil mendengus sinis. Ted tersenyum sambil menggeleng kepala. Ia memasukkan tangan ke saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil.

“Sasha Clarissa, maukah kamu menikah denganku?”  tanya Ted tenang sambil mengangkat kotak yang terbuka, menampakkan sebuah cincin indah berkilauan yang bertengger di dalam.

“Ted?” panggil Sasha tak percaya, wajahnya tampak ketakutan.

“Kamu tidak perlu menjawab sekarang, Sha. Kamu bisa menyimpan cincin ini,” ucap Ted lembut sebelum menutup kotak itu dan menyodorkannya pada Sasha. Ia masih belum bisa mengendalikan keterkejutannya. Ini benar-benar melebihi ekspektasinya. Yang Ted lakukan saat ini membuat Sasha semakin takut kehilangan pria itu.

“Kita akan berpisah besok, Ted. Apakah kamu yakin dengan tindakanmu ini?” tanya Sasha berusaha menyadarkan pria itu.

“Aku yakin,” jawab Ted singkat. 

“Tapi—“

“Aku tahu semua ini terlalu cepat bagimu. Simpanlah. Kamu boleh memikirkan kembali lamaranku tadi. Kalau kamu sudah siap, kamu boleh mengenakan cincin itu di jari manismu dan aku berjanji tidak akan pernah mengecewakanmu sedikit pun,” janji Ted tegas namun lembut. Pria ini selalu penuh kejutan. Kejutan yang begitu menyenangkan dan terkadang membuat Sasha tidak berkutik.

“Kamu punya nomor ponselku. Kita akan tetap berhubungan di Jakarta dan aku akan selalu berusaha untuk menemuimu,” lanjut Ted tenang sebelum meneguk bir dari botol.

“Tapi Ted—“

“Simpanlah dan nikmati sisa malam ini denganku, Princess,” pinta Ted lembut. Sasha mengangguk patuh, lalu mengembuskan napas panjang. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Baginya, ini semua terlalu cepat.

Sasha tahu betapa baiknya Ted. Pria itu mau menerima masa lalunya dan dengan mudah meruntuhkan tembok pertahanannya. Tetapi, ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Sesuatu yang membuatnya tak yakin dengan semua ini

Apa aku bisa mempercayai Ted? Apa aku akan menerima lamarannya? Astaga! Apa sebenarnya yang sedang melandaku saat ini? Mengapa aku tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat seperti biasanya?

*****

BAB 9

Malam semakin larut dan waktu berlalu dengan cepat. Sasha mencoba untuk tidak terlalu memikirkan tentang lamaran dadakan Ted, karena ia ingin menikmati tiap menit kebersamaan ini tanpa rasa takut. Sasha menyedot sisa jus sambil menikmati alunan lagu, sementara Ted ke kasir untuk membayar tagihan.

Sudut matanya menangkap pergerakan Elena yang semakin mendekat ke mejanya. Wanita itu langsung duduk di kursi Ted tanpa permisi. Ia cukup terkejut dengan keberanian Elena, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan ramah.

“Hai, Elena. Bagaimana makan malammu?” tanya Sasha ringan, mencoba mencairkan suasana. Elena tak bergeming, hanya menatap tajam dan sinis. Ia berusaha tenang dan kembali menyedot jusnya.

“Menjauhlah dari Ted!” tegur Elena langsung. 

“Kenapa?” tanya Sasha tenang.

“Kau tidak pantas bersamanya!” hina Elena lantang, “kau hanya wanita kotor yang mencoba mengambil keuntungan dari Ted.”

Mendengar hal itu, jantung Sasha berdebar cepat seperti genderang yang ditabuh dengan penuh amarah. Tatapan yang lembut berubah menjadi tajam seakan ingin membunuh Elena. Senyum yang hangat pun berubah menjadi seringai jahat. 

Kumohon, hentikan! Jangan! Kumohon, jangan keluar sekarang. Aku bisa menangani ini. Aku bisa!” mohon Sasha pada sisi jahat dalam dirinya yang mulai memberontak. Sasha memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan mengepal erat kedua tangan. Ia berusaha menenangkan debaran jantung yang membuat darahnya berdesir cepat.

Kau tidak akan bisa, hanya aku yang bisa mengatasi pelacur ini! Serahkan padaku dan aku akan menghabisinya dengan cepat,” tegas sisi lain Sasha yang tampak antusias. Senyum tersungging di bibir Sasha, sementara matanya mengunci Elena layaknya seekor mangsa segar yang siap disantap.

Tidak! Kumohon, jangan! Aku bisa menangani ini,” mohon Sasha dalam hati seraya menggemeretakkan gigi. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar tak karuan, memompa adrenalin hingga memenuhi kepala. 

Perlahan-lahan, semua tampak memudar. Sisi gelap itu telah mengambil alih tubuhnya. Ia tidak bisa melihat dan berpikir dengan jelas. Yang ia rasakan hanyalah amarah dan keinginan untuk membunuh.

“Apa kau bilang?” tanyanya sinis dengan seringai kecil. 

“Kau wanita kotor dan seorang pembunuh. Kau tidak pantas bersama Ted!” jawab Elena ketus sambil mengarahkan telunjuk ke arah Sasha.

Tangan kiri Sasha mencengkeram erat pinggiran kursi, masih terus mencoba menekan sisi gelapnya yang semakin mendominasi. Sementara tangan kanannya mulai menyentuh pisau makan yang berada di samping piring. Ia membelai pisau dengan lembut, seakan-akan itu adalah benda terindah yang membuatnya bahagia.

“Aku tahu siapa kau! Aku tidak setuju jika Ted menjalin hubungan denganmu!” tegas Elena lagi. Sasha bisa melihat tatapan penuh kebencian di mata wanita itu, yang malah membuat seringai di wajahnya semakin lebar. Pandangan Elena tertuju pada kotak pemberian Ted yang berada di samping gelas jusnya.

Wanita itu tampak geram dan bibir bergetar menahan amarah. Dengan cepat, Elena mengambil kotak itu dan membukanya. Wajah Elena tampak tegang dan geram dengan mata sedikit terbelalak.

“Dasar kau pelacur! Sudah berapa kali kau tidur dengannya?” bentak Elena seraya berdiri dan melempar kotak kecil itu ke meja dengan kasar hingga terjatuh ke hamparan pasir di bawah kaki mereka.

Sasha mendengus jijik mendengar pertanyaan itu. Oh, ya! Ia senang dan antusias melihat gelora amarah yang terpancar jelas di mata Elena. Jemarinya perlahan-lahan menarik pisau makan, lalu menggenggam erat gagang pisau dengan rasa girang yang tak terkira.

“Ted hanya milikku! Kau tahu itu? Dia milikku!!” tegas Elena marah. Sasha berdiri, lalu menggerakkan pisau seakan benda itu adalah mainan yang menyenangkan. 

Tawa kecil mengiringi tatapan tajam yang tertuju pada Elena. Tawa mengerikan yang selalu muncul saat sisi gelap mengendalikan tubuhnya. Tawa sinis yang menertawakan setiap darah yang membasahi tangannya.

“Dasar kau setan kecil!” hina Sasha menyeringai dingin, “apa kau tidak puas dengan sepupuku, sampai kau juga harus memiliki Ted? Dasar pelacur ingusan!”

‘Splash!’

Elena menyiram wajah Sasha dengan sisa air putih yang ada di meja. Wajah Sasha memerah. Ingin rasanya ia segera menggoreskan pisau di leher mulus wanita itu.

‘JAB!’

Sasha menancapkan pisau sekuat tenaga ke meja hingga benda itu berdiri tegap. 

“Pergilah sebelum kepalamu menggantikan meja ini!” ancam Sasha tipis. Tangannya terus mencengkeram gagang pisau erat-erat hingga terasa perih dan sakit. Elena terkejut mendengar ancamannya dan tampak gemetar. 

“Sasha!” teriak Ted dari kejauhan. 

Ia menoleh ke arah datangnya suara. Ted berlari ke arahnya bersama dengan Rico yang berada tepat di belakang pria itu. Ted segera menarik Sasha ke dalam pelukan dan menjauhkannya dari Elena. Napas yang memburu serta gemeretak gigi geram, menunjukkan betapa keras usaha Sasha untuk mengambil alih tubuhnya.

“Ada apa ini?” tanya Rico bingung. Ted mengambil tisu dan mengeringkan wajah Sasha yang basah.

“Apa yang kamu lakukan pada Sasha?” bentak Rico pada Elena saat melihat wajah, kepala, dan baju Sasha yang basah.

“Dia mau membunuhku!” ungkap Elena lantang, berusaha membela diri dan tanpa perasaan bersalah sedikit pun. Sasha menoleh dan memicingkan mata, siap untuk menerjang wanita itu.

Hentikan! Kubilang, hentikan!” teriak Sasha memberontak dalam dirinya. Ted kembali memeluk dan mengusap punggungnya, berusaha menenangkan amarah dalam diri Sasha yang membuat tubuhnya menegang kaku.

“Lihat pisau itu, Rico! Dia mau membunuhku!” rengek Elena sambil menunjuk ke arah pisau yang berdiri tegak, tertancap di atas meja.

“Hentikan!” bentak Ted, marah. Bentakan itu membuat Sasha dan sisi gelapnya tertegun. Ia menengadahkan wajah dan melihat raut wajah Ted yang geram dengan kelakuan Elena. Pria itu tak sedikit pun melepaskan pelukan dari tubuh Sasha. 

Tubuhnya yang tegang perlahan-lahan mencair. Bukan hanya karena pelukan, tapi karena ketegasan Ted membelanya di depan Elena membuat sisi gelap dalam dirinya melemah. Sasha kembali mengambil alih tubuh dan pikirannya.

It is enough! Ini terakhir kalinya kau bicara denganku!” tegas Ted, lalu membawa Sasha menjauh dari Elena dan Rico yang terkejut dengan reaksi Ted.

Sopir, yang melihat kedatangan mereka, segera membukakan pintu. Sasha segera masuk mobil, begitu juga dengan Ted. Ia bisa melihat betapa besar amarah yang Ted rasakan saat ini. Sopir membawa mobil menjauh dari restoran. Ted, yang tidak berbicara sedikit pun, tampak bergelut dengan pikirannya sendiri.

“Ted,” panggil Sasha pelan seperti berbisik.

“Hmmm,” gumam Ted cepat sambil melihat ke luar jendela. 

“Cincinnya … tadi dia melempar cincin itu … bisakah kita mengambil cincin itu sekarang?” tanya Sasha gugup.

“Biarkan saja! Aku bisa beli yang baru untukmu,” jawab Ted datar tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.

“Tapi … aku mau cincin itu, Ted,” mohon Sasha mencoba membujuk Ted. Baginya cincin itu sangat berharga. Cincin pertama yang pernah diberikan seorang pria padanya dan ia tidak ingin kenangan akan cincin itu menghilang begitu saja. 

“Aku bisa beli lagi untukmu! Apa kamu tidak bisa mendengar apa yang aku katakan?” ucap Ted tegas. Pria itu akhirnya menatap dirinya, namun terpancar jelas rasa kesal dalam tatapan itu.

“Tapi, aku mau cincin itu!” tegas Sasha, tak gentar sedikit pun. Ia tidak suka saat seseorang membentaknya, karena bisa membuat sisi gelap dalam dirinya mulai merajalela, dan Sasha tidak ingin hal itu terjadi.

“Berhenti, Pak!” perintah Sasha pada sopir, yang langsung menghentikan mobil di pinggir jalan. Sasha segera keluar lalu membanting keras pintu mobil hingga menimbulkan bunyi berdebum yang sangat kuat. Ia melangkah cepat menjauh dari mobil. 

Terdengar suara Ted memanggilnya dari kejauhan, tapi Sasha tidak peduli. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mengambil cincin itu dan menyimpannya. Besok mungkin ia akan berpisah dengan Ted dan hanya cincin itu yang bisa menyadarkan dirinya bahwa masih ada seorang pria yang mau menyukainya dengan tulus.

Aku harus cepat, kalau tidak cincin itu akan hilang. Ini tidak terlalu jauh. Aku tidak boleh kehilangan cincin itu! batin Sasha sambil terus melangkah hingga hampir berlari.

Udara malam itu cukup dingin. Sesekali tampak kilat di langit malam, tapi ia tidak peduli. Meskipun hujan mengguyur tubuhnya, ia akan tetap mencari cincin itu. Tarikan kuat di pergelangan tangannya menghentikan langkah Sasha. Ted langsung memeluknya erat, seakan-akan takut kehilangan. 

“Maafkan aku,” ucap Ted sambil terus memeluk Sasha.

“Aku tidak tahu sebegitu pentingnya cincin itu untukmu,” lanjut Ted merasa bersalah. Belaian lembut di punggung Sasha membuat rasa kesal itu perlahan-lahan menguap. Ted menarik napas panjang, lalu mengecup puncak kepalanya sebelum melepaskan pelukan itu, kemudian menatap Sasha dalam-dalam.

“Kalau kamu ingin cincin itu, kita akan mengambilnya.” bujuk Ted lembut. Sasha mengangguk pelan. Ted menengadah wajahnya dan mendaratkan kecupan ringan di bibir Sasha. Setelah itu, mereka naik ke mobil yang langsung melaju menuju restoran. Sasha terus berharap agar cincin itu masih ada di sana.

*****

Setengah jam berlalu setelah kejadian itu. Mereka pun tiba di restoran dan langsung mencari cincin tersebut. Harapannya pupus saat melihat meja yang tadi mereka gunakan sudah tampak bersih dan rapi.

Sasha dan Ted mencari ke sekitar meja, namun mereka tetap tidak menemukan kotak cincin itu. Air mata mulai menggenangi kelopak matanya karena ia telah kehilangan cincin pemberian Ted. Hingga akhirnya salah satu pelayan menghampiri dan memberikan kotak kecil hitam pada Ted. Seketika itu pula, air mata Sasha menetes bahagia melihat cincin itu kembali padanya. 

“Apa itu artinya kamu menerima lamaranku?” goda Ted sambil melingkarkan tangan di pundak Sasha sementara ia menatap cincin dalam kotak.

“Jangan harap!” gerutu Sasha malu sambil menyikut perut Ted dengan siku tangan.

“Kamu seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangan. Wajahmu begitu menggemaskan,” goda Ted lagi sembari melirik genit padanya.

“Terserah! Pokoknya cincin ini sangat berarti bagiku,” balas Sasha ketus sebelum beranjak pergi meninggalkan Ted sendirian di dekat meja. 

Setelah beberapa langkah, ia menoleh ke belakang dan melihat Ted yang terdiam, tampak terkejut mendengar ucapannya. Sasha kembali melangkah, berusaha tidak peduli dengan raut terkejut Ted dan terus berjalan menuju parkiran. Tak lama setelah ia masuk mobil, Ted pun menyusulnya masuk. 

Dalam perjalanan menuju hotel, Sasha kembali membuka kotak kecil itu dan menatap bahagia cincin yang tersemat di busa hitam. Ia berusaha menghapus pertengkarannya dengan Elena dari pikirannya. Namun, kejadian itu malah membuatnya semakin penasaran dengan masa lalu yang terjadi di antara Elena dan Ted. 

Sasha tahu, ia tidak memiliki hak untuk mengorek masa lalu Ted. Tetapi hanya ini kesempatannya untuk mengusir rasa penasaran dalam dirinya.

“Ted,” panggil Sasha tenang.

“Ada apa, Princess?” tanya Ted disertai senyum hangat.

“Boleh aku tanya sesuatu?”tanya Sasha memberanikan diri. 

“Boleh. Kamu mau tanya apa?” tanya Ted balik sambil mengubah posisi duduk agar menghadap langsung ke arah Sasha.

“Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Elena?” tanya Sasha tanpa rasa takut sedikit pun. Ted tidak langsung menjawab pertanyaan, malah tampak cukup terkejut. Pria itu terdiam sesaat, tenggelam dalam pergumulannya sendiri.

“Elena adalah sahabatku sejak kecil. Kami tumbuh besar bersama,” jawab Ted seadanya.

“Apa kalian pernah menjalin hubungan? Atau…,” Sasha menghentikan pertanyaannya, mencoba mencari kata-kata yang tepat yang tidak menyinggung perasaan. Ted tiba-tiba menggenggam tangannya, tampak ragu sesaat.

“Kamu ingat saat aku mengatakan kalau kita semuanya mempunyai masa lalu?” tanya Ted murung. Sasha mengangguk cepat, tak sabar menunggu penjelasan selanjutnya.

She is my past,” lanjut Ted singkat, lalu mengembuskan napas panjang. Kalimat itu membuat Sasha perlahan-lahan mengerti beban yang menggelayuti perasaan Ted. Pria itu melepaskan genggaman tangan dan memalingkan wajah ke luar jendela. 

Ia tahu betapa berat melihat orang yang kita cintai menikah dengan orang lain. Tetapi Ted begitu berbesar hati dan sangat berlapang dada menerima kenyataan pahit itu. Sasha menggenggam tangan Ted. Ia membelai lembut wajah pria itu dengan tangan yang lain sebelum mengarahkan wajah Ted agar menatap matanya. Tanpa ragu, Sasha bergerak mendekat dan mengecup singkat bibir itu.

“Ceritakan padaku,” bujuk Sasha lembut. 

Ted menatap matanya dalam-dalam, lalu menghela napas panjang. Ted mengatakan bahwa pria itu mencintai Na dan hingga saat ini belum berubah sedikit pun. Elena adalah cinta pertama Ted.

Pria itu terdiam sejenak sebelum kembali bercerita kalau sebenarnya Ted pernah mengungkapkan perasaannya pada Elena, tetapi wanita itu menolaknya. Elena hanya menganggap Ted sebagai seorang kakak dan setelah mengetahui hal itu Ted tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali pasrah.

Ketika Elena memberi tahu tentang rencana pernikahan dengan Rico, Ted tidak bisa terima. Ted langsung melamar Elena, tak peduli apakah wanita itu menolak atau tidak. Elena menolak Ted, tentu saja. Tetapi hal yang membuat Ted tidak bisa jauh dari Elena karena wanita itu selalu menyayangi Ted sama seperti semula.

Pria itu mulai belajar untuk menerima kekalahannya. Namun malam sebelum pernikahan, Elena menelepon Ted tepat saat mereka sedang berciuman di lift. Ted berhenti kembali, lalu menatap Sasha dengan raut bersalah. 

Sasha memutuskan untuk tetap bersikap tenang, mendengarkan dan memaklumi semua itu. Ted menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya. 

“Na tiba-tiba mengatakan kalau dia mencintaiku tepat sebelum menikah dengan Rico. Tapi saat dia mengatakan kalau dia tidak bisa hidup tanpa kehadiranku, saat itu aku benar-benar sadar. Na hanya takut kehilangan diriku. Kehilangan perhatian dan cinta dariku.

“Tapi dia tidak mencintaiku seperti dia mencintai Rico. Aku tahu itu. Aku bisa melihat dari matanya. Saat ia menatap Rico, Na memandang pria itu dengan penuh cinta. Dengan tegas, aku menolak semua yang Na ucapkan,” lanjut Ted yang kembali terdiam dengan raut sedih.

Ia bisa melihat betapa besar rasa cinta Ted pada Elena, namun pilihan tetaplah pilihan. Kita tidak bisa memaksakan kehendak demi kebahagiaan diri kita sendiri sementara orang lain menderita. Melihat ketulusan Ted, sesuatu dalam dirinya mulai luluh dan tersentuh.

Sasha melepaskan genggaman tangannya, lalu melepaskan kalung emas mungil berbandul mutiara yang selalu ia kenakan. Ia mengeluarkan cincin dari kotak, menggantungnya di kalung, lalu mengenakan kalung itu lagi, dan menatap cincin yang tergantung di sana.

“Maafkan aku karena sudah menempatkan dirimu di situasi aneh ini,” ungkap Ted merasa bersalah.

“Tidak apa-apa,” jawab Sasha tenang.

“Aku tidak bermaksud membuatmu menjadi pelarian. Aku serius dengan setiap perkataan yang pernah kuucapkan padamu. Aku tidak pernah mempermainkan seorang wanita, Sha. Tidak pernah!” tegas Ted dengan wajah penuh harap. Berharap agar ia percaya.

“Apa aku menjadi penghalang di antara kalian?” tanya Sasha menegaskan sambil menatap Ted yang tampak murung dan merasa bersalah.

“Kehadiranmu malah membantuku melewati semua ini. Kamu membuatku merasa lebih baik. Seharusnya aku berterima kasih padamu, bukannya memosisikanmu menjadi sasaran pelampiasan amarah Na.

“Aku salah karena meninggalkanmu tadi. Aku tahu seperti apa kekanak-kanakannya Na dan seharusnya aku mencegah agar pertengkaran tadi tidak terjadi. Maafkan aku, Sha. Aku berjanji akan terus menjaga dan menjauhkanmu darinya,” jawab Ted jujur dengan wajah memelas. Ted menyisir rambut frustrasi dengan jemari, tampak putus asa karena takut dirinya menjauh setelah kejadian tadi.

“Maafkan aku karena sudah membuatmu membentaknya,” ungkap Sasha tulus.

“Tidak, Sha. Kamu tidak salah di sini. Dia memang harus menerima kenyataan bahwa aku berhak menentukan jalanku. Dan … bisakah kita tidak membahas dia lagi? Aku benar-benar ingin melupakannya,” ungkap Ted tampak sedikit putus asa.

Sasha terdiam, mencoba menyelami perasaan Ted. Pria ini adalah pria terjujur yang pernah ia temui. Sasha meyakinkan dirinya sendiri bahwa inilah saatnya untuk membalas kebaikan Ted. 

“Aku akan membantumu melupakannya. Kamu mau?” bujuk Sasha sambil tersenyum hangat pada Ted. Raut lega terpancar jelas di wajah Ted, seakan-akan menunjukkan bahwa pria itu takut kehilangan dirinya dan hal itu membuat Sasha merasa begitu berharga. 

“Terima kasih, Sasha. Aku tidak tahu bagaimana caranya melewati semua ini jika tanpa kehadiranmu. You’re really my angel,” jawab Ted, lalu menarik Sasha ke dalam pelukan. Aku pasti akan membantumu. I promise.

*****

BAB 10

Mereka turun di lobi hotel sekitar pukul 21.30. Pertengkaran Na dan Sasha membuat perasaannya tidak karuan. Di satu sisi, ia merasa bersalah karena membentak Na di depan umum. Namun di sisi  lain, sifat protektifnya pada Sasha muncul seketika. Bahkan, ia rela mengerahkan seluruh tenaga demi menjaga keselamatan Sasha.

Melihat Sasha berdiri berhadapan dengan Na adalah mimpi terburuk yang pernah ia alami. Ia bisa merasakan kembali aura negatif Sasha. Entah mengapa ia tahu bahwa wanita itu, yang berdiri dengan tatapan tajam mengancam, bukanlah Sasha yang ia kenal. Tetapi sosok lain yang dingin dan kejam. Sosok yang bengis dengan seringai tipis yang membuat bulu kuduk meremang seketika.

Mengingat bahwa kejadian buruk yang menimpa Sasha di masa lalu menghasilkan kematian seseorang, saat itu juga Ted berusaha mencegah agar tidak terjadi hal yang buruk menimpa Na. Ia juga tidak ingin Sasha menyesal karena sudah melukai Na. Ia menyadari Na dan Sasha bukan sekedar wanita biasa yang hadir sesekali dalam kehidupannya. Kedua wanita itu sangat penting baginya. 

Meskipun ia baru mengenal Sasha dalam waktu singkat, entah mengapa ia yakin bahwa Sasha adalah wanita yang tepat untuknya. Ia juga tidak mengerti mengapa saat pertama kali menatap Sasha, ruang kosong dalam hatinya langsung menerima kehadiran wanita itu dengan mudah. Ted tidak pernah main-main dengan perasaannya, apalagi jika menyangkut tentang pendamping hidup. 

Ia memang berniat untuk menikahi Sasha, tidak peduli apakah wanita itu akan menerimanya atau tidak. Ted bahkan bertekad dan berusaha sekuat tenaga untuk memiliki Sasha. Ia tidak ingin kehilangan seorang wanita yang sangat penting dalam hidupnya lagi, seperti ia kehilangan Na.

Sementara Na, wanita itu adalah cinta pertamanya. Ia tahu sifat jelek Na. Wanita itu tidak akan melepaskan Sasha begitu saja. Ia tahu bagaimana kekanak-kanakannya Na jika menginginkan sesuatu. Dan satu hal yang pasti, Na akan mengusahakan segala cara demi mencapai keinginannya. Itulah yang Ted takutkan saat ini. Ia tidak ingin perasaan Sasha terluka karena sikap Na. Ia harus menjauhkan Sasha dari Na. Harus!

Pintu lift terbuka di hadapan mereka. Ted segera menarik Sasha masuk lift. Tangannya terus menggenggam tangan Sasha sejak turun dari mobil. Rasa takut karena membiarkan Sasha sendirian, membuat Ted enggan membiarkan wanita itu berada jauh darinya.

“Ted,” panggil Sasha tenang. Ia menoleh dan menatap wajah Sasha yang selalu mampu menyejukkan hatinya. Mata Ted tertuju pada cincin pemberiannya yang tergantung di kalung Sasha.

“Ted,” panggil Sasha lagi, membangunkan Ted dari lamunannya.

“Ya,” jawab Ted singkat.

“Tanganku sakit,” keluh Sasha meringis kecil. Ia tidak menyadari sekuat apa tenaganya sampai tangan itu hampir memucat dalam genggamannya.

“Oh, maafkan aku,” ucap Ted seraya melonggarkan genggamannya, tetapi tidak melepaskan tangan itu sama sekali.

“Kamu sudah bisa melepaskan tanganku, Ted,”  jelas Sasha sambil tersenyum kecil, seakan-akan menertawakan keposesifannya.

“Aku tidak akan melepaskanmu,” balas Ted tegas, lalu mengalihkan pandangan dari Sasha.

“Tapi, Ted—”

Ia mengencangkan genggamannya lagi, membuat Sasha terdiam seketika. Ted tidak akan melepaskan tangan Sasha. Ia tidak akan melakukan kecerobohan lagi. Tidak akan!

Pintu lift terbuka, Ted segera melangkah keluar diikuti Sasha yang berjalan di belakangnya. Mereka berjalan menuju pintu kamar Sasha dan setibanya di depan pintu itu barulah Ted melepaskan genggamannya. Ia menoleh ke kanan-kiri, berjaga-jaga seandainya Na tiba-tiba muncul dan berniat membuat onar. Sasha menempelkan kunci ke arah gagang pintu, kemudian membuka pintu dan melangkah masuk. 

“Ted,” panggil Sasha lembut, berdiri menghadap Ted yang masih berada di luar kamar.

“Apa kamu mau menemaniku tidur malam ini?” tanya Sasha merona, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain, mencoba menutupi rasa malu.

Are you sure?” tanya Ted balik pada Sasha. 

Ia cukup terkejut mendengar tawaran itu. Sasha, yang mengerti maksud dari pertanyaannya, langsung menatap Ted dengan tatapan yang tidak dapat terbaca sama sekali.

“Bukan! Bukan itu maksudku,” sanggah Sasha sambil mengerutkan kening, tampak begitu menggemaskan.

“Aku hanya merasa kurang tenang sekarang dan memintamu untuk menemaniku tidur, bukan dalam konotasi negatif,” jelas Sasha sambil meremas cincin yang tergantung di kalung. Ted terkekeh geli mendengar kegugupan Sasha.

“Tenang, Tuan putri. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan,” balas Ted ringan, mencoba menghilangkan rasa gugup Sasha. Wanita itu mengembuskan napas lega, lalu tersenyum kecil.

I’ll be back,” pesan Ted, “kunci pintumu dan jangan biarkan siapa pun masuk kecuali aku. OK.” 

Sasha mengangguk, lalu menutup pintu tepat di hadapannya. Ted melangkah menuju kamarnya yang berada tepat di samping kamar Sasha. Ia segera masuk dan langsung menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower dan berdiri di bawah kucuran air hangat yang langsung menyentuh setiap saraf tubuhnya yang menegang. 

Ted menutup mata, meresapi tiap sentuhan air yang membasuh dirinya. Berharap setiap air yang mengalir di tubuhnya membawa pergi semua beban yang ia rasakan saat ini. Ted menyisir rambutnya dengan jemari. 

Bayangan akan kejadian di restoran tadi kembali muncul dalam ingatannya. Ia mengusap wajah dengan kasar, mencoba menghapus ingatan itu, tetapi tidak bisa. Napasnya terasa berat mengingat raut Na yang terluka karena bentakannya. 

Ia ingin menghapus rasa bersalah itu dari dadanya, namun tidak bisa. Ia tidak ingin menyakiti perasaan Na, tetapi hanya itu yang bisa ia lakukan demi menyadarkan Na kalau wanita itu sudah tidak berhak mencampuri kehidupannya lagi. Setelah mandi dengan perasaan yang masih tidak karuan, Ted segera mengeringkan tubuhnya, lalu melangkah keluar kamar mandi. 

Ia mengenakan celana boxer hitam dan kaos putih polos. Setelah berpakaian, ia segera keluar kamar, lalu berjalan menuju pintu Sasha. Ia menekan bel pintu dan tak lama kemudian, pintu pun terbuka lebar.

Sasha terlihat cantik di balik pakaian tidur berbahan lembut berwarna merah muda. Dua tali kecil yang menggantung di pundak Sasha, memperlihatkan kedua lengan yang putih, bersih, dan lembut. Celana tidur sepaha memperlihatkan keindahan kaki jenjang yang mulus dan menggoda. 

Sasha membiarkan rambut panjang itu tergerai dan tampak sedikit lembap. Aroma wangi yang menyeruak dan memenuhi indra penciumannya, memberikan rasa tenang dan nyaman yang membuat Ted ingin terus menghirup aroma itu. Sial! Kenapa Sasha harus terlihat begitu menggiurkan? batin Ted tanpa bisa melepaskan pandangan dari tubuh itu.

Jantungnya yang berdebar cepat seakan-akan merespons gembira apa yang ia lihat. Sasha menatap Ted dengan rona merah yang menggemaskan, tampak mengerti apa isi pikirannya. Wanita itu bergerak ke samping, mempersilakannya masuk. 

Ia melangkah tanpa ragu, dan saat pintu tertutup di belakangnya, Ted menoleh memerhatikan Sasha yang berjalan melewatinya begitu saja. Ia berdiri diam di depan pintu kamar mandi, sementara Sasha duduk di pinggir tempat tidur. Kerutan di kening wanita itu menunjukkan ada pergumulan yang saat ini melanda pikirannya. Kemudian, Sasha menengadahkan wajah, menatap Ted dengan sedikit keraguan yang terpancar di mata indah itu.

“Apa kamu tidak keberatan menemaniku malam ini?” tanya Sasha pada Ted, terdengar ragu.

“Apa kamu tidak masalah tidur seranjang bersamaku?” tanya Ted balik sambil bersandar di dinding kamar, memerhatikan Sasha dengan seksama. Matanya benar-benar tidak bisa lepas dari tubuh itu. Sasha tidak menjawab ataupun menolak. Wanita itu mengalihkan pandangan ke lantai, tampak memikirkan sesuatu. 

“Apa kamu akan memperkosaku?” tanya Sasha pelan, tanpa menoleh sedikit pun. Sebuah entakkan keras menghujam dadanya, menyadarkan Ted akan satu hal. Sebegitu tidak percayanya Sasha pada laki-laki akibat kejadian di masa lalunya.

“Aku tidak akan menyentuhmu sedikit pun, kalau itu bisa membuatmu tenang. Kamu tahu itu, kan?” jelas Ted, berusaha membuat Sasha percaya padanya. Akhirnya, mata indah itu kembali menatapnya dan senyum kecil mengembang di wajah cantik yang selalu membuatnya terpesona. Sasha merebahkan tubuh dan menarik selimut sampai seleher, membuat Ted tersenyum geli. 

“Aku tidak akan memperkosamu, Sha,” goda Ted yang mendapat tatapan sinis dari Sasha.

“Aku tahu. Hanya saja … I just prepare for my safety,” jawab Sasha datar. Ted berjalan ke sisi lain tempat tidur, membuka kaos dan meletakkannya di meja kecil. 

“Apa kamu selalu buka baju saat tidur?” tanya Sasha saat ia merebahkan tubuhnya di samping wanita itu.

“Selalu,” jawab Ted singkat. 

“Kenapa?” tanya Sasha penasaran. 

“Kepanasan,” jawab Ted santai.

“Tapi ruangan ini dingin sekali,” kata Sasha, semakin menutup tubuhnya rapat-rapat dengan selimut.

“Aku tidak merasa kedinginan,” jawab Ted ringan. 

“Kamu tidak takut sakit?” tanya Sasha lagi.

“Apa kamu akan terus bertanya dan tidak akan membiarkanku tidur dengan tenang malam ini?” tanya Ted balik sambil tersenyum nakal pada Sasha. Dengan cepat wanita itu membalikkan tubuh membelakangi Ted. Ia tersenyum geli melihat sikap Sasha. Ternyata di balik sikap dingin, misterius dan masa lalu yang kelam, wanita ini terkadang tampak seperti seorang anak kecil yang pemalu, butuh perhatian dan kasih sayang.

Ia terus memandangi punggung Sasha dan sesuatu yang hangat menetap dalam dadanya. Ted sadar, kedekatan dan masa lalu mereka berdua membuatnya merasa semakin nyaman dengan Sasha. Bukan itu saja, ia juga menyadari bahwa ia memiliki perasaan lebih pada wanita itu. Bukan hanya rasa ingin melindungi, kasihan, dan sayang yang berlebih, tapi ini adalah rasa cinta.

Ya, aku mencintai Sasha. Aku benar-benar jatuh cinta dan ingin memiliki Sasha seutuhnya. Aku mencintainya. Semudah dan sesederhana itu perasaanku, dan aku akan mengungkapkan untuk yang kedua kalinya besok pagi. Aku harus bisa membuatnya percaya bahwa aku mencintainya. Harus!

*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja
error: Content is protected !!