BAB 1
Ia menikmati kelapa muda yang tersaji di hadapannya. Kesegarannya yang bercampur dengan dinginnya batu es, terasa begitu nikmat dan menghapus dahaganya dalam seketika. Angin pantai berembus lembut, menyentuh rambutnya yang tergerai indah. Sinar matahari mulai terasa sedikit bersahabat. Deru ombak dan kicauan burung pun terdengar bagaikan musik yang mengalun lembut menenangkan jiwanya yang sepi.
Ia duduk sendirian di salah satu meja yang langsung menghadap ke pantai. Pandangannya lurus menatap hamparan birunya laut. Suasana pantai cukup sepi, begitu juga dengan kondisi bar. Tampak beberapa orang sedang asyik menikmati pemandangan laut di kursi pantai, sepasang kekasih berjalan-jalan di bibir pantai sambil bergandengan tangan, dan beberapa anak kecil yang tertawa riang menikmati hangatnya air laut menyentuh kaki kecil mereka. Mereka semua tampak bahagia, tetapi tidak dengan Sasha.
Perasaan Sasha tidak tenang saat ini. Ia memikirkan dirinya yang masih sendiri di usia yang sudah kepala tiga. Pernikahan kedua sahabatnya, Desi dan Maira, membuat Sasha semakin menyadari bahwa ia kesepian. Ditambah dengan kehadiran buah hati di tengah keluarga kecil kedua sahabatnya, seakan menegaskan bahwa ia adalah wanita lajang yang merana, menyedihkan, dan hampa. Sasha mengembuskan napas frustrasi sambil mengaduk-aduk air kelapa yang berada di dalam batok kelapa.
“Sendirian?”
Sasha menoleh dan mendapati seorang pria yang sudah duduk di sampingnya tanpa permisi. Ia melemparkan tatapan kesal dan mengerutkan kening, berusaha menunjukkan betapa terusik dirinya.
“Boleh aku duduk di sini?” tanya pria itu santai sambil meletakkan sebuah kamera di meja kayu. Sasha tidak menjawab pertanyaan pria itu.
Aneh. Sudah duduk, baru permisi. Menyebalkan! gerutu Sasha. Ia mencoba tidak peduli dan kembali menatap hamparan laut, namun pria di sebelahnya tampak sibuk dengan kamera. Angin yang bertiup lembut membawa aroma wangi menenangkan yang berasal dari pria itu, memenuhi indra penciuman Sasha.
‘Klik’. Terdengar suara kamera dan Sasha langsung menoleh. Lensa kamera berada tepat di depan wajahnya, membuat Sasha terkejut bukan main.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Sasha kesal sambil menepis lensa kamera itu menjauh dari wajahnya.
“Oh, I’m so sorry. I can’t handle it,” jawab pria itu meminta maaf, “aku selalu seperti ini saat bertemu dengan sebuah objek yang menarik.”
“Objek? Kamu menganggapku benda?” ulang Sasha ketus dengan nada sedikit tinggi.
“Maafkan aku. Wajahmu sangat menarik untuk diabadikan. Apa aku boleh mengambil beberapa fotomu?” tanya pria itu diiringi senyum kecil. Sasha tidak mengerti dengan tata krama pria itu, ia benar-benar tidak menyukainya.
“Kamu sudah duduk tanpa izin terlebih dahulu, sekarang kamu tanya apa boleh memfotoku setelah mengambilnya? Kamu gila atau memang tidak punya sopan santun?” tanya Sasha sinis seraya mengerutkan kening, bingung dengan sikap pria itu.
“Maafkan kelancanganku. Kalau kamu tidak suka, aku akan menghapusnya,” ucap pria itu meminta maaf dengan raut bersalah.
“Hah, sudahlah!” balas Sasha kesal, lalu beranjak dari kursi dan mengambil ponsel yang ia letakkan di meja.
“Kamu mau ke mana?” tanya pria itu cepat.
“Bukan urusanmu!” jawab Sasha ketus sambil melangkah menjauh.
“Setidaknya boleh aku tahu siapa namamu?” tanya pria itu lagi. Sasha segera berbalik dan menatap pria itu dengan tatapan heran. Ia menimbang-nimbang dan berpikir sejenak.
“Sasha,” jawabnya singkat sebelum kembali melangkah.
“Namaku Ted,” ucap pria itu sedikit berteriak, tetapi Sasha tidak peduli dan terus melangkah menjauh. Debur ombak semakin lama terdengar semakin jauh. Sasha berjalan menuju hotel melalui jalan setapak yang diapit oleh barisan bunga indah di kanan dan kiri. Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 16.00.
Ia terpaksa menginap selama dua minggu di Nusa Dua, Bali, hanya untuk mengurus persiapan pernikahan sepupunya yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu minggu depan. Empat hari sudah ia menginap, dan hari-harinya dipenuhi oleh pekerjaan. Lagi dan lagi, ia harus rela mengurus sebuah pernikahan. Bukan karena ia membenci pernikahan dan segala macam pernak-pernik cantiknya, hanya saja ia tidak menyukai sebuah komitmen dan omong kosong tentang cinta sejati yang ada di dalamnya. Pengalaman menyakitkan di masa lalu, membuat Sasha menutup hati pada semua pria yang mencoba singgah dan hadir di dalam hidupnya.
Sejak lulus kuliah, Sasha dan kedua sahabatnya membangun perusahaan Event Organizer bernama ‘Belle Organizer’. Mereka biasa mengurus acara-acara gathering perusahaan, namun entah mengapa akhir-akhir ini, disengaja atau tidak, Maira dan Desi selalu meminta Sasha untuk mengurus acara pernikahan.
Sasha memasuki hotel megah tempatnya menginap dan segera menuju lift yang terletak tak jauh dari pintu masuk. Ia menunggu di depan lift sambil melamun, namun indra penciumannya menghirup aroma yang tidak asing. Dengan cepat Sasha menoleh dan terkejut mendapati Ted berdiri tepat di sampingnya.
“Hai,” sapa Ted sambil tersenyum ramah.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu mengikutiku?” tuduh Sasha sinis, tidak memedulikan beberapa pasang mata yang tampak penasaran dengan pembicaraan mereka.
“Aku menginap di hotel ini,” jawab Ted santai.
“No way!” ucap Sasha tak percaya, “kamu pasti bohong.”
Pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku celana dan menunjukkan sebuah kartu dengan logo hotel padanya.
“I’m not a liar, Sasha,” ucap Ted dengan senyum lembut yang membuat Sasha mendengus kesal.
Pintu lift akhirnya terbuka. Sasha melangkah ke dalam lift, begitu juga dengan Ted. Ia menekan tombol 14, sementara pria itu terfokus pada layar kamera. Entah mengapa lift terasa bergerak sangat lambat saat ini, membuatnya kesal dan tidak sabaran. Ia mencoba menyibukkan diri dengan ponsel dan menyisirkan jemari di rambut.
“Kamu cantik,” celetuk Ted.
Sasha terkejut mendengar pujian itu. Ia menoleh dan menatap Ted yang berdiri sambil menyandarkan tubuh di dinding lift. Tatapan hangat disertai seringai nakal, membuat Sasha semakin tidak menyukai pria itu.
“By the way, namaku Ted. Siapa tahu kamu tidak mendengarnya tadi,” ucap Ted sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Sasha tidak menggubris ucapan itu atau lebih tepatnya ia berusaha menganggap kalau pria itu tidak ada.
“Wajahmu sangat menarik perhatianku,” ucap Ted jujur tanpa rasa malu sedikit pun.
“Bisa diam, kan?” tanya Sasha sinis seraya melempar tatapan kesal.
“Sorry. Aku memang selalu mengatakan apa yang kuinginkan,” ucap Ted santai sambil tersenyum.
“Terserah! Tapi aku sangat terganggu,” kata Sasha tegas.
“Baiklah. Aku akan diam,” sahut Ted patuh.
Akhirnya, pintu lift terbuka. Sasha cepat-cepat keluar berusaha menjauh dari Ted. Ia mempercepat langkahnya agar tiba di depan pintu kamar. Setibanya di depan pintu kamar, Sasha menoleh dan melihat Ted yang ternyata berada hanya beberapa langkah darinya.
“Apa yang kamu lakukan? Sampai kapan kamu mau mengikutiku?” tanya Sasha kesal sambil berkecak pinggang.
“Sorry. Kamarku di sana,” jawab Ted seraya menunjuk pintu yang berada di sebelah pintu kamarnya. Apa? Tidak mungkin kamar kami bersebelahan! batin Sasha kesal.
Ted berjalan santai menuju pintu kamar, melewati Sasha yang menatap curiga hingga akhirnya pria itu menempelkan kartu di gagang pintu dan menghilang di balik pintu. Sambil menggeleng frustrasi, Sasha membuka pintu kamar dan melangkah masuk dengan perasaan kesal, marah, dan tak karuan.
*****
Sasha terbangun dari tidur singkatnya. Awalnya, ia hanya berbaring santai di tempat tidur sambil menonton acara TV yang sangat membosankan, tanpa sadar ia pun tertidur. Sekarang hampir pukul 18.00, dan perutnya mulai bergemuruh.
Sasha beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi. Ia menanggalkan satu per satu pakaiannya, lalu melangkah ke bawah shower. Ia berdiri sejenak di bawah pancuran selama beberapa saat, merasakan hangatnya air membasahi tubuh sambil memikirkan masa depannya.
Saat ini ia berusia 35 tahun, hidup bebas tanpa ikatan, bahkan tidak pernah mengharapkan romantisme sedikit pun. Ia tidak pernah mencoba membuka hati untuk pria. Tidak pernah.
Bagi Sasha, pria hanyalah beban. Seorang pria hanya bisa mengatur dan mengekangnya, membuat ia tidak bisa berkreasi dan terbang bebas seperti seekor burung. Ia pernah berhubungan dekat dengan pria, tentu saja, tapi ia hanya memanfaatkan mereka. Seperti saat pernikahan Desi dan Maira. Sasha membiarkan seorang pria mendekatinya agar ia memiliki pasangan ke pernikahan itu, lalu mendepaknya begitu saja.
Tapi sampai kapan aku seperti ini? Apa aku akan hidup sendiri selamanya tanpa orang yang mencintai dan menjagaku? Apa aku harus mulai membuka hatiku lagi? Apa aku bisa menghilangkan bayangan gelap itu? Atau … Sasha menggeleng lemah, mencoba menghilangkan kenangan kelam yang pernah hadir dalam hidupnya.
Ia pun segera mandi, lalu mengeringkan tubuhnya. Ia mengeluarkan sebuah hot pants biru dongker dan kaos putih polos dari koper. Sasha melepaskan handuk besar yang melilit tubuhnya dan memerhatikan pantulan dirinya yang telanjang di depan cermin panjang.
Kilatan masa lalu yang kelam kembali menghantuinya. Masa lalu bersama seorang pria yang pernah hadir dalam hidupnya ketika ia masih remaja. Pria yang mengenalkan cinta, membuatnya mabuk kepayang, dan menghancurkannya berkeping-keping.
Ia memejamkan mata, mengingat kembali ke masa-masa indah itu. Namun saat mengingat betapa jahat perlakuan pria itu, air mata mulai menetes saat ia membuka mata dan menatap tajam pantulan dirinya.
“Jangan pernah percaya pada pria mana pun! Jangan pernah membuka hatimu pada pria atau kau akan merasakan sakit itu lagi!”
Suara itu berdengung kembali di telinganya. Suara yang sangat ia kenal dan sudah menemaninya selama ini. Dengan sekuat tenaga Sasha menekan agar suara itu menghilang dan berusaha keras mengendalikan dirinya sendiri agar tidak kehilangan kesadarannya. Sasha menyeka air mata dan mengenakan pakaian, lalu memoles riasan ringan di wajah cantiknya.
Sasha membuka pintu dan keluar kamar. Ia menoleh ke arah pintu Ted sebelum beranjak menuju lift dan berharap agar tidak bertemu lagi dengan pria itu. Ia menekan tombol di dinding dan menunggu sampai pintu lift terbuka. Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka dan ia terkejut bukan main melihat Ted berada di dalam lift, tampak asyik bermain ponsel.
“Kamu lagi,” celetuk Sasha malas.
“Selamat sore,” sapa Ted dengan senyum merekah.
“Sore,” jawab Sasha singkat dan sedikit ketus.
“Kamu tidak keluar di sini?” tanya Sasha seraya menekan tombol agar pintu tetap terbuka, berusaha mengusir pria itu secara halus.
“Tidak. Aku mau makan malam di bar,” jelas Ted santai, membuat Sasha menatap curiga.
“Apa kamu sengaja melakukannya?” tuduh Sasha langsung karena ia tidak menyukai kehadiran Ted yang seakan-akan muncul di mana pun ia berada.
“Melakukan apa?” tanya Ted bingung.
“Itu. Mengikutiku dan selalu ada di mana pun aku berada,” jawab Sasha cepat.
“Ah, mungkin kebetulan saja. Lagi pula, aku sudah janjian dengan seseorang di bar,” jelas Ted. Sasha terpaksa menekan tombol agar pintu lift segera tertutup. Ia membuang muka dan berusaha menjaga jarak.
Lift berhenti di dua lantai berbeda dan beberapa orang masuk, membuat Sasha sedikit tenang karena tidak harus berduaan dengan Ted di lift. Pintu lift kembali terbuka saat tiba di lantai dasar. Mereka keluar satu per satu. Sasha memperlambat langkahnya, membiarkan Ted berjalan semakin jauh di depan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Terpampang nama Desi di layar dan ia segera menjawab panggilan itu. Ia berbicara sambil berjalan menuju bar. Sasha berbicara sejenak dengan Calisto yang merindukannya sebelum beralih ke Desi.
Wanita itu selalu mengingatkan Sasha tentang usianya yang terus bertambah dan menasihatinya tentang pernikahan. Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Desi, Sasha melangkah masuk ke bar. Cahaya lampu kuning hangat yang menyinari tempat itu membuat suasana begitu nyaman.
Matanya tertuju pada salah satu meja kosong yang menghadap pantai. Ia segera menuju meja itu dan duduk di sana. Tak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri. Sasha memesan seporsi steak tenderloin dan segelas orange juice. Setelah mencatat, pelayan itu pergi meninggalkannya sendirian.
Angin malam bertiup cukup kencang, membuat rambutnya berantakan. Ia mengeluarkan ikat rambut dari saku, lalu mengikat kuda rambutnya. Ia mulai memerhatikan orang-orang di sekitarnya. Tanpa sengaja, tatapan Sasha tertumpu pada sosok pria yang ia kenal.
Ted sedang berbicara dengan seorang wanita, sementara tangan kanan memegang botol bir. Pria itu menyisir rambut dengan tangan yang lain, tampak sedikit menarik perhatian Sasha.
Sasha memerhatikan Ted. Pria itu bertubuh tinggi dan tegap, tampak atletis dan bugar dengan wajah tampan dan menarik. Dua orang mulai menghampiri Ted dan mereka berbincang-bincang sambil sesekali tertawa ringan. Suara tawa itu terdengar lembut di telinganya. Entah mengapa jantungnya berdebar sedikit lebih cepat saat matanya terus meneliti pria itu. Tiba-tiba, ia melihat lingkaran manja dari belakang di perut pria itu. Ted berbalik dan membalas pelukan itu dengan mesra. Mata Sasha terbelalak melihat kejadian itu dan langsung mengalihkan pandangan kembali ke pantai.
Dasar playboy! Punya pasangan tapi masih berani bilang gue cantik. Cih!! gerutu Sasha kesal. Tak lama kemudian, pesanannya pun datang. Sasha berdoa sejenak sebelum makan, setelah itu ia pun memotong daging steak dan mengunyahnya.
“Sendirian lagi?” Suara Ted yang tiba-tiba membuat Sasha hampir tersedak.
“Kamu itu hantu, ya? Bikin kaget saja!” keluh Sasha kesal sambil mengangkat gelas dan meneguknya.
“Oh, I’m so sorry. Aku tidak bermaksud mengagetkanmu,” jelas Ted saat melihat wajah Sasha yang merona merah karena kesal. Pria itu menarik kursi yang berada tepat di seberang Sasha dan duduk di sana tanpa permisi.
“Aku boleh duduk di sini, kan?” tanya Ted sambil meletakkan botol bir di meja.
“You did it again,” celetuk Sasha sebelum memasukkan sesendok daging ke mulut.
“Did what?” tanya Ted bingung.
“Melakukan sesuatu tanpa permisi dulu,” jawab Sasha ketus.
“He-he-he. Maaf, terkadang aku lebih suka melakukannya. Bagiku itu hanya membuang-buang waktu,” jelas Ted santai.
“Membuang-buang waktu?” tanya Sasha bingung.
“Ya, membuang-buang waktu. Terlalu banyak basa-basi. Aku tahu sebenarnya kamu makan malam sendirian di sini, lalu kenapa aku harus tanya lagi? Bukankah itu hanya membuang-buang waktu?” jawab Ted santai sebelum meneguk bir langsung dari botol.
“Itu namanya sopan santun. Pernah dengar kata-kata itu, kan?” tegur Sasha cepat.
“Ya, aku tahu,” sahut Ted tenang, “tapi tetap saja, wasting time.”
“Hah, terserah!” balas Sasha kesal. Ia mengembuskan napas dan kembali menikmati makan malamnya. Sasha berusaha tidak memedulikan Ted yang terus menatapnya.
Ia melahap makanan dengan cepat, meneguk habis minumannya, lalu memutar sedikit tubuhnya untuk menikmati penampilan band. Lagu yang mereka nyanyikan begitu indah, membuat perasaan Sasha berangsur-angsur menjadi lebih tenang.
“May I ask you something?” tanya Ted ringan saat Sasha sedang asyik menikmati band yang menyanyi di panggung kecil.
“What?” tanya Sasha sambil lalu, tidak menoleh sedikit pun.
“Boleh aku mengenalmu lebih jauh?” tanya Ted tenang. Sasha langsung menoleh dan menatap Ted. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat akibat pertanyaan itu.
“Aku memerhatikanmu beberapa hari ini, dan sepertinya aku menyukaimu,” lanjut Ted yang tidak memedulikan raut terkejut Sasha, “wajahmu selalu menarik perhatianku.”
Mendengar hal itu, Sasha mendengus geli. “Kamu menyukaiku?” tanya Sasha santai.
“Ya,” jawab Ted cepat.
“Belum ada satu jam yang lalu aku melihatmu memeluk seorang wanita, dan sekarang kamu bilang ‘sepertinya’ kamu menyukaiku. Sorry, kurasa kamu salah sasaran,” tolak Sasha dengan senyum sinis.
“Maksudmu?” tanya Ted heran.
“Kamu sedang mencari wanita yang mudah jatuh ke pelukanmu, kan? Cari di luar sana. Kamu tampan, supel, bermulut manis, dan penuh rayuan gombal. Kurasa kamu bisa menemukan wanita seperti itu dalam waktu sekejap,” jelas Sasha sedikit meledek. Ted tampak terkejut mendengar ucapannya, namun ia tidak peduli.
“Kurasa kamu salah mengerti,” sahut Ted datar. Raut pria itu berubah kaku dan tatapannya menunjukkan kekecewaan.
“Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu,” lanjut Ted cepat, “dan wanita tadi … dia bukan kekasihku. Dia sahabatku dari kecil, dan beberapa hari lagi akan menikah dengan pria pilihannya. Jadi, kurasa kamu salah menilaiku.”
Sasha hanya menyunggingkan senyum malas, berusaha menampik rasa bersalah yang menghampiri karena sudah menuduh orang sembarangan. Ted beranjak dari kursi dan mengambil botol bir.
“Oh, by the way, terima kasih karena sudah bilang aku tampan,” ucap Ted sebelum meninggalkannya sendirian. Sasha menarik napas panjang, berusaha mengendalikan segala perasaannya yang bercampur aduk. Masa lalu yang kelam membuat Sasha selalu bersikap dingin pada setiap pria dan terus membentengi diri dari setiap rayuan gombal yang berusaha dilontarkan padanya.
Sasha memerhatikan langkah Ted menuju kerumunan orang yang menerima kedatangan pria itu dengan senyum hangat. Sebagian dari dirinya ingin menghampiri pria itu dan meminta maaf, namun sebagian lagi memaksanya untuk tetap duduk dan tidak peduli. Tak lama kemudian, Sasha memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
*****
BAB 2
Ia terbangun lalu mengambil jam tangan yang diletakkan di meja samping tempat tidur. Sekarang pukul 01.00. Ingin sekali ia kembali meringkuk ke dalam selimut dan melanjutkan tidur, tetapi rasa kantuknya sudah hilang.
Ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kaca besar yang mengarah ke balkon kamar. Ia menggeser pintu kaca dan merasakan angin malam yang langsung menyentuh kulitnya. Pandangannya tertuju ke hamparan laut gelap saat melangkah menuju tiang balkon dan berdiri termenung selama beberapa saat.
Bayangan itu selalu muncul dalam mimpinya setiap kali ia mendapat tugas untuk mengurus suatu pernikahan. Bayangan akan seorang pria yang sudah menghancurkan hidupnya dan membuatnya menjadi wanita yang menolak jatuh cinta. Sasha mengembuskan napas panjang.
“Bebanmu berat sekali.”
Sasha terkejut mendengar suara Ted dari balkon sebelah dan langsung menoleh ke arah pria itu. Dua hari berlalu sejak pertemuan mereka di bar dan semenjak itu Ted tampak seperti menjaga jarak darinya, yang membuatnya merasa semakin bersalah. Meskipun sesekali Ted melemparkan senyum hangat padanya, namun sisi lain dalam dirinya seakan memaksa Sasha untuk tetap bersikap acuh pada pria itu.
“Bukan urusanmu,” jawab Sasha ketus.
“Aku bersedia menjadi tempat untuk berbagi,” bujuk Ted, berusaha bersikap seperti sahabat.
“Aku tidak perlu tempat berbagi,” sahut Sasha tipis, lalu memalingkan pandangan ke laut.
“Baiklah,” balas Ted yang perlahan-lahan bergerak ke sisi lain balkon agar semakin dekat ke sisi balkon Sasha. Ia tidak memedulikan apa yang pria itu lakukan, pandangannya tetap lurus ke depan.
Ia bisa merasakan tatapan menyelidik yang Ted berikan, namun Sasha berusaha untuk tidak berkutik. Ingin rasanya ia menghapus kegundahan dalam dirinya, namun ia tidak tahu bagaimana caranya. Sasha mengembuskan napas panjang beberapa kali sementara pikirannya tertuju pada masa lalu.
“Apa kamu pernah mencintai seseorang?” tanya Sasha tiba-tiba. Datar dan dingin.
“Aku? Ya. Aku pernah mencintai seseorang dan sampai sekarang pun aku masih mencintainya,” jelas Ted sambil bertumpu pada pinggiran balkon.
“Apa kamu pernah merasakan sakit karena orang yang kamu cintai?” tanya Sasha lagi. Tatapannya kosong dan pikirannya melayang entah ke mana.
“Tentu saja,” jawab Ted diiringi embusan napas panjang, “aku masih merasakan sakit itu, tapi aku mencoba untuk bangkit dan kuat.”
Sasha kembali terdiam, pikirannya kembali tertuju ke masa lalunya, dan seketika itu pula rasanya ia ingin menangis. Sasha memejamkan mata, menekan dan mengubur sisi lain yang berusaha mengendalikannya.
“Maaf, aku sudah bertanya yang tidak-tidak,” ucap Sasha sebelum berbalik dan melangkah menuju pintu kaca.
“Tunggu!” panggil Ted cepat. Sasha berhenti melangkah, lalu menoleh. Air mata jatuh begitu saja tanpa isak tangis sedikit pun. Sasha memalingkan wajah dan segera masuk ke kamar, meninggalkan Ted yang tampak kebingungan.
*****
Sasha melakukan pekerjaan seperti biasa selama tiga hari belakangan ini, dan tak terasa hari pernikahan sepupunya sudah semakin dekat. Ia bertemu dengan vendor katering dan pihak dokumentasi yang sudah ia pesan sejak jauh hari. Ia juga tidak lupa membicarakan susunan acara dengan MC dan calon pengantin.
Kemarin, setelah calon pengantin melakukan geladi bersih, Sasha kembali mengumpulkan tim yang ia percaya untuk technical meeting. Ia membacakan kembali rundown acara secara keseluruhan dan meminta agar seluruh tim bisa bekerja sama dengan baik mulai dari awal hingga akhir acara. Di balik kesibukannya, ia masih saja merasa kesepian.
Sasha sesekali melihat Ted saat sarapan ataupun ketika makan malam di bar hotel. Ted selalu menyapa dan sengaja mencari bahan pembicaraan agar bisa makan bersama dengannya. Tetapi Sasha masih berusaha menutup diri meskipun Ted begitu ramah padanya, bahkan setelah ucapan sinis yang ia lontarkan saat makan malam beberapa hari yang lalu.
Pagi ini, Sasha bangun dengan semangat penuh. Ia segera mandi, bergegas mengenakan pakaian, dan langsung keluar kamar. Lift membawanya ke restoran hotel yang berada di lantai dua. Ia ingin sarapan sebelum melakukan aktivitasnya hari ini.
Baru saja ia menikmati setengah sarapannya, Sasha terpaksa menyudahi karena vendor dekorasi tiba lebih awal. Sasha langsung menuju lantai dasar dan menemui kepala vendor. Mereka berbicara sejenak sebelum para pekerja mulai mendekorasi tempat yang sudah ia pesan kepada pihak hotel.
Pernikahan ini menggunakan tema ‘Garden Beach Party’. Sasha memerhatikan para pekerja dan penyusunan tempat bersama beberapa tim yang sudah ia minta sebelumnya untuk datang membantunya pagi ini. Di sela-sela kesibukannya, Sasha tak lupa menghubungi pihak katering dan pengelola hotel untuk pengaturan listrik serta segala kebutuhan yang berhubungan dengan acara pernikahan besok.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa waktu menunjukkan pukul 16.00. Sasha duduk di salah satu kursi pantai, mengecek kembali catatannya sambil menikmati suara debur ombak.
“Hai! Ternyata kamu di sini. Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Ted yang berdiri di samping kursinya. Sasha hanya melirik sekilas sebelum kembali memusatkan perhatiannya ke buku catatan.
“Aku harus mengurus acara pernikahan sepupuku besok,” jawab Sasha cepat, pandangannya masih tertuju ke buku catatan yang ada di pangkuannya.
“Besok? Di mana?” tanya Ted penasaran.
“Di sini, memangnya mau di mana lagi?” jawab Sasha santai tanpa menoleh sedikit pun ke arah Ted yang langsung duduk di kursi pantai tepat di sampingnya.
“Kenapa kamu yang harus mengurus semuanya?” tanya Ted yang duduk menghadap Sasha. Ia menoleh dan menatap sinis Ted yang malah tersenyum layaknya anak kecil yang menggemaskan.
“Apa kamu akan berhenti menggangguku jika aku menjawab pertanyaanmu itu? Aku benar-benar butuh konsentrasi sekarang,” tanya Sasha ketus.
“Yes, Mam,” jawab Ted singkat sambil menyeringai.
Sasha menutup buku catatannya dengan kesal sebelum berbalik menghadap Ted. Wajah pria itu benar-benar tampan, membuat konsentrasi Sasha semakin buyar. Jantung Sasha pun berdebar sedikit lebih cepat, tetapi ia berusaha untuk tidak terlalu menggubris rasa aneh yang menyerangnya saat ini. Ia butuh konsentrasi penuh untuk menyelesaikan pekerjaannya.
“Aku mendirikan perusahaan Event Organizer bersama kedua sahabatku. Kami biasa mengurus hal-hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan sebuah acara. Saat ini sepupuku menyewa jasa kami untuk mengurus pernikahannya yang akan diadakan besok selama seharian di sini,” jelas Sasha cepat.
“Kamu bisa melihat altar yang sudah berdiri kokoh di sana?” tanya Sasha sambil menunjuk ke altar yang sudah tersedia. Ted menoleh, mengikuti arah tangannya.
“Semua itu aku yang persiapkan. Sekarang aku sedang memeriksa detail-detail terakhir agar semuanya bisa berjalan sesuai rencana dan sempurna,” lanjut Sasha cepat.
Ted mendengar penjelasannya dengan serius. Bola mata biru gelap itu menatapnya dalam-dalam, membuatnya gugup. Sasha segera membuka buku catatannya dan berusaha keras untuk berkonsentrasi.
“Kamu orang yang sangat perfeksionis, ya?” tanya Ted yang lebih menyerupai pernyataan.
“Terserah bagaimana penilaianmu,” sahut Sasha cepat tanpa menoleh sedikit pun, “sekarang, jangan ganggu aku dulu. Aku harus memastikan semua sudah terkoordinasi.”
“Baiklah,” sahut Ted cepat sebelum bersandar santai di kursi pantai. Sasha kembali berkutat dengan buku catatannya dan sesekali melirik ke arah Ted yang tampak asyik bermain dengan ponsel.
Matahari semakin lama semakin tenggelam di balik hamparan lautan. Warna senja itu menarik perhatian Sasha. Ia menutup buku catatan dan meletakkannya di atas perut, lalu merebahkan dirinya di kursi pantai, menikmati sunset yang sangat indah.
“Kamu sudah selesai?” tanya Ted saat melihat Sasha yang tampak rileks.
“Sudah,” jawab Sasha singkat.
“Mau makan malam denganku?” tanya Ted dengan senyum mengembang.
“Apa kamu selalu mengajak wanita yang tidak kamu kenal?” tanya Sasha sambil lalu, matanya tetap tertuju pada matahari yang perlahan-lahan menghilang di balik lautan biru itu.
“Aku mengenalmu. Namamu Sasha, seorang wanita yang selalu menyendiri dan bersikap dingin setiap kali aku dekati. Kamu seorang wanita mandiri yang memiliki usaha bersama kedua sahabatmu dan sekarang sedang mempersiapkan acara pernikahan sepupumu. Apakah aku benar atau salah?” tanya Ted santai diiringi senyum hangat.
“Kamu hanya mengenalku sebatas itu. Dan semoga hanya sebatas itu, karena aku tidak suka menjalin hubungan dengan laki-laki,” ucap Sasha agak sinis.
“Kamu penyuka sesama jenis?” tanya Ted langsung.
“Ha-ha-ha. Bukan, aku masih normal. Tapi sekarang aku sedang tidak ingin menjalin hubungan atau apa pun itu yang berbau romantisme,” jelas Sasha, tertawa ringan.
“Hufff … syukurlah. Setidaknya aku masih punya kesempatan,” celetuk Ted mencoba menggodanya, tetapi Sasha hanya menggeleng pasrah dan memutar bola mata.
“Ted memang pria yang tampan dan menyenangkan. Tapi seperti biasa, pria seperti itu akan pergi begitu saja setelah tahu tentang masa lalumu. Pria seperti Ted hanya akan mencari wanita yang suci, bukan seperti kamu. Kamu kotor!”
Suara itu seakan menjaga dan menguatkannya agar tidak tenggelam dalam kata-kata manis Ted. Sasha mencoba menekan rasa sakit itu. Ia tidak ingin seorang pun mengetahui masa lalunya, bahkan kedua sahabatnya sama sekali tidak tahu seperti apa dirinya yang dulu. Dirinya yang kotor dan rusak.
“Yeah, terserah,” ucap Sasha sambil beranjak dari kursi, “tawaranmu masih berlaku, kan? Kalau tidak, aku akan makan malam sendiri.”
“Tentu saja masih,” jawab Ted senang. Mereka berjalan bersama menuju hotel dan berbincang kecil selama perjalanan.
*****
Suara debur ombak menemani Sasha dan Ted saat makan malam. Kehadiran Ted setidaknya bisa menghapus kesepiannya. Ted adalah pria yang menyenangkan. Setiap kali Sasha bercerita, Ted selalu mendengarkan dan memberikan tatapan hangat yang membuatnya santai. Entah mengapa Sasha merasa nyaman akan kehadiran Ted, bahkan bisa tertawa lepas saat Ted melontarkan gurauan yang begitu menggelikan. Malam semakin larut dan angin pantai pun bertiup sedikit kencang.
“Bagaimana dengan makananmu? Enak?” tanya Ted saat Sasha meneguk habis minuman dalam gelasnya.
“Ya. Bagaimana denganmu?” tanya Sasha ringan.
“Enak sekali. Aku sangat menikmati saat ini karena bisa makan malam denganmu,” jawab Ted sebelum meneguk minumannya. Sasha tersenyum ringan. Tampaknya Ted tahu bagaimana cara menyenangkan hati seorang wanita.
“Sudah jam sembilan,” ucap Sasha santai setelah melihat jam tangan.
“Baiklah. Bagaimana kalau kita kembali ke kamar dan beristirahat?” ucap Ted sambil memasukkan ponsel ke saku celana.
“Ide yang bagus,” ucap Sasha sambil beranjak dari kursinya.
Mereka berdua pergi dari tempat itu dan berjalan santai menuju pintu masuk hotel. Ted menekan tombol lift dan menunggu sejenak sampai pintu lift terbuka. Mereka melangkah masuk dan pintu lift kembali bergerak menutup. Ted menekan tombol lantai 14 dan melirik ke arah Sasha. Tanpa sengaja Sasha melirik dan pandangan mereka saling bertemu.
Wajah Sasha merona, jantungnya berdebar cepat. Senyum kecil tersungging di wajah Ted yang perlahan-lahan mencoba bergerak mendekat. Sasha tidak bergerak ataupun berusaha menjauh. Ted melingkarkan tangan di pinggang Sasha yang membuat tubuhnya menegang.
Ted memutar tubuh Sasha dan menengadahkan wajahnya. Perlahan namun pasti, pria itu mulai mendekat, mendaratkan sebuah ciuman yang lembut dan hangat. Ciuman singkat yang membuat tubuh Sasha kaku bak patung.
Ted menjauhkan bibir sedikit, lalu mengecup bibir Sasha beberapa kali, seakan meminta Sasha untuk melunak. Sasha mencoba mempertahankan benteng pertahanannya, tetapi bibir indah dan hangat itu membuat jantung Sasha berdebar semakin cepat. Perlahan namun pasti, Sasha membuka bibirnya sedikit dan tanpa menunggu lama, Ted kembali menciumnya lebih dalam.
Baru saja ia ingin menikmati ciuman hangat itu, tiba-tiba ponsel Ted berbunyi. Sebagian dari dirinya merasa kesal, karena siapa pun yang saat ini menghubungi Ted telah merusak kesenangannya. Namun di sisi lain, ia merasa lega.
Sasha tidak tahu apakah ia bisa mengendalikan sisi lain dari dirinya jika ia membiarkan Ted terus mencumbunya. Sisi lain yang lebih gila, lebih kejam, dan lebih liar. Ted melepaskan ciuman itu dengan terpaksa.
Napas mereka terengah-engah karena menahan gairah yang terasa kental saat ini. Dengan berat hati, Ted mengeluarkan ponsel dari saku dan raut pria itu berubah seketika saat melihat layar ponsel.
“Halo,” jawab Ted kaku. Pria itu terdiam sejenak mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh seseorang di seberang sana.
“Baiklah … aku akan ke sana sekarang,” jawab pria itu lagi dengan raut wajah tegang. Ted memasukkan ponsel ke saku dan menekan tombol lift ke lantai 12. Sasha memerhatikan tubuh Ted yang kaku bak patung.
“Maafkan aku … aku terlalu lancang menciummu seperti itu. Jangan … jangan marah padaku. Aku harus menemui seseorang,” ucap Ted tanpa melirik sedikit pun padanya. Sasha bingung dan bertanya-tanya siapa yang baru saja menghubungi pria itu.
“Tidak masalah. Aku sudah terbiasa,” ucap Sasha sedikit ketus, berusaha bersikap acuh sambil melangkah sedikit menjauh dari Ted.
“Kenapa kamu menjauh?” tanya Ted menyadari pergerakan Sasha.
“Tidak apa-apa. A-aku hanya—” Ted langsung menarik Sasha dan memeluknya erat. Pelukan hangat dan nyaman yang mampu meredam rasa kesalnya.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu,” ucap Ted sambil terus memeluk Sasha. Sasha hanya diam, berusaha untuk tetap tenang meskipun ia bisa merasakan jantungnya berderu bak genderang perang.
“Aku benar-benar harus menemui seseorang. Aku harap kamu bisa mengerti,” jelas Ted lembut. Sasha mengangguk sekali, namun tetap diam seribu bahasa. Ted mulai melepaskan pelukan itu, namun Sasha tetap berdiri tegap. Pintu lift pun terbuka dan Ted segera melangkah menjauh darinya.
“Maafkan aku,” ucap Ted saat sudah berada di luar lift. Sasha hanya menatap tajam Ted dan tidak bergerak sedikit pun. Pintu lift perlahan-lahan tertutup dan pria itu menghilang di balik pintu.
Tubuh Sasha menegang. Air matanya menetes begitu saja, tapi ia tidak menangis. Tak ada sedikit pun suara tangisan, hanya tatapan tajam penuh amarah yang tertuju pada pantulan dirinya di pintu lift.
“Kau bodoh!”makinya tipis dengan wajah memerah menahan luapan amarah.
“Kau memang pantas menerimanya! Semua yang menimpamu memang pantas kau terima karena kau murahan!” makinya lagi seraya mengusap air mata dengan kasar. Pintu lift mulai terbuka. Dengan langkah tegas dan kepalan penuh amarah, ia melangkah menuju pintu kamar.
“Kau harus menerima hukuman! Harus!” makinya geram seraya membuka pintu dengan penuh amarah.
*****
BAB 3
“Ada apa ini?” tanya Ted kaget melihat kamar hotel yang berantakan.
“Aku tidak bisa, Ted. Aku tidak bisa menikah dengannya,” ucap wanita itu sambil menangis kencang di pinggir tempat tidur.
“Kamu sudah memutuskannya, Na. Kamu tidak bisa mundur sekarang,” jelas Ted berusaha tenang sambil melangkah mendekat.
“Tapi bagaimana denganmu?” tanya Na sedih. Ted duduk di samping Na yang menatapnya dengan tatapan ragu bercampur sedih.
“Kenapa denganku? Aku baik-baik saja, kamu tahu itu. Aku baik-baik saja,” ucap Ted lembut sebelum memeluk Na erat.
“Aku baik-baik saja, Na. Kamu tidak perlu khawatir,” ulang Ted seraya mengusap punggung Na, mencoba menenangkan. Tetapi tangisan Na semakin kuat, membuat perasaan Ted sangat terluka.
“Kamu mencintaiku. Dan … sepertinya aku membodohi diriku selama ini, Ted. Aku … aku juga mencintaimu. Aku tidak bisa menikah dengan Rico. Ini semua salahku!” jelas Na kesal dan geram pada dirinya sendiri.
Ted terdiam mendengar ucapan Na. Ia tidak tahu apa yang Na pikirkan, namun ungkapan perasaan itu malah membuat Ted semakin terluka. Ia mencintai Na sejak lama. Na adalah cinta pertamanya. Ia pernah memberanikan diri mengungkapkan perasaannya beberapa tahun lalu, tetapi Na menolaknya karena hanya menganggapnya sebagai seorang kakak.
Perasaannya hancur saat itu, tetapi tidak sehancur saat ia mendengar bahwa Na menerima lamaran Rico. Beberapa kali ia masih mencoba melamar Na. Bahkan bulan lalu saat Na mengantarkan undangan padanya, Ted mencoba peruntungannya sekali lagi, tetapi tetap saja Na lebih memilih Rico. Ted tidak mengerti apa yang membuat Na lebih memilih Rico, padahal ia dan Rico sama-sama memiliki kekayaan yang melimpah. Ted juga merasa bahwa rasa cintanya pada Na lebih besar daripada Rico.
Perlahan-lahan, ia berusaha menerima dan mencoba merelakan Na. Namun saat ini, saat di mana ia mulai bisa mengubur perasaan itu, Na malah mengungkapkan perasaan padanya. Kenapa baru sekarang? batin Ted bingung.
“Aku mencintaimu, Ted. Aku tidak bisa hidup tanpamu,” ungkap Na lirih. Ted hanya terdiam sementara pikirannya melayang entah ke mana.
“Ted,” rengek Na seperti seorang anak kecil yang manja, “aku mencintaimu. Kamu dengar? Aku mencintaimu dan tidak mau menikah dengan Rico.”
Ted melepaskan pelukannya dan menatap Na dalam-dalam.
“Mengapa kamu baru mengatakannya sekarang, Na?” tanya Ted sedikit tegas sambil terus mengunci mata Na yang berlinangan air mata.
“Aku tidak bisa hidup tanpamu, Ted. Aku takut … hanya kamu yang bisa mengerti aku. A-aku mencintaimu. Aku tidak ingin kamu pergi dari hidupku,” jelas Na sedikit gelagapan. Ted beranjak dari tempat tidur dan menatap Na yang bingung melihat reaksinya
“Ted,” panggil Na pelan.
“Kamu tidak mencintaiku, Na. Kamu mencintai Rico,” ucap Ted tegas.
“Tapi aku benar-benar mencintaimu, Ted,” jelas Na dengan nada memohon. Ted menggeleng, mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri. Namun, saat aku mulai bisa merelakanmu, kamu malah berniat menarikku kembali. Aku tidak ingin merasakan sakit itu lagi, Na. Aku sudah cukup terpuruk akan penolakanmu dan sekarang aku sadar bahwa mencintai bukan harus memiliki. Aku memang mencintaimu, tapi aku sudah merelakanmu.
“Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini, Na. Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya takut kehilanganku. Takut kehilangan perhatian dan cintaku. Aku mengerti itu, Na, tapi percayalah kalau kamu tidak akan kehilangan diriku. Aku akan tetap hadir dalam hidupmu, memerhatikan dan menyayangimu seperti dulu.
“Kamu bisa menemuiku kapan pun kamu membutuhkanku dan aku akan selalu ada untukmu. Jadi, berhentilah berpikir untuk mundur dari pernikahan ini, karena aku tahu betapa besar cintamu pada Rico. Menikahlah dengannya, Na. Aku sudah merelakanmu,” jelas Ted tenang dan mengakhiri penjelasannya dengan senyuman.
Ia tidak tahu mengapa bisa merasa lega setelah mengungkapkan perasaannya, seakan-akan sebuah beban berat baru diangkat darinya. Ia memerhatikan wajah terkejut Na yang perlahan-lahan berubah menjadi senyuman kecil. Wajah itu kembali bersinar, begitu cantik dan memesona. Wajah yang begitu ia cintai dan sayangi. Na beranjak dari tempat tidur dan memeluknya erat.
“Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi seseorang yang selalu bisa aku andalkan. Aku mencintaimu, Ted,” ucap Na pelan.
“Aku juga mencintaimu, Na,” balas Ted tenang. Mereka berpelukan sesaat sebelum akhirnya Na melepaskan pelukan dan tersenyum lembut.
“Kamar ini seperti kapal pecah,” celetuk Ted santai.
“He-he-he, maafkan aku. Mau membantuku membereskannya?” tanya Na dengan seringai manja.
*****
Sasha tidak bisa tidur. Mimpi buruk akan kejadian di masa lalu membuatnya terbangun dengan napas terengah-engah. Ia masuk ke kamar mandi, membasuh wajah dan menatap ruam merah di pipinya dari cermin. Tamparan itu sangat kuat, ia tahu itu. Sisi lainnya tidak pernah main-main jika menghukum dirinya.
Setiap kali ia mulai lemah karena pesona pria, sisi lainnya seakan menolak dan menghukumnya. Ia menyadari semua itu karena setiap kali ia terbangun dengan lebam di wajah atau tangan, berarti sisi lainnya berusaha menyiksa dan menyadarkannya dari kebodohan yang ia lakukan. Setidaknya Sasha bersyukur karena dengan begitu ia bisa terus membentengi dirinya dari pria agar tidak terjatuh lagi ke dalam lubang yang sama.
Selama ini, kedua sahabatnya selalu menganggapnya sebagai wanita penakluk yang mampu menghancurkan harapan pria dalam sekejap. Tetapi semua itu ia lakukan demi menjaga dirinya. Ia tidak ingin merasakan luka yang sama. Ia tidak ingin jatuh cinta lagi.
Sasha selalu berusaha menutup diri dan menunjukkan bahwa tak ada seorang pun yang mampu menaklukkannya. Tetapi kejadian di lift membuat pertahanannya runtuh seketika. Kehangatan dan kelembutan bibir Ted membuat Sasha meleleh bagaikan bongkahan batu es yang terpapar panas sinar matahari.
Pesona Ted seakan-akan menariknya kembali ke sosok Sasha yang dulu dan berusaha meruntuhkan tembok besar yang selama ini ia bangun untuk membentengi dirinya dari kehangatan dan perhatian seorang pria. Sasha mengelus pipinya yang memerah, sementara tatapan tajam itu menguncinya.
“Kau tidak boleh melakukan hal itu lagi! Kau ingat itu! Kau lemah, dan hanya aku yang bisa membuatmu kuat. Jangan melawanku atau kau akan menerima sesuatu yang mungkin akan kau sesali. Ingat itu!”
Sasha memejamkan mata sejenak, berusaha mengendalikan dirinya. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Setelah cukup tenang, ia keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur. Cukup lama ia berbaring, tetapi ia tidak merasakan kantuk sedikit pun. Ia pejamkan mata, mencoba untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Beberapa saat kemudian, ia pun tertidur.
*****
Alarm di ponselnya mulai berbunyi. Mata Sasha terasa begitu berat, ingin sekali ia mematikan alarm dan menarik selimutnya. Tetapi ini adalah hari pernikahan sepupunya. Dengan terpaksa, ia bangkit, duduk bersandar di tempat tidur, lalu mematikan alarm. Kepalanya terasa pening karena ia hanya tidur selama beberapa jam setelah terbangun semalam. Ia turun dari tempat tidur, melangkah menuju kamar mandi dengan langkah malas, dan mandi dengan cepat.
Setelah mengeringkan tubuh dan berpakaian, Sasha mulai merias wajahnya. Ia memerhatikan penampilannya yang mengenakan kemeja lengan panjang biru langit dengan rok hitam dan sepatu heels berwarna senada. Ia membiarkan rambut panjangnya tergerai dan menyemprotkan parfum sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar, lalu melangkah menuju lift.
Pintu lift segera terbuka dan ia pun masuk lalu menekan tombol 12. Pintu lift kembali terbuka saat tiba di lantai yang ia tuju. Sasha langsung menuju pintu kamar sepupunya dan menekan bel. Pintu terbuka, seorang wanita mempersilakannya masuk. Sasha memerhatikan beberapa orang yang sibuk melakukan tugas masing-masing.
“Morning, Rico. Are you ready?” tanya Sasha santai.
“I am,” jawab Rico cepat. Pria itu berdiri tegap di depan cermin, terlihat tampan dan sempurna. Rico adalah pria yang mapan, kaya, dan cukup terpandang. Wanita yang mampu menaklukkan hati Rico adalah orang yang beruntung.
“Baiklah. Apa kalian sudah selesai dengan Rico?” tanya Sasha pada dua orang yang sedang sibuk membereskan peralatan make up.
“Sudah, Mbak Sasha,” sahut wanita itu cepat.
“Baiklah. Kalian bisa meninggalkan kami berdua dan lanjut ke kamar yang lain,” perintah Sasha, “usahakan semua cepat dan tepat waktu sesuai dengan yang saya jadwalkan. Jangan sampai ada yang terlewatkan sedikit pun.”
Kedua wanita itu mengangguk sebelum melangkah menuju pintu kamar. “Sasha,” panggil Rico lembut, “terima kasih, ya. Kamu sudah mau membantuku mengurus semuanya.”
“It’s my job. Kau membayarku dan aku akan melakukan yang terbaik,” balas Sasha sambil tersenyum. Tatapannya kembali ke arah buku catatan, mengecek dan memastikan semua sesuai keinginannya.
“Apa kau membawa pasanganmu ke sini?” tanya Rico sambil lalu.
“Itu bukanlah prioritas utamaku,” sahut Sasha singkat.
“Kuharap kau bisa menemukan cinta sejatimu di sini,” ucap Rico tulus.
“Thank you,” jawab Sasha santai.
“Aku akan ke bawah untuk memastikan semuanya,” kata Sasha sambil berjalan keluar dari ruangan itu, “kau jaga staminamu. Ini adalah hari yang panjang dan melelahkan. Sampai ketemu nanti jam tujuh.”
Sasha pun beranjak pergi dari ruangan itu menuju pintu lift. Ia melihat Ted yang berdiri membelakanginya. Sasha berusaha tenang dan berdiri di samping pria itu sampai pintu lift terbuka. Ted melangkah ke dalam lift tanpa sepatah kata pun, tampak kusut dan lelah. Ingin rasanya ia menunggu hingga lift berikutnya, tetapi ia harus menemui para vendor yang sudah tiba di bawah.
Akhirnya, ia terpaksa masuk lift. Sebagian dari dirinya ingin menyapa pria itu, namun sebagiannya lagi berusaha keras untuk tetap diam. Sasha memutuskan untuk diam dan berusaha untuk tidak mengingat kembali betapa lembut bibir itu saat menciumnya.
Pintu lift terbuka saat tiba di lantai dasar dan Sasha segera keluar dari lift. Ia menoleh setelah beberapa langkah dan melihat Ted yang sama sekali tidak bergerak ataupun melihat ke arahnya. Pintu lift menutup otomatis membawa Ted menghilang dari pandangannya. Ia berusaha tidak memedulikan hal itu dan mencoba kembali fokus pada pekerjaannya.
*****
Kedua pengantin berjalan santai di tengah-tengah tamu yang sedang asyik menikmati hidangan makan siang. Prosesi janji setia yang berlangsung selama dua jam tadi pagi, yang dilaksanakan di sebuah ruangan ballroom hotel, akhirnya berjalan lancar. Rico meminta agar resepsi diadakan satu hari penuh, dan Sasha mengabulkan permintaan itu.
Sasha berdiri di salah satu pojok yang berada tak jauh dari meja prasmanan sambil memerhatikan jalannya acara serta kesigapan para vendor terutama katering, musik, dan dokumentasi. Semua orang tampak bahagia. Sasha memerhatikan pandangan Rico yang menatap si pengantin wanita dengan tatapan terpesona dan penuh cinta. Ia bisa merasakan aura kebahagiaan yang terasa kental di acara itu. Sasha senang sekali karena resepsi pertama berjalan lancar, sukses, dan sempurna.
Tanpa sengaja, pandangan Sasha tertuju pada sosok pria yang ia kenal. Ted. Pria itu berdiri tak jauh darinya, terlihat rapi dengan balutan tuksedo yang melekat sempurna di tubuh atletis itu. Namun, raut Ted tampak murung seakan-akan ada sesuatu yang mengganjal di hati.
Ingin sekali ia menghampiri Ted, tetapi sisi lain dirinya memaksa untuk tetap menjauh. Ted menatap ke pelaminan, tampak kosong dan hampa, tidak seperti Ted yang ia kenal. Sasha memalingkan pandangan dari Ted ke arah barisan meja prasmanan dan memastikan setiap tamu tidak kekurangan makanan. Setelah itu, ia menghampiri kedua pengantin yang baru saja duduk di pelaminan dan berbincang sejenak mengenai urutan acara berikutnya.
Rico berterima kasih padanya, begitu juga dengan si pengantin wanita. Sasha kembali ke tempatnya dan mengamati jalannya acara yang berlangsung hingga pukul 15.00. Tamu undangan satu per satu mulai kembali ke kamar mereka masing-masing, begitu juga dengan pasangan pengantin.
Para vendor dan pihak hotel mulai bekerja sama merapikan tempat itu sebelum didekorasi ulang untuk kegiatan makan malam. Sasha berjalan menuju salah satu kursi pantai, berniat mengistirahatkan kakinya sejenak. Cahaya matahari sudah tidak terlalu menyengat, saat yang tepat untuk merebahkan diri dan bersantai sejenak sebelum kembali melakukan pekerjaannya.
Sasha meletakkan buku catatan serta ponsel di meja kecil yang ada di samping kursi pantai. Ia merebahkan tubuhnya dan mulai menikmati debur ombak yang menenangkan. Baru saja ia ingin memejamkan mata, indra penciumannya menghirup aroma yang ia kenal.
“Lelah?” tanya Ted yang tiba-tiba muncul di belakang kursinya.
“Selalu muncul tiba-tiba,” gerutu Sasha sambil menengadahkan wajah untuk melihat Ted. Pria itu melangkah ke kursi yang kosong dengan raut datar tak terbaca.
“Apakah—“
“Silakan duduk,” jawab Sasha sebelum pria itu selesai berbicara. Ted tersenyum kecil, lalu duduk di kursi yang kosong. Sasha tidak berbicara sedikit pun, hanya memandangi keindahan laut.
Ia sangat menyukai suara debur ombak dan kicauan burung di langit yang membuat perasaannya damai dan tenang. Membuatnya lupa akan segala kepenatan dan beban pekerjaannya. Ted terlihat lebih pendiam dari sebelumnya. Pandangan pria itu menatap lurus ke depan seperti menyimpan sebuah beban yang cukup berat.
“Sha,” panggil Ted lembut.
“Hmmm,” gumam Sasha.
“Pernah merasa lelah dengan kehidupanmu?” tanya Ted datar, tatapan lurus ke depan.
“Pernah merasa kalau apa yang kamu lakukan ternyata sia-sia?” tanya Ted lagi. Sasha menoleh, memerhatikan Ted yang murung.
“Are you OK?” tanya Sasha khawatir. Ted mengangguk pelan. Sasha tidak percaya, tentu saja, namun ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut karena mereka tidak memiliki hubungan lebih. Ya, mereka memang sudah pernah berciuman, tapi bukan berarti Sasha berhak ikut campur masalah Ted. Ponselnya berdering dan ia segera menjawab panggilan tersebut.
“Halo,” jawabnya, “baiklah, saya akan ke sana sekarang.”
“Aku pergi dulu, ya. Aku harus kembali ke pekerjaanku sebentar,” ucap Sasha bersikap sopan, “kalau kamu masih di sini, kita bisa melanjutkan pembicaraan tadi. OK.”
Ted hanya mengangguk dan ia pun bergegas menuju lokasi resepsi. Setelah beberapa langkah, Sasha menoleh ke belakang dan memerhatikan Ted yang masih berbaring di kursi pantai.
*****
BAB 4
It is done. Na sudah menikah dan menjadi milik Rico. Ini jalan terbaik untuk semuanya, batin Ted sambil memandangi hamparan laut. Sejak pertama kali Na memperkenalkan Rico kepadanya, ia sadar kalau ia tidak akan pernah memiliki Na. Wanita itu jatuh cinta dan tergila-gila pada Rico, bahkan terlihat sangat bersemangat setiap kali bercerita tentang pria itu.
Terluka? Tentu saja. Ia dan Na tumbuh besar bersama, bahkan orangtua mereka berniat menjodohkan, tetapi Ted menolak. Meskipun ia memiliki perasaan pada Na, ia tidak ingin Na menikah karena terpaksa. Ted percaya bahwa kedekatan yang mereka miliki sejak kecil bisa menumbuhkan rasa cinta itu sendiri. Namun, saat Na memberi tahu tentang perasaannya pada Rico, saat itu pula harapan Ted hancur berkeping-keping.
Dan semalam, saat Na menyatakan cinta kepadanya, ia tersadar. Na memang sangat membutuhkannya dan tidak dapat jauh darinya, tetapi bukan sebagai pasangan, melainkan sebagai saudara. Hari ini, ketika ia melihat Na berdampingan dengan Rico di pelaminan, ia merasa bahagia meskipun tak mampu menepis rasa sakit karena harus melepaskan wanita yang ia cintai. Na sudah bahagia dan itulah yang terpenting.
“Kukira kamu sudah pergi.”
Suara Sasha yang ringan membuatnya menoleh cepat. Sejujurnya, ia tertarik pada Sasha. Selama menginap di sini, pandangannya tak pernah lepas dari wanita itu dan entah mengapa ia senang berada di dekat Sasha. Kehadiran Sasha seakan-akan membangkitkan semangatnya yang sudah lama hilang.
“Aku menunggumu. Kamu tahu itu, kan?” sahut Ted tenang.
“Nope,” jawab Sasha cepat, duduk di kursi pantai yang kosong.
“Lalu, kenapa kamu ke sini?” tanya Ted penasaran.
“Just curious,” jawab Sasha santai. Rambut hitam pekat itu terlihat bersinar di bawah sinar matahari yang mulai meredup.
“Padaku?” tanya Ted iseng.
“Bukan, tapi sama pertanyaanmu tadi,” jawab Sasha tenang sebelum merebahkan tubuh dan menatap hamparan laut. Sasha benar-benar menarik, membuatnya gemas ingin merasakan bibir indah itu lagi. Jantungnya berdebar cepat ketika mengingat ciuman mereka di lift. Ia tahu kalau mereka baru mengenal selama beberapa hari, namun Sasha terasa begitu tepat dalam pelukannya.
Ted memerhatikan wajah Sasha yang cantik dengan mata hitam pekat, bibir indah merekah, serta hidung mancung yang menggemaskan. Ia yakin Sasha mampu menaklukkan pria dalam sekejap. Tetapi saat mengetahui kalau Sasha tidak ingin menjalin hubungan romantis dengan pria, ia pun jadi penasaran.
Ia merasa ada rahasia besar yang berusaha Sasha tutupi, terutama saat wanita itu berdiri di balkon dengan raut wajah aneh. Tampak seperti bukan Sasha yang ia kenal.
“Sudahlah, tidak perlu bahas lagi,” kata Ted datar, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Great! Kalau begitu, aku punya waktu lebih untuk istirahat dan menikmati sunset. Hari ini cukup melelahkan. Kakiku rasanya mau copot,” keluh Sasha sambil mengembuskan napas panjang tanpa menoleh sedikit pun padanya.
Matanya mulai memerhatikan setiap jengkal tubuh Sasha. Ingin sekali ia berpaling, tapi tidak bisa. Tubuh itu begitu sempurna, tidak kurus bagaikan tengkorak hidup dan juga tidak terlalu gemuk dengan payudara yang tidak terlalu besar. Kulit putih mulus yang sedikit menggelap karena sinar matahari pun tak menghilangkan aura cantik yang terpancar jelas.
“Stop looking at me like that!” tegur Sasha tiba-tiba dengan pandangan lurus ke depan, membuat Ted tersentak kaget.
“Like what?” jawab Ted salah tingkah. Sasha menyunggingkan senyum tipis, lalu menoleh menatap Ted.
“Sudahlah. Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Ted. Aku terbiasa dengan tatapan itu,” jelas Sasha santai.
“Tapi kamu benar-benar cantik,” puji Ted membela diri sebelum mengalihkan pandangan ke lautan.
“I don’t care,” balas Sasha cuek. Ted kagum dengan jawaban itu. Sasha berbeda dari wanita-wanita yang pernah ia kenal, membuat Ted semakin penasaran.
Matahari perlahan-lahan mulai terbenam. Cahaya lampu-lampu kuning hangat membuat suasana sore itu semakin indah. Ted menutup mata dan entah mengapa wajah Na kembali muncul. Ia segera membuka mata dan memutuskan bangkit dari kursi, lalu mengulurkan tangan ke Sasha.
“Mau makan malam denganku?” ajak Ted tersenyum lembut, mencoba menyembunyikan perasaannya yang hancur.
“Aku tidak bisa, sorry. Tugasku belum selesai, masih ada makan malam pengantin yang harus aku awasi dan … acara itu akan berlangsung dua jam dari sekarang,” jelas Sasha sambil melihat ke jam tangan.
“May I help you?” tanya Ted lagi. Sasha mengangkat salah satu alis mata, tampak curiga padanya.
“OK. Tapi kamu harus menuruti semua perintahku,” jawab Sasha dengan gaya meerintah yang menggemaskan.
“Baik, Tuan putri,” sahut Ted patuh. Sasha tersenyum tipis mendengar jawabannya. Banyak hal yang ia sukai dari Sasha, termasuk senyuman itu.
“Lebih baik kita ganti pakaian dan bersiap-siap untuk kegiatan selanjutnya,” perintah Sasha seraya beranjak dari kursi. Mereka pun berjalan berdampingan menuju hotel.
*****
Sasha berdiri di tengah puluhan kursi dan meja bundar yang sudah tersusun rapi. Meja dan kursi pengantin yang ada di atas panggung kecil tampak menawan dan indah. Ia bersyukur pihak hotel dan vendor bisa bekerja sama dengan baik demi kelancaran acara hari ini.
Pandangan Sasha tertuju pada lampu-lampu hias di sekitar lokasi, sangat indah dan sempurna. Band yang bertugas sedang bersiap-siap di sisi lain panggung. Sasha juga bersyukur dengan kehadiran Ted yang sangat membantu, bahkan memberikan beberapa masukan yang tidak sempat terpikirkan olehnya.
Pandangannya tertuju pada Ted yang asyik berbicara dengan salah satu pemain musik. Pria itu terlihat tampan di balik kemeja biru dan celana bahan hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. Rambut yang tersisir rapi serta wajah bersih membuat Ted terlihat segar dan menarik.
Tak sengaja tatapan mereka saling bertemu. Ted melayangkan senyuman, tetapi ia tidak membalasnya. Ia berusaha menjaga agar semua berada dalam batas aman. Ia tidak berharap kejadian di lift terulang kembali.
Sasha membuka buku catatan, mengalihkan pandangannya dari Ted, lalu berbalik dan melangkah menuju meja prasmanan. Semua makanan sudah tersaji. Beberapa tamu mulai berdatangan dan waktu semakin dekat dengan acara makan malam. Setelah memastikan semua siap, Sasha segera menghampiri Ted.
“Aku akan ke kamar pengantin. Tolong awasi tempat ini, ya,” pinta Sasha pada Ted.
“Baik, Tuan putri,” sahut Ted patuh.
“And, stop calling me that,” tegur Sasha sebelum berbalik dan pergi dari hadapan Ted. Ia berusaha tidak memedulikan tawa kecil Ted di belakangnya.
Sasha segera masuk lift saat pintu terbuka, menekan tombol ke lantai yang ia tuju. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Sasha melangkah cepat menuju kamar pengantin. Setibanya di depan pintu kamar yang sudah terbuka lebar, Sasha melihat sedikit kegaduhan di dalam sana.
“Kalian sudah siap?” tanya Sasha cepat.
“Sebentar lagi, Mbak,” jawab salah satu penata rias. Sasha melihat jarum jam tangannya dan seketika itu pula raut wajahnya berubah.
“Bisa lebih cepat?” tanya Sasha lagi, sedikit menekan nada suaranya. Tidak ada seorang pun berani menjawab pertanyaan Sasha. Rico, yang sudah siap, mulai menghampiri dan menyunggingkan senyum kecil, berusaha meredam amarah Sasha.
“Kalau kalian tidak bisa menyelesaikannya sekarang, aku tidak akan membayar kalian sepeser pun!” ancam Sasha tegas.
“Kami sudah siap!” jawab salah satu perias itu, sedikit berteriak. Akhirnya, si pengantin wanita berjalan dan berhenti di samping Rico. Riasan wajah dan rambut yang sempurna, serta gaun malam yang indah membuat wanita itu terlihat semakin memesona.
“Are you ready, Babe?” tanya Rico pada istrinya.
“I’m ready, Rico,” jawab wanita itu, semringah.
Rico mengecup lembut bibir wanita itu sebelum melangkah mengikuti Sasha menuju pintu lift. Dengan cepat lift membawa mereka ke lantai dasar. Sasha bergegas keluar diikuti oleh sepasang pengantin menuju lokasi makan malam. Tempat itu sudah dipenuhi oleh para tamu undangan.
Sasha mengarahkan sepasang pengantin agar berdiri di bawah rangkaian bunga yang dibentuk seperti gerbang masuk. Ia memberikan aba-aba ke MC yang langsung membuka acara malam itu. Para tamu berdiri menyambut kedatangan pengantin yang melangkah di karpet merah.
Iringan lagu ‘Wonderful Tonight’ dari Eric Clapton membuat suasana semakin romantis. Para tamu dipersilakan duduk saat pengantin duduk di pelaminan. Acara pun dimulai. Sasha mulai mengitari tempat itu, memerhatikan jalannya acara sambil sesekali mencari keberadaan Ted. Setengah jam ia mencari pria itu, tetapi tidak ketemu.
“Kamu mencariku?” tanya Ted, tiba-tiba muncul di belakang Sasha. Ia berjingkat sedikit karena terkejut, lalu berbalik dan menatap Ted yang berada sangat dekat dengannya.
“Merindukanku?” goda Ted sambil menyeringai.
“In your dream,” sahut Sasha kesal, “dari mana saja, sih?”
“Toilet,” jawab Ted singkat. Sasha segera berbalik memerhatikan kembali acara yang sedang berlangsung. Saat ini, pengantin sedang berdansa. Rico melingkarkan tangan di pinggang wanita itu dan menatap dengan hangat dan penuh cinta, begitu juga sebaliknya. Tatapan yang menunjukkan betapa bersyukurnya mereka karena sudah menemukan belahan jiwa.
Ingin rasanya ia merasakan hal yang sama, namun seketika itu pula tubuhnya menegang karena sisi lain dari dirinya tidak menyukai apa yang ia inginkan. Percikan menggelitik dalam dada membuat tubuh Sasha kaku. Senyum kecil terukir di ujung bibirnya saat menyaksikan kemesraan itu, sementara air mata mulai menggenang dan menetes begitu saja.
“Kau tidak akan bisa merasakan itu, Sasha! Tidak akan bisa!”
*****
Ted berdiri di samping Sasha. Ia menoleh dan melihat air mata Sasha menetes sementara tatapan wanita itu tertuju ke pengantin yang berdansa. Tak ada isak tangis yang mengiringi. Tatapan Sasha begitu tajam dan raut wajahnya tampak kaku. Tanpa pikir panjang, Ted memutar tubuh Sasha menghadap dirinya dan menatap mata itu dalam-dalam, lalu mendaratkan ciuman di bibir Sasha. Air mata Sasha mengalir semakin deras, tetap tanpa isak tangis.
Ia melumat bibir Sasha, memancing agar wanita itu menyambutnya. Namun, bibir serta tubuh itu tetap diam membeku. Ted melepaskan ciumannya dan kembali mengunci tatapan Sasha yang kosong. Raut wajah itu masih kaku seperti sebelumnya.
Akhirnya, ia memutuskan menarik Sasha menjauh dari tempat itu menuju salah satu sisi tepi pantai yang cukup jauh dari keramaian. Alunan musik masih terdengar, namun tak ada seorang pun yang bisa melihat keberadaan mereka. Ted mendudukkan wanita itu di sebuah batang kayu besar yang tampaknya memang disediakan untuk diduduki.
Angin pantai berembus lembut dan debur ombak di malam hari terdengar begitu keras. Ted mengamati Sasha yang terdiam. Ia menunggu selama beberapa saat hingga akhirnya kesabarannya pun menguap. Ted berlutut di hadapan Sasha, menggenggam kedua tangan itu dan menatap dalam-dalam.
“Sasha, kamu bisa bicara denganku kalau kamu mau,” bujuk Ted lembut bercampur khawatir, karena yang wanita itu lakukan hanya diam sementara air mata terus mengalir. Ia kembali menunggu jawaban Sasha.
“Menangislah,” ucap Ted beberapa detik kemudian, “menangislah sekuat mungkin, anggap aku tidak ada di sini.”
Tangisan Sasha meledak. Ted mempererat genggamannya sambil sesekali mengusap air mata tanpa berusaha menghentikan tangisan itu. Ia tahu kalau saat ini hanya menangis yang dibutuhkan Sasha. Ia tidak tahu apa yang sudah Sasha alami, namun ia yakin setelah menangis setidaknya perasaan wanita itu akan sedikit lebih baik.
Ted mengecup punggung tangan Sasha dengan lembut, mencoba menenangkan. Tangisan itu perlahan-lahan mulai mereda. Ia membelai lembut dan menangkup wajah Sasha, lalu menatap mata itu dalam-dalam. Ia tidak tahu mengapa ia melakukan hal ini, ia hanya merasa bahwa Sasha membutuhkannya.
“Sudah puas, Tuan putri?” tanya Ted lembut.
Tiba-tiba, Sasha memeluknya erat dan ia membalas pelukan itu. Pelukan Sasha semakin erat saat wanita itu menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan. Ted mengelus punggung Sasha dan perlahan-lahan ia bisa merasakan tubuh itu mulai tenang. Cukup lama mereka berpelukan hingga akhirnya Sasha melepaskannya.
Ted bangkit dari posisi berlutut dan duduk di samping Sasha. Pandangan Sasha tertumpu pada gelapnya hamparan laut malam. Gelombang ombak bergulung bergantian menuju bibir pantai. Terdengar dentuman musik yang berubah menjadi lebih cepat.
“Maaf tadi aku menciummu tiba-tiba,” ucap Ted menyesal, masih terus menatap ke depan.
“It’s OK. I like it,” jawab Sasha ringan dan centil, malah terdengar seperti sedang menggodanya. Ted terkejut mendengar gaya bicara Sasha yang berbeda dari biasa. Ia menoleh dan melihat senyuman miring di wajah Sasha.
“Sasha?” panggil Ted lembut seraya menggenggam tangan Sasha. Wanita itu menoleh membalas tatapannya. Raut wajah dan cara wanita itu menatapnya benar-benar berubah drastis. Tatapan dingin dengan senyum tipis.
“Oh, I love when you kiss me, Ted,” ucap Sasha liar.
*****
BAB 5
“Are you OK?” tanya Ted bingung, namun tetap berusaha tenang meskipun tatapan liar dan senyum tipis yang tersungging di wajah Sasha membuat bulu kuduknya merinding. Ada yang salah dengan wanita ini. Aku tahu itu! batin Ted curiga.
“Yeah,” jawab Sasha dingin.
“Kamu yakin? Aku benar-benar khawatir padamu, Sha,” ungkap Ted jujur sembari menggenggam tangan Sasha. Wanita itu tidak membalas ucapannya, hanya menatap Ted dengan tajam dan raut datar.
“Perubahan emosimu yang tiba-tiba membuatku sangat khawatir,” lanjut Ted masih terus memerhatikan mimik wajah Sasha.
“Semua baik-baik saja,” sahut Sasha datar.
“Tidak, Sasha. Kamu tidak baik-baik saja. Aku yakin ada yang salah denganmu,” ucap Ted mengungkapkan isi hatinya.
“Semua baik-baik saja, Ted,” ulang Sasha, tersenyum tipis bak pembunuh berdarah dingin.
“Berhenti tersenyum seperti itu!” tegur Ted seraya mempererat genggaman tangannya, “semakin kamu tersenyum, aku semakin yakin kalau kamu berusaha menutupi sesuatu.”
Sasha terdiam bak patung dengan tatapan tajam. Ted terus memerhatikan perubahan raut wajah Sasha. Senyum dingin itu mulai pudar digantikan oleh raut datar. Ia bisa merasakan aura mencekam dan gelap yang terpancar jelas di mata itu.
“Aku kotor. Aku sudah rusak,” ucap Sasha datar dan tegang.
“Kamu tidak perlu mengenalku. Jangan bicara denganku. Pergilah. Aku tidak membutuhkanmu!” lanjut Sasha tegas, berusaha mengusir Ted. Tetapi ia tidak akan pergi. Keadaan Sasha yang seperti ini, membuatnya semakin ingin terus berada di sisi wanita itu. Ia melepas genggamannya dan membelai wajah Sasha yang kaku. Namun, wanita itu malah menangkup tangan Ted dan perlahan-lahan menjauhkan tangannya dari wajah Sasha.
“Aku akan tetap di sini bersamamu,” balas Ted cepat, menyadari penolakan Sasha.
“Kamu tidak tahu siapa aku,” jelas Sasha sinis seraya memalingkan wajah darinya. Ted tidak peduli. Ia menangkup wajah Sasha dengan kedua tangan, memaksa agar wanita itu menatapnya.
“Siapa dirimu? Jelaskan padaku!” pinta Ted dengan nada memerintah. Sasha menyunggingkan senyum dingin seraya menatapnya dengan penuh kebencian. Ted tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Sasha saat ini, tapi ia berjanji akan terus berada di sisi wanita itu hingga semuanya jelas.
“Kalian semua sama. Kasar. Pemaksa. Menganggap semua wanita sebagai boneka seks. Kalian semua sama!” ucap Sasha datar, tegas, dan mencekam. Ted terkejut bukan main mendengar ucapan itu. Ia menjauhkan kedua tangannya dari wajah Sasha. Ted diam dan menunggu apa yang akan Sasha ucapkan selanjutnya.
“Kamu. Sama. Seperti Jack!” ucap Sasha penuh penekanan dan amarah.
“Jack? Siapa dia?” tanya Ted cepat, berusaha memancing agar Sasha mau menceritakan semuanya. Ia harus tahu apa penyebab Sasha bersikap aneh seperti saat ini.
Tatapan Sasha begitu tajam dengan seringai sinis. Ted tidak takut sedikit pun, ia tidak gentar ataupun menjauh dari Sasha. Ia tahu kalau mereka baru saling mengenal, tetapi entah mengapa Ted merasa sesuatu yang membuatnya ingin terus menjaga wanita itu. Sasha terdiam selama beberapa saat, membuat dirinya geram dan penasaran.
“Ceritakan padaku, Sha. Aku akan terus di sampingmu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Tidak akan,” kata Ted tulus seraya menggenggam tangan Sasha.
“Really?” tanya Sasha dengan senyum meledek, “kamu tidak akan kuat, Ted.” Wanita itu mendengus, meremehkan dirinya.
“Terserah! Ceritakan dan kembalilah menjadi Sasha yang kukenal,” jawab Ted tegas dan geram. Tatapan tajam Sasha seakan-akan menunjukkan betapa dirinya tidak suka dengan keputusannya.
“Kotor. Tidak suci. Boneka seks. Itulah sebutan untukku. Dia merebut semua. Semua! Jack. Penggoda. Penipu. Mempermalukan dan menghancurkanku,” ucap Sasha tegas namun datar. Tak ada ekspresi sama sekali saat berbicara, membuat Ted bingung dengan kepribadian Sasha yang berbeda 180 derajat. Sasha terdiam sesaat, lalu terkekeh seakan-akan ada yang lucu.
“Cinta. Dia memanipulasi semua dengan kata cinta. Usiaku 17 tahun dan saat itu aku tinggal di Australia. Dia tampan, memesona. Semua wanita tampak bodoh saat berhadapan dengannya. Dia tahu perasaan kami yang rela memberikan segalanya demi bisa menjadi kekasihnya. Dia tahu dan memperalat kami demi kepuasannya,” jelas Sasha datar. Tawa kecil sinis muncul beberapa saat setelah Sasha terdiam.
“Dia menyatakan cinta, memuji kecantikanku. Aku benci dengan kecantikanku yang membuatnya memiliki niat jahat itu. Jack adalah perayu ulung. Kami tahu itu. Tapi aku bodoh dan tidak memedulikan hal tersebut. Aku terlalu mencintainya, percaya padanya.
“Kami menjalin hubungan hampir satu tahun. Dia mengajakku pergi ke pesta kelulusan. Semua teman memujiku karena bisa menaklukkan seorang playboy. Tapi itu awal dari bencana. Di tengah acara kelulusan, dia mengajakku keluar. Aku memercayai Jack dan sudah siap untuk bercinta dengannya.
“Ya. Aku siap menyerahkan semua demi cinta. Aku sangat senang. Aku sangat menantikan malam itu. Dia membawaku ke parkiran bus sekolah. Aku melihat sebuah bus sudah siap menyambut kedatangan kami. Karpet biru tua ditebar di lantai bus. Lampu-lampu kuning hangat yang menghiasi isi bus terlihat begitu indah. Romantis. Itu yang kupikir saat itu. Ha-ha-ha, bodohnya!” cerita Sasha yang langsung tertawa geli, menertawakan dirinya sendiri. Ted tidak bergeming. Ia terus menatap Sasha dan menunggu cerita selanjutnya.
“Kenapa tidak tertawa? Itu lucu sekali,” tanya Sasha yang kembali tertawa hingga air mata menetes di ujung mata. Tawa itu berhenti tiba-tiba dan Sasha kembali ke sikap dingin, kaku, serta raut datar yang menyeramkan.
“Kamu tahu apa yang membuat semuanya berantakan? Minuman itu. Dia memberi anggur mahal dan terkenal. Aku penasaran dan meneguknya. Aku tidak tahu apa yang ada dalam minuman itu. Aku pingsan dan terbangun esok pagi. Telanjang. Sendirian,” lanjut Sasha datar yang langsung terdiam dengan wajah geram.
Air mata perlahan-lahan menetes membasahi pipi Sasha, namun wanita itu tampak seperti mayat hidup. Hampa, kosong, datar, dan tidak ada isak tangis. Ted tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia terus menunggu dan berharap agar Sasha kembali menceritakan kembali masa lalu yang terdengar cukup menyakitkan itu.
“Aku segera berpakaian, keluar dari bus, lalu berjalan menuju pintu sekolah. Ada suara di balik tembok. Mereka berbicara dan tertawa keras sambil menyebut-nyebut namaku. Aku menghampiri mereka dan melihat Jack sedang memperlihatkan video tubuhku yang telanjang dan tak berdaya,” jelas Sasha geram, penuh amarah.
“Dia menertawakanku. Mereka merendahkanku. Aku bisa melihat setiap jengkal tubuhku dengan jelas. Payudara, wajah, bahkan bagian kewanitaanku terlihat jelas di sana. Aku marah. Aku malu. Salah satu temannya mulai menghampiriku. Dia menarik dan memojokkanku. Aku coba berlari, tapi dia menarik dan membantingku hingga menghantam tembok.
“Aku kesakitan, tapi mereka tertawa. Mereka semua mendekatiku. Ingin memperkosaku. Aku takut. Aku bingung. Aku histeris. Semua tampak gelap. Ada darah di kedua tanganku dan sebongkah batu di tangan kananku. Dia berlumuran darah. Jack bersama beberapa temannya pergi meninggalkan tubuh kaku itu tergeletak di depanku. Aku merasakan darah itu dan menikmatinya,” jelas Sasha yang mulai tertawa geli. Tawa itu cukup keras, seakan-akan meluapkan semua perasaan yang wanita itu rasakan.
“Mereka lucu. Sangat lucu. Mereka lari, tapi temannya mati. Mati di tanganku,” lanjut Sasha di sela-sela tawa, “aku membunuhnya. Aku senang membunuhnya. Aku senang merasakan darahnya. Ya, aku senang.”
Ted langsung menarik dan memeluk tubuh Sasha. Ia bisa merasakan betapa kaku tubuh itu. Ted terus memeluk Sasha. Ia hanya ingin wanita itu diam sejenak dan menenangkan diri. Beberapa saat kemudian, Ted bisa merasakan tubuh Sasha perlahan-lahan melunak, tidak sekaku sebelumnya. Ia melepaskan pelukannya, lalu menatap Sasha yang memaksa menutup mata, seakan-akan takut melihat sesuatu yang kasat mata.
“Sasha,” panggil Ted lembut. Ia memanggil nama itu beberapa kali hingga akhirnya Sasha membuka mata dan betapa leganya Ted saat melihat kehangatan terpancar di mata itu lagi. Sejujurnya, Ted sedih mengetahui apa yang sudah menimpa Sasha. Ia tahu betapa rapuh dan tertutupnya Sasha. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa ada seorang pria yang mampu memperlakukan wanita seperti itu.
“Ted,“ ucap Sasha lemah.
“Tenang, Sasha,” sahut Ted cepat, “aku tidak akan pergi. Semua orang memiliki masa lalu dan malangnya kamu memiliki masa lalu yang sangat menyakitkan.”
Sasha menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Ia tahu, mungkin Sasha mengira kalau ia akan menjauh setelah mendengar kisah itu. Tetapi, tidak. Ia tidak akan menjauh. Masa lalu Sasha malah membuatnya ingin semakin dekat dan mengenal wanita itu lebih jauh lagi.
Sisi protektif yang muncul begitu saja, membuat Ted ingin melindungi Sasha. Ia tidak pernah merasakan perasaan setulus dan sebesar ini. Ia ingin menjaga dan menjadi kesatria bagi Sasha. Bukan, ini bukanlah perasaan yang pernah ia rasakan saat bersama Na. Perasaan ini sangat berbeda. Lebih kuat, lebih besar, bahkan ia sendiri tidak mengerti mengapa rasa ini membuatnya memiliki tujuan yang baru.
“Aku paham dengan penderitaan yang ada dalam dirimu. Tapi, jangan pernah menganggap dirimu kotor. Kamu adalah wanita yang kuat dan tegar. Kamu layak untuk dicintai, dilindungi, dan diperjuangkan. Tidak semua wanita bisa sekuat dirimu. Aku bangga, bahkan aku senang bisa mengenalmu,” jelas Ted sambil terus mengunci mata Sasha yang mulai berlinangan air mata.
Ia menggenggam tangan Sasha, membelai punggung tangan itu dengan ibu jarinya. Ted tahu, mungkin Sasha tidak pernah menyangka akan reaksi dirinya yang mau menerima semua masa lalu itu. Air mata yang menetes dan isak tangis yang melesat begitu saja, menunjukkan betapa leganya Sasha karena penerimaan Ted. Ia kembali memeluk Sasha dan tangisan itu meledak. Tangisan kelegaan, bukan tangisan sakit hati dan malu.
Dada Ted terasa perih dan sakit saat menyadari sudah begitu lama Sasha menanggung masa lalu itu seorang diri. Sasha membutuhkan pria yang kuat. Pria yang mampu menjadi pegangan, kekuatan, dan pelindung.
Aku sanggup. Aku siap. Ya, aku yakin akan keputusanku ini. Aku akan melindungi dan menjaganya, batin Ted tulus. Ted melonggarkan pelukannya, lalu menengadahkan wajah Sasha yang tertunduk. Ia menyeka air mata itu, lalu membelai bibir Sasha dengan ibu jarinya.
“Kamu cantik, Sasha. Kamu cantik,” ucap Ted dalam dan menenangkan sebelum ia mengecup bibir Sasha beberapa kali hingga tangisan itu melambat dan berhenti.
Beberapa saat kemudian, ia berdiri dan mengulurkan tangan pada Sasha yang langsung menyambutnya. Ted membawa Sasha menjauh dari tempat itu, menuju hotel. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan sampai berhenti di depan pintu lift. Sasha menatap Ted dengan raut bingung. Pintu lift terbuka dan mereka pun masuk.
“Kamu harus memperbaiki riasanmu. Aku ingin kamu tampil cantik malam ini,” ucap Ted sambil menekan tombol di dalam lift.
“Tapi acara itu—“
“Tenang saja. Aku yakin semua akan berjalan lancar,” potong Ted cepat sambil melingkarkan tangan di pinggang Sasha.
“Aku ingin kamu hadir di acara itu sebagai pasanganku. Kamu mau?” tanya Ted sambil menatap lembut wanita itu. Sasha memalingkan pandangan darinya, tampak berpikir. Ted berjanji akan melukis senyum di wajah cantik itu dan memberi kebahagiaan yang pernah hilang dari hidup Sasha. Ia akan menjadi pria yang membuat Sasha percaya lagi pada cinta. Ya, itu adalah keinginannya. Tujuan hidupnya yang baru.
“Baiklah,” ucap Sasha pelan, yang membuat Ted tersenyum lebar. Tak lama kemudian pintu lift terbuka dan mereka segera melangkah menuju pintu kamar Sasha. Sesampainya di depan pintu, Sasha mengeluarkan kartu dan membukakan pintu untuk Ted.
“Kamu mau temani aku sebentar?” tanya Sasha pelan tampak merona.
“OK,” jawab Ted santai. Ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Sasha berjalan menuju lemari pakaian, mengeluarkan sebuah gaun malam, lalu masuk kamar mandi dan meninggalkan Ted sendirian.
Ia menunggu berdiri di tepi balkon, memerhatikan acara pernikahan masih berlangsung dari atas. Alunan musik yang lembut dan beberapa orang yang sedang berdansa, tampak seperti boneka hiasan yang sedang menari-nari. Ia mengalihkan pandangannya ke bintang-bintang yang bertaburan di langit dan mengingat kembali cerita masa lalu Sasha.
Sasha adalah wanita yang cantik dan memesona. Ia bisa membayangkan betapa cantik dan menggodanya Sasha saat masih remaja, tak salah jika semua pria berniat mendekati dan mencoba merayu wanita itu. Yang salah hanyalah apa yang sudah dilakukan Jack.
Bagi Ted, perbuatan Jack bukan sekedar kenakalan remaja biasanya. Sikap itu tidak jauh berbeda dengan bajingan dan pemerkosa. Ia tidak mengerti apa yang mereka pikirkan hingga mampu berbuat hal keji seperti itu. Merusak kecantikan dan kesucian Sasha.
Amarah mulai menyelimuti dirinya. Ingin rasanya ia membunuh para bajingan itu. Ia menggenggam kuat pinggiran tiang balkon, berusaha meredam amarahnya.
“Aku sudah siap.”
Terdengar suara Sasha di belakang yang membuat Ted segera berbalik. Sasha tampak cantik dan memesona. Gaun malam hitam yang elegan melekat sempurna di tubuh wanita itu. Rambut panjang yang digulung ke atas dan kalung mutiara yang melingkar di leher, membuat Sasha tampil sangat sempurna. Riasan wajah yang tidak terlalu mencolok semakin mempercantik wajah Sasha yang sudah memesona.
“Y-you look so ….” Ted tidak sanggup melanjutkan ucapannya, terhipnotis dengan kecantikan Sasha.
“Apa aku terlihat aneh?” tanya Sasha merona.
Ted berjalan menghampiri Sasha tanpa berkedip sedikit pun. Ia langsung melingkarkan kedua tangan di pinggang Sasha dan mengunci mata indah itu.
“Kamu tampak mengagumkan, Sha. Membuatku terpesona,” puji Ted sebelum ia mendaratkan ciuman lembut di bibir Sasha. Ted berusaha keras menekan gairah yang mulai bergelora dalam dirinya. Ia tidak ingin menyakiti dan mengecewakan Sasha. Ted berjanji, ia akan memberikan pengalaman indah yang tidak akan pernah Sasha lupakan. I promise.
*****
